Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Proses-proses Fisik di Pantai Berlumpur

Proses-proses Fisik di Pantai Berlumpur 
Fenomena pergerakan air dan aliran sedimen di daerah pesisir, lebih khusus untuk dataran delta dan hutan mangrove adalah fenomena khusus dan spesifik. Genesa pantai berlumpur oleh Sunarto (2002), tersusun oleh materi lebek/lumpur. Proses sedimentasi dipantai dapat dibedakan menjadi deposisi dan siltasi (Simeoni et al, 2002). Deposisi umumnya diartikan sebagai pengendapan sedimen lepas (klastik), sedangkan siltasi atau pelumpuran diartikan sebagai pengendapan material lumpur atau sedimen lembek (Nittrouer and Kravitz, 1996)

Proses hydro-physical yang terjadi di pantai berlumpur adalah suatu rejim dari seluruh variabel kejadian dimana angka rata-rata menjadi penting sebagai acuan melihat pergerakan air (current),dinamika pasang surut (tidal assymetri) dan energi gelombang (wave energy) pada suatu musim (Carter, 2002). Pergerakan massa air ini banyak mempengaruhi keberadaan organisme pantai berlumpur (Elliot et al, 1998) Pergerakan uni-directional, multi-directional dan ocillatory, adalah tiga tipe yang berbeda pergerakan massa air di pantai berlumpur dimana pergerakan air ini akan memberikan tekanan yang menguntungkan keadaan lingkungan itu sendiri (Carter, 2002). Selain itu, selama badai (storm event) di daerah pantai berlumpur akan menimbulkan perubahan ekstrim pembentukan energi dan arah gelombang (Pethick, 1984, Dyer, 1998) Menurut Buller and McMannus (1979) pantai berlumpur sangat sensitive terhadap pengaruh perubahan hydro-physical lingkungan perairan. Sebagai contoh, aksi gelombang yang muncul secara periodik dapat merubah paras pantai berlumpur secara fisik akibat diterjang badai, sehingga lumpur atau pasir akan terangkat setinggi 20 cm. Seperti adanya kejadian badai, merupakan suatu mekanisme penting yang dapat mengurutkan kembali sedimen (lumpur), sisa-sisa partikel kasar dan pelepasan kembali kealam sedimen-sedimen yang telah tercemar (Buller and McManus, 1979).

Proses-proses fisik di pantai berlumpur merupakan suatu sistem yang saling kait-mengkait antara sistem daratan dan lautan. Pada sistem di estuaria adalah merupakan contoh kasus yang menarik, di karenakan pada sistem inilah pada umumnya tedapat pantai berlumpur. Aliran energi pada wlayah estuari mencakup aliran keluar dan aliran kedalam, yang dapat merubah bentuk bentang alam dari sistem estuari tersebut (Towned, 2004). Secara umum estuaria merupakan bagian dari pantai dimana aliran sungai bermuara. Terdapat berbagai cara dalam mendefinisikan dan mengklasifikasi estuaria. Dimana, estuaria dipandang sebagai daerah yang terjangkau oleh aliran pasang surut dari laut terbuka, terdapat gradien salinitas dan densitas yang dihasilkan oleh proses pertemuan antara aliran air laut salinitas tinggi dan air sungai bersalinitas rendah (Dyer, 1998.,Towned, 2004).


Gambar  Model Sistemis Aliran di Daerah Estuari (Towned, 2004)


Disajikan pada model sistemik di atas (gambar 5) oleh Towned (2004), membagi atas tiga (3) kompartement utama sebagai acuan terjadinya proses aliran di daerah estuari. Kompartement pertama adalah: Marine System, dimana proses utama sebagai pengendali gerak adalah tekanan (pressure) sehingga terbentuknya hembusan yang mengakibatkan angin dan gelombang (Finlayson, 2005). Pusatnya adalah merupakan olakan yang berasal dari pasang surut dan peningkatan massa air laut. Kompartemen selanjutnya adalah: Estuary, terbagi atas dua bagian utama adalah dimensi butiran sedimen (granula) dan bentuk alamiah estuaria, pengaruh utama yang terjadi pada sistem ini adalah prosess terjadinya aktivitas pasang surut (tidal assymetri) sehingga terjadi gerakan aliran seperti current density dan secondary circulation. 

Lain halnya proses sistemis dinamika pergerakan sedimen di daerah estuari adalah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan di antara ketiga sistem yang ada di wilayah pesisir. Contoh kasus pada gambar 6, memperlihatkan bahwa behaviour system dari pantai berlumpur (Towned, 2004) di awali oleh pengaruh laut (marine system) dan daratan (catchment basin). Sifat neutral bouyant pada sistem estuari mempengaruhi sifat aliran (arus) baik dari darat maupun laut sehingga sedimen akan terkonsentrasi di muara sungai (Long et al, 2000)

Gambar  Model Sistemis Aliran Sedimen Halus di Daerah Estuari (Towned, 2004)






Demikianpula, proses yang terjadi di pantai berpasir, dimana proses keluar masuknya air di dalam sistem karena adanya pengaruh dari tiga (3) model sistem yang ada. Pertama adalah pada sistem laut (marine system), dominan di pantai berpasir adalah sedimen halus menumpuk membentuk dan terakumulasi di wilayah estuari (Anthony dan Orford, 2002) Morfodinamika pantai rendah (estuaria, pantai berpasir, berlumpur, lagoon) sudah dilakukan banyak penelitian dengan menggunakan skala waktu tercatat di awali oleh : Sherman et al., 1994 Hegge et al., 1996 Jackson, 1999 Lampe et al., 2003 Goodfellow dan Stephenson, 2005 dan juga untuk jangka waktu panjang sudah di mulai oleh Nordstrom dan Jackson, 1992 Benavente et al., 2000 dan Costas et al., 2005)


Dari analisis sistem yang di lakukan oleh Towned, didukung pula oleh Costas et al, 2005, bahwa distribusi sedimen mengarah kemuara akan memiliki ukuran butiran sediman yang lebih kecil, sampai di bagian tengah daerah estuaria (mid – estuaria). Perbedaan yang ditunjukkan oleh Allen, 1972 in Lampe et al, 2003 disebabkan karena di daerah estuaria tersebut mengalami gangguan oleh adanya aktivitas manusia. Dimana umumnya daerah estuaria sendiri adanya pemanfaatan berlebih dengan didirikannya banyak daerah industri.


Oleh karena itu, dinamika sifat fisik di wilayah pantai berlumpur merupakan suatu fenomena tersendiri, walaupu telah mengalami banyak gangguan campur tangan manusia akan tetapi wilayah ini sendiri belumlah mendapat perhatian khusus di dalam memanfaatkan sebagai lahan potensial.

Rantai Makanan Pantai Berlumpur

Rantai Makanan Pantai Berlumpur 
Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan-herbivora-carnivora). Pada setiap tahap pemindahan energi, 80%–90% energi potensial hilang sebagai panas, karena itu langkah-langkah dalam rantai makanan terbatas 4-5 langkah saja. Dengan perkataan lain, semakin pendek rantai makanan semakin besar pula energi yang tersedia (http://id.wikipedia.org/wiki/rantai_makanan).

Ada dua tipe dasar rantai makanan:
1. Rantai makanan rerumputan (grazing food chain). Misalnya: tumbuhan-herbivora-carnivora.
2. Rantai makanan sisa (detritus food chain). Bahan mati mikroorganisme (detrivora = organisme pemakan sisa) predator.

Suatu rantai adalah suatu pola yang kompleks saling terhubung, rantai makanan di dalam suatu komunitas yang kompleks antar komunitas, selain daripada itu, suatu rantai makanan adalah suatu kelompok organisma yang melibatkan perpindahan energi dari sumber utamanya (yaitu., cahaya matahari, phytoplankton, zooplankton, larval ikan, kecil ikan, ikan besar, binatang menyusui). Jenis dan variasi rantai makanan adalah sama banyak seperti jenis/spesies di antara mereka dan tempat kediaman yang mendukung mereka. Selanjutnya, rantai makanan dianalisa didasarkan pada pemahaman bagaimana rantai makanan tersebut memperbaiki mekanisme pembentukannya (gambar 4). Ini dapat lebih lanjut dianalisa sebab bagaimanapun jenis tunggal boleh menduduki lebih dari satu tingkatan trophic di dalam suatu rantai makanan ( Krebs 1972 in Johannessen et al, 2005). 


Gambar 4. Rantai makanan di wilayah pesisir (Long, 1982 in Johannessen et al, 2005)


Dalam bagian ini, diuraikan tiga bagian terbesar dalam rantai makanan (Johannessen et al, 2005) yaitu: phytoplankton, zooplankton, dan infauna benthic. Sebab phytoplankton dan zooplankton adalah komponen rantai makanan utama dan penting, dimana bagian ini berisi informasi yang mendukung keberadaan organisme tersebut. Sedangkan, infauna benthic adalah proses yang melengkapi pentingnya rantai makanan di dalam ekosistem pantai berlumpur. Selanjutnya, pembahasan ini penekananya pada bagaimana mata rantai antara rantai makanan dan tempat berlundungnya (tidal flat; pantai berlumpur).


PHYTOPLANKTON
Pertumbuhan phytoplankton di wilayah pantai berlumpur diatur dengan suatu interaksi antara matahari, hujan, bahan gizi, dan gerakan massa air, serta convergensi yang di akibatkan oleh arus laut. Sampai jumlah tertentu produksi phytoplankton tergantung pada cuaca, dengan pencampuran dan stratifikasi kolom air yang mengendalikan produktivitas utama. Percampuran massa air vertikal yang kuat mempunyai suatu efek negatif terhadap produktivitas, dengan mengurangi perkembangan phytoplankton maka terjadi penambahan energi itu sendiri dan penting bagi fotosintesis. Bagaimanapun, pencampuran vertikal adalah juga diuntungkan karena proses penambahan energi, yang membawa bahan gizi (nutrient) dari air menuju ke permukaan di mana mereka dapat digunakan oleh phytoplankton.


ZOOPLANKTON DAN HETEROTROPHS LAIN
Zooplankton dan heterotrophs lain (suatu tingkatan organisma trophic sekunder yang berlaku sebagai consumer utama organik) di dalam kolom air mengisi suatu relung ekologis penting sebagai mata rantai antara produksi phytoplankton utama dan produktivitas ikan. Ikan contohnya, dengan ukuran panjang antara 50 - 200 milimeter, seperti; ikan herring juvenile dan dewasa, smelt, stickleback, sand lance, dan ikan salem dewasa, minyak ikan, hake, pollock, lingcod, sablefish, dan ikan hiu kecil, memperoleh bagian terbesar gizi mereka dari zooplankton dan heterotrophs lain. Penambahan konsumen utama ini adalah mangsa utama untuk sculpins, rockfish, ikan hiu, burung, dan paus ballen (Strimbling and Cornwel, 1997). Di muara sungai Duwamish (dengan kedalaman ±4), ditemukan ikan salem muda memangsa gammarid amphipods yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Selain itu, ikan salem juga menyukai jenis Corophium salmonis dan Eogammarus confervicolus. Sebagai tambahan, gammarid amphipods, dalam bentuk juvenille mengkonsumsi calanoid dan harpacticoid copepods. Merah muda pemuda ikan salem, pada sisi lain, lebih menyukai harpacticoids yang diikuti oleh calanoid copepods. Juvenille chinook mempercayakan kepada gammaridean amphipods dan calanoid copepods sebagai betuk diet mereka. Di awali studi oleh Zedler (1980), Menunjukkan bahwa 85 sampai 92 % zooplankton di teluk adalah calanoid copepods. Secara teknis, istilah zooplankton mengacu pada format hewan plankton, yang tinggal di kolom air dan pergerakan utama semata-mata dikendalikan oleh keadaan insitu lingkungan (current movement). Bagaimanapun, yang mereka lakukan akan mempunyai kemampuan untuk berpindah tempat vertikal terhadap kolom air dan boleh juga berpindah tempat secara horisontal dari pantai ke laut lepas sepanjang yaitu musim semi dan musim panas dalam untuk mencari lokasi yang cocok untuk pertumbuhan mereka. Migrasi vertikal menciptakan sonik lapisan menyebar ketika zooplankton bergerak ke permukaan pada malam hari dan tempat yag terdalam pada siang hari. Pada daerah berlumpur dengan olakan gelombang besar, migrasi vertical zooplankton akan terhalang. Sedangkan, migrasi horisontal musiman mengakibatkan zooplankton akan mengalami blooming (pengkayaan).


INFAUNA DAN EPIFAUNA BENTHIC
Infauna Benthic (organisma yang tinggal di sedimen) dan epifauna (organisma yang mempertahankan hidup di sedimen) adalah suatu kumpulan taxa berbeda-beda mencakup clam, ketam, cacing, keong, udang, dan ikan. Sedangkan burrowers, adalah binatang pemakan bangkai, pemangsa, dan pemberi makan/tempat makan sejumlah phytoplankton, zooplankton, sedimen, detritus dan nutrient lainnya. 


Mereka berperan penting dalam jaring makanan di pantai berlumpur, juga bertindak sebagai konvertor untuk pembuatan bahan-bahan organik pada tingkatan trophic lebih tinggi, sehingga menyokong peningkatan produktivitas alam bebas (wildlife) dan ikan. Di lain pihak, ikan-ikan demersal, neretic, dan pemangsa terestrial contohnya elasmobranchs ( ikan hiu, skates dan manta rays-pari), flatfish dan bottomdwelling jenis lainnya; shorebirds; mamalia laut, termasuk ikan paus dan berang-berang laut; dan manusia. Dengan diuraikannya secara rinci bagaimana berbagai rantai makanan terhubung ke dalam suatu jaringan makanan terpadu pada benthic community dalam system dinamika pantai berlumpur adalah penting untuk di jawab bahwa ekosistem pantai berlumpur ini berperan di dalam keseimbangan produktifitas primer perairan.

Ekosistem Pantai Berlumpur

Ekosistem Pantai Berlumpur 
Pantai berlumpur dicirikan oleh ukuran butiran sedimen sangat halus dan memiliki tingkat bahan organik yang tinggi, pantai ini pula banyak dipengaruhi oleh pasang surut yang mengaduk sedimen secara periodik. Interaksi organisme dengan sedimen dan pengaruh evaporasi perairan sangat tinggi di lingkungannya. Seperti yang terdapat di laut kuning, Korea Selatan dan teluk Fundy di Amerika Utara adalah gambaran luasnya daerah kepesisiran dengan dominasi sebagai daerah pengendapan lumpur (mud deposition) yang mengurung daerah tersebut, sehingga menjadikan pantai berlumpur sebagai mintakat yang memiliki pengaruh energi rendah seperti estuari dan lagoon juga sebagai daerah pemasukan air tawar (influx freshwaters) dalam jumlah yang besar sehingga kompleksitas sedimen dominan adalah berbutir halus (dominantly fine-grained sediments).

Bagaimanapun, pelumpuran yang terjadi di wilayah pantai tidak hanya disebabkan oleh energi lingkungan rendah, akantetapi bahwa kelipahan sedimen seperti sedimen halus, pengendapan lumpur dapat tetap berlaku dan bahkan pada pantai yang memiliki pengaruh gelombang yang besar. 



Gambar Faktor Pengontrol Konsentrasi Sediment di Kolom Air (Webster et al, 2003)


Selanjutnya, oleh Webster et al, 2003 membagi tidalflat kedalam 3 (tiga) model. Pertama, subtidal., merupakan daerah di bawah pasang surut dan selalu terekspose (kelihatan) daratannya karena tidak tertutup oleh genangan air. Sedimen akan membentuk sabuk (belt) searah dengan garis pantai dimana pengaruh daerah intertidal sangat besar sehingga sedimen dasar dari subtidal ini membentuk liang (burrowed) dan butiran (pelletized). Aliran air juga, turut serta di dalam pergerakan sedimen memotong areal ini, menjadikan ukuran butiran sedimennya bertambah halus. Penghalusan sedimen tersebut terjadi karena dipindahkannya sedimen berukuran kasar (coarse sediment) oleh aliran sungai dan setelah mencapai muara sungai akan dikurung oleh kondisi pasang-surut daerahnya, sehingga tidak mudah tertembus oleh pengaruh eksternal lainnya. Adanya proses ini, mengakibatkan daerah muara sungai selalu terjadi pelumpuran .


Kedua, Zona Intertidal., merupakan zona yang berada di antara surut normal dan pasang tinggi yang mana keterjadian pasang dan surutnya terjadi dua kali dalam sehari (semidiurnal tides). Gabungan gaya yang mengangkut selama waktu transport, akan mengakibatkan deposisi dimuara sungai, susunan lithologi pantai campuran pasir dan lumpur terdapat dibagian tengah sedangkan pasir dominan berada paling datar (ujung) dari zona intertidal. Transport sediment tersuspensi (melayang) di rataan intertidal, membentuk formasi lumpur dan liat yang mempunyai keadaan bioturbasi, rekahan lumpur dan pelemahan arus. Di daerah tengah dari rataan intertidal, terkover separuh siklus pasang surutnya memiliki perioda penenggelaman sama dengan perioda pengangkutan sedimen pada setiap lapisan yang terbentuk di rataan tersebut. Keadaan dinamis antara pasir dan lumpur akan saling bertukar tempat akibat pengaruh aliran atau olakan gelombang dengan kecenderungan bahwa olakan ini akan membawa material sedimen kelaut lapas (open sea). Pengangkutan dan pengendapan pasir, adalah merupakan fenomena yang terjadi di zona intertidal pantai berlumpur, terindikasi bahwa transport sedimen melayang dan didasar air umumnya aktiv pada saat pasang terendah. 


Ketiga, Zona Supralittoral., merupakan zona di atas pasang naik sedangkan sedimennya terdeposit ditunjukkan oleh adanya subareal dengan kondisi pada umumnya memiliki waktu penggenangan selama terjadi badai (musim semi). Zone ini dibagi dengan melihat kondisi alamiah pantai tersebut, yang mana diawali oleh tumbuhnya beberapa vegetasi pantai berlumpur dan badan pasir. Storm-Driven di daerah supratidal ikut serta di dalam mensuplai sedimen sehingga menciptakan lapisan sedimen hanya dalam beberapa jam. Lapisan ini yang terbentuk akibat badai akan terjadi pengkayaan karbon oleh ganggang organik, yang berkembang biak saat terjadi badai. Pada bagian lain dari daerah supralittoral dominasi ganggang blue-green filamentous menjerat dan mengikat sedimen berbutir halus lewat alga yang ada di daerah subtidal. Pengikatan sedimen oleh alga di daerah subtidal sehingga terjadi penumpukan sedimen di muara sungai, disamping itupula banyaknya sedimen diakibatkan oleh banjir. Dominasi pasang surut, mengakibatkan pelumpuran sehingga pada waktu penggenangan akan terbentuk beting-beting lumpur sedangkan pada saat surut akan mengalami pengeringan.


Gambar  Klasifikasi wilayah pesisir ( Webster et al, 2003)

Alternatif Model Pengembangan Pariwisata

Alternatif Model Pengembangan Pariwisata 
Sektor Pariwisata merupakan sektor penting dalam upaya penerimaan Pendapatan Asli Daerah yang cukup potensial. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha yang terkait dengan bidang tersebut. Berbicara tentang pariwisata di dalamnya tercakup berbagai upaya pemberdayaan, usaha pariwisata, objek dan daya tarik wisata serta berbagai kegiatan dan jenis usaha pariwisata. Smith (1989, dalam Wardiyanta, 2006) menyatakan bahwa secara substansi pariwsata merupakan baian dari budaya suatu masyarakat, yaitu berkaitan dengan cara penggunaan waktu senggang yang dimiliki sesorang. Pariwisata dapat disoroti dari berbagai sudut pandang karena kekompleksitasannya. Kompleksitas yang terkandung dalam pariwisata misalnya pariwisata sebagai pengalaman manusia, pariwisata sebagai perilaku sosial, pariwisata sebagai fenomena geografik, pariwsata sebagai sumber daya, pariwisata sebagai bisnis, dan pariwisata sebagai industri.

Pariwisata memiliki beragam bentuk dan jenis, seperti pariwisata alam, budaya,konvensi, belanja, dan pariwisata minat khusus. Bali merupakan satu-satunya propinsi di Indonesia yang memiliki keseluruhan bentuk dan jenis pariwisata. Pariwisata telah menjadi industri yang mampu mendatangkan devisa negara dan penerimaan asli daerah yang berimplikasi pada kesejahteraan masyarakat dalam berbagai sektor ekonomi. Belajar dari pengalaman Bali dan Yogyakarta, pengusahaan dan daya tarik wisata meliputi kegiatan membangun dan mengelola objek dan daya tarik wisata beserta prasarana dan sarana yang diperlukan atau kegiatan mengelola objek dan daya tarik yang ada baik pengusahaan objek objek dan daya tarik wisata alam, wisata budaya, dan minat khusus. Dengan memahami hal ihwal pariwisata yang memiliki nilai kemanfaatan baik bagi pemerintah daerah maupun pusat, indistri dan layanan pariwisata secara r terus menerus digali dan dikaji melalui berbagai upaya dan cara untuk mendapatkan hasil yang optimal. Sampai sekarang ini peraturan mengenai kepariwisataan adalah UU No. 9 Tahun 1990, peraturan dapat mengatur usaha-usaha jasa keparowosataan yang disesuaikan dengan tuntutan era globalisasi. Era globalisasi di bidang ekonomi mempunyai imbas terhadap berbagai aspek pembangunan termasuk di dalamnya bidang pariwisata.Pariwisata dalam tataran global menjadi bagian penting dari WTTC(World Travel and Tourism Council). Menurut studi World Tourism Organization(WTO) jumlah wisatawan dunia tahun 2020 akan mencapai 1,5 miliar orang.Dengan pengeluaranUS$ 2 triliun atau US$ 5 miliar setiap hari.Dari Pemerintah Nomor 67 Tahun 1996 tentang penyelenggaraan kepariwisataan, diharapkan catatan di atas, industri pariwisata menjanjikan kemajuan ekonomi kepada banyak orang dan banyak negara di dunia.Pariwisata menjadi penghasil uang terbesar dan sektor terkuat dalam pembiayaan ekonomi global.Pariwisata akan menjadi pendorong utama perekonomian dunia pada abad 21, dan menjadi salah satu industri yang mengglobal. Kondisi semacam ini harus ditangkap sebagai peluang bagi dunia pariwisata baik pemerintah daerah,propinsi maupun pusat.
Pariwisata

Malang sejak zaman Belanda dikenal sebagai kota tujuan pariwisata karena alam dan udaranya yang sejuk. Sejalan dengan perkembangan masyarakat dan politik, secara administratif Malang terpecah menjadi tiga wilayah pemerintahan, yaitu Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu. Dalam perkembangan terakhir Kota Batu merupakan daerah primadona tujuan wisata karena kekayaan keindahan alam , sehingga periwisata merupakan aset terpenting Kota Batu selain pertanian dan perkebunan yang menyejahterakan masyarakatnya. Demikian juga Kabupaten Malang memiliki ragam wisata, selain alam yang berupa gunung dan pantai, dikembangkan pula wisata budaya seperti objek Gunung Kawi dan Tengger. Selain itu potensi perkebunan dan pertanian. Yang menjadi persoalan adalah Kota Malang. Kota Malang memiliki wisata belanja, pendidikan, arsitektur gedung dan tata kota. Kota Malang tidak memiliki wisata alam atau pun budaya. Untuk itu perlu dikembangkan ke arah wisata dengan minat khusus melalui pengkajian dan penelitian. Untuk lebih menemukan pengusahaan objek dan daya tarik wisata Kota Malang diperlukan berbagai upaya yang salah satunya adalah melalui kajian akademis penelitian. Pendapatan asli daerah Kota Malang lebih banyak bersumber pada pajak, pendidikan, dan sumber daya ekonomi masyarakat. Oleh sebab itulah perlu dipikirkan alternatif pengembangan pariwisata terpadu Kota Malang melalui penelitian yang nantinya akan memberikan sumbangan baik teroritik keilmuan maupun konseptual yang pada akhirnya memberikan kontribusi positif dan pragmatis terhadap pemberdayaan potensi ekonomi warga Kota Malang melalui kegiatan pariwisata dan jenis usaha jasa pariwisata.

Pariwisata merupakan lahan dan sumber pendapatan yang potensial. Pengelolaan pariwisata harus tepat dan profesional karena rentan terhadap segala perubahan sosial politik yang terjadi di masyarakat baik regional, nasional maupun global. Penelitian pariwisata mempunyai peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan program pembangunan pemerintah. Melalui penelitian ini diharapkan diperoleh konsep teoririk sebagai konsepsi fundamental menuju kajian lebih lanjut misalnya peningkatan efisiensi bisnis, pengurangan resiko, efektivitas pemasaran, dan peningkatan kinerja perusahaan. Penelitian pariwisata telah banyak dilakukan baik dalam deskripsi lokasi, pengembangan, marketing dan evaluasi program pariwisata.Namun penelitian yang mendasarkan pada aspek ontologis dan epistemologis yang berperspektif filsafat ilmu belum banyak dilakukan. Oleh sebab itulah penelitian ini dilakukan untuk melengkapi penelitian-penelitian sejenis yang telah ada sebelumnya. 

Penelitian ini bertujuan memberikan temuan teoritik dan penjelasana Model Alternatif Pengembangan Pariwisata Terpadu Kota Malang yang meliputi pemahaman dan penjelasan tentang : Problematika pariwisata Kota Malang, Potensi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman pariwisata Kota Malang , Potensi alternatif Kepariwisataan Kota Malang, dan Model Hipotetik Pola Pengembangan Pariwisata Terpadu yang Bertumpu pada Model Pemberdayaan Masyarakat. Pada akhirnya sesuai dengan tujuan penelitian P2U akan ditemukan paradigma, konsep, dan teori tentang Pariwisata Terpadu.

Hal yang dapat dijadikan kerangka acuan dalam pegembangan wisata kota Malang adalah (a) Pariwisata Kota sebagai Konsep Dasar Pembangunan Pariwisata Kota Malang, (b) Otonomi Daerah dan Pariwisata, (c) Pariwisata dan Partisipasi Masyarakat. Mc Kean (1973:26) menyatakan : “tourism is very much a part of the modern tradition, but it is built on the foundation laid during the little and great tradition, without which it would never been started and without which it will not florish in the future”. 

Pariwisata kota sudah tentu selain memberikan manfaat baik secara pencitraan dan financial bagi kehidupan masyarakat juga dapat memberikan peluang kepada masyarakat sekitar kampus untuk memperoleh akses kemanfaatan dengan cara turut berpartisipasi dalam hal produk wisata. Kota sebagai produk wisata, yang dalam hal ini bidang kebudayaan memiliki potensi (a) daya tarik kota yang dapat ditawarkan, (b) pengadaan fasilitas pariwisata kota milik publik, yang mencakup akomodasi, usaha makanan, hiburan dan rekreasi, (c) kemudahan mencapai tujuan wisata dari wilayah lain di luar kota.

Pengembangan wisata kota mengacu kepada pengembangan usaha di bidang pariwisata yang berasal dari potensi kota. Wisata kota sebagai sebuah paradigma dapat pula dipandang sebagai community-based resource management sebagaimana dikemukaka oleh Korten (1986) . Hal ini sangat penting bagi pengembangan program wisata kota, karena (1) adanya varietas local yang dimiliki kota yang memungkinkan dapat dinikmati oleh orang lain, (2) adanya sumber daya kota yang cukup relevan dengan program wisata kota, (3) akuntabilitas kampus sebagai penyelenggara program wisata kampus.


Pariwisata kota, khususnya yang berkaitan dengan objek kebudayaan dan minat khusus dapat dipandang sebagai cottage tourism (pariwisata berskala kecil), namun pendekatan program pariwisata kota berwawasan budaya dan minat khusus dipandang sebagai fenomena modern yang mengandung sejumlah konsekuensi terhadap masyarakat. Lingkungan Kota Malang, dapat dipandang sebagai pendekatan program wisata kota, belanja, sejarah budaya dan minat khusus selain berwawasan budaya, juga berwawasan lingkugan, karena menuntut adanya pengelolaan dan pemanfaatan potensi ekologi kota sebagai daya tarik wisata yang sekaligus merupakan upaya konservasi.

Model pemikiran pengembangan pariwisata kota Malang secara terpadu dapat dilihat dalam bagan sebagai berikut :

 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson