Tampilkan postingan dengan label Obat-Obatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obat-Obatan. Tampilkan semua postingan

Perubahan Orientasi Farmasi

Perubahan Orientasi Farmasi 
Mengikuti perkembangan zaman, telah terjadi pula perubahan penekanan pada pengertian dan orientasi farmasi. Pada awalnya profesi farmasi itu dikatakan merupakan seni (arts) dan pengetahuan (science). Hal ini dapat dilihat pada buku teks yang digunakan di perguruan tinggi farmasi pada awal pertengahan abad ke-20, yang antara lain berjudul “Scoville’s The Art of Compounding “ (Seni Meracik Obat), dan “Recepteerkunde” (Ilmu Resep) karangan van Duin, dan van der Wielen. Definisi obat menurut Undang-Undang No. 7 Tahun 1960 tentang Farmasi :

.. obat yang dibuat dari bahan yang berasal dari binatang, tumbuh-tumbuhan, mineral, dan obat sintetis. 

Definisi ini lebih menekankan sumber atau asal diperolehnya obat. Perkembangan farmasi setelah itu berorientasi pada teknologi seperti tergambar oleh buku teks yang populer pada saat itu, dan masih digunakan sampai sekarang : “ Pharmaceutical Technology” oleh Lachman. Dalam Kebijaksanaan Obat Nasional (KONAS, 1980) : …… obat ialah bahan atau paduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.

Definisi obat ini lebih ditekankan pada tujuan penggunaannya
Perkembangan farmasi sangat dipengaruhi pula oleh perkembangan orientasi di bidang kesehatan. “World Health Organization” (WHO) yang beranggotakan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, pada tahun 80-an mencanangkan semboyan “Health for All by the year 2000”, yang merupakan tujuan sekaligus proses yang melibatkan seluruh negara untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakatnya, suatu derajat kesehatan yang memungkinkan seluruh anggota masyarakat memperoleh kehidupan yang produktif secara sosial maupun ekonomis. Semboyan tadi dirumuskan melalui suatu konsep bernama “Primary Health Care” dalam konperensi internasional di Alma Atta 1978, sehingga konsep itu dikenal dengan nama Deklarasi Alma Atta. Deklarasi ini merupakan kunci dalam pencapaian tujuan pengembangan sosio-ekonomi masyarakat dengan semangat persamaan hal dan keadilan sosial. Perkembangan terakhir pengembangan di bidang kesehatan pada milenium baru ini ialah konsep “Paradigma Sehat”. Paradigma sehat, bukan paradigma sakit, berorientasi pada bagaimana mempertahankan keadaan sehat, bukan menekankan pada manusia sakit yang sudah menjadi tugas rutin bidang kesehatan. Jadi jelas perkembangan farmasi yang menjadi bagian dari bidang kesehatan, juga harus mengikuti perkembangan yang terjadi di bidang kesehatan.

The American Society of Colleges of Pharmacy (AACP) mendefinisikan farmasi sebagai ”suatu sistem pengetahuan (knowledge system) yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan (health service)”. Memang agak sulit untuk mendefinisikan farmasi secara lengkap, yang bukan saja melihatnya dari aspek asal atau sumber obat, atau tujuan pemakaian obat. Pada Ekspose Perkembangan Ilmu Kesehatan oleh ISFI/IDI di Jakarta bulan Maret 1986 oleh suatu Tim dari Institut Teknologi Bandung telah dikemukakan definisi Farmasi sebagai berikut :

Farmasi pada dasarnya merupakan sistem pengetahaun (ilmu, teknologi dan sosial budaya) yang mengupayakan dan menyelenggarakan jasa kesehatan dengan melibatkan dirinya dalam mendalami, memperluas, menghasilkan dan mengembangkan pengetahuan tentang obat dalam arti dan dampak obat yang seluas-luasnya serta efek dan pengaruh obat pada manusia dan hewan.

Untuk menumbuhkan kompetensi dalam sistem pengetahuan seperti diuraikan di atas, farmasi menyaring dan menyerap pengetahuan yang relevan dari ilmu biologi, kimia, fisika, matematika, perilaku dan teknologi; pengetahuan ini dikaji, diuji, diorganisir, ditransformasi dan diterapkan.

Sebagian besar kompetensi farmasi ini diterjemahkan menjadi produk yang dikelola dan didistribusikan secara profesional bagi yang membutuhkannya.

Pengetahuan farmasi disampaikan secara selektif kepada tenaga profesional dalam bidang kesehatan dan kepada orang awam dan masyarakat umum agar pengetahuan mengenai obat dan produk obat dapat memberikan sumbangan nyata bagi kesehatan perorangan dan kesejahteraan umum masyarakat.

Tidak dapat disangkal bahwa sistem pengetahuan farmasi, karena penerapannya untuk tujuan kesehatan, merupakan bagian yang berarti secara kuantitatif maupun secara kualitatif dalam setiap upaya kesehatan.

SEJARAH PERKEMBANGAN FARMASI 
Sejak dahulu nenek moyang bangsa Indonesia telah mengenal penggunaan obat tradisional (jamu) dan pengobatan secara tradisional (dukun). Pada zaman itu sebenarnya dukun melaksanakan dua profesi sekaligus, yaitu profesi kedokteran, (mendiagnose penyakit) dan profesi kefarmasian (meramu dan menyerahkan obat kepada yang membutuhkannya).

Penggunaan obat dapat ditelusuri sejak tahun 2000 S.M. pada zaman kebudayaan Mesir dan Babilonia telah dikenal obat dalam bentuk tablet tanah liat (granul), dan bentuk sediaan obat lain. Saat itu juga sudah dikenal ratusan jenis bahan alam yang digunakan sebagai obat.Pengetahuan tentang obat dan pengobatan selanjutnya berkembang lebih rasional pada zaman Yunani, ketika Hippocrates (460 S.M.) memperkenalkan metode dasar ilmiah dalam pengobatan. Dalam zaman Yunani itu dikenal pula Asklepios atau Aesculapius (7 S.M.) dan puterinya Hygeia. Lambang tongkat Asklepios yang dililiti ular saat ini dijadikan lambang penyembuhan (kedokteran), sedangkan cawan atau mangkok Hygeia yang dililiti ular dijadikan lambang kefarmasian.

Perkembangan profesi kefarmasian pada abad selanjutnya dilakukan dalam biara, yang telah menghasilkan berbagai tulisan tentang obat dan pengobatan dalam bahasa latin yang hampir punah itu, sampai saat ini dijadikan tradisi dalam penulisan istilah di bidang kesehatan. Perkembangan kefarmasian yang pesat pula telah terjadi dalam zaman kultur Arab dengan terkenalnya seorang ahli yang bernama al-Saidalani pada abad ke-9.


Namun demikian tonggak sejarah yang penting bagi farmasi ialah tahun 1240 di Sisilia, Eropa, ketika dikeluarkan surat perintah raja (edict) yang secara legal (menurut undang-undang) mengatur pemisahan farmasi dari pengobatan. Surat perintah yang kemudian dinamakan ”Magna Charta” dalam bidang farmasi itu juga mewajibkan seorang Farmasis melalui pengucapan sumpah, untuk menghasilkan obat yang dapat diandalkan sesuai keterampilan dan seni meracik, dalam kualitas yang sesuai dan seragam. ”Magna Charta” kefarmasian ini dikembangkan sampai saat ini dalam bentuk Kode Etik Apoteker Indonesia dan Sumpah Apoteker. 

PENGETAHUAN, ILMU DAN PROFESI 
Semua ilmu adalah pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu. Manusia mempunyai perasaan, pikiran, pengalaman, panca indera, intuisi, dan mampu menangkap gejala alam lalu mengabstraksikannya dalam bentuk ketahuan atau pengetahuan; misalnya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah dan filsafat. Apa yang diperoleh dalam proses mengetahui itu dilakukan tanpa memperhatikan obyek, cara (ways of knowing) dan kegunaannya, maka ini dikategorikan dalam ketahuan atau pengetahuan, dalam bahasa Inggris disebut ”knowledge”. Ilmu atau ”Science” ialah pengetahuan yang diperoleh melalui ”metode ilmiah”, yaitu suatu cara yang menggunakan syarat-syarat tertentu, melalui serangkaian langkah yang dilakukan dengan penuh disiplin. 

Farmasi Sebagai Sains
Semua bentuk pengetahuan dapat dibeda-bedakan atau dikelompokkan dalam berbagai kategori atau bidang, sehingga terjadi diversifikasi bidang ilmu pengetahuan atau disiplin ilmu, yang berakar dari kajian filsafat, yaitu Seni (Arts), Etika (Ethics), dan Sains (Science). Di satu pihak Farmasi tergolong seni teknis (technical arts) apabila ditinjau dari segi pelayanan dalam penggunaan obat (medicine); di lain pihak Farmasi dapat pula digolongkan dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam (natural science).

Dalam tinjauan pengelompokan bidang ilmu atau kategori di atas digunakan kriteria :
1. Obyek ontologis. Di sini ditinjau obyek apa yang ditelaah sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut. Sebagai contoh, obyek ontologis dalam bidang Ekonomi ialah hubungan manusia dan benda atau jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup; obyek telaah pada Manajemen ialah kerja sama manusia dalam mencapai tujuan yang telah disetujui bersama; obyek ontologis pada Farmasi ialah obat dari segi kimia dan fisis, segi terapetik, pengadaan, pengolahan sampai pada penyerahannya kepada yang memerlukan.

2. Landasan epistemologis, yaitu cara atau metode apa yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan tersebut. Contoh landasan Epistemologis Matematika ialah logika deduktif; landasan epistemologis kebiasaan sehari-hari ialah pengalaman dan akal sehat; landasan epitemologis Farmasi ialah logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis, yang dinamakan pula metode logiko-hipotetiko-verifikatif.

3. Landasan aksiologis, yaitu mempertanyakan apa nilai kegunaan pengetahuan tersebut. Nilai kegunaan pencak silat, matematika dan farmasi sudah jelas berbeda. Dalam hal ini nilai kegunaan atau landasan aksiologis Farmasi dan Kedokteran itu sama karena kedua-duanya bertujuan untuk kesehatan manusia. 

Sebagai ilmu, Farmasi menelaah obat sebagai ”materi”, baik yang berasal dari alam maupun sintesis (sama dengan bidang Kimia dan Fisika) dan menggunakan metode logiko-hipotetiko-verifikatif sebagai metode telaah yang sama seperti digunakan pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Oleh karena itu, Farmasi merupakan ilmu yang dapat dikelompokkan dalam bidang Sains.

Farmasi Sebagai Profesi
Dari kajian filsafat di atas terlihat bahwa di samping sebagai Ilmu atau Sains, Farmasi meliputi pula pelayanan obat secara profesional. Istilah Profesi dan Profesional saat ini semakin dikaburkan karena banyak digunakan secara salah kaprah. Semua pekerjaan (job, vacation, occupation) dan keahlian (skill) dikategorikan sebagai profesi. Demikian pula istilah profesional sering digunakan sebagai lawan kata amatir.

Menurut Hughes, E.C. : 
…..Profesion profess to know better than other the nature of certain matters, and to know better than their clients what ails them or their affairs. 

Definisi ini menggambarkan suatu hubungan pelayanan antar-manusia, sehingga tidak semua pekerjaan atau keahlian dapat dikategorikan sebagai profesi. 

Menurut Schein, F.H. :…The profession are a set of occupation that have developed a very special set or norms deriving from their special role in society . 

Kelompok profesional dapat dibedakan dari yang bukan profesional menurut kriteria berikut :
1. Memiliki Pengetahuan Khusus, yang berhubungan dengan kepentingan sosial. Pengetahuan khusus ini dipelajari dalam waktu yang cukup lama untuk kepentingan masyarakat umum.

2. Sikap dan Prilaku Profesional. Seorang profesional memiliki seperangkat sikap yang mempengaruhi prilakunya. Komponen dasar sikap ini ialah mendahulukan kepentingan orang lain (altruisme) di atas kepentingan diri sendiri. Menurut Marshall, seorang profesional bukan bekerja untuk dibayar, tetapi ia dibayar agar supaya ia dapat bekerja.

3. Sanksi Sosial. Pengakuan atas suatu profesi tergantung pada masyarakat untuk menerimanya. Bentuk penerimaan masyarakat ini ialah dengan pemberian hak atau lisensi (lincense) oleh negara untuk melaksanakan praktek suatu profesi. Lisensi ini dimaksudkan untuk menghindarkan masyarakat dari oknum yang tidak berkompetensi untuk melakukan praktek profesional.

Apabila kriteria di atas diperinci lebih lanjut maka diperoleh sikap dan sifat sebagai berikut :
1. Profesi itu sendiri yang menentukan standar pendidikan dan pelatihannya.
2. Mahasiswa yang mengikuti pendidikan profesi tertentu harus memperoleh pengalaman sosialisasi menuju kedewasaan yang lebih intensif dibanding mahasiswa pada bidang pekerjaan lain.
3. Praktek profesional secara legal (menurut hukum) diakui dengan pemberian lisensi.
4. Pemberian lisensi dan dewan penilai dikendalikan oleh anggota profesi.
5. Umumnya peraturan yang berkaitan dengan profesi dibentuk dan dirumuskan oleh profesi itu sendiri.
6. Okupasi ini akan berkembang dari segi pendapatannya, kekuasaan, dan tingkat prestise, sehingga dapat menetapkan persyaratan yang lebih tinggi bagi calon mahasiswanya.
7. Praktisi profesi secara relatif tidak dievaluasi dan dikontrol oleh orang awam.
8. Norma-norma praktek yang dikeluarkan profesi itu lebih mengikat dibanding kontrol legal.
9. Anggota profesi sangat erat terikat dan terafiliasi dengan profesinya dibanding dengan anggota okupasi lain.
10. Profesi ini biasanya merupakan terminal, dalam arti tidak ada yang akan beralih ke profesi lain. 

VOKASI DAN KARIR DALAM BIDANG FARMASI
Perhatian utama para dokter, dokter gigi dan dokter hewan yang menulis resep ialah pada efek obat pada penderita, nilai terapetika, dan toksiologinya. Para perawat bertugas untuk memberikan obat, tanggap terhadap bentuk sediaan obat, dan terhadap manifestasi toksisnya. Maka ahli Farmasi (Farmasis) itulah satu-satunya ahli mengenai obat. Ia diberikan tanggung jawab legal untuk menangani obat dan pengetahuan segala sesuatu mengenai obat itu adalah tanggung jawab profesinya. Tidak ada program studi lain selain Farmasi yang memberikan dasar-dasar pengetahuan lengkap mengenai segala sesuatu yang perlu diketahui tentang obat. Jadi hanya seorang Farmasis yang mempunya kompetensi keahlian obat secara lengkap.

Farmasis Komunitas (Community Pharmacist)
Farmasis atau Apoteker memberikan kesan umum bahwa tempat kerja seorang farmasi hanyalah di Apotik, yaitu salah satu tempat pengabdian profesi seorang Apoteker. Seorang Farmasis di Apotik langsung berhadapan dengan masyarakat sehingga fungsi tersebut dikelompokkan dalam Farmasi Masyarakat (Community Pharmacy). Fungsi Farmasis Masyarakat di Apotik merupakan kombinasi seorang profesional dan wiraswastawan. Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 25/80 tentang Apotik, bahwa Apotik adalah tempat pengabdian profesi seorang Apoteker, maka makin besar harapan yang diberikan pemerintah kepada para Farmasis, baik dari segi jumlah tenaga farmasi maupun dari segi kemampuan profesionalnya.

Farmasi Rumah Sakit (Hospital Pharmacy)
Farmasi Rumah Sakit ialah pekerjaan kefarmasiaan yang dilakukan di rumah sakit pemerintah maupun swasta. Fungsi kefarmasian ini yang sudah sangat berkembang di negara maju, juga sudah mulai dirintis di Indonesia dengan pembukaan program spesialisasi Farmasi Rumah Sakit. Jumlah kebutuhan Farmasis di rumah sakit di masa depan akan semakin meningkat karena 3 hal :
1. Faktor pertambahan penduduk.
2. Meningkatnya kebutuhan untuk perawatan yang lebih baik di rumah sakit.
3. Fungsi dan peranan Farmasis Rumah Sakit akan lebih meningkat dalam berbagai aspek mengenai penggunaan dan pemantauan obat.

Pedagang Besar Farmasi (PBF)
Mata rantai sebagai perantara industri farmasi dan masyarakat dalam hal penyaluran obat ialah Pedagang Besar Farmasi (PBF). Di luar negeri PBF ini mempunyai tenaga Farmasis terdaftar sebagai supervisor disebabkan oleh sifat khas produk yang ditanganinya itu sehubungan dengan peraturan perundang-undangan. Di Indonesia hanya dipersyaratkan tenaga menengah farmasi (Asisten Apoteker = AA) sebagai penanggungjawab, mengingat belum cukup tersedianya tenaga ahli berpendidikan tinggi.

PBF sangat berperanan sebagai sumber penyalur obat dari berbagai industri farmasi yang secara cepat dapat melayani kebutuhan Farmasis Komunitas (Apoteker) untuk secara cepat pula melayani kebutuhan penderita akan obat. PBF juga mengurangi beban finansial Apoteker dalam hal menyimpan stok obat dalam jumlah besar dan menjembatani kerumitan negosiasi dengan ratusan industri farmasi sebagai produsen obat.

Industri Farmasi
Farmasis di industri farmasi terlibat pula dalam fungsi pemasaran produk, riset dan pengembangan produk, pengendalian kualitas, produksi dan administrasi atau manajemen. Fungsi perwakilan pelayanan medis (medical service representative) atau ”detailman” yang bertugas dan langsung berhubungan dengan Dokter dan Apoteker untuk memperkenalkan produk yang dihasilkan industri farmasi mungkin juga dijabat seorang Farmasis atau tenaga ahli lain. Namun paling ideal apabila fungsi itu dipegang seorang Farmasis atau tenaga ahli lain. Namun paling ideal apabila fungsi itu dipegang seorang Farmasis karena latar belakang pengetahuannya. Saat ini memang tidak banyak Farmasis yang mengisi jabatan ini karena jumlahnya belum mencukupi, dan lebih dibutuhkan di tempat pengabdian profesi yang lain. Peningkatan karir jabatan ini dapat mencapai tingkat supervisor dalam pemasaran produk, dan direktur pemasaran produk dalam organisasi industri farmasi.

Pada unit produksi dan pengendalian kualitas (quality control) industri dipersyaratkan seorang Apoteker. Untuk bidang riset dan pengembangan (R & D = Research and Development) biasanya diperlukan lulusan pendidikan pascasarjana, meskipun bukan merupakan persyaratan.
Instansi Pemerintah

Departemen Kesehatan adalah instansi pemerintah yang paling banyak menyerap tenaga Farmasis, terutama Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Minuman (DitJen POM) dan jajaran Pusat Pemeriksaan Obat (PPOM) dan Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan (Balai POM) di daerah. Demikian pula Bidang Pengendalian Farmasi dan Makanan pada setiap Kantor Wilayah Dep.Kes dan jajaran Dinas Kesehatan sampai ke Daerah Tingkat II dan Gudang Farmasi. Fungsi utama Farmasis pada instansi pemerintah ialah administrastif, pemeriksaan, bimbingan dan pengendalian. Sejak tahun 2000, telah terjadi perubahan struktur, Direktorat Jendral POM tidak lagi bernaung di bawah Departemen Kesehatan, tetapi menjadi Badan POM yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden RI. Demikian pula struktur Balai (besar,kecil) POM di daerah tingkat I, yang langsung berada di bawah Badan POM, tidak berada di dalam Dinas Kesehatan Propinsi. Departemen HANKAM, juga memerlukan Farmasis yang terutama berfungsi pada bagian logistik dan penyaluran obat dan alat kesehatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan merekrut Farmasis untuk jabatan dosen di perguruan tinggi. Sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka fungsi seorang Farmasis ialah dalam bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Persyaratan untuk diterima menjadi dosen akan ditingkatkan menjadi lulusan Pascasarjana, atau mempunyai Sertifikat Mengajar Program PEKERTI/AA (Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional/Applied Approach), yaitu program penataran dosen dalam aktivitas instruksional atau proses belajar mengajar.

Sebagai tenaga kesehatan, seorang Farmasis atau Apoteker diwajibkan untuk mengabdi pada negara selama 3 tahun setelah lulus ujian Apoteker sebelum dapat berpraktek swasta perorangan. Wajib kerja sarjana ini dikenal sebagai Masa Bakti Apoteker (MBA) yang dapat dilaksanakan pada instansi pemerintah seperti tersebut di atas atau penugasan khusus dari Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan sebagai wakil Menteri Kesehatan di daerah. Dengan dihapuskannya Kantor Wilayah, tugas ini diambil alih Kepala Dinas Kesehatan Propinsi.

Wartawan Farmasi (Pharmaceutical Journalism)
Profesi ini mulai berkembang di luar negeri bagi Farmasis yang memperoleh latihan khusus dalam kewartawanan dan mempunyai bakat menulis dan mengedit. Pekerjaan ini diperlukan oleh instansi pemerintah atau industri farmasi untuk publikasi, mengedit atau menulis tulisan yang berlatar belakang kefarmasian.

Manajemen Perusahaan
Khususnya instansi swasta banyak memerlukan tenaga ahli berlatar belakang kefarmasian dengan berkembangnya organisasi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Untuk ini diperlukan pendidikan tambahan, misalnya Magister Manajemen (MBA = Master of Business Administration).

Pemanfaatan Tumbuhan Obat secara Tradisional

Pemanfaatan Tumbuhan Obat secara Tradisional 
Salah satu ciri budaya masyarakat di negara berkembang adalah masih dominannya unsur-unsur tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini didukung oleh keanekaragaman hayati yang terhimpun dalam berbagai tipe ekosistem yang pemanfaatannya telah mengalami sejarah panjang sebagai bagian dari kebudayaan. Salah satu aktivitas tersebut adalah penggunaan tumbuhan sebagai bahan obat oleh berbagai suku bangsa atau sekelompok masyarakat yang tinggal di pedalaman. Tradisi pengobatan suatu masyarakat tidak terlepas dari kaitan budaya setempat. Persepsi mengenai konsep sakit, sehat, dan keragaman jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional terbentuk melalui suatu proses sosialisasi yang secara turun temurun dipercaya dan diyakini kebenarannya. Pengobatan tradisional adalah semua upaya pengobatan dengan cara lain di luar ilmu kedokteran berdasarkan pengetahuan yang berakar pada tradisi tertentu (Sosrokusumo, 1989). Hubungan antara manusia dengan lingkungannya ditentukan oleh kebudayaan setempat sebagai pengetahuan yang diyakini serta menjadi sumber sistem nilai (Tax, 1953). Sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat secara tradisi merupakan salah satu bagian dari kebudayaan suku bangsa asli dan petani pedesaan (Brush, 1994).

Pulau Wawonii merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di jazirah tenggara propinsi Sulawesi Tenggara. Pulau ini dihuni oleh beberapa kelompok sosial masyarakat, dan kelompok masyarakat asli yang dikenal dengan sebutan etnis/suku Wawonii. Sekitar tahun 1985 lahan di beberapa kawasan pulau ini dibuka untuk areal perkebunan coklat, namun setelah pembukaan hutan dan kayu hasil penebangan diangkut ke luar pulau, rencana tersebut hingga saat ini tidak direalisasikan (Kendari Express, 21/02/2000). Proses modernisasi yang masuk ke pulau ini dan munculnya beberapa masalah seperti tekanan ekonomi, pertambahan penduduk, sosial budaya dan peraturan baru, memacu terjadinya kerusakan atau hilangnya sumberdaya hayati yang belum terkaji.

Keanekaragaman dan potensi sumberdaya hayati serta pengetahuan lokal masyarakat setempat belum pernah diteliti. Waluyo (1991) mengemukakan bahwa modernisasi dengan mudah telah menggeser sejumlah pengetahuan asli suku bangsa di luar pulau Jawa. Dari uraian di atas dikhawatirkan akan terjadi kerusakan atau hilangnya sumberdaya hayati maupun pengetahuan tradisional suku Wawonii, salah satu suku asli di Indonesia. Kenyataan membuktikan bahwa pengetahuan lokal telah teruji secara turun temurun dan tidak sedikit sumbangsihnya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penelitian pemanfaatan tetumbuhan antara lain sebagai obat tradisional yang digunakan oleh masyarakat lokal di pulau Wawonii perlu dilakukan. Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan tumbuhan obat Indonesia dan menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya seperti fitokimia, fisiologi perbanyakan dan lain-lain serta dapat memberi masukan kepada instansi terkait dalam pengelolaan lingkungan.

BAHAN DAN METODE
Penelitian pemanfaatan tumbuhan obat tradisional oleh masyarakat Wawonii dilakukan di desa Wawolaa dan Lampeapi, Kecamatan Wawonii, Kabupaten Kendari, Propinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian dilakukan dalam dua kali kunjungan pada bulan April-Mei 2003 dan bulan April-Mei 2004. Setiap kunjungan berlangsung selama dua minggu. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survey eksloratif yaitu wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Wawancara ditujukan terhadap pemuka adat, sando/tabib, serta masyarakat pengguna atau mengenal tumbuhan obat. Setiap tumbuhan berkhasiat obat dicatat nama lokalnya, bagian yang digunakan, serta cara penggunaan dan kegunaannya. Jenis-jenis tumbuhan yang belum diketahui nama ilmiahnya, diambil contohnya, dibuat herbarium untuk diidentifikasi di Herbarium Bogoriense guna mengetahui nama ilmiahnya.

Keadaan umum lokasi penelitian
Desa Wawolaa dan Lampeapi merupakan dua di antara delapan desa di Kcamatan Wawonii (Pulau Wawonii), Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara. Pulau ini terdiri dari empat kecamatan yaitu: Wawonii, Waworete, Wawonii Selatan, dan Wawonii Timur. Kata wawonii berasal dari dua kata, yaitu: “wawo” yang berari di atas atau daratan, dan “nii” berarti kelapa. Secara harfiah kata wawonii artinya daratan/pulau yang ditumbuhi pohon kelapa, sesuai dengan kenyataan bahwa di sepanjang tepi pantai sekeliling pulau ini didominasi tanaman kelapa. 

Kedua desa di atas dapat dapat dicapai dengan kapal kayu atau ferri dari kota Kendari (ibukota propinsi Sulawesi Tenggara) menuju ke Langara (ibukota kecamatan Wawonii) dengan waktu tempuh berkisar 3 jam, dilanjutkan dengan kendaraan roda dua selama 30 menit (Wawolaa) dan 1 jam (Lampeapi). Desa Wawolaa merupakan hasil pemekaran dari desa Waworope dan secara resmi terbentuk pada tahun 1971. Desa ini terletak pada ketinggian sekitar 100-250 m dpl., terdiri dari 3 dusun dengan jumlah penduduk 743 jiwa dari 54 kepala keluarga (KK). Kelompok sosial masyarakat yang menghuni desa ini terdiri dari 9 suku bangsa dan sebagian besar berasal dari suku Wawonii (etnik asli, 60%). Desa Lampeapi merupakan desa tua dan pelabuhan ferri pertama sebelum Langara.

Desa ini terletak pada ketinggian sekitar 10-150 m dpl terdiri dari 3 dusun dan dihuni oleh 220 KK. Penduduknya sebagaian besar etnik asli (suku Wawonii, 90%) serta pendatang dari Bugis, Flores, dan Jawa. Pemukiman penduduk terkonsentrasi di sepanjang jalan utama desa. Sumber utama mata pencaharian penduduk kedua desa ini adalah bertani dengan sistem ladang berpindah yang ditanami palawija dan sayuran; kebun yang menetap diusahakan untuk tanaman tahunan (kelapa, coklat, jambu mete, dan lada). Mata pencaharian tambahan masyarakat adalah mengambil hasil hutan berupa kayu (untuk perahu), rotan, dan madu. Dalam mengambil hasil hutan ini, masyarakat setempat belum mengikuti peraturan pelestarian. Fasilitas kesehatan terdapat di kedua desa ini seperti Puskesmas di desa Lampeapi dan Puskesmas pembantu di desa Wawolaa yang ditangani oleh mantra kesehatan dan bidan. Fasilitas kesehatan ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat setempat dalam memperoleh pelayanan kesehatan tanpa mengurangi peranan pengobatan tradisional setempat.

Masyarakat Wawonii dan status pengetahuannya tentang tumbuhan obat Suku Wawonii merupakan salah satu etnis asli di Sulawesi Tenggara. Etnis ini umumnya berdiam dalam wilayah kabupaten Kendari (Konawe), khususnya di pulau Wawonii yang terletak berseberangan dengan ujung tenggara jazirah Sulawesi Tenggara. Sebagian dari masyarakat ini berdiam pula di bagian utara pulau Buton (Melalatoa, 1995). Seperti halnya masyarakat pedalaman lainnya di Indonesia, masyarakat Wawonii juga memiliki sistem pengetahuan tentang pengelolaan keanekaragaman sumberdaya alam dan lingkungan sekitarnya. Salah satu sistem pengetahuan tersebut adalah pemanfaatan tetumbuhan untuk pemenuhan kehidupan sehari-harinya, antara lain sebagai bahan obat tradisional. Dalam penelitian ini, tumbuhan obat adalah semua jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagaian ramuan obat, baik secara tunggal maupun campuran yang dianggap dan dipercaya dapat menyembuhkan suatu penyakit atau dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan.

Tidak semua masyarakat Wawonii di lokasi penelitian memiliki tingkat pengetahuan yang sama dalam memanfaatkan tumbuhan obat. Hal tersebut sangat terkait dengan ilmu pengetahuan seseorang. Umumnya kepercayaan tentang kegunaan atau kekhasiatan suatu jenis tumbuhan obat tidak hanya diperoleh dari pengalaman, tetapi seringkali dikaitkan dengan nilai-nilai religius. Persepsi masyarakat Wawonii tentang sakit tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. 

Secara umum dapat dikatakan bahwa sakit adalah keadaan yang tidak seimbang, sehingga dapat mempengaruhi kegiatan sehari-harinya. Penyebab penyakit bermacam-macam, ada yang datang dari Sangia (Sang Pencipta) dan ada yang berasal dari makhluk halus/jahat. Oleh karena itu para sando selalu mengadalkan pengobatannya dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Sang Pencipta.

Keanekaragaman jenis tumbuhan obat
Fasilitas kesehatan modern terdapat di lokasi penelitian, namun sando masih berperan dalam pengobatan penyakit dan perawatan pra dan paska persalinan. Tercatat 73 jenis tumbuhan, terdiri dari 70 marga dan 43 suku, yang digunakan oleh masyarakat setempat sebagai obat tradisional (Tabel). Dari 73 jenis tetumbuhan tersebut 68 jenis digunakan untuk pengobatan penyakit dan 16 jenis digunakan untuk perawatan persalinan. Beberapa jenis di antaranya mempunyai manfaat ganda. Masyarakat setempat memberikan nama lokal tumbuhan dengan cara yang tergolong sederhana, misalnya untuk jenis-jenis benalu diberi nama susuan tomi, jenis tumbuhan liana berbatang kuning disebut oyong kuni, jenis tumbuhan yang menempel pada tumbuhan/pohon lain namun bukan parasit disebut apa-apa, tumbuhan yang berkhasiat sebagai penutup luka dengan urat putus disebut umpu iya dan lain-lain.

Tumbuhan obat ini umumnya merupakan tumbuhan liar di semak-semak belukar, atau gulma di pekarangan dan pada lahan pertanian. Di hutan primer kura eya jarang sekali ditemukan tumbuhan berkhasiat obat, melainkan untuk bahan bangunan/rumah. Menurut sando, jenis-jenis tumbuhan obat yang umum ditemukan di hutan primer antara lain kompanga (Alstonia scholaris (L.) R.Br.), kayu cina (Leptospermum amboinense Blume), oyong kuni (Arcangelisia flava (L.) Merr. dan Fibraurea tinctoria Lour.

Besar kemungkinan jenis-jenis tumbuhan obat tersebut akan tersingkir demi peningkatan produktivitas lahan pertanian, oleh karena itu perlu adanya upaya pembudidayaan/konservasi untuk menanggulangi erosi sumberdaya tumbuhan berguna ini.

Jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam perawatan paska persalinan tergolong sedikit dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia, misalnya Lombok, Nusa Tenggara Barat tercatat 44 jenis (Rahayu dkk. 2002) atau di Ciomas, Jawa Barat tercatat 37 jenis (Setyowati-Indarto dan Siagian, 1992). Hal ini kemungkinan disebabkan cukup seringnya kunjungan (sekali dalam seminggu) dan pemberian obat dan vitamin oleh bidan. Dari hasil wawancara dengan sando di desa Wawolaa diketahui ibu yang baru melahirkan dianjurkan untuk meminum air rendaman abu panas hasil pembakaran di dapur. Menurut mereka air abu ini lebih berkhasiat daripada air rebusan ramuan/racikan jamu. Selama mengkonsumsi air abu ini, ibu tersebut harus berpantang untuk minum dan makan hidangan yang panas. Untuk mempercepat pemulihan kesehatan ibu yang baru melahirkan, sando di desa Lampeapi mengurung ibu tersebut dalam tikar yang dilingkarkan. Dalam kurungan tersebut diletakkan pula abu panas yang dapat juga ditambahkan akar loiya le (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) dan buah lasi daru (Amomum compactum Soland. ex Maton). Untuk membuktikan keabsahan tradisi tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Penggunaan daun kapupu (Crinum asiaticum L.) dalam perawatan paska persalinan bertujuan untuk merapatkan atau mengecilkan kembali vagina. Cara penggunaannya yaitu daun yang telah dicuci bersih, dipanaskan di bara api (dilayukan), kemudian ditapelkan ke bagian vagina. Umbi tumbuhan ini digunakan juga oleh masyarakat Saluan (Sulawesi Tengah) sebagai penutup luka, bahkan diperdagangkan sebagai bahan campuran bedak untuk menghilangkan noda-noda pada wajah (Rahayu dkk., 1999).

Hoinu (Abelmoschus esculentus (L.) Moench.) juga merupakan salah satu tumbuhan yang digunakan dalam perawatan paska persalinan yaitu dengan cara mengkonsumsi sayuran dari daun dan buahnya. Tanaman ini bukan tumbuhan asli Indonesia, diduga berasal dari Asia Tenggara (Siemonsma, 1994), namun telah beradaptasi dengan kondisi alam pulau Wawonii dan diperkirakan telah dibudidayakan oleh masyarakat setempat lebih dari 100 tahun yang lalu. Diduga bibit atau biji jenis tumbuhan ini dibawa masuk oleh saudagar-saudagar dari luar ke Pulau Wawonii melalui Pulau Buton (Bau-Bau) yang merupakan pintu gerbang perdagangan rempah-rempah untuk kawasan Indonesia bagian timur. Penanaman tumbuhan ini umumnya bersamaan dengan penanaman padi ladang, pemanenan pertama dilakukan setelah 3-4 bulan masa tanam. Pemanfaatan lain tumbuhan ini sebagai obat yaitu untuk obat penurun panas/demam dengan cara menumbuk daun tua kemudian ditapelkan di dahi. 

Penggunaan daun daru (Costus speciosus (Koenig) J.E. Smith) sebagai pencegah kehamilan (KB) dan perawatan paska persalinan (untuk mempercepat keluarnya darah nifas) perlu mendapat perhatian serius. Di Indonesia tumbuhan ini dapat ditemukan hampir di seluruh daerah dan pembudidayaannya mudah dilakukan. Komponen aktif yang berperan dalam mencegah terjadinya proses kehamilan/kontrasepsi adalah diosgenin (Lubis dkk., 1980) .

Di India, rimpangnya dimakan dan digunakan juga sebagai obat rhematik, radang paru-paru, dan demam (Burkill, 1935). Di daerah lain di Indonesia, air tangkai batangnya digunakan sebagai obat luar untuk radang mata (van Steenis-Kruseman, 1953) dan rimpangnya untuk obat penyakit kelamin atau sipilis, sedangkan air sari batangnya untuk obat disentri (Burkill, 1935). Potensi jenis ini sebagai obat alami cukup besar, sehingga perlu ditindak lanjuti.

Daun ombu (Blumea balsamifera (L.) DC.), rimpang kuni (Curcuma domestica Valeton.) dan daun lewe sena (Piper betle L) digunakan dalam perawatan paska persalinan, sebagaimana dilakukan juga oleh masyarakat lokal lain di Indonesia (Rahayu dkk., 2002; Sunarti dan Rahayu, 1997; Siagian dkk., 1994). Daun muda dan buah malaka (Psidium guajava L.) digunakan untuk obat diare. Daun palan singa (Senna alata L.) untuk obat penyakit kulit (panu) dan batang oyong kuni (A. flava) untuk obat sakit kuning. Hal ini tampaknya juga umum digunakan masyarakat lokal lain di Indonesia (Sastroamidjojo, 1988; Heyne, 1987).

Dari 68 jenis tumbuhan obat, sebagian besar digunakan sebagai obat penurun panas atau demam yaitu hoinu (A. esculentus), kompanga (Alstonia scholaris (L.) R.Br.), kepaya (Carica papaya L.), kawu-kawu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn.), bontu (Hibiscus tiliaceus L.), tanga-tanga (Jatropha curcas L), langsat (Lansium domesticum Correa), kayu cina (L. amboinense) dan punti bugisi (Musa sp.). Di antara 9 jenis tumbuhan obat ini, yang paling sering dan umum digunakan oleh masyarakat Wawonii untuk obat penurun panas adalah C. papaya, mengingat jenis ini mudah didapatkan dan merupakan tanaman budidaya yang umum dijumpai di pekarangan atau kebun. Cara penggunaannya dengan meminum rebusan daun tua (kuning), sedang air rebusan akar berkhasiat sebagai obat malaria.

Penggunaan J. curcas sebagai obat penurun panas adalah dengan cara meminum, terutama air rebusan biji, namun hal ini perlu penelitian lebih lanjut, misalnya dosis pemakaiannya, mengingat minyak bijinya mengandung asam palmitik, asam stearik, asam oleik, asam linoleik, dan senyawa racun ester yaitu diterpen 12-deoxy-16-hydroxyphorbol (Susiarti dkk.,1999). Senyawa racun ini dapat menyebabkan iritasi yang kuat pada usus, bahkan dapat mematikan. Tumbuhan ini berasal dari Amerika Latin, menyebar luas ke kawasan tropis lainnya (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1968). Di lokasi penelitian seringkali dibudidayakan sebagai tanaman pagar.

Le (Imperata cylindrica (L.) Raeusch) merupakan salah satu gulma yang sulit dibasmi, namun akarnya berkhasiat sebagai obat darah tinggi atau penyakit dalam. Penggunaannya dengan cara merebus akar dan dapat dicampur dengan daun tokule (Kleinhovia hospita L), kemudian airnya diminum. Jonathan dan Hariadi (1999) melaporkan pemanfaatan alang-alang sebagai obat tradisional di Asia Tenggara sangat bervariasi antara lain untuk untuk obat penurun panas/demam, mual-mual, beriberi, sakit kuning, asma, flu, mimisan, batuk, dan sakit ginjal. Penggunaan K. hospita dapat secara tunggal yaitu dengan cara menyeduh air daunnya yang tua (kuning) dan telah dikeringkan seperti meminum teh, sedangkan daun mudanya dapat dijadikan sayur. Menurut Perry dan Metzger (1980) daunnya mengandung asam prussic, triterpinoid, dan sejumlah minyak atsiri; berkhasiat sebagai antipiretik (menurunkan demam) dan antisipilis. Latif (1977) mengemukakan bahwa daun dan kulit batang K. hospital mengandung senyawa sianogenik yang berkhasiat sebagai pembasmi ektoparasit seperti kutu, sedangkan ekstrak daunnya mempunyai aktivitas sebagai anti tumor pada tikus. Di Pulau Wawonii, jenis ini banyak ditemukan di tepi sungai atau semak-semak belukar yang agak lembab. Atas anjuran Dinas Kesehatan setempat, dalam tiga tahun terakhir, di desa Lampeapi jenis ini mulai ditanam di pekarangan rumah sebagai tumbuhan obat dan sayur.

Kulit kayu A. scholaris dan L. domesticum digunakan juga sebagai obat malaria oleh beberapa etnis lain di Indonesia (Uji, 1995). Caranya kulit kayu direbus dan airnya diminum. A. scholaris, A. flava, dan F. tinctoria merupakan tiga jenis tumbuhan obat langka di Indonesia (Mogea dkk., 2001; Moelyono dan Sidik, 1999.). Populasi jenis pertama masih banyak dijumpa di lokasi penelitian, sedangkan populasi kedua jenis lain tergolong jarang dijumpai.

Pulau Wawonii dikenal juga sebagai pemasok ikan untuk kota Kendari. Pembersihan dan cara pengolahan yang kurang sempurna seringkali menyebabkan ikan kurang layak dikonsumsi karena dapat menyebabkan keracunan bahkan mematikan bagi konsumen. Guna menanggulangi keracunan ini masyarakat Wawonii menggunakan dua jenis tumbuhan yaitu pate-pate le (Passiflora foetida L.) dan tolike (Terminalia catappa L). untuk menetralkan racun tersebut. Kulit batang dan akar T. catappa kaya akan kandungan tannin, sedangkan P. foetida mengandung senyawa alkaloid (Perry dan Metzger, 1980).

Komponen aktif yang terdapat dalam kedua senyawa tersebut diduga berperan sebagai penetral racun ikan. Kedua jenis tumbuhan tersebut banyak ditemukan di Indonesia. Jenis pertama merupakan tumbuhan liar di daerah pegunungan atau pada daerah yang berudara sejuk dan lembab, sedangkan jenis kedua banyak dibudidayakan sebagai tanaman peneduh di daerah dataran rendah. Dari hasil wawancara dengan sando dan masyarakat setempat diketahui jumlah jenis tumbuhan obat yang ditemukan relatif sedikit dibandingkan dengan yang mereka ketahui. Hal ini diduga terkait dengan semakin luasnya pembukaan kawasan semak belukar dan hutan untuk lahan pertanian. Dari hasil pengamatan diketahui pewarisan pengetahuan lokal ini ke generasi muda tidak berlangsung baik terutama pengetahuan tumbuhan obat tradisional. 

Faktor peningkatan kesehatan dari pemerintah terutama kunjungan dari dinas kesehatan dan pemberian obat dan vitamin merupakan salah satu penyebab terjadinya erosi pengetahuan tumbuhan obat tradisional, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian jenis-jenis tumbuhan obat yang berpotensi untuk dikembangkan dan digalakkannya pelatihan/penyuluhan kepada generasi muda tentang manfaat tumbuhan obat dan pelestariannya.

Pencegahan Dan Promosi Kesehatan Secara Tradisional

Pencegahan Dan Promosi Kesehatan Secara Tradisional : Tingkat kesehatan masyarakat menghadapi tantangan yang sangat berat untuk saat ini dan periode mendatang. Terlebih lagi jika kita lihat pada masyarakat miskin yang populasinya semakin meningkat dengan banyaknya perusahaan yang bangkrut dan PHK. Hal ini disebabkan oleh tingkat biaya kesehatan yang cenderung semakin meningkat. Peningkatan biaya kesehatan didorong oleh peningkatan harga barang-barang, termasuk didalamnya adalah harga obat-obatan dan beaya layanan dokter/rumah sakit. Kondisi ini semakin memperburuk kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.

Pengobatan tradisional merupakan bagian dari sistem budaya masyarakat yang potensi manfaatnya sangat besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Pengobatan tradisional merupakan manifestasi dari partisipasi aktif masyarakat dalam menyelesaikan problematika kesehatan dan telah diakui peranannya oleh berbagai bangsa dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Pemanfaatan obat tradisional untuk pengobatan sendiri (self care) cenderung meningkat. Pada tahun 1999 baru mencapai 20,5 persen, tapi menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) di tahun 2001 angkanya menjadi 31,7 persen. 

Oleh karena itu dalam rangka melindungi kepentingan masyarakat pengguna pengobatan tradisional adalah merupakan kewajiban bersama untuk menggali, meneliti, menguji serta mengembangkan obat-obat dan cara pengobatan tradisional tersebut sedemikian rupa sehingga dapat mendatangkan manfaat yang setinggi-tingginya bagi masyarakat banyak.

Budaya merupakan bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungan. Adaptasi dalam arti luas meliputi seluruh perilaku dan kebiasaan dan termaktub dalam pikiran, pengetahuan, sikap dan praktek yang semuanya ditujukan sebagai bentuk reaksi terhadap lingkungan (dan perubahannya) baik internal maupun eksternal. Kesehatan, kesakitan dan penyakit adalah bagian dari lingkungan manusia yang perlu mendapatkan tanggapan (respon). Upaya untuk memperoleh kesehatan adalah bentuk reaksi manusia terhadap lingkungannya. Reaksi ini dapat bervariasi bergantung pada persepsi dan pengetahuan orang mengenai sebab dan cara memperoleh kesehatan. Demikian pula respon terhadap sakit dan penyakit dapat beranekaragam, satu orang dengan orang lainnya dapat berbeda dan dapat pula sama. 

Lingkungan budaya tradisional Madura kaya akan kearifan, termasuk dalam bidang prevensi dan promosi kesehatan. Belum banyak diungkap bagaimana kearifan ini tumbuh dan terpelihara dalam kehidupan masyarakat. Diperlukan upaya penggalian budaya kesehatan tradisional untuk revitalisasi dan memperkuat basis masyarakat (community base) dalam pembangunan kesehatan sebagaimana diamanahkan dalam pembangunan nasional.

Penelitian etnomedis ini akan mengungkap konsepsi pencegahan dan promosi kesehatan dalam budaya tradisional yang terdapat dalam penentuan tata letak bangunan, upacara selamatan (tolak balak), perawatan tubuh dan kecantikan. Penelitian ini akan menganalisis konspsi budaya tersebut berdasarkan disiplin ilmu kesehatan. Dalam Sistem Kesehatan Nasional, budaya dan perilaku bertindak sebagai komponen input yang terlibat dan sangat menentukan keberhasilan program kesehatan masyarakat. 

Penelusuran dan pendokumentasian budaya pencegahan dan promosi kesehatan Madura melalui suatu penelitian ini sangat penting untuk mengungkap lingkungan budaya local dan kearifan local serta melestarikan sumberdaya masyarakat dibidang kesehatan. 

Sistem kesehatan tradisional tidak hanya mengenal pengobatan saja, ada upaya lain yang bersifat preventif dan promotif sebelum tindakan pengobatan diperlukan. Konsepsi prevensi dan promosi dalam kesehatan tradisional ini sangat kurang dikenal. Upaya tersebut terkandung dalam budaya leluhur yang perlu diteliti dan digali untuk mengungkapnya dalam rangka menguatkan perananya bagi peningkatan status kesehatan masyarakat.

MASALAH YANG DITELITI
Sudah sejak lama kesehatan tradisional menjadi perisai masyarakat dari berbagai gangguan penyakit. Berbagai sumber telah mengakui keamanan dan kemanfaatan sistem tradisional di bidang kesehatan. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan waktu dan budaya modern, kekayaan leluhur ini semakin ditinggalkan dan dilupakan. Budaya tradisional yang disinyalir banyak memiliki kearifan lingkungan telah mengalami erosi yang dahsyat, sehingga sebagian besar dari generasi sekarang sudah tidak mengetahui dan tak peduli lagi dengan warisan leluhur tersebut (Handayani, 2003). Erosi ini dipercepat dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih menyukai segala sesuatu yang serba instan, dan bercorak modern. Agar perubahan zaman tidak menggerus semua kearifan tradisional maka diperlukan upaya revitalisasi melalui penelitian. 

Konsepsi kesehatan tradisional yang dikenal secara luas baru terfokus pada pembuatan obat atau ramuan saja. Sesungguhnya kesehatan tradisional memiliki konsepsi mengenai pencegahan dan peningkatan (promosi) kesehatan. Kedua upaya ini belum banyak dikenal, padahal dalam peningkatan status kesehatan masyarakat, upaya prevensi dan promosi memiliki kedudukan strategis, karena lebih murah dalam pembiayaan dan mudah dalam pelaksanaan. Penelitian ini berupaya menggali nilai pencegahan dan promosi kesehatan dalam budaya tradisional Madura.

TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengungkap konsepsi pencegahan dan promosi kesehatan menurut budaya tradisional Madura. Secara khusus bertujuan untuk mengetahui : 
1. Konsepsi pencegahan penyakit dan promosi kesehatan yang terdapat dalam tata letak bangunan dan lingkungan.
2. Konsepsi pencegahan penyakit dan promosi kesehatan yang terdapat dalam tradisi (upacara) selamatan.
3. Konsepsi pencegahan penyakit dan promosi kesehatan yang terdapat dalam tradisi perawatan tubuh dan kecantikan. 

METODE PENELITIAN
Pada dasarnya penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu model penelitian nyang berusaha membuat gambaran/paparan secara cermat terhadap fenomena sosial tertyentu tanpa melakukan intervensi dan penyusunan hipotesis. Pendekatan yang dianut pada penelitian ini adalah pendekatan emik dan etik. Dengan pendekatan emik, konsekuensinya peneliti mencatat apa saja yang dilakukan dan diharapkan oleh masyarakat berkaitan dengan praktek budaya tradisional. Dengan pendekatan etik, peneliti bermaksud menelaah kebenaran ataupun justifikasi ilmiah dari praktek budaya tradisional yang terjadi dengan disiplin ilmu kesehatan masyarakat (Baroto, 1999). Teknik pengumpulan data menggunakan metode survey, observasi partisipatorik, wawancara mendalam serta kajian kepustakaan. Data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif dengan analisis isi (content analysis).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Karena pentingnya kesehatan bagi seseorang, maka masyarakat tradisional Madura memiliki mekanisme untuk menjaga kesehatannya. Jauh sebelum melakukan upaya-upaya yang sifatnya pengobatan, masyarakat telah memiliki konsepsi pencegahan agar tidak terjadi suatu musibah yang disebut sakit maupun penyakit. 

Tata Letak Bangunan
Konsepsi pencegahan terhadap penyakit ini pertama-tama dimulai dari lingkungan rumah. Komponen rumah yang perlu mendapatkan perhatian agar dapat menghindarkan dari berbagai ancaman (termasuk penyakit) adalah pemilihan tempat dan pengaturan letak bangunan (tata letak) atau yang dikenal sebagai hong sui dalam kebudayaan China.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Madura mengenal dua hal yang harus dihindari (menjadi pantangan) dalam memilih tempat untuk perumahan, yaitu :
1. Tempat (tanah) yang “nombak lorong” : yaitu tempat yang berhadapan lurus dengan jalan umum, baik jalan besar ataupun kecil. Tempat seperti ini akan memungkinkan pintu rumah atau pintu pekarangan rumah akan berada lurus dengan arah jalan. Tempat seperti ini menurut keyakinan orang madura akan memberikan kegoncangan dalam hidup, termasuk penyakit.

2. Tempat (tanah) yang “nombak tobun”. Tobun adalah sawah atau ladang. Nombak tobun artinya berhadapan lurus dengan sawah atau ladang. Menurut kepercayaan, tempat yang demikian akan menyebabkan penghuninya mudah terserang penyakit.

Masih ada konsep lain yang ditemukan di desa Gadu Barat Ganding Sumenep yaitu konsep “Nombak Songai” dan “Nombak Soksok”. Nombak Sungai adalah posisi rumah atau bangunan rumah yang berada di pinggir sungai dan lurus dengan sungai yang memanjang dari arah manapun, walaupun akhirnya sungai tersebut berbelok di samping pekarangan rumah. Sedangkan “Nombok Soksok” adalah selokan panjang dan lurus dengan bangunan rumah.

Hasil penelusuran terhadap kepatuhan masyarakat terhadap konsepsi tradisional ini menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat mematuhi 4 konsep di atas. Terdapat dampak ekonomi pada keempat posisi yang tidak diharapkan yaitu mengakibatkan harga tanah yang berada di posisi nombak tabun, lorong sungai dan nombak soksok setingkat dengan tanah bukan pekarangan, harga tanah pekarangan bisa 2x lipat tanah lain (tidak cocok buat pendirian rumah), apalagi di pinggir jalan raya bisa 4x lipatnya.

Apabila seseorang membangun rumah yang berada di nombak tabun, lorong, sungai dan soksok, maka seluruh penghuninya akan terjangkit penyakit aneh karena pengaruh jin/syetan terutama ketika tidur, terjangkit penyakit yang sulit obatnya dan akhirnya mati satu persatu (malespes: Madura), ekonominya seret atau mudah tapi tidak barokah/tidak cukup untuk makan (tak seral berkat). Akibat lain adalah mudah diguna-guna/disihir/disantet. Beberapa responden menyatakan : “bahwa jalan panjang tabun, sungai dan soksok yang memanjang merupakan jalan utama para jin dan syetan sehingga orang yang membangun rumah berada lurus/nombak dengan salah satu di atas berarti telah memotong jalan syetan/jin atau mengganggunya, maka mereka tidak akan terima dan sepanjang orang tersebut berada di rumah tersebut terus menerus diganggunya sebagai pembalasan jin atas kesewenang-wenangan manusia”.

Sementara itu ada posisi tempat mendirikan rumah yang menjadi idaman orang madura ialah pancoran emas, yaitu tanah di dataran yang agak miring ke timur laut. Posisi ini jika didapatkan menyebabkan penghuninya memperoleh kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Umumnya masyarakat masih mengetahui konsep Pancaran Emas. Menurut mereka tanah yang masuk kategori pancoran emas adalah tanah yang asli atau secara geografis memang berposisi miring ke timur laut, bukan rekayasa manusia seperti pancoran (jalan keluar air) di atap Ka’bah.

Masyarakat masih sangat mematuhinya karena apabila seseorang membangun rumah di tanah pancoran emas semua usaha ekonominya diyakini akan berhasil dan sukses, hartanya dengan mudah datang tanpa diduga sehingga dengan ia akan “Tekah Hajet” (mudah naik haji). Semua usahanya barokah (sera’ berkat: Madura) tidak usah banyak, pasti akan lebih dari kebutuhan sehari-hari, penghuninya bakal tentram, akur dan sakinah serta terhindar dari segala penyakit yang datang dari syetan. 

Dari aspek tata letak bangunan (arsitektur), orang Madura mengenal konsep taneyan lanjang. Konsep penataan pemukiman secara adat ini menurut Rifai (1994) menyiratkan kearifan lingkungan karena tata letak bangunan rumahnya diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi udara dengan baik dan menyisakan halaman yang panjang. Taneyan lanjang ini menyiratkan penataan ruang yang berwawsan kesehatan lingkungan. Kompleks pemukiman yang masih mengindahkan warisan leluhur ini mudah kita jumpai di pelosok desa di Sumenep. Sementara itu di daerah perkotaan atau pinggiran jalan sudah jarang ditemukan.

Disamping konsep taneyan lanjang, orang madura juga memiliki konsep lain yang terkait dengan pengaturan pekarangan dan sumur serta rumah. “Konsep Pangkalan” dan pengaturan bangunan dalam pekarangan dan sumur. Ada kepercayaan lain dalam membuat jalan masuk pekarangan rumah dimana setiap sisi pekarangan harus dibagi 9 dan setiap bagian tersebut memiliki pengaruh atau khasiat tersendiri bagi penghuninya baik negatif maupun positif, termasuk aspek kesehatan. 

Beberapa hal yang relevan untuk dilaporkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Kemiringan tanah menurut masyarakat Madura memiliki kecenderungan yang bermacam-macam termasuk pancoran emas, tetapi banyak juga lainnya. Macam-macam kemiringan bumi untuk pekarangan di antaranya. Bumi dan tanah miring ke timur pertanda bagus, kaya harta dan emas. Bumi atau tanah miring ke barat pertanda jelek, banyak penyakit dan penghuninya sering bertengkar. Tanah miring ke utara pertanda bagus karena kuat, amal banyak dan apabila diberi takdir kekayaan maka akan turun pada anak cucunya. Tanah miring ke selatan pertanda jelek karena suka dibenci tetangga.Tanah miring ke barat dan ke timur / tinggi di tengah pertanda bagus seumur hidup dan banyak harta. 

Untuk memperoleh dampak kesehatan bagi penghuninya maka dalam membangun rumah masyarakat Madura tidak dapat dilepaskan dengan tradisi upacara selamatan. Upacara selamatan dalam membangun rumah di Madura banyak macamnya antara desa berbeda-beda. 

Tradisi (Upacara) Selamatan 
Konsepsi pencegahan terhadap suatu penyakit yang kedua tampak dari tradisi upacara ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia madura. Terdapat upacara adat yang didalamnya dilakukan permohonan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan hidup kepada Tuhan. Upacara tersebut meliputi upacara nandhai (jika seorang istri ada tanda-tanda hamil), upacara pelot pertama (bila kehamilan mencapai 3 bulan), upacara pelot betteng atau pelet kandhung (jika kehamilan mencapai usia 7 bulan), upacara kelahiran (menjelang kelahiran), upacara toron tanah (jika bayi telah lahir berusia 7 bulan) dan upacara khitan (usia 10 tahun, bagi anak laki-laki). 

Ada satu lagi ritual masyarakat madura berkaitan dengan upaya penolakan terhadap kemungkinan terjadinya bala’ (musibah, wabah penyakit). Upacara adat ini disebut Rokat Tolak Balak. Misalnya di suatu tempat terjadi berjangkit wabah penyakit muntah dan berak (muntaber), tentu hal ini sangat merisaukan masyarakat. Maka kemudian datanglah seorang berilmu (kiyahi) yang menyarankan perlunya dilakukan upacara rokat dengan bahan upacara yang sudah ditentukan.

Bahan upacara yang diperlukan terbuat dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Bahan dari tumbuhan misalnya bigilan (biji buah nangka = panjilan) yang ditaruh di leppe’ (piring kecil atau piring untuk cangkir) untuk upacara nandhai. Jumlah bigilan tergantung umur kehamilan, jika kehamilan usia 1 bulan, maka ditaruh sebuah bigilan, jika usia kehamilan bertambah 2 bulan, maka ditaruh 2 buah bigilan, dan seterusnya. Bunga rampai yang terdiri dari kembang babur, dua buah kelapa gading, jamu tradisional dek ceceng (bahannya : temu, jerango, kunyit, daun pepaya), jamu bengkes, dan cengkele serta nasi ketan untuk upacara pellet beteng atau pellet kandhung. Bubur nasi dengan gula merah, bunga telon (kantil, mawar, kenanga) untuk upacara rokat. Bahan dari hewan terdiri dari ayam, telur dan ayam polos (putih atau hitam) untuk upacara daur hidup dan upacara rokat tolak bala’.

Semua ritual yang dilakukan menunjukkan bahwa budaya Madura erat kaitannya dengan konsep makrokosmos-mikrokosmos pada pemahaman (budaya) Jawa. Keserasian hubungan antara mikrokosmos (alam kecil = alam manusia) dan makrokosmos (alam besar, jagad raya, Tuhan Semesta Alam) mrupakan pangkal tolak terwujudnya kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Sementara itu ketidak harmonisan hubungan antaranya merupakan pangkal dari gangguan kesehatan, wabah penyakit dan ketidak tentraman. Akulturasi budaya Jawa-Madura ini memang terjadi sejak masa lampau, yaitu ketika masa kejayaan kerajaan hindu Singosari, Mojopahit dan kerajaan Islam Demak, Pajang di Jawa Tengah dan Mataram di Yogyakarta. Madura merupakan wilayah teritorial dari kerajan-kerajaan besar di Jawa.

Jenis-jenis upacara selamatan yang ada kepentingannya dengan pencegahan penyakit pada masyarakat Madura dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

Aburdah (menambah ketenangan /kekuatan batin bagi orang yang sakit) dan Rabu bekasan (yang didoakan untuk pengobatan penyakit).

Rokatan Rokat asal kata barokah, umumnya dilakukan di bulan Muharram tgl 1 atau 10 yaitu rokat pekarangan, rokat bumi. Dengan tujuan mengharap terhindar dari penyakit dan gangguan kesehatan, nasib buruk dan segala bentuk gangguan kejahatan. Rokat pekarangan sejajar tidak ditanam, sedangkan rokat bumi sejajar ditanam. 

Rokat Prakarya dan Rokat Bumih Dua jenis rokat ini hampir sulit dibedakan, di suatu daerah rokat bumih dianggap rokat prakarya demikian sebaliknya. Akan tetapi di daerah Dasuk dipahami rokat prakarya dilakukan dengan sesajen ayam yang disembelih tetapi bagian ayam telah dikubur sedangkan. Sedangkan rokat bumih menurut masyarakat Dasuk bagian ayam dan sesajen lainnya ditanam kebumi. Sedangkan cara melakukannya relatif tidak ada perbedaan.

Rokat Beliunih Upacara selamatan ini dilakukan untuk mengembalikan kebahagiaan dan harta yang hilang ketika meninggalnya salah satu keluarganya. Beliunih artinya kembali asal dilakukan pada hari ke-7 dari kematiannya. Cara melakukan sama dengan rokat diatas perbedaannya: ayam tidak usah dipilih yang berbulu tertentu, tidak ada yang ditanam, tidak ada jarum, telur dan ramuan. Do’a sama yang dilakukan

Rokat ngalle Upacara ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu keberkatan hidup di suatu tempat yang baru ditempati dirumah baru. Ngalle artinya pindah, menurut Bapak Nasibah desa Gadu Barat, cara-caranya sama dengan rokat pekarangan, tetapi secara jelas belum kami ketahui karena adat ini sudah jarang dilakukan

Rokat Disah Upacara rokatan ini adalah selamatan untuk keamanan desa dan terhindarnya dari serangan penyakit mendadak biasanya dilakukan di tengah desa. Belum ditemukan cara-cara yang sebenarnya karena sudah jarang dilakukan dan dirubah pada cara-cara Islami yaitu dengan menghatamkan Al-Qur’an di Masjid. Dilakukan oleh 30 orang, kebagian membaca 1 juz do’anya sama dan makanan terserah kesepakatan masyarakat tanpa ada cara-cara yang berbau mistis, biasanya diawali dengan pembacaan al-Fatihah pada Nabi, sahabat, thabi’ien, waliyullah, para guru dan sesepuh desa yang sudah meninggal, kemudian baca Al-Qur’an sendiri-sendiri setelah selesai baca do’a pangrokat ditambah do’a khatmil Qur’an (do’a yang ada diakhir surat-surat Al-Qur’an ) baru kemudian makan bersama.

Rokat petik laut Yaitu selamatan para pelaut karena banyaknya ikan yang bisa ditangkap berupa sesajen makanan dan kepala hewan yang dibawa ketengah laut dan ditenggelamkan cara yang sebenarnya belum diperoleh informasi yang falid karena letaknya jauh dari jangkauan kami.

Rokat sangke Bumih Adalah suatu selamatan yang mirip rokat pekarangan ditujukan untuk memperoleh keselamatan di suatu tempat yang sering terjadi kecelakaan dilakukan pada tanggal yang disukai. Do’anya sama dan tanpa ada peralatan yang ditanam, air ramuan menggunakan air kumkuman yang dibuat dari air dicampur bidan dan bunga-bungaan. Sesajen yang diletakkan diambil dari makanan yang dimasak. Sedangkan ayam yang disembelih berbulu apa saja asal didada dan leher bagian bawah hingga ekor bawah berbulu orange atau dikenal dengan ayam sangke bumih.

Ajenneng Adalah suati prosesi untuk mengawinkan suatu bangunan dengan bumi yang ditempati kalau dulu tiang kayu dikawinkan dengan pondasi dilakukan agar penghuni rumah senang menempati rumah tersebut yang diwujudkan dengan rajinnya seseorang merawat rumah seperti menyapu tiap hari dan lainsebagainya. Ajennang suatu rumah biasanya biasanya dilkukan setelah rumah tersebut selesai dibangun para peserta upacara dalah para tukang bangunan yang telah melakukan pengajian rumah hingga selesai. 

Tradisi Perawatan Tubuh Dan Kecantikan 
Konsepsi pencegahan terhadap suatu penyakit yang ketiga tampak dari kebiasaan masyarakat untuk selalu merawat kesehatan dengan berbagai ramuan. Untuk perawatan tubuh (fisik) seseorang terdapat lebih dari 10 macam ramuan. Perawatan yang dilakukan mulai dari bagian tubuh paling atas (mahkota) yaitu rambut, bagian muka, mata, telinga dan hidung hingga perawatan tubuh bagian bawah (kaki). Perawatan muka tidak saja berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga kesegaran dan kecantikan. Keramas dengan air abu merang, bedak lulur dengan meniran, gosok gigi, pembersihan lubang hidung dan telinga adalah perawatan mahkota tubuh. 

Bagian tubuh di bawah mahkota yang mendapat perhatian adalah bagian dada dan perut. Bagian dada (khususnya wanita) yang memperoleh perhatian cukup adalah payudara. Perawatan payudara ditujukan agar bagian ini nampak montok. Perawatan dilakukan dengan pemijatan dan meminum ramuan. Bagi yang sedang memberikan ASI pada anaknya, perawatan dilakukan deengan meminum ramuan kejja atau daun katu’ dengan tujuan memperlancar ASI. Sebaliknya, pada bagian perut perawatan justru ditujukan untuk merampingkan. Ramuan yang digunakan adalah “galian singset”. 

Bagian tubuh lain yang mendapatkan perhatian cukup besar adalah bagian kemaluan. Terutama bagi wanita, bagian ini merupakan organ yang sangat dipentingkan dalam perawatan. Ramuan untuk perawatan alat reproduksi wanita sering disebut “sari rapet”, “rapet wangi” atau “galian rapet”. Ramuan ini sangat popular dan menempati rangking tertinggi dalam pembuatan maupun penjualan ramuan di seluruh Madura. Ramuan ini sangat dikenal oleh wanita remaja dan dewasa. Efek ramuan secara kesehatan akan menghilangkan keputihan, yaitu penyakit yang sangat umum dijumpai pada vagina. Secara kemesraan hubungan suami istri ramuan ini diakui akan meningkatkan rasa kepuasan hubungan dan keharmonisan rumah tangga.

Perawatan kesehatan yang dilakukan dengan menggunakan ramuan dapat diidentifikasi berdasarkan bagian yang dirawat dan saat (umur) orang yang dirawat. Jadi tidak hanya untuk anggota tubuh, melainkan juga fase kehidupan seseorang. Berdasarkan fase kehidupan ini ditemukan berbagai perawatan seperti perawatan terhadap balita, terhadap anak, terhadap remaja dan terhadap dewasa serta terhadap manula.

Ramuan tradisional untuk perawatan rambut secara khusus kami tidak menemukan hanya sebatas perawatan sederhana yang dilakukan masyarakat dahulu sebelum munculnya aneka shampo. Mereka membersihkan rambut hanya dengan menggunakan air tirisan abu dapur. Yang dibilaskan kerambut ketika keramas. Abu yang paling bagus adalah abu dari tempurung kelapa. Sebagian masyarakat menggunakan paceh (mengkudu merah) dilumatkan dan dibilas ke kepala baru kemudian disisir. Dua cara tadi cukup bagus karena sama berbusa layaknya shampo, manfaat/khasiat yang dikenal: rambut hitam, subur, anti uban dan kemilau.

Ramuan perawatan muka belum ditemukan ragamnya yang dikenal masyarakat adalah bedak lulur berbentuk bundar yang dipakai ketika habis mandi atau sebelum tidur. Bahan yang digunakan adalah beras yang direndam 1 cangkir, kunyit/temu lawak/temu kuning sebesar telur itik, beng ramuk (Madura) secukupnya (sepeti pohon sereh, tapi akarnya harum) seluruh bahan dihaluskan dan dibuat bundaran kecil seperti telur cecak (bedak pelkeran : Madura).

Ramuan khusus untuk payudara belum kami temukan. Ramuan yang kami temukan hanya satu resep kesegaran yang dibuat menjadi satu untuk khasiat yang banyak yaitu, mengencangkan payudara dan seluruh kulit (otot). Ramuan untuk mengecilkan perut, mengencangkan otot vagina, mengurangi lendir dan fit setiap hari. Bahan-bahannya : telur itik 3/1 butir pinang muda 1 buah, jahe I jari, sa’ang halus 3/7 biji, bawang putih 3 siung, air apu bening (air kapur) 1 gelas. Bahan-bahan dihaluskan dan diambil airnya dicampur semua dan diminum 2x seminggu.

Ramuan Untuk penghilang bau badan dan bau vagina, menggunakan sa’ang 21 biji halus, sirih temu urat 7/21 lembar. Daun delima putih 1 genggam caranya dimasak dengan 2 gelas menjadi 1 gelas, diminum tiap mau tidur atau agi hari lakukan tiap 2x seminggu

Ramuan khusus untuk perawatan penis belum ditemukan. Beberapa penjual jamu memang menyediakan penis oil yang diproduksi dari luar Madura. Minyak ini konon digunakan untuk memperbesar ukuran penis. 

Orang Madura biasa merawat gigi dan mulut bukan dengan ramuan tetapi dengan menyusur (apenah) dimana cara atau kebiasaan tersebut berhasiat memelihara gigi menjadi kuat dan mulut terhindar dari luka dan kuman atau bakteri. Bahan-bahan ramuan lain untuk dikunyah dan ditelan airnya bahan-bahan sirih, kapur sirih, pinang, gambir, bawang putih, ukuran/dosis terserah ramuan kedua sirih, bawang putih dan gula pasir.

Ada perawatan bagi calon pengantin yang dikenal di Madura khususnya di desa. Perawatan bagi calon pengantin lebih difokuskan pada laki-laki karena kejantanan seorang pria dapat menjadi penentu langgeng tidaknya perkawinan. Seorang pria yang tidak jantan (impotent pada malam pertama akan menjadi aib bagi pihak keluarga pria. Maka ia akan lebih baik pulang kerumah hingga ia yakin dirinya sembuh. Dengan begitu pengantin wanita hampir tidak dipersiapkan. Cara yang digunakan sangat beragam, ada yang melalui jalur mistis ada pula yang rasional (terapi pijat). Cara mistis tetap menjadi cara yang rahasia sehingga sulit diungkap dan sangat banyak ragamnya, sedangkan cara pijat membutuhkan keahlian khusus yang sangat sulit untuk dipelajari sekilas cara yang digunakan adalah sebagai berikut: Pertama sang calon diinjak bagian paha belakang hingga lemas, tandanya ketika diinjak kaki tidak terasa dingin atau kesemutan, kemudian dipijat bagian perut yang difokuskan untuk memperbaiki sistem pencernaan dan memijat otot-otot di tulang pinggang (olor: Madura) yaitu otot dan urat yang sejalur dengan uarat penis. Orang yang impoten olornya akan lembek, tetapi orang yang mudah ejakulasi dini olornya terlalu kencang. Teknik demikian dilakukan 1 sampai 5 kali tiap 4 hari sekali. Ramuan yang digunakan adalah tekanan yang memulihkan tenaga dan urat. Seperti jahe, kunci, laos, akar atau daun sirih dlingo, bawang putih, bubuk kopi, campuran (cuka+gula) dan telur ayam/itik 3/5/7 butir. Bahan-bahan diambil airnya dicampur semua mentah-mentah dan diminum.

Ramuan untuk perawatan bagi orang yang baru melahirkan di Madura sudah banyak dikenal. Ramuan jamu sehabis melahirkan disatukan pada jamu ramuan yang dikenal dengan “bu abuh” yaitu berfungsi, mengecilkan perut vagina, membersihkan rahim, memulihkan tenaga: bahan utama adalah air abu dapur utamanya abu batok kelapa ½ ember ± 4 liter air dari perasan empon-empon bawang putih, bangle, asam dan cuka + gula semua bahan di ambil airnya dimasak dengan air abu (landena abu: Madura) kecuali cuka, cuka dipakai ketika mau minum. Ramuan ini diminum 2 x sehari, 1x1 gelas untuk menguras kotoran di rahim yang oleh orang Madura dikenal dengan “aeng koneng” caranya dengan meminum air perasan mengkudu + cuka + gula (campuran) maka ia akan terhindar dari penyakit kuning dan lemah syahwat.

Paket perawatan untuk calon pengantin putri belum ditemukan, hanya ada cara menambah elok seorang perempuan ketika mau dinikahkan oleh para pengias pengantin yang dikenal dengan istilah “pangaber” semacam ilmu pelet tetapi islami, teknik ini sulit juga diungkap karena menjadi rahasia mereka.

PEMBAHASAN
Manusia yang hidup merupakan kesatuan dari jiwa dan raga. Dimensi kehidupan terdiri dari banyak aspek, mulai dari aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial, aspek ruhani, aspek budaya hingga aspek emosi. Interaksi manusia dengan lingkungan sosial dan budayanya akan mempengaruhi dimensi kognitif, mempengaruhi dimensi fisik maupun dimensi kesehatan. Aspek lingkungan lokal yang memberikan ruang bagi terjadinya interaksi individu, kelompok indiviodu maupun masyarakat memberikan corak tersendiri terhadap pola pikir dan budaya, termasuk cara pandang terhadap kesehatan, dan pencegahan penyakit. Dari perspektif inilah munculnya tradisi masyarakat dalam bidang kesehatan yang memiliki nilai kebenaran berdasarkan pengalaman spasial. Konsepsi kesehatan menurut budaya Madura adalah salah satu representasi dari tradisi lokal di bidang kesehatan yang memiliki keterbatasan dari sisi spasial.

Kesehatan menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah suatu keadaan yang menunjukkan tidak hanya absennya penyakit saja melainkan juga suatu kondisi yang baik secara sosial, mental, spiritual dan aspek lainnya. Kesehatan dapat diperoleh dari berbagai sebab (input). Masyarakat tradisional meyakini bahwa kecuali penyebab yang bersifat lahiriah (fisikal), kesehatan juga dapat disebabkan oleh hal-hal yang bersifat non lahiriah dan oleh karenanya tidak tampak (ghaib). Dalam merespon penyebab terjadinya gangguan kesehatan inilah setiap masyarakat dapat memiliki variasi dalam hal cara mengatasi, cara mencegah dan juga upaya promotifnya. Sangat dimaklumi jika secara tradisional, terdapat budaya masyarakat untuk memperoleh hidup sehat, mencegah terjadinya gangguan penyakit melalui suatu upaya yang berupa konsep pantangan atau anjuran dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam pendirian rumah tinggal, ritual atau seremonial, dan konsep perawatan tubuh.

Konsep kesehatan menurut pandangan tradisional adalah merupakan satu kesatuan, dengan kata lain, kesehatan itu tidak bisa di pisah pisahkan antara bagian satu dengan lainnya. Hal ini dilatar belakangi oleh kepercayaaan bangsa bangsa tradisional di dunia bahwa kesehatan bukan hanya berkenaan dengan berfunginya organ- organ yang menyusun tubuh kita. Menurut pandangan kesatuan realitas bangsa tradisional, kesehatan yang baik itu meliputi kondisi mental, fisik, kejiwaan/ spiritual, dan emosional yang stabil dari seseorang, anggota keluarga, dan lingkungannya (Wilson, 1971), demikian juga dengan jaminan ekonominya. Dalam latar belakang kehidupan bangsa tradisional, akan dipandang tidak wajar bila seseorang yang tidak bisa menghidupi dirinya dan keluarganya dari hasil satu musim panen untuk mengatakan pada orang lain bahwa dia dalam keadaan sehat. Ini disebabkan karena eksistensi yang begitu berarti yang satu kesatuan bagian dari kesehatan dan pelayanan kesehatan di masyarakat tradisional. Sofora (1982:26) menyatakan bahwa kesehatan yang baik menurut bangsa tradisional di dunia adalah merupakan suatu keharmonisan hubungan antara segala hal yang ada di sekitar kita, dengan Tuhan, dengan makhluk yang terlihat dan yang tidak terlihat. 

Ilmu kesehatan barat yang dibangun dengan paradigma ilmu modern memiliki seperangkat metode yang sangat berbeda dengan ilmu kesehatan tradisional, sekalipun tujuannya sama yaitu mencapai hidup sehat. Ilmu kesehatan masyarakat (modern) tentu tidak mengenal atau memasukkan unsur-unsur tradisional dalam menganalisis suatu penyebab terjadinya penyakit (etiologi). Ilmu kesehatan masyarakat (modern) tidak akan sampai pada kesimpulan bahwa dunia gaib yang berupa setan, jin dan mahluk halus berpartisipasi sebagai penyebab terjadinya gangguan kesehatan. Sebaliknya ilmu kesehatan tradisional menjangkau masalah ini. Tradisi yang merupakan sekumpulan pengetahuan masyarakat (endegenous knowledge) mengakui keberadan dunia mistis, dunia yang tidak kasat mata yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan seseorang. Kenyataan ini hampir dapat ditemukan di semua kelompok masyarakat.

Dalam hal pembangunan rumah, ilmu kesehatan modern hanya berbicara mengenai struktur bangunannya. Misalnya bangunan rumah hendanya memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik. Ilmu kesehatan modern tidak berurusan dengan dimana rumah itu akan dibangun, bagaimana posisinya maupun kapan saatnya membangun yang sehat. Sementara itu ilmu kesehatan tradisional menjangkau masalah yang lebih pelik lagi. Tradisi budaya masyarakat memberikan tuntunan dalam membangun rumah tinggal sampai pada posisi tanah tempat rumah akan didirikan, arah hadap dari rumah maupun waktu yang baik untuk memulai pembangunan rumah. Semua pertimbangan tradisional ini adalah terkait erat dan dalam kerangka kesehatan penghuninya yang dapat dikelompokkan sebagai upaya pencegahan maupun promosi kesehatan.

Dalam hal upacara selamatan, tentu ilmu kesehatan modern steril dari masalah ini. Dunia kesehatan modern tidak mengenal sama sekali metode pencegahan suatu wabah penyakit melalui ritual selamatan. Ritual selamatan walaupun secara isi memiliki harapan akan kehidupan seseorang atau sekelompok orang yang sehat tetapi proses pemerolehannya tidak dikenal sebagai cara atau metode operasional kesehatan modern. Sementara itu ilmu kesehatan tradisional dengan mudah dapat menjabarkan secara leluasa fungsi dan manfaan ritual sebagai sarana pencegahan suatu penyakit.

Satu hal yang relevan dan memiliki alasan yang masuk akal menurut kesehatan modern adalah promosi kesehatan dengan menggunakan perawatan tubuh dan ramuan tradisional. Pemakaian unsur-unsur alam berupa mineral, hewan maupun tumbuhan dikenal oleh ilmu kesehatan modern sebagai cara untuk memperoleh kesehatan. Bahkan ilmu pengobatan modern sampai saat ini banyak yang mendasarkan pada penggunaan unsur alam sebagai cara memperoleh kesehatan. Karena unsur alam diketahui mengandung senyawa tertentu yang berkhasiat untuk penyembuhan atau peningkatan derajat kesehatan..

Sekalipun tidak bergayut langsung dengan ilmu kesehatan modern, tetapi unsur-unsur budaya masyarakat yang dapat dikelompokkan dalam pencegahan dan promosi kesehatan dapat diterima secara logika. Dalam aspek tata letak bangunan, nilai tradisional yang dikenal sebagai taneyan lancang memperhatikan unsur penataan bangunan yang sehat. Apalagi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik semata, melainkan juga aspek sosial dan ruhani. Pola hubungan antara manusia dengan lingkungan sosial dapat mencapai taraf kesehatan sosial dengan dibina oleh pranata sosialnya. Taneyan lancang merupakan salah satu produk pranata sosial yang memberikan kemungkinan untuk mencapai kesehatan sosial. Alasan yang sama dapat diberlakukan pada aspek kesehatan ruhani. Pemahaman masyarakat terhadap alam tidak hanya terbatas pada alam nyata (dunia) saja, tetapi meliputi dunia ghaib. Dunia ghaib memiliki kontribusi pada terpeliharanya kesehatan yang manifest pada tubuh sebagai perwujudan alam nyata. Aspek ritual dan seremonial masyarakat merupakan pengejawantahan dari interaksi alam nyata dan alam ghaib yang keseimbangnnya berdampak pada terpeliharanya kesehatan dan terhindarnya dari berbagai gangguan kesehatan.

KESIMPULAN
1. Upaya kesehatan tradisional Madura memiliki dua komponen utama, yaitu upaya pencegahan (preventive) dan pengobatan (kurativ). Konsepsi pencegahan tradisional dilakukan jauh hari sebelum terjadinya suatu gangguan terhadap kesehatan. Upaya pencegahan ini dimulai dengan pemilihan tempat tinggal yang tidak boleh melanggar ketentuan tradisi, upacara ritual selamatan, dan pemeliharaan kesehatan dengan selalu meminum ramuan tradisional dan penjagaan kesehatan lainnya.

2. Konsepsi pencegahan gangguan kesehatan secara tradisional Madura yang tertuang dalam konsep mendirikan rumah meliputi larangan “nombak tobun” dan “nombak lorong” dan anjuran pancoran emas, dan taneyan lanceng. 

3. Konsepsi pencegahan yang tampak dari upacara ritual selamatan meliputi rokat tolak balak, ritual siklus hidup dan ritual lainnya.

4. Konsepsi promosi kesehatan tampak dari perilaku perawatan tubuh pada bagian kepala hingga kaki dengan menggunakan cara dan ramuan tertentu sehingga tidak hanya kesehatan semata yang diperoleh, melainkan juga kebugaran dan atau kecantikan.

5. Konsepsi pencegahan dan promosi kesehatan tradisional Madura memiliki unsur-unsur upaya kesehatan yang sebagian tidak sama dengan konsepsi pencegahan dan promosi kesehatan menurut ilmu kesehatan masyarakat (modern), akan tetapi sebagian yang lain memiliki unsur-unsur yang sama. Sekalipun demikian tidak bertentangan antara kesduanya, bahkan memiliki tujuan yang sama ialah memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. 
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson