Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan

Aplikasi Mobile Peta Wisata Kota Blitar Menggunakan Sistem Operasi Android

Aplikasi Mobile Peta Wisata Kota Blitar Menggunakan Sistem Operasi Android 
Teknologi perangkat mobile smartphone saat ini cukup pesat perkembangannya. Teknologi informasi dan komunikasi akan memainkan peranan penting dalam kehidupan. Pasalnya, sekarang ini setiap orang tidak bisa lepas dari layanan dan produk berteknologi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tingkat konektivitas antarmanusia juga antarmesin pun kian tinggi.

Perangkat smartphone seperti Blackberry, Windows, Android dan Iphone bisa dikatakan merupakan teman setia yang bisa memberikan banyak informasi kepada penggunanya melalui aplikasi-aplikasi smartphone yang yang tersedia. Android Sendiri merupakan jenis sistem operasi smartphone yang paling populer dan pesat perkembangannya saat ini. Salah satu alasannya adalah sistem operasi android merupakan platform terbuka tidak merujuk pada suatu perusahaan hardware atau suatu provider. Platform terbuka memungkinkan perkembangan market sangat cepat, karena perusahaan hardware dan provider dapat membuat dan menjual perangkat android.

Pariwisata, hampir di semua negara di dunia baik negara maju maupun berkembang menjadikan sektor ini sebagai salah satu sektor dalam pembangunan ekonomi, sosial dan budaya. Pariwisata telah menjadi industri terbesar di dunia dan merupakan salah satu sektor tercepat pertumbuhannya dibidang ekonomi jasa, bersamaan dengan sektor telekomunikasi dan teknologi informasi. Hal ini menjadi gagasan untuk membuat sebuah aplikasi Android yang bisa membantu wisatawan kota Blitar mengenai penyampaian informasi tempat objek wisata, kuliner, belanja, hotel, dan jadwal kereta api. Selama ini penyampaian informasi-informasi tersebut hanya sebatas dari mulut ke telinga dan webite. Untuk itu penulis Merancang Aplikasi Mobile Peta Wisata Kota Blitar Menggunakan Sistem Operasi Android.

Aplikasi dalam bentuk mobile dapat memberikan solusi kekurangan sistem yang sudah ada. Aplikasi dalam bentuk mobile mempunyai kelebihan diantaranya portabel yang lebih efisien dalam penggunaannya dan tidak menghabiskan banyak waktu. Dengan menggunakan aplikasi mobile peta wisata kota Blitar ini diharapkan pengguna yaitu orang yang ingin berwisata ke kota Blitar bisa terbantu menemukan tempat wisata, kuliner, hotel, tempat belanja dan jadwal kereta api yang tersedia di kota Blitar. Untuk itu penulis mengajukan judul skripsi “APLIKASI MOBILE PETA WISATA KOTA BLITAR MENGGUNAKAN SISTEM OPERASI ANDROID”.

1.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan beberapa uraian latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah, yaitu bagaimana merancang dan mengimplementasikan sebuah aplikasi peta pariwisata kota Blitar menggunakan sistem operasi Android yang dapat memberikan informasi dan lokasi objek wisata, kuliner, belanja, hotel, serta jadwal kereta api berdasarkan daftar yang sudah tersedia sebagai referensi kunjungan wisata bagi para pengguna aplikasi.

1.2 Tujuan Masalah
Tujuan penelitian aplikasi mobile peta wisata kota Blitar menggunakan sistem operasi Android ini adalah : 
1 Merancang sistem aplikasi peta wisata kota Blitar menggunakan sistem operasi Android .
2 Mengimplementasikan hasil rancangan aplikasi mobile peta wisata kota Blitar menggunakan sistem operasi Android.

1.3 Batasan Masalah
Agar pembahasan masalah tidak melebar melewati batas yang akan dibahas dari permasalahan sebenarnya, maka diperlukan ruang lingkup antara lain:
1. Sistem Android yang digunakan adalah versi 4.0 Ice Cream Sandwich sampai versi 4.2.2 Jelly Bean.
2. Fitur yang dimiliki peta/map aplikasi ini adalah marker dan direction.
3. Pengguna tidak dapat menambah objek wisata pada aplikasi ini.

II. Landasan Teori
2.1. Aplikasi
Perangkat lunak aplikasi secara umum yaitu suatu sistem atau program komputer yang memiliki fungsi sebagai fasilitas digital yang membantu penggunanya menyelesaikan tugas atau pekerjaan berupa pengolahan data.

2.2.Perangkat Mobile
Elektronika digital hampir semua memiliki sistem operasi. Karena sistem operasi berperan menjembatani dan mengatur kinerja software aplikasi dengan hardware perangkat yang bersangkutan. Demikian juga untuk smartphone, atau ponsel. Perangkat ini juga memiliki sistem operasi. Suatu sistem operasi ponsel (Mobile Operating System) akan bertanggung jawab dalam hal mengoperasikan berbagai fungsi dan fitur yang tersedia dalam perangkat ponsel tersebut seperti, keyboard, WAP, email, text message, pemutar musik, dan fitur-fitur lainnya

2.3. Profil Kota Blitar
Kota Blitar merupakan salah satu daerah di wilayah Propinsi Jawa Timur yang secara geografis terletak diujung selatan dengan ketinggian 156 meter di atas permukaan laut, pada koordinat 112° 14 - 112° 28 Bujur Timur dan 8° 2 - 8° 10 Lintang Selatan, memiliki suhu udara cukup sejuk rata-rata 24°C - 34°C karena kota Blitar berada di kaki gunung Kelud dan dengan jarak 160 Km arah tenggara dari ibukota Propinsi Surabaya

2.4. GPS (Global Positioning System)
2.4.1. Pengertian GPS
GPS adalah sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan (synchronization) sinyal satelit. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan letak, kecepatan, arah, dan waktu. 

2.4.2. Sistem Navigasi GPS
GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi dengan menggunakan satelit navigasi yang dimiliki dan dikelola oleh departemen pertahanan amerika serikat, dengan bernama adalah NAVSTAR GPS. Sistem ini menggunakan sejumlah satelit yang berada di orbit bumi, yang memancarkan sinyalnya ke bumi dan ditangkap oleh sebuah alat penerima. Ada tiga bagian penting dari sistem ini, yaitu bagian kontrol, bagian angkasa, dan bagian pengguna.

2.4.3. Penentuan Posisi dengan GPS
Penentuan posisi dengan GPS adalah penentuan posisi tiga dimensi yang dinyatakan dalam sistem koordinat kartesian (X,Y,Z) dalam datum WGS (World Geodetic System) 1984. Untuk keperluan tertentu, koordinat kartesian tersebut dapat dikonversi kedalam koordinat geodetik (φ,λ,h). Titik yang akan ditentukan posisinya dapat diam (static positioning) maupun bergerak (kinematic positioning).

2.5. Android
2.5.1. Pengertian Android
Android adalah sebuah sistem operasi untuk perangkat mobile berbasis linux yang mencakup sistem operasi, middleware dan aplikasi. Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang untuk menciptakan aplikasi mereka.

2.5.2. Dasar Pemrograman Android
Default bahasa pemrograman Android adalah java namun tidak semua fitur java yang ada digunakan akan tetapi sebagian dari java yang disebut dengan Dalvik Virtual Machine. Beberapa bagian kecil dari framework android menggunakan bahasa XML untuk scripting-nya.

2.6. UML (Unifeid Modelling Language)
UML (Unifeid Modelling Language) adalah sebuah bahasa yang berdasarkan grafik atau gambar untuk memvisualisasikan, menspesifikasikan, membangun, dan pendokumentasian dari sebuah sistem pengembangan software berbasis Object-Oriented. Untuk membuat suatu model, UML memiliki diagram grafis yang diberi nama berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda terhadap sistem dalam proses analisa atau rekayasa. Diagram grafis tersebut antara lain:
1. Use case diagram.
2. Class diagram.
3. Behavior diagram.
4. Implementation diagram.

2.7. Marker Dan Infowindow
Marker merupakan pemberian tanda suatu lokasi misalnya toko, hotel, dan sebagainya dengan icon yang berbentuk default balon merah kecil pada map. Sedangkan infowindow adalah berisi informasi nama tempat dan alamat yang diberi tanda marker. Marker dan infowindow dibuat dengan cara menuliskan coding/scipt pada project program aplikasi map. Dalam aplikasi program aplikasi mobile peta wisata kota Blitar ini script tersebut ditulis pada class java project.

Gambar 2.2 Marker dan Infowindow (Sumber: stackoverflow.com)

2.8. Direction
Direction adalah sebuh fitur pada map digital yang berfungsi sebagai penunjuk arah. Direction biasanya sebuah jalur berwarna pada map yang menuju ke suatu titik yang dipilih/dituju. Berikut adalah gambar contoh map direction.

Gambar 2.3 Direction (Sumber: www.candra.web.id)

2.9. Tools yang Digunakan
Tools yaitu software yang dibutuhkan dalam pembuatan program aplikasi Wiskoblitar adalah sebagai berikut: 

1. Java JDK6
Java Development Kit (JDK) adalah alat yang berguna untuk mengembangkan dan menguji program yang ditulis dalam bahasa pemrograman java.

2. Android SDK Windows 32bit r21.1
Android SDK adalah tools API (Application Programming Interface) yang diperlukan untuk mulai mengembangkan aplikasi pada platform Android.

3. Eclipse
Eclipse adalah sebuah IDE (Integrated Development Environtment) untuk mengembangkan perangkat lunak dan dapat dijalankan di semua platform. Juno adalah versi IDE

4. ADT
Android Development Tools (ADT) adalah plugin untuk IDE eclipse yang didesain powerfull untuk pengembangan aplikasi Android. Developing Android di eclipse sangat direkomendasikan karena banyak kemudahan-kemudahan sebagai tools terintegrasi seperti custom XML editor, debuging dan banyak hal-hal lain yang mempercepat pembuatan aplikasi. 

5. Microsoft Visio 2010
Microsoft Visio 2010 atau yang dapat disebut dengan Visio 2010 adalah sebuah perangkat lunak atau sebuah aplikasi yang digunakan untuk mendesain, menggambar, dan membuat sebuah diagram dari sebuah data untuk menggambarkan informasi dan system.

III. Perancangan dan Pembuatan Alat 
3.1. Perancangan Sistem
Perancangan sistem aplikasi mobile peta wisata kota Blitar menggunakan UML (Unifien Modelling Language) yang meliputi use case diagram, activity 

Gambar 3.1 Use Case Diagram

3.1.1. Activity Diagram
Activity diagam merupakan gambaran berbagai alir aktivitas dalam sistem yang sedang dirancang, bagaimana masing-masing alir berawal, decision (keputusan) yang mungkin terjadi, dan bagaimana berakhirnya. Berikut Activity diagram user pada sistem aplikasi mobile peta wisata kota Blitar:

Gambar 3.2 Activity Diagram

Gambar di atas menggambarkan aktifitas-aktifitas yang terjadi di dalam sistem. Pada saat user mengaktifkan aplikasi, maka aplikasi akan menampilkan halaman utama yang berisi tiga menu utama yaitu Exit, Menu, dan Tentang. Ketika user memilih menu Exit maka keluar aplikasi. Pilihan Tentang untuk melihat panduan tentang aplikasi. Menu berisi menu-menu pilihan wisata, setelah memilih menu wisata maka sistem menampilkan halaman informasi menu pilihan. Pada tampilan menu yang sudah dipilih jika user beralih ke peta maka sistem akan mengalihkan ke tampilan Maps, mengecek posisi user, jalur navigasi ke tujuan, dan mengirimkan koordinat melalui GPS. Jika user telah sampai maka user bisa kembali ke halaman utama dan memilih Exit atau terus menampilkan peta jika belum sampai.

3.1.2. Class Diagram
Class diagram merupakan kumpulam dari class-class yang saling berhubungan atau berelasi secara struktural. Class diagram mendeskripsikan jenis-jenis objek dalam sistem dan berbagai macam hubungan statis yang terjadi.

Gambar 3.3 Class Diagram

Gambar di atas terdapat dua buah macam relasi yaitu Agregasi (warna putih) dan Komposisi (warna hitam). Agregasi diartikan bahwa suatu kelas merupakan bagian dari kelas yang lain namun bersifat tidak wajib. Komposisi diartikan bahwa suatu kelas merupakan bagian yang wajib dari kelas lain.

3.1.3. Sequence Diagram
Sequence diagram adalah diagram yang menggambarkan interaksi antar objek dan mengindikasikan komunikasi di antara objek-objek tersebut. Berikut adalah tiga sequence diagram yaitu untuk melihat halaman utama aplikasi, menampilkan detail informasi objek dari menu yang dipilih, melihat peta dan jalur navigasi, dan melihat peta dan jalur navigasi:

Gambar 3.4 Sequence Diagram Melihat Halaman Utama Aplikasi

Gambar di atas merupakan sequence diagram untuk menampilkan halaman utama maka aplikasi akan meminta data dari server. 

Gambar 3.6 Sequence Diagram Menampilkan Peta, Direction

Gambar di atas menggambarkan bagaimana peta dan jalur navigasi ditampilkan ke dalam aplikasi sehingga dapat dilihat oleh user. Ketika user memilih objek wisata, maka aplikasi akan segera meminta koordinat posisi dari satelit GPS. Setelah permintaan koordinat posisi didapatkan, selanjutnya aplikasi akan meminta data peta dari server data kemudian menampilkan jalur navigasi dan posisi awal user.

3.2. Perancangan Interface
Merupakan perancangan antarmuka aplikasi mobile peta wisata kota Blitar menggunakan sistem operasi Android.

3.2.1. Splash Screen
Halaman Splash Screen merupakan halaman loading untuk membuka halaman utama.

Gambar 3.7 Splash Screen

3.2.2. Halaman Utama
Halaman utama adalah halaman yang terdiri dari pilihan-pilihan menu utama aplikasi yaitu menu Objek Wisata, Kuliner, Belanja, dan Hotel yang akan menuju halaman submenu yang berisi item-item, menu Jadwal KA untuk membuka halaman tentang janwal Kereta Api, menu Tentang berisi petunjuk aplikasi, Exit digunakan sebagai button keluar aplikasi, dan menu Galeri yang berisi gambar.

Gambar 3.8 Halaman Utama

3.2.3. Halaman Submenu
Halaman submenu ini menampilkan pilihan item dari menu utama yang dipilih yaitu terdapat pada menu objek wisata, kuliner, belanja, dan hotel dalam tampilan list view. Jika item-item ini dipilih maka user akan menuju halaman informasi item yang dipilih.

Gambar 3.9 Halaman Submenu

3.2.4. Halaman Informasi
Halaman Informasi menampilkan tentang informasi berdasarkan item yang dipilih pada halaman submenu. Pada halaman ini terdapat button untuk menuju map/peta untuk melihat marker dan direction.

Gambar 3.10 Halaman Informasi

3.2.5. Halaman Galeri
Halaman Galeri berisi koleksi images wisata yang ada di aplikasi Wiskoblitar.

Gambar 3.11 Halaman Galeri

3.2.6. Halaman Tentang
Halaman tentang berisi tentang petunjuk pemakaian aplikasi dan profil developer aplikasi.

Gambar 3.12 Halaman Tentang

IV. IMPLEMENTASI
4.1 Implementasi 
Tahapan ini bagaimana pembuatan kode program aplikasi mobile peta wisata kota Blitar berdasarkan perancangan yang telah dibuat dan memimplementasikannya ke dalam IDE Eclipse Indigo, Android SDK, dan ADT sehingga menjadi sebuah aplikasi Android Wiskoblitar.

4.2.1. Splash Screen
Splash Screen dalam aplikasi mobile peta wisata kota Blitar ini digunakan untuk memberi kesan loading menuju halaman utama. Splash Screen untuk kode programnya terdiri dari splash.xml yaitu file xml untuk layout-nya dan file java untuk menangani kejadian yang dilakukan (activity). Berikut adalah tampilan halaman Splash Screen aplikasi mobile peta wisat kota Blitar.

Gambar 4.4 Splash Screen Aplikasi Wiskoblitar

4.2.2. Halaman Utama
Halaman utama merupakan halaman berisi delapan buah button menu yaitu Objek Wisata, Kuliner, Belanja, Hotel, Jadwal KA, Tentang, Exit, dan Galeri. Halaman utama terdiri dari file xml activity_main.xml dan file java MainActivity.java. File java ini pada dasarnya digunakan untuk membuat button menu pada halaman utama apabila dieksekusi akan menuju class lain. Sintax percabangan (switch case) digunakan karena terdapat delapan buah button menu pada halaman utama.

Gambar 4.5 Halaman Utama Aplikasi Wiskoblitar

4.2.3. Halaman Submenu
Halaman submenu menggunakan layout list view. Halaman ini berisi submenu dari button menu halaman utama yaitu button menu Objek wisata, Kuliner, Hotel, dan Belanja. Kode java submenu menggunakan switch case dengan intent class halaman informasi dari class item-item submenu yang dipilih. Halaman ini terdiri dari file xml sebagai layout dan file java untuk activity-nya. Berikut tampilan halaman-halaman submenu.

Gambar 4.6 Submenu Objek Wisata Aplikasi Wiskoblitar

4.2.4. Halaman Informasi
Halaman Informasi terdiri dari layout xml dan file java. Terdapat button yang digunakan utuk membuka peta untuk melihat marker dan direction pada halaman informasi dari item submenu dan Jadwal KA. 

Gambar 4.10 Halaman Informasi Salah Satu Item Submenu Objek Wisata

4.2.5. Halaman Galeri
Galeri berisi koleksi gambar-gambar wisata yang ada di aplikasi Wiskoblitar.

Gambar 4.12 Halaman Galeri Aplikasi Wiskoblitar

Gambar di atas merupakan implementasi halaman galeri aplikasi Wiskoblitar. Terdapat gambar-gambar yang berkaitan dengan tempat-tempat wisata yang ada di kota Blitar. Untuk beralih dari gambar satu ke gambar berikutnya atau sebelumnya maka gambar dapat digeser dan untuk melihat keterangan gambar klik gambar maka akan muncul keterangan gambar.

4.2.6. Halaman Tentang
Halaman ini berisi petunjuk penggunaan peta aplikasi dan profil developer. Terdapat button Back to Main untuk kembali ke Halaman Utama aplikasi.

Gambar 4.13 Halaman Tentang Aplikasi Wiskoblitar

4.2.7. Peta
Halaman peta dibuat dengan kode-kode untuk menampilakan map, menampilkan marker, button zoom dan direction. Berikut adalah tampilan map dan direction pada Aplikasi Wiskoblitar.

Gambar 4.14 Marker Warna Hijau

Gambar di atas adalah penanda lokasi atau marker beserta infowindow pada peta aplikasi Wiskoblitar.

4.2. Pengujian Fungsional Sistem
Tahap pengujian fungsionalitas sistem dilakukan untuk menemukan error pada saat aplikasi dijalankan pada sistem operasi device smartphone. Berikut adalah tabel skenario pengujian fungsional sistem aplikasi peta wisata kota Blitar Wiskoblitar.

4.2 Hasil Dari Pengujian Aplikasi
Hasil dari penghitungan tabel hasil kuisioner responden yang dilakukan terhadap 10 responden, 2% menjawab tidak setuju, 16% menjawab biasa saja, 62% menjawab setuju dan 20% menjawab sangat setuju. Dari hasil tersebut 82% menjawab setuju dengan presentase 62% menjawab menjawab setuju dan 20% menjawab sangat setuju, dengan hasil tersebut 82% menjawab setuju dengan aplikasi yang telah dibuat ini, hal ini menunjukkan aplikasi diterima dengan baik dari 10 responden, seperti dari segi tampilan, fungsi, serta kemudahan dalam menggunakannya sangat membantu para pengguna dalam menemukan objek wisata, kuliner, belanja, hotel di kota Blitar. Kekurangan dari aplikasi ini mengharuskan pengguna berada dalam ruangan yang cukup terbuka dan cukup jaringan telepon, karena aplikasi menggunakan akses internet dan penggunaan fitur GPS.

V. Penutup
5.1 Kesimpulan
Aplikasi Mobile Peta Wisata Kota Blitar atau selanjutnya disebut Wiskoblitar dibuat dengan menggunakan IDE Eclipse, yang ditujukan untuk merancang sistem aplikasi peta wisata kota Blitar menggunakan sistem operasi Android. Dan memimplementasikan hasil rancangan aplikasi mobile peta wisata kota Blitar menggunakan sistem operasi Android. 

Setelah pembuatan aplikasi Wiskoblitar ini selesai penulis melakukan uji coba pada simulator dan aplikasi berjalan dngan baik, setelah melakukan ujicoba pada simulator penulis melakukan uji coba pada smartphone Samsung Galaxy Fame Android versi 4.1.2 Jelly Bean dan menggunakan provider GSM serta koneksi HSDPA dan semua fitur aplikasi berjalan dengan baik. Setelah uji aplikasi pada device smartphone penulis melakukan ujicoba terhadap 25 responden dengan memberikan kuisioner, dari hasil kuisioner tersebut 2% menjawab tidak setuju, 16% menjawab biasa saja, 62% menjawab setuju dan sisanya 20% menjawab sangat setuju dengan aplikasi yang dibuat ini, dari hasil kuisioner tersebut 82% menjawab setuju dengan aplikasi yang dibuat ini, hal ini menunjukkan aplikasi ini diterima dengan baik dari 10 responden.

5.2 Saran 
Aplikasi mobile Wiskoblitar ini masih dapat dikembangkan lagi dan menambahkan informasi berita yang lebih lengkap yang selalu update pada aplikasi, serta menambahkan notifikasi/pemberitahuan pembaruan aplikasi dari Google Play Store.

Daftar Pustaka
Dewangga, Intan Akbar. 2012. Merancang Aplikasi Informasi Tempat wisata Kota Kediri Berbasis Android. Skripsi dipublikasikan. Yogyakarta: Program Sarjana TEKNIK INFORMATIKA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA.

Dinas Komunikasi, Informatika dan Pariwisata Daerah Kota Blitar. 2012. Situs Resmi Pemerintah Kota Blitar (Online), (http://www.blitarkota.go.id. Diakses 8 Mei 2013).

Felker, D., Dobbs, J. 2011. Android Application Development For Dummies. Terjemahan oleh Emha Taufiq Luthfi, 2012. USA: Wiley Publishing Inc.

Humala, Arif. 2012. Pembuatan Aplikasi Pencarian Halte Transjakarta Terdekat Berbasis Android. Jurnal Ilmiah dipublikasikan. Jakarta: UNIVERSITAS GUNADARMA.

Ivan, Michael Siregar. 2011. Membongkar Source Code Berbagai Aplikasi Android. Yogyakarta: Gava Media.

Putra, Akbar Nuzul, Tambunan, Toufan D., Ramadhan, Kurniawan Nur. 2012. Aplikasi Wisata Kota Bandung Menggunakan Metode Location-Based Services (LBS) pada Android, (Online) ,(http://repository.politekniktelkom.ac.id. Diakses pada 8 Mei 2013).

Fauzy, Rizki. 2011. Panduan Praktis Menggunakan Diagram UML dengan Microsoft Visio 2010. Jakarta.

Safaat, Nazruddin H. 2012. Pemrograman Aplikasi Mobile Smartphone Dan Tablet PC Berbasis Android Edisi Revisi. Bandung: Informatika. 

Memberdayakan Perpustakaan Komunitas Sebagai Ujung Tombak Peningkatan Budaya Membaca

Memberdayakan Perpustakaan Komunitas Sebagai Ujung Tombak Peningkatan Budaya Membaca 
Ironis dan miris jika kita melihat membaca belum menjadi tradisi yang membudaya di masyarakat Indonesia, termasuk kaum intelektualnya. Membaca hanya kebutuhan saja. Misalnya mahasiswa sedang mengerjakan skripsi atau penelitian, maka mereka kerap rajin membaca. Namun, setelah itu, membaca tidak lagi menjadi kebutuhan. Para ilmuwan berkutat dengan buku jika ada proyek penelitian. Membaca belum menjadi budaya yang melekat pada kaum intelektual di Indonesia. Sungguh hal itu merupakan sebuah kemunduran yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia. 65 tahun sudah Indonesia merdeka. Namun, budaya membaca belum menjadi sebuah tradisi maha agung bagi masyarakatnya. Padahal, dunia telah mengakui bahwa budaya membaca merupakan tolak ukur yang paling nyata untuk menyebut bahwa sebuah bangsa itu merupakan bangsa yang maju dan beradab.

“The man who does not read good books has no advantage over the man who cannot read them” (orang yang tidak membaca buku bagus tak ada bedanya dengan mereka yang tak bisa membacanya) seperti yang dikemukakan oleh pujangga, Mark Twain. Sebuah penghinaan yang diungkapkan oleh Mark Twain bahwa meskipun dia adalah seorang intelektual tetapi tidak memiliki budaya membaca, maka dia disebut sebagai buta huruf. Jika budaya membaca di Indonesia sangat rendah, bisa jadi Mark Twain menjuluki bangsa Indonesia sebagai bangsa yang buta huruf. Sebuah penghinaan yang sangat memalukan. Masih rendahnya budaya membaca di Indonesia juga dibuktikan dengan hasil survei tingkat Human Development Index (HDI) yang dilakukan Lembaga PBB yang dibentuk untuk menangani masalah pembangunan (United Nations Development Programme/UNDP).

Pada survei yang dilakukan pada 2008, indeks pembangunan manusia menempati urutan 111 dari 179 negara. (http://hdr.undp.org/en/statistics/). Jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand, Indonesia kalah jauh. Thailand menempati urutan ke 87 dan Malaysia berada pada peringkat ke 66. Bagaimana dengan Singapura? Negara itu berada pada peringkat ke 23.

Sebagai indikator pembangunan manusia, UNDP telah mengembangkan Human Development Index (HDI) yang mencakup 3 komponen dasar yang secara operasional dapat menghasilkan suatu ukuran untuk merefleksikan upaya pembangunan manusia di suatu wilayah, yaitu: (1) peluang hidup (longevity) yang diukur berdasarkan rata-rata usia harapan hidup; (2) akses terhadap pengetahuan (knowledge) yang diukur berdasarkan prosentase kemampuan baca tulis orang dewasa dan tingkat partisipasi bersekolah yang diperoleh dari rasio gabungan pendaftaran bersekolah dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas; (3) standard hidup yang layak (decent living) yang diukur berdasarkan pendapatan per kapita dalam paritas daya beli dalam dollar AS.

Tak bisa dipungkiri memang, budaya membaca menjadi pondasi dasar bagi pendidikan sebuah bangsa. Adalah sebuah kegagalan dari sebuah sistem pendidikan jika tidak berhasil menciptakan sebuah generasi yang memiliki budaya membaca. Namun, sistem pendidikan juga didukung berbagai elemen lainnya yang mendukung proses pencapaian budaya membaca tersebut. Selain sistem pendidikan nasional yang digawangi pemerintah, memang sangat dipercayai bahwa peran perpustakaan pun sangat signifikan dalam mendorong budaya membaca bangsa pada bangsa Indonesia. Perpustakaan merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional.

Perpustakaan juga merupakan pihak yang dianggap bertanggungjawab dalam peningkatan budaya membaca. Perpustakaan menanamkan budaya membaca. Perpustakaan bukan hanya sekedar tempat yang menyediakan peminjaman buku. Perpustakaan bukan hanya menjadi ruang untuk membaca buku. Tetapi, bagaimana seyogyanya perpustakaan menjadi tempat untuk berdialektika dan berwacana dalam perang pemikiran, membangun perilaku positif, dan mengkonstruksi generasi agar menerapkan budaya membaca. Jadi, perpustakaan adalah tempat penggemblengan generasi yang tidak memiliki budaya membaca menjadi generasi tangguh yang menjadikan membaca dalam tradisi kehidupan mereka. Diharapkan perpustakaan menjadi sebuah ajang kreativitas dan berkembangnya ilmu pengetahuan.

Kenapa Harus Perpustakaan?
Dalam Undang-Undang Nomer 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 1 dijelaskan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Sedangkan pada pasal 2, dijelaskan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Dalam buku yang ditulis oleh Darmono (2007: 3-5) berjudul “Perpustakaan Sekolah; Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja” dijelaskan dengan gamblang mengenai fungsi perpustakaan. Darmono menganggap bahwa fungsi Perpustakaan, secara umum kepustakaan mengemban beberapa fungsi umum sebagai berikut: (1) Fungsi informasi, dimana perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya agar pengguna perpustakaan dapat: (a) mengambil berbagai ide dari buku yang ditulis para ahli dari berbagai bidang ilmu; (b) menumbuhkan rasa percaya diri dalam menyerap informasi dalam berbagai bidang serta mempunyai kesempatan untuk dapat memilih informasi yang layak yang sesuai dengan kebutuhannya; (c) memperoleh kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi yang tersedia di perpustakaan dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan, (d) memperoleh informasi yang tersedia di perpustakaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Selanjutnya adalah fungsi pendidikan; dimana perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya sebagai sarana untuk menerapkan tujuan pendidikan. Melalui fungsi ini manfaat yang diperoleh adalah (a) agar pengguna perpustakaan mendapatkan kesempatan untuk mendidik diri sendiri secara berkesinambungan; (b) untuk membangkit dan mengembangkan minta yang telah dimiliki pengguna yaitu dengan mempertinggi kreativitas dan kegiatan intelektual; (c) mempertinggi sikap sosial dan menciptakan masyarakat yang demokratis; (d) memcepat penguasaan dalam bidang pengetahuan dan teknologi baru.

Kemudian adalah fungsi kebudayaan, dimana perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya yang dapat yang dimanfaatkan oleh pengguna untuk : (a) meningkatkan mutu kehidupan dengan memanfaatkan berbagai informasi sebagai rekaman budaya bangsa untuk meningkatkan taraf hidup dan mutu kehidupan manusia baik secara individu maupun secara kelompok; (b) membangkit minat terhadap kesenian dan keindahan, yang merupakan salah satu kebutuhan manusia terhadap cita rasa seni; (c) mendorong tumbuhnya kreativitas dalam berkesenian; (d) mengembangkan sikap dan sifat hubungan manusia yang positif serta menunjang kehidupan antar budaya secara harmonis; (e) menumbuhkan budaya baca di kalangan pengguna sebagai bekal penguasaan alih teknologi.

Perpustakaan juga memiliki fungsi rekreasi, dimana perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya untuk: (a) menciptakan kehidupan yang seimbang antara jasmani dan rohani; (b) mengembangkan minat rekreasi pengguna melalui berbagai bacaan dan pemnafaatan waktu senggang; (c) menunjang berbagai kegiatan kreatif serta hiburan yang positif. Tidak ketinggalan, perpustakaan juga memiliki fungsi penelitian, sebagai fungsi penelitian perpustakaan menyediakan berbagai informasi untuk menunjang kegiatan penelitian.

Informasi yang disajikan meliputi berbagai jenis dan bentuk informasi, sesuai dengan kebutuhan lembaga. Terakhir adalah fungsi deposit; sebagai fungsi deposit perpustakaan berkewajiban menyimpan dan melestarikan semua karya cetak dan karya rekam yang diterbitkan di wilayah Indonesia.

Melihat hal tersebut, jelas sekali bahwa perpustakaan bukan tempat yang angker. Memang mitos di kalangan pelajar dan mahasiswa, bahwa perpustakaan merupakan tempat yang sepi dan angker. Perpustakaan hanya sebagai tempat untuk melakukan hal-hal serius saja. Padahal, perpustakaan adalah sebuah lembaga yang juga memberikan hiburan dan rekreasi kepada pengunjungnya, hanya saja, perpustakaan identik dengan institusi pendidikan. Sedangkan pendidikan harus berkaitan dengan siswa dan mahasiswa. Padahal, pendidikan tak mengenal waktu. Bagi mereka yang sudah tak terikat dengan dunia pendidikan, maka sudah barang tentu sering menjauhi perpustakaan.

Perpustakaan Komunitas; Jangan Hanya Jadi Tren
Oleh sebab itu upaya untuk mengangkat program peningkatan minat dan kegemaran membaca perlu melibatkan unsur-unsur berikut ini: (a) anak didik pada semua jenjang SD dan SLTP, SLTA; (b) guru sekolah, (c) sekolah dengan berbagai program kegiatan yang dapat menunjang pengkondisian tumbuhnya minat dan kegemaran membaca; (d) orang tua di rumah; (e) lingkungan masyarakat di luar sekolah dan rumah; dan (f) lembaga-lembaga masyarakat. (Darmono:2007; 217).

Penulis sangat sependapat dengan Darmono. Dimana dibutuhkan semua elemen masyarakat untuk urun rembug dalam peningkatkan budaya. Bukan hanya satu pihak saja yang dianggap bertanggungjawab, tetapi semua pihak harus memberikan kontribusi yang matang. Jelas sekali bahwa lingkungan masyarakat di luar sekolah dan rumah dan lembaga-lembaga masyarakat memiliki peran serta dalam meningkatkan budaya membaca. Kontribusi mereka akan nampak jika mendirikan perpustakaan komunitas sehingga turut andil dalam membantu pemerintah.

Peran serta mereka juga tidak dapat dipandang remeh karena mereka merupakan pendukung yang mendukung karena sebagian besar manusia hidup dalam lingkungan mereka. Sebenarnya, solusi untuk tetap mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat adalah membuat perpustakaan komunitas. Kenapa harus perpustakaan komunitas? Perpustakaan komunitas lebih dekat baik secara fisik yakni kedekatan lokasi dengan masyarakat. Perpustakaan komunitas juga lebih dekat secara batin karena dikelola dengan manajemen kemasyarakatan sehingga tidak terlalu birokratis dan tidak banyak aturan serta pengekangan.

Perpustakaan komunitas tidak dijelaskan dalam UU Perpustakaan. Namun, menurut penulis, perpustakaan komunitas digolongkan kepada perpustakaan khusus yang dijabarkan dalam hukum tertulis tersebut. Pada Pasal 25 UU No 43 tahun 2007 itu dijelaskan bahwa perpustakaan khusus menyediakan bahan perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pemustaka di lingkungannya. Pemerintah juga ikut membantu perkembangan perpustakaan komunitas seperti tersurat dalam Pasal 28 dengan bunyi “Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan bantuan berupa pembinaan teknis, pengelolaan, dan/atau pengembangan perpustakaan kepada perpustakaan khusus”.

Ini menjadi sangat jelas bahwa pemerintah juga berkewajiban untuk membantu perkembangan perpustakaan komunitas. Meski, perpustakaan komunitas tetap tidak terikat dengan pemerintah. Bantuan pemerintah sangat diperlukan untuk memberdayakan dan meningkatkan peran serta perpustakaan komunitas dalam pembangunan bangsa.

Menurut Stian Haklev (2008) dalam hasil penelitian yang berjudul “Mencerdaskan Bangsa Suatu Pertanyaan Fenomena Taman Bacaan di Indonesia” mengungkapkan bahwa perpustakaan komunitas diselenggarakan terutama bagi diri komunitas itu sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam upaya memberdayakan dirinya. Pendekatan dalam pembangunan perpustakaan yang dilakukan oleh masyarakat atau komunitas itu tidak lagi dilakukan secara struktural dan birokratis melainkan melalui pendekatan kultural yang cair. Pengelolaan perpustakaan komunitas lebih bersifat independen, dalam arti tidak bergantung pada pemerintah, terutama pada masa awal keberadaannya dengan slogan dan semangat budaya perlawanan atau do it yourself.

Menurut penulis, sungguh menarik bahwa dasar dari perpustakaan komunitas ada unsure pemberontakan. Para pengelola perpustakaan komunitas ingin membuat suatu gerakan yang ingin melawan paradigma mengenai perpustakaan yang selama ini telah tertanam di masyarakat. Perlawanan itu bersifat positif karena mereka menganggap bahwa mereka adalah pihak yang paling mengetahui siapa sebenarnya komunitas mereka. Itu pun tidak salah. Karena pada dasarnya, dalam niat mereka tertanam bahwa mereka ingin memberikan kontribusi lebih bagi komunitas mereka.

Tentunya dengan cara mereka sendiri.
Dalam sebuah buku bertajuk “Perpustakaan dan Masyarakat” yang ditulis oleh Sutarno NS (2006: 67) dijelaskan mengenai sebuah perpustakaan di dalam suatu komunitas masyarakat karena hal-hal sebagai berikut: 

pertama, adanya keinginan yang datang dari kalangan masyarakat luas untuk terselenggaranya perpustakaan, karena mereka yang membutuhan; kedua, adanya keinginan dari suatu organisasi, lembaga, atau pemimpin selaku penanggungjawab institusi di suatu wilayah untuk membangun perpustakaan; ketiga, adanya kebutuhan yang dirasakan oleh kelompok masyarakat tertentu tentang pentingnya sebuah perpustakaan; keempat, diperlukannya wadah atau tempat yang bisa untuk menampung, mengolah, memelihara dan memberdayakan berbagai hasil karya umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan, sejarah penemuan, budaya dan lain sebagainya.

Berdasarkan pengalaman dan observasi, penulis mengerucutkan bahwa perpustakaan komunitas memiliki lima prinsip yang menjadi fondasi. Jika fondasi itu terus dipertahankan dan dipupuk akan akan menjadi sebuah perpustakaan komunitas yang memiliki peran yang maksimal. Pertama, perpustakaan komunitas adalah bentuk inisiatif dari masyarakat atau komunitas untuk saling membantu dan tolong menolong untuk mewujudkan akses buku yang mudah diakses. Ketika ada inisiatif, maka di situ ada niat baik. Selanjutnya adalah konsistensi dalam melanjutkan inisiatif. Salah satu penyakit perpustakaan komunitas adalah inkonsistensi. Biasanya hanya perpustakaan komunitas sangat atraktif dan aktif pada awal-awal pendiriannya, namun selang beberapa terkendala oleh beberapa hal termasuk dana, inkonsitensi pengurus, monoton karena tidak ada kegiatan, dan diorientasi.

Kedua, perpustakaan komunitas menjadi ajang eksistensi dan jati diri sebuah organisasi atau kelompok masyarakat tertentu dengan tujuan pemberdayaan anggotanya. Tak bisa dipungkiri jika setiap komunitas, kelompok masyarakat atau pun organisasi tertentu selalu mengedepankan eksistensi. Eksistensi itu dilakukan bukan hanya dengan mengibarkan bendera kelompok mereka tetapi salah satunya dengan perpustakaan. Dengan perpustakaan, maka jalinan antara anggota pun akan semakin erat.

Ketiga, perpustakaan komunitas adalah ajang untuk pengembangan kreativitas masyarakat dengan membaca buku dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya, seperti diskusi, bedah buku, dan workshop yang disesuaikan dengan kebutuhan anggotanya. Menariknya lagi jika perpustakaan komunitas dikembangkan menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Itu sangat menarik karena perpustakaan menjadi tempat belajar seperti Kejar Paket A, B dan C. Perpustakaan juga dapat bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan pelatihan kewirausahaan, misalnya membuat kue, manajemen bisnis, dan pelatihan montir mobil serta sepeda motor. Jika perpustakaan komunitas memiliki berbagai kegiatan, maka anggotanya pun akan terikat dan semakin aktif. Salah satu penyebabnya banyaknya perpustakaan komunitas yang tidak langgeng karena tidak adanya kegiatan yang menarik bagi anggotanya.

Keempat, perpustakaan komunitas memiliki prinsip idealisme yakni ikut membudayakan tradisi membaca di kalangan masyarakat. Misi tersebut adalah misi mulia yang harus dimiliki oleh seluruh perpustakaan. Tapi misi untuk membudayakan membaca, maka itu bukanlah perpustakaan. Namun, perpustakaan komunitas kerap terjebak dengan paradigma tradisional dalam mengembangkan budaya membaca. Mereka kerap hanya menyediakan buku-buku semata. Padahal, peningkatan budaya membaca bukan hanya identik dengan buku.

Paradigma perpustakaan komunitas modern yakni melakukan pendekatan people to people sehingga terjalin emosional yang solid. Dengan pendekatan tersebut, maka akan terjalin kepercayaan sehingga memudahkan kelangsungan perpustakaan komunitas.

Selain itu, perpustakaan komunitas juga harus akrab dengan teknologi informasi. Banyaknya perpustakaan komunitas yang tak bertahan usianya karena tidak menyesuaikan teknologi. Mereka ditinggal anggotanya. Jika ingin mendekatkan teknologi, perpustakaan komunitas membutuhkan biaya besar.

Kelima adalah jaringan. Di sinilah, perpustakaan komunitas mampu menggaet pemerintah atau pun program coorporate social responsibility ikut membantu operasional mereka. Untuk memasuki jaringan tersebut, maka perpustakaan komunitas pun harus masuk ke jaringan perpustakaan yang dikelola oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dengan jaringan tersebut, maka pengelolaan perpustakaan akan menjadi lebih mudah dan banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.

Jika kelima prinsip tersebut dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh perpustakaan komunitas, kemungkinan mereka akan eksis dan anggotanya akan semakin fanatik. Pasalnya, anggota perpustakaan mendapatkan sesuatu yang berbeda dari perpustakaan yang tidak didapatkan dari tempat lainnya.

Mengemas Ulang Perpustakaan Komunitas
Untuk bertahan dengan kafe, dan warung internet, serta menyadarkan kembali masyarakat, mau tak mau perpustkaan komunitas harus berubah. Perubahan memang merupakan hal yang sangat sulit. Tetapi, jika tidak ada perubahan maka akan selalu tertinggal. Apalagi, perpustakaan komunitas adalah lembaga nirlaba.

Tujuan utama mengemas ulang perpustakaan komunitas adalah memberdayakannya sebagai sebagai unjung tombak peningkatan budaya baca masyarakat. Pengemasan itu dilakukan dalam beberapa tahap dan beberapa proses demi tercapainya perpustakaan komunitas yang memiliki daya saing tinggi serta kompetitif dengan persaingan dengan kafe dan pusat perbelanjaan. 

Beberapa perubahan yang harus dilakukan adalah promosi perpustakaan komunitas. Menurut Darmono (2007; 208), perpustakaan sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang jasa tentunya dapat mengadopsi prinsip-prinsip promosi dalam bidang kegiatannya. Tujuan promosi perpustakaan sebenarnya adalah untuk memperkenalkan perpustakaan, koleksi, jenis koleksi yang dimiliki, kekhususan koleksi, jenis layanan dan manfaat yang dapat diperoleh pengguna perpustakaan. Melalui kegiatan promosi diharapkan masyarakat mengetahui pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan sehingga membuat mereka tertarik dan mengunjunginya. Sebenarnya secara sadar atau tidak, pustakawan sudah melakukan kegiatan promosi, akan tetapi kegiatan yang mereka lakukan kebanyakan tidak terencana, karena memang kegiatan ini bukan tujuan utama mereka. Seperti halnya melakukan pameran buku baru, peningkatan kualitas layanan, penampilan citra perpustakaan merupakan aspek-aspek kegiatan promosi yang sudah diterapkan di perpustakaan, meskipun dilakukan secara tidak sadar tadi. (Darmono: 2007; 2008).

Metode memamerkan jasa perpusataan baik dengan menggunakan bantuan alat elektronik maupu yang tidak menggunakan bantuan peralatan elektroniok, sebagai berikut: (1) nama dan logo; (2) poster dan leaflet; (3) pameran; (4) press realease; (5) siaran radio; (6) ceramah; dan (7) iklan. (Darmono: 2007; 210-213).

Menurut penulis, perpustakaan komunitas harus dapat melaksanakan metode perpustakaan yang dikemukakan oleh Darmono. Yang paling efektif adalah menjalin komunikasi dengan radio komunitas yang telah memiliki pendengar dan pasar telah pasti. Kemudian, perpustakaan juga dapat membuat leaflet atau buletin yang berisi informasi kepada pelanggan setianya. 

Setelah promosi, dalam buku berjudul “Inside, Outside, and Online: Building Your Library Community” karya besar Hill Chrystie (20090 mengutip pendapat Menurut Profesor Joe Jones dari University of Washington iSchool mengemukakan bahwa apa yang dimaksudkan perpustakaan adalah Adanya barang atau buku, tempat, pelayanan, interaksi, dan nilai-nilai. (Hill:2009; 20) 

"Think outside the box! Don't get hemmed in by thingking things aren't "what libraries do." We don't just provide books or internet service - we help the community. And we can do that in more ways than we're use to doing (Mary Doud, Deputy Director, Kalamazoo Public Library, Michican dalam Hill: 2009;22)

Apa yang diungkapkan Mary Doud adalah benar adanya. Apalagi sesuai dengan konteks perkembangan perpustakaan komunitas di Indonesia. Doud mengajak para pengurus perpustakaan komunitas untuk berpikir di luar konteks atau kelaziman. Dia mengajak agar pengurus perpustakaan tidak hanya menyediakan buku atau internet. Dia menggarisbawahi bahwa perpustakaan juga membantu komunitas.

“Kita menemukan bahwa pelayanan perpustakaan yang memiliki komunitas mengijinkan para pustakawan secara sistematis untuk mengevaluasi dan memberikan pelayanan berulang kali untuk memenuhi keinginan individu dan komunitas. Pendek kata, pendukung kita dan komunitas harus dilayani dengan baik dan harus dijalin komunikasi, itulah tugas perpustakaan.” (Hill:2009;22-23) Hill (2009: 22-23) pun menggelar survei, wawancara, dan mengunjungi ratusan pustakawan untuk belajar bagaimana mereka membangun komunitas mereka di dalam perpustakaan. Ternyata mereka menjalankan prinsip-prinsip prediksi, penyampaian, pendekatan, pengulangan atau evaluasi, dan mempertahankan.

Pertama adalah prediksi. Di dalamnya ada pemahaman mengenai kebutuhan utama pelanggan dan itu menjadi pelayanan utama perpustakaan yang fokus terhadap komunitas. Penilaian kebutuhan itu memainkan peranan signifikan agar terjadi kesesuaian antara pelayanan perpustakaan dan kebutuhan komunitas. (Hill:2009;23).

Kedua adalah penyampaian. Komponen ini melibatkan pelayanan strategi terhadap basis komunitas sesuai dengan kebutuhan utama mereka. Elemen ini termasuik perencanaan strategi, pengembangan koleksi, pelayanan program dan pengembangan, serta manajemen sumber daya.

Kemudian, memperhatikan pengalaman para anggota perpustakaan dan mengadaptasi sesuai dengan keinginan komunitas. (Hill:2009;23). 

Ketiga adalah pendekatan. Komponen ini meliputi berkomunikasi langsung dan melayani komunitas secara efektif. Komunikasi meliputi pesan-pesan mengenai perpustakaan, misi kita, dan penawaran kita. Itu juga termasuk komunikasi yang terus berjalan dengan para anggota dan diterimanya umpan dari mereka dalam hal persepsi, pemahaman, dan pengalaman. (Hill:2009;24).

Keempat adalah pengulangan atau evaluasi. Evaluasi merupakan kunci untuk mengetahui apakah kita telah melakukan tujuan kita untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Dari “Kepercayaan penuh” dan “standar perpustakaan”, tetapi dengan evaluasi dan prediksi perpustakaan untuk mengetahui dampak atau hasil pelayanan terhadap komunitas. (Hill:2009;24). Kelima adalah mempertahankan. Menganggap bahwa implikasi jangan panjang dan medium dari pelayanan menjadi kunci dari apa yang disebut dengan “bukti masa depan” perpustakaan. Pendek kata, jika Anda ingin tetap dapat diakses, fleksibel, dan mudah beradapatasi maka pelayanan perpustakaan harus relevan dan selalu memenuhi kebutuhan anggota, dan ibarat feshyen selalu mengikuti mode. (Hill:2009; 25).

Penulis berpendapat, jika perpustakaan komunitas menerapkan kelima hasil penelitian yang dilakukan Hill, maka perpustakaan mereka akan selalu dinanti oleh para anggotanya. Dibutuhkan proses yang cukup matang untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut pada perpustakaan komunitas. Dibutuhkan pelatihan dan pemahaman lebih dalam mengenai prinsip tersebut hasilnya lebih memuaskan.

Menurut Andy Barnett (2002) dalam bukunya berjudul “Libraries, community, and technology” memaparkan perpustakaan memiliki tiga kekuatan utama yang menunjukkan seperti apa sebenarnya perpustakaan itu. Barnett menjelaskan ketiga kekuatan tersebut dengan detail. 

Pertama, perpustakaan sebagai lembaga publik memiliki misi sosial yang bersejarah. Fase teknologi telah mengacaukan misi tersebut, apalagi kebanyakan pengelola telah mengetahui apa yang seharusnya mereka lakukan. Misi mereka pun telah menjadi strategi besar perpustakaan. (Barnett: 2002; 6)

Kedua, kepustakawanan telah mengajarkan serangkaian nilai yang memandu langkah-langkah para pustakawan. Saat ini, nilai-nilai itu tersebut berubah dan mendatanya pun berujung kepada kebuntuan tetapi yang lebih penting adalah mengabaikan aspek terpenting dari nilai-nilai tersebut. Aspek terpenting itu adalah membuat pendekatan bagi orang-orang yang aktif dalam perpustakaan dan mengimplemetasikan misi. (Barnett: 2002; 6)

Ketiga, perpustakaan dikenal karena masyarakat menginginkan sesuatu dari sebuah perpustakaan yakni pelayanan yang mapan dan tidak mahal. Kemudian adanya aplikasi tegas dianggap sebagai taktik bagi anggota perpustakaan untuk memenuhi misi yang juga bertujuan untuk menarik perhatian pasar. (Barnett: 2002; 6)

Bagaimana pun juga, masyarakat tetap mengandalkan perpustakaan, terutama perpustakaan komunitas karena tidak ada biaya dan relatif lebih murah dibandingkan mereka harus pergi ke toko buku. Seyogyanya perpustakaan komunitas harus menjadi tempat rakyat untuk mengakses ilmu pengetahuan. Hingga tujuan utama perpustakaan komunitas menjadi ujung tombak peningkatan budaya membaca perpustakaan pun tercapai. Caranya adanya pelaksanaan berbagai prinsip yang telah dijelas tersebut sehingga ada parameter dan acuan dimiliki perpustakaan komunitas. Satu hal yang harus ada perpustakaan komunitas adalah konsistensi dalam melaksanakan prinsip-prinsip tersebut.

Harvard Framework (Kerangka Harvard)

Harvard Framework (Kerangka Harvard) 
Kerangka analisis gender Harvard lebih concern dengan membuat pembagian kerja gender (division of labour), peran dalam pengambilan keputusan, tingkat control atas sumberdaya yang kelihatan. 

Sebagai konsep dan alat, ini dibutuhkan data detail bagi perencanaan gender. Implikasi perencanaan program terhadap gender perempuan adalah diperlukan analisis yang menutupi bolong (gaps) pada level beban kerja, pengambilan keputusan dsb antara perempuan dan laki-laki. 

Tiga data set utama yang diperlukan: 
Siapa melakukan apa, kapan, di mana, dan berapa banyak alokasi waktu yang diperlukan? Hal ini dikenal sebagai “Profil Aktifitas”. 
Siapa yang memiliki akses dan kontrol (seperti pembuatan kebijakan) atas sumber daya tertentu? Hal ini kerap dikenal dengan “Profil Akses dan Kontrol” Siapa yang memeliki akses dan kontrol atas “benefit” seperti produksi pangan, uang dsb? 
Faktor yang mempengaruhi perbedaan dalam pembagian kerja berbasis gender, serta akses dan kontrol yang ada pada “profil aktifitas” dan “profil akses dan kontrol”. 

Tujuan dari alat analisis ini adalah: 
Membedah alokasi sumberdaya ekonomis terhadap laki-laki dan perempuan 
Membantu perencana proyek untuk lebih efisien dan meningkatan produtifitas secara keseluruhan 

Kerangka Moser (The Gender Roles Framework) 
Dikenal juga sebagai “the University College-London Department of Planning Unit (DPU) Framework”. Secara singkat, kerangka ini menawarkan pembedaan antara kebutuhan praktis dan strategis dalam perencanaan pemberdayaan komunitas dan berfokus pada beban kerja perempuan. Uniknya, ia tidak berfokus pada kelembaggan tertentu tetapi lebih berfokus pada rumah tangga. 

Tiga konsep utama dari kerangka ini adalah: 
Peran lipat tiga (triple roles) perempuan pada tiga aras: kerja reproduksi, kerja produktif dan kerja komunitas. Ini berguna untuk pemetaan pembagian kerja gender dan alokasi kerja 
Berupaya untuk membedakan antara kebutuhan yang bersifat praktis dan strategis bagi perempuan dan laki-laki. Kebutuhan strategis berelasi dengan kebutuhan transformasi status dan posisi perempuan (spt subordinasi). 
Pendekatan analisis kebijakan – dari fokus pada kesejahteraan (welfare), Kesamaan (equity), anti kemiskinan, effisiensi dan pemberdayaan atau dari WID ke GAD. 

Longwe Framework – Kerangka Kerja ”Pemberdayaan” 
Kerangka Longwe berfokus langsung pada penciptaan situasi/pengkondisian di mana masalah kesenjangan, diskriminasi dan subordinasi diselesaikan. Longwe menciptakan jalan untuk mencapai tingkat pemberdayaan dan kesederajatan (equality) di mana ditunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar-praktis perempuan tidak pernah sama dengan, pemberdayaan maupun sederajat (equal). Pengambilan keputusan (kontrol) merupakan puncak dari pemberdayaan dan kesederajatan (equality). Table 4 memberikan gambaran jelas mengenai hal ini. 

Dalam assessment proyek, kerangka Longwe bisa diturunkan menjadi dua alat:

1. Level kesederajatan (Equality level)
Tujuan utama alat ini adalah untuk menilai apakah sebuah proyek/program intervensi pembangunan mampu mempromosikan kesederajatan dan pemberdayaan perempuan atau tidak. 

Asumsi dasar dibalik alat ini adalah bahwa titik tercapainya kesederajatan (equality) antara perempuan dan laki-laki mengindikasikan level pemberdayaan perempuan. Ada lima level dalam aras kesederajatan dan pemberdayaan yang perlu dicermati: 

Bentuk ini, menurut saya, seolah mengikuti alur pikirnya Abraham Maslow tentang teori hierarki of human needs, dengan meletakan kebutuhan dasar-praktikal pada titik yang paling bawah dan kebutuhan ”aktualisasi diri” sebagai kebutuhan tertinggi diterjemahkan sebagai ”kontrol dan decision making”. Tentunya, ilustrasi ini memiliki kelemahan dan terkesan dipaksakan. 

Kerangka Analisis ”Relasi Sosial”
Kerangka “relasi social” ini awalnya dikemukakan oleh Naila Kabeer yang sebelumnya adalah pengajar pada Institute of Development Studies, Sussex, UK. (Lihat Reversed Realities: Gender Hierarchies in Development, Verso, 1994). 

Tujuan dari kerangka ini adalah untuk:
· Menganalisis ketimpangan gender yang ada di dalam distribusi sumber daya, tanggung jawab dan kekuasaan. 
· Menganalisis relasi antara orang, relasi mereka dengan sumber daya, aktifitas dan bagaimana posisi mereka melailui lensa kelembagaan.
· Menekankan kesejahteraan manusia (human well-being) sebagai tujuan utama dalam pembangunan 

Kerangka ini didasarkan pad aide bahwa tujuan pembangunan adalah pada kesejahteraan manusia (human well-being), yang terdiri atas survival, security dan otonomi. Produksi dilihat bukan hanya relasinya terhadap pasar, tetapi juga reproduksi tenaga kerja, kegiatan subsistent, dan kepedulian lingkungan hidup. 

Kemiskinan dilihat sebagai relasi social yang tidak seimbang, yang dihasilkan oleh ketidak seimbangan distrubusi sumber daya, klaim, dan tanggun jawab. Relasi gender adalah salah satu tipe relasi social. Relasi social bukanlah sesuatu yang kaku dan kekal. Mereka dapat dan berubah melalui faktor-faktor seperti perubahan makro atau agen manusia. Relasi social termasuk sumber daya yang dimiliki orang. Perempuan miskin kerap dikeluarkan dari akses dan kempemilikan atas sumber daya dan bergantung pada hubungan patron dan ketergantungan. Pembangunan dapat menolong si miskin untuk membangun solidaritas, reciprocity and otomomi dalam akses terhadap sumber daya

Kelembagaaan menjamin produksi, memperkuat dan reproduksi relasi social, dank arena itu perbedaan social dan kesenjangan. Ketimpangan gender di reproduksi bukan hanay di level KK, tapi melalui sekelompok kelembaggaan termasuk komunitas internasional, negara dan pasar. Kelembagaan didefinisikan sebagai kerangka yang nyata atas aturan main organsasi sebagai bentuk structural khusus 

Oleh karena itu analisis gender mengandung pengertian atau pemahaman untuk melihat pada bagaimana kelembagaan menciptakan dan mereproduksi ketidak seimbangan dan ketimpangan. Ada empat ranah kelembaggan utama yakni negara, pasar, komunitas dan keluarga.

Kerangka Analisis Perencanaan Gender (Gender Planning Frameworks)

Kerangka Analisis Perencanaan Gender (Gender Planning Frameworks) 
Sudah banyak kritik bahwa gender planning dalam kerja-kerja rekonstruksi di Aceh merupakan hal yang mendapatkan perhatian kurang. Kritik ini tidak selalu ditanggapi secara serius karena memang sudah banyak lembaga mencoba untuk melakukan pengarus utamaan gender dalam level proyek dan program mereka, berdasarkan gender analisis versi tiap lembaga. Di samping itu, ada ratusan alat gender analisis dan gender planning. Mana yang terbaik? 

Tentu pula, sudah banyak training berjudul “gender training” level dasar yang diberikan dari dan untuk pegiat kemanusian terutama LSM/NGOs/CSOs. Namun tidak banyak training bagaimana melakukan pengarusutamaan gender dalam proyek dan program. Langkah pertama pengarus utamaan gender adalah gender analisis (WHO, 2002: 2). Bukan hal yang mudah bila sebuah lembaga atau staf pekerja kemanusiaan untuk rekonstruksi tidak memiliki alat analisis gender planning yang baik. Oleh karena itu, ringkasan alat analisis gender ini ditulis secara sederhana dalam bahasa Indonesia dan ditujukan lebih pada para perencana proyek dan program pada level komunitas (mikro), maupun makro. 

Kerangka analisis perencanaan gender atau disingkat kerangka analisis gender merupakan upaya untuk menerjemahkan ide-ide dari analisis gender yang “akademis” serta “konseptual” ke dalam kerja-kerja dan panduan untuk para praktisi LSM, pekerja-pekerja pembangunan, relief dan dalam konteks Aceh saat ini adalah perencanaan rekonstruksi Aceh. 

Kerangka-kerangka ini digunakan untuk memperkenalkan secara singkat konsep gender bagi mereka yang ‘awam’ dengan issu perempuan/gender dalam pembangunan, dengan menekankan bahwa gender adalah isu pembangunan dan bahwa pembangunan tidak bebas nilai sehingga potensial menindas gender tertentu. Tidak dimaksudkan untuk terjebak dalam berpikir secara “mengisi matrix” semata dan terkotak-kotak, tetapi memberikan dasar-dasar analisis gender. 

Di samping itu, kegunaan lain adalah bisa dijadikan dasar kebijakan gender (gender policy) pada institusi-institusi seperti masyarakat sipil, LSM, CBOs, NGOs, BRA, pemerintahan dan sebagainya. Umumnya, kerangka analisis gender yang berbeda digunakan untuk saling melengkapi demi menjawabi kebutuhan kebijakan lembaga dan pembangunan kembali masyarakat Aceh. 

Ada banyak model yang sering digunakan tetapi yang akan diperkenalkan di sini adalah 4 jenis alat analisis yang berbeda satu sama lain, yakni Kerangka Harvard, Moser, Longway dan Kerangka Relasi Sosialnya Naila Kabeer.

Tujuan utama paper singkat ini adalah utuk memperlengkapi,teman-teman di Aceh, tentunya tidak tertutup bagi mitra-mitra Hivos, supaya bersama-sama memiliki pemahaman gender secara umum dalam kerja-kerja mereka. Tidak ada tendensi di sini untuk mengatakan mana yang paling benar, tetapi diharapkan pengguna (users) bisa memilih sendiri alat analisis yang disajikan berikut, lebih cocok dalam kerja-kerja mereka. Walaupun, preferensi Penulis adalah pada model yang dikembangkan Longwe dan Kabeer.
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson