E-Commerce Dan Sistem Pembayaran Pada E-Commerce

E-Commerce Dan Sistem Pembayaran Pada E-Commerce 
BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan internet menyebabkan terbentuknya sebuah dunia baru yang lazim disebut dunia maya. Di dunia maya ini setiap individu memiliki hak dan kemampuan untuk berinteraksi dengan individu lain tanpa batasan apapun yang dapat menghalanginya. Sehingga globalisasi yang sempurna sebenarnya telah berjalan di dunia maya yang menghubungkan seluruh komunitas digital. Dari seluruh aspek kehidupan manusia yang terkena dampak kehadiran internet, sektor bisnis merupakan sektor yang paling terkena dampak dari perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi serta paling cepat tumbuh. Melalui e-commerce, untuk pertama kalinya seluruh manusia di muka bumi memiliki kesempatan dan peluang yang sama agar dapat bersaing dan berhasil berbisnis di dunia maya.

E-commerce adalah suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronik yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet (teknologi berbasis jaringan digital) sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah institusi (business to business) dan konsumen langsung (business to consumer), melewati kendala ruang dan waktu yang selama ini merupakan hal-hal yang dominan. Pada masa persaingan ketat di era globalisasi saat ini, maka persaingan yang sebenarnya adalah terletak pada bagaimana sebuah perusahaan dapat memanfaatkan e-commerce untuk meningkatkan kinerja dan eksistensi dalam bisnis inti. Dengan aplikasi e-commerce, seyogyanya hubungan antar perusahaan dengan entitas eksternal lainnya (pemasok, distributor, rekanan, konsumen) dapat dilakukan secara lebih cepat, lebih intensif, dan lebih murah daripada aplikasi prinsip manajemen secara konvensional (door to door, one-to-one relationship). Maka e-commerce bukanlah sekedar suatu mekanisme penjualan barang atau jasa melalui medium internet, tetapi juga terhadap terjadinya sebuah transformasi bisnis yang mengubah cara pandang perusahaan dalam melakukan aktivitas usahanya. Membangun dan mengimplementasikan sebuah system e-commerce bukanlah merupakan proses instant, namun merupakan transformasi strategi dan system bisnis yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan perusahaan dan teknologi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI E-COMMERCE
E-commerce merupakan prosedur berdagang atau mekanisme jual-beli di internet dimana pembeli dan penjual dipertemukan di dunia maya. E-commerce juga dapat didefinisikan sebagai suatu cara berbelanja atau berdagang secara online atau direct selling yang memanfaatkan fasilitas Internet dimana terdapat website yang dapat menyediakan layanan “get and deliver“. 

E-commerce akan merubah semua kegiatan marketing dan juga sekaligus memangkas biaya-biaya operasional untuk kegiatan trading (perdagangan).

Proses yang ada dalam E-commerce adalah sebagai berikut :
a. Presentasi electronis (Pembuatan Web site) untuk produk dan layanan.
b. Pemesanan secara langsung dan tersedianya tagihan.
c. Otomasi account Pelanggan secara aman (baik nomor rekening maupun nomor Kartu Kredit).
d. Pembayaran yang dilakukan secara Langsung (online) dan penanganan transaksi.

B. JENIS E-COMMERCE
E-Commerce dapat dibagi menjadi beberapa jenis yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

1. Business to Business (B2B)

Business to Business eCommerce memiliki karakteristik:
a) Trading partners yang sudah diketahui dan umumnya memiliki hubungan (relationship) yang cukup lama. Informasi hanya dipertukarkan dengan partner tersebut. Dikarenakan sudah mengenal lawan komunikasi, maka jenis informasi yang dikirimkan dapat disusun sesuai dengan kebutuhan dan kepercayaan (trust).

b) Pertukaran data (data exchange) berlangsung berulang-ulang dan secara berkala, misalnya setiap hari, dengan format data yang sudah disepakati bersama. Dengan kata lain, servis yang digunakan sudah tertentu. Hal ini memudahkan pertukaran data untuk dua entiti yang menggunakan standar yang sama.

c) Salah satu pelaku dapat melakukan inisiatif untuk mengirimkan data, tidak harus menunggu parternya.

d) Model yang umum digunakan adalah peer-to-peer, dimana processing intelligence dapat didistribusikan di kedua pelaku bisnis.

Business to Business eCommerce umumnya menggunakan mekanisme Electronic Data Interchange (EDI). Sayangnya banyak standar EDI yang digunakan sehingga menyulitkan interkomunikasi antar pelaku bisnis. Standar yang ada saat ini antara lain: EDIFACT, ANSI X.12, SPEC 2000, CARGO-IMP, TRADACOMS, IEF, GENCOD, EANCOM, ODETTE, CII. Selain standar yang disebutkan di atas, masih ada format- format lain yang sifatnya proprietary. Jika anda memiliki beberapa partner bisnis yang sudah menggunakan standar yang berbeda, maka anda harus memiliki sistem untuk melakukan konversi dari satu format ke format lain. Saat ini sudah tersedia produk yang dapat melakukan konversi seperti ini.

Pendekatan lain yang sekarang cukup populer dalam standarisasi pengiriman data adalah dengan menggunakan Extensible Markup Language (XML) yang dikembangkan oleh World Wide Web Consortium (W3C). XML menyimpan struktur dan jenis elemen data di dalam dokumennya dalam bentuk tags seperti HTML tags sehingga sangat efektif digunakan untuk sistem yang berbeda. Kelompok yang mengambil jalan ini antara lain adalah XML/EDI group.

Pada mulanya EDI menggunakan jaringan tersendiri yang sering disebut VAN (Value Added Network). Populernya jaringan komputer Internet memacu inisiatif EDI melalui jaringan Internet, atau dikenal dengan nama EDI over Internet.

Topik yang juga mungkin termasuk di dalam business-to-business eCommerce adalah electronic/Internet procurement dan Enterprise Resource Planning (ERP). Hal ini adalah implementasi penggunaan teknologi informasi pada perusahaan dan pada manufakturing. Sebagai contoh, perusahaan Cisco maju pesat dikarenakan menggunakan teknologi informasi sehingga dapat menjalankan just-in-time manufacturing untuk produksi produknya.

2. Business to Consumer (B2C)

Business to Consumer eCommerce memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan ke umum.
b) Servis yang diberikan bersifat umum (generic) dengan mekanisme yang dapat digunakan oleh khalayak ramai. Sebagai contoh, karena sistem Web sudah umum digunakan maka servis diberikan dengan menggunakan basis Web.
c) Servis diberikan berdasarkan permohonan (on demand). Konsumer melakukan inisiatif dan produser harus siap memberikan respon sesuai dengan permohonan.
d) Pendekatan client/server sering digunakan dimana diambil asumsi client (consumer) menggunakan sistem yang minimal (berbasis Web) dan processing (business procedure) diletakkan di sisi server.

Business to Consumer eCommerce memiliki permasalahan yang berbeda. Mekanisme untuk mendekati consumer pada saat ini menggunakan bermacam-macam pendekatan seperti misalnya dengan menggunakan “electronic shopping mall” atau menggunakan konsep “portal”.

Electronic shopping mall menggunakan web sites untuk menjajakan produk dan servis. Para penjual produk dan servis membuat sebuah storefront yang menyediakan katalog produk dan servis yang diberikannya. Calon pembeli dapat melihat-lihat produk dan servis yang tersedia seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan window shopping. Bedanya, (calon) pembeli dapat melakukan shopping ini kapan saja dan darimana saja dia berada tanpa dibatasi oleh jam buka toko. Contoh penggunaan web site untuk menjajakan produk dan servis antara lain:

Ø Amazon http://www.amazon.com
Amazon merupakan toko buku virtual yang menjual buku melalui web sitenya. Kesuksesan Amazon yang luar biasa menyebabkan toko buku lain harus melakukan hal yang sama.
Ø eBay http://www.ebay.com, merupakan tempat lelang on-line.
Ø NetMarket http://www.netmarket.com, yang merupakan direct marketing dari Cendant (hasil merge dari HFC, CUC International, Forbes projects). NetMarket akan mampu menjual 95% dari kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Konsep portal agak sedikit berbeda dengan electronic shopping mall, dimana pengelola portal menyediakan semua servis di portalnya (yang biasanya berbasis web). Sebagai contoh, portal menyediakan eMail gratis yang berbasis Web bagi para pelanggannya sehingga diharapkan sang pelanggan selalu kembali ke portal tersebut. Contoh portal antara lain:
• Netscape Home <http://home.netscape.com>
• My Yahoo 

Perdagangan Kolabratif.(collaborative commerce). 
Dalam c-commerce, para mitra bisnis berkolaborasi (alih-alih membeli atau menjual) secara elektronik. Kolaborasi semacam ini seringkali terjadi antara dan dalam mitra bisnis do sepanjang rantai pasokan. 

Consumen to consumen(C2C) 
Dalam C2C seseorang menjual produk atau jasa ke orang lain. Dapat juga disebut sebagai pelanggan ke palanggan yaitu orang yang menjual produk dan jasa ke satu sama lain.

Lelang C2C. Dalam lusinan negara, penjualan dan pembelian C2C dalam situs lelang sangat banyak. Kebanyakan lelang dilakukan oleh perantara, seperti eBay.com, auctionanything.com; para pelanggan juga dapat menggunakan situs khusus seperti buyit.com atau bid2bid.com. Selain itu banyak pelanggan yang melakukan lelangnya sendiri seperti greatshop.com menyediakan piranti lunak untuk menciptakan komunitas lelang terbalik C2C online.

Iklan Kecik. Orang mejual ke orang lainnya setiap hari melalui iklan kecik (classified ad) di koran dan majalah. Iklan kecik berbasis internet memiliki satu keunggulan besar daripada berbagai jenis iklan kecik yang lebih tradisional: iklan ini menawarkan pembaca nasional bukan hanya local. Iklan kecik tersedia melalui penyedia layanan internet seperti AOL, MSN, dll.

Layanan Personal. Banyak layanan personal (pengacara, tukang, pembuat laporan pajak, penasehat investasi, layanan kencan) tersedia di internet. Beberapa diantaranya tersedia dalam iklan kecik, tetapi lainnya dicantumkan dalam situs web serta direktory khusus. Beberapa gratis dan ada juga yang berbayar 
Comsumen to Business(C2B). 

Dalam C2B konsumen memeritahukan kebutuhan atas suatu produk atau jasa tertentu, dan para pemasok bersaing untuk menyediakan produk atau jasa tersebut ke konsumen. Contohnya di priceline.com, dimana pelanggan menyebutkan produk dan harga yang diinginkan, dan priceline mencoba menemukan pemasok yang memenuhi kebutuhan tersebut. 

Perdagangan Intrabisnis (Intraorganisasional) 
Dalam situasi ini perusahaan menggunakan ecommerce secara internal untuk memperbaiki operasinya. Kondisi khusus dalam hal ini disebut sebagai e-commerce B2E(business to its employees) yang digambarkan dalam studi kasus terbuka. 

Pemerintah keWarga (Goverment to Citizen—G2C) 
Dalam kondisi ini sebuah entitas (unit) pemerintah menyediakan layanan ke para warganya melalui teknologi E-commerce. Unit-unit pemerintah dapat melakukan bisnis dengan berbagai unit pemerintah lainnya serta dengan berbagai perusahaan(G2B). E-goverment yaitu penggunaan teknologi internet secara umum dan e-commerce secara khusus untuk mengirimkan informasi dan layanan publik ke warga, mitra bisnis, dan pemasok entitas pemerintah, serta mereka yang bekerja di sektor publik.

E-goverment menawarkan sejumlah manfaat potensial : E-govermant meningkatkan efisiensi dan efektivitas fungsi pemerintah, termasuk pemberian layanan publik. E-goverment memungkinkan pemerintah menjadi lebih transparan pada masyarakat dan perusahaan dengan memberikan lebih banyak akses informasi pemerintah. E-goverment juga memberikan peluan bagi masyarakat untuk memberikan umpan balik ke berbagai lembaga pemerintah serta berpartisipasi dalam berbagai lembaga dan proses demokrasi.

E-goverment dapat dibagi menjadi tiga kategori :
Pemerintah ke Warga(Goverment to Citizen). Lembaga pemerintah makin banyak yang menggunakan internet untuk menyediakan layanan pada warga.

Pemerintah ke Perusahaan(Goverment to Business). Pemerintah menggunakan internet untuk menjual dan membeli dari perusahaan. 

Pemerintah ke Pemerintah(Goverment to Government). Meliputi e-commerce intrapemerintah (transaksi antar pemerintah yang berbeda) serta berbagai layanan antar lembaga pemerintah yang berbeda.

Implementasi E-Goverment. Transformasi dari pemberian layanan pemerintah tradisional ke implementasi penuh layanan pemerintah online dapat menjadi proses yang memakan waktu. Terdapat enam tahap dalam transformasi ke e-goverment : tahap 1. publikasi penyebaran informasi; tahap 2. transaksi dua arah “secara resmi”, dengan sebuah departemen dalam waktu yang sama; tahap 3. portal multiguna; tahap 4. personalisasi portal; tahap 5. pengelompokkan layanan umum; tahap 6. integrasi penuh dan transformasi badan. 
Perdagangan Mobile(mobile commerce-m-commerce). 

Ketika e-commerce dilakukan dalam lingkungan nirkabel, seperti dengan menggunakan telepon selluler untuk mengakses internet dan berbelanja, maka hal ini disebut m-commerce.

C. STANDAR TEKNOLOGI E-COMMERCE
Di samping berbagai standar yang digunakan di Intenet, e-commerce juga menggunakan standar yang digunakan sendiri, umumnya digunakan dalam transaksi bisnis-ke-bisnis. Beberapa diantara yang sering digunakan adalah:

1. Electronic Data Interchange (EDI)
Dibuat oleh pemerintah di awal tahun 70-an dan saat ini digunakan oleh lebih dari 1000 perusahaan Fortune di Amerika Serikat, EDI adalah sebuah standar struktur dokumen yang dirancang untuk memungkinkan organisasi besar untuk mengirimkan informasi melalui jaringan private. EDI saat ini juga digunakan dalam corporate web site.

2. Open Buying on the Internet (OBI)
Adalah sebuah standar yang dibuat oleh Internet Purchasing Roundtable yang akan menjamin bahwa berbagai sistem e-commerce dapat berbicara satu dengan lainnya. OBI yang dikembangkan oleh konsorsium OBI http://www.openbuy.org/ didukung oleh perusahaan-perusahaan yang memimpin di bidang teknologi seperti Actra, InteliSys, Microsoft, Open Market, dan Oracle.

3. Open Trading Protocol (OTP)
OTP dimaksudkan untuk menstandarisasi berbagai aktifitas yang berkaitan dengan proses pembayaran, seperti perjanjian pembelian, resi untuk pembelian, dan pembayaran. OTP sebetulnya merupakan standar kompetitor OBI yang dibangun oleh beberapa perusahaan, seperti AT&T, CyberCash, Hitachi, IBM, Oracle, Sun Microsystems, dan British Telecom.

4. Open Profiling Standard (OPS)
Sebuah standar yang di dukung oleh Microsoft dan Firefly http://www.firefly.com/. OPS memungkinkan pengguna untuk membuat sebuah profil pribadi dari kesukaan masing-masing pengguna yang dapat dia share dengan merchant. Ide dibalik OPS adalah untuk menolong memproteksi privasi pengguna tanpa menutup kemungkinan untuk transaksi informasi untuk proses marketing dsb.

5. Secure Socket Layer (SSL)
Protokol ini di disain untuk membangun sebuah saluran yang aman ke server. SSL menggunakan teknik enkripsi public key untuk memproteksi data yang di kirimkan melalui Internet. SSL dibuat oleh Netscape tapi sekarang telah di publikasikan di public domain.

6. Secure Electronic Transaction (SET)
SET akan mengenkodekan nomor kartu kredit yang di simpan di server merchant. Standar ini di buat oleh Visa dan MasterCard, sehingga akan langsung di dukung oleh masyarakat perbankan. Ujicoba pertama kali dari SET di e-commerce dilakukan di Asia.

7. Truste
Adalah sebuah partnership dari berbagai perusahaan yang mencoba membangun kepercayaan public dalam e-commerce dengan cara memberikan cap Good Housekeeping yang memberikan approve pada situs yang tidak melanggar kerahasiaan konsumen.

D. ISTILAH-ISTILAH DALAM E-COMMERCE
1. Digital atau electronic cash: juga dikenal sebagai e-cash, istilah ini ditujukan untuk beberapa pola / metoda yang memungkinkan seseorang untuk membeli barang atau jasa dengan cara mengirimkan nomor dari satu komputer ke komputer yang lain. Nomor tersebut, seperti yang terdapat di mata uang, di isukan oleh sebuah bank dan merepresentasikan sejumlah uang betulan. Salah satu kelebihan yang dibawa oleh digital cash adalah sifatnya yang anonymous dan dapat di pakai ulang, seperti uang cash biasa. Hal ini merupakan perbedaan utama antara e-cash dengan transaksi kartu kredit melalui Internet.

2. Digital money: adalah terminologi global untuk berbagai e-cash dan mekanisme pembayaran elektronik di Internet. 

3. Disintermediation: adalah proses untuk memotong jalur perantara. Kira-kira pada saat perusahaan yang berbasiskan web membypass kanal retail tradisional dan menjual secara langsung ke pelanggan / pembeli, maka perantara tradisional – seperti toko dan jasa mail order – akan kehilangan pekerjaan.

4. Electronic checks: pada saat ini sedang di ujicoba oleh CyberCash http://www.cybercash.com/, sistem check elektronik seperti PayNow akan mengambil uang dari account check di bank pelanggan untuk membayar PAM atau telepon.

5. Electronic wallet: Pola pembayaran – seperti CyberCash Internet Wallet http://www.cybercash.com/, akan menyimpan nomor kartu kredit anda di harddisk anda dalam bentuk terenkripsi yang aman. Anda akan dapat melakukan pembelian-pembelian pada situs Web yang mendukung electronic wallet tersebut. Jika anda ingin membeli sesuatu pada toko yang mendukung electronic wallet, maka pada saat menekan tombol Pay maka proses pembayaran melalui kartu kredit akan dilakukan transaksinya secara aman oleh server perusahaan electronic wallet. Vendor browser pada saat ini telah berusaha untuk melakukan negosiasi untuk memasukan teknologi e-wallet tadi ke produk mereka.

6. Extranet: adalah sebuah kelanjutan dari intranet perusahaan yang mengkaitkan jaringan internal satu perusahaan dengan jaringan internal supplier mereka maupun pelanggan mereka. Dengan cara itu sangat mungkin untuk mengembangkan aplikasi e-commerce yang memungkinkan menyambungkan semua aspek bisnis, dari proses pemesanan hingga pembayaran.

7. Micropaymet: transaksi dalam jumlah kecil antara beberapa ratus rupiah hingga puluhan ribu rupiah, misalnya untuk mengambil / mengakses grafik, game maupun informasi. Pay-as-you-go micropayment seharusnya akan membuat revolusi di dunia e-commerce. Contohnya ESPN SportsZone http://espn.sportszone.com/ menggunakan CyberCoin untuk membayar US$1 untuk mengaskses situs mereka selama satu hari – tanpa perlu membayar penuh langganan bulanan. Kenyataan di lapangan sebagian besar pelanggan yang potensial tidak terlalu bersedia untuk bermain-main dengan micropayment.

E. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN E-COMMERCE
Ø Keuntungan
a. Bagi Perusahaan, memperpendek jarak, perluasan pasar, perluasan jeringan mitra bisnis dan efisiensi, dengan kata lain mempercepat pelayanan ke pelanggan, dan pelayanan lebih responsif, serta mengurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan kertas, seperti biaya pos surat, pencetakan, report, dan sebagainya sehingga dapat meningkatkan pendapatan. 

b. Bagi Consumen, efektif, aman secara fisik dan flexible

c. Bagi Masyarakat Umum, mengurangi polusi dan pencemaran lingkungan, membuka peluang kerja baru, menguntungkan dunia akademis, meningkatkan kualitas SDM

Ø Kerugian
a. Meningkatkan INDIVIDUALISME, pada perdagangan elektronik seseorang dapat bertransaksi dan mendapatan barang/jasa yang diperlukan tanpa bertemu dengan siapapun.
b. Terkadang Menimbulkan Kekecewaan, apa yang dilihat dilayar monitor komputer kadang berbeda dengan apa yang dilihat secara kasat mata
c. Tidak MANUSIAWI, sering sekali seseorang pergi ke toko & MALL tidak sekedar ingin memuaskan kebutuhannya akan barang/ jasa tertentu, akan tetapi bisa juga untuk refreshing, ketemu teman dan keluarga dan sebagainya.

F. SISTEM PEMBAYARAN E-COMMERCE
Metode pembayaran di internet menurut pakar internet, Kang Onno Purba, terdapat 5 mekanisme yaitu :
1. Transaksi model-ATM, yang menyangkut hanya institusi finansial dan pemegang account yang akan melakukan pengambilan atau mendeposit uangnya dari account masing-masing. 
Pembayaran dua pihak tanpa perantara, transaksi dilakukan langsung antara dua pihak tanpa perantara menggunakan uang nasional-nya. 

Pembayaran dengan perantaraan pihak ke tiga, umumnya proses pembayaran yang menyangkut debit, kredit maupun check masuk dalam kategori ini. 
Micropayment, dalam bahasa sederhananya adalah pembayaran untuk uang recehan yang kecil-kecil. Mekanisme Micropayment ini penting dikembangkan karena sangat diperlukan pembayaran receh yang kecil tanpa overhead transaksi yang tinggi. 

Anonymous digital cash, uang elektronik yang di enkripsi, di dahului oleh David Chaum dengan Digicash-nya (http://www.digicash.com). Uang elektronik menjamin privacy dari user cash tetap terjamin sama seperti uang kertas maupun coin yang kita kenal.

Untuk pembayaran, e-commerce menyediakan banyak alternatif. Caranya adalah dengan terlebih dahulu mendaftar sebagai customer pada web tersebut. Pembeli yang telah mempunyai kartu kredit dapat menggunakan kartu tersebut untuk pembayaran. Selain kartu kredit, alternatif lainnya adalah dengan menggunakan e-cash. E-cash sebenarnya merupakan suatu account khusus untuk pembayaran melalui internet. Account tersebut dibuka dengan menggunakan kartu kredit yang dipunyai sebelumnya. Customer hanya perlu mengisi pada account e-cashnya untuk dapat digunakan. 

Alternatif lain dalam pembayaran di internet adalah dengan menggunakan smartcard. Di Singapura, smartcard dikenal dengan istilah cash card. Pemakaian smartcard ini hampir sama dengan pemakaian kartu ATM yang biasa dipakai untuk berbelanja, yaitu pada saat transaksi, uangnya didebet langsung dari account di bank. Untuk pembayaran di internet, user harus memiliki ‘smart card reader’. Dalam pemakaiannya, alat khusus ini disambungkan ke port serial di komputer. Pada saat melakukan transaksi, kartu smart card harus digesekkan ke alat tersebut, sehingga chip yang terdapat di kartu dapat dibaca oleh komputer. Untuk softwarenya, digunakan software bernama ‘e-wallet’. Contoh web site yang telah menyediakan smartcard untuk pembayaran adalah http://www.discvault.com. 

Selain dengan ketiga cara di atas, terdapat alternatif pembayaran yang relatif baru dan belum begitu populer. Alternatif ini adalah penggunaan iCheck, yaitu metode pembayaran dengan menggunakan cek. Pembayaran ini membutuhkan nomor cek milik customer. Web site yang menyediakan penjelasan mengenai cara pembayaran ini adalah http://www.icheck.com.

Dengan keterbatas pengetahuan dan referensi yang kami dapatkan kami menyimpulkan terdapat 2 kriteria mekanisme pembayaran e – commerce. Yaitu Sistem pembayaran on-line dan of-line

1. SISTEM PEMBAYARAN ON-LINE
• Pembayaran dua pihak tanpa perantara
• Pembayaran dengan perantara pihak ketiga melakukan pengambilan dari account masing-masing
a. Pembayaran dua pihak tanpa perantara transaksi langsung antara dua pihak tanpa perantara menggunakan uang nasionalnya
b. Pembayaran dengan perantara pihak ketiga proses pembayaran menyangkut debit, kredit maupun check.
• Sistem pihak ketiga (3rd party system)
– Pihak ketiga berfungsi sebagai agen antara pedagang / penjual & konsumen / pembeli
– Tugasnya memeriksa kartu kredit konsumen (menolak atau menyetujui transaksi) lalu mengeluarkan dana untuk pembayaran kepada pedagang
– Pelanggan membuka account dengan kartu kredit atau kartu debit, kemudian memilih nomor pin dan password
– Paypal, Paymate

• Sistem sertifikat
– Melibatkan sertifikat digital sebagai media yang akan menampilkan kartu kreditnya
– SET, SSL

• Sistem uang neto (net money)
– Konsumen merubah mata uangnya ke dalam bentuk mata uang cyber

• Sehari-hari
– Pemegang kartu (card holder)
– Penerbit kartu kredit: issuer (bank)
– Pedagang (merchant)
– Bank tempat pedagang membuka account untuk menampung uang kartu (acquirer)

• Saat transaksi
– Merchant mengkalkulasi jumlah harga pembelian dan menggesek kartu kredit pada terminal POS elektronik
– Informasi dari pita magnetik kartu akan dikirim ke acquirer untuk diautorisasi

G. DEFINISI E- GOLD
E-gold adalah suatu alat pembayaran digital baru, dikeluarkan oleh e-gold Ltd., berkedudukan di Nevis , berlaku global, standar nilainya didasarkan pada 100% harga emas murni yang berlaku di pasar dunia, dan ditampilkan dalam bentuk rekening tabungan e-gold. E-gold adalah suatu mata uang seperti halnya rupiah dan dollars, bukan merupakan mata uang nasional suatu negara. Ini berarti tidak ada suatu negara yang mengeluarkan uang kertas ataupun logam dalam mata uang e-gold. Malahan setiap transaksi dilakukan secara elektronis melalui internet. Nilai transaksi adalah berdasarkan berat emas murni. Anda dapat merubah e-gold ke dalam bentuk mata uang lain (US Dollars, Pounds , Deutche Mark..... dan sebaliknya). E-gold sudah diakui oleh banyak merchant di seluruh dunia dalam melakukan transaksi on-line, dan sebagai media pembayaran yang sah. Selain itu dana anda di E-gold dapat ditarik melalui ATM khusus di semua mesin ATM berlogo Cirrus, Maestro, dan Mastercard. Anda dapat memanfaatkan rekening e-gold ini untuk menerima pembayaran, melakukan pembayaran, berinvestasi di HYIP. E-gold memiliki website yang dijamin keamanannya dengan secure server 128 bit SSL. Anda dapat membuka rekening tanpa dikenakan biaya seperti halnya bila anda membuka rekening di bank, setelah itu anda dapat memasukkan dana anda ke rekening e-gold dengan cara membeli e-gold, dan sebaliknya anda dapat mencairkan dana e-gold anda dengan cara menjualnya. Anda telah tahu mengenai apa dan bagaimana e-gold secara sekilas, dan apakah anda berminat untuk mendapatkan account e-gold ? Jika anda berminat silahkan register; setelah berhasil masuk kedalam situs tersebut, klik create an account, untuk persyaratan pendaftaran dan seterusnya ikuti petunjuk-petunjuk selanjutnya. 

1. Manfaat E-Gold 
Berbelanja online, misalnya di: goldstores.com Menyimpan emas secara praktis dan efisien,Melakukan pembayaran, e-commerce, Payrol, Membayar tagihan, Menyumbang, Spekulasi/trading, misalnya di www.gcitrading.com dan di www.betonmarkets.com , Anda dapat memanfaatkan rekening e-gold ini untuk menerima pembayaran dan melakukan pembayaran, E-gold memiliki website yang dijamin keamanannya dengan secure server 128 bit SSL, Anda dapat membuka rekening tanpa dikenakan biaya seperti halnya bila anda membuka rekening di bank, setelah itu anda dapat memasukkan dana anda ke rekening e-gold dengan cara membeli e-gold, dan sebaliknya anda dapat mencairkan dana e-gold anda dengan cara menjualnya. Transfer antar e-gold adalah Real Time, lansung sampai ke rekening tujuan. E-gold mengenakan fee transfer yang dapat anda lihat di http://www.e-gold.com/newfees.html.

2. Membuka Account E-gold 
1. Buka website E-Gold. Silahkan klik link berikut di https://www.e-gold.com
2. Setelah muncul halaman E-Gold klik Create Account 
3. Bacalah User Agreement, jika telah menyetujui klik I agree, kemudian isilah formulir 
4. Account Name, adalah nama account E-Gold Anda, misal : sukses77 
5. Description boleh diisi boleh juga tidak, kalau diisi maka isilah dengan gambaran diri Anda 
6. User Name, isian ini sebaiknya sama dengan Account Name 
7. Alternate Passphrase, isian ini adalah Password Account E-Gold Anda, diisi dengan gabungan huruf dan angka minimal 6 karakter 
8. New E-Gold Account Passphrase, sebaiknya sama dengan Alternate Passphrase 
9. New E-gold Account Passphrase Again, harus sama dengan new E-Gold Account Passphrase. Yang perlu DICATAT adalah passphrase akan selalu digunakan untuk masuk ke dalam Account E-Gold Anda, jadi catat dan jangan sampai lupa serta jangan diberitahukan dengan orang lain. Mirip dengan PIN ATM kita di bank. 
10. Turing Number Entry, isilah dengan angka acak yang selalu berubah di sampingnya 
11. Klik open 
12. Nomor Account E-Gold akan dikirim ke alamat email Anda sesuai yang telah isikan di atas dalam proses isian registrasi 
13. Cek email Anda dari E-Gold, catat nomor Rekening E-Gold Anda karena nomor tersebut akan selalu diminta untuk mengakses rekening E-Gold Anda. Sama seperti Nomor Rekening Bank Anda di Internet 
14. Setelah Anda punya rekening E-Gold, selanjutnya adalah mencoba membuka rekening Anda dengan mengklik link http://www.e-gold.com, klik link Access Your Account 
15. Isilah Account dan Passphrases kemudian diikuti Turing Number sesuai nomor yang nampak di sebelah kanan. Nomor ini akan selalu berganti setiap kali Anda mengakses Account Anda. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keamanan dan menghindari pembajakan 
16. Selanjutnya jika ingin melihat jumlah saldo uang Anda, klik gambar timbangan (BALANCE). Mengetahui rincian transaksi(print out) silahkan klik HISTORY. Untuk merubah data pribadi Anda, klik ACCOUNT INFO. Mentransfer uang Anda tekan SPEND 
17. Jangan lupa, selalu akhiri menekan LOGOUT jika selesai menggunakan rekening Anda 

3. Menguangkan E-gold
Untuk mengisi account E-Gold Anda tersebut dan juga untuk 'menguangkan' kembali emas Anda, bisa dilakukan melalui jasa para 'merchant' (pedagang). Di situs resmi E-Gold banyak sekali tersedia 'merchant-merchant' ini, dan banyak pula 'merchant' dari Indonesia. Fungsi para 'merchants' tersebut adalah menukar uang anda dengan emas, dan menukar emas Anda dengan uang (sesuai mata uang Anda/ rupiah atau yang lainnya).

Beberapa Merchant E-Gold di indonesia dan sekitarnya yang sudah dipercaya adalah :
www.indochanger.com
www.enamdelapan.com
www.greatachiever.com
www.dewaegold.com
www.plazaegold.com
www.tokoegold.com

Pembelian/ penjualan E-Gold dari/ ke rekening bank (jual beli E-Gold) kita akan diproses kurang dari 24 jam, tergantung jasa yang menawarkan. 

4. Tips Menjaga Keamanan E-Gold Anda
Karena E-Gold berisi uang, maka rentan terhadap pencurian apalagi jika menggunakan fasilitas umum seperti Warnet. Ikuti langkah-langkah pengamanan berikut :
1. Pada saat registrasi E-Gold, sebaiknya Anda isi alamat rumah yang sebenarnya karena apabila anda lupa password loginnya maka satu-satunya jalan untuk mendapatkan password baru adalah dengan mengirim email ke E-Gold dan E-Gold akan mengirim password baru ke alamat rumah Anda melalui surat/pos (tidak bisa lewat email).

2. Jangan pakai Passphrases E-Gold Anda untuk daftar pada program apapun 

3. Admin E-Gold tidak pernah mengirim email yang ada linknya ke member. Jika ada kiriman email yang meminta Anda mengklik link nya dan memasukkan Passphrases maka sebenarnya mereka adalah hacker yang sengaja akan mencuri rekening E-Gold Anda dan membuat web mirip dengan E-Gold. Abaikan saja atau hapus.

4. Ubahlah password/passphrases secara berkala dan gunakan gabungan huruf dan angka yang sulit ditebak dan lebih dari 10 karakter, gunakan program pengacak misalnya, untuk mengubah password Anda menjadi karakter yang tidak terbaca, rekam password Anda dalam file misalnya untuk kemudian Anda bisa lakukan copy/paste, jika ingin memasukkan password ini (ini jika anda pakai terminal pribadi) 

5. Saat mengisi password/passphrase login, gunakan tombol SRK di kanan isian. Anda tidak mengetik passwordnya tapi memilih huruf dan angka di window kecil yang muncul menggunakan mouse. Hal ini untuk menghindari password Anda disadap dengan software keylogger yang dapat merekam key yang Anda tekan. Hati-hati apabila Anda menggunakan komputer public seperti di warnet atau lab komputer, karena bisa saja dipasangi keylogger yang langsung bisa mengirim hasilnya ke email penyadap 

6. Bersihkan selalu komputer yang telah Anda pakai membuka Account E-Gold sebelum Anda tinggalkan dengan menghapus semua data yang ada di directory C:\WINDOWS\Cookies, C:\WINDOWS\History dan C:\WINDOWS\Temporary Internet Files

7. Jangan pernah menyimpan data username dan password Anda tersebut pada harddisk komputer meskipun itu komputer pribadi Anda.

Analisis Komunikasi Organisasi Vertikal Mengenai Masalah Kompensasi Insentif

Analisis Komunikasi Organisasi Vertikal Mengenai Masalah Kompensasi Insentif 
Pendahuluan 
Perusahaan yang dipilih oleh peneliti sebagai objek penelitian merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang Food & Beverages terkemuka di Indonesia, Excelso di Samarinda memiliki dua outlet yaitu di Jalan Bhayangkara Lt UG Plaza Mulia dan di Jalan P.Irian Lt satu Samarinda Central Plaza. Hampir seluruh daerah di Indonesia terdapat gerai Excelso. CV Semoga Jaya Excelso merupakan franchisee dari PT. Excelso Multi Rasa yang merupakan anak dari Kapal Api Group di bawah naungan PT Santos Jaya Abadi yang berpusat di Jakarta dan Surabaya. Excelso sendiri mulai beroperasi pada tahun 1991, outlet pertamanya berada di Plaza Indonesia, Jakarta. Berawal dari ide untuk menyuguhkan kopi Indonesia dalam bentuk kafe. 

Dalam usianya yang ke 20 tahun Excelso kini memiliki lebih dari 40 outlet (termasuk franchise) di kota-kota besar di Indonesia. Excelso juga memiliki visi yaitu : “Menjadi Café No.1 di Indonesia dengan menyajikan kopi kualitas terbaik, memberikan pelayanan yang memuaskan, dan meningkatkan keuntungan perusahaan secara konsisten”. Excelso café sangat mengedepankan standarisasi dan kebersihan sehingga Excelso meraih penghargaan Superbrands 2012 pada tanggal 2 Februari 2012 untuk kategori coffee shop yang paling banyak diminati konsumen Indonesia. Selain itu, Excelso juga meraih penghargaan Franchise Top Of Mind 2012 kategori kedai kopi lokal versi majalah Info Franchise Indonesia. Excelso di Samarinda sendiri merupakan franchise yang dimiliki oleh CV Semoga Jaya yang merupakan dealer utama Honda di Kaltim dikarenakan franchise maka Excelso di Samarinda harus mengikuti standarisasi pusat tetapi hanya UMR saja yang tidak mengikuti standar. Sukses tidaknya pencapaian perusahaan sebagian besar tergantung dari pelaksana-pelaksananya yaitu para karyawan. Oleh karena itu untuk mendorong mereka supaya bersungguh-sungguh di dalam mencapai tujuan perusahaan, harus diberikan kompensasi yang layak dalam arti sesuai dengan kemampuan perusahaan dan sesuai dengan sifat-sifat keinginan mereka.

Di Excelso Samarinda pada tanggal 21 Januari 2010 mulai memiliki kebijakan akan memberi kompensasi insentif jika omset dalam sebulan mencapai target sebesar Rp 175.000.000 atau lebih maka satu sampai dua persen dari omset tersebut akan dibagi ke para karyawan. Awalnya dua tahun berjalan dengan efektif dan rutin setiap bulan tetapi tepat pada bulan Agustus 2012 setelah peraturan nomor 141/EXC/I/10 diubah maka menjadi tiga bulan sekali dan mulai terjadi ketidakstabilan dan sampai sekarang 14 orang karyawan Excelso (tidak termasuk cabang di SCP) belum menerima insentif tersebut selama delapan bulan lamanya dikarenakan hal tersebut kinerja para karyawan mulai menurun atau bisa dikatakan kurang bersemangat. Di sini sebenarnya peran komunikasi vertikal sangat dibutuhkan karena para karyawan dapat langsung menyalurkan aspirasinya kepada atasan begitu juga sebaliknya atasan dapat menyampaikan sebab akibat dari masalah tersebut. Namun kenyataan di lapangan berbeda yang seharusnya komunikasi vertikal dapat diterapkan tetapi karena adanya kesenjangan komunikasi antara atasan dan pekerja menjadi tidak seimbang.

Kesadaran atasan dalam melaksanakan ketentuan normatif masih kurang, bahkan sebagai aset perusahaan yang harus dipelihara. Masih banyak pihak yang menggunakan pekerja sebagai aset untuk mencapai popularitas di pentas politik. Apabila para pekerja sendiri tidak mampu menjalin komunikasi yang baik dengan perusahaan, mereka akan mudah terprovokasi dengan intrik-intrik yang sengaja ditimbulkan oleh pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu pekerja seharusnya memahami pentingnya komunikasi agar dapat mewujudkan hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan.

Kerangka Dasar Teori
Komunikasi Organisasi Vertikal
Komunikasi vertikal adalah arus komunikasi dua arah timbal balik yang dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen memegang peranan yang sangat vital. 

Komunuikasi ke Atas
Menurut Arni Muhammad (2005:116), komunikasi ke atas adalah pesan yang mengalir dari bawahan kepada atasan atau dari tingkat yang lebih rendah kepada tingkat yang lebih tinggi. Digunakan untuk memberikan umpan balik kepada atasan, menginformasikan mengenai kemajuan pekerjaan ke arah tujuan dan meneruskan masalah-masalah yang ada. Komunikasi ke atas menyebabkan para manajer menyadari perasaan para bawahan atas pekerjaannya, rekan sekerjanya dan organisasi secara umum. Manajer juga mengandalkan komunikasi ke atas untuk mendapatkan gagasan-gagasan mengenai bagaimana urusan-urusan dapat diperbaiki.

R. Wayne Pace dan Don Faules (2006:189), komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari tingkat yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi (penyelia). Tujuan komunikasi ke atas untuk memperoleh informasi, keterangan tentang kegiatan dan pelaksanaan tugas/pekerjaan para pegawai pada tingkat rendah. 

Komunikasi ke Bawah
Komunikasi ke bawah mengalir dari pimpinan kepada bawahan, dari tingkatan manajemen puncak ke manajemen menengah, manajemen yang lebih rendah terus mengalir kepada para pegawai bawahan atau pekerja. Komunikasi ke bawah menunjukkan arus pesan yang mengalir dari para atasan atau para pimpinan kepada bawahannya. Kebanyakan komunikasi ke bawah digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkenaan dengan tugas-tugas dan pemeliharaan. Pesan tersebut biasanya berhubungan dengan pengarahan, tujuan, disiplin, perintah, pertanyaan dan kebijaksanaan umum. 

Menurut Lewis (dalam Arni Muhammad (2004:108)) komunikasi ke bawah adalah untuk menyampaikan tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah kesalahpahaman karena kurang informasi dan mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Menurut R. Wayne Pace dan Don Faules (2006:184) komunikasi ke bawah dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada mereka yang berotoritas rendah. 

Kompensasi 
Malayu S. P. Hasibuan (2007:118) mengemukakan bahwa kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan. Kompensasi berbentuk uang artinya kompensasi dibayar dengan sejumlah uang kartal kepada karyawan bersangkutan. Kompensasi berbentuk barang artinya kompensasi dibayar dengan barang. Menurut William B. Werther dan Keith Davis (dalam Malayu S.P. Hasibuan, 2007:119) mengemukakan bahwa kompensasi adalah apa saja yang seorang pekerja terima sebagai balasan dari pekerjaan yang diberikannya baik upah per jam atau gaji periodik didesain dan dikelola oleh bagian personalia. Menurut F. Sikula (dalam Malayu S.P. Hasibuan, 2007:119) mengemukakan bahwa kompensasi adalah segala sesuatu yang dikonstitusikan atau dianggap sebagai suatu balas jasa atau equivalen. 

Insentif
Menurut Heidjrahman Ranupandojo dan Suad Husnan (1984:1), insentif adalah pengupahan yang memberikan imbalan yang berbeda karena memang prestasi yang berbeda. Dua orang dengan jabatan yang sama dapat menerima insentif yang berbeda karena bergantung pada prestasi. Insentif adalah suatu bentuk dorongan finansial kepada karyawan sebagai balas jasa perusahaan kepada karyawan atas prestasi karyawan tersebut. Insentif merupakan sejumlah uang yang di tambahkan pada upah dasar yang di berikan perusahaan kepada karyawan. Apabila upah dan gaji diberikan sebagai kontra prestasi atas kinerja standar pekerja dalam insentif merupakan tambahan kompensasi atas kinerja di atas standar yang ditentukan. Adanya insentif diharapkan menjadi faktor pendorong untuk meningkatkan prestasi kerja di atas standar. Di samping upah, gaji dan insentif kepada pekerja dapat diberikan rangsangan lain berupa penghargaan atau reward. Perbedaan antara insentif dan reward adalah insentif bersifat memberi motivasi agar pekerja lebih meningkatkan prestasinya sedangkan reward pekerja lebih bersifat pasif. 

Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang berisi tentang pemaparan atau uraian mendalam.

Fokus Penelitian
Adapun fokus penelitian ini membahas tentang :
1. Komunikasi vertikal organisasi
a. Komunikasi dari atas ke bawah (Manajer/Supervisor dengan karyawan)
b. Komunikasi dari bawah ke atas (Karyawan dengan manajer/supervisor)
2. Kompensasi
a. Insentif

Sumber dan Jenis Data
Data utama dalam penelitian kualitatif ialah :
a. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari objek 
penelitian/sumber data utama. Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman video/audio tapes, pengambilan foto atau film. Pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau pengamatan berperan serta merupakan hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya. 

b. Data sekunder yaitu data dalam bentuk yang sudah jadi seperti :
1. Buku-buku yang menjadi referensi
2. Dokumen-dokumen
3. Internet

Teknik Pengumpulan Data
1. Penelitian kepustakaan (library research)
2. Penelitian lapangan (field research)
a. Observasi
b. Wawancara
c. Dokumentasi 

Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposif sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Adapun yang menjadi key informannya disini ialah Bapak Aditya Pratama selaku Supervisor berjumlah satu orang dan yang menjadi informan ialah Uswatun Hasanah selaku Crew Leader berjumlah satu orang dan karyawan lain yaitu Feriseptrida Dating, Yopi Ibau, Saniah Aliansyah dan Febirianto berjumlah empat orang serta Widia Astuti mantan karyawan berjumlah satu orang yang mengetahui tentang informasi yang dibutuhkan oleh peneliti.

Teknik Analisis Data 
Pada penelitian ini peneliti menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman :
1. Pengumpulan data
2. Reduksi data
3. Penyajian data
4. Penarikan kesimpulan/verifikasi 

Empat jenis kegiatan analisis dan kegiatan pengumpulan data itu sendiri merupakan proses siklus dan interaktif, dimana peneliti harus siap bergerak di antara empat hal tersebut selama pengumpulan data, selanjutnya bergerak bolak-balik kegiatan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan/verifikasi selama sisa waktu penelitian.

Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bentuk-bentuk kegiatan komunikasi vertikal organisasi yang dilaksanakan seperti kegiatan komunikasi dari atasan kepada para bawahan dan komunikasi dari bawahan kepada atasan. Dalam sebuah organisasi, komunikasi diharapkan dapat berjalan dengan efektif dimana bawahan dan atasan dapat saling bekerja sama dan saling mendukung agar kegiatan komunikasi organisasi yang terbentuk bisa berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan guna kemajuan perusahaan dan dapat menyelesaikan masalah. Kurangnya komunikasi baik kepada atasan maupun kepada bawahan akan berdampak buruk terhadap proses produksi. Oleh karena itu, konsep komunikasi organisasi harus benar-benar dipahami dan diterapkan pada perusahaan. 

Hasil penelitian ini diperoleh dengan teknik wawancara secara mendalam (in depth interview) dengan informan dan key informan sebagai bentuk pencarian data dan dokumentasi langsung di lapangan yang kemudian peneliti analisis. Analisis ini sendiri difokuskan kepada komunikasi vertikal, baik komunikasi ke atas maupun komunikasi ke bawah dan kompensasi insentif . Agar penelitian ini lebih objektif dan akurat maka peneliti mencari informasi tambahan dengan melakukan wawancara dengan informan tambahan yang berada di luar lokasi penelitian seperti mantan karyawan CV Semoga Jaya Excelso. 

a. Komunikasi dari bawahan kepada atasan
Komunikasi secara vertikal atau komunikasi dua arah yang dilakukan antara karyawan dengan atasan memang penting dalam sebuah organisasi, komunikasi yang dilakukan antara bawahan dengan atasan pada CV Semoga Jaya Excelso kurang efektif dikatakan kurang efektif karena para karyawan segan untuk mengutarakan pendapat dan keluhan mereka karena atasan terlalu menutup diri dan tidak ada pendekatan secara maksimal terhadap karyawan. Bahwasanya komunikasi yang ideal dan efektif menurut Arni Muhammad (2005:116) bila komunikan dan komunikator saling menyampaikan pesan sehingga menghasilkan timbal balik sedangkan yang terjadi di lapangan, komunikasi tidak menghasilkan umpan balik. Pada saat jabatan Store Manager masih dipegang oleh Heri Chandra, beliau rutin melakukan briefing pada saat jam kerja atau di luar jam kerja, briefing ini dilakukan di tempat kerja dan terkadang di restoran atau kafe. Ini semua dilakukan oleh Heri Chandra agar ada pendekatan secara alami sehingga muncul suasana kekerabatan dan para karyawan dapat lebih leluasa untuk menyampaikan pendapat dan keluhan mereka. Komunikasi yang berlangsung antara karyawan dengan atasan pada CV Semoga Jaya Excelso ini dilakukan agar dapat terjalin komunikasi yang efektif antara karyawan dengan atasan dan agar tidak ada lagi kesenjangan antara karyawan dengan atasan di mana peran atasan mempunyai kewenangan untuk mengendalikan informasi yang disampaikan para karyawan. 

b. Komunikasi dari atasan kepada bawahan
Komunikasi yang terjalin antara atasan kepada bawahan tidak bisa berjalan dengan lancar dikatakan seperti itu karena atasan kurang membuka diri dan tidak melakukan pendekatan secara maksimal kepada para karyawan dan menimbulkan keseganan para karyawan untuk dapat menyampaikan hal-hal maupun kendala dalam perusahaan. Menurut Lewis (dalam Arni Muhammad (2004:108)) komunikasi ke bawah adalah untuk menyampaikan tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah kesalahpahaman karena kurang informasi dan mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Itu sebabnya dikatakan kurang efektif karena tidak sesuai dengan teori yang ada. 

Atasan hanya melakukan komunikasi jika ada laporan atau tugas yang harus dikerjakan oleh karyawan. Komunikasi dari atasan kepada bawahan memegang peranan penting karena berkaitan dengan peran atasan sebagai pemimpin dalam organisasi dan tidak bisa dipungkiri perusahaan yang bergerak di bidang food and beverages ini sangat mendukung karyawannya untuk mengenyam pendidikan terbukti hampir seluruh karyawan CV Semoga Jaya Excelso rata-rata mahasiswa/i yang aktif mengikuti perkuliahan. CV Semoga Jaya Excelso memperbolehkan karyawannya untuk kuliah pada saat jam kerja tetapi karyawan tersebut harus mengganti jam kerja selama yang ditinggalkan itu. 

Atasan yang selalu berkomunikasi dengan semua pihak baik melalui hubungan formal maupun informal akan menciptakan suasana kerja yang harmonis. Fungsi pimpinan atau atasan adalah menuntun, membimbing atau membangunkan motivasi-motivasi kerja, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik. (Gary Dessler, 2007:49) Selain itu, suksesnya pelaksanaan tugas atasan itu sebagian besar ditentukan oleh kemahiran dalam menjalin komunikasi yang tepat dengan semua pihak secara vertikal maupun horizontal. 

c. Insentif
Insentif merupakan pengupahan yang memberikan imbalan yang berbeda karena memang prestasi yang berbeda. (Heidjrahman Ranupandojo dan Suad Husnan, 1984:1). Dua orang dengan jabatan yang sama dapat menerima insentif yang berbeda karena bergantung pada prestasi. Insentif merupakan salah satu jenis dari kompensasi langsung, selain insentif ada gaji dan upah. Adanya insentif diharapkan menjadi faktor pendorong untuk meningkatkan prestasi kerja di atas standar.

Menurut Manullang (1981:141) ada beberapa jenis insentif yaitu finansial insentif dan non finansial insentif. Finansial insentif sendiri mencakup kesejahteraan karyawan seperti jaminan hari tua, kesehatan, dan lain-lain sedangkan non finansial insentif seperti keadaan pekerjaan yang memuaskan yang meliputi tempat kerja yang nyaman, jam kerja dan rekan kerja yang dapat bekerja sama dengan baik serta sikap pimpinan terhadap keinginan masing-masing karyawan seperti jaminan pekerjaan, promosi jabatan, keluhan-keluhan, hiburan dan hubungan yang baik dengan atasan. Pertama kali usulan insentif diajukan oleh Heri Chandra manajer pertama CV Semoga Jaya Excelso. Mengingat kebutuhan para karyawan yang semakin tinggi dan semangat karyawan yang mulai berkurang oleh karena itu, dia mengajukan adanya pemberian insentif setiap target omset yang dapat dicapai dan diharapkan dapat memacu semangat kerja karyawan dengan adanya rewards tersebut. 

Dari kebijakan awal CV Semoga Jaya Excelso dengan nomor 141/EXC/I/10 dan kemudian di revisi dengan nomor 2032/EXC/VII/12 sudah menjanjikan kepada karyawannya akan memberikan insentif jika omset mencapai ataupun melebihi target, insentif sendiri berguna untuk memotivasi karyawan agar mereka dapat bekerja dengan baik dan dapat menguntungkan perusahaan. Pada awalnya pemberian insentif ini berjalan efektif dan lancar setiap bulannya akan tetapi setelah 2 tahun tepatnya setelah pergantian manajer dan peraturan diubah menjadi 3 bulan sekali mulai terjadi ketidakstabilan dan menjadi tidak transparan ini disebabkan oleh komunikasi vertikal baik dari atasan ke bawahan maupun dari bawahan ke atasan yang kurang efektif, efektif jika keduanya dapat selaras dan menghasilkan umpan balik. Hal ini mengakibatkan kinerja dan pelayanan para karyawan kepada konsumen menjadi tidak sesuai standar operasional. Jika dibiarkan ini terjadi maka perusahaan akan mengalami kerugian bahkan bangkrut.

d. Hambatan Komunikasi Organisasi
Tidak semua kegiatan komunikasi dapat berjalan lancar. Berikut adalah hambatan-hambatan yang terjadi selama proses komunikasi organisasi vertikal berlangsung :

Komunikasi ke atas
Para karyawan segan untuk mengutarakan pendapat dan keluhan mereka kepada atasan karena atasan terlalu menutup diri dan tidak ada pendekatan secara maksimal terhadap karyawan akibatnya arus komunikasi menjadi terhambat dan pesan tidak tersampaikan seperti ada tembok pemisah

Komunikasi ke bawah 
Atasan hanya melakukan komunikasi jika ada laporan atau tugas yang harus dikerjakan oleh karyawan. Bila tidak ada yang penting atasan cenderung diam dan tidak berusaha mendekatkan diri kepada karyawan, karena atasan cenderung menutup diri tersebut mengakibatkan banyaknya rumor atau desas-desus yang terjadi dan menyebabkan komunikasi ke bawah menjadi kurang efektif seperti isu menaikkan target omset, dsb

Kesimpulan
1. Komunikasi dari bawahan kepada atasan di CV Semoga Jaya Excelso menyebabkan kegiatan komunikasi di dalam perusahaan tidak berjalan dengan lancar disebabkan karena para bawahan atau karyawan merasa segan untuk menyampaikan hal-hal tentang kondisi pekerjaan mereka karena atasan tidak membuka diri kepada karyawan sehingga komunikasi dari bawahan kepada atasan menjadi terhambat dan tidak ada timbal balik sesuai dengan teori komunikasi

2. Atasan hanya melakukan komunikasi jika ada laporan atau tugas yang harus dikerjakan oleh karyawan. Bila tidak ada yang penting atasan cenderung diam dan tidak berusaha mendekatkan diri kepada karyawan, karena atasan cenderung menutup diri tersebut mengakibatkan banyaknya rumor atau desas desus yang terjadi dan menyebabkan komunikasi ke bawah menjadi kurang efektif seperti isu menaikkan target omset, dsb. Kurangnya sensitivitas dan kepedulian atasan terhadap hak dari para karyawan sehingga menyebabkan kinerja dan kedisiplinan para karyawan dalam mengerjakan tugasnya menjadi menurun. Karyawan merasa tidak dipedulikan dan atasan juga jarang berkomunikasi dengan bawahan sehingga menyebabkan kegiatan komunikasi organisasi pada CV Semoga Jaya Excelso menjadi terhambat karena pesan tidak tersampaikan 

3. Pemberian insentif berjalan tidak stabil komunikasi ke atas dan komunikasi ke bawah tidak dijalankan secara benar sesuai teori yang ada sehingga menyebabkan para karyawan tidak puas dengan sistem manajemen perusahaan dan berimbas kepada kualitas pelayanan yang menurun.

Saran
1. Karyawan CV Semoga Jaya Excelso segan untuk memberikan pendapat atau saran kepada atasan untuk kemajuan organisasi perusahaan yang berarti terdapat kurangnya komunikasi antara bawahan kepada atasan, dengan demikian seharusnya para karyawan atau bawahan lebih meningkatkan komunikasi yang baik kepada atasannya untuk kemajuan perusahaan guna kelancaran organisasi, seperti dalam berkomunikasi para karyawan untuk tidak segan menyampaikan pendapat mereka kepada atasan sehingga arus informasi antara karyawan dengan atasan bisa berjalan efektif tanpa hambatan. 

2. Komunikasi dari atasan kepada bawahan sebaiknya lebih ditingkatkan dengan cara atasan lebih memperhatikan para karyawan dengan melihat secara langsung kinerja para karyawan agar mengetahui kendala yang mereka alami dan agar para karyawan merasa di perhatikan dan dihargai oleh atasan. Atasan juga seharusnya lebih peduli dan tegas terhadap para karyawan sehingga mereka dapat disiplin dalam melaksanakan tugasnya dan bagi atasan sebaiknya bersikap transparan dan tidak menutup diri kepada karyawan serta apabila karyawan ada yang tidak disiplin dalam melaksanakan tugasnya agar diberikan sanksi yang tegas seperti teguran, pemberian SP1, SP2 dan SP3, pemotongan gaji dan sebagainya agar para karyawan lebih disiplin dan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan perusahaan.

3. Seharusnya pemberian insentif itu dilakukan tepat waktu sesuai dengan aturan dan tidak terbelengkalai sesuai perjanjian yang ada agar para karyawan tidak kecewa dan pada akhirnya dapat merugikan perusahaan karena hak yang dituntut tidak juga dihiraukan. 

4. Agar komunikasi diantara keduanya berjalan efektif sebaiknya kepada semua karyawan didorong untuk tidak segan-segan menyampaikan hal apapun kepada atasan sejauh dalam kerangka atau lingkup pengembangan dan kemajuan perusahaan dan untuk mengungkapkan bagaimana pikiran dan perasaan bawahan tentang pekerjaan mereka dalam perusahaan.

5. Untuk kemajuan operasional perusahaan peran atasan CV Semoga Jaya Excelso diharapkan dapat bertindak lebih tegas kepada karyawan agar para karyawan dapat mendisiplinkan waktu mereka untuk kemajuan perusahaan.

Daftar Pustaka
Buku 
Bungin, Burhan. 2003. Metode Penelitian Sosial. Jakarta : PT. Raja Grafindo 
Perkasa.
Dessler, Gary. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. 
Prenhallindo.
Effendy, Onong Uchjana. 2007. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung : 
PT. Citra Aditya Bakti.
Harun, Rochajat. 2008. Komunikasi Organisasi. Bandung : CV. Mandar Maju.
Hasibuan, Malayu SP. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi 
Aksara.
Manullang, M. 1981. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja 
Rosdakarya.
Muhammad, Arni. 2005. Komunikasi Organisasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
M.A, Morissan. 2009. Teori Komunikasi Organisasi. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Pace, R.Wayne dan Faules, Don F. 2006. Komunikasi Organisasi, Strategi 
Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Panggabean, Mutiara Sibarani. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia.Jakarta : 
Ghalia Indonesia. 
Ranupandojo, Heidjrachman. 1980. Industrial Relations. Yogyakarta : PT BPFE.
_______________________ dan Husnan, Suad. 1984. Manajemen Personalia. 
Yogyakarta : PT. BPFE.
Romli, Khomsahrial. 2011. Komunikasi Organisasi Lengkap. Jakarta : 
PT.Grasindo.
Ruslan, Rosady. 2003. Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi. 
Jakarta : PT. Raja Grafindo Perkasa. 
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: 
Alfabeta. 
Suprapto, Tommy. 2011. Pengantar Ilmu Komunikasi dan Peran Manajemen 
dalam Komunikasi. Yogyakarta : Caps.
Wiryanto. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT. Grasindo.

Sumber lain
http://jakartagrosir.com/bentuk-komunikasi-vertikal-blog-522.html, diakses 
tanggal 27 Maret 2013 pukul 14.35
http://dwiiba.wordpress.com/sistem-kompensasi/, diakses tanggal 27 Maret 2013 
pukul 15.15
http://chocomilkcorner.tripod.com/sdm/sdm_shan_1.html, diakses tanggal 28 
Maret 2013 pukul 11.00
http://putrakolut.blogspot.com/2012/12/kompensasi-insentif.html?m=1, 
diakses tanggal 28 Maret 2013 pukul 12.03
http://dedylondong.blogspot.com/2012/03/kompensasi-compensation.html?m=1, 
diakses tanggal 29 Maret 2013 pukul 19.18
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/insentif-definisi-tujuan-jenis-proses.html?m=1, diakses tanggal 29 maret 2013 pukul 20.30

Strategi Komunikasi Organisasi antara Atasan dan Bawahan

Strategi Komunikasi Organisasi antara Atasan dan Bawahan 
PENDAHULUAN
Penelitian ini hendak mendeskripsikan strategi komunikasi organisasi pasca terjadinya restrukturisasi manajemen pada DetEksi Jawa Pos. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2013 yang bertepatan dengan satu tahun restrukturisasi manajemen yang dilakukan DetEksi Jawa Pos. Fenomena ini dirasa penting oleh peneliti karena di berbagai penelitian yang ada, menyebutkan bahwa komunikasi merupakan faktor terpenting bagi organisasi dalam mendapatkan informasi. Muhammad (2009, p.1) menyebutkan bahwa ‘Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan lancar dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat macet atau berantakan’.

Kegagalan dalam organisasi banyak yang disebabkan oleh kurang tertatanya komunikasi yang dilakukan para pelaku di organisasi tersebut. Seperti yang dikatakan penelitian sebelumnya (Luthans 2006) bahwa komunikasi yang tidak efektif adalah akar utama permasalahan dalam organisasi. Masih menurut Luthans, komunikasi yang efektif antara atasan dan bawahan menjadi faktor penting bagi pencapaian tujuan suatu organisasi. 

Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti komunikasi atasan ke bawahan (downward communication) dan komunikasi bawahan ke atasan (upward communication). Dua arah komunikasi atas-bawah dan bawah-atas sangat penting untuk mencapai keberhasilan tujuan mensolusi persoalan yang menjadi perhatian organisasi. Melihat pentingnya komunikasi dalam organisasi tersebut tentunya tidak luput dari bagaimana komunikasi itu di-maintain dalam suatu strategi. Pada kenyataannya strategi komunikasi diperlukan untuk kelancaran arus komunikasi dalam suatu organisasi. Dalam bukunya, Pace & Faules (2005, p.170) mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam komunikasi organisasi adalah bagaimana menyampaikan informasi ke seluruh bagian organisasi dan bagaimana menerima informasi dari seluruh bagian organisasi.

Menurut Effendy (2006, p.135) strategi komunikasi adalah metode atau langkah-langkah yang diambil untuk keberhasilan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat dan perilaku, baik secara langsung (lisan) maupun tidak langsung melalui media. Sehingga dapat dikatakan strategi komunikasi adalah metode atau langkah-langkah yang diambil untuk keberhasilan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat dan perilaku, baik secara langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media untuk mencapai suatu tujuan. 

Melihat hal tersebut, salah satu organisasi yang menyadari pentingnya strategi komunikasi sebagai penentu efektifitas pengembangan suatu organisasi adalah DetEksi Jawa Pos. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang media cetak anak muda (dikerjakan oleh dan ditujukan untuk anak muda), DetEksi Jawa Pos dituntut untuk menghasilkan halaman-halaman yang kreatif dan inovatif. Sebelum memenuhi tuntutan pasar tersebut, DetEksi Jawa Pos menyadari pentingnya komunikasi dalam tubuh internalnya. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut DetEksi Jawa Pos melakukan perubahan dalam tubuh internalnya, yaitu dengan jalan restrukturisasi pada manajemennya. Tepatnya pada Februari 2012 terjadi penyusunan ulang struktur organisasi dan pembagian kerja pada DetEksi Jawa Pos.

Adapun pengertian restrukturisasi organisasi menurut Husnan dan Pudjiastuti (2004, p.401) adalah suatu kegiatan untuk merubah struktur perusahaan sebagai upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan suatu perusahaan agar dapat beroperasi secara efisien, transparan, dan profesional. Berdasarkan hasil observasi peneliti, terdapat tiga alasan terjadinya restrukturisasi pada tubuh DetEksi Jawa Pos. Yaitu, adanya tuntutan pasar, perubahan kondisi perusahaan, dan fleksibilitas manajemen. Hasil observasi yang diperoleh peneliti mengungkapkan, pada penghujung tahun 2009 terjadi transisi besar-besaran pada DetEksi Jawa Pos, yakni berpindahnya sebagian besar kru DetEksi Jawa Pos ke PT DBL Lintas Indonesia. Masa transisi tersebut membawa dampak yang cukup signifikan pada DetEksi Jawa Pos, salah satunya adanya perubahan job desk pada DetEksi Jawa Pos

Akibat dari adanya perubahan tersebut, proses komunikasi yang terjadi pada internal DetEksi Jawa Pos, yaitu komunikasi antara atasan (supervisor) dan bawahan (para koordinator dan editor) menjadi terhambat. Proses komunikasi yang tidak berjalan dengan lancar secara tidak langsung juga berimbas pada produk yang dihasilkan DetEksi Jawa Pos, yaitu terjadinya penurunan kualitas halaman. Menyadari hal tersebut akhirnya founder DetEksi Jawa Pos, Azrul Ananda, memutuskan untuk mengangkat tiga supervisor sekaligus sejak Februari 2012 lalu.

Dari hasil observasi peneliti, sebelum terjadinya restrukturisasi posisi supervisor DetEksi Jawa Pos hanya diduduki oleh dua orang saja, namun melalui restrukturisasi jumlah supervisor dirubah menjadi tiga orang yang memiliki job desk lebih spesifik. Dengan adanya perubahan tersebut beberapa prosedur kerja turut berubah sehingga proses komunikasi pun juga berubah. Yaitu, proses komunikasi antara supervisor dan koordinator serta editor mengalami perubahan dari yang sebelumnya tidak terlalu intens karena job desk yang terbagi antara DetEksi dan DBL, berubah menjadi lebih intens. Dengan adanya komunikasi yang lancar antara supervisor dan karyawan secara tidak langsung membuat cara kerja menjadi lebih baik, pengambilan keputusan lebih cepat, perbaikan bisa dilakukan lebih tepat guna.

Dari adanya perubahan yang terjadi pada tubuh DetEksi Jawa Pos tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti strategi komunikasi antara atasan dan bawahan dalam pembuatan rubrik polling. Proses produksi rubrik polling memakan waktu paling lama jika dibandingkan dengan rubrik di halaman DetEksi lainnya. Mulai proses penyeleksian ide polling, menyebar kuesioner, hingga pengeditan naskahnya, waktu yang diperlukan bisa sampai dua hingga lima bulan. Selain itu, proses produksi rubrik polling melibatkan seluruh pihak manajamen DetEksi Jawa Pos.

Pada penelitian ini, yang dimaksud sebagai atasan adalah supervisor dan pada lini bawahan terdiri dari koordinator umum, koordinator surveyor, koordinator keuangan, koordinator editor, koordinator grafis, dan editor. Alasan peneliti menentukan atasan adalah supervisor karena restrukturisasi yang terjadi pada DetEksi Jawa Pos dilakukan pada lini ini. Penambahan jumlah supervisor dari yang sebelumnya hanya teridiri dari dua posisi, kini berubah menjadi tiga posisi yang lebih spesifik. Selain itu Supervisor merupakan wakil dari manajemen yang memiliki kewenangan penuh dalam berkomunikasi dengan bawahannya termasuk memberi instruksi. Sedangkan pemilihan bawahan yang terdiri dari koordinator umum, koordinator surveyor, koordinator keuangan, koordinator penulis dan kuesioner, koordinator grafis, dan editor dilatarbelakangi oleh pertanggungjawaban posisi-posisi tersebut kepada supervisor secara langsung.

Penelitian ini menjadi unik untuk dikaji, terlebih dilihat dari segi umur karyawan DetEksi Jawa Pos yang masih muda dan berstatus mahasiswa, memiliki perbedaan dan keunikan dibanding organisasi lainnya yang karyawannya tidak memiliki kesibukan lain (tidak kuliah). Contoh dalam lingkup kecil, organisasi DetEksi Jawa Pos memiliki perbedaan dibandingkan dengan karyawan dari kompartemen Jawa Pos lainnya. DetEksi Jawa Pos berhak menentukan kebijakannya sendiri namun tetap di bawah pengawasan tim manajemen Jawa Pos Koran.

Berdasarkan hal-hal tersebut, penelitian mengenai strategi komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan pasca restrukturisasi manajemen pada DetEksi Jawa Pos ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan tipe penelitian deskriptif (descripstion research). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang komprehensif tentang strategi komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan pasca restrukturisasi manajamenen pada DetEksi Jawa Pos di mana peneliti dapat memperoleh data primer melalui hasil observasi langsung dan wawancara secara mendalam (indepth-interview) yang dilakukan kepada pihak DetEksi Jawa Pos dan data sekunder dari pengumpulan arsip, dokumentasi, dan literatur-literatur pendukung.

PEMBAHASAN
Strategi Komunikasi Organisasi dari Atasan ke Bawahan (Downward Communication)
Menurut Gibson, menentukan strategi komunikasi perlu adanya rasa saling saling percaya yang diciptakan antara komunikator dan komunikan. Kalau tidak ada unsur saling mempercayai, komunikasi tidak akan berhasil. Tidak adanya rasa saling percaya akan menghambat komunikasi (Ulbert 2007, p.228).

Sebelum melancarkan proses komunikasi, hal yang harus dilakukan adalah mempelajari siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi atasan. Adapun hal-hal yang perlu diketahui dari komunikan adalah kerangka referensi dan situasi serta kondisi mereka. Dalam hal ini, Indri dan penulis sebagai editor DetEksi Jawa pos sudah mengetahui karakter penulisnya. Begitu juga yang dilakukan oleh Puspita.

“Lihat-lihat penulisnya dulu. Perlakuan buat ngasih instruksi beda-beda. Kalau ke Mut, sekali ngomong hasilnya kebanyakan oke. Beda kalau ke Bibik, harus tahu mood-nya lagi oke nggak. Kalau lagi nggak oke ntar pasti bakal perang ngeyel sama aku. Hahaha. Dan ujung-ujungnya nanti banyak ngeluhnya.”
(Puspita, Personal Interview, 22 April 2013)

Tiap individu memiliki karakter yang berbeda-beda oleh karena itu perlakuan saat memberikan informasi atau pesan juga berbeda-beda. Hal tersebut berlaku bila akan mengomunikasikan secara personal, namun bila secara serentak biasanya diumumkan saat rapat mingguan setiap hari Sabtu atau saat rapat kecil yang berbeda-beda setiap timnya.

Unsur selanjutnya yang menjadi penting adalah bagaimana mengemas pesan atau instruksi tersebut agar ditanggapi oleh komunikan. DetEksi Jawa Pos menyadari bahwa pengemasan pesan akan mempengaruhi penerimaan pesan itu sendiri oleh komunikan, dalam hal ini adalah bawahan. Pada dasarnya sistem komunikasi ke bawah mengandalkan berbagai jenis media cetak dan oral untuk menyebarkan informasi. Beberapa contoh media tertulis menurut Luthans (2006, p.385) berupa buku panduan organisasi, buku petunjuk, majalah, koran, dan surat yang dikirim ke rumah atau dibagikan dalam pekerjaan, item papan pengumuman, poster, dan display informasi; dan laporan standar, deskripsi prosedur, dan memo. 

Informasi dari atasan ke bawahan pada DetEksi Jawa Pos salah satunya mengandalkan komunikasi secara langsung dan tatap muka, biasanya dilakukan pada saat rapat mingguan dan rapat kecil setiap tim. Komunikasi secara lisan secara langsung yang dilakukan atasan ke bawahan DetEksi Jawa Pos dirasa sangat penting untuk dilakukan. Karena komunikasi lisan secara tatap muka akan mempengaruhi sikap dan perilaku bawahan.

Bentuk oral communication yang dilakukan DetEksi Jawa Pos berupa rapat dan koordinasi secara personal. Setiap Sabtu rutin dilaksanakan rapat mingguan yang terdiri dari tiga sesi. Pada pukul 09.00 WIB rapat halaman (reporter/penulis, editor, editor in chief/supervisor halaman, koordinator penulis, dan tim kuesioner); di waktu yang sama namun di ruangan yang berbeda tim fotografer, koordinator grafis, dan tim grafis juga mengadakan rapat sendiri untuk mengkoordinasikan layout halaman. Setelah tim halaman selesai, barulah giliran tim surveyor, koordinator surveyor, supervisor even, tim entry data, dan tim kuesioner melakukan rapat.

Rapat halaman tiap Sabtu bertujuan untuk me-listing halaman rubrik, evaluasi halaman yang terbit seminggu sebelumnya, mengajukan ide polling, dan koordinasi. Suasana rapat pun tidak dibuat serius. Puspita yang merupakan supervisor halaman setiap Sabtu selalu mengevaluasi kinerja karyawan. Salah satunya adalah absensi. Bila, evaluasi yang diberikan tidak terlalu berat, maka cara penyampaiannya pun dilakukan secara santai dan dibuat candaan

Menciptakan suasana rapat yang santai, menurut Mahesa membuat pesan atau informasi yang mau disampaikan menjadi lebih efektif.

“Biar nggak tegang ya. Kita kan anak-anak muda, kalau emmm...rapatnya formal jadinya kan bosan. Guyonan yang fresh meskipun kebanyakan pakek apa itu candaan yang ngeres, hehehe. Justru membuat pikiran jadi kembali ceria. Jadi, biar anak-anak nggak stress dengan tugasnya terus. Penting itu.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Agar tidak bosan dengan rapat yang begitu-begitu saja, sesekali suasana rapat dirubah. Terkadang rapat diadakan di KFC sambil makan atau bahkan dilakukan di salah satu rumah anggota rapat. Selain untuk menjadikan pikiran fresh kembali, kekompakan dan silaturahmi antar karyawan menjadi lebih erat.

“Kalau rapat di rumahnya siapa gitu kan enak, jadi tahu rumahnya, keluarganya. Jadi hubungan anak-anak itu nggak terbatas di lingkup kantor aja. Sama keluarga nantinya kan jadi deket.”
(Mahesa, personal interview, 22 April 2013)

Selain menggunakan komunikasi oral atau lisan, pihak atasan DetEksi Jawa Pos juga menggunakan metode komunikasi tulisan yang juga di-mix dengan gambar. Sesuai dengan hasil penelitian Level 1972 (Pace dan Faules 2006, p.147) yang menunjukkan metode lisan diikuti tulisan yang paling efektif. 

“Anak-anak itu nggak suka baca map, sukanya ngomong langsung. Tapi, map itu justru jadi pengingat dan bukti, bahwa kita pernah ngomong. Kalau kita ngomong langsung, bilangnya nggak pernah ngomong. Jadi itulah gunanya map sebenarnya.”
(Puspita, Personal Interview, 22 April 2013)

Bila dilihat dari pernyataan kedua informan, bisa ditarik kesimpulan bahwa komunikasi yang dilakukan dari atasan ke bawahan juga mengandalkan media, baik elektronik, cetak, maupun majalah dinding untuk mengkomunikasikan informasi yang ada. Namun, media digunakan sebagai pengulang (redundancy/repeatation) dari komunikasi lisan yang telah dilakukan. Redundancy (repeatation) adalah cara mempengaruhi komunikan dengan jalan mengulang-ulang pesan kepada komunikan. Dengan teknik ini komunikan akan lebih memperhatikan pesan itu daripada pesan yang tidak diulang.

Dari data yang peneliti temukan, ada beberapa macam media yang dipakai untuk mengkomunikasikan pesan dari atasan ke bawahan. Yakni, job description, hand book, map, papan pengumuman, surat tertulis, dan memo. Untuk mencapai keseragaman, efesiensi dan efektivitas kerja sesuai yang diharapkan DetEksi Jawa Pos menggunakan media job description yang mengatur pembagian kerja masing-masing karyawan yang meliputi wewenang dan tugas yang harus dikerjakan.

Selain itu, DetEksi Jawa Pos juga menyediakan handbook (buku pedoman), khususnya untuk penulis/reporter DetEksi Jawa Pos. Handbook yang berjudul Satu Kata Jawa Pos tersebut digunakan sebagai pedoman penulis/reporter untuk menulis dengan kalimat yang sesuai EYD dan kesepakatan yang telah disepakati DetEksi Jawa Pos bersama Jawa Pos. Tujuannya, agar penulisan kata yang digunakan menjadi seragam dan sesuai dengan pakem yang ada.

Pada DetEksi Jawa Pos, map penulis dan surveyor ibaratnya adalah nyawa bagi penulis dan surveyor. Meskipun terkesan sederhana, map justru menjadi “kitab suci” yang sangat dibutuhkan baik oleh atasan maupun bawahan. Baik map surveyor maupun map penulis berisikan info-info penting mengenai tugas karyawan. Oleh karena itu kehilangan map sama saja kehilangan informasi penting. Selain berfungsi sebagai media penyalur informasi-informasi penting, map juga berfungsi untuk menciptakan suasana akrab, menggantikan posisi majalah internal organisasi. Di dalam map juga berisikan candaan-candaan lucu, bahkan gosip-gosip terbaru tentang karyawan.

Baik map penulis maupun surveyor dibuat sekreatif mungkin agar bisa menarik perhatian karyawan. Dari segi bahasa hingga layout juga dibuat semenarik mungkin. Wilbur Schramm mengemukakan apa yang disebut dengan Availability (mudahnya diperoleh) dan Contrast (kontras) kedua hal ini adalah menyangkut dengan penggunaan tanda-tanda komunikasi (sign of communication) dan penggunaan medium (Arifin 1994, p.72).

Sama halnya dengan map penulis, papan informasi sebagai media penyampai pesan secara tertulis juga dibuat fun. Biasanya informasi yang ditempel pada papan informasi menyangkut kepentingan seluruh karyawan, bukan per devisi. Bila map dan handbook hanya diperuntukkan untuk devisi-devisi tertentu, papan informasi ditujukan untuk umum. Biasanya papan informasi banyak berisikan foto-foto lucu hasil editan anak grafis atas perintah atasan dan kejadian-kejadian konyol para kru. Pun tidak jarang ditemukan gosip-gosip beredar di papan informasi.

Metode tulisan yang digunakan atasan DetEksi Jawa Pos dalam menginformasikan pesan yaitu dalam bentuk surat. Biasanya penyampaian pesan dengan cara ini menyangkut persoalan kinerja individu, yakni berupa rapor bulanan, atau bisa juga berupa pemberitahuan sesuatu yang bersifat rahasia seperti password komputer dan kode telepon.

Pesan tertulis lainnya yang bersifat personal adalah memo. Biasanya atasan akan membuat memo yang ditempelkan di meja bawahan yang diberikan instruksi. Isi memo biasanya bersifat individual yang hanya berisikan instruksi pekerjaan satu orang saja, bukan bersifat umum. Informasi yang bersifat umum biasanya ditempelkan di papan informasi dan map.

Selain budaya yang ada di dalam organisasi, pimpinan juga tidak boleh melupakan budaya eksternal yang sedang berkembang (Solomon 1999), termasuk perkembangan teknologi informasi. Dewasa ini, budaya berkomunikasi sangat mengapresiasi komunikasi verbal yang terintegrasi dengan teknologi informasi. Jejaring sosial merupakan teknologi komunikasi terkini yang sudah melekat pada generasi muda.

Mahesa menyampaikan bahwa saat ini DetEksi tidak bisa lepas menggunakan media sebagai sarana untuk menyebarkan informasi ke bawahan. Terlebih penggunaan jejaring sosial (twitter) dan fasilitas chat room seperti Line, BBM, dan Whatsapp.

“Disadari sih jejaring sosial gitu kan bikin anak susah ngobrol di dunia nyatanya. Mereka justru banyak apa ya...rame gitu kan di media sosial. Tiap malam sukanya nge-tweet, main FB. Nah, kita yang semuanya anak muda ya pastinya nggak bisa ya apatis dengan media seperti itu. Kadang ya komunikasi berlanjut melalui media-media seperti itu, meskipun kita tetep menomorsatukan ngobrol langsung”
(Mahesa, Personal Interview, 22 April 2013)

Media elektronik berupa SMS, telepon hingga email, jejaring sosial seperti twitter serta chat room di BBM dan line memang tidak bisa ditinggalkan. Dengan menggunakan media-media tersebut proses komunikasi dapat menjadi lebih mudah dan cepat. 

Strategi Komunikasi dari Bawahan ke Atasan (Upward Communication)
Komunikasi ke atas merupakan sumber informasi yang penting dalam membuat keputusan, karena dengan adanya komunikasi ini pimpinan dapat mengetahui bagaimana pendapat bawahan mengenai atasan, mengenai pekerjaan mereka, mengenai teman-temannya yang sama bekerja dan mengenai organisasi. Karena pentingnya komunikasi tersebut maka organisasi perlu memprogramnya.

Namun, terkadang komunikasi ke atas lebih sulit dibandingkan komunikasi ke bawah. Hal tersebut dikemukakan Sharma pada 1979 (dikutip oleh Pace & Faules, 2005). Ada empat alasan yang mendasari mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit. Pertama, adanya kecenderungan pegawai menyembunyikan pikiran mereka. Kedua, pegawai cenderung melihat atasan tidak akan tertarik dengan masalah yang sedang mereka hadapi. Selanjutnya, seringkali atasan tidak berhasil memberi penghargaan kepada pegawai yang telah melakukan komunikasi ke atas. Terakhir, adanya perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai.

Hal seperti itu dirasakan benar oleh Riza, editor DetEksi Jawa Pos saat akan proving atau menyampaikan sesuatu kepada atasan.

“Ya gimana ya. pekerjaan itu kayak numpuk. Tapi kadang aku simpen sendiri, nggak berani deh ngeluh. Ntar kalau ngeluh dibilangnya kerjaanku ngeluh terus tiap hari. Jadi ya mending disimpan aja. Paling juga seringnya ngomongin soal provingan halaman, mau dibawa ke mana tema halamannya. Gitu aja sih.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Bawahan merasa dirinya tidak memiliki kuasa untuk menyampaikan sesuatu kepada atasan. Kalaupun ada, itupun adalah sesuatu yang mereka terima dari sesama karyawan. Riza juga menyebutkan bahwa dirinya kesulitan untuk berkomunikasi ke atas karena alasan adanya perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai. 

“emmmm...tanya soal tugas kita gitu ya. kalau ada yang aku ngerti ya aku tanya. Tapi, kadang kalau punya ide ya ngomong aja sih. Seringnya sih nggak diterima, katanya idenya udah sering dan jadul. Hahahaha. Kalau nggak gitu ya ngasih ide, kan lewat ide polling.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Dari beberapa kendala komunikasi yang dialami bawahan untuk mengkomunikasikan pesan kepada atasan tersebut, maka tidak dipungkiri bawahan DetEksi Jawa Pos memiliki strategi khusus untuk mengkomunikasikan pesan kepada atasannya terutama dalam hal penyampaian ide.

“Walah, kalau ngomongin strategi sih iya lah ya. Misalnya nih, pas mau proving halaman gitu. Biar diterima biasanya aku bikin strategi khusus. Ya kayak lihat sitkon, mau proving ke siapa dan apa yang di-proving. Biasanya sih ngulang-ngulang bahan juga bisa bikin provingan kita diiyain, hehehe.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Menurut penelitian sebelumnya (Muhammad 2009), ada lima hal yang mempengaruhi efektivitas komunikasi ke atas. Dua di antaranya adalah, pesan haruslah mendukung kebijaksanaan yang baru dan pesan memiliki daya tarik untuk kemajuan organisasi ke depannya. Permasalahan yang menjadi poin penting dalam hal ini adalah bagaimana bawahan mengemas pesan jika nyatanya komunikasi ke atas dirasa sangat sulit. Riza menyatakan bahwa dia selalu mengkomunikasikan pesan langsung kepada komunikasi yang menangani pesan itu secara langsung. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Muhammad (2009, p.119) bahawa komunikasi ke atas akan lebih efektif jika komunikasi itu langsung kepada penerima yang dapat berbuat mengenai hal itu.

“apa ya? untungnya sih sekarang kayaknya lebih mudah gitu. Tahu harus ke mana ngomongnya. Kalau aku ada masalah sama even, aku ngomong sama mas Arthur, halaman ke Mbak Pus yang lebih ngerti.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Kemudahan untuk mengetahui sasaran komunikan juga dirasakan Ivan.
“Lebih mudah sekarang. Jadi ngerti mau ke mana ngomongnya.Dulu lak seringnya dilempar-lempar.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Cara penyampaian pesan dari bawahan ke atasan pun berbeda dengan cara penyampaian pesan yang dilakukan atasan ke bawahan. Bila, atasan menggunakan media sebagai teknik redundancy atau pengulang dari informasi sebelumnya, bawahan justru jarang menggunakan media untuk berinteraksi dengan atasan. Kalaupun ada itu juga untuk bertanya, bukan untuk mengulang informasi yang diberikan bawahan ke atasan. 


“Kalau aku sendiri sih mending ngomong langsung ya. Tapi anak-anak juga biasanya gitu sih ya. Kalau lewat media mereka jarang ngeh. Jadi ya enakan ngomong langsung. Habis ngomong yaudah selesei. Kalau SMS palingan tanya yang kurang ngerti atau kalau ada kendala gitu. Tapi paling sering sih ngomong langsung.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Planty dan Machaver (Pace & Faules 2005) bahwa metode yang paling efektif dari komunikasi ke atas adalah kontak tatap muka sehari-hari dan percakapan di antara supervisor dan bawahan. Komunikasi tatap muka yang dilakukan bawahan paling sering terjadi pada saat rapat mingguan maupun rapat tim. Rapat memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, baik dari atasan ke bawahan maupun bawahan ke atasan.

“Paling intens ngobrol ya pas rapat koordinasi. Tapi di luar itu ya kadang sering juga sih, tapi yang diomongin cuma ya yang simpel-simpel aja.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Berdasarkan media yang dipakai oleh bawahan untuk mengkomunikasikan pesan ke atasan juga tidak sebanyak seperti informasi yang diberikan atasan ke bawahan. Sebab, bawahan lebih banyak menggunakan komunikasi oral secara tatap langsung. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan kesempatan bawahan untuk berkomunikasi melalui media, seperti line, wassap, twitter, sms, telepon, dan email.

“Kalau ngomong pakek media sih paling ya telepon, sms, email. Kebanyakan media elektronik”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Sebagai editor, Riza mengaku lebih sering menggunakan media email dibanding media lainnya untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada atasan. Dia mengaku jarang menggunakan media yang disediakan oleh DetEksi.

“Email itu cepet. Sebenernya kan memang kita disuruh corat-coret map ya, tapi nggak tau ya aku kok males. Rata-rata emang map cuma dibuat baca tugas hari itu apa. Gitu doang sih.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Dari pengamatan peneliti, pihak bawahan DetEksi Jawa Pos memang jarang menggunakan media untuk mengkomunikasikan sesuatu pada atasan. Sebagai contoh, papan informasi yang ada sebenarnya bukan hanya diperuntukkan untuk atasan saja, namun pihak bawahan pun dapat ikut serta untuk menempelkan informasi di sana. Namun sejauh ini hanya pihak atasan saja yang menuliskan pesan atau informasi di papan informasi.

Selain itu, untuk teknik penyampaian pesannya, bawahan lebih sering menggunakan metode canalizing, yakni suatu cara yang dilakukan oleh komunikator dengan mengetahui terlebih dahulu tentang referensi/pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki komunikannya, kemudian komunikator menyusun pesan dan metode yang sesuai dengan itu. Agar komunikan dapat menerima pesan yang disampaikan komunikator dan kemudian perlahan-lahan komunikator merubah pola pikir dan sikap komunikan pada arah yang dikehendaki komunikator.

Metode seperti itu sering dilakukan oleh bawahan kepada atasan DetEksi Jawa Pos, terlebih saat proses proving. Mereka menggunakan metode canalizing, mengenali terlebih dahulu atasan mana yang akan dimintai provingan.

“Lihat-lihat lah gitu. Kalau Mbak Puspita ya aku kudu nyari yang suangar, yang bener-bener fantastis. Dia kan di musik, dia sukanya musik yang apa ya famoust gitu lah, yang anak muda banget. Beda kalau aku harus proving Science ke Indri. Aku harus nyari bahan yang unik yang lucu.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Ditanya soal efek yang dirasakan, Riza dan Ivan sepakat bahwa dengan merencanakan pesan sebelum diutarakan ke atasan akan membawa dampak yang baik. Misalnya, dalam mengkomunikasikan ide-ide.

“Mas-mas Mbak-mbak kan ngasih kita kerjaan. Ya, kita biar nggak kena marah dan bisa dapet reward ya harus bisa bagus-bagus tuh nyusus strategi ke mereka. Kalu pengin jadi surveyor of the month, ya harus bisa nunjukin kalau kerjaannya beres. Duh, yak apa ya jelasinnya. Pokoknya intinya saling apa itu to be continue gitu lah, orang-orang atas dan bawah.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Maksud dari Ivan adalah secara tidak langsung komunikasi ke atas adalah feedback dari adanya komunikasi ke bawah. Dengan adanya komunikasi ke atas pimpinan dapat memperkuat peralatan untuk merekam ide-ide dan bantuan dari bawahannya. Hal ini membantu pimpinan memperoleh jawaban yang lebih baik mengenai masalah-masalah mereka dan tanggung jawab mereka. Dengan terbukanya komunikasi ke atas, pimpinan dapat membantu arus dan penerimaan komunikasi ke bawah.

KESIMPULAN
Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis oleh peneliti, strategi komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan DetEksi Jawa Pos dapat disimpulkan sebagai berikut:

Strategi komunikasi yang dilakukan atasan (Supervisor) DetEksi Jawa Pos kepada pihak bawahan (Para Koordinator dan Editor) dalam mengkomunikasikan pesan pada pembuatan rubrik polling, ada beberapa kesimpulan. Pertama, saat memberikan informasi atau pesan yang meliputi instruksi tugas supervisor DetEksi Jawa Pos menggunakan teknik redundancy, yaitu mengulang pesan yang telah disampaikan. Supervisor DetEksi Jawa Pos mengutamakan komunikasi oral secara tatap muka. Namun, karena sifat karyawan yang kurang tanggap dan, akhirnya atasan DetEksi Jawa Pos menggunakan media komunikasi untuk mengulang (repeatatiom/redundancy). Selain itu, dalam menyalurkan pesannya pihak supervisor DetEksi Jawa Pos menggabungkan komunikasi formal dan informal sekaligus.

Kedua, supervisor DetEksi Jawa Pos menggunakan sejumlah media untuk melancarkan komunikasi dengan bawahan, yakni melipuri media secara lisan, gambar dan tulisan. Media lisan secara langsung yang digunakan berupa rapat mingguan dan rapat per tim. Sedangkan media lisan secara tak langsung menggunakan telepon genggam. Supervisor DetEksi Jawa Pos menggabungkan media lisan dengan media tulisan dan gambar. Yaitu, berupa job description, hand book, map, papan pengumuman, surat tertulis, dan memo. 

Sedangkan strategi komunikasi yang dilakukan pihak bawahan DetEksi Jawa Pos (Para Koordinator dan Editor) kepada pihak atasan (Supervisor) dalam mengkomunikasikan pesan pada pembuatan rubrik polling, ada beberapa kesimpulan.dalam mengkomunikasikan pesan pada pembuatan rubrik polling.

Pertama, bawahan mengandalkan komunikasi lisan secara langsung dan menggunakan teknik canalizing. Yakni suatu cara yang dilakukan oleh komunikator dengan mengetahui terlebih dahulu referensi/pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki komunikannya, kemudian komunikator menyusun pesan dan metode yang sesuai dengan itu. Agar komunikan dapat menerima pesan yang disampaikan komunikator dan kemudian perlahan-lahan komunikator merubah pola pikir dan sikap komunikan pada arah yang dikehendaki komunikator. Berbeda dengan pihak supervisor, pihak bawahan DetEksi Jawa Pos jarang menggunakan media sebagai perantara penyalur pesan. Kalaupun ada media tersebut hanya digunakan sesekali. Yakni, paling banyak menggunakan media elektronik berupa telepon genggam dan email.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Anwar. 1994, Strategi Komunikasi, CV Amrico, Bandung.

Bowman, Edward H, Harbir Singh. 1999, Corporate Restructuring: Trends and Consequences, Wharton School, Pennsylvania.

Cahayani, A. 2003, Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen, Grasindo, Jakarta.

Luthans, Fred. 2006, Organizational Behavior, Mc Graw-Hill, New York.

Muhammad, Arni. 2009, Komunikasi Organisasi, 11th edn, Bumi Aksara, Jakarta.

Pace, R. Wayne & Faules, Don, F. 2005, Komunikasi Organisasi: Strategi Mengingkatkan Kinerja Perusahaan, 4th edn, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Effendy, Onong Uchjana. 2006, Teori dan Praktik Ilmu Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Husnan, Suad, Enny Pudjiastut. 2004, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, 4th edn, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Miller, Katherine. 2006, Organizational Communication: Approaches and Processes, 4th edn, Thomson Wadsworth, California.
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson