Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Melalui Pendekatan Desain Inklusi Menuju Arsitektur Yang Humanis

Melalui Pendekatan Desain Inklusi Menuju Arsitektur Yang Humanis 
Pendahuluan
Memasuki abad ke 21, masyarakat terkondisi oleh budaya serba cepat yang semakin hari menjadi semakin cepat. Meningkatnya tuntutan kecepatan sistem ekonomi menuntut respon yang cepat, sehingga cenderung berjangka pendek. Di sisi lain dunia juga dihadapkan pada isu keberlanjutan, yang sesungguhnya merupakan tren berpikir jangka panjang dalam ketiga elemennya, - ekonomi, masyarakat dan lingkungan -. Jangka panjang berarti menyangkut kondisi yang tidak mudah dilihat atau dirasakan saat ini. Orang akan lebih mudah peduli pada kondisi rumahnya yang bocor hari ini daripada kondisi lingkungannya 20 tahun mendatang; arsitek lebih mudah peduli pada kebutuhan klien saat ini daripada kebutuhan pengguna karya desainnya 20 tahun mendatang. 

Tuntutan respon yang serba cepat tersebut merupakan tantangan bagi institusi pendidikan dan unsur kemanusiaan. Pendidikan selalu terkait dengan masa depan, dengan visi yang jauh dari hanya hari ini. Pendidikan akan menuju krisis dalam pengembangannya, apabila tidak mempertimbangkan sesuatu yang jauh di depan sebagai bagian dari tindakan manusia saat ini. Karena itu dibutuhkan pemikiran kembali cara mengartikulasikan epistemologi dan metodologi pendidikan arsitektur, agar karya yang tercipta adalah karya yang peka terhadap keberlanjutan kemanusiaan. Bagaimana seorang arsitek dapat menciptakan lingkungan masa depan yang lebih menyejahterakan penggunanya, jika terbiasa dilatihkan hanya berpikir jangka pendek atau dalam lingkup yang sempit?

Pendidikan arsitektur berperan untuk membentuk perubahan sikap seseorang. Perubahan sikap dapat terjadi karena adanya informasi dan motivasi (Fishebein, Ajzen 1975). Dalam kehidupan sehari-hari, untuk memulai suatu perubahan sikap, orang membutuhkan kombinasi antara motivasi dan informasi. 

Informasi yang diperoleh dari kurikulum jurusan arsitektur maupun lingkungan belajarnya berperan mengubah sikap mahasiswa arsitektur. Materi dalam pendidikan arsitektur yang lebih menekankan pada hasil teknologi, akan mengiring proses pembelajaran menuju pada temuan teknologi, atau menghasilkan perubahan dalam teknologi. Namun lebih dari itu, mengembangkan kesadaran akan keberlanjutan lingkungan dan kemanusiaan sebagai konsep multidimensional merupakan tantangan pendidikan arsitektur. 

Makalah ini memaparkan sebuah program jurusan arsitektur Universitas Kristen Petra untuk mengembangkan kepedulian akan dimensi kemanusiaan dalam desain, melalui pendekatan desain inklusi yang memberikan pengalaman deduktif-reflektif bagi mahasiswa arsitektur tahun ketiga.

Metode
Studi ini dilakukan dengan pendekatan fenomenologi, yang bertujuan untuk mengetahui secara lebih mendalam dan mengungkap hal-hal yang terkait dengan sikap dan pandangan mahasiswa arsitektur Universitas Kristen Petra terhadap unsur kemanusiaan dalam karya desainnya. Data dikumpulkan melalui pengamatan dan diskusi dengan mahasiswa peserta matakuliah Desain inklusi tahun 2011 dan 2012. Uraian kualitatif dari penelaahan ini didasarkan pada studi literatur dan proses pembelajaran yang mengacu pada metode Duarte, C.R., Cohen, R., (2007) yaitu meliputi pemahaman nilai, pengetahuan dan prinsip desain-inklusi; simulasi sebagai pengguna desain-inklusi; berdiskusi dengan pengguna desain-inklusi yaitu guru maupun siswa Sekolah Menengah Pertama untuk Tuna Netra, penghuni dan pengelola Wisma Usiawan/panti jompo; refleksi diri, analisis desain arsitektur, serta menerapkan prinsip desain-inklusi dalam proses desain arsitektur.

Studi Literatur
Dalam beberapa dekade terakhir, ada cukup banyak penelitian yang menelaah pengaruh berbagai pendekatan dan teknik intervensi untuk mengubah sikap orang agar lebih mempedulikan lingkungannya. Misalnya Dwyer dkk, (1993) menganalisis 54 penelitian dan studi yang mempelajari perubahan kepedulian orang akan lingkungan. Tetapi, jarang ditemui penelitian yang mempelajari teknik intervensi untuk mengubah sikap orang terhadap sesamanya atau meningkatkan kepedulian akan sesamanya. Arsitek atau mereka yang pekerjaannya berdampak pada desain dan kualitas lingkungan diharapkan dapat melakukan intervensi desain secara inklusif untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang beragam. Keberhasilan kualitas desain dinilai berdasarkan keberhasilannya mencapai lingkungan yang inklusif (CABE, 2006)

Pendekatan Desain-Inklusi 
Desain-inklusi adalah istilah yang dewasa ini banyak digunakan dalam profesi desain; mempunyai latar belakang yang sama dengan istilah lain seperti ‘desain universal’, ‘desain untuk semua’, ‘desain yang aksesibel’, ‘desain yang respek pada manusia’, ‘desain untuk keberagaman’, yaitu menciptakan dunia agar setiap orang dapat berpartisipasi semaksimal mungkin. Istilah desain-inklusi lahir sebagai respon karena istilah desain-universal yang berawal dari pergerakan bagi penyandang disabilitas, seringkali disalah artikan sebagai usaha mencari solusi universal untuk memenuhi kebutuhan semua orang (Steinfeld, Tauke, 2002). 

The Tomar Resolution ReSAP (2001) Council of Europe, menjelaskan bahwa desain universal adalah sebuah strategi, yang bertujuan membuat desain dan komposisi dari berbagai lingkungan dan produk yang berbeda agar dapat dipahami dan digunakan oleh setiap orang sampai batas tertentu, secara sangat mandiri dan alami, tanpa perlu adaptasi atau solusi desain secara khusus. 

Di sisi lain, Imrie (2001) mengatakan bahwa desain universal mengurusi isu-isu teknis dan prosedural, dan gagal mengatasi hambatan sosial dan perilaku, seperti stigmatisasi karena desain justru mengakomodasi ketidakmampuan seseorang (Story, 2002). Ia berpendapat bahwa pada pendekatan desain inklusi terdapat peningkatan aksesibilitas desain dan mengurangi stigmatisasi atau pengucilan individu, yaitu melalui pendekatan integratif dengan berjalan “bersama” pengguna daripada “untuk” pengguna. Di sinilah perbedaan yang sangat penting antara kedua istilah tersebut. 

Sehingga desain-inklusi diartikan sebagai sebuah proses mendesain yang menghasilkan produk atau lingkungan, yang dapat digunakan dan dikenali oleh setiap orang dari berbagai usia, gender, kemampuan dan kondisi, dengan bekerja bersama pengguna untuk menghilangkan hambatan dalam hal sosial, teknik, politik dan proses ekonomi yang menyokong bangunan dan desain (Newton, Ormerad, 2003).

Seperti halnya desain universal, terdapat tujuh prinsip desain inklusi yang perlu dikuasai yaitu Kesetaraan dalam Penggunaan, Fleksibilitas Penggunaan, Penggunaan yang Sederhana dan Intuitif, Informasi yang Jelas, Toleransi terhadap Kesalahan, Upaya Fisik yang Rendah, Ukuran dan Ruang untuk Pencapaian dan Penggunaan. 

Penerapan desain inklusi memberikan hak mendasar bagi setiap warga negara untuk datang dan pergi, apapun kondisi fisik mereka. Kesadaran mengenai perubahan ini dalam masyarakat yang inklusif harus datang dari semua segmen masyarakat, terutama pemerintah yang harus mampu menjamin hak dasar warganya untuk bepergian, apapun kondisinya. Pemerintah Indonesia sesungguhnya sudah memperhatikan hal ini. Secara teoritis, kebutuhan penyandang disabilitas dijamin oleh berbagai peraturan antara lain: Undang Undang No. 4 Tahun 1997; Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 1998; Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 30/PRT/M/2006). Berbagai program Pemerintah seperti Gerakan Nasional untuk kaum difabel (GAUN 2000, 2005) juga bertujuan memperkuat jaminan tersebut. Sesuai Peraturan tersebut seharusnya pada setiap bangunan dan lingkungan umum tersedia kemudahan akses bagi para penyandang disabilitas. Tetapi pada kenyataannya penerapan desain inklusi ini belum menjadi isu penting bagi masyarakat di Indonesia.

Kognisi dan Afeksi 
Dalam studi perilaku, dikenal model tripartite, yang menunjukkan bahwa sikap seseorang didasarkan pada berbagai informasi dalam domain kognisi, afeksi dan perilaku. Peran afeksi harus didalami bersamaan dengan peran kognisi (Ulrich, 1983, Iozzi, 1989, dalam Pooley, J.A, 2000). 

Pada pendidikan lingkungan dinyatakan perlunya membekali informasi dan pengetahuan untuk mengubah perilaku seseorang agar peduli lingkungan (Hungerford & Volk, 1990; Magnus, Martinez & Pedauye, 1997), dan pintu masuk untuk mengembangkan kesadaran perilaku peduli lingkungan adalah domain afektif (Iozzi, 1989b, seperti dikutip dalam Pooley, J.A., 2000). 

Mengacu pada studi tersebut, maka untuk dapat menciptakan perubahan sikap peduli pada kebutuhan sesama, khususnya pada mahasiswa arsitektur, juga diperlukan pembekalan informasi, pengetahuan (kognisi), dan pengembangan kesadaran (afeksi) perilaku peduli sesama pada mahasiswa arsitektur.

Paradigma Pendidikan Arsitektur. 
Dalam argumentasinya, Donald Schoen kerapkali menyatakan bahwa pendidikan arsitektur haruslah bertujuan membuat peserta didik menjadi seorang “praktisi yang reflektif”, mampu merefleksikan apa yang dialaminya untuk pembentukan dirinya. Inti dari argumentasi ini adalah bahwa pendidikan arsitektur atau pendidikan desain pada umumnya harus mampu mengatasi kekakuan aspek intelektual untuk mencapai relevansi sosial. Di sisi lain, sejumlah kritik mengatakan bahwa pendapat ini membawa pendidikan arsitektur hanya terfokus pada kreativitas subjektif, sementara paradigma pendidikan terfokus pada rasionalitas yang objektif. 

Lingkungan belajar di sudio desain yang cenderung homogen, mempunyai keterbatasan bagi mahasiswa dalam memperkaya pengalaman akan kompleksitas lingkungan, akan keberagaman kebutuhan pengguna karya desain. Agar pendidikan arsitektur tetap memenuhi nilai-nilai akademis, maka seyogyanya menuju pada pendidikan yang rasional sekaligus menghargai pengalaman kreatif. 

Meningkatnya kompleksitas desain dewasa ini, memungkinkan pendidikan desain meningkatkan kembali aspek rasionalitasnya (Wang, Tsungjuang, 2010). Mengenal dan mengalami keberagaman dimensi kemanusiaan, dapat membawa tugas-tugas di studio desain, -yang sejauh ini merupakan tulang punggung pendidikan arsitektur-, bukan hanya merupakan persoalan dengan solusi rasional saja, tetapi sebagai sebuah sistem yang memerlukan pengungkapan makna dan nilai yang dikandungnya; di mana kreativitas sebanding dengan rasionalitas, dan dapat diterapkan dalam masyarakat Indonesia. 

Analisis dan Diskusi
Sesuai tahapan dalam proses pembelajaran dengan pendekatan desain inklusi, analisis dilakukan terhadap sejumlah kemampuan yang diperoleh mahasiswa melalui pengalaman didaktik – refleksinya, dalam domain kognitif dan afektif, sebagai berikut: 

1. Pemahaman dan pengetahuan akan prinsip desain inklusi
Mahasiswa mampu memahami ketujuh prinsip desain inklusi, melalui eksplorasi dengan contoh produk atau desain untuk setiap prinsip. Namun yang seringkali keliru dipahami adalah pandangan bahwa desain inklusi adalah adaptasi secara cepat pada sebuah lingkungan, seperti penambahan ramp atau memasang lift untuk penyandang disabilitas. Masih banyak perancang/ arsitek yang juga mempunyai pemahaman seperti ini, bahkan tidak sedikit perancang yang menganggap desain yang baik adalah desain yang lebih peduli pada bentuk estetika bangunan atau konsumsi energi bangunan. 

Mereka juga mengetahui manfaat dari desain inklusi adalah memberi peluang agar desain dapat diakses dan digunakan oleh sebanyak mungkin orang; memungkinkan penggunaannya dalam lingkungan atau situasi yang beragam dengan aman tanpa harus mengeluarkan usaha yang ekstra keras; responsif terhadap kebutuhan setiap orang. Manfaatnya bukan hanya individual, tetapi juga meluas pada konteks lingkungan dan masyarakat, sehingga desain inklusi menyangkut isu sosial, membentuk masyarakat yang lebih adil, dengan lebih banyak peluang ekonomi bagi semua, membangun kemandirian, dan harga diri dan martabat secara emosional. 

2. Kemampuan berkomunikasi
Melalui pengalaman berada dalam lingkungan yang berbeda dengan lingkungan belajarnya di studio desain, mahasiswa diajak untuk lebih mengasah kepekaannya akan keberagaman kebutuhan manusia dalam desain arsitektur. Berada di lingkungan masyarakat yang berbeda latar belakang, berbeda kemampuan, -yaitu kaum difabel dan para lansia-, melatih mahasiswa untuk berkomunikasi dengan baik.

Dengan membangun kemampuan berkomunikasi, dan menceritakan kembali pengalamannya dalam kelas, seorang mahasiswa akan dapat membangun kemampuan menginterpretasikan pengalaman ruang seseorang. Suatu kemampuan yang diperlukan untuk menjadikan desainnya lebih humanis, meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal, dan mengembangkan pemahaman yang lebih dalam mengenai desain yang berorientasi pada pengguna. 

3. Kepekaan dan kemampuan berempati
Berdasarkan pengalaman melakukan simulasi, dan temuannya di lapangan dalam berkunjung, berdiskusi dan belajar bersama kaum tuna netra dan kaum lansia, dan pemahamannya tentang desain inklusi, mahasiswa melakukan refleksi diri. Mahasiswa menyadari dan merasakan kesulitan yang dialami oleh para penyandang disabilitas dalam melakukan kegiatannya sehari-hari. Misalnya, di awal program, mahasiswa menjawab “bayar orang saja”, atau “kan ada petugas” ketika harus menyelesaikan pekerjaan sederhana yang membutuhkan usaha besar karena desain gedung yang tidak aksesibel. Tetapi kemudian menyadari bahwa para petugas adalah juga pengguna bangunan yang harus diperhatikan kebutuhannya.

Kesadaran ini membuka peluang untuk terjadinya perubahan sikap dalam proses perancangan di studio desain untuk lebih berorientasi pada pengguna. Mereka menyadari bahwa dengan desain inklusi maka lingkungan menjadi cukup fleksibel untuk memenuhi kebutuhan para pengguna pemula maupun lanjut dan juga bersahabat bagi pengguna secara umum, mudah dimengerti dan digunakan. 

Analisis yang dituliskan mahasiswa sebagai refleksi mereka menunjukkan bahwa keterlibatan dalam materi desain inklusi, memberi pengalaman belajar transformatif yang membuka peluang proses desain yang lebih humanis, dengan membina kemampuan berempati pada pengguna, meningkatkan konsep dan visualisasi yang multi-sensori dan memfasilitasi kemampuan berpikir, merancang secara lebih holistik.

Kemampuan merancang dengan orientasi pada pengguna 
Melalui bedah desain dengan mengacu pada tujuh prinsip desain inklusi, terhadap karya yang pernah dibuatnya di studio desain; mengevaluasi lingkungan arsitektur yang dialaminya bersama kaum tuna netra dan lansia; kampus tempatnya belajar dan terminal bis sebagai bangunan publik, mahasiswa menemukan bahwa lingkungan tersebut tidak aksesibel. 

Pengalaman desain menempatkan mahasiswa dalam posisi yang membutuhkan fokus lebih besar pada isu-isu kemanusiaan dalam desainnya. Idealnya, desain mampu melayani masyarakat pengguna dan menjadi bagiannya. Kenyataan ini mendorong paradigma dan metoda perancangan untuk keluar dari paradigm tradisional yang berkutat pada artefak material saja. Desain inklusi memungkinkan mahasiswa meningkatkan pemahamannya mengenai pengalaman ruang manusia yang berbeda.

Didukung dengan penelitian sederhana untuk mendapatkan informasi mengenai spektrum pengguna karya desainnya, maka perancangan yang dilakukan lebih didasarkan pada pengembangan berorientasi pengguna. Ada banyak inovasi dapat diciptakan, dengan membongkar paradigm lama dan menciptakan masyarakat yang inovatif aksesible berkelanjutan

Kesimpulan 
Tujuan mendasar dari sebuah pendidikan adalah menyiapkan kaum muda untuk menjadi warga negara yang baik, membantu mereka menciptakan masa depan yang berkelanjutan, mampu mempertimbangkan bagaimana sebuah keputusan yang diambilnya dapat memperbaiki dimensi kemanusiaan dalam semua lini. 

Pengembangan yang berkelanjutan tidak dapat terlaksana apabila orang meninggalkan segmen penting dalam masyarakat seperti orang tua dan orang berkebutuhan khusus. 

Pembelajaran dengan pendekatan desain inklusi ini menyiapkan mekanisme untuk melakukan eksplorasi dan membantu mahasiswa terlibat secara emosional dengan desainnya. Proses refleksi membuka kesempatan meningkatkan bukan hanya kemampuan mendesain karya arsitektur yang mempertimbangkan spektrum penggunanya, tetapi juga pengembangan segi spiritual dan sosial. Melalui pengalaman didaktik yang dilaluinya, mahasiswa dapat mengasah kecerdasan intelektual, mental, sosial, dan sebagai warga negara yang memiliki kepedulian pada sesamanya, baik kaum difabel ataupun kaum marginal yang selama ini tidak tersentuh dalam pelatihan di studio perancangan. 

Apabila kita melihat bagaimana orang berinteraksi dengan lingkungannya, maka jelaslah bahwa perubahan dapat terjadi dari lingkungan itu sendiri, dari pengguna yang mengubah perilakunya atau kombinasi keduanya. Manusia tidak dapat dipaksa untuk bereaksi terhadap perubahan yang tidak dapat dirasakannya. Karena itu pendidikan arsitektur berperan untuk menyadarkan mahasiswanya agar mampu mempertimbangkan sesuatu yang jauh di depan sebagai bagian dari tindakan desainnya. Pembelajaran desain-inklusi membentuk perubahan sikap para mahasiswa terutama dalam kepeduliannya akan lingkungan dan sesamanya.

Abstract
Sustainability as an important issue nowadays, is a challenge to planners or architects to create a product or design which shows great concerned to humanity. Architecture education plays a role to change the planner’s or architect’s attitude toward the users world in a diversity population, rather than merely dealing with material artefacts or aesthetical issue. This paper describes a method in architectural education with inclusive design approach, which aims to have a design that everyone can recognize and use it safely, easily, nature and with dignity, convenient so that everyone can use them without much effort or separation. Based on their deductive-reflective experience in this program, the students can sharpen their intellectual, mental, social abilities and pay much attention to the users. 

Keywords: Architecture, Humanity, Didactic-Reflective, Inclusive Design 

Abstrak
Keberlanjutan yang merupakan isu penting dewasa ini, merupakan tantangan bagi para perancang untuk menciptakan rancangan yang peduli pada unsur kemanusiaan. Pendidikan arsitektur berperan dalam mengubah sikap para perancang agar peduli pada pengguna dalam populasi yang beragam, bukan hanya mempertimbangkan bentuk artefak material atau estetika semata. Makalah ini memaparkan suatu metode pendidikan arsitektur dengan pendekatan desain inklusi, yang bertujuan agar setiap orang dapat mengenali dan menggunakan desainnya dengan aman, mudah, secara mandiri dan alami tanpa perlu adaptasi atau solusi khusus. Berdasarkan pengalaman didaktif dan reflektif yang dilaluinya dalam program ini, mahasiswa dapat mengasah kecerdasan intelektual, mental, sosial dan punya kepedulian pada penggunanya.

Kata Kunci: Arsitektur, Kemanusiaan, Didaktif-Reflektif, Desain-inklusi

Daftar Pustaka
Duarte, C.R., Cohen, R., (2007), Research and Teaching of Accessibility and Universal Design on Brazil: Hindrances and Challenges in a Developing Country dalam Nasar, J. L., Evans-Cowley, J (ed), (2007), Universal Design and Visitability: From Accessibility to Zoning, The John Glenn School of Public Affairs, Columbus, Ohio

http://www.ncsu.edu/www/ncsu/design/sod5/cud/

http://www-edc.eng.cam.ac.uk/betterdesign/

Levine, D., (2003), Universal Design New York, Center for Inclusive Design and Environmental Access, University at Buffalo, The State University of New York, Buffalo, NY

Ormerod, Marcus, Newton, Rita, (2011) Is Your Inclusive My Exclusive?, paper in International Conference Research on inclusive Environment for All, Edinburgh

Pooley, Julie Ann, O’Connor, Moira, (2000) Environmental Education and Attitudes. Emotions and Beliefs are What is Needed, Jurnal Environment and Behavior 2000, 32, p.711

Wang, Tsungjuang, (2010), A new paradigm for Design Studio Education, International Journal of Art and Design Education, vol 29, issue, pp.173-183

Makna Motivasi Dalam Pengembangan Diri

Makna Motivasi Dalam Pengembangan Diri 
Perilaku manusia ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motivasi. Banyak psikolog memakai istilah yang berbeda-beda dalam menyebutkan sesuatu yang menimbulkan perilaku tersebut. Ada yang menyebut sebagai motivasi (motivation), atau motif, kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dan dorongan (drive). Dalam penulisan ini kita menggunakan istilah motivasi.

Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi bukanlah sesuatu yang dapat diamati, tetapi adalah hal yang dapat disimpulkan karena adanya sesuatu perilaku yang tampak. Tiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang itu didorong oleh sesuatu kekuatan dari dalam diri orang tersebut, kekuatan pendororong inilah yang disebut motivasi, rasa lapar, kebutuhan untuk merasa aman, dan kebutuhan terhadap prestasi merupakan beberapa contoh tentang motivasi. Kebutuhan dan keinginan yang ada dalam diri seseorang akan menimbulkan motivasi internalnya.

Para psikolog menyetujui bahwa motivasi dapat dikelompokkan di dalam dua kelompok, yaitu :
a. Motivasi fisiologi, yang merupakan motivasi ilmiah (biologis) : seperti lapar, haus.
b. Motivasi psikologis, yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori dasar, yaitu :
• Motivasi kasih sayang (affectional motivation) : untuk menciptakan dan memelihara kehangatan, keharmonisan dan kepuasan batiniah (emosional) dalam berhubungan dengan orang lain.
• Motivasi mempertahankan diri (ego-defensive) motivation : motivasi untuk melindungi kepribadian, menghindari luka fisik dan psikologis, menghindari untuk tidak ditertawakan dan kehilangan muka, mempertahankan prestise, dan mendapatkan kebanggaan diri.
• Motivasi memperkuat dan diri (ego-bolstering motivation) : motivasi untuk mengembangkan kepribadian, berprestasi, menaikkan prestasi dan mendapat pengakuan orang lain, memuaskan diri dengan penguasanya terhadap orang lain. 

Latar Belakang Diperlukannya Pengembangan Diri
Country Setiawan (1993) mengemukakan bahwa manusia hidup dalam dua kutub eksisitensi, yaitu kutub eksisitensi individual dan kutub eksistensi sosial, dimana keduanya amat terjalin dan menjadi suatu hal yang tak terpisahkan dalam diri manusia (individualisasi dan sosialisasi). Pada suatu pihak ia berhak mengemukakan dirinya (kutub eksistensi inividual), ingin dihargai dan diakui tetapi pada pihak lain ia harus mampu menyesuaikan diri pada ketentuanketentuan yang berlaku didalam masyarakat, didalam lingkungan sosialnya (kutub eksistensi sosial). Bila kedua kutub ini ada keseimbangan, maka ia akan mencapai suatu kondisi mental sehat. Tetapi bukan semata-mata keseimbangan inilah yang merupakan makna hidup. Pada umumnya manusia teraspirasi dan dalam mewujudkan aspirasi itu ada suatu jarak yang ditempuh oleh setiap orang, yaitu jarak antara potensi yang dimilikinya dan apa yang ingin dicapainya, jarak antara potensi yang dimilikinya dan apa yang dicapainya, jarak antara mengenal diri sebagaimana ia adanya (konsep diri), prestasinya dan sebagaimana ia ingin menjadi.

Apa yang ingin dicapai dan sebagaimana ia ingin menjadi merupakan suatu tantangan dan boleh dikatakan amat sulit dicapai dan itupun memerlukan upaya yang amat keras. Tampaknya ada semacam pergeseran yang semakin menjauh mengenai apa yang ingin kita capai.

Produk teknologi yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas mengisyaratkan bagi generasi muda untuk secara sadar menjadi “melek karir melek teknologi”, yang merupakan kemampuan substansial bagi diri pribadinya serta keharusannya untuk meguasai masa depan. Berdasarkan penjelasan ini dapatlah kiranya dipahami betapa lebarnya antara potensi diri dengan apa yang dicita-citakan untuk mewujudkan kemandirian dalam tahun-tahun mendatang yang penuh tantangan dan dinamikanya. Dapat dikatakan bahwa manusia yang mampu mewujudkan cita-citanya, dan keinginannya, mampu mengaktualisasikan dirinya dikemudian hari didalam masyarakat yang dilanda arus informasi dan teknologi, adalah manusia generasi muda yang mempunyai kemampuan untuk “menguasai masa depannya”.

Kemampuan menguasai masa depan berarti manusia generasi muda mau dan berupaya mengembangkan potensi pribadi secara keseluruhan, memiliki daya ramal yang imajinatif kreatif memiliki motivasi yang kuat, memiliki kepercayaan diri, memiliki disiplin diri yang kuat, tidak takut dan khawatir menghadapi tantangan dan masa depan, memiliki mental sehat, tangguh dalam menghadapi tantangan, mampu menyesuaikan diri, mampu mengantisipasi perkembangan karir serta siap mengembangkan diri.

Manfaat Mempelajari Pengembangan Diri
Pengembangan diri bukanlah suatu ilmu pengetahuan, bukan pula merupakan cabang disiplin ilmu tertentu melainkan lebih sesuai apabila dikatakan suatu pendekatan humanis yang membantu setiap individu menyadari keberadaan dirinya secara utuh dan selanjutnya berupaya untuk mengoptimalisasikannya sehingga tercapailah kemandirian yang terwujud dalam bentuk aktualisasi diri yang bermakna, Maslow (1987) menyebutkan “becoming more adequate person”.

Adapun beberapa manfaat yang bisa diperoleh lewat mempelajari pengembangan diri, yakni :
1. Agar diperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kekuatan-kekuatan yang kita miliki. Banyak sekali kita tidak menyadari bahkan lupa bahwa kita sebenarnya mempunyai kekuatan-kekuatan tertntu dalam diri kita. Kekuatankekuatan tersebut sebenarnya merupakan sumber energi (energi psikis) yang senantiasa mengalir dan memberi dorongan agar kita dapat dan mampu berbuat yang terbaik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan pada kita, mampu mencapai prestasi belajar yang optimal, mampu menhadapi berbagai macam tantangan serta dapat menyelesaikannya dengan baik serta mampu mewujudkan potensi diri secara optimal. Sehingga sekali waktu kita akan berkata, “ saya mampu”, “saya sanggup”, “saya pasti melaksanakan”, “ah, itu gampang”, dan yang sejenisnya. Nampaknya ada kekuatan ekstra, tetapi itulah sebenarnya energi psikis yang kita alami, yang amat perlu sipertahankan, diperjuangkan, agar menjadi kekuatan yang permanen dalam diri kita.

2. Agar kita memahami kelemahan-kelemahan yang ada didalam diri kita. 
Kelemahan-kelemahan yang kita miliki sebenarnya menunjukkan keterbatasan kita sebagai manusia. Tentu kita semua sependapat bahwa amat sulit dan bahkan kita tidak mau dan mampu untuk secara sadar mengoreksi dan mengemukakan kelemahan kita baik diri sendiri terlebih lagi terhadap orang lain.

3. Agar kita lebih memahami, menyadari bahwa kita sebenarnya memiliki apa yang disebut oleh A.Maslow sebagai “Essential Inner Nature” yang Instinctoid, Instrik, Terberi, Natural yang kesemuanya merupakan materi dan bukan hasil yang telah selesai. Yang dimaksud Inner Nature adalah kemampuan, bakat, minat. Struktur, anatomis, aspek psikologis, dasar-dasar temperamennya maupun trauma-trauma yang dialaminya. Inner nature ini dapat dibentuk, diaktualisasi ataupun dihambat perkembangannya. Kesadaran kita pada Essential Inner Nature yang kita miliki akan memberi motivasi untuk mengembangkannya secara maksimal. Kita berupaya mengaktuliasasikannya, menyiapkan kondisi yang dapat mendukung agar segala potensi yang kita miliki dapat terwujud.

4. Agar kita memahami makna motivasi dalam upaya mewujudkan cita-cita kita. 
Motivasi memerlukan kekuatan internal dalam diri kita untuk melakukan yang terbaik. Motivasi itu dapat timbul baik dari dalam diri sendiri maupun karena faktor diluar diri kita. Ada ahli psikologi yang menyatakan bahwa keberhasilan seseorang untuk mencapai prestasi puncak ditentukan oleh usaha, keringat, kerja keras. Perjuangan sebesar 99 % dan hanya 1 % ditentukan oleh aspirasi. Begitu besarnya faktor motivasi yang mempengaruhi kesuksesan seseorang untuk mencapai keberhasilan.

5. Agar kita memahami makna disiplin dalam kehidupan kita. Disamping kita memiliki motivasi yang kuat, disiplin diri untuk melaksanakan sesuatu, atau apa yang kita rancang amat menetukan keberhasilan. Disiplin diri menunjuk pada kemampuan kita untuk menaati waktu, tata aturan kerja, ketegaran melaksanakan tugas, kualitas kerja, tidak mudah putus asa, berani mengambil resiko. Kualitas diri kita akan amat ditentukan oleh adanya disiplin yang kuat. 

6. Agar kita memahami makna kepercayaan diri dalam kehidupan pribadi kita. 
Banyak orang yang berhasil mencapai prestasi puncak dalam bidang apa saja amat ditentukan oleh kepercayaan dirinya. Kepercayaan diri amat mendukung pengembangan kemampuan intelktual kita. Ada orang yang cukup pintar, bahkan amat pandai tetapi ia tidak mampu menunjukkan kepandaiannya itu dalam karya tulis.

7. Agar kita memahami makna rasa takut dan khawatir dalam menghadapi kenyataan hidup hari kini, dimasa didepan, dan berupaya untuk mengatasinya. 

Rasa takut dan khawatir boleh dikatakan sebagai karunia dalam kehidupan kita pada sisi yang satu, dan pada sisi yang lain sebagi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan. Sebagai karunia kita boleh dikatakan, “andaikata manusia tidak dikaruniai rasa takut dan khawatir pada Tuhan Yang Maha Kuasa, maka kita manusia akan menjadi orang-orang yang congkak dan melawan kehendak Tuhan. Sebagai bagian dalam kehidupan, rasa takut dan khawatir tampaknya seperti benih yang siap berbiak dan tidak pernah dapat dimatikan. Dia selalu hadir dalam setiap saat dan dalam segala situasi. Dan kadarnya pun berbeda menurut situasi yang kita hadapi. Tetapi perlu diperhatikan “rasa takut dan khawatir itu lebih besar peranannya dalam hidup kita”. Kalau peranannya besar maka kita amat sulit untuk mengembangkan kemampuan, dan potensi-potensi yang kita miliki. Rasa takut dan khawatir perlu kita minimalkan agar tidak menggeroti kehidupan kita sehingga kita mampu mengaktulisasikan potensi yang kita miliki.

8. Agar kita memperoleh pemahaman tentang arti, makna serta dampak stress dalam kehidupan kita sehingga diperoleh kemampuan untuk mengelola, meminimalkannya. Dengan demikian kita akan mendapat peluang untuk mengembangkan kemampuan, potensi, bakat, serta kesempatan-kesempatan yang kita miliki.

9. Agar kita memperoleh pemahaman tentang dampak prokrastinasi. 
Prokrastinasi adalah perbuatan yang tidak efektif dan tidak efisien. Banyak diantara kita ataupun mungkin kita sendiri tergolong prokrastinator yaitu orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Kesadaran kita tentang dampak prokrastinasi membuat kita berupaya untuk menghilangkannya sehingga kita dapat mewujudkan kemampuan dan cita-cita kita.

10. Agara kita memperoleh pemahaman tentang arti dan makna ketangguhan diri dalam mencapai keberhasilan dalam kehidupan. Ketangguhan pribadi amat diperlukan dalam memperjuangkan cita-cita. Orang yang teguh tidak mudah putus asa, tidak mudah menyerah, berani mengambik resiko, ulet, bertanggung jawab, mencari pengalaman-pengalaman baru dalam hidupnya dan senantiasa memperjuangkan ide, gagasan terbaiknya untuk kepentingan banyak orang. Ketangguhan diri amat perlu kita miliki, kembangkan dan lestarikan agar kita mampu mengembangkan potensi, kemampuan kita secara maksimal.

11. agar diperoleh pemahaman tentang arti dan makna penyesuaian diri dalam lingkungan kerja dan lingkungan sosial dimanapun kita berada. Kemampuan menyesuaikan diri amat perlu kita miliki. Penyesuaian diri dari segala macam tuntutatn lingkungan. Tetapi perlu diperhitungkan “untuk apa kita menyesuaikan diri dari”. Dengan demikian penyesuaian diri terhadap tuntutan lingkungan haruslah tidak menghilangkan nilai, norma yang kita anut. Kita tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidup kita, tetapi kita harus mampu secara fleksibel dalam menyesuaikan diri. Agar kita diterima oleh lingkungan dan juga kita menerima kenyataan-kenyataan yang ada dengan tidak menghilangkan prinsip kehidupan kita.

12. Agar diperoleh pemahaman tentang arti dan makna kreativitas dalam menapak karierdan juga dalam upaya peningkatan kualitas kemampuan intelektual.

13. Manfaat yang terakhir ini, dengan mempelajari pengembangan diri agar kita mau dan bersaing dengan diri kita sendiri. Bukan bersaing dengan orang lain. 

Bersaing dengan diri kita sendiri dimaksudakan agar kita secara sadar mau meningkatkan, mengoptimalkan potensi, bakat, kemampuan yang kita miliki. Kemauan dan kemampuan mengembangkan seluruh potensi yang kita miliki akan sangat memberi peluang bagi tercapainya aktualisasi diri. Aktualisasi diri akan terwujud dalam bentuk karya, buah pikiran yang cemerlang, dan amat berguna bagi banyak orang serta adanya ketentraman dan kedamaian bathin yang lestari.

Konsepsi Pengembangan Diri
Pengembangan Diri adalah pengembangan keseluruhan potensi diri yang mencakup aspek/ranah:

1. Ranah Kognitif 
Ranah kognitif merujuk pada pengayaan pengasahan otak agar kita menjadi melek pikir, melek teknologi yang merupakan kemampuan substansial dalam kehidupan kita kini dan masa mendatang. Kita menjadi pandai, pintar berpengetahua, menguasai teknologi sehingga menjadi manusia yang mandiri. Pengasahan otak ini dapat ditempuh lewat pendidikan formal. 

Berbagai mata pelajaran yang diperoleh yang dirancang dalam kurun waktu tertentu sehingga memperoleh keahlian baik yang bersifat akademik maupun profesional, tentunya lembaga dimana kita belajar, pengasahan otak seyogyanya pula dilakukan lewat kesadaran dan kemauan diri sendiri.

2. Ranah Afektif.
Ranah afektif menunjuk pada pengayaan, pengasahan kemampuan berfikir kreatif, motivasi, disiplin, kepercayaan diri, meminimalkan/mengendalikan rasa takut dan kuatir, mengelola stres, ketangguhan diri, penyesuaian diri, aktualisasi diri dan suara hati, tanggung jawab dan nilai, norma yang kalau semuanya itu direkatkan pada diri kita akan memberi kontribusi yang amat bermakna bagi perkembangan kemampuan kognitif, psikomotorik dan interaktif.

3. Ranah Psikomotorik.
Ranah psikomotorik menunjuk pada pengayaan, pengasahan kemampuan, keterampilan motorik. Artinya keterampilan nyata yang ditunjukkan seperti keterampilan mengetik komputer, mengetik manual menggunakan perangkat komputer, penampilan diri, menata kecantikan, ketampanan, membuat segala macam surat dalam segala bentuknya, menggunakan telepon, dan jenis keterampilan lainnya yang dibutuhkan dalam kegiatan-kegiatan manajemen administratif.

4. Ranah Interaktif.
Ranah interaktif menunjuk pada pengayaan, pengasahan kemampuan beradaptasi dalam segala situasi, kemampuan berkomunikasi, negosiasi yang amat dituntut dalam kegiatan-kegiatan bisnis serta kegiatan jasa lainnya. 

Ranah interaktif juga akan dipelajari khususnya kemampuan adaptasi. Keempat ranah tersebut amat diperlukan untuk dikembangakn agar dengan demikian semua potensi yang kita miliki dapat teraktualisasikan secara maksimal (Rismawaty 2008:25).

Teori Motivasi Hirarki Kebutuhan Maslow

Teori Motivasi Hirarki Kebutuhan Maslow 
Teori motivasi yang sangat populer ialah teori hirarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow. Maslow berpendapat bahwa hirarki kebutuhan manusia dapat dipakai untuk melukiskan dan meramalkan motivasinya. Teorinya tentang motivasi didasarkan oleh dua asumsi. Pertama, kebutuhan seseorang tergantung dari apa yang telah dipunyainya, dan kedua, kebutuhan merupakan hirarki dilihat dari pentingnya. Menurut Maslow ada lima kategori kebutuhan manusia, yaitu: Physiological needs, safety (secu­rity), social (affiliation), esteem (recognition), dan self actualization.

Bila satu tingkat kebutuhan sudah terpenuhi, maka akan muncul tingkat kebutuhan yang lebih tinggi. Namun ini tidak berarti tingkat kebutuhan yang lebih rendah harus terpenuhi 100% atau sangat memuaskan. Bisa saja kebutuhan lebih rendah belum memuaskan sekali, sudah muncul tingkatan yang lebih tinggi. Hal ini terasa sekali pada negara yang sedang berkembang, yF g masyarakatn,,a ingin cepat sekali memenuhi tingkat kebutuhan yang lebih tinggi, yang kemudian merupakan gejala demonstration effect.

Teori X dan Teori Y (Douglas Mc. Gregor)
Teori X mengasumsikan bahwa kebanyakan orang lebih suka dipimpin tidak punya tanggung jawab dan ingin selamat saja, ia dimotivasi oleh uang, keuntungan dan ancaman hukuman. Manajer yang menganut teori X akan menganut sistem pengawasan dan disiplin yang ketat terhadap para pekerja.

Sedangkan teori Y mengasumsikan bahwa orang itu malas bukan karena bakat atau pembawaan sejak lahir. Semua orang sebenarnya bersifat kreatif, yang harus dibangkitkan atau dirangsang oleh pimpinan. Inilah tugas manajer, yaitu membangkitkan daya kreasi para pekerja. Mc Gregor mengemukakan daftar asumsi tentang hakekat manusia dalam teori X dan teori Y sebagai berikut.

Teori X
1. Pekerjaan pada hakekatnya tidak disenangi orang banyak
2. Kebanyakan orang rendah tanggung jawabnya dan lebih suka dipimpin.
3. Kebanyakan orang kurang kreatif.
4. Orang lebih suka memikirkan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat fisik saja, asal itu sudah dipenuhi, selesai persoalannya.
5. Kebanyakan orang harus dikontrol secara ketat, dan sering harus di­paksakan menerima tujuan organisasi (dipaksa bekerja).

Teori Y
1. Pekerjaan itu sebetulnya sama dengan bermain, cukup menarik dan mengasyikkan.
2. Orang mempunyai kemampuan mengawasi diri sendiri guna mencapai tujuan.
3. Setiap orang mempunyai kemampuan kreativitas.
4. Orang tidak hanya memiliki kebutuhan fisik saja tetapi juga memiliki kebutuhan rasa aman, ingin bergaul, ingin dihargai dan ingin menonjolkan dirinya.
5. Orang harus diberi motivasi agar dapat membangkitkan daya inisiatif dan kreativitasnya.

Kedua teori ini jangan disimpulkan bahwa teori X jelek dan teori Y baik. Teori X dan Y hanya memberikan kira-kira arah atau kecenderungan or­ang. Orang yang menganut teori Y untuk hal tertentu, namun ia juga harus memimpin dan mengawasi para pekerja menurut teori X.

Meningkatkan Produktivitas Usaha Melalui Motivasi

Meningkatkan Produktivitas Usaha Melalui Motivasi 
Beberapa dekade terakhir ini, kita mendengar berita sensasi tentang pukulan-pukulan oleh perusahaan Jepang terhadap pasaran produk bulatan Amerika. Dikatakan bahwa Jepang menguasai pasaran barang-barang di Amerika, seperti pasaran mobil dikuasai Jepang di pasar/negara Amerika sebanyak 30%, sepeda motor 90%, alat rekaman 50%, radio 50%, kamera 30%, dan televisi 25%. Jepang memberikan pukulan terhadap pasaran Amerika dengan kualitas barang yang semakin baik, harga yang murah, dan pelayanan memuaskan. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya ialah Jepang sangat memperhatikan tingkat produktivitas dalam organisasi bisnisnya. 

Di dalam menentukan produktivitas tidak hanya dilihat faktor kuantitas saja, tetapi juga faktor kwalitasnya., Jika seseorang menghasilkan 20 unit produk bulan yang lalu, dan sekarang dihasilkan 22 unit, maka dikatakan produktfvitasnya naik 10%. Jika seseorang menghasilkan 20 unit produk bulan lalu dan sekarang tetap 20 unit, tetapi dalam kualitas yang lebih baik, maka dikatakan produktivitasnya juga meningkat.

Produktivitas ini dapat diukur menurut tiga tingkatan, yaitu:
- Individu
- Kelompok
- Organisasi 

Ketiga kelompok di atas yang terdapat dalam organisasi bisnis dapat diukur produktivitasnya. Ada tiga ukuran produktivitas yang harus dipertimbangkan dalam mengelola organisasi, yaitu: 
1.Untuk tujuan strategi, apakah organisasi sudah benar sesuai dengan apa yang telah digariskan.
2.Efektivitas, sampai tingkat manakah tujuan itu sudah dicapai dalam arti kuantitas dan kualitas.

1. Efisiensi, bagaimana perbandingan output dibagi input, pengukuran output termasuk kuantitas dan kualitas.
Selanjutnya untuk menghitung tingkat produktivitas, ada 3 bentuk dasar perhitungan, yaitu:
1. Produktivitas Parsial, yaitu perbandingan output dengan salah satu input tertentu, misalnya dengan input pekerja.
2. Produktivitas Total-Faktor, yaitu perbandingan output dengan sejumlah input yang berhubungan dengan pekerja dan modal.
3. Produktivitas Total, yaitu perbandingan output dengan input.

Paul Mali (2000) mengungkapkan bahwa produktivitas bukanlah produksi, bukan performans, bukan pula hasil. Dikatakan bahwa baik produksi, performans, maupun hasil merupakan komponen produktivitas. Dalam hal ini ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

Seperangkat hasil atau performans, disini kita melihat efektivitas. Penggunaan sumber-sumber, ini menyangkut efisiensi.

Untuk mengkaji kedua hal di atas dapat diajukan pertanyaan: Hasil apa yang diinginkan oleh organisasi (menyangkut efektivitas) dan sumber-sumber apa yang dikorbankan (menyangkut efisiensi)?

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disusun formula untuk mencari indeks produktivitas sebagai berikut:
1. Seperangkat hasil atau performans. Di sini kita melihat efektivitas. 
2. Penggunaan sumber-sumber, ini menyangkut efisiensi.

Untuk mengkaji kedua hal di atas dapat diajukan pertanyaan: Hasil apa yang diinginkan oleh organisasi (menyangkut efektivitas) dan sumber-sumber apa yang dikorbankan (menyangkut efisiensi)?

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disusun formula untuk mencari indeks produktivitas sebagai berikut:

Produktivitas = Hasil yang diperoleh Input yang dikeluarkan
= Performans yang dicapai = Efektifitas Sumber yang dikorbankan Efisiensi

Motivasi
Motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuatu, sedangkan motif adalah kebutuhan, keinginan, dorongan atau impuls. Motivasi seseorang tergantung kepada kekuatan motifnya. Motif dengan kekuatan yang sangat besarlah yang akan menentukan perilaku seseorang. Motif yang kuat ini seringkali berkurang apabila telah mencapai kepuasan ataupun karena menemui kegagalan.

Jadi kekuatan motif ini dapat berubah karena:
1. Terpuaskannya kebutuhan.
Bila kebutuhan telah terpuaskan maka motif akan berkurang, dan beralih kepada kebutuhan lain dan seterusnya.
2. Karena adanya hambatan, maka orang mencoba mengalihkan motifnya ke arah lain.
Adanya frustasi memberikan beberapa kemungkinan terhadap kekuatan motif. Pertama bisa menimbulkan patch semangat, dan tidak mau mencoba lagi. akibatnya produktivitas atau prestasi kerja dari karyawan ini akan menurun. Namun ada pula karyawan yang karena frustasi memberikan balikan yang sangat positif lalu dia mencoba lagi sekuat tenaga. Hanya jika dia menghadapi frustasi lagi maka akibatnya menjadi fatal. Mereka dapat melakukan tindakan destruktif, demonstrasi, menyerang pimpinan, merusak kantor, dan sebagainya.
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson