Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak Menggunakan Analisis Faktor Pada Program Studi Ilmu Keperawatan

Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak Menggunakan Analisis Faktor Pada Program Studi Ilmu Keperawatan 
Tuntutan organisasi untuk memperoleh kecepatan dan ketepatan informasi yang disediakan, mengingat kondisi dan keadaan lingkungan internal organisasi yang melakukan pengolahan data dalam jumlah besar, kompleks dan dalam waktu yan terbatas sehingga membuat organisasi membutuhkan sistem informasi untuk mendukung unit-unit usaha mereka. 

Pembuatan sistem informasi yang tidak terencana dan terkelola dengan baik, akan mendatangkan dampak yang sangat merugikan organisasi. Dampak yang buruk adalah jika terjadi penurunan kepercayaan dari sistem informasi. Salah satu fase yang merupakan langkah awal dari pengembangan sistem yang menja-di fondasi yang menentukan keberhasilan suatu sis-tem informasi adalah tahap analisis sistem. Tahapan ini sangat penting karena menentukan bentuk sistem yang harus di bangun. Tahapan ini bisa merupakan tahap yang mudah jika klien sangat paham dengan masalah yang dihadapi dalam organisasinya dan tahu betul fungsionalitas dari sistem informasi yang akan dibuat. Tetapi tahapan ini bisa menjadi tahap yang paling sulit jika klien tidak bisa mengidentifikasi kebutuhannya atau tertutup terhadap pihak luar yang ingin mengetahui detail-detail proses-proses bisnisnya.

Tujuan dari fase analisis adalah memahami dengan sebenar-benarnya kebutuhan dari sistem baru dan mengembangkan sebuah sistem yang mewadahi ke-butuhan tersebut. Oleh karena itu, Analisis kebutuhan sistem(system requirement) sebagai salah satu dari fase analisis sistem sangat berperan penting untuk merumuskan tentang apa yang harus dimiliki dan dikerjakan oleh suatu sistem informasi. 

Penelitian ini menerapkan metoda untuk memperoleh data-data yang diperlukan, antara lain :

1. Kuisioner
Pada penelitian ini dibuat sekumpulan perta-nyaan tertulis yang diajukan kepada beberapa responden mengenai kebutuhan sistem infor-masi. Setelah hasil kuisoner diperoleh dilakukan analisis data yang sesuai dengan keperluan kebutuhan. 

2. Studi Literatur
Pada penelitian ini dibaca dan dipelajari bahan referensi penunjang tentang analisi sistem infor-masi khususnya analisis kebutuhan sistem (system requirement).

3. Studi Lapangan
Peneliti ikut langsung dalam mengamati sistem informasi yang telah ada untuk menganalisis kebutuhan sistem yang akan dikembangkan.

Tinjauan Pustaka
Sistem Informasi adalah sekumpulan elemen (orang, data, prosedur dan sistem pemroses data dan informa-si) yang bekerja sama untuk menghasilkan informasi yang berguna, relevan, tepat waktu, akurat, lengkap dan memenuhi bakuan tertentu [Turban, 1996]. Sistem informasi diartikan sebagai sekumpulan ele-men yang dipadukan dengan maksud mengidentifi-kasikan informasi apa yang dibutuhkan dan memastikan bahwa strategi sistem informasi tersebut selaras dengan strategi bisnis. Sistem Informasi mempunyai peran yang sangat penting dalam organi-sasi yaitu untuk mendukung strategi bersaing bisnis sehingga keuntungan bersaing dapat diraih. Penggu-naan teknologi informasi dalam suatu organisasi diharapkan dapat meningkatkan produktifitas, mem-percepat proses dan memberikan dukungan informasi kepada pihak manajemen untuk pengambilan keputusan.

Analisa kebutuhan merupakan langkah awal untuk menentukan perangkat lunak seperti apa yang akan dihasilkan, ketika kita melaksanakan sebuah proyek pembuatan perangkat lunak. Perangkat lunak yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pengguna sangat bergantung kepada keberhasilan dalam melakukan analisa kebutuhan. Tidak peduli bagaimana hebatnya seseorang dalam menulis kode perangkat lunak, atau membuat antar muka yang menawan, jika terjadi ke-salahan dalam analisa kebutuhan, itu artinya perang-kat lunak yang dibuat menjadi tak berguna. 

Analisa kebutuhan yang baik belum tentu mengha-silkan perangkat lunak yang baik. Tetapi analisa kebutuhan yang tidak tepat sudah pasti menghasilkan perangkat lunak yang tidak berguna. Ini adalah sebu-ah pernyataan sederhana. Namun pernyataan ini tidaklah terlalu jauh dari kesimpulan yang sebenarnya. 

Adalah jauh lebih baik mengetahui ada kesalahan tentang analisa kebutuhan ketika masih dalam tahap awal ini. Kurang hati-hati dan pelaksanaan yang tidak teliti, sehingga mengakibatkan terjadinya kesalahan analisa kebutuhan sungguh menimbulkan banyak kerugian. Kesalahan analisa kebutuhan yang diketa-hui ketika sudah memasuki penelitianan kode, atau pengujian, bahkan hampir pada tahap penyelesaian, adalah malapetaka besar bagi sebuah kelompok pembuat perangkat lunak. Biaya dan waktu yang diperlukan menjadi banyak yang tersia-sia. Biaya yang diperlukan untuk memperbaiki sebuah kesa-lahan karena analisa kebutuhan yang tidak benar, bisa menjadi dua puluh lima kali lipat, jika kesalahan tersebut ditemukan pada tahap pengujian fungsi perangkat lunak. 

Metodologi Penelitian
Dalam menyusun kebutuhan, ada beberapa teknik yang biasa digunakan yaitu:

1. Wawancara
Wawancara adalah metode yang paling mudah digunakan, jika sistem yang dianalisis tidak ter-lalu besar. Tetapi jika sistem informasi yang akan dibangun berskala enterprise, metode wa-wancara akan memakan waktu yang sangat besar karena banyak departeme-departemen harus di-wawancarai secara terpisah. Belum lagi kalau beberapa informasi harus dikroscek dengan be-berapa departemen sekaligus.

2. Joint Application Development
Untuk mengatasi masalah pada teknik wawan-cara, terutama untuk pengembangan sistem berskala besar, digunakan metode Joiny Appli-cation Development(JAD). JAD adalah proses kelompok terstruktur yang terfokus untuk me-nentukan kebutuhan, melibatkan tim proyek, pengguna dan menajemen bekerja bersama-sama. Teknik ini sangat berguna untuk mereduk-si waktu pengumpulan informasi sampai 50%.

3. Kuisioner
Kuisioner adalah sekumpulan pertanyaan tertulis dan biasanya melibatkan banyak orang. Kuisio-ner bisa dilakukan secara tertulis(paper based) atau elektronik. Biasanya sampel dipilih untuk mewakili populasi tertentu. Setelah hasil kuisi-oner diperoleh diperlukan analisis untuk mengambil data yang sesuai dengan keperluan pengumpulan kebutuhan.

4. Analisis Dokumen
Teknik ini dilakukan dengan mempelajari mate-rial yang menggambarkan sistem yang sedang berjalan. Biasanya dokumen yang diamati form, penelitian, manual kebijakan, grafik organisasi. Untuk perusahaan atau organisasi berskala kecil dan belum memiliki sistem yang terkompute-risasi. Cara ini adalah cara yang efektif untuk menyusun kebutuhan sistem.

5. Observasi
Teknik ini dilakukan dengan pengamatan secara langsung pada proses-proses yang sedang ber-jalan. Hal ini penting karena kadang-kadang pengguna atau manajer tidak dapat mengingat secara keseluruhan apa yang mereka lakukan dan menceritakan kembali ke analis. Teknik ober-servasi biasanya dilakukan bersama-sama deng-an teknik pengumpulan kebutuhan sistem yang lain.

Analisa dan Pembahasan
Berdasarkan karakteristik sample yang ditentukan dalam penelitian ini, civitas akademika yang dijadi-kan sample berjumlah 100 orang yang terdiri dari dosen, karyawan dan mahasiswa.

Pemilihan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro sebagai wilayah penelitian didasarkan pada pertimbangan berikut ini:

a. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kebutuhan perangkat lunak sistem informasi, belum pernah dilakukan sebelumnya di Pemilihan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

b. Pemilihan Program Studi Ilmu Keperawatan Fa-kultas Kedokteran Universitas Diponegoro telah memiliki teknologi informasi dan sistem informasi.

c. Adanya ijin dari pihak Ketua Program Studi sebagai pihak yang berwenang untuk menjadikan Program Studi Ilmu Keperawatan sebagai lokasi penelitian

d. Lokasi penelitian mudah dijangkau, sehingga mempermudah pelaksanaan penelitian.

Persiapan administrasi dilakukan dengan mengajukan surat ijin survey awal yang ditujukan kepada Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedok-teran Undip pada tanggal 21 Desember 2007.

Setelah melakukan survey awal, kemudian peneliti meminta surat pengantar penelitian dari Fakultas Teknik kepada Ketua Program Studi Ilmu Keperawa-tan Fakultas Kedokteran Undip bernomor 1224/J07. 1.31/TE/AK/2008 pada tanggal 29 Januari 2008. Surat rekomendasi dari Program Studi Keperawatan diperoleh tanggal 5 Februari 2008.

Perancangan Alat Ukur
Penelitian menggunakan kuisioner sebagai alat ukur skala yang terdiri dari tiga buah kuisioner dengan jumlah item masing-masing sebanyak 30 item yang disajikan dalam tiga eksemplar kertas. 

Beberapa kebutuhan Sistem Informasi yang dijadikan instrumen ukur sebagai berikut: 
1. Sistem Informasi Akademik
2. Sistem Informasi Perpustakaan
3. Sistem Informasi Kepegawaian

Sistem penilaian skala kebutuhan sistem informasi didasarkan pada modifikasi skala Likert dengan menggunakan empat alternatif jawaban yang meliputi jawaban yang Sangat Setuju(SS), Setuju(S), Tidak Setuju(TS) dan Sangat Tidak Setuju(STS). Skala ini tidak menggunakan pilihan jawaban yang sifatnya netral untuk menghindari adanya kelompok yang netral atau tidak menunjukkan pendirian tertentu (Nasution, 2001, h.63). Pada setiap pertanyaan dalam skala kebutuhan perangkat lunak sistem informasi terdapat kategori nilai satu sampai empat. Subjek diminta untuk memberikan jawaban sesuai dengan harapannya pada perangakat lunak sistem informasi.

Keseluruhan item terdiri dari dua jenis, yaitu item yang bersifat favorable(mendukung) dan item yang bersifat unfavorable(tidak mendukung). Pada item favorable, skor tertinggi terletak pada jawaban sanga setuju (SS) yaitu mendapat nilai empat, jawaban setuju (S) mendapat nilai tiga, jawaban tidak setuju (TS) mendapat nilai dua dan jawaban sangat tidak setuju (STS) mendapat nilai satu. Sedangkan pada item unfavorable, skor tertinggi diberikan pada jawaban sangat tidak setuju (STS) yaitu mendapat nilai empat, jawaban tidak setuju (TS) mendapat nilai tiga, jawaban setuju (S) mendapat nilai dua dan jawaban sangat setuju (SS) mendapat nilai satu.

Analisis Korelasi
Dalam penelitian ini digunakan teknik korelasi Rank Spearman dengan menggunakan alat ukur berupa kuisioner yang berskala ordinal yang merupakan modifikasi dari skala Likerts dengan 4 opsi jawaban yaitu Sangat Setuju(SS), Setuju(S), Tidak Setuju(TS) dan Sangat Tidak Setuju(STS). 

Korelasi Rank Spearman digunakan untuk mengeta-hui hubungan antara variable bebas dan variable tergantung yang berskala ordinal. Korelasi dapat menghasilkan angka positif(+) atau negative(-). Jika korelasi menghasilkan angka positif maka hubungan kedua variable bersifat searah. Searah mempunyai makna jika variable bebas besar maka variable tergantungnya juga besar. Jika korelasi menghasil-kana tanda negative maka hubungan kedua variable bersifat tidak searah. Tidak searah artinya jika vari-able bebas besar maka variable tergantungnya menja-di kecil. Angka korelasi berkisar antara 0 s/d 1, dengan ketentuan jika angka mendekati satu maka hubungan kedua variable semakin kuat dan jika angka korelasi mendekati 0 maka hubungan kedua variable semakin lemah.

Agar penafsiran dapat disesuaikan dengan ketentuan, kita perlu mempunyai criteria yang menunjukkan ku-at atau lemahnya korelasi. Kriterianya sebagai berikut:
· Angka korelasi berkisar antara 0 s/d 1
· Besar kecilnya angka korelasi menentukan kuat atau lemahnya hubungan kedua variable. Pato-kan angkanya adalah sebagai berikut:
o 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah(dianggap tidak ada)
o >0,25 – 0,5: Korelasi cukup
o >0,5 – 0, 75: Korelasi kuat
o >0,75 – 1: Korelasi sangat kuat
· Signifikasi hubungan antara dua variable dapat analisis dengan ketentuan sebagai berikut:
o Jika probabilitas < 0,05 maka hubungan kedua variable signifikan.
o Jika probabilitas > 0,05 maka hubungan kedua variable tidak signifikan.

Sistem Informasi Akademik (sia) yang diwakili 30 butir pertanyaan dengan ukuran dari sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju yang berskala penilaian 1 sampai 4 dapat dilihat secara lengkap pada lampiran. 

Artinya jika variable pertanyaan 1 besar maka variable pertanyaan 2 akan semakin besar. Terlihat angka signifikasi antara pertanyaan 1 dengan pertanyaan 2 sebesar 0,00 sehingga dapat disimpul-kan bahwa hubungan kedua variable adalah sig-nifikan. 

Adapun besarnya sumbangan atau peranan variable pertanyaan 1 dan pertanyaan 2 dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

KD = r2 x 100%

Dari perhitungan korelasi di atas maka besarnya KD adalah

0,6952 x 100 % = 48, 3%

Kesimpulannya adalah besarnya peranan variable pertanyaan 1 terhadap variabel pertanyaan 2 sebesar 48,3%.

Artinya jika variable pertanyaan 4 besar maka variable pertanyaan 5 akan sema-kin besar. Terlihat angka signifikasi antara perta-nyaan 4 dengan pertanyaan 5 sebesar 0,00 se-hingga dapat disimpulkan bahwa hubungan kedua variable adalah signifikan. 

Adapun besarnya sumbangan atau peranan vari-able pertanyaan 1 dan pertanyaan 2 dapat dihi-tung dengan rumus sebagai berikut:

KD = r2 x 100%

Dari perhitungan korelasi di atas maka besarnya KD adalah

0,6342 x 100 % = 40,19%

Kesimpulannya adalah besarnya peranan varia-ble pertanyaan 4 terhadap variabel pertanyaan 5 sebesar 40,19 %.

Artinya jika variable pertanyaan 18 besar maka variable pertanyaan 19 akan semakin besar. Terlihat angka signifikasi antara pertanyaan 18 dengan pertanyaan 19 sebesar 0,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan kedua variable adalah signifikan. 

Adapun besarnya sumbangan atau peranan variable pertanyaan 18 dan pertanyaan 19 dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

KD = r2 x 100%

Dari perhitungan korelasi di atas maka besarnya KD adalah

0,8292 x 100 % = 68,72%

Kesimpulannya adalah besarnya peranan variable pertanyaan 18 terhadap variabel pertanyaan 19 sebesar 68,72 %.

Pengujian Validitas dan Reliabilitas Data
Suatu alat ukur yang baik harus mempunyai validitas dan reabilitas. Suatu alat ukur seharusnya mampu mengukur apa yang seharusnya diukur dan memiliki keajegkan yang tinggi. Ini dikarenakan akurasi dan kecermatan data hasil pengukuran tergantung pada validitas dan reabilitas alat ukurnya(Azwar, 1998, h.125). 

Validitas adalah taraf sejauh mana alat ukur mengukur apa yang sebenarnya diukur. Validitas dinyatakan oleh korelasi antara distribusi skor tes yang bersangkutan dengan distribusi skor kriteria yang relevan. 

Reabilitas menurut Suryabrata(1990, h.29) adalah taraf sejauhmana tes itu sama dengan dirinya sendiri atau kalau dikatakan secara populasi realibilitas adalah keajegan suatu tes. Pada uji reabilitas perlu dipertimbangkan adanya unsure kesalahan penguku-ran (error measurement). Hasil pengukuran merupa-kan kombinasi antara hasil pengukuran yang sesung-guhnya(true score) ditambah dengan kesalahan pengukuran. Uji reabilitas dengan menggunakan SP SS 13 dengan menggunakan teknik koefisien alpha. Semakin besar koefisien reabilitas, berarti semakin kecil kesalahan pengukuran maka semakin reliabel alat ukur tersebut.

Data mentah yang digunakan dalam pengujian ini adalah data ordinal dari setiap butir pertanyaan (90 buah) hasil konversi dari skala Likert. Data mentah hasil konversi tersebut dapat dilihat pada lampiran dan hasil lengkap keluaran program ini ada pada lampiran.

Langkah dalam menguji validitas butir-butir perta-nyaan dalam kuisioner adalah sebagai berikut :

1. Menentukan hipotesa
Ho = skor butir berkorelasi positif dengan skor factor
Hi = skor butir tidak berkorelasi positif dengan skor faktor

2. Menentukan nilai r tabel
Dari tabel r (ada lampiran), dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikansi 5%, dengan N = 100 (operasional lapangan) sehingga r tabel = 0,164.

Disini uji dilakukan satu arah, karena hipotesis menunjukkan arah tertentu, yaitu positif.

3. Mencari r hasil
r hasil diperoleh dengan menggunakan sebagai berikut :

rxy = 


rxy = koefisien korelasi


4. Mengambil keputusan

Dasar pengambilan keputusan :
· Jika r hasil Positif, serta r hasil > r tabel, maka butir tersebut Valid
· Jika r hasil Tidak Positif, serta r hasil < r tabel, maka butir tersebut Tidak Valid.

Jadi jika r hasil > r tabel tapi bertanda negatif, Ho tetap akan ditolak.

Jika ada butir-butir pertanyaan kuisioner yang tidak valid maka butir yang tidak valid tersebut dikelu-arkan, dan proses analisis diulang untuk butir yang valid saja.

Sedangkan untuk menguji reliabilitas butir-butir per-tanyaan kuisioner dilakukan setelah semua butir pertanyaan valid. Pengujian reliabilitas dilakukan secara Internal Consistency yaitu dengan cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisa dengan teknik tertentu Langkah-langkahnya sebagai berikut :

1. Menentukan hipotesa
Ho = skor butir berkorelasi positif dengan kom-posit faktornya
Hi = skor butir tidak berkorelasi positif dengan kom-posit faktornya

2. Menentukan nilai r (koefisien korelasi) tabel
3. Mencari r hasil
r hasil diperoleh dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan rumus 

ri =

dimana :
k = mean kuadrat antara subyek
 = mean kuadrat kesalahan

st2 = varians total

Rumus untuk variansi total dan varians item :

st2 =

si2 =


dimana :
JKi = jumlah kuadrat seluruh skor item
JKs = jumlah kuadrat subyek

4. Mengambil keputusan

Dasar pengambilan keputusan :
Jika r Alpha Positif, serta r Alpha > r tabel, maka butir tersebut Reliabel
Jika r Alpha Tidak Positif, serta r Alpha < r tabel, maka butir tersebut Tidak Reliabel
Jadi jika r Alpha > r tabel tapi bertanda negatif, Ho tetap akan ditolak.


Analisa Faktor (Principal Component Analysis)
Perhitungan analisa faktor pada penelitian ini dila-kukan dalam beberapa tahapan sebagai berikut :

1. Menyusun matrik data mentah
Hasil pengumpulan data diperoleh sebanyak n buah dengan variabel yang digunakan n buah. Data-data yang diperoleh disusun dalam bentuk matrik data mentah berorde nxp, dimana n adalah unit pengamatan (nm= 1, 2, 3……n) dan p adalah jumlah variable yang digunakan (pm = 1, 2, 3……n). Matrik dinyatakan dalam xij yang menyatakan nilai unit pengamatan ke-I pada variable ke-j.

2. Menyusun matrik data standar
Data standar digunakan apabila satuan variabel pengukuran memiliki satuan yang berbeda se-hingga data mentah perlu untuk dibakukan. Pada penelitian ini variabel pengukuran memiliki sa-tuan yang sama sehingga langkah ini tidak perlu dilakukan.

3. Menyusun matrik korelasi
Matrik korelasi disusun untuk mendapatkan nilai kedekatan hubungan antar variable. Nilai koe-fisien korelasi r mempunyai harga bervariasi antara –1 sampai +1. Nilai r =+1 menyatakan adanya hubungan sempurna antara dua variable / factor yang berarah positif. Nilai r = -1 menyatakan adanya hubungan antara kedua variable/faktor sempurna tetapi dalam arah yang berlawanan. Sedangkan nilai r = 0 menyatakan tidak ada hubungan antara kedua variable/faktor tersebut.

4. Pengujian kelayakan model
Matrik korelasi diatas sebelum digunakan dalam pengolahan lebih lanjut perlu dilakukan pengujian kelayakan model. Tujuan pengujian kelayakan model dimaksudkan untuk menentukan apakah model yang digunakan cocok untuk mengolah data data yang diberikan sebelumnya.

Agar hasil analisa faktor yang diperoleh cukup baik, maka diperlukan nilai korelasi yang tinggi. Rata-rata nilai harus lebih besar dari harga mutlak 0.5. Nilai korelasi yang tinggi dapat dilihat dari nilai determinan matrik korelasi yang sama dengan nol.

Berdasarkan hasil pengolahan dengan menggunakan SPSS diperoleh nilai-nilai pengujian sebagai berikut :
Determinan matrik korelasi = 0. 055
Kaiser-Meyer_Olkin Test = 0.553
Bartlett’s Test of Sphericity = 277,237, 
Significance = .00000

Nilai determinan mendekati nol menunjukkan bahwa korelasi antara variable mempunyai nilai koefisien korelasi antar variable cukup tinggi.

Nilai KMO (Kaiser-Meyer_Olkin Test) sama dengan 0.553 yang digunakan untuk mengukur kesesuaian sampling menunjukkan bahwa kela-yakan penggunaan model analisis komponen utama untuk analisis berikutnya dapat dilan-jutkan.

Nilai BTS (Bartlett’s Test of Sphericity) yang besar yaitu sebesar 277,237 dengan nilai sig-nifikansi = 0 menyatakan penggunaan analisis komponen utama adalah baik.

Dengan demikian, berdasarkan kriteria yang te-lah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bah-wa data matrik korelasi telah memenuhi persya-ratan pengujian dan dapat diteruskan dengan metode analisa faktor.

5. Perhitungan komunalitas, Eigenvalue, Persen variansi dan persen variansi kumulatif
Nilai komunalita menyatakan total proporsi variansi yang dihitung dari kombinasi seluruh komponen utama. Dalam menggunakan analisis komponen utama, nilai komunalita awal ditetap-kan yaitu sebesar 1. (Norusis Marija.J, SPSS / PC+Statistic 1990).

Eigenvalue atau nilai karakteristik adalah suatu nilai yang menyatakan nilai variansi variable yang diperhitungkan dari suatu komponen utama dari total variable. Jumlah komponen utama ditentukan berdasarkan persentase variansi total yang diterangkan variable tersebut.

Persen variansi adalah variansi yang dapat diterangkan oleh komponen utama terhadap total variansi. Jumlah kumulatif persen variansi dina-makan sebagai persen variansi kumulatif.

6. Skor komponen utama
Skor komponen utama adalah suatu skor yang menunjukkan besar kecilnya nilai/kontribusi dari setiap komponen utama terhadap masing-masing unit pengamatan.

Skor komponen utama diperoleh dari hasil kali antara loading setiap faktor initial dengan data observasi yang telah distandarkan dari faktor initial tersebut terhadap suatu unit pengamatan akan menunjukkan nilai/kontribusi faktor initial dari komponen utamanya terhadap unit pengamatan sehingga akumulasi dari hasil kali antara faktor-faktor initial yang membentuk komponen utama dengan nilai setiap faktor tersebut terhadap unit pengamatan tersebut akan menunjukkan kontribusi komponen utama tersebut.

Dengan demikian besarnya kontribusi/nilai komponen utama terhadap unit pengamatan diperoleh dari hasil perkalian antara matrik bobot faktor (k komponen utama x p faktor initial) yang mencerminkan besar kecilnya pengaruh faktor initial terhadap komponen utama dengan matrik data standar yang mencerminkan besar kecilnya nilai faktor initial pada masing-masing unit pengamatan.

Hasil perkalian diatas akan menghasilkan matrik skor komponen utama yang menunjukkan besarnya kontribusi dari masing-masing komponen utama terhadap unit pengamatan. Dengan demikian besarnya nilai/kontribusi komponen utama terhadap masing-masing responden adalah :

Yik =

dimana 
Yik = nilai komponen utama ke-k pada respon-den ke-i
ajk = loading faktor initial ke-j pada komponen utama ke-k
xij = nilai faktor initial ke j pada responden ke-i

Nilai skor komponen utama dapat bernilai positif maupun negatif. Nilai positif berarti suatu kom-ponen utama memberi kontribusi yang besar dan berpengaruh positif terhadap unit pengamatan.

Dalam penelitian ini matrik data standar adalah matrik Z (100x30) dan matrik koefisien kompo-nen utama Y (100x30). 

Rotasi komponen utama
Langkah ini dimaksudkan untuk mendapatkan harga maksimum masing-masing variable terhadap setiap komponen utama. Rotasi dilakukan dengan memutar sumbu-sumbu faktor secara orthogonal. Hal ini dilakukan karena komponen utama yang dihasilkan pada langkah sebelumnya belum merupakan solusi akhir karena masih memuat variable yang sama terhadap setiap komponen utama dengan nilai loa-ding yang bervariasi sehingga menyulitkan interpre-tasi terhadapnya. Rotasi matrik loading akan memu-dahkan untuk mengidentifikasi karena besarnya faktor loading akan menjadi lebih ekstrim yaitu akan sangat besar atau sangat kecil terhadap setiap kom-ponen utama. Seperti diuraikan diatas bahwa loading faktor menunjukkan besarnya kontribusi suatu faktor terhadap suatu komponen utama. Bobot faktor yang tinggi menunjukkan besarnya pengaruh suatu faktor initial terhadap suatu komponen utama. Namun demikian untuk membatasi banyaknya faktor yang muncul dalam setiap komponen utama maka dalam penelitian ini digunakan criteria bahwa nilai bobot faktor harus lebih besar atau sama dengan 0.5. 

Transformasi dari sistem perpustakaan tradisional ke perpustakaan digital

Transformasi dari sistem perpustakaan tradisional ke perpustakaan digital 
Diperlukan formulasi kebijakan, perencanaan strategis secara holistic termasuk aspek hukum (copyrights), standarisasi, pengembangan koleksi, infrastruktur jaringan, metoda akses, pendanaan, kolaborasi, kontrol bibliografi, pelestarian, dan sebagainya untuk memandu keberhasilan mengintegrasikan tradisional ke format digital.

Penguatan kapasitas kebijakan harus ditekankan pada pelatihan dan penyegaran kepada staf perpustakaan dan pemakai dengan adanya layanan perpustakaan digital seperti: penggunaan “search engine” dengan konsep “ a one stop window”, subject gateways, aplikasi perangkat lunak, sumber daya informasi secara online, digitalisasi, dsb.

Digital Library Standard
Digital Library standard adalah Z 39.50 oleh the American National Standards Institute, disamping itu juga the Dublin Core Metadata yang berisi 15 elemen yang telah disetujui dalam suatu pertemuan International di Dublin, Ohio, ke 15 elemen tersebut adalah : title, creator, subject, descriptions, publisher, constributor, date, type, format, identifier, source, language, relation, coverage and rights.

Jadi hal diatas tersebut adalah untuk mendukung The world summit on the information society --. We the representatives of the peoples of the world, assembled in Geneva from 10-12 December 2003 for the first phase of the World Summit on the Information Society, declare our common desire and commitment to build a people centred, inclusive and development-oriented Information Society, where everyone can create, access, utilize, and share information and knowledge…”.

Pengembangan DL juga perlu diperhatikan beberapa kendala adalah sebagai berikut:
- Pencaharian melalui online, perlu mengetahui prinsip-prinsip ICT, strategi penelusuran online, kemampuan (jam terbang) menelusur online, kalau tidak akan mendapatkan informasi yang dihendaki.

- Terlalu besarnya sumber informasi dan pengetahuan dalam bentuk digital, maka searching tidak dapat menghasilkan hits file yang sesuai dengan topik, atau informasi/pengetahuan yang mendalam.

- Perbedaan system pada system pencarian secara online, seperti untuk e-journal berbeda dengan web search tools atau dengan digital library dimana berbeda search interfaces atau sering digunakan search syntax yang beda, membuat harus mengenal semua search tools yang ada dulu.

- Mengenal dulu topik yang akan dicari dan struktur DL, mengenal pengorganisasian content dari berbagai system seperti: e-jurnal, online databases, DL, dsb.

- Sulit memutuskan bagi pemakai dari sejumlah metadatabase berdasarkan subject/topik, sehingga yang mana akan dipilih dari berbagai e-jurnal dan berbagai database.

- Sering dari online-database hanya abstraknya saja, dan ada prosedur /search lain untuk memperoleh full-textnya.

- Pemakai juga sering dibikin pusing oleh search option seperti: kata kunci, subjek, judul, atau kata kunci subjek, dan sulit dibedakan bagi pemakai.

- Online dengan bandwidth rendah, makan waktu, membuat frustasi, untuk download makan waktu yang panjang dan kadang-kadang putus ditengah jalan.

- Kadang-kadang prosedur search terlalu rumit dan panjang sehingga makan waktu yang panjang hanya untuk mencari misalnya fulltext journal articles, kesulitan untuk memutuskan yang mana relevan dengan yang dicari.

- Pengorganisasian informasi di DL, kalau terlalu spesifik punya dampak dalam pemilihan oleh pemakai, atau kadang-kadang tidak terlihat dilayar utama, tapi tersembunyi di layar berikutnya, sehingga pemakai harus menjelajah webpage untuk mendapatkan berbagai macam sumber informasi yang tersedia.

Intinya pemakai menginginkan “a One-stop window search” ??? ini yang menjadi persoalan pustakawan untuk mendisian DL yang terdiri dari berbagai system operasi, perangkat lunak, perangkat keras, search engine, interface dsb.

Kemungkinan Pemecahannya
- Implikasi dari DL harus ada pelatihan mengenai struktur DB, meta database atau data mining yang kita pakai, strategi penelusuran dan teknik penelusuran secara online,dst.

- Artinya pemakai harus mempersiapkan dan meluangkan waktu untuk mencari informasi/pengetahuan yang sesuai dengan system atau karakter dari search engine, databases, atau system operasinya, setelah itu baru ditekankan pada kurikulum pelatihannya, juga perlu dipikirkan adalah disain database dan struktur databasenya.

- Pendekatan A One – Stop Window dimana pemakai dapat melihat dan menggunakan satu interface search untuk mencari informasi dari berbagai macam system, databases.

- Konsekwensi pendekatan A One-Stop Window adalah harus lengkap panduan “online help” untuk membimbing/ atau petunjuk bagi pemakai secara lengkap;

- Terkait dengan kesenjangan digital, maka data statistik pemakai perlu dilengkapi : berapa pemakai yang terkoneksi ke internet, berapa pemakai yang akan akses ke DL, siapa yang sering menggunakan DL?, berapa pemakai yang menggunakan koneksi ke internet dengan a high bandwidth connection system akses informasi harus didisain untuk dimungkinkan akses ke sumber-sumber informasi di DL, intranet dan internet dari suatu institusi;

- Pada umumnya pemakai tidak mau banyak meluangkan waktu pada luaran search, jadi mekanisme automatic filtration harus berdasarkan karakter pemakai, tugas pemakai, atau pilihan pemakai.

- Fasilitas untuk menggunakan “search term dictionary atau vocabulary control tools adalah sangat mutlak untuk good DL search interfaces.

Model Perencanaan Strategis Tradisional
External Analysis Internal Analysis
- Lingkungan Kekuatan dan Kesempatan dan Pengadaan Informasi Kelemahan
- Ancaman Organisasi
- Tanggung jawab Dan komitmen Evaluasi informasi Visi dan nilai
- Social manajerial
- Evaluasi strategi
- Seleksi strategi
- Implementasi

Perencanaan Strategis dalam paradigma baru
- Keputusan rencana dan goals
- Scan lingkungan
- Perencanaan strategis Analisa opsi strategi
- Disain unit perencanaan
- Agenda
- Adop perencanaan strategis

Perubahan paradigma
KM dan DL secara umum mempunyai pemahaman dengan suatu pengertian pengontrolan/pengelolaan penggunaan hasil dari informasi/pengetahuan yang eksplisit dan tacit ke dalam suatu organisasi. Penggunaan dan penerapan informasi atau pengetahuan tacit dan eksplisit dalam suatu organisasi adalah untuk memecahkan atau solusi permasalahan organisasi itu sendiri, dari suatu hasil dan proses komunikasi antar anggota organisasi dalam suatu jaringan komunikasi (network) melalui pendekatan KS dalam suatu komunikasi pengetahuan yang intens untuk memecahkan masalah.

Tahapannya adalah:
- Perubahan paradigma dari seluruh anggota organisasi perlu dilakukan menuju pada DL dan KS berdasarkan perspektif organisasi itu sendiri;

- Perubahan paradigma dengan tujuan DLdan KS yang komunikatif disesuaikan dengan perspektif budaya kita;

- Paradigma komunikatif dalam DL juga harus relevan dalam upaya meningkatkan proses pembelajaran dalam suatu organisasi dengan bentuk kolaborasi, kooperatif dalam proses pertukaran informasi dan pengetahuan;

- Disain KS dan DL juga secara dramatis berubah dari cara bagaimana luaran/produk dan pertukaran informasi/pengetahuan dalam kerangka suatu organisasi di lingkungan ilmiah;

- DL dalam paradigma komunikatif yang mana minimal sesuai dengan topik yang dibahas, paradigma kemandirian organisasi DL yang akan mempunyai konsekuensi besar untuk pekerjaan perpustakaan dan struktur organisasinya, juga pola penyebaran informasi kepada institusi lain.

- Dengan demikian maka institusi DL tersebut memerlukan suatu proses dan manajemen yang terpadu melalui DB transfer, generasi informasi, information mapping, codification, coordination,information architects, dsb.

Dalam suatu proses komunikasi dalam DL memang ICT adalah factor pengerak utama dalam kehidupan masyarakat modern, dimana komunikasi dalam masyarakat akan terjadi bersifat fundamental dan alami, yang juga ada perbedaan karakteristik budaya, sosial, ekonomi dan agama yang sangat mempengaruhi terjadinya komunikasi yang interaktif dalam DL.

Pandangan klasik bahwa informasi atau pengetahuan yang dihasilkan oleh seseorang , dipublikasikan dan disimpan dalam suatu wadah informasi seperti cetakan, buku, jurnal, laporan, namun sekarang wadah itu berubah dalam bentuk elektronik seperti: bank data, knowledge-based-systems, non-linier hypertext, data mining dan web-sites; yang tujuannya adalah untuk penyebaran informasi atau pengetahuan kepada pemakai, ini adalah dilihat dari sudut pandang statis atau disebut “information warehouse approach”.

Pandangan DL komunikatif yang dinamis adalah tidak bertumpu sebagai hal yang tetap, tapi penekanannya pada suatu petumbuhan DL yang dibutuhkan atau pembaharuan informasi dan pengetahuan secara daur ulang sesuai dengan dinamika pemakai, dalam suatu proses yang berkesinambungan baik dalam pertukaran DB dan komunikasi data atau informasi dalam suatu jaringan DL sehingga menghasilkan INOVASI, dari hasil proses interaksi dan komunikasi jaringan DL disebut dengan the network or communication approach telemediatization yang berisi potensi telekomunikasi (komunikasi elektronik melalui network), informatika (electronic information processing) dan multimedia.

Jadi, DL dilihat dari berbagai perspektif dan multi dimensi menuju a knowledge society adalah merupakan fondasi dasar dari perkembangan suatu bangsa dan negara, dimana DL adalah salah satu instrumen untuk pertukaran informasi dan pengetahuan di suatu negara. A knowledge society sangat bebeda dengan masyarakat industri (A knowledge economy) yang bertujuan untuk merubah masyarakat dari pemenuhan the basic need of all round development to empowerment, sedangkan a knowledge society.

Ada dua komponen driven by societal transformation and wealth generation seperti: pendidikan, kesehatan, pertanian dan pemerintahan yang akan melahirkan suatu generasi yang produktivitasnya tinggi.

DL systems adalah suatu proses yang secara sistematis mulai dari finding, selecting, organizing, distilling, and presenting information untuk meningkatkan pengetahuan dan memahami secara komprehensif pada spesifik area. Aktivitas a specific information/knowledge management terdiri dari bagaimana mengorganisasikan acquiring, storing, utilizing information/knowledge for problem solving, dynamic learning, strategic planning and decition making.

Knowledge creation ada dua yaitu: explicit dan tacit knowledge, dimana explicit seperti: buku, proseding, paper, bahan presentasi, notulen, catatan harian,dsb, sedangkan tacit terdapat dimasing-masing individu/orang, sehingga perlu suatu cara secara sistematis untuk mengamati dan menangkap data/informasi/pengetahuan dari setiap individu dalam suatu organisasi yang ada untuk memecahkan suatu masalahdi dalam suatu organisasi, sedangkan DL adalah komponen penting untuk menangkap explicit.

Pendekatan Digital Library
Fokus pada tiga area yaitu: pengembangan sumber daya informasi, adanya portal yang mengintegrasikan berbagai database untuk keperluan akademis atau penelitian yang mudah diakses dan sekaligus sebagai kemudahan layanan DL ke pemakai, dan pelatihan kepada pemakai untuk optimalisasi penggunaan database secara efisien;
- Pengembangan koleksi secara kolaborasi;
- Konvergensi sumber informasi dan system pelayanan digital;
- System union katalog untuk E-jurnal;
- System meta search engine;
- Document delivery system (DDS) dan Reference Desk service (RDS);
- Subject information portal;
- Open URL link service;
- Training.

Arsitektur desain Digital Library
Secara teknikal dapat dibagi menjadi tiga lapisan dari atas sampai kebawah yaitu: lapisan portal, lapisan aplikasi, dan lapisan sumber daya informasi, dimana biasanya berisi berbagai macam databases seperti: artificial intelligent database, full-text database , citation database, dsb . Lapisan aplikasi punya Open URL linking server, cross-databases Meta-search engine, OAI service providers that can integrated those resource into a universal knowledge platform.

Sedangkan lapisan portal adalah untuk memudahkan pemakai mengoptimalkan sumber informasi dalam DL dan sekaligus pelayanan permintaan dan pengiriman informasi/pengetahuan lewat RSS atau Email.

Perkembangan DL di Indonesia masih dalam upaya “pencarian peta baru”, “cara baru”, untuk membentuk jaringan DL (DL networks) yang lebih tepat untuk konteks yang baru. Dalam hal penggunaan DL , harus diberikan prioritas kepada cara-cara organisasi perpustakaan memberdayakan DL yang langsung memiliki kontak dengan masyarakat. Pendekatan ini memerlukan petugas perpustakaan yang memahami kerangka DL dan karakter DL dan tujuan DL, sementara system DL perlu dilengkapi dengan saluran umpan-balik dan fasilitas pembelajaran yang memadai.

Rossel mengusulkan agar perhatian diberikan kepada dua hal, yaitu:
- Masyarakat berbasis informasi merupakan masyarakat yang terfokus pada pemanfaatan model manusia (human capital) dalam bentuk pengetahuan, sehingga manajemen perlu segera mengijinkan petugas /pegawai mengambil keputusan dan memiliki akses ke sumberdaya organisasi secara bebas untuk melakukan inovasi.

- Merubah struktur hirarkis, berpindah ke organisasi yang didasarkan pada kelompok-kelompok berdasarkan focus permasalahan (problem –focused teams), sehingga ketika ada masalah pegawai dari berbagai unit bias dikumpulkan untuk mencari solusi masalah tersebut, setelah teratasi tim dibubarkan.

Sejarah Pengembangan Digital Library

Sejarah Pengembangan Digital Library 
(Purtini, 2007, http://lib.itb.ac.id) Gagasan yang muncul pertama kali sebagai dasar konsep perpustakaan digital muncul pada bulan Juli tahun 1945 oleh Vannevar Bush. Beliau mengeluhkan penyimpanan informasi manual yang menghambat akses terhadap penelitian yang sudah dipublikasikan. Untuk itu, Bush mengajukan ide untuk membuat catatan dan perpustakaan pribadi (untuk buku, rekaman/dokumentasi, dan komunikasi) yang termekanisasi. 

Selama dekade 1950-an dan 1960-an keterbukaan akses terhadap koleksi perpustakaan terus diusahakan oleh peneliti, pustakawan, dan pihak-pihak lain, tetapi teknologi yang ada belum cukup menunjang. 

Pada awal 1980-an fungsi-fungsi perpustakaan telah diotomasi melalui perangkat komputer, namun hanya pada lembaga-lembaga besar mengingat biaya investasi yang tinggi. Misalnya pada Library of Congress di Amerika yang telah mengimplementasikan sistem tampilan dokumen elektronik (electronic document imaging systems) untuk kepentingan penelitian dan operasional perpustakaan.Dari sudut pandang pengguna, komputer bukanlah bagian dari fasilitas manajemen perpustakaan melainkan hanya pelayanan untuk digunakan staf perpustakaan. 

Pada awal 1990-an hampir seluruh fungsi perpustakaan ditunjang dengan otomasi dalam jumlah dan cara tertentu. Fungsi-fungsi tersebut antara lain pembuatan katalog, sirkulasi, peminjaman antar perpustakaan, pengelolaan jurnal, penambahan koleksi, kontrol keuangan, manajemen koleksi yang sudah ada, dan data pengguna. Dalam periode ini komunikasi data secara elektronik dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya semakin berkembang dengan cepat. Pada tahun 1994, Library of Congress mengeluarkan rancangan National Digital Library dengan menggunakan tampilan dokumen elektronik, penyimpanan dan penelusuran teks secara elektronik, dan teknologi lainnya terhadap koleksi cetak dan non-cetak tertentu. Selanjutnya pada September 1995, enam universitas di Amerika diberi dana untuk melakukan proyek penelitian perpustakaan digital.

Penelitian yang didanai NSF/ARPA/NASA ini melibatkan peneliti dari berbagai bidang, organisasi penerbit dan percetakan, perpustakaan-perpustakaan, dan pemerintah Amerika sendiri. Proyek ini cukup berhasil dan menjadi dasar penelitian perpustakaan digital di dunia. 

Pengertian Digital Library
Ada banyak definisi perpustakaan digital berdasarkan pendapat para ahli atau beberapa lembaga. Berikut beberapa definisi yang dirumuskan oleh lembaga/orang lain. 

The Digital Library Initiatives menggambarkan perpustakaan digital sebagai lingkungan yang bersama-sama memberi koleksi, pelayanan, dan manusia untuk menunjang kreasi, diseminasi, penggunaan, dan pelestarian data, informasi, dan pengetahuan. 

Saffady mendefinisikan perpustakaan digital secara luas sebagai koleksi informasi yang dapat diproses melalui komputer atau repositori untuk informasi-informasi semacam itu. 

Millard mendefinisikannya sebagai perpustakaan yang berbeda dari sistem penelusuran informasi karena memiliki lebih banyak jenis media, menyediakan pelayanan dan fungsi tambahan, termasuk tahap lain dalam siklus informasi, dari pembuatan hingga penggunaan. Perpustakaan digital bisa dianggap sebagai institusi informasi dalam bentuk baru atau sebagai perluasan dari pelayanan perpustakaan yang sudah ada. 

Billington, pustakawan Library of Congress, dalam Rogers (1994), melukiskan perpustakaan digital sebagai sebuah koalisi dari institusi-institusi yang mengumpulkan koleksi-koleksinya yang khas secara elektronik. 

Drobnik dan Monch (dalam Nugroho, 2000) mendefinisikan perpustakaan digital sebagai sekumpulan dokumen elektronik yang diorganisasikan agar mudah ditemukan ulang dan dibaca. 

Association of Research Libraries (ARL), 1995, mendefinisikan perpustakaan digital sebagai berikut: 
  1. Perpustakaan digital bukanlah kesatuan tunggal. 
  2. Perpustakaan digital memerlukan teknologi untuk dapat menghubungkan ke berbagai sumberdaya. 
  3. Hubungan antara berbagai perpustakaan digital dan layanan informasi bagi pemakai bersifat transparan. 
  4. Akses universal terhadap perpustakaan digital dan layanan informasi merupakan suatu tujuan. 
  5. Koleksi-koleksi perpustakaan digital tidak terbatas pada wakil dokumen; koleksi meluas sampai artefak digital yang tidak dapat diwakili atau didistribusikan dalam format tercetak. 

Wahono mendefinisikan perpustakaan digital sebagai suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Menurutnya, istilah perpustakaan digital memiliki pengertian yang sama dengan perpustakaan elektronik (electronic library) dan perpustakaan maya (virtual library) 

Dari definisi-definisi di atas dapat diambil sintesa bahwa perpustakaan digital adalah organisasi atau lingkungan yang mengelola koleksi informasi berupa tulisan, gambar, dan suara dalam bentuk elektronik dan memberikan pelayanan kepada pengguna melalui jaringan internet. 


Peran Perpustakaan Digital
Digital Library berperan sebagai penyedia informasi, penyedia layanan informasi, atau pengguna informasi dengan memanfaatkan jaringan dan teknologi digital. Namun bagaimana koleksi digital itu dimanfaatkan, sangat tergantung dari bagaimana informasi tersebut dibuat, diorganisasikan, dan disajikan. 

Selain itu Digital Library bukan hanya berkenaan dengan manajemen pengetahuan (knowledge management) dan informasi, tetapi menjelaskan bahwa perpustakaan sebagai salah satu sumber informasi mulai diharapkan untuk menjalankan peranan yang lebih sebagai pendamping dalam proses pendidikan seumur hidup. Tantangan bagi pustakawan adalah untuk memahami dan menentukan posisinya dalam proses perubahan dan beralih dari pemikiran perpustakaan sebagai ruang fisik semata ke suatu kenyataan baru perpustakaan sebagai organisasi yang harus mengembangkan jenis layanan informasi digital. 

Motif-motif yang Mendasari Pengembangan Perpustakaan Digital 
Pada perpustakaan konvensional, akses terhadap dokumen terbatas pada kedekatan fisik. Pengguna harus datang untuk mendapat dokumen yang diinginkan, atau melalui jasa pos. Untuk mengatasi keterbatasan ini perpustakaan digital diharap mampu untuk menyediakan akses cepat terhadap katalog dan bibliografi serta isi buku, jurnal, dan koleksi perpustakan lainnya secara lengkap.

Melalui komponen manajemen database, penyimpanan teks, sistem telusur, dan tampilan dokumen elektronik, sistem perpustakaan digital diharap mampu mencari database koleksi yang mengandung karakter tertentu, baik sebagai kata maupun sebagai bagian kata. Di perpustakaan konvensional penelusuran seperti ini tidak mungkin dilakukan. 

Untuk menyederhanakan perawatan dan kontrol harian atas koleksi perpustakaan. 
Untuk mengurangi bahkan menghilangkan tugas-tugas staf tertentu, misalnya menaruh terbitan baru di rak, mengembalikan buku yang selesai dipinjam ke rak, dan lain-lain. 

Untuk mengurangi penggunaan ruangan yang semakin terbatas dan mahal. 

Perpustakaan semi modern
(Wahono, 2007, http://ilmukomputer.com) Dalam dunia perpustakaan semi modern, buku atau dokumen sudah tersimpan dan tertata rapi. Selain itu juga sudah mempunyai katalog/indek dimana pengunjung dapat mencari dokumen atau data yang dicari sehingga dengan mudah mengetahui letak barang dan statusya apakah masih ada yang tersisa atau sedang dipinjam.

Dalam perpustakaan semi modern, penggunaan ICT (Information Computer Technology) masih terbatas bahkan ada yang hanya sebagai pengganti mesin ketik. Masih banyak hal yang harus dilakukan pustakawan dan pengunjung secara manual sehingga memerlukan energi lebih.

Perpustakaan modern
Perkembangan mutakhir saat ini adalah munculnya perpustakaan digital (digital library). Lebih unggul karena memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer (internet). Bukan berarti sudah tidak ada buku atau media kertas tetapi koleksi perpustakaan juga mulai dialihmediakan ke bentuk data elektronik yang lebih tidak memakan tempat dan mudah ditemukan kembali. Dalam format data digital tidak hanya memuat dokumen atau buku tetapi juga termasuk multimedia seperti rekaman audio dan video.

Keunggulan yang lain adalah dari segi pengelolaan. Seperti yang telah kita ketahui dalam business process perpustakaan terdapat beberapa pekerjaan besar yakni: pengelolaan buku/dokumen, manajemen peminjaman, database anggota, pengadaan barang atau buku baru, dan juga laporan-laporan (report) berkala yang dibutuhkan pihak manajemen perpustakaan. Nah, saat ini muncul kebutuhan bahwa pekerjaan-pekerjaan seperti tersebut diatas sudah harus digantikan oleh teknologi informasi atau dikenal sebagai sistem otomasi perpustakaan (library automation system).

Pengelolaan Dokumen Elektronik
Pengelolaan dokumen elektronik memerlukan teknik khusus yang memiliki perbedaan dengan pengelolaan dokumen tercetak. Proses pengelolaan dokumen elektronik melewati beberapa tahapan, yang dapat kita simpulkan dalam proses digitalisasi, penyimpanan dan pengaksesan/temu kembali dokumen. Pengelolaan dokumen elektronik yang baik dan terstruktur adalah bekal penting dalam pembangunan sistem perpustakaan digital (digital library). Proses-proses tersebut bisa dijabarkan sebagai berikut :

Proses Digitalisasi Dokumen 
Proses perubahan dari dokumen tercetak (printed document) menjadi dokumen elektronik sering disebut dengan proses digitalisasi dokumen. Seperti pada Gambar 1, dokumen mentah (jurnal, prosiding, buku, majalah, dsb) diproses dengan sebuah alat (scanner) untuk menghasilkan dokumen elektronik. Ini tidak diperlukan lagi apabila dokumen elektronik sudah menjadi standar dalam proses dokumentasi sebuah organisasi, maksudnya ketika dalam sebuah lembaga mengedarkan atau mengeluarkan dokumen tercetak mereka juga telah mengarsipkannya kedalam format digital seperti .pdf atau format data lainnya. Berita bagus bahwa saat ini telah banyak media umum atau buku yang telah menyertakan cd atau dvd yang berisi versi digital dan file-file referensi-referensinya.
Digitalisasi dokumen

Digitalisasi dokumen


Gambar. Proses Digitalisasi dokumen


Proses Penyimpanan 
Pada tahap ini dilakukan proses penyimpanan, proses tersebut meliputi : pemasukan data (data entry), editing, pembuatan indeks dan klasifikasi berdasarkan subjek dari dokumen. Klasifikasi bisa menggunakan UDC (Universal Decimal Classification) atau DDC (Dewey Decimal Classfication) yang banyak digunakan di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia.

Ada dua metoda dalam proses penyimpanan, yaitu pendekatan berbasis file (file base approach) dan pendekatan basis data (database approach). Masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan. 

Sedangkan penyimpanan yang menggunakan database approach, memiliki data yang dapat dibagi dan tidak ada duplikasi data, data dapat diakses dan dimanipulasi dengan mudah, memiliki format yang sesuai serta bersifat kompleks.

Proses Pengaksesan dan Pencarian Kembali Dokumen 
‘Pencarian’, adalah inti seberapa maju layanan dari sebuah koleksi dalam perpustakaan. Semakin mudah dan cepat anggota atau pengunjung menemukan apa yang diinginkan maka mereka akan puas, bersemangat dan kembali lagi. Inti dari proses ini adalah bagaimana kita dapat melakukan pencarian kembali terhadap dokumen yang telah disimpan. Dalam skala besar metode pendekatan database akan lebih fleksibel dan efektif.

Dan menariknya, sifat pendekatan database yang memiliki kebebasan terhadap data (data independence), dengan data yang sama kita bisa membuat interface ke berbagai aplikasi lain baik yang berbasis standalone (clientbase) maupun web-base.
Dokumen dengan Web


Gambar Pencarian Dokumen dengan Web

Pengembangan Sistem Sesuai Kebutuhan
Sebuah sistem apapun harus merujuk dari proses bisnis yang ada. Karena itulah yang sebenarnya sedang dibutuhkan, maka kalau ada sebuah sistem yang dibuat bukan berdasarkan kebutuhan maka presentase keberhasilannya semakin kecil. Normalnya, seorang petugas atau pemakai tidak ingin menjadi lebih ’sulit’ dan tidak ingin ’ditambahi’ tugasnya tetapi pengin lebih ’gampang’ dan cepat serta akurat dengan adanya sebuah sistem baru.

Idealnya, sistem otomasi perpustakaan yang baik adalah yang terintegrasi, mulai dari sistem pengadaan bahan pustaka, pengolahan bahan pustaka, sistem pencarian kembali bahan pustaka, sistem sirkulasi, membership, pengaturan denda keterlambatan pengembalian, dan sistem reporting aktifitas perpustakaan. Lebih sempurna lagi jika dilengkapi dengan barcoding, dan mekanisme pengaksesan data berbasis web dan internet. Setiap pengunjung disediakan layar berikut keyboard (lebih banyak komputer lebih bagus) untuk melakukan login kemudian mencari buku yang dimaksud, jika ditemukan versi elektroniknya maka bisa langsung dinikmati (dilihat atau didengarkan) tetapi jika ingin membaca langsung tinggal menuju lokasi yang telah ditunjukkan (jika status bukunya berada ditempat). Petugas-pun akan lebih mudah dalam menambah, memantau koleksi pustaka dan menyediakan laporan (report) aktifitas perpustakaan kepada manajemen.

Berikut adalah salah satu contoh sistem otomasi perpustakaan dengan fitur-fitur yang mengakomodasi kebutuhan perpustakaan secara lengkap, dari pengadaan, pengolahan, penelusuran, serta manajemen anggota dan sirkulasi. Diharapkan contoh sistem yang ditampilkan dapat dijadikan studi kasus dalam pengembangan sistem otomasi perpustakaan lebih lanjut.

Otentikasi Sistem 
Sistem akan melakukan pengecekan apakah username dan password yang dimasukkan adalah sesuai dengan yang ada di database. Kemudian juga mengatur tampilan berdasarkan previlege pemilik account, apakah dia sebagai pengguna atau admin dari sistem.

Menu utama 
Menampilkan berbagai menu pengadaan, pengolahan, penelusuran, anggota dan sirkulasi, katalog peraturan, administrasi dan security. Menu ini dapat di setting untuk menampilkan menu sesuai dengan hak akses user (previlege), misal kita bisa hanya mengaktifkan menu penelusuran untuk pengguna umum, dsb

Administrasi, Security dan Pembatasan Akses 
Fitur ini mengakomodasi fungsi untuk menangani pembatasan dan wewenang user, mengelompokkan user, dan memberi user id serta password. Juga mengelola dan mengembangkan serta mengatur sendiri akses menu yang diinginkan.

Pengadaaan Bahan Pustaka 
Fitur ini mengakomodasi fungsi untuk pencatatan permintaan, pemesanan dan pembayaran bahan pustaka, serta penerimaan dan laporan (reporting) proses pengadaan.

Pengolahan Bahan Pustaka 
Fitur ini mengakomodasi proses pemasukkan data buku/majalah ke database, penelusuran status buku yang diproses, pemasukkan cover buku/nomer barcode, pencetakan kartu katalog, label barcode, dan nomor punggung buku (call number).

Penelusuran Bahan Pustaka 
Penelusuran atau pencarian kembali koleksi yang telah disimpan adalah suatu hal yang penting dalam dunia perpustakaan. Fitur ini harus mengakomidasi penelusuran melalui pengarang, judul, penerbit, subyek, tahun terbit, dsb.


Manajemen Anggota dan Sirkulasi 
Ini termasuk jantungnya sistem otomasi perpustakaan, karena sesungguhnya disiniah banyak kegiatan manual yang digantikan oleh komputer dengan jalan mengotomasinya. Didalamnya terdapat berbagai fitur diantaranya: pemasukkan dan pencarian data anggota perpustakaan, pencatatan peminjaman dan pengembalian buku (dengan teknologi barcoding), penghitungan denda keterlambatan pengembalian buku, dan pemesanan peminjaman buku

Pelaporan 
Sistem reporting yang memudahkan pengelola perpustakaan untuk bekerja lebih cepat, dimana laporan dan rekap dapat dibuat secara otomatis, sesuai dengan parameterparameter yang dapat kita atur. Sangat membantu dalam proses analisa aktifitas perpustakaan, misalnya kita tidak perlu lagi membuka ribuan transaksi secara manual untuk melihat transaksi peminjaman koleksi dalam satu kategori, atau mengecek aktifitas seorang pengguna perpustakaan dalam 1 tahun


Fitur-fitur di dalam Digital Library
Dibawah ini beberapa fitur-fitur yang ada dalam perpustakaan digital, yaitu:

1. Otentikasi Sistem
Melakukan pengecekan apakah username dan password sesuai dengan database.

Termasuk mengatur tampilan berdasarkan previlege pemilik account.

2. Menu Utama
Menampilkan berbagai menu utama yang bisa diatur Administrator.

3. Administrasi, Security dan Hak Akses
Mengangani pembatasan dan wewenang, mengelompokkan user, dan memberi user id serta password.

4. Pengadaan Bahan Pustaka
Mengakomodasi fungsi pencatatan permintaan, pemesanan dan pembayaran bahan pustaka, penerimaan dan laporan (reporting) proses pengadaan.

5. Pengolahan Bahan Pustaka
Mengakomodasi proses pemasukkan data buku/majalah ke database, penelusuran status buku yang diproses, pemasukkan cover buku/nomer barcode, pencetakan kartu katalog, label barcode, dan nomor punggung buku (call number).

6. Penelusuran Bahan Pustaka
Penelusuran atau pencarian kembali koleksi. Fitur ini harus mengakomodasi penelusuran melalui pengarang, judul, penerbit, subyek, tahun terbit, dsb.

7. Manajemen Anggota dan Sirkulasi
Ini termasuk jantungnya sistem otomasi perpustakaan, karena sesungguhnya disinilah banyak kegiatan manual yang digantikan oleh komputer. Didalamnya terdapat berbagai fitur diantaranya: input dan cari anggota, pencatatan peminjaman dan pengembalian buku, penghitungan denda, dan pemesanan peminjaman buku.

8. Pelaporan (Reporting)
Pengelola dapat bekerja lebih cepat. Laporan dan rekap dapat dibuat secara otomatis sehingga sangat membantu dalam proses analisis keputusan. Tanpa harus membuka transaksi manual atau mengecek aktifitas anggota dalam 1 tahun.


Keberadaan perpustakaan yang ideal dan lengkap tidak bisa diwujudkan dalam sekejap. Perlu pentahapan dan perhatian yang khusus tidak hanya sekedar sambilan. Dalam lingkup lembaga atau perusahaan, biasanya perlu bagian khusus untuk menangani hal tersebut biasanya cukup dekat dengan tugas dan bagian litbang. Dalam lingkup keluarga kita sendiri, perlu juga sebuah perpustakaan lho. Mungkin manfaatnya tidak dirasakan sekarang tapi yakinlah bahwa akan sangat berguna sekali untuk esok.


Teknologi Informasi untuk Perpustakaan
Dunia perpustakaan semakin hari semakin berkembang dan bergerak ke depan. Perkembangan dunia perpustakaan ini didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatannya yang telah merambah ke berbagai bidang. Hingga saat ini tercatat beberapa masalah di dunia perpustakaan yang dicoba didekati dengan menggunakan teknologi informasi.

Dari segi data dan dokumen yang disimpan di perpustakaan, dimulai dari perpustakaan tradisional yang hanya terdiri dari kumpulan koleksi buku tanpa katalog, kemudian muncul perpustakaan semi modern yang menggunakan katalog (index). mengalami metamorfosa menjadi katalog elektronik yang lebih mudah dan cepat dalam pencarian kembali koleksi yang disimpan di perpustakaan. Koleksi perpustakaan juga mulai dialihmediakan ke bentuk elektronik yang lebih tidak memakan tempat dan mudah ditemukan kembali. Ini adalah perkembangan mutakhir dari perpustakaan, yaitu dengan munculnya perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer (internet).

Di sisi lain, dari segi manajemen (teknik pengelolaan), dengan semakin kompleksnya koleksi perpustakaan, data peminjam, transaksi dan sirkulasi koleksi perpustakaan, saat ini muncul kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi untuk otomatisasi business process di perpustakaan. Sistem yang dikembangkan dengan pemikiran dasar bagaimana kita melakukan otomatisasi terhadap berbagai business process di perpustakaan, kemudian terkenal dengan sebutan sistem otomasi perpustakaan (library automation system).

Masalah dan Isu-Isu mengenai Digital Library
Pengembangan perpustakaan digital bukan tidak mengalami hambatan. Ada beberapa hal yang menjadi bahan perhatian, yaitu: 

Kemampuan dan penentuan biaya. Seperti halnya dengan inovasi lain yang membutuhkan suatu investasi, begitu pun perpustakaan digital. Apalagi infrastruktur komputer masih membutuhkan biaya yang besar. 

Masalah hak cipta yang terbagi dua: hak cipta pada dokumen yang didigitalkan dan hak cipta pada dokumen di communication network. Di dalam hukum hak cipta masalah transfer dokumen lewat jaringan komputer belum didefinisikan dengan jelas. 

Masalah mendigitalkan dokumen. Yaitu bagaimana mendigitalkan dokumen dan jenis penyimpanan digital dokumen, baik berupa full text maupun page image. 

Masalah penarikan biaya. Hal ini menjadi masalah terutama untuk perpustakaan digital swasta yang menarik biaya atas setiap dokumen yang diakses. Penelitian di bidang ini banyak mengarah ke pembuatan sistem deteksi pengaksesan dokumen atau pun upaya mewujudkan electronic money.

Penerapan Digital Library Dengan Menggunakan Teknologi Informasi

Penerapan Digital Library Dengan Menggunakan Teknologi Informasi 
Tantangan baru teknologi informasi khususnya untuk para penyedia informasi adalah bagaimana menyalurkan informasi dengan cepat, tepat dan global. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi yang keberadaannya sangat penting di dunia informasi, mau tidak mau harus memikirkan kembali bentuk yang tepat untuk menjawab tantangan ini. Salah satunya adalah dengan mewujudkan yang terhubung dalam jaringan komputer. 

Digital Library (DL) atau perpustakaan digital adalah suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol eIektronik melalui jaringan komputer. Istilah digital library sendiri mengandung pengertian sama dengan electronic library dan virtual library. Sedangkan istilah yang sering digunakan dewasa ini adalah digital library, hal ini bisa kita lihat dengan sering munculnya istilah tersebut dalam workshop, simposium, atau konferensi dengan memakai nama.

Penelitian Digtal Library mulai berkembang pesat sejak tahun 1990 diiringi dengan kemajuan teknologi jaringan komputer yang memungkinkan pengaksesan informasi dari satu tempat ke tempat lain yang sangat jauh dalam waktu singkat. 

Proyek penelitian Digtal Library pada intinya meneliti bidang pendigitalan dokumen dan pembangunan sistem untuk dokumen digital. Pada pendigitalan dokumen, diteliti tentang bagaimana mendigitalkan dokumen dan jenis penyimpanan digital dokumen baik bernpa full text maupun page image. Sedangkan bidang pembangunan sistem pada Digtal Library, diteliti tentang pedesainan dan implementasi sistem untuk memanipulasi data pada database, misalnya penelitian arsitektur sistem yang baik untuk Digtal Library, baik yang sederhana hingga implementasi teknologi agent dari Artificial Intelligence (AI), dan sebagainya.

Penelitian Digtal Library berikutnya adalah tentang hak cipta dari dokumen, payment system, customer system dan aplikasi-aplikasi lainnya. Semua aplikasi yang diteliti diarahkan menuju managemen aplikasi berbasis elektronik. Misalnya pada penelitian hak cipta dari dokumen, penelitian diarahkan untuk mengembangkan managemen hak cipta secara elektronik, meskipun tentu saja masih terdapat hambatan terutama pada peraturan hak cipta yang ada. 

Ruang Lingkup
Dalam penyusunan laporan dengan judul Digital Library ini, dibatasi ruang lingkup yang meliputi : 
  1. Sejarah Pengembangan Digital Library 
  2. Penjelasan tentang Digital Library 
  3. Peran Digital Library 
  4. Perpustakaan Semi Modern dan Perpustakaan Modern 
  5. Proses digitalisasi dokumen 
  6. Fitur-fitur dalam Digital Library 
  7. Perkembangan sistem Digital Library 
  8. Teknologi Informasi untuk perpustakaan 
  9. Masalah dan Isu-Isu mengenai Perpustakaan Digital 
  10. Digital Library Standard 
  11. Arsitektur dan Gambar desain Digital Library 

Tujuan dan Manfaat
Tujuan
Mengetahui dengan jelas tentang digital library, dan cara penggunaan sistem digital library secara keseluruhan


Manfaat 
Manfaat penulisan laporan ini adalah dapat membantu mengerti tentang apa itu digital library, implementasi sistem dalam digital library, serta meningkatkan pengetahuan di dalam mengelola suatu informasi dalam digital library, sehingga pemanfaatan digital library dapat lebih maksimal dan berguna kepada masyarakat.


Metodologi Penulisan / Penelitian
Metodologi yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah penelitian dengan melakukan pencarian pada internet yang berhubungan dengan digital library dan sistemnya sehingga diperoleh teori-teori yang dibutuhkan dalam pembuatan laporan tentang digital library.

Kualitas Pelayanan Administrasi Kepegawaian

Kualitas Pelayanan Administrasi Kepegawaian
Kualitas Pelayanan

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1994:467), kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu, derajat atau taraf. Adapun definisi kualitas menurut Fandy Tjipto (dalam pasolong, 2007:132) 1) Kesesuaian dengan persyaratan/tuntutan, 2) kecocokan pemakaian, 3) perbaikan atau penyempurnaan keberlanjutan, 4) bebas dari kerusakan, 5) pemenuhan kebutuhan pelanggan semenjak awal dan setiap saat, 6) melakukan segala sesuatu secara benar semenjak awal, 7) sesuatu yang bias.

Sedangkan definisi kualitas menurut Montgomery (dalam Pasolong (2007:132) “the extent to which products meet the requirement of people who use them”. Jadi suatu produk, apakah bentuknya barang atau jasa, dikatakan bermutu bagi seorang kalau produk tersebut dapat memenuhi kebutuhannya.

a. Kesederhanaan adalah prosedur atau tata cara pelayanan umum harus didesain sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan pelayanan umum menjadi mudah, lancar, cepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan.

b. Kejelasan dan kepastian adalah tentang tata cara, rincian biaya layanan dan cara pembayarannya, jadwal waktu penyelesaian layanan, dan unit kerja atau pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan umum.

c. Keamanan adalah usaha untuk memberikan rasa aman dan bebas pada pelanggan dari adanya bahaya, resiko, dan keragu-raguan.

d. Keterbukaan adalah bahwa pelanggan dapat mengetahui seluruh informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan jelas, yang meliputi informasi tata cara, persyaratan, waktu penyelesaian, biaya, dan lain-lain.

e. Efisien adalah persyaratan pelayanan umum hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dan produk pelayanan publik yang diberikan.

f. Ekonomis adalah agar pengenaan biaya pelayanan ditetapakan secara wajar dengan memperhatikan nilai barang/jasa dan kemampuan pelanggan untuk membayar.

g. Keadialan yang merata adalah cakupan atau jangkauan pelayanan umum harus diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diperlakukan secara adil.

h. Ketepatan waktu adalah agar pelaksanaan pelayanan umum dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

Sesuai dengan permasalahan penulis hanya mengambil tiga indikator yaitu sebagai berikut :
a. Keterbukaan (transparan) adalah bahwa pelanggan dapat mengetahui seluruh informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan jelas, yang meliputi informasi tata cara, persyaratan, waktu penyelesaian, biaya, dan lain-lain.

b. Efisien adalah persyaratan pelayanan umum hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dan produk pelayanan publik yang diberikan.

c. Ketepatan waktu adalah agar pelaksanaan pelayanan umum dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

Pelayanan adalah perihal/cara melayani; usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan uang/jasa; kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli barang/jasa. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1994,hal: 571).

Adapun pendapat lain menurut Sinambela (2010:3) Istilah pelayanan berasal dari kata “layan” yang artinya menolong menyediakan segala apa yang diperlukan oleh orang lain untuk perbuatan melayani, pada dasarnya setiap manusia membutuhkan pelayanan, bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Kemudian dikuat kembali oleh Moenir ( 2001:26) Pelayanan umum adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material. Melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya.

Dari penjelasan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan pelayanan adalah sebagai kegiatan yang dilakukan untuk mengamalkan dan mengabdikan diri kepada masyarakat yang mempunyai kepentingan kepada organisasi sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.

Administrasi Kepegawaian
Menurut Liang Gie (2004:14) menyebutkan administrasi adalah suatu rangkaian yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan definisi kepegawaian adalah yang berhubungan dengan pegawai, orang yang bekerja pada pemerintah/perusahaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1994, hal 245).

Secara umum pengertian pelayanan administrasi kepegawaian adalah menyediakan segala apa yang diperlukan oleh pegawai termasuk pengurusan, pengaturan dan atau manajemen tentang kebijakan publik untuk masyarakat luas dan beberapa pihak yang berkepentingan dalam birokrasi pemerintah.

Metode Penelitian
Jenis penelitian yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif asosiatif. Penelitian kuantitatif asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan mengetahui hubungan kausal sebab akibat antara dua variabel atau lebih.

Populasi dan sampel
Sesuai dengan judul penelitian ini, maka yang menjadi populasi sekaligus sampel yang dijadikan responden dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Samarinda yang berjumlah 48 orang yang bersifat sensus.


Definisi Konsepsional
Dari penjelasan diatas dan sesuai dengan judul skripsi penulis ini maka ada dua konsep pokok yang dirumuskan yaitu:
a. Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG) adalah proses kegiatan melalui pemanfaatan berbagai sumber daya yang tersedia berupa SDM dan teknologi yang menyajikan berbagai bentuk informasi yang dibutuhkan sehingga dapat tercapai sesuai dengan yang telah direncanakan dengan memberi manfaat.

b. Kualitas pelayanan administrasi kepegawaian adalah tingkat baik buruknya kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau kelompok orang untuk melayani kebutuhan kepegawaian yang mempunyai kepentingan kepada organisasi sesuai aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.

Definisi Operasional
Berdasarkan pendapat diatas yang berhubungan dengan lingkungan kerja dan semangat kerja maka perumusan indikator-indikator yang dipergunakan untuk mengukur variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:

1. Independen Variabel Sistem Informasi Manajemen Pegawai
a) Sumber daya Manusia (SDM)
b) Teknologi Informasi (TI)
c) Kualitas Informasi
 
2. Dependen Variabel Kualitas Pelayanan Administrasi Kepegawaian
a) Keterbukaan (transparan)
b) Efisien
c) Ketepatan Waktu

Hasil Pengujian Hipotesis
Untuk mengetahui apakah hipotesis yang telah peneliti ajukan tersebut diterima atau tidak, maka dilakukan pengujian sebagai berikut ini :

1. Analisis Korelasi Product Moment
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yaitu antara variabel Sistem Informasi Manajemen Pegawai (X) dengan Kualitas Pelayanan Administrasi Kepegawaian (Y) pada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Samarinda.

Sebelum menuju pada analisis regresi untuk mencari pengaruh alangkah baiknya terlebih dahulu melihat hubungan diantara variabel-variabel yang dibahas sebab setiap pengaruh pasti harus memiliki hubungan, jika tidak memiliki hubungan otomatis tidak ada pengaruh diantara variabel-variabel tersebut.

Hasil korelasi antara X dan Y adalah sebesar 0,685. Ini berarti bahwa hubungan yang ada pada variabel ini adalah positif dan sangat kuat karena mendekati angka 1. Tanda dua bintang (**) artinya korelasi signifikan pada angka signifikansi sebesar 0,01 dan mempunyai kemungkinan dua arah (2-tailed). Jika tidak ada tanda dua bintang, maka secara otomatis signifikansi sebesar 0,05). Hal ini berarti semakin baik Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG) maka semakin baik pula tingkat kualitas pelayanan administrasi kepegawaian. Kemudian berdasarkan pedoman untuk memberikan interprestasi terhadap koefisien korelasi maka tingkat hubungan antara variabel sistem informasi manajemen pegawai dan kualitas pelayanan adalah sangat kuat dan searah.

2. Analisis Regresi Linier Sederhana
Hasil Regresi Sederhana
Multiple R = 0,685 angka ini menunjukkan pengaruh yang sangat kuat dan arah yang positif dari sistem informasi manajemen pegawai terhadap kualitas pelayanan administrasi kepegawaian. Untuk mengukur kecocokan/ketepatan (Goodness of Fit) variabel Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG) terhadap Kualitas pelayanan administrasi kepegawaian digunakan koefisien determinasi (R2) atau angka R Square. Dari hasil perhitungan R Square yang dihasilkan 0,469 yang dihasilkan dari R2 = 0,6852. Hal ini berarti 0,469 atau 46,9% Kualitas pelayanan administrasi kepegawaian dipengaruhi oleh Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG), sedangkan sisanya sebanyak (100% - 46,5% = 53,1%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.

Hasil Perhitungan Koefisien Regresi Sederhana X Terhadap Y Dengan Program SPSS
Berdasarkan tabel diatas berarti bahwa pengaruh variabel Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG) terhadap Kualitas Pelayanan Administrasi Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Samarinda adalah sebesar 0,547. Ini juga berarti bahwa pengaruh variabel Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG) terhadap Kualitas Pelayanan Administrasi Kepegawaian adalah positif dan sangat kuat.

Berdasarkan tabel diatas diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut a = 23,077 dan b = 0,547. Dengan demikian maka persamaan regresi linier yang terbentuk adalah Y = 23,077 + 0,547X.

Dari persamaan tersebut berarti Kualitas pelayanan administrasi kepegawaian di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Samarinda akan naik, bila Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG) ditingkatkan.


Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan yaitu sebagai berikut :

1. Dari hasil analisis regresi sederhana antara variabel sistem informasi manajemen pegawai terhadap kualitas pelayanan administrasi kepegawaian diperoleh persamaan Y = 23,077 + 0,547X selanjutnya nilai korelasi dari hasil perhitungan R Square yang dihasilkan 0,469 yang dihasilkan dari R2 = 0,6852. Hal ini berarti 0,469 atau 46,9% Kualitas Pelayanan Administrasi Kepegawaian dipengaruhi oleh Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG). Dengan demikian hipotesis diterima kebenarannya. Hal ini berarti sistem informasi manajemen pegawai berpengaruh terhadap kualitas pelayanan administrasi kepegawaian pada Badan Kepegawaian (BKD) Kota Samarinda.

2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis ternyata sistem informasi manajemen pegawai di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Samarinda, memiliki pengaruh positif untuk meningkatkan kualitas pelayanan administrasi kepegawaian.

3. Pengaruh sistem informasi manajemen pegawai terhadap kualitas pelayanan administrasi kepegawaian pada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Samarinda menunjukkan angka yang positif dengan nilai r sebesar 0,469 dimana nilai tersebut termasuk dalam kategori tinggi.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa Sistem informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG) berpengaruh positif terhadap kualitas pelayanan administrasi kepegawaian pada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Samarinda. Oleh karena itu Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Samarinda harus terus berusaha untuk meningkatkan sarana dan prasarana Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG), dan keahlian kepada pegawai untuk meningkatkan kemampuan (skill) yang dimiliki setiap pegawai. Upaya yang dilakukan dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan penggunaan Teknologi Informasi (TI).

Kualitas pelayanan administrasi kepegawaian pada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Samarinda sudah baik. Oleh karena itu harus terus dipertahankan dan meningkatkan kinerjanya dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia seperti teknologi informasi agar tercapai hal yang memuaskan dalam pekerjaan yaitu terwujudnya pelayanan yang baik kepada pegawai dalam bidang administrasi kepegawaian. Selain peningkatan kualitas pelayanan administrasi kepegawaian dari pemanfaatan SIMPEG yang ada, baik juga menanamkan kesadaran akan pentingnya tugas dan tanggung jawab pegawai dalam memberikan pelayanan yang baik.

Daftar Pustaka
Davis, Gordon B. 1999. Sistem Informasi Manajemen. Lembaga Manajemen PDM dengan PT Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta

Eko Indrajit, Richardus. (2002). Electronic Government Strategi Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital. Yogyakarta:Andi.

George M.Scott. 2001. Prinsip-Prinsip Sistem Informasi Manajemen. Andi. Yogyakarta

Gie,The Liang .2004. Ensiklopedia Administrasi. Jakarta: Gunung Agung

Jogiyanto. 2003. Sistem Teknologi Informasi. Andi Offset. Yogyakarta

Kadir, Abdul. 2005. Pengenalan Sistem Informasi. Andi. Yogyakarta.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1994. Jakarta: Balai Pustaka

Kerlinger, Fred N dan Elazar J. Pedhazur. 1987. Korelasi dan Analisis Regresi Ganda, Yogyakarta : Nur Cahaya.

Moenir, H.AS. 2001. Manajemen Pelayanan Umum Di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara

Oetomo, Budi Dharma Sutedjo. 2006. Perencanaan dan Pembangunan Sistem Informasi. Andi. Yogyakarta

Pasolong, Harbani, 2007. Teori Administrasi Publik. Alfabeta. Bandung.

Sinambela, Lijan Poltak. (2010). Reformasi Pelayanan Publik: Teori, Kebijakan, dan Implementasi. Jakarta: Pt Bumi Aksara.

Subatri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Andi. Yogyakarta.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian. Statistik Untuk Penelitian. CV. Alfabeta. Cetakan Kedelapan. Bandung

Sutanta, Edhy. 2003. Sistem Informasi Manajemen, Graha Ilmu. Yogyakarta.

Tugiman, Hiro. 2000. Audit Sistem Informasi. Kanisius. Yogyakarta

Contoh Proposal Sistem Informasi Berbasis Multimedia (Multimedia Based Information Systems)

Sistem Informasi Berbasis Multimedia (Multimedia Based Information Systems)
Abstract
Information Systems is an implementation of computing for serve management board to get a high quality of information. Information systems work to collect data, store them and then processing the data to information. Data can form as text as common data form. The emerging computer technology can give us with variety of data form, not only text. Multimedia data form such as picture, motion picture, sound can also pick as data for our computer as input. The technology is also can serve us to display information as multimedia information that it’s more rich than information formed by text and table. We can process medical data like rontgen photo, map data pick from satelite, sound of the animall etc, then store them into database. Although this is not text we also can queryng the data called image querying. From multimedia databases we can make an information by processing the multimedia data into valuable information.

Keywords : Multimedia, Information system.

a. Sistem Informasi
Sistem Informasi Terdiri dari dua kata yaitu Sistem dan Informasi. Sistem sendiri berarti gabungan dari beberapa sub sistem yang bertujuan untuk mencapai satu tujuan. Informasi berarti sesuatu yang mudah dipahami oleh si penerima. Sistem Informasi memiliki makna sistem yang bertujuan menampilkan informasi. Pada jaman dahulu sebelum sistem komputer ada maka sistem informasi ini telah lebih dahulu ada dan berjalan dengan baik.

Komponen/blok masukan merupakan blok sistem informasi yang bertugas menangkap (capturing) terhadap data data dari luar sistem informasi. Blok masukan inilah yang bertugas melakukan konversi data dari yang bentuknya alamiah manjadi data yang dapat diwakili dalam bentuk digital yang kemudian diklasifikasikan ke dalam salah satu tipe data yang tersedia.

Komponen/Blok Teknologi merupakan blok dari sistem informasi yang bertugas melakukan spesifikasi penerapan teknologi yang dapat mendukung sistem informasi dapat berjalan dengan baik. Di dalam blok teknologi ini secara umum akan di bagi menjadi dua bagian yaitu teknologi hardware dan teknologi software. Blok teknologi mendefinisikan teknologi yang dipakai oleh semua blok/komponen lain.

Komponen Kontrol merupakan komponen yang bertugas mendefinisikan bagaimana kontrol terhadap sistem dilakukan sehingga sistem dapat berjalan dengan baik. Dalam blok kontrol ini misalnya didefinisikan bagaimana melindungi data yang ada di database agar selalu sama dengan kenyataan yang dicatat.

Komponen Basis Data merupakan blok yang berisi definisi basis data yang disediakan untuk menyimpan data data yang akan disimpan dalam media penyimpan.

Komponen Keluaran merupakan blok yang bertanggung jawab terhadap bagaimana sebuah keluaran dari sistem informasi disajikan.

b. Multimedia
Multimedia berasal dari dua kata yaitu multi dan media, multi berarti beberapa dan media berarti sarana atau alat. Kata multimedia sendiri sebenarnya sudah ada sebelum komputer seperti saat ini dan lebih banyak di pakai di dunia hiburan seperti pementasan teater multimedia yang sudah ada sejak lama yaitu satu bentuk pementasan teater yang didukung oleh banyak alat bantu seperti pengeras suara, lampu panggung, gambar bergerak pada latar dan sebagainya. Di dunia home electronics juga di kenal televisi digital multimedia yang artinya televisi tersebiut dapat mendukung penggunaan banyak alat seperti menerima masukan dari cd player, game player dan lain sebagainya. Masuk ke dunia komputer yang booming dengan embel embel multimedia ketika produk sound card, produk tv card, produk graphic card masuk sebagai perluasan fungsi komputer pada dekade 90-an. Saat itu komputer menjadi semakin fleksibel penggunaannya tidak hanya untuk melakukan kegiatan komputing seperti pada awal awal kehadiran komputer tetapi memiliki fungsi tambahan untuk memainkan lagu, menerima sinyal televisi, memainkan film dan sebagainya. Produk ini laku di pasaran dan saat ini semua device tambahan tersebut menjadi standar untuk semua produk komputer khususnya Personal Computer. Untuk produk produk server device tambahan tersebut hampir tidak digunakan.

c. Multimedia Databases
Databases multimedia merupakan perluasan kemampuan basis data yang dapat menyimpan data tidak hanya text akan tetapi dapat berupa suara, gambar, animasi maupun data multimedia lainnya. Dukungan sistem basis data yang dapat menyimpan data dalam format multimedia dapat diberikan oleh ORACLE, PostGreSQL, Ms SQL Server dan beberapa produk lainnya. Format yang saat ini di dukung untuk dapat disimpan dengan baik sebagai salah satu nilai dari field database adalah blob, didalam field ini kita dapat menyimpan data berupa gambar. Dukungan ini sudah diberikan oleh Microsoft SQL server sejak versi 6,5 [RUJUKAN] , postGreSQL 7.2 [RUJUKAN]juga mendukung tipe image. Penyimpanan data dengan format multimedia juga biasa dilakukan dengan trik menyimpan alamatnya (path) dalam salah satu field di database. Trik ini biasanya dilakukan oleh programmer untuk meringankan/memperkecil ukuran basis data sehingga kinerja aplikasi menjadi lebih baik. Pada kasus penyimpanan data blob sebenarnya trik yang sama juga dilakukan, hanya saja manajemen penyimpanannya dilakukan sendiri oleh mesin basis data, sehingga dari sisi programmer terlihat bahwa data blob ini tersimpan dalam field yang bertipe blob tersebut.

Permasalahan yang muncul ketika data dalam format multimedia ini disimpan dalam basis data adalah pada saat retrieve/pengambilan data. Apakah mungkin permintaan query dengan input sebuah foto, atau sampel suara atau sampel animasi. Pada kasus seperti ini berbeda dengan query dengan input text dimana dengan mudah searching dilakukan dengan kriteria nilai salah satu field dalam database yang bertipe angka, tanggal, boolean atau text. Hal ini dikarenakan operasi perbandingan terhadap data text, tanggal, boolean atau angka dapat dengan mudah dilakukan. Untuk tipe data konvensional seperti string, numerik, date dan boolean pencarian sudah lama didukung oleh bahasa SQL (Structured Query language) standard yang saat ini dipakai. Berbeda dengan tipe data kompleks yang digunakan untuk menyimpan data multimedia yang belum didukung retrievalnya menggunakan bahasa SQL standard. Untuk itu salah satu bangunan perangkat lunak yang harus disiapkan untuk menerapkan sistem informasi berbasis multimedia adalah mesin database yang dapat mendukung proses ini.

Saat ini ada beberapa metode yang sudah dikembangkan untuk melakukan pencarian data image dan suara. Seperti metode pencarian image menggunakan algoritma wavelet [RUJUKAN ] yang sudah dikembangkan oleh beberapa peneliti. Metode ini juga dapat dikembangkan untuk melakukan retrieval data yang berisi suara [ RUJUKAN ] . Tidak menutup kemungkinan di masa depan metode ini dapat dikembangkan untuk melakukan pencarian data data dengan muatan multimedia yang lain. Pencarian dengan metoda wavelet ini cocok di gunakan untuk melakukan pencarian data yang volume item datanya besar.

d. Informasi Multimedia
Informasi yang berbentuk multimedia merupakan informasi yang disampaikan dengan menggabungkan beberapa elemen informasi. Pada penyajian informasi konvensional, informasi disajikan hanya dengan menggunakan satu media saja misalnya tulisan (text) saja, suara saja atau gambar saja. Salah satu contoh penyajian informasi bukan multimedia adalah ketika ada panggilan kepada seseorang di sebuah stasiun yang diumumkan melalui mikrofon sebagai salah satu contoh penyajian informasi melalui suara. Contoh lain adalah ketika muncul informasi di layar komputer yang berisi daftar mahasiswa yang mendapatkan nilai E, anda akan melihat informasi berbentuk text. Pada beberapa kondisi bentuk informasi seperti ini sudah dianggap cukup. Permasalahannya ketika sebuah sistem informasi dibangun dengan output informasi yang tidak mungkin disajikan hanya menggunakan tulisan saja. Saat itu penyajian informasi harus menggunakan bentuk yang lebih kaya dengan memadukan berbagai media yang tersedia.
 
Marilah kita lihat ketika sebuah sistem informasi diharuskan menunjukan kepada penggunanya tentang dimana letak sebuah buku yang akan di cari di sebuah perpustakaan dengan koleksi judul buku sebanyak 1 juta dengan leyak perpustakaan di 6 lantai dimana pada masing masing lantai ada 14 ruang. Ketika dilakukan pencarian data buku dengan kata kunci “multimedia” ternyata muncul 10 buku dengan judul yang cocok, ketika di pilih salah satu muncul informasi yang berbunyi “buku masih ada di lantai 5”, berbekal informasi ini berapa lama buku yang dimaksud akan ditemukan oleh seorang pengunjung yang baru menjadi anggota perpustakaan?.

jika anda mencari buku ini naiklah ke lantai 5 lalu berbelok ke kiri di depan lift, pada lorong pertama silahkan belok kanan dan masuklah ke ruang nomor 12, buku yang anda cari berada di rak nomor 2” text ini juga tertulis di sebelah kanan atas layar komputer penyaji informasi. Inilah gambaran informasi yang disajikan dalam bentuk multimedia. Dengan informasi yang di buat dengan memadukan tulisan, gambar dan suara dipastikan kualitas informasi akan meningkat. Peningkatan kualitas informasi ini dapat kita lihat terutama dari sisi akurasinya.

Ketepatan waktu informasi sampai kepada pengguna informasi juga dapat ditingkatkan. Contoh informasi multimedia yang dapat menjamin bahwa informasi sampai dengan tepat kepada pengguna yang membutuhkan adalah informasi berupa text yang di sampaikan menggunakan media suara (berupa alert) dan text yang berupa notifikasi short message service (sms).

Pada pengertian multimedia konvensional yang hanya menggunakan alat alat multimedia berupa speaker dan layar komputer yang terhubung langsung (secara fisik) dengan komputer sebagai alat (device) multimedia. Saat ini media/alat (device) multimedia penyampai informasi juga meliputi berbagai alat komunikasi yang baru muncul yang secara efektif dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan komputer. Alat alat tersebut antara lain hand phone, telephone rumah, LCD viewer, alerter dan beberapa alat lain yang dapat dikendalikan secara langsung maupun tidak langsung dari komputer.

e. Input Multimedia
Selain multimedia dapat digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga informasi disajikan dalam bentuk multimedia sebagai output dari sistem informasi. Input atau masukan ke dalam sistem juga dapat berupa masukan data data multimedia. Data data ini saat ini dapat masuk ke komputer tidak hanya melalui keyboard dan mouse tetapi dapat masuk ke komputer melalui berbagai alat/device untuk menangkap data multimedia. Misalnya kamera, scanner, sensor cahaya, telephopne rumah, telephon genggam sensor suara, barcode reader dan lain sebagainya. Dengan alat alat input ini maka input ke sistem akan menjadi semakin kaya, misalnya jika didalam sistem tersedia basis data residivis yang jumlahnya ribuan, kemudian dicoba mencari salah satui residivis dengan sampel fotonya maka sistem dapat melakukan pencarian dengan input melalui scanner. Algoritma yang dipakai untuk melakukan pencarian misalnya bisa dimanfaatkan algoritma wavelet untuk melakukan querying image.

Input multimedia diperlukan untuk melakukan data capturing (penangkapan data). Data multimedia lebih kaya dibanding dengan data data konvensional maka alat alat untuk menangkap data multimedia juga berbeda dengan alat data capturing yang biasa digunakan seperti keyboard dan mouse. Untuk menangkap citra (image) digunakan snanner, foto digital sampai foto satelit, sedangkan untuk merekam suara digunakan mikrofon dan diteruskan dengan alat alat lain untuk sound processing seperti mixer dan lain sebagainya. Untuk menangkap gambar bergerak digunakan video recorder dengan berbagai variasinya.

f. Sistem Informasi Berbasis Multimedia
Sistem informasi berbasis multimedia merupakan sebuah sistem informasi dengan konsep menggunakan masukan dan keluaran dengan bentuk data multimedia. Perubahan spesikasi teknologi yang digunakan pada blok masukan, blok basis data dan blok keluaran merupakan modifikasi yang dilakukan yang menjadi ciri sistem informasi berbasis multimedia dengan sistem informasi yang tidak berbasis multimedia. Proses pengolahan masukan kemudian disimpan dalam basis data dan kemudian dikeluarkan dalam alat (device) dengan berbagai variasi bentuknya tetap dilakukan oleh mesin. Mesin yang dimaksud disini adalah perangkat komputer dengan berbaai arsitekturnya. Peran manusia dalam sistem informasi berbasis multimedia tetap berada di luar sistem yaitu sebagai pemakai. Baik sebagai pemakai untuk melakukan/memberikan masukan (menangani aktifitas input data) maupun user yang bertindak sebagai konsumen informasi. Manusia sebagai pemilik sistem informasi ini dalam terminologi sistem informasi berbasis multimedia sama sekali tidak masuk ke dalam sistem menjadi penyedia informasi maupun pengolah informasi. Peran manusia di dalam sistem ini sekali lagi ditandaskan disini hanya sebagai penyedia data dan konsumen informasi.

Berbagai contoh kasus banyak dapat di lihat dan telah diterapkan, antara lain adalah sistem informasi pemetaan menggunakan basis data spasial, geographic information system yang diterapkan untuk memandu pengendara kendaraan bermotor menghindari jalan jalan macet dan lain sebagainya.


g. Contoh Kasus
Sebagai contoh kasus diambil sistem informasi pariwisata berbasis multimedia berdasarkan citra peta dari satelit. Sistem ini memiliki input citra yang berupa peta yang dihoto dari satelit. Citra ini kemudian diintegrasikan dengan data data yang lain seperti text, suara dan gambar. Integrasi data dilakukan dengan authoring tools seperti macromedia Director.

h. Kesimpulan

Sistem Informasi Berbasis Multimedia merupakan pengembangan dari sistem informasi
Modifikasi yang dilakukan pada sistem informasi berbasis multimedia adalah dengan menerapkan teknologi multimedia pada blok masukan, blok basis data dan blok keluaran
Teknologi basis data saat ini telah mendukung disimpannya data dengan tipe data baru berupa gambar (image), suara (voice) maupun animasi
Teknik Retrieval (pengambilan kembali) dalam basis data dengan tipe data tipe data baru ini masih terbuka luas untuk melakukan penelitian di bidang ini.

Daftar Pustaka
Sistem Informasi Manajemen
Multimedia Information Systems Platform, www.KMEDIA.com
Gerhard Schmitt, Towards Development Of Multimedia Tourist information Systems Based On Satellite Imagery, GIS – between Vison and Aplication , Stutgart, 1998
Surya Nath Singh, Creation Of Multimedia Based Integrated
Information System For Viral Diseases In India, Natioal Institute Of Virology, Pune-India, 2000

Manajemen Pengetahuan Dalam Penelitian Sistem Informasi

Manajemen Pengetahuan Dalam Penelitian Sistem Informasi
Di dalam sistem informasi, kebanyakan penelitian tentang manajemen pengetahuan mengasumsikan bahwa pengetahuan mempunyai implikasi positif bagi organisasi. Namun pada kenyataanya, pengetahuan bisa menjadi pedang bermata dua ; terlalu sedikit pengetahuan bisa mengakibatkan kesalahan , sedangkan terlalu banyak pengetahuan bisa mengakibatkan penurunan akuntabilitas.

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk meningkatkan perhatian kita kepada konsekuensi yang bisa timbul tanpa diharapkan dalam mengatur manajemen pengetahuan organisasi dan juga bertujuan untuk memperluas ruang lingkup dari penelitian manajemen pengetahuan di bidang sistem informasi. Oleh karena itu, untuk tujuan tersebut, makalah ini menganalisis sistem informasi literatur tentang manajemen pengetahuan.

Dengan menggunakan kerangka yang dikembangkan oleh Deetz (1996), penelitian yang dipublikasikan antara tahun 1990 dan 2000 di enam jurnal sistem informasi ini diklasifikasikan menjadi empat wacana ilmiah. Wacana tersebut adalah normatif, interpretif, kritis, dan dialogis. Untuk masing-masing wacana tersebut, kami mengidentifikasi fokus penelitiannya masing-masing, yaitu metafor pengetahuan, dasar-dasar teoretis, dan implikasi yang jelas dari artikel-artikel yang mewakilinya. Metafora pengetahuan yang muncul dari analisis ini adalah pengetahuan sebagai objek, aset, pikiran, komoditi, dan disiplin. Selanjutnya, kami menyajikan makalah yang bisa dijadikan contoh dari setiap wacana. Tujuan kami dengan analisis ini adalah untuk meningkatkan information system researchers'awareness terhadap potensi dan implikasi dari wacana yang berbeda dalam studi pengetahuan dan manajemen pengetahuan.

Pendahuluan
Pengetahuan pada dasarnya merupakan suatu sumber terpenting dalam organisasi walaupun pengetahuan sampai saat ini masih sulit untuk diidentifikasi dan didefinisikan. Berdasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa pengetahuan berakibat baik dan hanya memberikan sedikit dampak negatif , tidak sedikit organisasi mengimplementasikan manajemen pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan daya saing mereka.

Tetapi, beberapa pakar berpendapat bahwa pengetahuan bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, sedikit pengetahuan yang diterapkan akan mengakibatkan inefisiensi dalam organisasi, sedangkan terlalu banyak pengetahuan dalam organisasi membuat jalannya organisasi menjadi kaku dan kontraproduktif. Selain itu, terlalu sedikit pengetahuan bisa membuat kesalahan yang fatal, sedangkan terlalu banyak pengetahuan bisa menimbulkan pertanggungjawaban yang tidak diinginkan.

Menurut kami, beberapa pertimbangan harus dibuat dalam rangka mengakomodasi sistem informasi dalam hal mendukung manajemen pemgetahuan dalam organisasi. Pertimbangan-pertimbangan tersebut bukan hanya dampak-dampak positif dari manajemen pengetahuan, tetapi juga dampak negatif dari manajemen pengetahuan tersebut. Dalam mempertimbangkan hal tersebut, para peneliti membutuhkan kewaspadaan terhadap perbedaan antara teori-teori dalam manajemen pengetahuan yang bisa dimungkinkan dengan batasan-batasan dimana suatu manajemen pengetahuan bisa diimplikasikan

Dalam menggali perspektif dan asumsi dari penelitian manajemen pengetahuan, kami mengadopsi dari pemikiran Deetz (1996), yang terdiri dari teori-teori yang ada berdasarkan empat dasar wacana ilmiah, yaitu normatif, interpretif, kritis, dan dialogis. Setelah mengindentifikasi dan menginterpretasikan situasi dan kinerja yang ada pada masing-masing wacana, kami membangun metafor pengetahuan yang dalam wacana yang satu dengan yang lain. Kami menyadari bahwa metafor sangat berguna dalam mempertajam dan menghubungkan pengertian suatu abstrak dan fenomena pengetahuan. Selain itu kami juga percaya bahwa metafor dari pengetahuan merupakan suatu alat konsep yang kaya sekaligus simpel yang akan membantu para peneliti dalam mencari konsep utama dalam pengetahuan.
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson