Tampilkan postingan dengan label Gizi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gizi. Tampilkan semua postingan

Status Pengelolaan Plasma Nutfah Jagung

Status Pengelolaan Plasma Nutfah Jagung 
Tanaman jagung diduga berasal dari benua Amerika, yang dibawa ke Indonesia oleh orang Portugis dan Spanyol pada abad ke-16, melalui daratan Eropa, India, dan Cina. Saat ini jagung di Indonesia sudah menjadi pangan utama sesudah padi. Kebutuhan jagung terutama untuk pakan ternak mencapai 57% pada tahun 2001, untuk pangan 34%, dan sisanya 9% untuk kebutuhan lainnya (Badan Litbang Pertanian 2002). 

Sejak abad ke-16 petani di berbagai daerah mulai membudidayakan jagung dan melakukan seleksi sesuai dengan keinginannya dalam areal yang sempit. Lambat laun muncul varietas lokal berbiji putih, kuning, campuran putih dan kuning, berumur genjah, tahan hama penyakit, dan beradaptasi baik di daerah masing-masing, sehingga terbentuklah landraces atau varietas lokal. Varietas-varietas ini perlu dipertahankan sebagai plasma nutfah seiring dengan intensifnya penggunaan varietas unggul untuk peningkatan produksi nasional yang sampai saat ini telah mencapai 80% dari luas areal pertanaman jagung dengan perincian 24% varietas hibrida dan 56% varietas bersari bebas (Pingali 2001 dalam Baihaki 2004).

Sejak Balitbio yang sekarang menjadi BBBiogen ditunjuk sebagai pemegang mandat pengelola plasma nutfah nasional terutama untuk koleksi dasar/base collection (Fagi dan Soenarjo 1996 dalam Silitonga et al. 2000a), maka eksplorasi plasma nutfah lebih intensif. Sampai akhir Desember 2005 koleksi plasma nutfah jagung mencapai 886 aksesi, terdiri dari 581 varietas lokal, 65 varietas introduksi, 107 galur inbrida, dan 33 varietas unggul lama, dan varietas unggul baru. Koleksi plasma nutfah jagung yang dimiliki oleh Balitsereal berjumlah 660 aksesi, terdiri dari 480 varietas lokal, 130 varietas introduksi, dan 50 populasi introduksi. Koleksi yang sudah ada ini harus dilestarikan untuk berbagai keperluan, terutama pemuliaan tanaman. Gengen yang sekarang belum berguna, di masa mendatang mungkin diperlukan dalam pembentukan varietas unggul baru (Chang 1979, Plucknett et al. 1987).

Program pemuliaan untuk menghasilkan varietas unggul membutuhkan sumber gen tanaman dengan sifat yang diinginkan (Allard 1960). Sifatsifat tersebut antara lain adalah potensi hasil tinggi, daya adaptasi lebih baik terhadap cekaman biotik dan abiotik, umur genjah, kandungan dan kualitas gizi yang lebih baik, dan sifat estetika lainnya (Chang 1979, Arsyad dan Kartowinoto 1994).

Pemuliaan konvensional telah terbukti mampu menghasilkan varietas unggul. Namun demikian, pemuliaan konvensional memiliki keterbatasan karena kegiatan seleksi hanya didasari oleh pengamatan fenotipik. Pemanfaatan marka DNA sebagai alat bantu seleksi, mampu membantu mengatasi masalah yang dihadapi dalam pemuliaan konvensional.

Konsep pengelolaan plasma nutfah sebagai sumber daya genetik menekankan kepada pengelolaan sumber daya genetik tanaman dalam wujud tanaman seutuhnya (whole plant) dan bahkan dalam wujud sampling populasi tanaman alamiah. Pelestarian plasma nutfah dapat diartikan sebagai kegiatan pemeliharaan, penanaman, dan penyimpanan materi plasma nutfah yang bertujuan untuk melestarikan ketersediaannya secara hidup tanpa terjadi perubahan komposisi genetik atau sifat fenotipiknya (Sumarno 2002). Selanjutnya menurut Sumarno dan Zuraida (2004), sistem pengelolaan ex situ secara terpusat sangat disarankan seperti di India, Jepang, China, dan Amerika Serikat. Hal ini dapat menghemat fasilitas/biaya dan tenaga, pengelolaan menjadi optimal, dan kebijakan dalam introduksi dan pengeluaran plasma nutfah terawasi dengan baik, karena melalui satu pintu. Dalam makalah ini dikemukakan status pengelolaan plasma nutfah jagung di BBBiogen.

KOLEKSI 
Koleksi plasma nutfah jagung di Indonesia sudah ada sejak dimulainya program pemuliaan pada tahun 1923, sebagai bagian dari aktivitas pemuliaan. Koleksi varietas lokal atau introduksi di samping sebagai upaya pelestarian genetik juga diperlukan sebagai materi dalam perakitan varietas unggul baru, melalui persilangan. Jumlah koleksi plasma nutfah jagung saat ini mencapai 1.546 aksesi, 886 aksesi di antaranya di BB-Biogen dan 660 aksesi di Balitsereal.

EKSPLORASI 
Untuk menyelamatkan plasma nutfah jagung, terutama varietas lokal, perlu dilakukan eksplorasi.
Dengan mengumpulkan varietas lokal memungkinkan pemanfaatan sifat-sifat baik seperti umur genjah, adaptasi terhadap lingkungan, penutupan klobot yang rapat, ketahanan terhadap hama gudang, penyakit bulai, dan sifat penting lainnya (Subandi 1988).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam eksplorasi antara lain daerah eksplorasi, yaitu sentra produksi, daerah tradisional, daerah terpencil, dan daerah yang menggunakan jagung sebagai makanan pokok. Eksplorasi dapat bekerja sama dengan Dinas Pertanian atau Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), dan petani setempat. Dianjurkan untuk melakukan eksplorasi pada saat panen, agar dapat memperoleh informasi sifat fenotipe di tempat asalnya. Apabila tidak bisa pada saat panen, eksplorasi juga dapat langsung ke tempat penyimpanan jagung dalam bentuk tongkol.

Secara umum CIMMYT menganjurkan agar jumlah benih untuk koleksi plasma nutfah jagung berasal dari 15-25 tongkol untuk setiap plasma nutfah (Sudjana 1988). Apabila dalam tempat penyimpanan tidak ada, alternatif terakhir adalah mencari di pasar Sifat-sifat morfologi utama yang diidentifikasi atau dikarakterisasi di lokasi koleksi adalah warna, tipe biji, dan bentuk tongkol. Karakterisasi lengkap dilakukan setelah biji direjuvenasi. Untuk kelengkapan data koleksi pada saat pengambilan sampel perlu dicatat nama aksesi, asal (desa, kecamatan, provinsi), nama petani pengumpul, jumlah biji yang diterima dan keterangan mengenai keadaan benih yang diterima. Sebelum direjuvenasi, benih dicatat di Buku Induk (desa, kecamatan, provinsi) nama aksesi, asal daerah, tanggal diterima, warna dan tipe biji, jumlah biji, dan keterangan lain kalau ada.

Pada Tabel disajikan koleksi plasma nutfah jagung dari beberapa daerah di Indonesia hasil eksplorasi tahun1995-2005.

INTRODUKSI 
Introduksi adalah koleksi yang diperoleh dari luar negeri, baik melalui individu, lembaga pemerintah, maupun perwakilan kerja sama dengan luar negeri, dalam hal ini International Centre for the Improvement of Maize and Wheat (CIMMYT) atau Asian Maize Program. Kegunaan varietas introduksi adalah untuk memanfaatkan hasil pemuliaan dari luar negeri, yang pada umumnya berpotensi hasil tinggi. Penerimaan terakhir varietas introduksi dari CIMMYT pada tahun 1994, dan sejak itu belum ada lagi introduksi baru.

REJUVENASI 
Rejuvenasi dilakukan terhadap sampel plasma nutfah yang benihnya sedikit/hasil eksplorasi dan aksesi-aksesi yang daya tumbuhnya telah turun 5-10%. Hal yang perlu diperhatikan dalam rejuvenasi adalah menjaga agar tidak terjadi perubahan susunan genetik dari sampel plasma nutfah atau terjadinya inbreeding, karena jumlah tanaman yang diperbanyak terbatas atau jumlah biji yang disimpan berasal dari tongkol yang sedikit.

Pada tanaman jagung, rejuvenasi dilakukan dengan cara sibbing. Jumlah tanaman yang diperbanyak minimal 100 tanaman dan ditanam dalam empat baris. Pemupukan dan pemeliharaan sesuai dengan anjuran. Sebenarnya dengan 100 tanaman saja, kemungkinan terjadi inbreeding 0,5% pada setiap generasi. CIMMYT melakukan rejuvenasi jagung dari 256 tanaman. Dari jumlah tersebut minimal diperoleh 100 tongkol. Cara melakukan polinasi adalah dengan chain crossing (tanaman jantan hanya digunakan satu kali), atau dengan bulk sibbing.

Tanaman yang akan diperbanyak ditanam 16 baris tanaman dengan panjang baris 5 m dengan cara bulk sibbing, campuran tepung sari dari delapan baris pertama digunakan untuk mengawinkan delapan baris berikutnya, dan sebaliknya (Sudjana 1988).

Rejuvenasi di BB-Biogen dilakukan di Cikeumeuh Bogor dengan menanam 260-600 aksesi pertahun. Setiap aksesi ditanam 2-4 baris, jarak tanam 70 x 20 cm, 1 tanaman per lubang, panjang baris 5 m, tanpa ulangan, persilangan dilakukan dengan cara chain crossing. Sedangkan untuk galur inbrida dilakukan dengan cara selfing dan sibbing secara bergantian. Selama pertumbuhan tanaman di lapang, dilakukan perlindungan dari gangguan hama dan penyakit, serta cekaman lingkungan. Pemeliharaan berikutnya sesuai dengan anjuran.

KARAKTERISASI 
Karakterisasi sifat morfoagronomik dilakukan berdasarkan anjuran Patterniani dan Goodman (1977) dan CIMMYT (1991). Data sifat kuantitatif dari kelompok varietas lokal kuning (138 aksesi), varietas lokal putih (110 aksesi), varietas lokal lainnya (161 aksesi, warna biji selain putih dan kuning), varietas introduksi kuning (90 aksesi), dan varietas introduksi putih (62 aksesi) disajikan pada Tabel.


EVALUASI 
Evaluasi dilakukan terhadap mutu gizi (amilosa), cekaman abiotik (kekeringan dan keracunan Al), dan cekaman biotik (penyakit bulai dan hama lalat bibit) (Lampiran 1). 

DOKUMENTASI 
Data plasma nutfah jagung disusun dalam Katalog Tahunan Plasma Nutfah Tanaman Pangan, yang setiap tahun diperbaharui sesuai dengan status dan kemajuan pengelolaan database. Katalog plasma nutfah juga disusun dalam versi database (format Microsoft Access) yang dikemas dalam CD untuk memudahkan pengguna. 

Data sifat morpoagronomik untuk plasma nutfah jagung pada katalog terdiri dari 30 kolom, 6 kolom di antaranya adalah data paspor, sedangkan 24 kolom adalah deskriptor. Data morpoagronomik masih perlu dilengkapi, sedangkan data evaluasi akan dimasukkan pada tahun 2007, meliputi data penyakit bulai, lalat bibit, serta kekeringan, dan keracunan aluminium. 

KONSERVASI 
Benih hasil rejuvenasi, apabila kadar airnya belum mencapai <10% perlu dioven dulu pada suhu selama 40 C +3 hari untuk mematikan telur hama kalandra. Setelah benih kering, kemudian ditimbang seberat 250-500 g, dimasukkan ke dalam kantong aluminium foil dan direkat menggunakan thermoseal. Satu hari kemudian disimpan di ruang dingin. 

Fasilitas penyimpanan yang digunakan untuk plasma nutfah jagung adalah satu unit chiller ukuran 3600 x 2400 x 2400 mm (suhu 0 C dan RH 40%), dua unit chiller ukuran 6 x 2 x 2 m (suhu +10 C dan RH 40-50%), dua unit freezer ukuran 6 x 2 x 2 m (suhu -4-0 C dan RH 40%) dan 1280 x 891 x 690 mm (suhu -18-20 C), dan ruang AC dengan suhu +15 C (6 unit AC). 

PENUTUP 
Fasilitas penyimpanan yang berupa ruang dingin harus benar-benar mendapat perhatian, karena fasilitas ini merupakan tempat yang paling aman dari risiko kehilangan sumber gen maupun timbulnya generasi baru, akibat terjadi perubahan genetik. 

Sumbangan plasma nutfah berupa terbentuknya varietas unggul telah terbukti dapat meningkatkan produksi. Evaluasi terhadap beberapa sifat masih belum selesai, sehingga perlu dilanjutkan. 

Pemanfaatan teknologi marka molekuler: telah diperoleh lima primer yang polimorfisme terhadap semua pasangan tetua inbrida yang peka dan tahan penyakit bulai. Telah diperoleh beberapa galur QPM baru yang merupakan hasil konversi dari galur QPM yang peka penyakit bulai ke galur elit tahan penyakit bulai. Hibrida Semar-10 dan Bima-1 pembentukannya juga didukung oleh data molekuler. 

ABSTRAK
Koleksi plasma nutfah jagung di Indonesia sudah ada sejak program pemuliaan dimulai pada tahun 1923. Sejak saat itu sampai tahun 2004, Puslitbangtan telah melepas 37 varietas unggul jagung bersari bebas dan 11 varietas hibrida. Dewasa ini sekitar 80% areal pertanaman jagung telah ditanami dengan varietas unggul. Dengan semakin intensifnya penggunaan varietas unggul tanpa diimbangi upaya mempertahankan keberadaan varietas lokal (landrace) menyebabkan terjadinya erosi genetik plasma nutfah. Untuk mencegah erosi genetik perlu dilakukan eksplorasi terhadap varietas-varietas lokal. BB-Biogen diberi mandat untuk mengelola plasma nutfah pertanian sejak 1995. Koleksi plasma nutfah jagung sebanyak 886 aksesi disimpan dalam Bank Gen dengan fasilitas ruang dingin yang terdiri atas ruang AC suhu 15-18 C untuk penyimpanan jangka pendek, ruangan AC dengan suhu -5-0 C untuk jangka menengah, dan ruangan AC dengan suhu -20 C untuk jangka panjang. Koleksi plasma nutfah jagung yang dimiliki oleh Balitsereal pada saat ini berjumlah 660 aksesi yang meliputi 480 varietas lokal, 130 varietas introduksi, dan 50 populasi introduksi. Supaya koleksi ini bermanfaat maka pengelolaan yang dilakukan mencakup delapan kegiatan, yaitu eksplorasi, introduksi, rejuvenasi, karakterisasi, evaluasi, dokumentasi, konservasi, dan pemanfaatan. Data dan informasi dari kegiatan tersebut didokumentasikan dalam bentuk pangkalan data (database). Untuk memudahkan pengelolaan data maka telah disusun sistem database plasma nutfah berbasis Microsoft Access.

DAFTAR PUSTAKA 
Allard, R.W. 1960. Principles of Plant Breeding. John Wiley & Sons. 485 p. 

Arsyad, D.M. dan S. Kartowinoto. 1994. Pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah kedelai. 

Makalah pada Tema Kerja Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional di Bogor, 30 Maret 1994. 5 hlm. 

Badan Litbang Pertanian. 2002. Festival jagung pangan pokok alternative. Istana Bogor, 26-27 April 2002. 

Departemen Pertanian. 

Baihaki, A. 2004. Mengantisipasi persaingan dalam menuju swasembada varietas unggul. Prosiding Simposium PERIPI. Bogor, 5-7 Agustus 2004. hlm. 36-49. 

Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. 2003. Katalog plasma nutfah tanaman pangan. Padi, jagung, sorgum, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, kacang tunggak. 

Kelompok Peneliti Sumber Daya Genetik. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik 

Pertanian. hlm. 1-25. 

Budiarti, S.G., Sutoro, dan Subandi. 1997. Uji kekeringan beberapa varietas jagung di rumah kaca dan lapangan. Prosiding Simposium Nasional dan Kongres III PERIPI Bandung, 24-25 September 1997. hlm. 177-185. 

Budiarti, S.G. 2001. Skrining plasma nutfah jagung terhadap kekeringan Balittan Agronomi IPB. Bogor. 

(A6):19-22. 

Budiarti, S.G., Suyono, D. Koswanudin, I.H. Somantri, dan T.S. Silitonga. 2002. Evaluasi ketahanan plasma nutfah tanaman pangan terhadap hama. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman. Puslitbangtan. Bogor, 26-27. hlm. 44-51 Budiarti, S.G, T. Suhartini, T.S. Silitonga, N. Dewi, dan Hadiatmi. 2003. Evaluasi toleransi plasma nutfah padi, jagung dan kedelai terhadap lahan bermasalah (lahan masam, keracunan Al dan Fe). Prosiding 

Seminar Hasil Penelitian Rintisan Bioteknologi Tanaman. Bogor, 23-24 September 2003. hlm. 49-57. 

Chang, T.T. 1979. Crop genetic resources. p. 83-103. In J. Sneep and A.J.T. Hendrikcen (Eds.). Plant Breeding Perspective Centre for Agricultural. Ub & Doc. 

Wageningen. 435 p. 

CIMMYT. 1991. Deskriptor for Maize. IBPGR. Rome. 

Koswanudin, D., S.G. Budiarti, dan S.A Rais. 2001. Evaluasi ketahanan plasma nutfah jagung terhadap lalat bibit Antherigona Exigua Stein. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman. Puslitbangtan. 2001. Bogor. 30-31 Januari 2001. 

hlm. 181-188. 

Minantyorini., Asadi., T.S. Silitonga., dan S.G Budiarti. 

1998. Eksplorasi plasma nutfah tanaman pangan. 

Laporan Hasil Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Bogor. 

Patterniani, E, and M.M Goodman. 1977. Races of maize in Brazil. CIMMYT. International Maize and wheat Improvement Centre Apdo Postae 6-641, Mexico6, D-F. Mexico 10 p.

Plucknett, D.L., N.G.H. Smith, J.T. Wiliams, and N.M. 

Aneshetty. 1987 Gene Bank and The Wolds Food. 

Princeton Univ. Press. New Jersey. 247 p. 

Rais, S.A., T.S. Silitonga, S.G. Budiarti, Asadi, dan Hadiatmi. 2000. Penyaringan plasma nutfah tanaman pangan terhadap cekaman lingkungan tumbuh. Prosiding Simposium Nasional Pengelolaan Pemuliaan dan Plasma Nutfah. PERIPI. Bogor, 22-23 Agustus 2000. hlm. 757-770. 

Silitonga, T.S., S.G. Budiarti., S.A. Rais., dan I.H. Somantri. 2000a. Eksplorasi Plasma Nutfah Tanaman Pangan. Laporan Hasil Penelitian 1999/2000. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan Bogor. 

Silitonga, T.S., Sutoro, S.G. Budiarti, Hadiatmi, H. Kurniawan, dan I.H. Somantri. 2000b. 

Pemanfaatan sumber daya genetik padi dan serelia lain untuk mendukung ketersediaan pangan. 25 tahun Badan Litbang Pertanian. hlm. 343-351. 

Silitonga, T.S., S.G. Budiarti, Minantyorini, dan I.H. 

Somantri. 2001. Eksplorasi dan koleksi plasma nutfah tanaman pangan di Provinsi Riau dan Jawa 

Barat. Laporan Hasil Penelitian TA 2000/20001. 

Balitbio, Bogor. 

Subandi. 1988. Perbaikan varietas. Dalam Subandi et al. 

(Eds.). Jagung. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian/Puslitbangtan. hlm. 81-100. 

Sudjana. 1988. Pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah jagung. Disampaikan pada Kursus Pemanfaatan dan Pelestarian Plasma Nutfah, Bogor, 22 Februari-12 Maret 1988. Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional. 

Suhartini, T., S.G. Budiarti, T.S. Silitonga, N. Dewi, Hadiatmi, S.A. Rais, dan I.H Somantri. 2002. 

Evaluasi plasma nutfah padi, jagung dan kedelai terhadap lahan bermasalah (kekeringan keracunan Al dan Fe). 

Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman. Balitbio Bogor, 26-27 

Desember. hlm. 63-76. 

Suhartini, T., S.G. Budiarti, N. Zuraida, Hadiatmi, S.A Rais, T.S. Silitonga, dan N. Dewi. 2005. Karakterisasi mutu gizi plasma nutfah tanaman pangan. Kumpulan Makalah Seminar Hasil Penelitian BB-Biogen. 

Tahun 2004. 

Sumarno. 2002. Penggunaan bioteknologi dalam pemanfaatan dan pelestarian plasma nutfah tumbuhan untuk perakitan varietas unggul. Seminar Nasional Pemanfaatan dan Pelestarian Plasma Nutfah. Bogor, 3-4 September 2002. hlm. 1-10. 

Sumarno dan N. Zuraida. 2004. Pengelolaan plasma nutfah terintegrasi dengan program pemuliaan dan industri benih. Prosiding Simposium PERIPI. Bogor, 5-7 Agustus 2004. 

Sutoro, Hadiatmi, S.G. Budiarti, D. Suardi, dan Y. Indarwati. 2001. Evaluasi plasma nutfah jagung (Zea mays L.). terhadap kekeringan. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman. Balitbio. 

Puslitbangtan. 2001. hlm. 189-196. 

Zuraida N., T.S. Silitonga, S.A. Rais, S.G. Budiarti, Hadiatmi, dan A. Hidayat. 2001. Evaluasi mutu gizi plasma nutfah tanaman pangan. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman. 

Balitbio. Puslitbangtan. 2001. Bogor, 30-31 Januari 2001. hlm. 175-180.

Budidaya Jagung Dengan Konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu

Budidaya Jagung Dengan Konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu 
Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi karena di beberapa daerah, jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengembangan industri di Indonesia karena merupakan bahan baku untuk industri pangan maupun industri pakan ternak khusus pakan ayam. Dengan semakin berkembangnya industri pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakin meningkat pula. 

Usaha peningkatan produksi jagung di Indonesia telah digalakan melalui dua program utama yakni: 
(1) Ekstensifikasi (perluasan areal) dan 
(2) intensifikasi (peningkatan produktivitas). 

Program peluasan areal tanaman jagung selain memanfaatkan lahan kering juga lahan sawah, baik sawah irigasi maupun lahan sawah tadah hujan melalui pengaturan pola tanam. 

Usaha peningkatan produksi jagung melalui program intensifikasi adalah dengan melakukan perbaikan teknologi dan manajemen pengelolaan. Usahausaha tersebut nyata meningkatkan produktivitas jagung terutama dengan penerapan teknologi inovatif yang lebih berdaya saing (produktif, efisien dan berkualitas) telah dapat menghasilkan jagung sebesar 7 – 9 ton/ha seperti ditem ukannya varietas ungul baru dengan tingkat produktvitas tinggi dan metode manajemen pengelolaan tanaman dan sumberdaya secara terpadu. 

KONSEP DAN PENDEKATAN PTT 
Pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu yang disingkat dengan PTT pada dasarnya merupakan kiat atau metodologi dalam peningkatan produksi tanaman melalui pengelolaan tanaman dan sumber daya secara terintegrasi dengan meramu teknologi yang memiliki efek sinergis sehingga pendekatan PTT mampu meningkatkan produktivtas tanaman jagung secara berkelanjutan (sustainable). Adapun ciri dari konsep pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya secara terpadu adalah sebagai berikut: 

1. Keterpaduan/ Integrasi 
Keterpaduan yang dimaksud dalam PTT, tidak hanya terbatas pada keterpaduan tanaman dan sumber daya input, namun melibatkan keterpaduan yang luas, meliputi keterpaduan institusi (pemerintah ataupun swasta), sumberdaya alam, ilmu pengetahuan dan Teknologi, serta keterpaduan analisis. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan jagung yang didasarkan pada konsep PTT tidak hanya mempertimbangkan subsistem produksi tetapi sudah merencanakan sampai kepada subsistem pemasaran, termasuk kelembagaan pendukung sehingga kegiatan usahatani dapat berjalan secara berkesinambungan. 

2. Sinergisme 
Efek sinergisme adalah efek yang saling mendukung/menguatkan antara komponen teknologi yang satu dengan komponen teknologi lainnya. 

Pemanfaatan sinergiesme antara komponen-komponen teknologi produksi yang akan diterapkan bertujuan untuk mendapatkan output hasil yang lebih tinggi. Misalnya penggunaan alat pembuat alur irigasi (alat PAI-MI), alur yang dibuat selain dapat digunakan untuk menyalurkan air irigasi sehingga akan meningkatkan aktifitas dan efisiensi pemanfaatan air serta dapat menaikkan unsur hara yang ada di bawah lapisan olah di samping membentuk guludan sehingga pertumbuhan tanaman dapat lebih optimal yang pada gilirannya akan meningkatkan produksi secara lebih efisien dibanding pengairan tanpa alur seperti yang dipraktekkan petani selama ini. Penggunaan Varietas unggul baik Unggul nasional maupun multi nasiaonal akan lebih bersinergi dengan kualitas benih yang prima (baik kualitas genetik, fisik ataupun kualitas fisiologi) dengan kriteria daya tumbuh benih yang lebih seragam (minimal 90%). Benih dengan kualitas yang lebih prima dapat tumbuh lebih cepat, perakarannya akan tumbuh lebih kuat dengan distribusi akar yang lebih baik sehingga dapat memanfaatkan air dan unsur hara secara optimal. Pengendalian gulma dengan alsin tipe IRRI-M6 selain dapat mengendalikan gulma secara efektif dan efisien , juga dapat menggemburkan tanah dan mengembalikan bahan organik (dari gulma) ke dalam tanah yang dapat menekan erosi dan memperbaiki kondisi fisik tanah sehingga dapat memperbaiki serapan hara. 

3. Partisipatif 
Pendekatan partisipatif merupakan pendekatan dengan cara melibatkan semua pihak yang berkepentingan mulai dari petani, swasta, penyuluh serta instansi terkait mulai dari identifikasi, pelaksanaan sampai kepada evaluasi kegiatan. Dengan demikian komponen teknologi utama yang akan di integrasikan dalam pendekatan PTT dapat berjalan secara lumintu (berkelanjutan) karena telah mengakomodasikan dan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan petani yang pada umumnya kekurangan modal untuk mengelola usaha taninya secara optimal. Dalam penerapan PTT jagung, pertisipasi petani dan swasta sangat diperlukan untuk menentukan pengembangan yang akan dilakukan di lahannya. Misalnya introduksi pembuat alur, alat penyiang, mesin pemipil dan penyediaan benih unggul berkualitas serta penyediaan pupuk perlu partisipasi swasta yang dapat bermitra dengan petani dalam penyediaan sarana, penyediaan jasa alsintan serta dapat menampung hasil usahataninya dengan harga yang layak. 

Dengan cara tersebut akan tercipta suatu pola kemitraan dengan asas saling membutuhkan dan saling menguntungkan sehingga baik petani maupun swasta memiliki posisi tawar yang kuat. Oleh sebab itu, dalam implementasinya, PTT perlu di awali dengan identifikasi permasalahan baik masalah teknis, maupun sosial-ekonomi dan budaya, mengetahui potensi sumberdaya, baik sumberdaya lahan ataupun buatan yang dapat menunjang implementasi PTT melalui Studi pemahaman pedesaan partisivatif (PRA/Participartory Rural Appraisal). 

4. Dinamis 
Kondisi lingkungan pengembangan jagung cukup beragam baik di lahan kering ataupun di lahan sawah terutama sawah tadah hujan, mengindikasikan bahwa penentuan komponen teknologi utama yang akan digunakan dalam pendekatan PTT harus dinamis, seiring dengan variasi lingkungan tumbuh tanaman, termaksud sosial-ekonomi dan budaya masyarakat tani sendiri. Dengan partisipasi aktif petani pada tahap akhir PTT ini, para petani seharusnya sudah dapat mengetahui dan mengelola dinamika yang ada dalam usaha taninya, namun bimbingan masih harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan. 

KOMPONEN TEKNOLOGI SEBAGAI PILAR PTT JAGUNG 
Pemilihan komponen teknologi yang tepat dalam menyusun paket teknologi yang akan diterapkam dalam pelaksanaan PTT jagung merupakan hal yang penting untuk mendapatkan sinergisme komponen teknologi yang optimal . Namun demikian beberapa komponen teknologi budidaya jagung yang telah diuji dan mempunyai sifat sinergisme yang tinggi sebagai pilar utama dalam penerapan konsep PTT. Komponen teknologi tersebut adalah sebagai berikut: 

Penggunaan Varietas Unggul Berdaya Hasil Tinggi dan Stabil Respon varietas unggul berdaya hasil tinggi dan stabil sangat diperlukan sebagai komponen utama PTT jagung, baik dalam bentuk varietas unggul bersari bebas ataupun hibrida. Jenis Varietas unggul yang akan di gunakan di setiap wilayah pengembangan dipilih berdasarkan kesesuaian varietas dengan lingkungan pertumbuhan setempat (spesifik lokasi) serta dukungan swasta sebagai pemasok sarana teknologi untuk kebutuhan petani. Dalam banyak kasus, petani pada umumnya kekurangan modal untuk menerapkan usahataninya secara optimal. Karena itu, banyak petani menggunakan benih dari penanamannya sendiri tanpa seleksi lapangan 2-3 generasi untuk hibrida dan beberapa siklus untuk jenis bersari bebas, kecuali pada wilayah pengembangan yang telah terbentuk kemitraan antara petani dengan pengusaha benih. Dalam priode 3 (tiga) tahun terakhir (1999 sampai 2001), sejumlah 8(delapan) varietas unggul telah dilepas yang terdiri dari 4 jenis bersari bebas dan 4 hibrida. Potensi hasil, umur panen dan reaksi terhadap penyakit bulai dapat dilihat pada tabel 1. Ditinjau dari segi hasil biji (hibrida) semar 10 memiliki hasil biji tertinggi dari seluruh varietas hasil persilangan BALITSEREAL yaitu pada MK.II di Maros dapat mencapai 9,56 t/ha pada kadar air 14%, sementara C-7 10,24 t/ha dan Bisi-2 8,06 t/ha, sedangkan (bersari bebas) hasil tertinggi diperoleh pada Varietas Bisma 8,25 t/ha 

Benih Berkualitas 
Benih dengan kualitas yang prima (daya tumbuh dan Vigornya cukup tinggi) diperlukan untuk memacu keseragaman dan kecepatan pertumbuhan. 

Benih dengan kualitas fisiologi yang tinggi (daya tumbuh minimal 90%) juga lebih toleran pada kondisi lingkungan tumbuh yang kurang optimal dibanding benih dengan kualitas fisiologi yang lebih rendah, serta lebih efektif memanfaatkan pupuk dan hara lain yang ada di dalam tanah. Pada lingkungan pertumbuhan yang sama dengan menipulasi hara yang sama, benih dengan vigor yang tinggi akan tumbuh lebih baik dibanding dengan pertumbuhan tanaman dari benih yang kurang vigor. 

Penyiapan Lahan dan Pengendalian Gulma 
Untuk menekan biaya produksi pada usaha tani jagung, salah satu cara yang perlu dilakukan adalah penyiapan lahan secara Tanpa Olah Tanah (TOT) atau Tanam dengan Olah Tanah Minimum (TOM), baik di lahan kering ataupun dilahan sawah sesudah hujan dapat diterapkan tergantung dari kondisi fisik lahan. Lahan yang ditumbuhi sisa-sisa tanaman atau gulma dapat disemprot dengan herbisida golongan paraquat ataupun jenis Glyphosat, tergantung dari kondisi gulma di lokasi tersebut. Satu minggu sesudah disemprot, benih sudah dapat ditugal dengan menggunakan alat tanam tipe MVL1 dan selanjutnya diikuti dengan penyiangan dengan menggunakan alat penyiang IRRI-M6. Alsin IRRI-M6 yang dihasilkan oleh Balitsereal hanya membutuhkan waktu 9 jam /ha (Abidin et al., 2000) sedang dengan penyiangan secara konservasional diperlukan tenaga kerja 20 HOK (Balittan Malang dalam Suibandi et al., 1998) 

Populasi Tanaman 
Populasi tanaman sangat tergantung dengan Varietas, lingkungan pertumbuhan tingkat kesuburan tanah dan distribusi curah hujan / ketersediaan air. Untuk jagung hibrida pada umumnya jarak tanam yang digunakan adalah 75 X 25 cm (satu tanaman / lubang) pada musim hujan dan 75 X 20 (satu tanaman / lubang) pada musim kemarau , untuk memudahkan oprasi alat penyiang ataupun alsin pembuat alur. Pada MK 2 dengan priode tumbuh yang relative singkat, yang lebih banyak ditanam adalah jagung bersari bebas dengan umur genjah (Gumarang). Untuk itu jarak tanam dapat   lebih ditingkatkan dengan pengaturan jarak tanam yang lebih rapat, yaitu 70 X 20 cm, satu tanaman/lubang. 

Rasionalisasi Penggunaan Pupuk 
Dengan berkembangnya jagung hibrida, petani cenderung menggunakan pupuk urea lebih banyak dari yang direkomendasi. Karena itu sudah selakyaknya jumlah pupuk yang digunakan oleh para petani harus berdasarkan jumlah pupuk yang diperlukan tanaman untuk mencapai hasil sesuai potensi hasil varietas yang digunakan. Varietas dengan potensi hasil yang rendah (berumur genjah) kebutuhan pupuknya akan lebih sedikit dibanding dengan jenis hibrida ataupun bersari bebas dengan potensi hasil yang tinggi. Dengan demikian diperlukan uji tanah baik ditinjau dari kondisi fisik (physical properties) dan dari segi kesuburan kimia (chemical properties). 

Demikian pula penggunaan pupuk organik pada tanaman jagung sudah perlu mendapatkan perhatian, dan biomas tanaman jagungpun dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak bagi petani yang memelihara ternak. 

Pembuatan Alur Irigasi dengan Alsin PAI-M2 
Apabila populasi gulma tidak terlalu banyak dapat langsung dilakukan pembuatan alur drainase/irigasi dengan Alsin PAI M-2 pada saat tanaman berumur 30 hari sesudah tanaman tumbuh (segera setelah pemupukan susulan pertama). Kedalaman alur 21-25 cm dan lebar 32-34 cm(Tabel 2).. 

Dengan pembuatan alur tersebut pada musim kemarau tanaman hanya perlu diberi air 6-7 kali tanpa bantuan hujan dan dapat berkurang apabila masih ada hujan selama pertumbuhan tanaman. Pada lahan kering dengan curah hujan yang tinggi, alsin tersebut juga dapat digunakan untuk mendrainase kelebihan air hujan agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu serta dapat mencegah kemungkinan gangguan jazad pengganggu karena kelembaban mikro tinggi. 

Pemupukan susulan kedua dilakukan pada saat awal keluarnya bunga betina (early silking stage). Adanya alur irigasi juga memudahkan para petani untuk melaksanakan pemupukan yang biasanya dilakukan di sepanjang alur irigasi tersebut, sehingga pemberian pupuk lebih efektif. 

Pada saat tanaman telah mencapai masak fisiologis (estimasi fisual), maka bagian tanaman diatas tongkol sudah dapat dipangkas bila cuaca memungkinkan dan jagung dibiarkan beberapa hari di lapangan agar kadar airnya dapat berkurang dilapangan sehingga dapat mengurangi biaya pengeringan surya ataupun dengan alat pengering. Pangkasan tanaman tersebut dapat dimanfaatkan untuk hijauan pakan ternak sehingga pada saatnya nanti akan tercipta usahatani integrasi jagung dengan ternak ruminansia

Pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman Secara Terpadu 
Hama dan penyakit merupakan kendala utama dalam produksi jagung. 
Sekitar 70 jenis serangga (ortega, 1987) dan 100 jenis penyakit (Surtleff, 1980) yang dapat menyerang tanaman jagung. Namun hanya beberapa yang secara ekonomi sering menimbulkan kerusakan berat (Sumartini dan Hardaningsih, 1995). Beberapa jenis hama yang dilaporkan sering menimbulkan kerusakan ekonomis yaiut: lalat bibit (Atherigona sp.), ulat grayak (Spodoptera sp.), kumbang landak (Dactylispa sp), kutu daun (Rhopalosiphum maydis), penggerek batang (Ostrinia furmacalis), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera) dan kumbang bubuk (Sitophillus sp.). Penyakit utama tanaman jagung adalah : penyakit bulai (Peronosclerospora sp.), penyakit karat (Puccinia sp.). bercak daun (Drechslera/Helminthosporium sp.), hawar upih (Rhizoctonia sp.), busuk tongkol/batang (Fusarium sp.), busuk biji (Aspergillus sp.). Untuk mengendalikan hama dan penyakit jagung tersebut maka direkomendasikan menggunakan komponen pengendalian yang meliputi: varietas tahan, kultur tekni, musuh alami dan pertisida. 

Penggunaan alat Pemipil PJ-MI 
Dalam proses pemipilan jagung, kehilangan hasil dapat mencapai 8%. 
Kalau kehilangan hasil dapat ditekan menjadi 5%, maka akan diperoleh tambahan produksi jagung nasional sekitar 290.000 ton/tahun. Dengan bantuan mesin pemipil, selain dapat menekan kehilangan hasil secara fisik, penurunan kualitas hasil juga dapat ditekan karena kapasitas pemipilan dapat mencapai 1.4 ton/jam jauh lebih tinggi dibanding cara manual yang kapasitasnya hanya sebesar 20 kg/jam/orang, serta biaya pemipilan jauh lebih murah. Persentase biji pecah, biji yang tidak terpipil serta kotoran masih jauh dibawah standar kualitas mutu-1 SNI, sehingga masih layak untuk dikembangkan (tabel 3)

Sumber : Sinuseng et al. (2002) 

Jamur Tiram Sebagai Bahan Makanan Pengganti Daging Ayam Dan Daging Sapi

Jamur Tiram Sebagai Bahan Makanan Pengganti Daging Ayam Dan Daging Sapi 
Tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia terbilang rendah. Betapa tidak, perkapita per tahunnya hanya sekitar 2 kilogram. Sementara, tingkat impor daging cukup tinggi mencapai 30 persen per tahunnya. Dari data Kementerian Pertanian RI kebutuhan konsumsi daging per tahun mencapai 430 ton. Jumlah itu berasal 70 persen di antaranya dari daging lokal, sisanya merupakan impor. Ironisnya, konsumsi dagingnya hanya 2 kg perkapita per tahunnya. Angka konsumsi daging di Indonesia dengan negara lainnya berbeda jauh. Konsumsi daging di Malayasia, misalnya, sudah mencapai 38 kg perkapita pertahun. Rendah daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan khususnya daging ayam dan daging sapi secara tidak langsung mengganggu kebutuhan protein yang dibutuhkan oleh tubuh. 

Dalam setiap harinya, manusia makan untuk mencukupi kebutuhan tubuh akan nutrisi. Selain faktor kuantitas, kualitas makanan merupakan hal yang sangat penting agar tubuh dapat tumbuh dengan optimal. Makanan yang berkualitas tentu mengandung bermacam-macam gizi. Salah satu gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh adalah protein. Protein berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh di samping untuk perbaikan sel-sel yang rusak.

Protein banyak terdapat di makanan, baik dari hewan (protein hewani) maupun dari tumbuhan (protein nabati). Kekurangan protein dapat menyebabkan pertumbuhan yang terhambat dan luka yang lama sembuhnya. Sedangkan kelebihan protein (dalam porsi yang sangat berlebih) akan menyebabkan tubuh mudah terserang penyakit. Akan tetapi, lain halnya dengan karbohidrat yang disimpan dalam bentuk glikogen, kelebihan protein tidak akan disimpan dalam tubuh. Kelebihan Protein akan dibuang bersamaan dengan sisa metabolisme. Jadi akan disayangkan jika protein yang memang didapatkan dengan harga yang relatif mahal hanya diserap sebagian dan sisanya akan dibuang.

Untuk optimalisasi penggunaan protein maka konsumsi makanan sumber protein juga harus optimal, artinya bahwa asupan protein sesuai dengan kebutuhan, tidak kurang tidak lebih. Penghitungan kebutuhan protein dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Berdasarkan kebutuhan kalori perhari yaitu berkisar antara 500 – 650 kal/orang/hari, atau
2. Berdasarkan Kandungan Makanan, yang akan dibicarakan kali ini adalah kebutuhan protein hewani.

Kebutuhan protein hewani bagi tubuh adalah 1 g/BB/hari dengan perbandingan, Protein nabati 3/4 bagian, hewani 1/4 bagian, dari 3/4 bagian tersebut, 1/3 berasal dari hewan dan 2/3 dari ikan. Sebagai contoh perhitungan adalah sebagai berikut: 
  • Misal Seseorang dengan bobot badan 60 kg 
  • Orang tersebut membutuhkan protein sebanyak 1 g/BB/Hari, jadi dengan bobot badan 60 kg maka kebutuhan proteinnya sebanyak 60 g/hari 
  • Dari kebutuhan protein 60 gram tersebut, harus dicukupi dari nabati 3/4 bagian dan hewani 1/4 bagian, jadi 45 gram protein nabati dan 15 gram protein hewani. 
  • Dari kebutuhan protein hewani 15 gram tersebut, harus dicukupi dengan 2/3 bagian dari ikan dan 1/3 bagian dari hewan, jadi kebutuhan tersebut adalah 10 gram dari ikan dan 5 gram dari hewan 
  • Jadi kesimpulannya bahwa sesorang dengan bobot badan 60 kg membutuhkan 5 gram protein tiap harinya 
Lalu berapa yang kita makan? Dapat dirincikan sumber makanan dengan kandungan proteinnya (pada kisaran): 
  • susu 5 % 
  • telur 12,5%, 
  • Daging 20 % 
Misalnya kita memakan telur, berapa butir yang kita makan untuk mencukupi kebutuhan protein tubuh? 
Orang yang mempunyai bobot badan 60 kg maka memerlukan protein asal hewan sebanyak 5 gram per hari 
Untuk memenuhi 5 gram dengan memakan telur makan diperlukan telur dengan berat 40 gram. 
Berat 1 butir telur ayam ras berkisar antara 50 – 60 gram. 
Jadi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani asal hewan, hanya diperlukan tidak lebih dari 1 butir telur tiap harinya. 

Menurut seorang spesialis olahraga dan metabolisme protein, Dr. Peter Lemon, kebutuhan standar protein manusia dewasa sehari-hari ialah sebanyak 0.8 g protein per kg berat badan. Apabila berat badan Anda 65 kg, maka Anda tiap hari membutuhkan sebanyak 65 x 0.8 g protein = 52 gr protein. Jumlah tersebut, sebenarnya lebih ditujukan pada mereka yang tidak aktif bergerak sepanjang hari. Sementara semakin tinggi aktivitas seseorang, semakin tinggi pula kebutuhan akan protein. Bagi Anda ingin intensif membentuk otot dan giat berolahraga, tentunya memerlukan protein lebih tinggi lagi, yaitu disarankan mencukupi 1.5-2 g protein / kg berat badan tiap hari.

Berdasarkan data-data di atas, melihat besarnya kebutuhan protein yang dibutuhkan tubuh manusia dan rendahnya daya beli masyarakat terhadap makanan yang mengandung protein khususnya daging, maka dibutuhkan suatu bahan makanan sebagai pengganti daging ayam dan daging sapi yang pastinya daya beli masyarakat dapat menjangkaunya dan pasti dapat memenuhi kebutuhan protein yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Salah satunya melalui penggunaan Jamur Tiram. 

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom. 

Secara alami, jamur tiram Pleurotus ditemukan di hutan dibawah pohon berdaun lebar atau di bawah tanaman berkayu. Jamur tiram tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak, di tempat terlindung miselium jamur akan tumbuh lebih cepat daripada di tempat yang terang dengan cahaya matahari berlimpah. Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam keadaan gelap/tanpa sinar. Pada masa pertumbuhan misellium, jamur tiram sebaiknya ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buah tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran 60 - 70 %.

Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, biochemistry, Faculty of Pharmaceutical Universitas Chulangkorn, jamur tiram mengandung protein, air, kalori, karbohidrat, dan sisanya berupa serat zat besi, kalsium, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C. 

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Jamur ini memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin, fosfor, besi, kalsium, karbohidrat, dan protein. Untuk kandungan proteinnya, lumayan cukup tinggi, yaitu sekitar 10,5-30,4%. Komposisi dan kandungan nutrisi setiap 100 gram jamur tiram adalah 367 kalori, 10,5-30,4 persen protein, 56,6 persen karbohidrat, 1,7-2,2 persen lemak, 0.20 mg thiamin, 4.7-4.9 mg riboflavin, 77,2 mg niacin, dan 314.0 mg kalsium. Kalori yang dikandung jamur ini adalah 100 kj/100 gram dengan 72 persen lemak tak jenuh. Serat jamur sangat baik untuk pencernaan. Kandungan seratnya mencapai 7,4- 24,6 persen sehingga cocok untuk para pelaku diet. 

Kandungan gizi jamur tiram menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian. Protein rata-rata 3.5 – 4 % dari berat basah. Berarti dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Jika dihitung berat kering. Kandungan proteinnya 10,5-30,4%.Sedangkan beras hanya 7.3%, gandum 13.2%, kedelai 39.1%, dan susu sapi 25.2%. Jamur tiram juga mengandung 9 macam asam amino yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin, dan fenilalanin. 72% lemak dalam jamur tiram adalah asam lemak tidak jenuh sehingga aman dikonsumsi baik yang menderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol) maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. 28% asam lemak jenuh serta adanya semacam polisakarida kitin di dalam jamur tiram diduga menimbulkan rasa enak. Jamur tiram juga mengandung vitamin penting, terutama vitamin B, C dan D. vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin), niasin dan provitamin D2 (ergosterol), dalam jamur tiram cukup tinggi. Mineral utama tertinggi adalah Kalium, Fosfor, Natrium, Kalsium, dan Magnesium. Mineral utama tertinggi adalah : Zn, Fe, Mn, Mo, Co, Pb. Konsentrasi K, P, Na, Ca dan Me mencapai 56-70% dari total abu dengan kadar K mencapai 45%. Mineral mikroelemen yang bersifat logam dalam jarum tiram kandungannya rendah, sehingga jamur ini aman dikonsumsi setiap hari.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dalam artikel ini penulis tertarik untuk mengemukakan bahwa jamur tiram dapat digunakan sebagai bahan makanan pengganti daging ayam dan daging sapi. 

PENDEKATAN TEORITIK 
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom. 

Karakteristik
Tubuh buah jamur tiram memiliki tangkai yang tumbuh menyamping (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus) sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus. Bagian tudung dari jamur tersebut berubah warna dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih, dengan permukaan yang hampir licin, diameter 5-20 cm yang bertepi tudung mulus sedikit berlekuk. Selain itu, jamur tiram juga memiliki spora berbentuk batang berukuran 8-11×3-4μm serta miselia berwarna putih yang bisa tumbuh dengan cepat. 

Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang karena jamur tiram adalah salah satu jenis jamur kayu. Untuk itu, saat ingin membudidayakan jamur ini, substrat yang dibuat harus memperhatikan habitat alaminya. Media yang umum dipakai untuk membiakkan jamut tiram adalah serbuk gergaji kayu yang merupakan limbah dari penggergajian kayu. 

Siklus hidup
Pada umumnya jamur tiram, Pleurotus ostreatus, mengalami dua tipe perkembangbiakan dalam siklus hidupnya, yakni secara aseksual maupun seksual. Seperti halnya reproduksi aseksual jamur, reproduksi aseksual basidiomycota secara umum yang terjadi melalui jalur spora yang terbentuk secara endogen pada kantung spora atau sporangiumnya, spora aseksualnya yang disebut konidiospora terbentuk dalam konidium. Sedangkan secara seksual, reproduksinya terjadi melalui penyatuan dua jenis hifa yang bertindak sebagai gamet jantan dan betina membentuk zigot yang kemudian tumbuh menjadi primodia dewasa. Spora seksual pada jamur tiram putih, disebut juga basidiospora yang terletak pada kantung basidium. 

Mula-mula basidiospora bergerminasi membentuk suatu masa miselium monokaryotik, yaitu miselium dengan inti haploid. Miselium terus bertumbuh hingga hifa pada miselium tersebut berfusi dengan hifa lain yang kompatibel sehingga terjadi plasmogami membentuk hifa dikaryotik. Setelah itu apabila kondisi lingkungan memungkinkan (suhu antara 10-20 °C, kelembapan 85-90%, cahaya mencukupi, dan CO2 < 1000 ppm) maka tubuh buah akan terbentuk. Terbentuknya tubuh buah diiringi terjadinya kariogami dan meiosis pada basidium. Nukleus haploid hasil meiosis kemudian bermigrasi menuju tetrad basidiospora pada basidium. Basidium ini terletak pada bilah atau sekat pada tudung jamur dewasa yang jumlahnya banyak (lamela). Dari spora yang terlepas ini akan berkembang menjadi hifa monokarion. Hifa ini akan memanjangkan filamennya dengan membentuk cabang hasil pembentukan dari dua nukleus yang dibatasi oleh septum (satu septum satu nukleus). Kemudian hifa monokarion akan mengumpul membentuk jaringan sambung menyambung berwarna putih yang disebut miselium awal dan akhirnya tumbuh menjadi miselium dewasa (kumpulan hifa dikarion). Dalam tingkatan ini, hifa-hifa mengalami tahapan plasmogami, kariogami, dan meiosis hingga membentuk bakal jamur. Nantinya, jamur dewasa ini dapat langsung dipanen atau dipersiapkan kembali menjadi bibit induk. 

Syarat pertumbuhan
Dalam menggunakan media pertumbuhan, jerami yang baik untuk dibuat sebagai bahan media tanam adalah dari jenis jerami yang keras sebab jerami yang keras banyak mengandung selulosa yang merupakan bahan yang diperlukan oleh jamur dalam jumlah banyak disamping itu jerami yang keras membuat media tanaman tidak cepat habis. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jerami sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu jerami yang digunakan tidlak busuk dan tidak ditumbuhi jamur jenis lain. Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 - 65 % dengan menambah air bersih agar misellia jamur dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media tanam dengan baik. 

Gambar Habitat alami jamur tiram 
(Sumber: www.wikipedia.com)

Secara alami, jamur tiram Pleurotus ditemukan di hutan dibawah pohon berdaun lebar atau di bawah tanaman berkayu. Jamur tiram tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak, di tempat terlindung miselium jamur akan tumbuh lebih cepat daripada di tempat yang terang dengan cahaya matahari berlimpah. Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam keadaan gelap/tanpa sinar. Pada masa pertumbuhan misellium, jamur tiram sebaiknya ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buah tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran 60 - 70 %.

Pada budidaya jamur tiram suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 - 28 OC dengan kelembapan 60 - 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 - 22 OC. 

Tingkat keasaman media juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur akan terhambat. bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mergganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 - 7 dengan menggunakan kapur (Calsium carbonat). Kondisi di atas lebih mudah dicapai di daerah dataran tinggi sekitar 700-800 m dpl. 

Kemungkinan budidaya jamur di dataran rendah tidaklah mustahil asalkan iklim ruang penyimpanan dapat diatur dan disesuaikan dengan keperluan jamur.

Kandungan gizi
Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, biochemistry, Faculty of Pharmaceutical Universitas Chulangkorn, jamur tiram mengandung protein, air, kalori, karbohidrat, dan sisanya berupa serat zat besi, kalsium, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C. 

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Jamur ini memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin, fosfor, besi, kalsium, karbohidrat, dan protein. Untuk kandungan proteinnya, lumayan cukup tinggi, yaitu sekitar 10,5-30,4%. Komposisi dan kandungan nutrisi setiap 100 gram jamur tiram adalah 367 kalori, 10,5-30,4 persen protein, 56,6 persen karbohidrat, 1,7-2,2 persen lemak, 0.20 mg thiamin, 4.7-4.9 mg riboflavin, 77,2 mg niacin, dan 314.0 mg kalsium. Kalori yang dikandung jamur ini adalah 100 kj/100 gram dengan 72 persen lemak tak jenuh. Serat jamur sangat baik untuk pencernaan. Kandungan seratnya mencapai 7,4- 24,6 persen sehingga cocok untuk para pelaku diet. 

Kandungan gizi jamur tiram menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian. Protein rata-rata 3.5 – 4 % dari berat basah. Berarti dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Jika dihitung berat kering. Kandungan proteinnya 10,5-30,4%. Sedangkan beras hanya 7.3%, gandum 13.2%, kedelai 39.1%, dan susu sapi 25.2%. Jamur tiram juga mengandung 9 macam asam amino yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin, dan fenilalanin. 72% lemak dalam jamur tiram adalah asam lemak tidak jenuh sehingga aman dikonsumsi baik yang menderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol) maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. 28% asam lemak jenuh serta adanya semacam polisakarida kitin di dalam jamur tiram diduga menimbulkan rasa enak. Jamur tiram juga mengandung vitamin penting, terutama vitamin B, C dan D. vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin), niasin dan provitamin D2 (ergosterol), dalam jamur tiram cukup tinggi. Mineral utama tertinggi adalah Kalium, Fosfor, Natrium, Kalsium, dan Magnesium. Mineral utama tertinggi adalah : Zn, Fe, Mn, Mo, Co, Pb. Konsentrasi K, P, Na, Ca dan Me mencapai 56-70% dari total abu dengan kadar K mencapai 45%.Mineral mikroelemen yang bersifat logam dalam jarum tiram kandungannya rendah, sehingga jamur ini aman dikonsumsi setiap hari. 

Manfaat

Gambar Jamur tiram sebagai bahan makanan

Jamur tiram juga memiliki berbagai manfaat yaitu sebagai makanan, menurunkan kolesterol, sebagai antibakterial dan antitumor, serta dapat menghasilkan enzim hidrolisis dan enzim oksidasi. Selain itu, jamur tiram juga dapat berguna dalam membunuh nematoda.

Jamur tiram ini memiliki manfaat kesehatan diantaranya, dapat mengurangi kolesterol dan jantung lemah serta beberapa penyakit lainnya. Jamur ini juga dipercaya mempunyai khasiat obat untuk berbagai penyakit seperti penyakit lever, diabetes, anemia. Selain itu jamur tiram juga dapat bermanfaat sebagai antiviral dan antikanker serta menurunkan kadar kolesterol. Di samping itu, jamur tiram juga dipercaya mampu membantu penurunan berat badan karena berserat tinggi dan membantu pencernaan. Jamur tiram ini mengandung senyawa pleuran yang berkhasiat sebagai antitumor, menurunkan kolesterol, serta bertindak sebagai antioksidan. Adanya polisakarida, khususnya Beta-D-glucans pada jamur tiram mempunyai efek positif sebagai antitumor, antikanker, antivirus (termasuk AIDS), melawan kolesterol, antijamur, anti bakteri, dan dapat meningkatkan sistem imun. Pada jamur tiram, produk ini disebut sebagai plovastin yang di pasaran dikenal sebagai suplemen penurun kolesterol (komponen aktifnya statin yang baik untuk menghambat metabolisme kolesterol di dalam tubuh manusia). Dilihat dari kandungan gizi yang terdapat dalam jamur tiram maka bahan ini termasuk aman untuk dikonsumsi. Adanya serat yaitu lignoselulosa baik untuk pencernaan. USDA (United States Drugs and Administration) yang melakukan penelitian pada tikus menunjukkan bahwa dengan pemberian menu jamur tiram selama 3 minggu akan menurunkan kadar kolesterol dalam serum hingga 40 % dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi pakan yang mengandung jamur tiram. Sehingga mereka berpendapat bahwa jamur tiram dapat menurunkan kadar kolesterol pada penderita hiperkolesterol. Di Jepang saat ini sedang diteliti potensi jamur tiram sebagai bahan makanan yang dapat mencegah timbulnya tumor. 

Budidaya
Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang karena jamur tiram adalah salah satu jenis jamur kayu. Untuk itu, saat ingin membudidayakan jamur ini, substrat yang dibuat harus memperhatikan habitat alaminya. Dalam budidaya jamur tiram dapat digunakan substrat, seperti kompos serbuk gergaji kayu, ampas tebu atau sekam. Hal yang perlu diperhatikan dalam budi daya jamur tiram adalah faktor ketinggian dan persyarataan lingkungan, sumber bahan baku untuk substrat tanam dan sumber bibit. Miselium dan tubuh buahnya tumbuh dan berkembang baik pada suhu 26-30 °C. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) mulai dibudidayakan pada tahun 1900. Budidaya jamur ini tergolong sederhana. Jamur tiram biasanya dipeliharan dengan media tanam serbuk gergaji steril yang dikemas dalam kantung plastik. 

Media tanam dan komposisi
Media tanam Pleurotus ostreatus yang digunakan adalah jerami yang dicampur dengan air, dedak 10% dan kapur 1%. Fungsi dari jerami adalah sebagai bahan dasar dari pertumbuhan jamur. Jerami mengandung lignin, selulosa, karbohidrat, dan serat yang dapat didegradasi oleh jamur menjadi karbohidrat yang kemudian dapat digunakan untuk sintesis protein. Air pada jerami berfungsi sebagai pembentuk kelembapan dan sumber air bagi pertunbuhan jamur. Dedak dan kapur merupakan bahan tambahan pada media tanam Pleurotus ostreatus. Dedak ditambahkan pada media untuk meningkatkan nutrisi media tanam, terutama sebagai sumber karbohidrat, karbon, dan nitrogen. Kapur merupakan sumber kalsium bagi pertumbuhan jamur. Selain itu juga kapur berfungsi untuk mengatur pH media pertumbuhan jamur. 

Media lain
Selain jerami, media lain yang dapat digunakan seperti media serbuk gergaji yang mengandung selulosa, lignin, pentosan, zat ekstraktif, abu, jerami padi, media limbah kapas, alang-alang, daun pisang, tongkol jagung, klobot jagung, gabah padi, dan lain sebagainya. Tetapi, tetap saja pertumbuhan yang paling baik ada di media serbuk gergaji dan merang. Penyebabnya adalah karena jumlah lignoselulosa, lignin, dan serat pada serbuk gergaji dan merang memang lebih tinggi. Sebagai contohnya dalam pembuatan media jerami padi, bahan-bahan yang digunakan adalah 15-20% jerami padi, 2.5% bekatul kaya karbohidrat, karbon, dan vitamin B komplek yang bisa mempercepat pertumbuhan dan mendorong perkembangan tubuh buah jamur, 1-1.5% kalsium karbonat atau kapur menetralkan media sehingga dapat ditumbuhi oleh jamur (pH 6,8 – 7,0). Selain itu, kapur juga mengandung kalsium sebagai penguat batang / akar jamur agar tidak mudah rontok. 0.5% gips dapat memperkokoh struktus suatu bahan campuran, dan terakhir 0.25% pupuk TS sebagai nutrisi.

Metode budidaya
Budi daya jamur tiram menggunakan substrat jerami dengan tahapan sebagai berikut: pembuatan media tanam dilakukan dengan memotong jerami menjadi berukuran 1-2 cm. Rendam jeraminya selama semalaman. Setelah itu, ditiriskan airnya sebelum ditambahkan dedak 10% dan kapur 1% sebagai zat hara pertumbuhan jamur. Semua bahan diaduk rata dan campuran bahan tadi dimasukkan ke dalam plastik yang tahan panas hingga terisi 2/3 bagian. Baru kemudian dipadatkan (dipukul-pukul dengan botol kaca). Setelah cukup padat, leher plastik bagian atas dimasukkan pipa paralon dan dibagian tengah media subtrat diberi lubang dan ditancapkan tips. Selanjutnya ditutupi dengan kapas lalu media substrat dilapisi dengan kertas dan diikat dengan karet. 

Media tersebut disterilisasi pada 121˚C selama 20 menit di dalam autoklaf untuk memastikan bahwa tidak ada kontaminan yang tumbuh yang mungkin akan mengganggu pertumbuhan jamur. Setelah steril, media substrat dibuka secara aseptis, lalu tips di tengah-tengah media dan kapas diambil dengan pinset steril. Lubang yang terbentuk diisi dengan bibit jamur tiram yang ditumbuhkan pada biji sorgum pada botol (aseptis). Lalu media ditutup kapas lagi dan dibungkus dengan kertas. Media substrat diinkubasi pada suhu ruang selama beberapa minggu hingga tumbuh miselium. Setelah tumbuh miselium, kapas pada media dibuang dan media dibiarkan terbuka. Semprotkan air setiap hari pada tempat pertumbuhan jamur agar kondisi sekitar lembap dan mendukung pertumbuhannya. Tubuh buah jamur akan tumbuh secara perlahan-lahan ketika media lembap dalam waktu sekitar 1 bulan lebih. Tubuh buah yang sudah cukup besar diambil dan ditimbang untuk diamati pertumbuhannya setiap minggu. 

HASIL PENELITIAN 
Berdasarkan hasil penelitian jamur tiram juga memiliki berbagai manfaat yaitu sebagai makanan, menurunkan kolesterol, sebagai antibakterial dan antitumor, serta dapat menghasilkan enzim hidrolisis dan enzim oksidasi. Selain itu, jamur tiram juga dapat berguna dalam membunuh nematoda.

Jamur tiram ini memiliki manfaat kesehatan diantaranya, dapat mengurangi kolesterol dan jantung lemah serta beberapa penyakit lainnya. Jamur ini juga dipercaya mempunyai khasiat obat untuk berbagai penyakit seperti penyakit lever, diabetes, anemia. Selain itu jamur tiram juga dapat bermanfaat sebagai antiviral dan antikanker serta menurunkan kadar kolesterol. 

Di samping itu, jamur tiram juga dipercaya mampu membantu penurunan berat badan karena berserat tinggi dan membantu pencernaan. Jamur tiram ini mengandung senyawa pleuran yang berkhasiat sebagai antitumor, menurunkan kolesterol, serta bertindak sebagai antioksidan. Adanya polisakarida, khususnya Beta-D-glucans pada jamur tiram mempunyai efek positif sebagai antitumor, antikanker, antivirus (termasuk AIDS), melawan kolesterol, antijamur, antibakteri, dan dapat meningkatkan sistem imun. Pada jamur tiram, produk ini disebut sebagai plovastin yang di pasaran dikenal sebagai suplemen penurun kolesterol (komponen aktifnya statin yang baik untuk menghambat metabolisme kolesterol di dalam tubuh manusia). Dilihat dari kandungan gizi yang terdapat dalam jamur tiram maka bahan ini termasuk aman untuk dikonsumsi. Adanya serat yaitu lignoselulosa baik untuk pencernaan. 

USDA (United States Drugs and Administration) yang melakukan penelitian pada tikus menunjukkan bahwa dengan pemberian menu jamur tiram selama 3 minggu akan menurunkan kadar kolesterol dalam serum hingga 40 % dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi pakan yang mengandung jamur tiram. Sehingga mereka berpendapat bahwa jamur tiram dapat menurunkan kadar kolesterol pada penderita hiperkolesterol. Di Jepang saat ini sedang diteliti potensi jamur tiram sebagai bahan makanan yang dapat mencegah timbulnya tumor. 

Kandungan protein jamur tiram rata-rata 3,5-4% dari berat basah. Berarti proteinnya dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Bila dihitung dari berat kering jamur tiram kandungan proteinnya adalah 19-35%, sementara beras 7,3%, gandum 13,2%, kedelai 39,1% dan susu sapi 25,2%. Jamur tiram juga mengandung sembilan asam-asam amino esensial yang tidak bisa disintesis dalam tubuh yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin dan fenilalanin. Kandungan lemak jamur tiram setidaknya 72% dari total asam-asam lemaknya adalah asam lemak tidak jenuh. Jamur tiram juga mengandung sejumlah vitamin penting terutama kelompok vitamin B, vitamin C dan provitamin D yang akan diubah menjadi vitamin D dengan bantuan sinar matahari. Kandungan vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), niasin dan provitamin D2 (ergosterol)-nya cukup tinggi.

Jamur tiram juga merupakan sumber mineral yang baik, Kandungan mineral utama yang tertinggi adalah kalium (K), kemudian fosfor (P), natrium (Na), kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Namun, jamur juga merupakan sumber mineral minor yang baik karena mengandung seng, besi, mangan, molibdenum, kadmium, dan tembaga. Konsentrasi K, P, Na, Ca dan Mg mencapai 56-70 persen dari total abu, dengan kandungan kalium sangat tinggi mencapai 45 persen. Jamur tiram ini prinsipnya mudah dimasak menjadi berbagai jenis hidangan, dari tumis, salad, tempura, sup, siomay sampai hidangan lain yang lebih kompleks. Nah, jamur ini memiliki tekstur dan rasa mirip daging ayam. Jadi, buat yang alergi daging ayam, jamur tiram ini bisa dijadikan alternatif untuk penggantinya.

Perbandingan Protein Jamur Tiram dan Daging Ayam dan Sapi
Pangan dan gizi merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pembangunan. Komponen ini memberikan kontribusi dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu berperan secara optimal dalam pembangunan. Penganekaragaman pangan merupakan salah satu cara untuk memperbaiki status gizi masyarakat. Salah satu cara menganekaragamkan makanan tersebut adalah pembuatan bakso dengan perbandingan jamur tiram dan daging sapi yang berbeda. Rata-rata kadar protein bakso dengan perbandingan jamur tiram dan daging sapi (0:1) adalah 13,57 gram%, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (1:1) adalah 7,21 gram%, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (2:3) adalah 6,14 gram%, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (3:2) adalah 8,31 gram%. Rata-rata kadar zat besi bakso dengan perbandingan jamur tiram dan daging sapi (0:1) adalah 10,96 mg, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (1:1) adalah 15,19 mg, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (2:3) adalah 12,57 mg, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (3:2) adalah 7,95 mg. Daya terima yang paling disukai adalah perbandingan jamur tiram dan daging sapi (3:2) baik untuk warna, aroma, rasa dan tekstur dan perbandingan yang paling tidak disukai adalah perbandingan jamur tiram dan daging sapi (2:3). 

PEMBAHASAN 
Tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia terbilang rendah. Betapa tidak, perkapita per tahunnya hanya sekitar 2 kilogram. Sementara, tingkat impor daging cukup tinggi mencapai 30 persen per tahunnya. Dari data Kementerian Pertanian RI kebutuhan konsumsi daging per tahun mencapai 430 ton. Jumlah itu berasal 70 persen di antaranya dari daging lokal, sisanya merupakan impor. Ironisnya, konsumsi dagingnya hanya 2 kg perkapita per tahunnya. Angka konsumsi daging di Indonesia dengan negara lainnya berbeda jauh. Konsumsi daging di Malayasia, misalnya, sudah mencapai 38 kg perkapita pertahun. Rendah daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan khususnya daging ayam dan daging sapi secara tidak langsung mengganggu kebutuhan protein yang dibutuhkan oleh tubuh. 

Dalam setiap harinya, manusia makan untuk mencukupi kebutuhan tubuh akan nutrisi. Selain faktor kuantitas, kualitas makanan merupakan hal yang sangat penting agar tubuh dapat tumbuh dengan optimal. Makanan yang berkualitas tentu mengandung bermacam-macam gizi. Salah satu gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh adalah protein. Protein berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh di samping untuk perbaikan sel-sel yang rusak.

Protein banyak terdapat di makanan, baik dari hewan (protein hewani) maupun dari tumbuhan (protein nabati). Kekurangan protein dapat menyebabkan pertumbuhan yang terhambat dan luka yang lama sembuhnya. Sedangkan kelebihan protein (dalam porsi yang sangat berlebih) akan menyebabkan tubuh mudah terserang penyakit. Akan tetapi, lain halnya dengan karbohidrat yang disimpan dalam bentuk glikogen, kelebihan protein tidak akan disimpan dalam tubuh. Kelebihan Protein akan dibuang bersamaan dengan sisa metabolisme. Jadi akan disayangkan jika protein yang memang didapatkan dengan harga yang relatif mahal hanya diserap sebagian dan sisanya akan dibuang.

Untuk optimalisasi penggunaan protein maka konsumsi makanan sumber protein juga harus optimal, artinya bahwa asupan protein sesuai dengan kebutuhan, tidak kurang tidak lebih. Menurut para ahli kebutuhan standar protein manusia dewasa sehari-hari ialah sebanyak 0.8 g protein per kg berat badan. Apabila berat badan Anda 65 kg, maka Anda tiap hari membutuhkan sebanyak 65 x 0.8 g protein = 52 gr protein. Jumlah tersebut, sebenarnya lebih ditujukan pada mereka yang tidak aktif bergerak sepanjang hari. Sementara semakin tinggi aktivitas seseorang, semakin tinggi pula kebutuhan akan protein. Bagi Anda ingin intensif membentuk otot dan giat berolahraga, tentunya memerlukan protein lebih tinggi lagi, yaitu disarankan mencukupi 1.5-2 g protein / kg berat badan tiap hari.

Berdasarkan data-data di atas, melihat besarnya kebutuhan protein yang dibutuhkan tubuh manusia dan rendahnya daya beli masyarakat terhadap makanan yang mengandung protein khususnya daging, maka dibutuhkan suatu bahan makanan sebagai pengganti daging ayam dan daging sapi yang pastinya daya beli masyarakat dapat menjangkaunya dan pasti dapat memenuhi kebutuhan protein yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Salah satunya melalui penggunaan Jamur Tiram.

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Jamur ini memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin, fosfor, besi, kalsium, karbohidrat, dan protein. Untuk kandungan proteinnya, lumayan cukup tinggi, yaitu sekitar 10,5-30,4%. Komposisi dan kandungan nutrisi setiap 100 gram jamur tiram adalah 367 kalori, 10,5-30,4 persen protein, 56,6 persen karbohidrat, 1,7-2,2 persen lemak, 0.20 mg thiamin, 4.7-4.9 mg riboflavin, 77,2 mg niacin, dan 314.0 mg kalsium. Kalori yang dikandung jamur ini adalah 100 kj/100 gram dengan 72 persen lemak tak jenuh. Serat jamur sangat baik untuk pencernaan. Kandungan seratnya mencapai 7,4- 24,6 persen sehingga cocok untuk para pelaku diet. 

Kandungan gizi jamur tiram menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian. Protein rata-rata 3.5 – 4 % dari berat basah. Berarti dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Jika dihitung berat kering. Kandungan proteinnya 10,5-30,4%.Sedangkan beras hanya 7.3%, gandum 13.2%, kedelai 39.1%, dan susu sapi 25.2%. Jamur tiram juga mengandung 9 macam asam amino yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin, dan fenilalanin. 72% lemak dalam jamur tiram adalah asam lemak tidak jenuh sehingga aman dikonsumsi baik yang menderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol) maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. 28% asam lemak jenuh serta adanya semacam polisakarida kitin di dalam jamur tiram diduga menimbulkan rasa enak. Jamur tiram juga mengandung vitamin penting, terutama vitamin B, C dan D. vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin), niasin dan provitamin D2 (ergosterol), dalam jamur tiram cukup tinggi. Mineral utama tertinggi adalah Kalium, Fosfor, Natrium, Kalsium, dan Magnesium. Mineral utama tertinggi adalah : Zn, Fe, Mn, Mo, Co, Pb. Konsentrasi K, P, Na, Ca dan Me mencapai 56-70% dari total abu dengan kadar K mencapai 45%. Mineral mikroelemen yang bersifat logam dalam jarum tiram kandungannya rendah, sehingga jamur ini aman dikonsumsi setiap hari.

Salah satu cara menganekaragamkan makanan tersebut adalah pembuatan bakso dengan perbandingan jamur tiram dan daging sapi yang berbeda. Rata-rata kadar protein bakso dengan perbandingan jamur tiram dan daging sapi (0:1) adalah 13,57 gram%, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (1:1) adalah 7,21 gram%, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (2:3) adalah 6,14 gram%, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (3:2) adalah 8,31 gram%. Rata-rata kadar zat besi bakso dengan perbandingan jamur tiram dan daging sapi (0:1) adalah 10,96 mg, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (1:1) adalah 15,19 mg, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (2:3) adalah 12,57 mg, perbandingan jamur tiram dan daging sapi (3:2) adalah 7,95 mg. Daya terima yang paling disukai adalah perbandingan jamur tiram dan daging sapi (3:2) baik untuk warna, aroma, rasa dan tekstur dan perbandingan yang paling tidak disukai adalah perbandingan jamur tiram dan daging sapi (2:3). 

KESIMPULAN 
Untuk optimalisasi penggunaan protein, maka konsumsi makanan sumber protein juga harus optimal, artinya bahwa asupan protein sesuai dengan kebutuhan, tidak kurang tidak lebih. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori yang dapat memenuhi kebutuhan protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jamur timar dapat digunakan sebagai bahan pengganti daging ayam dan daging sapi.

ABSTRAK 
Tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia terbilang rendah. Betapa tidak, perkapita per tahunnya hanya sekitar 2 kilogram. Sementara, tingkat impor daging cukup tinggi mencapai 30 persen per tahunnya. Dalam setiap harinya, manusia makan untuk mencukupi kebutuhan tubuh akan nutrisi. Selain faktor kuantitas, kualitas makanan merupakan hal yang sangat penting agar tubuh dapat tumbuh dengan optimal. Makanan yang berkualitas tentu mengandung bermacam-macam gizi. Salah satu gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh adalah protein. Protein berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh di samping untuk perbaikan sel-sel yang rusak. Kebutuhan standar protein manusia dewasa sehari-hari ialah sebanyak 0.8 g protein per kg berat badan.

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Jamur ini memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin, fosfor, besi, kalsium, karbohidrat, dan protein. Untuk kandungan proteinnya, lumayan cukup tinggi, yaitu sekitar 10,5-30,4%. Komposisi dan kandungan nutrisi setiap 100 gram jamur tiram adalah 367 kalori, 10,5-30,4 persen protein, 56,6 persen karbohidrat, 1,7-2,2 persen lemak, 0.20 mg thiamin, 4.7-4.9 mg riboflavin, 77,2 mg niacin, dan 314.0 mg kalsium. Kalori yang dikandung jamur ini adalah 100 kj/100 gram dengan 72 persen lemak tak jenuh. Serat jamur sangat baik untuk pencernaan. Kandungan seratnya mencapai 7,4- 24,6 persen sehingga cocok untuk para pelaku diet. 

Untuk optimalisasi penggunaan protein, maka konsumsi makanan sumber protein juga harus optimal, artinya bahwa asupan protein sesuai dengan kebutuhan, tidak kurang tidak lebih. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori yang dapat memenuhi kebutuhan protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jamur timar dapat digunakan sebagai bahan pengganti daging ayam dan daging sapi.
Kata Kunci: Jamur Tiram, Kebutuhan Protein, Daging Ayam dan Daging Sapi

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, A.W. 2000. Usaha Pembibitan Jamur. Jakarta: Penebar Swadaya. Hal. 3-19.

Gunawan AW, Agustina TW. 2009. Biologi dan bioteknologi cendawan dalam praktik. Jakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya. Hal. 77-83.

Pradnyamitha. 2008. Jamur tiram makanan para dewa. [terhubung berkala]. http://bayivegetarian.com/?tag=jamur-tiram [15 Jun 2009].

Pradnyamitha. 2008. Jamur tiram makanan para dewa. [terhubung berkala]. http://bayivegetarian.com/?tag=jamur-tiram [15 Jun 2009].

Sumarmi. 2006. Botani dan tinjauan gizi jamur tiram putih. Jurnal Inovasi Pertanian 4(2):124-130.

Trubus. 2007. Pijakan anyar jamur tiram. Jakarta: Trubus Swadaya. Hal. 21-27.

http://id.wikipedia.org/wiki/Jamur_tiram

http://e-rara4mystudy.blogspot.com/2010/10/jamur-tiram-sebagai-pengganti-daging.html

http://poskota.co.id/berita-terkini/2011/08/04/konsumsi-daging-warga-indonesia -rendah.

http://mihardjo.wordpress.com/2010/05/12/kebutuhan-protein-tubuh/

http://forum.meremmelek.net/showthread.php?9744-Berapa-Kebutuhan-Protein-Anda
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson