Pembangunan Kelautan Dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Pembangunan Kelautan Dalam  Konteks Pemberdayaan Masyarakat Pesisir
Sudah menjadi suatu mitos yang berkembang ditengah-tengah masyarakat bahwa Indonesia memiliki kekayaan laut yang berlimpah, baik sumber hayatinya maupun non hayatinya, walaupun mitos seperti itu perlu dibuktikan dengan penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif.  Terlepas dari mitos tersebut, kenyataannya Indonesia adalah negara maritim dengan 70% wilayahnya adalah laut, namun sangatlah ironis sejak 32 tahun yang lalu kebijakan pembangunan perikanan tidak pernah mendapat perhatian yang serius dari pemerintah.

Implikasi dari tidak adanya prioritas kebijakan pembangunan perikanan tersebut, mengakibatkan sangat minimnya prasarana perikanan di wilayah pesisir, terjadinya abrasi wilayah pesisir dan pantai, pengrusakan ekosistim laut dan terumbuh karang, serta belum teroptimalkannya pemanfaatan sumber daya perikanan dan kelautan.

Persoalan Pembangunan Perikanan
Implikasi langsung terhadap peningkatan pertumbuhan penduduk adalah makin meningkatnya tuntutan kebutuhan hidup, sementara potensi sumber daya alam di darat yang kita miliki sangatlah terbatas.  Hal tersebut mendorong kita untuk mengalihkan alternatif potensi sumber daya alam lain yang kita miliki yaitu potensi kelautan.  Ada lima potensi kelautan yang dapat kita andalkan, yaitu: potensi perikanan, potensi wilayah pesisir, potensi sumber daya mineral, minyak dan gas bumi bawah laut, potensi pariwisata, dan potensi transportasi laut.

Kebijakan pembangunan kelautan, selama ini, cendrung lebih mengarah kepada kebijakan “produktivitas” dengan memaksimalkan hasil eksploitasi sumber daya laut tanpa ada kebijakan memadai yang mengendalikannya.  Akibat dari kebijakan tersebut telah mengakibatkan beberapa kecendrungan yang tidak menguntungkan dalam aspek kehidupan, seperti:
a)      Aspek Ekologi, overfishing penggunaan sarana dan prasarana penangkapan ikan telah cendrung merusak ekologi laut dan pantai (trawl, bom, potas, pukat harimau, dll) akibatnya menyempitnya wilayah dan sumber daya tangkapan, sehingga sering menimbulkan konflik secara terbuka baik bersifat vertikal dan horisontal (antara sesama nelayan,  nelayan dengan masyarakat sekitar dan antara nelayan dengan pemerintah).
b)      Aspek Sosial Ekonomi, akibat kesenjangan penggunaan teknologi antara pengusaha besar dan nelayan tradisional telah menimbulkan kesenjangan dan kemiskinan bagi nelayan tradisional.  Akibat dari kesenjangan tersebut menyebabkan sebagian besar nelayan tradisional mengubah profesinya menjadi buruh nelayan pada pengusaha perikanan besar.
c)      Aspek Sosio Kultural, dengan adanya kesenjangan dan kemiskinan tersebut menyebabkan ketergantungan antara masyarakat nelayan kecil/ tradisional terhadap pemodal besar/modern, antara nelayan dan pedagang, antara pherphery terdapat center, antara masyarakat dengan pemerintah.  Hal ini menimbulkan penguatan terhadap adanya komunitas juragan dan buruh nelayan

Arah modernisasi di sektor perikanan yang dilakukan selama ini, hanya memberi keuntungan kepada sekelompok kecil yang punya kemampuan ekonomi dan politis, sehingga diperlukan alternatif paradigma dan strategis pembangunan yang holistik dan terintegrasi serta dapat menjaga keseimbangan antara kegiatan produksi, pengelolahan dan distribusi.

Konsep Pembangunan Alternatif
Paradigma pembangunan holistik, yaitu pembangunan yang dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi yang sangat memperhatikan aspek spasial, yaitu pembangunan berwawasan lingkungan, pembangunan berbasis komunitas, pembangunan berpusat pada rakyat, pembangunan berkelanjutan dan pembangunan berbasis kelembagaan.

Untuk mewujudkan pembangunan yang holistik tersebut diperlukan alternatif srategi, yaitu strategi yang berorientasi pada sumber daya atau Resource Base Strategy (RBS), yang meliputi ketersedian sumber daya, faktor keberhasilan serta proses belajar.

Pendekatan dalam RBS adalah strategi pengelolaan sumber daya lokal/pesisir dan kelautan yang berorientasi pada: kualitas, proses, kinerja, pengembangan, budaya, lingkungan (management by process) yang berdasarkan pada pembelajaran, kompetensi, keunggulan, berpikir sistematik, dan pengetahuan (knowledge based management).

Memberdayakan Masyarakat Pesisir
Saat ini banyak program pemberdayaan yang menklaim sebagai program yang berdasar kepada keinginan dan kebutuhan masyarakat (bottom up), tapi ironisnya masyarakat tetap saja tidak merasa memiliki akan program-program tersebut sehingga tidak aneh banyak program yang hanya seumur masa proyek dan berakhir tanpa dampak berarti bagi kehidupan masyarakat. 

Pertanyaan kemudian muncul apakah konsep pemberdayaan yang salah atau pemberdayaan dijadikan alat untuk mencapai tujuan tertentu dari segolongan orang?

Memberdayakan masyarakat pesisir berarti menciptakan peluang bagi masyarakat pesisir untuk menentukan kebutuhannya, merencanakan dan melaksanakan kegiatannya, yang akhirnya menciptakan kemandirian permanen dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.

Memberdayakan masyarakat pesisir tidaklah seperti memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat lainnya, karena didalam habitat pesisir terdapat banyak kelompok kehidupan masayarakat diantaranya:
a)      Masyarakat nelayan tangkap, adalah kelompok masyarakat pesisir yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan dilaut.  Kelompok ini dibagi lagi dalam dua kelompok besar, yaitu nelayan tangkap modern dan nelayan tangkap tradisional.  Keduanya kelompok ini dapat dibedakan dari jenis kapal/peralatan yang digunakan dan jangkauan wilayah tangkapannya.
b)      Masyarakat nelayan pengumpul/bakul, adalah kelompok masyarakt pesisir yang bekerja disekitar tempat pendaratan dan pelelangan ikan.  Mereka akan mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan baik melalui pelelangan maupun dari sisa ikan yang tidak terlelang yang selanjutnya dijual ke masyarakat sekitarnya atau dibawah ke pasar-pasar lokal.  Umumnya yang menjadi pengumpul ini adalah kelompok masyarakat pesisir perempuan.
c)      Masayarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat nelayan yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat pesisir. Ciri dari mereka dapat terlihat dari kemiskinan yang selalu membelenggu kehidupan mereka, mereka tidak memiliki modal atau peralatan yang memadai untuk usaha produktif. Umumnya mereka bekerja sebagai buruh/anak buah kapal (ABK) pada kapal-kapal juragan dengan penghasilan yang minim.
d)     Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah, dan kelompok masyarakat nelayan buruh. 

Setiap kelompok masyarakat tersebut haruslah mendapat penanganan dan perlakuan khusus sesuai dengan kelompok, usaha, dan aktivitas ekonomi mereka.  Pemberdayaan masyarakat tangkap minsalnya, mereka membutukan sarana penangkapan dan kepastian wilayah tangkap. Berbeda dengan kelompok masyarakat tambak, yang mereka butuhkan adalah modal kerja dan modal investasi, begitu juga untuk kelompok masyarakat pengolah dan buruh.  Kebutuhan setiap kelompok yang berbeda tersebut, menunjukkan keanekaragaman pola pemberdayaan yang akan diterapkan untuk setiap kelompok tersebut

Dengan demikian program pemberdayaan untuk masyarakat pesisir haruslah dirancang dengan sedemikian rupa dengan tidak menyamaratakan antara satu kelompk dengan kelompok lainnya apalagi antara satu daerah dengan daerah pesisir lainnya.  Pemberdayaan masyarakat pesisir haruslah bersifat bottom updan open menu, namun yang terpenting adalah pemberdayaan itu sendiri yang harus langsung menyentuh kelompok masyarakat sasaran. Persoalan yang mungkin harus dijawab adalah:  Bagaimana memberdayakannya?

Banyak sudah program pemberdayaan yang dilaksanakan pemerintah, salah satunya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir (PEMP).  Pada intinya program ini dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu:
(a)         Kelembagaan. Bahwa untuk memperkuat posisi tawar masyarakat, mereka haruslah terhimpun dalam suatu kelembagaan yang kokoh, sehingga segala aspirasi dan tuntutan mereka dapat disalurkan secara baik. Kelembagaan ini juga dapat menjadi penghubung (intermediate) antara pemerintah dan swasta. Selain itu kelembagaan ini juga dapat menjadi suatu forum untuk menjamin terjadinya perguliran dana produktif diantara kelompok lainnya.
(b)        Pendampingan. Keberadaan pendamping memang dirasakan sangat dibutuhkan dalam setiap program pemberdayaan. Masyarakat belum dapat berjalan sendiri mungkin karena kekurangtauan, tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang rendah, atau mungkin masih kuatnya tingkat ketergantungan mereka karena belum pulihnya rasa percaya diri mereka akibat paradigma-paradigma pembangunan masa lalu.  Terlepas dari itu semua, peran pendamping sangatlah vital terutama mendapingi masyarakat menjalankan aktivitas usahanya. Namun yang terpenting dari pendampingan ini adalah menempatkan orang yang tepat pada kelompok yang tepat pula.
(c)         Dana Usaha Produktif Bergulir. Pada program PEMP juga disediakan dana untuk mengembangkan usaha-usaha produktif yang menjadi pilihan dari masyarakat itu sendiri. Setelah kelompok pemanfaat dana tersebut berhasil, mereka harus menyisihkan keuntungannya untuk digulirkan kepada kelompok masyarakat lain yang membutuhkannya.  Pengaturan pergulirannya akan disepakati di dalam forum atau lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sendiri dengan fasilitasi pemerintah setempat dan tenaga pendamping 

Contoh Proposal Strategi Pengembangan Kelompok Tani Dalam Mendukung Pembangunan Kawasan Agribisnis Sayuran Organik

Strategi Pengembangan Kelompok Tani Dalam Mendukung Pembangunan Kawasan Agribisnis Sayuran Organik 
Kelembagaan petani mencakup pengelolaan sumberdaya pertanian pada kawasan agribisnis hortikultura yang berada didataran tinggi (Deptan, 2003).Pengembangan kelembagaan merupakan salah satu komponen pokok dalam keseluruhan rancangan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) tahun 2005-2025. Selama ini pendekatan kelembagaan juga telah menjadi komponen pokok dalam pembangunan pertanian dan pedesaan. Namun, kelembagaan petani cenderung hanya diposisikan sebagai alat untuk mengimplementasikan proyek belaka, belum sebagai upaya untuk pemberdayaan yang lebih mendasar. Kedepan, agar dapat berperan sebagai kelompok tani yang partisipatif, maka pengembangan kelembagaan harus dirancang sebagai upaya untuk peningkatan kemampuan kelompok tani itu sendiri sehingga menjadi mandiri dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis. Pembentukan dan pengembangan kelompok tani disetiap desa juga harus menggunakan prinsip kemandirian lokal yang dicapai melalui prinsip pemberdayaan. Pendekatan yang top-down planning menyebabkan partisipasi kelompok tani tidak tumbuh (Kedi Suradisastra, 2008; Syahyuti, 2007).

Pemberdayaan petani di pedesaan oleh pemerintah hampir selalu menggunakan pendekatan kelompok. Salah satu kelemahan yang mendasar adalah kegagalan pengembangan kelompok yang dimaksud, karena tidak dilakukan melalui proses sosial yang matang. Kelompok yang dibentuk terlihat hanya sebagai alat kelengkapan proyek, belum sebagai wadah untuk pemberdayaan kelompok tani secara hakiki (Syahyuti, 2003; Kedi Suradisastra, 2008).

Kelompok tani merupakan lembaga yang menyatukan para petani secara horizontal, dan dapat dibentuk beberapa unit dalam satu desa. Kelompok tani juga dapat dibentuk berdasarkan komoditas, areal pertanian, dan gender. Pengembangan kelompok tani dilatarbelakangi oleh kenyataan kelemahan petani dalam mengakses berbagai kelembagaan layanan usaha, misalnya lemah terhadap lembaga keuangan, terhadap lembaga pemasaran, terhadap lembaga penyedia sarana produksi  pertanian serta terhadap sumber informasi (Saptana, Saktyanu, Sri Wahyuni, Ening dan Valeriana Darwis, 2004). Sedangkan menurut di Suradisastra, Kelompok tani merupakan lembaga yang menyatukan para petani secara horizontal dan vertikal.

Berbagai kesalahan dalam pengembangan kelembagaan selama ini yaitu hampir tiap program pembangunan pertanian dan pengembangan masyarakat pedesaan membentuk satu kelembagaan yang baru. Sebagian besar kelembagaan dibentuk lebih untuk tujuan mendistribusikan bantuan dan memudahkan tugas kontrol bagi pelaksana program, bukan untuk pemberdayaan masyarakat secara nyata. Setiap program membuat satu organisasi yang baru dengan nama yang khas, jarang sekali program dari dinas tertentu menggunakan kelompok yang sudah ada. Pengembangan kelembagaan hanya dengan dukungan material yang cukup tapi tidak dibina bagaimana mengelolanya dengan manajemen yang baik. 

Walaupun kelembagaan telah dijadikan alat yang penting dalam menjalankan suatu program, namun penggunaan strategi pengembangan kelembagaan banyak mengalami ketidaktepatan dan kekeliruan (Uphoff, 1986; Syahyuti, 2003).

Secara konseptual tiap kelembagaan petani yang dibentuk dapat memainkan peran tunggal ataupun ganda. Khusus untuk kegiatan ekonomi, terdapat banyak lembaga pedesaan yang diarahkan sebagai lembaga ekonomi, diantaranya adalah kelompok tani, koperasi dan kelompok usaha agribisnis. Secara konseptual masing-masing dapat menjalankan peran yang sama (tumpang tindih). Berdasarkan konsep sistem agribisnis, aktivitas pertanian pedesaan tidak akan keluar dari upaya untuk menyediakan sarana produksi (benih, pupuk dan obat-obatan), permodalan usahatani, pemenuhan tenaga kerja, kegiatan berusaha tani (on farm), pemenuhan informasi dan teknologi serta pengolahan dan pemasaran hasil pertanian (Syahyuti, 2008; F. Kasijadi,A. Suryadi dan Suwono, 2003).

Kawasan menunjuk pada suatu wilayah yang merupakan sentra (pusat), dapat berupa sentra produksi, perdagangan maupun sentra konsumsi. Dengan demikian kawasan sentra produksi sayuran adalah suatu kawasan pusat kegiatan produksi sayuran dalam suatu unit wilayah tertentu yang memiliki karakteristik yang relatif sama, dan memiliki kelengkapan infrastruktur dan sistem yang menunjang kegiatan produksi sayuran (Saptana,Saktyanu, Sri Wahyuni, Ening dan Valeriana Darwis, 2004).

Sistem Agribisnis yang lengkap merupakan suatu gugusan industri ynag terdiri dari empat subsistem yaitu subsistem agribisnis hulu yakni industri sarana produksi (industri benih, pupuk, pestisida dan indutri alsintan), subsistem budidaya (on-farm) yang menghasilkan komoditas pertanian primer, subsistem agribisnis hulu yaitu pengolahan hasil baik menghjasilkan produk antara maupun produk akhir, subsistem pemasaran yaitu pendistribusian produk dari sentra produksi ke sentra konsumsi, subsistem jasa penunjang yaitu dukungan sarana dan prasarana serta lingkungan yang mendukung pengembangan agribisnis (Sudaryanto dan Pasandaran, 1993; dan Ditjerhot, 2001).

Dalam pengembangan kawasan agribisnis ada 4 masalah yang dihadapi yaitu penurunan harga dengan cepat dan sempurna kepada petani,sedangkan kenaikan harga lambat dan tidak sempurna; informasi pasar yang monopolistik pada agribisnis hilir; IPTEK dari agribisnis hilir tidak ditransmisikan ke agribisnis hulu (petani); Modal investasi yang relatif banyak di agribisnis hilir tidak disalurkan dengan baik, bahkan cenderung digunakan untuk mengeksploitasi agribisnis hulu (Simatupang, 1995).

Keberhasilan pengembangan agribisnis sayuran tergantung kepada keterpaduan antara program dan kesiapan kelembagaannya. Ada tiga bentuk kelembagaan yaitu kelembagaan yang hidup dan telah diterima oleh komunitas lokal atau tradisional, kelembagaan pasar, kelembagaan sistem politik atau sistem pengambilan keputusan ditingkat publik (Etzioni, 1991;Uphoff, 1992).

Kabupaten Tanah Datar tepatnya di Kecamatan X Koto Kenagarian Aie Angek merupakan daerah yang terletak pada dataran tinggi. Sehingga sangat cocok untuk pengembangan usaha pertanian. Pengembangan pertanian bertujuan untuk kesejahteraan petani dan keluarganya dalam berusaha tani dengan melakukan agribisnis pertanian sayuran organik yang tangguh dan profesional serta berwawasan lingkungan (Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, 2007).

Kabupaten Tanah Datar merupakan daerah yang memiliki potensi berupa lahan kering, sawah dan perikanan. Khusus di Kenagarian AieAngek, kawasan ini sangat cocok ditanami sayur-sayuran karena memiliki keunggulan komparatif, dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar telah menetapkan menjadi suatu Kawasan Pusat Pengembangan Agribisnis Sayuran Organik (KASO), dalam pelaksanaannya pembinaan dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Tanah Datar dan Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Barat.  

Rumusan Masalah 
Selama ini pendekatan kelembagaan juga telah menjadi komponen pokok dalam pembangunan pertanian dan pedesaan. Namun, kelembagaan petani cenderung hanya diposisikan sebagai alat untuk mengimplementasikan proyek belaka, belum sebagai upaya untuk pemberdayaan yang lebih mendasar. Pendekatan yang top-down planning menyebabkan partisipasi kelompok tani tidak tumbuh (Kedi Suradisastra, 2008; Syahyuti, 2007; Bank Dunia, 2005)

Pemberdayaan petani di pedesaan oleh pemerintah hampir selalu menggunakan pendekatan kelompok. Salah satu kelemahan yang mendasar adalah kegagalan pengembangan kelompok yang dimaksud, karena tidak dilakukan melalui proses sosial yang matang. Kelompok yang dibentuk terlihat hanya sebagai alat kelengkapan proyek, belum sebagai wadah untuk pemberdayaan kelompok tani secara hakiki (Syahyuti, 2003; Kedi Suradisastra, 2008).

Pada tahun 2002 bahwa untuk kelancaran pelaksanaa kegiatan Pengembangan Kawasan Agribisnis Sayuran Organik (KASO), Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tanah Datar menetapkan kelompok tanim “ Pambalahan” sebagai pelaksana kegiatan tersebut.

Komoditas yang  diusahakan adalah kubis, brokoli, kol bunga, wortel, selada, sawi, cabe, bawang daun, lobak. Produk sayuran dengan sistem organik ini memiliki keunggulan-keunggulan yaitu diantaranya ramah lingkungan dan memiliki kadar mutu kesehatan yang lebih baik dari sayuran produksi non organik dan harga jual sayuran organik lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran non organik (Pracaya, 2003).

Menurut Perhepi (1989), menyatakan salah satu hambatan dalam pengembangan agribisnis di Indonesia yaitu sistem kelembagaan, terutama di pedesaan terasa masih lemah sehingga kondisi ini menyebabkan kurang mendukung kegiatan agribisnis. 

Berdasarkan uraian diatas, maka dirasa perlu untuk melakukan penelitian ini. Dari perumusan masalah diatas, muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Apa saja permasalahan kegiatan kelompok tani pambalahan dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik di Aie Angek Kecamatan X Koto.
2. Bagaimana pengaruh Institut Pertanian Organik (IPO) terhadap kelompok tani       pambalahan dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik..
3. Bagaimana strategi pengembangan kelompok tani pambalahan dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik di Aie Angek Kecamatan X Koto.

Tujuan Penelitian 
Berdasarkan permasalahan diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui permasalahan kegiatan kelompok tani pambalahan dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik di Aie Angek Kecamatan X Koto.
2.      Menganalisis pengaruh IPO terhadap kelompok tani pambalahan dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik di Aie Angek Kecamatan X Koto.
3.       Menganalisis strategi pengembangan kelompok tani pambalahan dalam mendukung  pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik di Aie Angek Kecamatan X Koto.

Manfaat Penelitian 
Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan hasilnya dapat berguna dan bermanfaat untuk : 
1. Bagi petani, yaitu sebagai masukan dan informasi sehingga dapat   membantu  dalam menghadapi masalah sehubungan dengan pengembangan kelompok tani dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis. 
2. Bagi pemerintah, yaitu sebagai masukan, gambaran dan pertimbangan mengenai pengembangan kelompok tani dan masalah yang dihadapi kelompok tani, sehingga membantu dalam perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan pertanian yang lebih berpihak pada petani. 
3. Bagi penulis sendiri yaitu dapat meningkatkan pemahaman mengenai pengembangan kelompok tani dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis dan bagi mahasiswa lain dapat dijadikan acuan dalam melakukan penelitian tentang kasus ini.

Sistematika Penulisan Proposal Dan Laporan Penelitian

Sistematika Penulisan Proposal Dan Laporan Penelitian
Proposal penelitian (research proposal) pada dasarnya adalah rencana penelitian yang menggambarkan secara umum hal-hal yang di teliti dan cara penelitian tersebut dilakukan. Dengan kata lain, proposal merupakan prakiraan atau proyeksi tentang kegiatan penelitian. Karena sifatnya sebagai perencana, usul penelitian harus mengemukakan unsur-unsur pokok dari kegiatan penelitian, seperti masalah yang akan diteliti, teori yang digunakan, hipotesis yang akan di uji, proses pengumpulan data, kapan dan dimana penelitian dilaksanakan, serta biaya yang diperoleh. 

Kegunaan penelitian adalah untuk menyelidiki keadaan dari, alasan untuk, dan konsekuensi terhadap suatu set keadaan khusus (Nazir, 2005: 24). Banyak sekali ragam penelitian yang dapat dilakukan dalam upaya menyelidiki sesuatu. Hal ini tergantung dari tujuan, pendekatan, bidang ilmu, tempat, dan sebagainya. Proses untuk penyelidikan tersebut dapat melalui berbagai pendekatan. Pendekatan penelitian yang sering kita jumpai adalah penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Kegiatan penelitian yang akan dilakukan tidak terlepas dari proses pembuatan proposal penelitian sebagai acuan pelaksanaan, dan pembuatan laporan penelitian untuk melihat seperti apa kegiatan penelitian telah terlaksana. 

Proposal penelitian dan laporan penelitian tidak bisa dipisahkan. Karena merupakan suatu perpaduan selama melakukan penelitian. Dalam hal ini proposal merupakan usulan. Proposal merupakan gambaran tentang kegiatan penelitian yang dilakukan. Dari proposal dapat dijajagi baik atau tidaknya rencana, sehingga pihak yang akan memberikan biaya dapat menggunakan proposal tersebut sebagai tolak ukur untuk menerima menolak rencana penelitian yang di ajukan. Sedangkan laporan adalah untuk melihat seperti apa sebuah kegiatan penelitian telah terlaksana 

Dengan demikian, setelah mempelajari modul ini, secara khusus anda diharapkan dapat 
  1. Menjelaskan tentang proposal penelitian 
  2. Menjelaskan tenteng sistematika penulisan proposal penelitian 
  3. Menjelaskan tentang laporan penelitian 
  4. Menjelaskan tentang penulian laporan peneliti 

Untuk membantu Anda mencapai tujuan tersebut, modul ini diorganisasikan menjadi dua Kegiatan Belajar (KB), sebagai berikut: KB 
1 : Sistematika penulisan proposal penelitian KB 
2 : Sistematika penulisan laporan penelitian 

Untuk membantu Anda mencapai keberhasilan dalam mempelajari modul ini, ada baiknya diperhatikan beberapa hal berikut ini: 
  1. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan modul ini sampai Anda memahami tujuan dari pembelajaran modul ini 
  2. Bacalah uraian dari modul ini, kemudian temukan kata-kata kunci berdasarkan katakata kunci sendiri, atau diskusikanlah dengan teman Anda 
  3. Mantapkan pemahaman isi modul ini, melalui pemahaman sendiri, bertukar pikiran dengan teman atau dengan tutor Anda
  4. Untuk memperluas wawasan, Anda bisa membaca atau memperoleh dari sumber lain selain sumber modul ini 
  5. Setelah Anda merasa memahami, kemudian kerjakan latihan dalam modul ini sesuai dengan petunjuknya 
  6. Setiap akhir kegiatan, jangan lupa untuk mengisi soal yang sudah disediakan. 
  7. Jika sudah selesai mengerjakan, silahkan cocokkan dengan kunci jawaban, untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan belajar yang sudah dicapai oleh Anda. 
  8. Selamat belajar, semoga sukses

CONTOH PROPOSAL MAGANG DI PT BURSA EFEK INDONESIA

PROPOSAL MAGANG DI PT BURSA EFEK INDONESIA
Efek merupakan surat berharga, seperti pengakuan utang, saham, obligasi, surat penyertaan, tanda bukti utang, unit pernyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dan setiap turunan dari efek. Bursa Efek Indonesia (BEI) salah satu lembaga yang turut membantu mempertemukan penawaran jual-beli efek di Indonesia. BEI sendiri merupakan hasil penggabungan antara Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya sejak tahun 2007. Bursa Efek Surabaya sendiri saat ini telah menjadi pasar obligasi dan derivatif, sementara pasar saham dipusatkan di Jakarta. 

Saham adalah salah satu jenis surat berharga yang digunakan sebagai alat bukti atas kepemilikan individu ataupun institusi dalam sebuah perusahaan. Dengan kata lain saham tidak hanya dapat dimiliki oleh orang per orang tetapi juga perusahaan atau organisasi apapun yang ingin menginvestasikan uangnya. Dalam teorinya terdapat dua faktor yang mempengaruhi harga saham, yaitu Faktor Fundamental dan Faktor Teknikal. Faktor Fundamental menjadi faktor yang sangat penting sebab faktor ini berhubungan langsung dengan keadaan perusahaan, industri perusahaan tersebut dan ekonomi. 

Sementara Faktor Teknikal lebih banyak membicarakan mengenai keadaan pasar saham yang mempengaruhi pergerakan harga saham tersebut, seperti banyaknya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. (Sekolah Pasar Modal, Bursa Efek Indonesia, Kelas Basic,2009) Dalam setiap transaksi tentunya memiliki proses yang dinamakan proses jual-beli saham. Oleh BEI proses jual-beli saham dibagi dalam beberapatahaphttp://www.idx.co.id/MainMenu/Education/MekanismePerdagangan/tabid/194/lang/idID/language/id-ID/Default.aspx), yaitu:
  1. Pendaftaran untuk menjadi nasabah. Sebelum melakukan transaksi efek seorang investor harus melakukan pendaftaran untuk menjadi nasabah atau membuka rekening pada perusahaan efek atau salah satu broker. 
  2. Order dari nasabah. Dalam proses ini nasabah sudah dapat melakukan transaksi dengan cara memberikan instruksi kepada broker atau perusahaan efek yang menaunginya. Instruksi dapat dilakukan melalui media komunikasi seperti telepon ataupun internet. 
  3. Diteruskan ke Floor Trade. Pada proses ini, instruksi pemesanan oleh nasabah dilanjutkan oleh broker kepada petugas broker tersebut yang berada di lantai bursa untuk diproses. 
  4. Memasukan order ke JATS. JATS atau Jakarta Automated Trading System merupakan sebuah sistem komputer yang mempertemukan antara penawaran dan permintaan dari nasabah. Floor Trader akan memasukan order nasabah sesuai informasi yang diberikan oleh broker ke dalam JATS. Ketika order tersebut telah tercatat di dalam JATS baik floor trader, broker maupun nasabah dapat memantau order tersebut sehingga apabila ada perubahan nasabah dapat segera memberikan instruksi kepada floor trader. 
  5. Transaksi terjadi. Dalam tahapan ini order tersebut telah menemukan harga yang diinginkan oleh nasabah baik sebagai pihak yang menjual maupun pihak yang membeli. Dengan kata lain order jual dan beli telah bertemu sehingga dapat segera dilakukan transaksi. Broker akan segera menghubungi nasabah untuk memberitahu bahwa order yang diinginkan telah terpenuhi. 
  6. Tahap penyelesaian. Perdagangan saham di BEI merupakan perdagangan saham atas nama sehingga untuk kepentingan kepemilikan diperlukan proses penyelesaian yang dikenal dengan T+3. T+3 artinya penyelesaian dilakukan selama 3 hari setelah transaksi. Pada tahap ini ada dua lembaga yang dilibatkan yaitu PT. Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) dan PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)
Dari tahapan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses jual-beli saham cukup kompleks dan melibatkan banyak pihak. Oleh sebab itu, untuk mengedukasi masyarakat BEI mengadakan proses simulasi jual-beli saham, seperti yang pernah dilakukan di Universitas Bakrie (d/h Bakrie School of Management). Oleh sebab itu, untuk mengedukasi masyarakat BEI mengadakan proses simulasi jual-beli saham, seperti yang pernah dilakukan di Universitas Bakrie (d/h Bakrie School of Management). Akan tetapi, simulasi tersebut tidak dapat menggambarkan proses jual-beli secara utuh karena singkatnya durasi yang diberikan, sehingga proses simulasi hanya berkonsentrasi pada tahap order hingga kejadian transaksi. Padahal proses yang terjadi dalam jual-beli saham tidak sesederhana proses simulasi. Di BEI juga tidak hanya terdapat proses jual beli efek tetapi juga proses-proses lainnya yang berhubungan dengan fungsi BEI sebagai pihak penyelenggara dan penyedia sistem dalam proses jual-beli efek. 

Universitas Bakrie merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berorientasi kepada keadaan nyata dalam dunia kerja dan usaha juga dalam pengembangan jiwa kewirausahaan. Setelah mengadakan program magang pada jenis Usaha Kecil Menengah (UKM), Universitas Bakrie juga mengadakan program magang di perusahaan-perusahaan besar. Selain untuk menambah pengalaman, program ini juga dimaksudkan sebagai salah satu proses penerapan disiplin ilmu yang teorinya telah dipelajari sebelumnya oleh mahasiswa. Dengan diadakan program magang ini, diharapkan mahasiswa dapat melakukan pembandingan antara teori yang didapat selama masa perkuliahan, yang dalam hal ini terkait dengan mata kuliah Financial Market and Institution dan Corporate Finance, dengan praktiknya dalam dunia kerja. Selain itu, diharapkan dengan adanya program ini pengetahuan dan wawasan mahasiswa semakin bertambah seiring juga dengan bertambahnya pengalaman. 

BIDANG YANG DIMINATI 
Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa Penulis dalam pelaksanaan Kerja Praktik tertarik pada bidang Pasar Modal, khususnya saham yang disesuaikan dengan bidang yang dikuasai dan teori-teori yang telah dipelajari sebelumnya.

Bagi Mahasiswa 
  • Sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi untuk menamatkan pendidikan Strata 1 di Universitas Bakrie. 
  • Memberi gambaran kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu dan teori yang telah didapatkan pada masa perkuliahan dalam dunia kerja.
  • Mahasiswa dapat mempersiapkan diri secara mental maupun fisik juga kualitas dalam rangka menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif. 
  • Pembekalan terhadap mahasiswa untuk menjadi seorang yang berpotensi, kompeten, dan profesional agar siap memasuki dunia kerja. 

Bagi Penyelenggara Program
  • Sebagai bahan evaluasi atas kurikulum yang dilaksanakan selama ini dengan kebutuhan teori dan praktik dalam dunia kerja. 
  • Untuk memperkenalkan Program Studi Akuntansi di Universitas Bakrie kepada masyarakat luas. 

TUJUAN 
  1. Menambah pengalaman, informasi dan pengetahuan mahasiswa serta dapat mempraktikan ilmu yang telah didapatkan dalam dunia kerja untuk memenuhi kebutuhan entitas. 
  2. Mengukur kemampuan penalaran dalam memahami, membahas, dan menyelesaikan permasalahan sesuai dengan bidang yang diminati di lapangan. 
  3. Mengetahui bagaimana proses jual-beli saham dan proses-proses terkait lainnya secara nyata dan mengaitkannya dengan bidang yang ditekuni saat ini.
WAKTU PELAKSANAAN 
Berdasarkan ketentuan yang telah ditentukan oleh Jurusan Akuntansi Universitas Bakrie, Penulis berharap dapat melaksanakan Kerja Praktik selama 2 (dua) bulan, terhitung sejak 5 Juli 2010 hingga 5 September 2010. 

PENUTUP 
Kerja Praktik yang akan dilakukan oleh Penulis merupakan salah satu program yang diadakan oleh Jurusan Akuntansi Universitas Bakrie. Program ini tidak hanya bertujuan untuk mengamalkan teori-teori yang telah didapatkan selama dibangku kuliah, tetapi juga memberikan pengalaman baru dan wawasan tentang dunia kerja secara nyata. Melalui program ini pula diharapkan para mahasiswa Universitas Bakrie dapat membentuk karakter dan kompetensinya agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri/usaha saat ini. Demikian proposal magang ini Penulis ajukan, semoga mendapatkan sambutan yang baik dari Bapak/Ibu sebagai pimpinan instansi terkait. Teriring doa semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan kemudahan dalam pelaksanaan Kerja Praktik hingga pelaporannya sehingga dapat diambil manfaatnya demi kemajuan bersama di masa yang akan datang.

Pemberdayaan Masyarakat Dan Keluarga Dalam Pendidikan Anak Usia Dini (Paud)

Pemberdayaan Masyarakat Dan Keluarga Dalam Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) 
Pendahuluan
Desa Sumbersari memiliki wilayah seluas 546.000,5 Ha, dengan jarak 3 km dari pusat kecamatan Moyudan, 15 km dari pusat Kabupaten Sleman, dan 12 km dari pusat propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini terdiri dari 13 dusun yaitu Dusun Tegalrejo, Klisat, Nasri, Semingin, Tumut, Menulis, Tiwir, Blendung, Bendosari, Ngaglik, Gesikan, Nglahar, dan Sombangan. 

Berdasarkan data penduduk per Desember 2008, jumlah penduduk berusia 0-6 tahun sebanyak 579 jiwa. Menyikapi hal ini, mulai tahun 2007, PKK desa Sumbersari merintis pendirian lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) jalur nonformal sebagai upaya penumbuhan dan pengembangan anak usia dini khususnya yang berusia praTK. PAUD ini menerima peserta didik usia 2 sampai 5 tahun. Diharapkan setelah anak mengikuti PAUD ini dapat siap masuk sekolah Taman Kanak-Kanak. Tujuan didirikannya lembaga PAUD ini sesuai dengan isi UU no. 20 tahun 2003, pasal 1, butir 14 yaitu seperti berikut: 

“Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah “suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.”

Permasalahan Mitra
Dalam perjalanan selama hampir 2 tahun, PAUD desa Sumbersari telah menunjukkan suatu kemajuan. Namun tidak dapat disangkal, kendala atau hambatan juga banyak dialami. Berdasarkan hasil focus group discussion (FGD) yang dilakukan tim pengusul proposal dengan para kader PKK desa dan kader PAUD dari 4 dusun pada tanggal 21 Mei 2009, diperoleh data permasalahan yang dapat dikategorikan menjadi dua yaitu permasalahan pengelolaan PAUD dan permasalahan masyarakat. 

1. Permasalahan pengelolaan oleh Kader PAUD, meliputi:
a. Penyelenggaraan PAUD belum melingkupi seluruh dusun desa Sumbersari. Baru 4 dari 13 dusun yang berinisiatif menyelenggarakan PAUD. Kesadaran perangkat dusun, khususnya kader PKK dari 9 dusun yang lain untuk memberi pelayanan PAUD, perlu dimunculkan. 

b.Kegiatan PAUD di 4 dusun belum dapat dilaksanakan sesuai jadwal. Hal ini terkait dengan jumlah pendidik yang sangat terbatas. Ketika pendidik sedang mempunyai kesibukan bekerja atau mempunyai acara keluarga, mereka tidak masuk. Bahkan ketika semua pendidik saat itu berhalangan hadir, PAUD diliburkan. Hal ini menimbulkan kendala dalam rutinitas penyelenggaraan PAUD. 

c. Kualifikasi tingkat pendidikan dan latar belakang pendidikan para pendidik PAUD yang kurang memenuhi persyaratan. Ketentuan ideal pendidik PAUD adalah S1 PAUD. Para pendidik PAUD belum ada yang memenuhi ketentuan tersebut. Hanya pendidik PAUD dusun Blendung yang tingkat dan latar belakang pendidikannya mendekati ideal. 

d. Kurang terpenuhinya persyaratan kualifikasi tingkat pendidikan dan latar belakang pendidikan para pendidik PAUD, menyebabkan besarnya kebutuhan untuk mengetahui dan mengembangkan kurikulum. Meskipun rambu-rambu kurikulum dari pemerintah telah ada, namun pendidik merasakan banyak keterbatasan dalam mengembangkan kurikulum. Sebenarnya para pendidik telah mengikuti beberapa pelatihan tentang PAUD, namun dirasakan cukup untuk memenuhi pengetahuan mereka tentang kurikulum.

e. Terbatasnya kondisi tempat kegiatan, ruang dan alat untuk belajar, ruang bermain serta minimnya alat permainan edukatif dirasakan pula sebagai kendala proses belajar mengajar.

1. Permasalahan masyarakat, meliputi:
a. Masyarakat dari 4 dusun yang mempunyai PAUD (Dusun Menulis, Blendung, Tiwir, dan Nglahar) belum seluruhnya aktif mengikutsertakan anaknya mengikuti kegiatan PAUD. Kalaupun telah terdaftar belum seluruhnya aktif mengantar anaknya sesuai jadwal hari kegiatan PAUD. Ketika orangtua sedang mempunyai kesibukan, anak tidak diantar ke PAUD. Bahkan di Kelompok Bermain PAUD dusun Nglahar, jumlah anak berkurang cukup banyak.

b. Partisipasi masyarakat untuk terlibat sebagai pendidikan PAUD masih rendah. Hal ini dikarenakan pekerjaan sebagai pendidik PAUD merupakan pekerjaan sosial / sukarela (tidak ada imbalan gaji), sehinggahanya sedikit yang bersedia bergabung sebagai pendidik PAUD.

Gambaran Ipteks yang ditransfer pada mitra:

Metode Penerapan IPTEKS
Berdasarkan identifikasi permasalahan di atas, tim dan mitra menetapkan metode penerapan ipteks yakni :

1. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan melalui pendidikan dan pelatihan, khususnya pada kader dari 4 PAUD. Secara rinci, materi pelatihan kader PAUD adalah sebagai berikut. 
a. Perkembangan anak usia dini, meliputi: Perkembangan anak usia dini, Permasalahan perkembangan anak usia dini, deteksi dini terhadap penyimpangan perkembangan anak usia dini dan dinamika keluarga dalam mewujudkan pengasuhan yang ideal untuk anak usia dini Pendidikan dan pembelajaran anak usiagaraan, wadah pendidikan anak usia dini yang ideal di PAUD tingkat dusun;

b. Metode pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, meliputi: Strategi pelibatan partisipasi masyarakat dalam PAUD (peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya PAUD); Strategi keterpaduan PAUD penyelenggaraan di seluruh dusun di desa Sumbersari; Strategi koordinasi, monitoring dan evaluasi oleh PAUD desa terhadap PAUD dusun.

2. Pendampingan kader PAUD percontohan untuk melakukan pendampingan pada kader PKK dari dusun yang belum memiliki PAUD untuk merintis berdirinya PAUD. Pendampingan ini dilakukan setelah kelompok PAUD di Dusun Menulis, Blendung, Nglahar, dan Tiwir diberi pendidikan dan pelatihan oleh Tim. Keempat PAUD ini (PAUD percontohan) dengan didampingi Tim IbM melakukan sosialisasi dan memberikan motivasi pada kelompok PKK di dusun lain untuk merintis penyelenggarakan PAUD. Selanjutnya tim akan memberikan pendampingan pada mitra dalam proses perintisan PAUD di dusun lain.

Kajian Teoritis Penerapan Ipteks
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya yang disengaja untuk memfasilitasi masyarakat lokal dalam merencanakan, memutuskan dan mengelola sumberdaya lokal yang dimiliki sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian (Subejo dan Supriyanto, 2004). Pemberdayaan masyarakat bertujuan agar kelompok sasaran dapat menggalang berbagai potensi yang ada dalam dirinya dan memanfaatkan potensi yg dimiliki untuk mengatasi permasalahan yg dihadapi. Adapun tahapan pemberdayaan masyarakat meliputi :
Tahap 1, pengembangan konsep sesuai dengan tujuan dan sasaran program berdasarkan hasil community needs analysis; bersamaan dengan tahap ini adalah mengikut-sertakan (melibatkan peran komunitas/masyarakat) atau yang lazim disebut dengan Involve. 

Tahap 2, mensosialisasikan program kepada seluruh komunitas, agar mereka merasa memiliki program sekaligus ikut bertanggungjawab terhadap pelaksanaan dan keberhasilan program. 

Tahap 3, Proses pemberdayaan masyarakat, yaitu : (a) Pengembangan kelompok, (b) Penyusunan rencana dan pelaksanaan kegiatan, (c) Monitoring dan evaluasi partisipatif .

Tahap 4, Pemandirian Masyarakat. Pembahasan pemberdayaan sebagai program dan sebagai suatu proses terkait erat dengan posisi agen pemberdayaan masyarakat. Apabila agen pemberdaya masyarakat berasal dari luar komunitas, program pemberdayaan akan diikuti dengan terminasi atau disengagement, sedangkan bila agen pemberdaya berasal dari internal komunitas pemberdayaan akan lebih diarahkan pada proses pemberdayaan yang berkelanjutan. Pemberdayaan dilakukan mulai dari level psikologis-personal-masyarakat :

Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat ini adalah melalui cooperative self help. Cooperative self help adalah pendekatan yang mengutamakan kerjasama dalam masyarakat secara sukarela, saling membantu untuk mengatasi masalahnya sendiri, dan memanfaatkan kelompok-kelompok masyarakat setempat. Pendekatan ini merupakan upaya pengembangan masyarakat yang dimulai dari bawah tanpa melibatkan secara langsung pihak luar dalam pelaksanaannya. Pendekatan cooperative self help memberi kesempatan masyarakat untuk mengemukakan keinginannya, agar dapat menolong dirinya sendiri. Pendekatan ini menempatkan pihak luar sebagai pendorong timbulnya kebutuhan masyarakat, sebagai pihak yang menanggapi kebutuhan masyarakat, dan sebagai pihak yang tidak memaksakan keinginannya pada masyarakat. 

Secara rinci prosedur pelaksanaan pemberdayaan masyarakat adalah sebagai berikut : (a) pemaparan masalah PAUD oleh kader PAUD; (b) Identifkasi penyelenggaraan kegiatan PAUD yang telah dilakukan oleh kader PKK dusun yang dikoordinir oleh kader PKK desa; (c) Kontak dengan tim ahli, terdiri dari dua kegiatan yaitu pelatihan kader dan konsultasi kader. Dengan demikian akan terjadi alih pengetahuan ttg PAUD dari tim ahli kepada kader; (d) Diseminasi pengetahuan ttg PAUD oleh kader percontohan kepada kader PAUD rintisan. 

Upaya peningkatan pengetahuan mitra IbM melalui metode pendidikan pelatihan, menggunakan konsep Andragogi. Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau "Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar" (Craig, 1987). Knowles (dalam Craig, 1987), memiliki asumsi sebagai berikut: (a) Orang dewasa perlu dibina untuk mengalami perubahan dari kebergantungan kepada pengajar kepada kemandirian dalam belajar. Orang dewasa mampu mengarahkan dirinya mempelajari sesuai kebutuhannya; (b) Pengalaman orang dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di dalam kegiatan belajar untuk memperkaya dirinya dan sesamanya; (c) Kesiapan belajar orang dewasa bertumbuh dan berkembang terkait dengan tugas, tanggung jawab dan masalah kehidupannya; (d) Orientasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari berpusat pada bahan pengajaran kepada pemecahan-pemecahan masalah; (e) Motivasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari pemberian pujian dan hukuman kepada dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu; (f) Peer teaching..

Dalam teori pembelajaran orang dewasa menyebutkan bahwa orang-orang dewasa itu akan membawa pengalaman dan keahliannya ke lingkungan belajar. Dengan memberi kesempatan pada mereka untuk menggambarkan dan membagikan pengalaman mereka dalam kelompok, bisa menguatkan partisipan untuk melakukan.

HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
1. Pendampingan PAUD percontohan di 4 pedukuhan Desa Sumbersari
Tim Pengabdian IbM telah melaksanakan pendampingan terhadap empat PAUD yang diharapkan dapat menjadi PAUD percontohan dan melakukan pendampingan bagi sembilan PAUD lain yang belum memiliki PAUD. Keempat PAUD tersebut dapat dilihat dalam Tabel berikut.

Luaran Kegiatan
Metode penerapan ipteks di atas efektif, terbukti dari hasil luaran yang dihasilkan dari kegiatan ini sesuai dengan tujuan kegiatan yakni 4 kelompok PAUD terdampingi menjadi model percontohan yang menstimulasi terbentuknya kelompok PAUD lain di desa Sumbersari. Pada semua pedukuhan di desa Sumbersari (13 pedukuhan) telah berdiri PAUD, beserta struktur pengelola dan pengajar, tempat dan waktu pelaksanaan. 

Program-program di atas dapat dijamin keberlanjutannya karena :
a. Telah terbentuk 4 pos PAUD sebagai model percontohan yang dapat digunakan sebagai acuan belajar bagi 9 PAUD rintisan yang baru dimulai kegiatannya.
b. Model pendampingan yang dapat dilakukan oleh 4 pos PAUD contoh sehingga dapat membina PAUD rintisan
c. Pengurus PKK desa Sumbersari telah dilatih dan berkomitmen untuk melakukan kontrol/pengawasan pelaksanaan PAUD di seluruh pedukuhan di Desa Sumbersari, sekaligus mengawasi penggunaan Alat Permainan Edukatif yang dihibahkan untuk menjadi aset PAUD desa Sumbersari.
d. Dukungan dari aparat pemerintah desa dan masyarakat untuk pelaksanaan 

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Luaran yang dihasilkan dari kegiatan ini sesuai dengan tujuan kegiatan yakni 4 kelompok PAUD terdampingi menjadi model percontohan yang menstimulasi terbentuknya kelompok PAUD lain di desa Sumbersari beserta struktur pengelola dan pengajar, tempat dan waktu pelaksanaan. Dengan berdirinya pos PAUD di semua pedukuhan di desa Sumbersari (13 pedukuhan) telah berdiri PAUD, hal ini berarti masyarakat di masing-masing pedukuhan telah mempunyai wadah untuk kegiatan pendidikan anak usia dini.

Kelompok mitra kegiatan ini yakni kelompok PAUD jalur non formal di bawah PKK Desa Sumbersari, Moyudan, Sleman, DIY, yang terdiri dari 4 PAUD menjadi model percontohan 9 PAUD yang dirintis pendiriannya. Metode penerapan ipteks yang digunakan : (a) Pendidikan dan pelatihan diberikan pada kader PAUD, dengan materi Perkembangan Anak Usia Dini, Pendidikan dan pembelajaran anak usia dini, dan Sosialisasi serta pemberdayaan masyarakat dan (b) Pendampingan kader PAUD percontohan untuk melakukan pendampingan pada kader PKK dari dusun yang belum memiliki PAUD untuk merintis berdirinya PAUD. 

Saran
1. Kader PAUD 
a. Kader PAUD untuk dapat secara berkesinambungan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk dapat menambah kualitas sebagai pendidik PAUD. Beberapa cara yang dapat ditempuh yakni : (1) masuk ke jaringan HIMPAUDI (Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia) di kecamatan Moyudan; (2) Mengundang nararsumber yang ahli di bidangnya; (3) Mengirim pengurus atau pendidik PAUD secara bergilir untuk mengikuti pelatihan tentang ke-PAUD-an yang diselenggarakan pemerintah maupun institusi lain.

b. Tak henti-hentinya untuk melakukan sosialisasi pada masyarakat tentang arti pentingnya PAUD agar semakin banyak masyarakat yang mempercayakan pendidikan putra-putrinya di PAUD.

c. Menjalin kerjasama dan hubungan baik dengan masyarakat, untuk dapat saling membantu dalam melakukan swadaya pengadaan sarana maupun prasarana belajar yang mampu diupayakan bersama.

d. PAUD percontohan (PAUD dari pedukuhan Blendung, Nglahar, Menulis, dan Tiwir) diharapkan terus melakukan pembinaan pada PAUD rintisan (PAUD dari 9 dusun lainnya)

2. Aparat pemerintah Desa Sumbersari, khususnya kader PKK
a. Secara rutin menyelenggarakan pertemuan pengurus dan pendidik PAUD dari masing-masing pedukuhan untuk membahas sekaligus mengevaluasi kemajuan PAUD di Desa Sumbersari;

b. Membantu memfasilitasi proses pengajuan perijinan pendirian PAUD masing-masing pedukuhan;

c. Mengawasi penggunaan aset Alat Permainan Edukatif yang dihibahkan ke Pemerintah Desa Sumbersari dalam hal ini PKK Desa Sumbersari;

d. Memfasilitasi PAUD untuk memperoleh dana bantuan dari pemerintah maupun dari sumber lainnya.

Daftar Pustaka
Craig, R.L. 1987. Training and Development handbook: A Guide to Human Resource Development. Third Edition. New York: McGraw-Hill Book Company.

Harmonisasi Pemberdayaan Masyarakat dengan Pembangunan Berkelanjutan. Buletin Ekstensia. Pusat Penyuluhan Pertanian Departemen Pertanian RI vol 19 th XI 2004. Diunduh dari http://subejo.staf.ugm.ac.id/wp-content/supriyanto-ekstensia.pdf

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN ILMIAH

PROPOSAL PENELITIAN ILMIAH
Latar Belakang Masalah 
Permasalahaan yang dihadapi ekonomi dunia dewasa ini semakin pelik. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak peningkatan harga komonitas dunia terutama harga minyak dan pangan, diperparah lagi dengan krisis keuangan hebat yang melanda Amerika Serikat yang mengakibatkan luluhnya industri keuangan global. Krisis ini akan menyebabkan terjadinya peningkatan inflasi dibeberapa negara, yang akan diikuti oleh kenaikan suku bunga, dan gejolak nilai tukar. 

Mengingat sistem keuangan suatu negara tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan terintegrasi dengan sistem keuangan dinegara lain secara global, maka guncangan dunia keuangan global ini akan menjadi batu ujian pada kekuatan perekonomian nasional kedepan. Hal ini mendorong penulis untuk meneliti fenomena tersebut melalui tesis yang bertitel: “Pengaruh Nilai Tukar Rupiah Dan Suku Bunga Riil Terhadap Cadangan Primer Dan Kredit Untuk Nasabah Bank Mandiri”
Gambar  Latar Belakang Penelitian 

Literatur empiris yang menguji dampak inflasi terhadap pertumbuhan dan kualitas kredit perbankan domestik pernah dilakukan oleh Bank Indonesia (2008). Hasil pengujian menunjukan bahwa inflasi secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas kredit (NPL). Namun, pengaruh inflasi tersebut bersifat tidak langsung karena ditansmisikan melalui pertumbuhan ekonomi dengan proxy Industrial Production Index (IPI). 

Selanjutnya dengan memasukkan perkiraan angka IPI, BI rate, nilai tukar dan oil price ke depan, hasil simulasi memperlihatkan bahwa setiap kenaikan inflasi sebesar 1% akan menurunkan pertumbuhan kredit sekitar 0,12% dan meningkatkan NPL sekitar 0,02%. Sementara itu, Perry Warjiyo (2006) dalam papernya Stabilitas Sistem Perbankan Dan Kebijakan Moneter: Keterkaitan Dan Perkembangannya Di Indonesia, menyatakan bahwa eratnya keterkaitan antara kondisi kesehatan dan stabilitas perbankan dengan kebijakan moneter melalui kebijakan suku bunga, perubahan inflasi dan kurs rupiah. 

Perumusan Masalah 
Dalam penelitian ini penulis mencoba merumuskan persoalan dalam bentuk pertanyaan: 
  1. Bagaimanakah pengaruh nilai tukar rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY terhadap cadangan primer Bank Mandiri ? 
  2. Bagaimanakah pengaruh suku bunga riil Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang terhadap cadangan primer Bank Mandiri ? 
  3. Bagaimanakah pengaruh nilai tukar rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY terhadap kredit untuk nasabah Bank Mandiri ? 
  4. Bagaimanakah pengaruh suku bunga riil Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang terhadap kredit untuk nasabah Bank Mandiri ? 
Tujuan Penelitian 
Penelitian ini bertujuan untuk: 
  1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh nilai tukar rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY terhadap cadangan primer Bank Mandiri. 
  2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh suku bunga riil Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang terhadap cadangan primer Bank Mandiri. 
  3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh nilai tukar rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY terhadap kredit untuk nasabah Bank Mandiri. 
  4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh suku bunga riil Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang terhadap kredit untuk nasabah Bank Mandiri. 
Kegunaan Penelitian 
Penelitian yang penulis lakukan ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, maupun bagi para pembaca atau pihak-pihak lain yang berkepentingan. 
1. Manfaat akademis Penelitian ini erat hubungannya dengan mata kuliah Manajemen Dana Bank, Manajemen Perkreditan, Keuangan Internasional, Institusi Depositori dan Pasar Modal, sehingga dengan melakukan penelitian ini diharapkan penulis dan semua pihak yang berkepentingan dapat lebih memahaminya. 
2. Manfaat dalam implementasi atau praktik. Penelitian ini memfokuskan kepada Bank Mandiri sebagai objek penelitian, sehingga diharapkan para pengambil kebijakan dalam Bank Mandiri maupun pihakpihak lain yang berkepentingan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. 

Batasan Masalah 
Mengingat begitu luasnya ruang lingkup pada penelitian ini, maka penulis membatasi permasalahan tersebut pada: 
1. Mengingat banyaknya jumlah bank di Indonesia, maka penulis dalam penelitiaan ini hanya menggunakan aktiva pada Bank Mandiri sebagai bahan penelitian. 
2. Aktiva suatu bank terdiri dari beberapa pos, sehingga penulis akan mengelompokan pos-pos pada aktiva tersebut berdasarkan skala prioritas penggunaan dana, yaitu: 
a. Cadangan primer; terdiri dari kas, penempatan pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, dan penempatan pada lain. 
b. Cadangan sekunder; terdiri dari surat berharga yang dimiliki, dan obligasi pemerintah. 
c. Kredit untuk nasabah; terdiri dari kredit yang diberikan. 
d. Investasi untuk pendapatan; terdiri dari penyertaan. Dalam penelitian ini penulis hanya memfokuskan pembahasan pada cadangan primer dan kredit untuk nasabah. 

3. Sesuatu hal yang tidak mungkin penulis lakukan untuk memasukan semua data suku bunga, inflasi, dan kurs rupiah terhadap semua negara, maka dalam penelitiaan ini penulis membatasinya dengan menggunakan data suku bunga, inflasi, dan kurs rupiah terhadap negara Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. 

4. Data penelitiaan yang digunakan adalah data per-triwulan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2008, diawali dari triwulan IV tahun 2000 sampai dengan triwulan II tahun 2008. 

5. Data yang diteliti seluruhnya merupakan data sekunder yang diperoleh dari laporan bulanan, triwulan, dan tahunan Bank Indonesia. Data yang dikumpulkan berupa data runtun waktu (time series). 

6. Alat bantu yang digunakan untuk menganalisa data statistik agar dapat diolah, ditampilkan, dan dimanipulasi sehingga dapat menyajikan suatu informasi dalam penelitian ini menggunakan peranti lunak atau software SPSS dan EView 

TINJAUAN PUSTAKA 
Neraca Bank Penulis mengutip dari suplemen kuliah Institusi Depositori dan Pasar Modal oleh Soedijono yang menguraikan bahwa untuk memenuhi ketentuan hukum, sarana pengambilan keputusan manajerial, dan sarana kegiatan perencanaan dan pengawasan, semua badan usaha menyelenggarakan sistem akuntansi yang menghasilkan laporan keuangan, minimal terdiri dari neraca dan laporan rugi laba. Neraca sebuah bank dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu aktiva dan pasiva. Selanjutnya pasiva sebuah bank terdiri dari utang dan modal. 

Inflasi dan Kurs Beberapa pengertian inflasi yang penulis kutip dari berbagai sumber, diantaranya adalah: 
  1. Menurut artikel Pengertian Inflasi, Stagnasi & Stagflasi Serta Dampak Sosial Inflasi dari Organisasi.Org, Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga barangbarang secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung dalam waktu yang lama dan terus-menerus. 
  2. Menurut Wikipedia, inflation is a rise in the general level of prices of goods and services in an economy over a period of time. 
  3. Menurut Investopedia, the rate at which the general level of prices for goods and services is rising, and, subsequently, purchasing power is falling. 

Bank Indonesia dan Inflasi serta Kurs Rupiah 
Sesuai dengan UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No. 
3 Tahun 2004 tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah (Pasal 7). Amanat ini memberikan kejelasan peran bank sentral dalam perekonomian, sehingga dalam pelaksanaan tugasnya Bank Indonesia dapat lebih fokus dalam pencapaian "single objective"-nya. Kestabilan nilai rupiah tercermin dari tingkat inflasi dan nilai tukar yang terjadi. Tingkat inflasi tercermin dari naiknya harga barang-barang secara umum. Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan dan dari sisi penawaran. Dalam hal ini, BI hanya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan. Karena itu, untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil, diperlukan adanya kerjasama dan komitmen dari seluruh pelaku ekonomi, baik pemerintah maupun swasta. 

Suku Bunga 
Beberapa pengertian tentang suku bunga, diantaranya adalah: 
  1. Menurut Djaslim Saladin, Konsep Dasar Ekonomi Dan Lembaga, menguraikan pendapat David Ricardo yang berpendapat bunga adalah jika memang banyak yang dapat dilakukan dengan mengunakannya, banyak pula yang diberikan dengan mengunakannya. Sedangkan Bohm Bawaer mengangap bahwa bunga itu timbul karena orang lebih menyukai barang di masa datang, dan menganggap bunga adalah diskonto yang harus dibayarkan. Bunga ditentukan oleh penyediaan dan permintaan akan dana yang dipinjam. 
  2. Menurut Manuharawati dan Rudianto Artiono dalam Matematika Keuangan, bunga adalah suatu jasa yang berbentuk uang yang diberikan oleh seorang peminjam atau pembeli terhadap orang yang meminjamkan modal atau penjual atas persetujuan bersama. 
  3. Menurut M. Farid M dalam tesisnya menguraikan bahwa dalam literatur ekonomi, yang dimaksud dengan suku bunga adalah ‘harga’ yang terjadi dipasar uang dan modal. Harga disini adalah harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu yang ditentukan bersama. 
  4. Menurut Nopirin dalam bukunya pengantar ilmu ekonomi makro-mikro menguraikan bahwa dalam pengertian sempit, kaum klasik berpendapat bahwa suku bunga merupakan hasil interaksi antara tabungan dan investasi. Definisi kaum klasik tersebut hanya mencakup aktivitas fiskal. Berbeda dengan pengertian suku bunga yang dikemukakan oleh John Maynard Keynes, bahwa suku bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan terhadap uang. 

PERUMUSAN HIPOTESA 
Berdasakan tinjauan pustaka atau kerangka pemikiran diatas, maka penulis mencoba untuk merumuskan hipotesis yang akan diuji kebenarannya, apakah hasil penelitian akan menerima atau menolak hipotesis tersebut, sebagai berikut: H01: Tidak ada pengaruh nilai tukar rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY terhadap cadangan primer Bank Mandiri. H02: Tidak ada pengaruh suku bunga riil Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang terhadap cadangan primer Bank Mandiri. H03: Tidak ada pengaruh nilai tukar rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY terhadap kredit untuk nasabah Bank Mandiri. H04: Tidak ada pengaruh suku bunga riil Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang terhadap kredit untuk nasabah Bank Mandiri. 

METODOLOGI PENELITIAN 
Data Penelitian 1. Sumber Data Data yang diteliti diperoleh dari Laporan Tahunan Bank Indonesia (LTBI), laporan triwulanan Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional (PEKKI) Bank Indonesia, dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Neraca PT. BANK MANDIRI (PERSERO), TBK. 

2. Jenis Data 
a. Aktiva Bank Mandiri
Pos-pos pada aktiva Bank Mandiri merupakan variabel terikat dan dikelompokan berdasarkan skala prioritas penggunaan dana, yaitu: 
1. Cadangan primer, terdiri dari kas, penempatan pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, dan penempatan pada bank lain. 
2. Cadangan sekunder, terdiri dari surat berharga yang dimiliki, dan obligasi pemerintah. 
3. Kredit untuk nasabah, terdiri dari kredit yang diberikan, 
4. Investasi untuk pendapatan, terdiri dari penyertaan. 

Dalam hal penelitian ini, penulis hanya fokus kepada cadangan primer dan kredit untuk nasabah. 

b. Kurs rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY 
Kurs rupiah terhadap USD, GBP, dan JPY merupakan variabel bebas. USD dan GDP merupakan nilai tukar 1 mata uang Amerika Serikat dan Inggris terhadap rupiah, sedangkan JPY merupakan nilai tukar 100 mata uang Jepang terhadap rupiah. 

c. Suku bunga dan inflasi di Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. 
Suku bunga yang dikeluarkan oleh bank sentral masing-masing negara akan dikurangi dengan inflasi pada masing-masing negara sehingga diperoleh suku bunga riil. Suku bunga riil di Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang merupakan variabel bebas. 

3. Tipe Data 
Data yang diteliti merupakan data sekunder yang dikumpulkan berupa data runtun waktu (time series). Data-data tersebut diterbitkan secara berkala oleh Bank Indonesia dalam bentuk buletin dan laporan triwulan atau tahunan, dengan demikian keabsahan data tersebut merupakan tanggung jawab lembaga tersebut. 

Objek Penelitian 
Objek penelitian dalam penulisan ini adalah Bank Mandiri. 

Periode Penelitian 
Data yang digunakan merupakan data triwulanan dari triwulan IV 2000 sampai dengan triwulan II 2008.

Variabel Penelitian dan Model Penelitian 

Tabel Variabel Penelitian 
Dari tabel diatas maka akan didapat model penelitian sebagai berikut: 
a. YCP = a + bXUSD + bXGBP + bXJPY + bXSBIN + bXSBAS + bXSBIG + bXSBJP + ε 
b. YKUN = a + bXUSD + bXGBP + bXJPY + bXSBIN + bXSBAS + bXSBIG + bXSBJP + ε

Alat Yang Digunakan 
Alat bantu yang digunakan untuk mencari keterkaitan diantara variabel-variabel tersebut diatas adalah peranti lunak atau software EViews 5.0 dan SPSS 13.0 for windows. EViews dan SPSS merupakan peranti lunak atau software yang berbasis windows yang digunakan untuk menganalisa data statistik agar dapat diolah, ditampilkan, dan dimanipulasi sehingga dapat menyajikan suatu informasi sesuai kehendak pengguna. Angka 5.0 dan 13.0 merupakan nomor versi dari EViews dan SPSS. 

Model Analisis 
Untuk mencari keterkaitan antara variabel yang tercakup dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis regresi linier dengan metode kuadrat terkecil. Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui koefisien korelasi, koefisien determinasi, dan koefisien regresi. Selanjutnya penulis melakukan pengujian hipotesi yaitu pengujian hipotesis secara parsial menggunakan t test dan pengujian hipotesis secara simultan menggunakan F test. 

Didalam persamaan regresi linier terdapat perbedaan antara Y hasil observasi yang diperoleh dari data sampel dengan nilai Y sebenarnya, perbedaan inilah yang disebut dengan kesalahan pengganggu atau error atau residual. Semakin kecil nilai kesalahn pengganggu semakin valid nilai Y hasil observasi untuk meramalkan nilai Y populasi. Beberapa buku melambangkan kesalahan penggangu dengan U dan ada juga dengan ε. Dengan adanya kesalahan pengganggu tersebut, maka terdapat beberapa asumsi dalam analisis regresi dengan metode kuadrat terkecil, sehingga estimasi yang dihasilkan bersifat BLUE. Asumsi-asumsi tersebut diantaranya adalah asumsi normalitas, asumsi autokorelasi, asumsi homokedastiditas, dan asumsi multikolinieritas. 

RENCANA BIAYA PENELITIAN 
Penelitian ini merupakan penelitian karya ilmiah untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pada universitas gunadarma, maka semua biaya penelitian ditanggung oleh penulis. 

JADWAL WAKTU PENELITIAN 
1. Minggu I: Persiapan. 2. Minggu II – IV: Pengumpulan data, pengolahan dan analisis data secara garis besar. 3.Minggu V – IX: Penyusunan laporan draf, mulai dari BAB I sampai dengan BAB V 4. Minggu X - XII: Laporan akhir 

DAFTAR PUSTAKA 
1. Jhon Hendri. 2009. “Pengaruh Nilai Tukar Rupiah Dan Suku Bunga Riil Terhadap Cadangan Primer Dan Kredit Untuk Nasabah Bank Mandiri”. Tesis Universitas Gunadarma. Jakarta. 

Contoh Proposal Bab III Metode Penelitian

Contoh Proposal Bab III Metode Penelitian 
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Kenagarian Aie Angek Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar yaitu secara purposive atau sengaja karena kelompok tani pambalahan merupakan salah satu sentra penghasil sayuran di Sumatera Barat. Selain itu didaerah ini, pemerintah melaksanakan Program Pengembangan Kawasan Agribisnis Sayuran Organik (KASO).

Penelitian ini dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu dimulai bulan Desember 2009 sampai bulan Januari 2009 terhitung sejak dikeluarkannya surat turun penelitian dari Fakultas Pertanian Universitas Andalas.

3.2 Metode Penelitian Dan Pengambilan Sampel
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study) yaitu penelitian yang diadakan untuk memperhatikan faktor-faktor dan gejala yang ada dan keterangan-keterangan serta mendapatkan kebenaran terhadap praktek-praktek yang sedang berlangsung (Nazir, 1999).

Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sensus yaitu semua petani yang tremasuk kedalam kelompok tani Pambalahan. Karena kelompok tani Pambalahan merupakan satu-satunya kelompok tani yang sudah menerapkan pertanian organik di Kenagarian Aie Angek dengan jumlah petani 40 orang yang melakukan usahatani kubis.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan informan kunci (key informan) secara mendalam dengan bantuan pengisian daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah disiapkan sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini untuk kelompok tani pambalahan.

Sedangkan data sekunder yang dibutuhkan diperoleh dari lembaga atau instansi yang berhubungan dengan penelitian ini seperti dinas pertanian, BPP (Balai Penyuluh Pertanian), kantor wali nagari, serta literatur-literatur yang relevan seperti buku-buku, jurnal penelitian internet dan laporan-laporan yang berhubungan dengan penelitian ini. 

3.4 Variabel Yang Diamati 
Berdasarkan tujuan pertama yaitu mendeskripsikan masalah kelompok tani dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik di kecamatan X Koto, maka variabel yang diamati :

A. Masalah Teknis meliputi sentra produksi yaitu
a. pengolahan lahan meliputi : pembersihan lahan dan pengaturan jarak tanam.
b. penanaman meliputi : penyiapan bibit, cara tanam dan pola tanam.
c. jenis bibit yang digunakan petani.
d. pemupukan meliputi cara pemupukan dan jumlah pupuk yang digunakan.
e. pemeliharaan dan pengendalian hama penyakit
f. penggunaan pestisida
g. pemanenan meliputi : kriteria siap panen, waktu panen dan cara panen.

B. Masalah Sosial meliputi keterlibatan pemerintah dan msyarakat didaerah sekitar.

C. Masalah Ekonomi meliputi pengadaan modal dan pemasaran.
Untuk tujuan kedua yaitu untuk menganalisis pengaruh Institut Pertanian Organik (IPO) terhadap kelompok tani Pambalahan dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik, maka variabel yang diamati adalah jenis kegiatan, materi, metode, media, tempat dan waktu pelaksana kegiatan pelatihan petanian sayuran organik.

Untuk tujuan ketiga yaitu menganalisis strategi pengembangan kelompok tani dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik di Kecamata X Koto meliputi variabel yang diamati adalah : 

A. Faktor Sosial dapat dilihat dari :
a. Kelembagaan petani yaitu keikutsertaan petani dalam kelompok tani.
b. Pelatihan dan percontohan pertanian organik yaitu Institut Pertanian Organik (IPO).
c. Penyuluhan yaitu adanya program dari penyuluh yang berkaitan dengan pengembangan kelompok tani dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayur organik.

B. Faktor Ekonomi

4 subsistem agribisnis
a. subsistem hulu yaitu pengadaan sarana produksi (industri benih, pupuk, pestisida dan alsintan) meliputi harga saprodi dinyatakan dalam satuan Rupiah (Rp).
b. subsistem budidaya (on-farm) yaitu yang menghasilkan komoditas pertanian primer.
c. subsistem agribisnis hulu yaitu pengolahan hasil baik menghasilkan produk antara maupun produk akhir.
d. subsistem pemasaran yaitu pendistribusian produk dari sentra produksi ke sentra konsumsi dan subsistem jasa penunjang yaitu dukungan sarana dan prasarana serta lingkungan yang mendukung pengembangan agribisnis.

C. Faktor Karakteristik petani, dapat dilihat dari :
a. Umur yaitu umur petani pada saat penelitian berlangsung yang dibulatkan keulang tahun terdekat yang dinyatakan dalam tahun (Th).
b. Luas lahan yang diukur dalam satuan Hektar (ha).
c. Pendidikan dilihat dari tingkat pendidikan terakhir petani.
d. Pengalaman berusahatani sayuran yaitu lamanya petani menekuni usahatani sayuran yang dinyatakan dalam tahun (Th).

D. Penggunaan Sumber Daya, dapat dilihat dari :
a. Lahan, meliputi : kepemilikan lahan, penguasaan kawasan.
b. Produksi / produktivitas. 
c. Tenaga Kerja yaitu seluruh tenaga kerja yang dicurahkan dalam kegiatan usahatani sayuran baik Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) maupun Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK).

3.5 Analisa Data
Analisa data untuk tujuan pertama yaitu Mendeskripsikan masalah kelompok tani dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik dianalisa dengan analisa deskriptif kualitatif, dimana dalam penelitian ini akan dibahas permasalahan yang dialami oleh petani antara lain : masalah teknis, masalah sosial dan masalah ekonomi 

Untuk tujuan kedua yaitu Mendeskripsikan pengaruh IPO terhadap kelompok tani pambalahan erkait dengan pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik dianalisa denagn deskriptif kualitatif yaitu memberikan gambaran dan bentuk pengaruh kegiatan IPO terhadap kelompok tani pambalahan. Untuk mengukur sejauh mana pengaruh kegiatan IPO terhadap kelompok tani pambalahan dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organic, maka digunakan metode skor, yaitu pemberian nilai/ skor melalui penyebaran kuisoner untuk setiap variabel yang diamati. Dari penilaian skor ini, maka data akan dianalisis secara deskriptif kualitatif.

Untuk menguji nilai skor yang diperoleh, ditentukan melalui rumus sebagai berikut:
Nilai rata-rata = Ni / n

Keterangan:
Ni = Jumlah Skor keseluruhan pengaruh kegiatan IPO
n = Jumlah responden

Berdasarkan nilai skor diatas maka pengaruh kegiatan IPO terhadap kelompok tani dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis sayuran organik. 

Peranan kegiatan penyuluhan = Total skor yang diperoleh x 100%
Total skor yang diharapkan

Sehingga skor pengaruh kegiatan IPO tersebut dikategorikan sebagai berikut:
a. Sangat berpengaruh, bila rata-rata skor yang diperoleh 79 - 99
b. Cukup berpengaruh, bila rata-rata skor yang diperoleh 56 - 78
c. Kurang berpengaruh, bila rata-rata skor yang diperoleh 33 - 55

Penentuan tiga kategori tersebut didapatkan dari rentang nilai dengan rumus:
R = Skor tertinggi – Skor terendah
n

Keterangan: n = jumlah kategori rendah, sedang, dan tinggi
R = range ( rentangan)

Untuk tujuan ketiga yaitu Menganalisis strategi pengembangan kelompok tani dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis di Kota Padang Panjang digunakan analisa SWOT. Analisa SWOT yang memuat variabel faktor internal yang meliputi aspek yang menjadi kekuatan dan kelemahan, serta variabel faktor eksternal yang meliputi aspek yang menjadi peluang dan ancaman.Dari analisa SWOT yang dilakukan ini, maka diharapkan segala kemungkinan yang menguntungkan dan merugikan, baik berasal dari dalam atau dari luar sehubungan dengan pengembangan kelompok tani dalam mendukung pembangunan kawasan agribisnis ini, akan dapat diantisipasi dan dicarikan jalan keluarnya.

3.6 Definisi Operasional
Dari kerangka teori, konsep dan kerangka yang telah disajikan pada bagian tinjauan pustaka, maka penelitian ini menggunakan defenisi oprasional agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda. Adapun defenisi itu adalah sebagai berikut 

1. Kelompok tani merupakan lembaga yang menyatukan para petani secara horizontal dan vertikal.
2. Penyuluhan pertanian adalah proses pembelajaran bagi masyarakat pertanian di kawasan agropolitan. Dimana terdapatnya kegiatan belajar mengajar dalam perubahan sikap, keterampilan, dan perilaku masyarakat tani di kawasan agropolitan. Dalam proses pembelajaran, dilengkapi dengan penyuluh sebagai pengajar, materi yang disampaikan, media yang digunakan, dan sasaran (petani) sebagai orang yang disuluh.
3. Tanaman hortikultura adalah berbagai jenis tanaman sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat-obatan yang diusahakan oleh petani di kawasan agropolitan. Adapun jenis tanaman hortikultura yang banyak diusahakan adalah sayuran dataran tinggi seperti wortel, sawi, cabe, kubis, kol, kentang, daun bawang, seledri, dan lain sebagainya. 

4. Pasar hasil pertanian adalah sarana penampungan dan pemasaran hasil pertanian masyarakat di kawasan agropolitan Koto Baru Kecamatan X Koto seperti Sub Terminal Agribisnis (STA) yang dilengkapi dengan pasar lelang, gudang penyimpanan (cold storage), sarana pencucian, sortasi dan prossesing hasil pertanian sebelum dipasarkan. 

6. Partisipasi adalah peran serta / inisiatif masyarakat dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, yaitu meliputi pada perencanaan kegiatan sampai pada mengevaluasi dan menikmati hasil kerja. Partisipasi masyarakat seperti dalam penentuan usulan kegiatan, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

7. Lembaga pertanian adalah lembaga / organisasi petani yang mengelola setiap kegiatan usaha tani baik yang bersifat formal maupun informal seperti BPP, kelompok tani / gapoktan, P3A, Koperasi, dan lain sebagainya.


DAFTAR PUSTAKA
Artikel Michail Porter berjudul “What is Strategy?” yang dimuat dalam Harvard Business Review November-Desember 1996. 

Bappenas. 2004. Tata Cara Perencanaan Pengembangan Kawasan Untuk Percepatan Pembangunan Daerah. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal.

Dinas Pertanian. 2007. Programa Penyuluhan Pertanian Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar.

Indraningsih, Kurnia, Suci, Ashari dan Supena Friyatno. 2005. Strategi Pengembangan Model Kelembagaan Kemitraan Agribisnis Hortikultura di Bali. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Bogor.

Kedi Suradisastra. 2006. Revitalisasi Kelembagaan Untuk Percepetan Pembangunan Sektor Pertanian dalam Otonomi Daerah. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Bogor. Jurnal Analisa Kebijakan Pertanian, Volume 4 No 4 Desember 2006.

Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian, Penerbit Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Jakarta.

Nazir, M. 2005. Metode Penelitian . Ghalia Indonesia. Jakarta.

Sadikin,Ikin, Rita Nur Suhaeti, dan Kedi Suradisastra. 1999. Kajian Kelembagaan Agribisnis Dalam Mendukung Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Berbasis Agroekosistem. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Bogor. Jurnal Analisa Kebijakan Pertanian. 

Sapja Anantanyu. 2004. Gambaran Kemiskinan Petani dan Alternatif Pemecahannya. MK Pengantar ke Falsafah Sains (PPS 702). 

Saptana, Ariningsih E, Saktyanu KD, Sri Wahyuni, Valeriana. 2005. Kebijakan Pengembangan Hortikultura di Kawasan Agribisnis Hortikultura Sumatera (KAHS). Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Bogor. Jurnal Analisa Kebijakan Pertanian, Volume 3 No1 Maret 2005.

Saptana, Saktyanu KD, Sri Wahyuni, Ening Ariningsih dan Valeriana Darwis. 2004. Integrasi Kelembagaan Forum KASS dan Program Agropolitan Dalam Rangka Pengembangan Agribisnis Sayuran Sumatera. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Bogor. Jurnal Analisa Kebijakan Pertanian, Volume 2 No3 September 2004.

Saptana, Sunarsih, Kurenia Suci Indraningsih. 2005. Mewujudkan Keunggulan Komparatif Menjadi Keunggulan Kompetitif Melalui Pengembangan Kemitraan Usaha Hortikultura. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Bogor.

Sry Wahyuni. 2007. Integrasi Kelembagaan di Tingkat Petani : Optimalisasi Kinerja Pembangunan Pertanian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi.Dimuat dalam Tabloid Sinar Tani 10 Juni 2009.

Suradisastra, Kedi. 2008. Strategi Pemberdayaan Kelembagaan Petani. Pusat Analisa Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. Jurnal Forum Penelitian Agro Ekonomi, Volume 26 No 2 Desember 2008.

Syahyuti. 2007. Kebijakan Pengembangan Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Sebagai Kelembagaan Ekonomi di Pedesaan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Bogor.

Van Den Ban.A.W dan H.S. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian.
Kanisius .Yogyakarta.


Yudhoyono, S. Bambang, 2006, Pembangunan Pertanian Indonesia dari Revolusi Hijau ke Pertanian Berkelanjutan, Orasi Ilmiah di Universitas Andalas Padang Tanggal 21 September 2006 

http://www.indonesia.go.id { 14 April 2008}. 

Yunasaf, Unang. 2005. Kepemimpinan Ketua Kelompok dan Hubungannya dengan Keefektifan Kelompok.

Yusmaini. 2009. Kesiapan Teknologi Mendukung Peretanian Organik Tanaman Obat : Kasus Jahe.


 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson