Tampilkan postingan dengan label Komputer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komputer. Tampilkan semua postingan

Strategi Komunikasi Organisasi antara Atasan dan Bawahan

Strategi Komunikasi Organisasi antara Atasan dan Bawahan 
PENDAHULUAN
Penelitian ini hendak mendeskripsikan strategi komunikasi organisasi pasca terjadinya restrukturisasi manajemen pada DetEksi Jawa Pos. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2013 yang bertepatan dengan satu tahun restrukturisasi manajemen yang dilakukan DetEksi Jawa Pos. Fenomena ini dirasa penting oleh peneliti karena di berbagai penelitian yang ada, menyebutkan bahwa komunikasi merupakan faktor terpenting bagi organisasi dalam mendapatkan informasi. Muhammad (2009, p.1) menyebutkan bahwa ‘Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan lancar dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat macet atau berantakan’.

Kegagalan dalam organisasi banyak yang disebabkan oleh kurang tertatanya komunikasi yang dilakukan para pelaku di organisasi tersebut. Seperti yang dikatakan penelitian sebelumnya (Luthans 2006) bahwa komunikasi yang tidak efektif adalah akar utama permasalahan dalam organisasi. Masih menurut Luthans, komunikasi yang efektif antara atasan dan bawahan menjadi faktor penting bagi pencapaian tujuan suatu organisasi. 

Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti komunikasi atasan ke bawahan (downward communication) dan komunikasi bawahan ke atasan (upward communication). Dua arah komunikasi atas-bawah dan bawah-atas sangat penting untuk mencapai keberhasilan tujuan mensolusi persoalan yang menjadi perhatian organisasi. Melihat pentingnya komunikasi dalam organisasi tersebut tentunya tidak luput dari bagaimana komunikasi itu di-maintain dalam suatu strategi. Pada kenyataannya strategi komunikasi diperlukan untuk kelancaran arus komunikasi dalam suatu organisasi. Dalam bukunya, Pace & Faules (2005, p.170) mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam komunikasi organisasi adalah bagaimana menyampaikan informasi ke seluruh bagian organisasi dan bagaimana menerima informasi dari seluruh bagian organisasi.

Menurut Effendy (2006, p.135) strategi komunikasi adalah metode atau langkah-langkah yang diambil untuk keberhasilan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat dan perilaku, baik secara langsung (lisan) maupun tidak langsung melalui media. Sehingga dapat dikatakan strategi komunikasi adalah metode atau langkah-langkah yang diambil untuk keberhasilan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat dan perilaku, baik secara langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media untuk mencapai suatu tujuan. 

Melihat hal tersebut, salah satu organisasi yang menyadari pentingnya strategi komunikasi sebagai penentu efektifitas pengembangan suatu organisasi adalah DetEksi Jawa Pos. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang media cetak anak muda (dikerjakan oleh dan ditujukan untuk anak muda), DetEksi Jawa Pos dituntut untuk menghasilkan halaman-halaman yang kreatif dan inovatif. Sebelum memenuhi tuntutan pasar tersebut, DetEksi Jawa Pos menyadari pentingnya komunikasi dalam tubuh internalnya. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut DetEksi Jawa Pos melakukan perubahan dalam tubuh internalnya, yaitu dengan jalan restrukturisasi pada manajemennya. Tepatnya pada Februari 2012 terjadi penyusunan ulang struktur organisasi dan pembagian kerja pada DetEksi Jawa Pos.

Adapun pengertian restrukturisasi organisasi menurut Husnan dan Pudjiastuti (2004, p.401) adalah suatu kegiatan untuk merubah struktur perusahaan sebagai upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan suatu perusahaan agar dapat beroperasi secara efisien, transparan, dan profesional. Berdasarkan hasil observasi peneliti, terdapat tiga alasan terjadinya restrukturisasi pada tubuh DetEksi Jawa Pos. Yaitu, adanya tuntutan pasar, perubahan kondisi perusahaan, dan fleksibilitas manajemen. Hasil observasi yang diperoleh peneliti mengungkapkan, pada penghujung tahun 2009 terjadi transisi besar-besaran pada DetEksi Jawa Pos, yakni berpindahnya sebagian besar kru DetEksi Jawa Pos ke PT DBL Lintas Indonesia. Masa transisi tersebut membawa dampak yang cukup signifikan pada DetEksi Jawa Pos, salah satunya adanya perubahan job desk pada DetEksi Jawa Pos

Akibat dari adanya perubahan tersebut, proses komunikasi yang terjadi pada internal DetEksi Jawa Pos, yaitu komunikasi antara atasan (supervisor) dan bawahan (para koordinator dan editor) menjadi terhambat. Proses komunikasi yang tidak berjalan dengan lancar secara tidak langsung juga berimbas pada produk yang dihasilkan DetEksi Jawa Pos, yaitu terjadinya penurunan kualitas halaman. Menyadari hal tersebut akhirnya founder DetEksi Jawa Pos, Azrul Ananda, memutuskan untuk mengangkat tiga supervisor sekaligus sejak Februari 2012 lalu.

Dari hasil observasi peneliti, sebelum terjadinya restrukturisasi posisi supervisor DetEksi Jawa Pos hanya diduduki oleh dua orang saja, namun melalui restrukturisasi jumlah supervisor dirubah menjadi tiga orang yang memiliki job desk lebih spesifik. Dengan adanya perubahan tersebut beberapa prosedur kerja turut berubah sehingga proses komunikasi pun juga berubah. Yaitu, proses komunikasi antara supervisor dan koordinator serta editor mengalami perubahan dari yang sebelumnya tidak terlalu intens karena job desk yang terbagi antara DetEksi dan DBL, berubah menjadi lebih intens. Dengan adanya komunikasi yang lancar antara supervisor dan karyawan secara tidak langsung membuat cara kerja menjadi lebih baik, pengambilan keputusan lebih cepat, perbaikan bisa dilakukan lebih tepat guna.

Dari adanya perubahan yang terjadi pada tubuh DetEksi Jawa Pos tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti strategi komunikasi antara atasan dan bawahan dalam pembuatan rubrik polling. Proses produksi rubrik polling memakan waktu paling lama jika dibandingkan dengan rubrik di halaman DetEksi lainnya. Mulai proses penyeleksian ide polling, menyebar kuesioner, hingga pengeditan naskahnya, waktu yang diperlukan bisa sampai dua hingga lima bulan. Selain itu, proses produksi rubrik polling melibatkan seluruh pihak manajamen DetEksi Jawa Pos.

Pada penelitian ini, yang dimaksud sebagai atasan adalah supervisor dan pada lini bawahan terdiri dari koordinator umum, koordinator surveyor, koordinator keuangan, koordinator editor, koordinator grafis, dan editor. Alasan peneliti menentukan atasan adalah supervisor karena restrukturisasi yang terjadi pada DetEksi Jawa Pos dilakukan pada lini ini. Penambahan jumlah supervisor dari yang sebelumnya hanya teridiri dari dua posisi, kini berubah menjadi tiga posisi yang lebih spesifik. Selain itu Supervisor merupakan wakil dari manajemen yang memiliki kewenangan penuh dalam berkomunikasi dengan bawahannya termasuk memberi instruksi. Sedangkan pemilihan bawahan yang terdiri dari koordinator umum, koordinator surveyor, koordinator keuangan, koordinator penulis dan kuesioner, koordinator grafis, dan editor dilatarbelakangi oleh pertanggungjawaban posisi-posisi tersebut kepada supervisor secara langsung.

Penelitian ini menjadi unik untuk dikaji, terlebih dilihat dari segi umur karyawan DetEksi Jawa Pos yang masih muda dan berstatus mahasiswa, memiliki perbedaan dan keunikan dibanding organisasi lainnya yang karyawannya tidak memiliki kesibukan lain (tidak kuliah). Contoh dalam lingkup kecil, organisasi DetEksi Jawa Pos memiliki perbedaan dibandingkan dengan karyawan dari kompartemen Jawa Pos lainnya. DetEksi Jawa Pos berhak menentukan kebijakannya sendiri namun tetap di bawah pengawasan tim manajemen Jawa Pos Koran.

Berdasarkan hal-hal tersebut, penelitian mengenai strategi komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan pasca restrukturisasi manajemen pada DetEksi Jawa Pos ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan tipe penelitian deskriptif (descripstion research). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang komprehensif tentang strategi komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan pasca restrukturisasi manajamenen pada DetEksi Jawa Pos di mana peneliti dapat memperoleh data primer melalui hasil observasi langsung dan wawancara secara mendalam (indepth-interview) yang dilakukan kepada pihak DetEksi Jawa Pos dan data sekunder dari pengumpulan arsip, dokumentasi, dan literatur-literatur pendukung.

PEMBAHASAN
Strategi Komunikasi Organisasi dari Atasan ke Bawahan (Downward Communication)
Menurut Gibson, menentukan strategi komunikasi perlu adanya rasa saling saling percaya yang diciptakan antara komunikator dan komunikan. Kalau tidak ada unsur saling mempercayai, komunikasi tidak akan berhasil. Tidak adanya rasa saling percaya akan menghambat komunikasi (Ulbert 2007, p.228).

Sebelum melancarkan proses komunikasi, hal yang harus dilakukan adalah mempelajari siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi atasan. Adapun hal-hal yang perlu diketahui dari komunikan adalah kerangka referensi dan situasi serta kondisi mereka. Dalam hal ini, Indri dan penulis sebagai editor DetEksi Jawa pos sudah mengetahui karakter penulisnya. Begitu juga yang dilakukan oleh Puspita.

“Lihat-lihat penulisnya dulu. Perlakuan buat ngasih instruksi beda-beda. Kalau ke Mut, sekali ngomong hasilnya kebanyakan oke. Beda kalau ke Bibik, harus tahu mood-nya lagi oke nggak. Kalau lagi nggak oke ntar pasti bakal perang ngeyel sama aku. Hahaha. Dan ujung-ujungnya nanti banyak ngeluhnya.”
(Puspita, Personal Interview, 22 April 2013)

Tiap individu memiliki karakter yang berbeda-beda oleh karena itu perlakuan saat memberikan informasi atau pesan juga berbeda-beda. Hal tersebut berlaku bila akan mengomunikasikan secara personal, namun bila secara serentak biasanya diumumkan saat rapat mingguan setiap hari Sabtu atau saat rapat kecil yang berbeda-beda setiap timnya.

Unsur selanjutnya yang menjadi penting adalah bagaimana mengemas pesan atau instruksi tersebut agar ditanggapi oleh komunikan. DetEksi Jawa Pos menyadari bahwa pengemasan pesan akan mempengaruhi penerimaan pesan itu sendiri oleh komunikan, dalam hal ini adalah bawahan. Pada dasarnya sistem komunikasi ke bawah mengandalkan berbagai jenis media cetak dan oral untuk menyebarkan informasi. Beberapa contoh media tertulis menurut Luthans (2006, p.385) berupa buku panduan organisasi, buku petunjuk, majalah, koran, dan surat yang dikirim ke rumah atau dibagikan dalam pekerjaan, item papan pengumuman, poster, dan display informasi; dan laporan standar, deskripsi prosedur, dan memo. 

Informasi dari atasan ke bawahan pada DetEksi Jawa Pos salah satunya mengandalkan komunikasi secara langsung dan tatap muka, biasanya dilakukan pada saat rapat mingguan dan rapat kecil setiap tim. Komunikasi secara lisan secara langsung yang dilakukan atasan ke bawahan DetEksi Jawa Pos dirasa sangat penting untuk dilakukan. Karena komunikasi lisan secara tatap muka akan mempengaruhi sikap dan perilaku bawahan.

Bentuk oral communication yang dilakukan DetEksi Jawa Pos berupa rapat dan koordinasi secara personal. Setiap Sabtu rutin dilaksanakan rapat mingguan yang terdiri dari tiga sesi. Pada pukul 09.00 WIB rapat halaman (reporter/penulis, editor, editor in chief/supervisor halaman, koordinator penulis, dan tim kuesioner); di waktu yang sama namun di ruangan yang berbeda tim fotografer, koordinator grafis, dan tim grafis juga mengadakan rapat sendiri untuk mengkoordinasikan layout halaman. Setelah tim halaman selesai, barulah giliran tim surveyor, koordinator surveyor, supervisor even, tim entry data, dan tim kuesioner melakukan rapat.

Rapat halaman tiap Sabtu bertujuan untuk me-listing halaman rubrik, evaluasi halaman yang terbit seminggu sebelumnya, mengajukan ide polling, dan koordinasi. Suasana rapat pun tidak dibuat serius. Puspita yang merupakan supervisor halaman setiap Sabtu selalu mengevaluasi kinerja karyawan. Salah satunya adalah absensi. Bila, evaluasi yang diberikan tidak terlalu berat, maka cara penyampaiannya pun dilakukan secara santai dan dibuat candaan

Menciptakan suasana rapat yang santai, menurut Mahesa membuat pesan atau informasi yang mau disampaikan menjadi lebih efektif.

“Biar nggak tegang ya. Kita kan anak-anak muda, kalau emmm...rapatnya formal jadinya kan bosan. Guyonan yang fresh meskipun kebanyakan pakek apa itu candaan yang ngeres, hehehe. Justru membuat pikiran jadi kembali ceria. Jadi, biar anak-anak nggak stress dengan tugasnya terus. Penting itu.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Agar tidak bosan dengan rapat yang begitu-begitu saja, sesekali suasana rapat dirubah. Terkadang rapat diadakan di KFC sambil makan atau bahkan dilakukan di salah satu rumah anggota rapat. Selain untuk menjadikan pikiran fresh kembali, kekompakan dan silaturahmi antar karyawan menjadi lebih erat.

“Kalau rapat di rumahnya siapa gitu kan enak, jadi tahu rumahnya, keluarganya. Jadi hubungan anak-anak itu nggak terbatas di lingkup kantor aja. Sama keluarga nantinya kan jadi deket.”
(Mahesa, personal interview, 22 April 2013)

Selain menggunakan komunikasi oral atau lisan, pihak atasan DetEksi Jawa Pos juga menggunakan metode komunikasi tulisan yang juga di-mix dengan gambar. Sesuai dengan hasil penelitian Level 1972 (Pace dan Faules 2006, p.147) yang menunjukkan metode lisan diikuti tulisan yang paling efektif. 

“Anak-anak itu nggak suka baca map, sukanya ngomong langsung. Tapi, map itu justru jadi pengingat dan bukti, bahwa kita pernah ngomong. Kalau kita ngomong langsung, bilangnya nggak pernah ngomong. Jadi itulah gunanya map sebenarnya.”
(Puspita, Personal Interview, 22 April 2013)

Bila dilihat dari pernyataan kedua informan, bisa ditarik kesimpulan bahwa komunikasi yang dilakukan dari atasan ke bawahan juga mengandalkan media, baik elektronik, cetak, maupun majalah dinding untuk mengkomunikasikan informasi yang ada. Namun, media digunakan sebagai pengulang (redundancy/repeatation) dari komunikasi lisan yang telah dilakukan. Redundancy (repeatation) adalah cara mempengaruhi komunikan dengan jalan mengulang-ulang pesan kepada komunikan. Dengan teknik ini komunikan akan lebih memperhatikan pesan itu daripada pesan yang tidak diulang.

Dari data yang peneliti temukan, ada beberapa macam media yang dipakai untuk mengkomunikasikan pesan dari atasan ke bawahan. Yakni, job description, hand book, map, papan pengumuman, surat tertulis, dan memo. Untuk mencapai keseragaman, efesiensi dan efektivitas kerja sesuai yang diharapkan DetEksi Jawa Pos menggunakan media job description yang mengatur pembagian kerja masing-masing karyawan yang meliputi wewenang dan tugas yang harus dikerjakan.

Selain itu, DetEksi Jawa Pos juga menyediakan handbook (buku pedoman), khususnya untuk penulis/reporter DetEksi Jawa Pos. Handbook yang berjudul Satu Kata Jawa Pos tersebut digunakan sebagai pedoman penulis/reporter untuk menulis dengan kalimat yang sesuai EYD dan kesepakatan yang telah disepakati DetEksi Jawa Pos bersama Jawa Pos. Tujuannya, agar penulisan kata yang digunakan menjadi seragam dan sesuai dengan pakem yang ada.

Pada DetEksi Jawa Pos, map penulis dan surveyor ibaratnya adalah nyawa bagi penulis dan surveyor. Meskipun terkesan sederhana, map justru menjadi “kitab suci” yang sangat dibutuhkan baik oleh atasan maupun bawahan. Baik map surveyor maupun map penulis berisikan info-info penting mengenai tugas karyawan. Oleh karena itu kehilangan map sama saja kehilangan informasi penting. Selain berfungsi sebagai media penyalur informasi-informasi penting, map juga berfungsi untuk menciptakan suasana akrab, menggantikan posisi majalah internal organisasi. Di dalam map juga berisikan candaan-candaan lucu, bahkan gosip-gosip terbaru tentang karyawan.

Baik map penulis maupun surveyor dibuat sekreatif mungkin agar bisa menarik perhatian karyawan. Dari segi bahasa hingga layout juga dibuat semenarik mungkin. Wilbur Schramm mengemukakan apa yang disebut dengan Availability (mudahnya diperoleh) dan Contrast (kontras) kedua hal ini adalah menyangkut dengan penggunaan tanda-tanda komunikasi (sign of communication) dan penggunaan medium (Arifin 1994, p.72).

Sama halnya dengan map penulis, papan informasi sebagai media penyampai pesan secara tertulis juga dibuat fun. Biasanya informasi yang ditempel pada papan informasi menyangkut kepentingan seluruh karyawan, bukan per devisi. Bila map dan handbook hanya diperuntukkan untuk devisi-devisi tertentu, papan informasi ditujukan untuk umum. Biasanya papan informasi banyak berisikan foto-foto lucu hasil editan anak grafis atas perintah atasan dan kejadian-kejadian konyol para kru. Pun tidak jarang ditemukan gosip-gosip beredar di papan informasi.

Metode tulisan yang digunakan atasan DetEksi Jawa Pos dalam menginformasikan pesan yaitu dalam bentuk surat. Biasanya penyampaian pesan dengan cara ini menyangkut persoalan kinerja individu, yakni berupa rapor bulanan, atau bisa juga berupa pemberitahuan sesuatu yang bersifat rahasia seperti password komputer dan kode telepon.

Pesan tertulis lainnya yang bersifat personal adalah memo. Biasanya atasan akan membuat memo yang ditempelkan di meja bawahan yang diberikan instruksi. Isi memo biasanya bersifat individual yang hanya berisikan instruksi pekerjaan satu orang saja, bukan bersifat umum. Informasi yang bersifat umum biasanya ditempelkan di papan informasi dan map.

Selain budaya yang ada di dalam organisasi, pimpinan juga tidak boleh melupakan budaya eksternal yang sedang berkembang (Solomon 1999), termasuk perkembangan teknologi informasi. Dewasa ini, budaya berkomunikasi sangat mengapresiasi komunikasi verbal yang terintegrasi dengan teknologi informasi. Jejaring sosial merupakan teknologi komunikasi terkini yang sudah melekat pada generasi muda.

Mahesa menyampaikan bahwa saat ini DetEksi tidak bisa lepas menggunakan media sebagai sarana untuk menyebarkan informasi ke bawahan. Terlebih penggunaan jejaring sosial (twitter) dan fasilitas chat room seperti Line, BBM, dan Whatsapp.

“Disadari sih jejaring sosial gitu kan bikin anak susah ngobrol di dunia nyatanya. Mereka justru banyak apa ya...rame gitu kan di media sosial. Tiap malam sukanya nge-tweet, main FB. Nah, kita yang semuanya anak muda ya pastinya nggak bisa ya apatis dengan media seperti itu. Kadang ya komunikasi berlanjut melalui media-media seperti itu, meskipun kita tetep menomorsatukan ngobrol langsung”
(Mahesa, Personal Interview, 22 April 2013)

Media elektronik berupa SMS, telepon hingga email, jejaring sosial seperti twitter serta chat room di BBM dan line memang tidak bisa ditinggalkan. Dengan menggunakan media-media tersebut proses komunikasi dapat menjadi lebih mudah dan cepat. 

Strategi Komunikasi dari Bawahan ke Atasan (Upward Communication)
Komunikasi ke atas merupakan sumber informasi yang penting dalam membuat keputusan, karena dengan adanya komunikasi ini pimpinan dapat mengetahui bagaimana pendapat bawahan mengenai atasan, mengenai pekerjaan mereka, mengenai teman-temannya yang sama bekerja dan mengenai organisasi. Karena pentingnya komunikasi tersebut maka organisasi perlu memprogramnya.

Namun, terkadang komunikasi ke atas lebih sulit dibandingkan komunikasi ke bawah. Hal tersebut dikemukakan Sharma pada 1979 (dikutip oleh Pace & Faules, 2005). Ada empat alasan yang mendasari mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit. Pertama, adanya kecenderungan pegawai menyembunyikan pikiran mereka. Kedua, pegawai cenderung melihat atasan tidak akan tertarik dengan masalah yang sedang mereka hadapi. Selanjutnya, seringkali atasan tidak berhasil memberi penghargaan kepada pegawai yang telah melakukan komunikasi ke atas. Terakhir, adanya perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai.

Hal seperti itu dirasakan benar oleh Riza, editor DetEksi Jawa Pos saat akan proving atau menyampaikan sesuatu kepada atasan.

“Ya gimana ya. pekerjaan itu kayak numpuk. Tapi kadang aku simpen sendiri, nggak berani deh ngeluh. Ntar kalau ngeluh dibilangnya kerjaanku ngeluh terus tiap hari. Jadi ya mending disimpan aja. Paling juga seringnya ngomongin soal provingan halaman, mau dibawa ke mana tema halamannya. Gitu aja sih.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Bawahan merasa dirinya tidak memiliki kuasa untuk menyampaikan sesuatu kepada atasan. Kalaupun ada, itupun adalah sesuatu yang mereka terima dari sesama karyawan. Riza juga menyebutkan bahwa dirinya kesulitan untuk berkomunikasi ke atas karena alasan adanya perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai. 

“emmmm...tanya soal tugas kita gitu ya. kalau ada yang aku ngerti ya aku tanya. Tapi, kadang kalau punya ide ya ngomong aja sih. Seringnya sih nggak diterima, katanya idenya udah sering dan jadul. Hahahaha. Kalau nggak gitu ya ngasih ide, kan lewat ide polling.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Dari beberapa kendala komunikasi yang dialami bawahan untuk mengkomunikasikan pesan kepada atasan tersebut, maka tidak dipungkiri bawahan DetEksi Jawa Pos memiliki strategi khusus untuk mengkomunikasikan pesan kepada atasannya terutama dalam hal penyampaian ide.

“Walah, kalau ngomongin strategi sih iya lah ya. Misalnya nih, pas mau proving halaman gitu. Biar diterima biasanya aku bikin strategi khusus. Ya kayak lihat sitkon, mau proving ke siapa dan apa yang di-proving. Biasanya sih ngulang-ngulang bahan juga bisa bikin provingan kita diiyain, hehehe.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Menurut penelitian sebelumnya (Muhammad 2009), ada lima hal yang mempengaruhi efektivitas komunikasi ke atas. Dua di antaranya adalah, pesan haruslah mendukung kebijaksanaan yang baru dan pesan memiliki daya tarik untuk kemajuan organisasi ke depannya. Permasalahan yang menjadi poin penting dalam hal ini adalah bagaimana bawahan mengemas pesan jika nyatanya komunikasi ke atas dirasa sangat sulit. Riza menyatakan bahwa dia selalu mengkomunikasikan pesan langsung kepada komunikasi yang menangani pesan itu secara langsung. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Muhammad (2009, p.119) bahawa komunikasi ke atas akan lebih efektif jika komunikasi itu langsung kepada penerima yang dapat berbuat mengenai hal itu.

“apa ya? untungnya sih sekarang kayaknya lebih mudah gitu. Tahu harus ke mana ngomongnya. Kalau aku ada masalah sama even, aku ngomong sama mas Arthur, halaman ke Mbak Pus yang lebih ngerti.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Kemudahan untuk mengetahui sasaran komunikan juga dirasakan Ivan.
“Lebih mudah sekarang. Jadi ngerti mau ke mana ngomongnya.Dulu lak seringnya dilempar-lempar.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Cara penyampaian pesan dari bawahan ke atasan pun berbeda dengan cara penyampaian pesan yang dilakukan atasan ke bawahan. Bila, atasan menggunakan media sebagai teknik redundancy atau pengulang dari informasi sebelumnya, bawahan justru jarang menggunakan media untuk berinteraksi dengan atasan. Kalaupun ada itu juga untuk bertanya, bukan untuk mengulang informasi yang diberikan bawahan ke atasan. 


“Kalau aku sendiri sih mending ngomong langsung ya. Tapi anak-anak juga biasanya gitu sih ya. Kalau lewat media mereka jarang ngeh. Jadi ya enakan ngomong langsung. Habis ngomong yaudah selesei. Kalau SMS palingan tanya yang kurang ngerti atau kalau ada kendala gitu. Tapi paling sering sih ngomong langsung.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Planty dan Machaver (Pace & Faules 2005) bahwa metode yang paling efektif dari komunikasi ke atas adalah kontak tatap muka sehari-hari dan percakapan di antara supervisor dan bawahan. Komunikasi tatap muka yang dilakukan bawahan paling sering terjadi pada saat rapat mingguan maupun rapat tim. Rapat memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, baik dari atasan ke bawahan maupun bawahan ke atasan.

“Paling intens ngobrol ya pas rapat koordinasi. Tapi di luar itu ya kadang sering juga sih, tapi yang diomongin cuma ya yang simpel-simpel aja.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Berdasarkan media yang dipakai oleh bawahan untuk mengkomunikasikan pesan ke atasan juga tidak sebanyak seperti informasi yang diberikan atasan ke bawahan. Sebab, bawahan lebih banyak menggunakan komunikasi oral secara tatap langsung. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan kesempatan bawahan untuk berkomunikasi melalui media, seperti line, wassap, twitter, sms, telepon, dan email.

“Kalau ngomong pakek media sih paling ya telepon, sms, email. Kebanyakan media elektronik”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Sebagai editor, Riza mengaku lebih sering menggunakan media email dibanding media lainnya untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada atasan. Dia mengaku jarang menggunakan media yang disediakan oleh DetEksi.

“Email itu cepet. Sebenernya kan memang kita disuruh corat-coret map ya, tapi nggak tau ya aku kok males. Rata-rata emang map cuma dibuat baca tugas hari itu apa. Gitu doang sih.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Dari pengamatan peneliti, pihak bawahan DetEksi Jawa Pos memang jarang menggunakan media untuk mengkomunikasikan sesuatu pada atasan. Sebagai contoh, papan informasi yang ada sebenarnya bukan hanya diperuntukkan untuk atasan saja, namun pihak bawahan pun dapat ikut serta untuk menempelkan informasi di sana. Namun sejauh ini hanya pihak atasan saja yang menuliskan pesan atau informasi di papan informasi.

Selain itu, untuk teknik penyampaian pesannya, bawahan lebih sering menggunakan metode canalizing, yakni suatu cara yang dilakukan oleh komunikator dengan mengetahui terlebih dahulu tentang referensi/pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki komunikannya, kemudian komunikator menyusun pesan dan metode yang sesuai dengan itu. Agar komunikan dapat menerima pesan yang disampaikan komunikator dan kemudian perlahan-lahan komunikator merubah pola pikir dan sikap komunikan pada arah yang dikehendaki komunikator.

Metode seperti itu sering dilakukan oleh bawahan kepada atasan DetEksi Jawa Pos, terlebih saat proses proving. Mereka menggunakan metode canalizing, mengenali terlebih dahulu atasan mana yang akan dimintai provingan.

“Lihat-lihat lah gitu. Kalau Mbak Puspita ya aku kudu nyari yang suangar, yang bener-bener fantastis. Dia kan di musik, dia sukanya musik yang apa ya famoust gitu lah, yang anak muda banget. Beda kalau aku harus proving Science ke Indri. Aku harus nyari bahan yang unik yang lucu.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Ditanya soal efek yang dirasakan, Riza dan Ivan sepakat bahwa dengan merencanakan pesan sebelum diutarakan ke atasan akan membawa dampak yang baik. Misalnya, dalam mengkomunikasikan ide-ide.

“Mas-mas Mbak-mbak kan ngasih kita kerjaan. Ya, kita biar nggak kena marah dan bisa dapet reward ya harus bisa bagus-bagus tuh nyusus strategi ke mereka. Kalu pengin jadi surveyor of the month, ya harus bisa nunjukin kalau kerjaannya beres. Duh, yak apa ya jelasinnya. Pokoknya intinya saling apa itu to be continue gitu lah, orang-orang atas dan bawah.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Maksud dari Ivan adalah secara tidak langsung komunikasi ke atas adalah feedback dari adanya komunikasi ke bawah. Dengan adanya komunikasi ke atas pimpinan dapat memperkuat peralatan untuk merekam ide-ide dan bantuan dari bawahannya. Hal ini membantu pimpinan memperoleh jawaban yang lebih baik mengenai masalah-masalah mereka dan tanggung jawab mereka. Dengan terbukanya komunikasi ke atas, pimpinan dapat membantu arus dan penerimaan komunikasi ke bawah.

KESIMPULAN
Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis oleh peneliti, strategi komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan DetEksi Jawa Pos dapat disimpulkan sebagai berikut:

Strategi komunikasi yang dilakukan atasan (Supervisor) DetEksi Jawa Pos kepada pihak bawahan (Para Koordinator dan Editor) dalam mengkomunikasikan pesan pada pembuatan rubrik polling, ada beberapa kesimpulan. Pertama, saat memberikan informasi atau pesan yang meliputi instruksi tugas supervisor DetEksi Jawa Pos menggunakan teknik redundancy, yaitu mengulang pesan yang telah disampaikan. Supervisor DetEksi Jawa Pos mengutamakan komunikasi oral secara tatap muka. Namun, karena sifat karyawan yang kurang tanggap dan, akhirnya atasan DetEksi Jawa Pos menggunakan media komunikasi untuk mengulang (repeatatiom/redundancy). Selain itu, dalam menyalurkan pesannya pihak supervisor DetEksi Jawa Pos menggabungkan komunikasi formal dan informal sekaligus.

Kedua, supervisor DetEksi Jawa Pos menggunakan sejumlah media untuk melancarkan komunikasi dengan bawahan, yakni melipuri media secara lisan, gambar dan tulisan. Media lisan secara langsung yang digunakan berupa rapat mingguan dan rapat per tim. Sedangkan media lisan secara tak langsung menggunakan telepon genggam. Supervisor DetEksi Jawa Pos menggabungkan media lisan dengan media tulisan dan gambar. Yaitu, berupa job description, hand book, map, papan pengumuman, surat tertulis, dan memo. 

Sedangkan strategi komunikasi yang dilakukan pihak bawahan DetEksi Jawa Pos (Para Koordinator dan Editor) kepada pihak atasan (Supervisor) dalam mengkomunikasikan pesan pada pembuatan rubrik polling, ada beberapa kesimpulan.dalam mengkomunikasikan pesan pada pembuatan rubrik polling.

Pertama, bawahan mengandalkan komunikasi lisan secara langsung dan menggunakan teknik canalizing. Yakni suatu cara yang dilakukan oleh komunikator dengan mengetahui terlebih dahulu referensi/pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki komunikannya, kemudian komunikator menyusun pesan dan metode yang sesuai dengan itu. Agar komunikan dapat menerima pesan yang disampaikan komunikator dan kemudian perlahan-lahan komunikator merubah pola pikir dan sikap komunikan pada arah yang dikehendaki komunikator. Berbeda dengan pihak supervisor, pihak bawahan DetEksi Jawa Pos jarang menggunakan media sebagai perantara penyalur pesan. Kalaupun ada media tersebut hanya digunakan sesekali. Yakni, paling banyak menggunakan media elektronik berupa telepon genggam dan email.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Anwar. 1994, Strategi Komunikasi, CV Amrico, Bandung.

Bowman, Edward H, Harbir Singh. 1999, Corporate Restructuring: Trends and Consequences, Wharton School, Pennsylvania.

Cahayani, A. 2003, Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen, Grasindo, Jakarta.

Luthans, Fred. 2006, Organizational Behavior, Mc Graw-Hill, New York.

Muhammad, Arni. 2009, Komunikasi Organisasi, 11th edn, Bumi Aksara, Jakarta.

Pace, R. Wayne & Faules, Don, F. 2005, Komunikasi Organisasi: Strategi Mengingkatkan Kinerja Perusahaan, 4th edn, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Effendy, Onong Uchjana. 2006, Teori dan Praktik Ilmu Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Husnan, Suad, Enny Pudjiastut. 2004, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, 4th edn, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Miller, Katherine. 2006, Organizational Communication: Approaches and Processes, 4th edn, Thomson Wadsworth, California.

PENGELOLAAN BANDWTIH MENGGUNAKAN “XXX” BANDWITH MANAGEMENT PADA ISP WAN

PENGELOLAAN BANDWTIH MENGGUNAKAN “XXX” BANDWITH MANAGEMENT PADA ISP WAN 
PENDAHULUAN
Seperti telah diketahui bahwa dalam melakukan perkerjaan sehari-hari di kantor, memerlukan beberapa alat untuk menunjang aktifitas pekerjaan dikantor, salah satu diantaranya adalah komputer, apalagi untuk suatu perusahaan berskala besar yang jumlah komputernya bisa mencapai ratusan bahkan bisa ribuan.

Komputer yang ada di dalam perusahaan tersebut tidaklah berdiri sendiri atau dengan kata lain terdapat beberapa Host (Server) yang dijadikan sebagai penyimpan data ataupun aplikasi yang digunakan oleh user. Kumpulan beberapa komputer yang terhubung antara satu dengan yang lainnya tercakup dalam suatu jaringan lokal yang sering disebut Lokal Area Network (LAN).

Pada kantor pemakaian komputer tetaplah diperlukan, dengan jumlah yang tidak sedikit. Pada kantor mereka membentuk suatu jaringan komputer lokal sendiri, dimana masing-masing komputer terhubung antara satu dengan yang lainnya dengan menggunakan suatu perangkat yang disebut dengan Switch.

Namun pemakaian komputer yang terbatas pada ruang sangat terbatas untuk mendapatkan informasi yang lebih luas, untuk itulah perlu sekali dihubungkan ke internet ( International Networking ) dimana informasi dapat dengan mudah diakses.

Jaringan komputer adalah sebuah kumpulan komputer, printer dan peralatan dengan yang lainnya dan terhubung dalam satu kesatuan. Informasi dan data bergerak melalui sistem kabel sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar informasi, dokumen dan data. mencetak pada printer yang sama dan bersama-sama menggunakan hardware atau software yang terhubung dengan jaringan, tiap komputer, printer dan perangkat lain yang terhubung dalam jaringan disebut Node. Sebuah jaringan komputer dapat memiliki dua, puluhan, ribuan atau bahkan jutaan node.

LANDASAN TEORI 
Sebuah jaringan biasanya terdiri dari dua atau lebih komputer yang saling berhubungan diantara satu dengan yang lainnya, dan saling berbagi sumber daya misalnya CDROM, Printer, Pertukaran File, atau memungkinkan untuk saling berkomunikasi secara elektronik. Komputer yang terhubung tersebut dimungkinkan berhubungan dengan media kabel, saluran telepon, gelombang radio, satelit atau infrared. (Dian Ardiansyah, 2004).

Lokal Area Network (LAN) 
Jaringan LAN adalah jaringan yang menghubungkan beberapa komputer dalam suatu lokal area (biasanya dalam satu gedung atau antar gedung). LAN digunakan didalam rumah, perkantoran, perindustrian, universitas atau akademik, rumah sakit dan daerah yang sejenis. LAN mempunya ukuran yang terbatas, yang berarti bahwa waktu transmisi pada keadaan terburuknya terbatas dan dapat diketahui sebelumnya. 

Dengan mengetahui keterbatasannya, menyebabkan adanya kemungkinan untuk menggunakan jenis desain tertentu. Hal ini juga memerlukan manajemen jaringan. Bentuk jaringan LAN dapat dilihat seperti tampak pada gambar  dibawah ini :

Gambar  Bentuk Jaringan LAN

LAN seringkali menggunakan tehnologi transmisi kabel tunggal. LAN tradisional beroperasi pada kecepatan mulai 10 sampai 100 Mbps (Mega Bits per detik) dengan delay rendah (puluhan micro second) dan mempunyai faktor kesalahan yang kecil, LAN-LAN modem dapat beroperasi pada kecepatan yang lebih tinggi, sampai ratusan megabit per detik.

Sistem LAN yang sering digunakan adalah system Ethernet yang dikembangkan oleh perusahaan Xerox. Penggunaan titik koneksi Intermediate (seperti Repeater, Bridge, dan Switch) memungkinkan LAN terkoneksi membentuk jaringan yang lebih luas. LAN juga dapat terkoneksi ke WAN (Wide Area Network), atau MAN (Metropolitan Area Network) lain dengan menggunakan Router.

Secara garis besar, LAN adalah sebuah jaringan komunikasi antar komputer yang : 
  • Bersifat Lokal.
  • Di kontrol oleh suatu kekuasaan Administrative.
  • Pengguna dalam sebuah LAN dianggap dapat dipercaya.
  • Biasanya mempunyai kecepatan yang tinggi dan data dalam semua komputer selalu di sharing.
Dan keuntungan menggunakan LAN adalah :
  • Akses data antar komputer berlangsung secara cepat dan mudah.
  • Dapat menghubungkan banyak komputer.
  • Dapat terkoneksi ke Internet.
  • Backup data berlangsung lebih mudah dan cepat.
Metropolitan Area Network (MAN)
Metropolitan Area Network (MAN) pada dasarnya merupakan versi LAN yang berukuran yang lebih besar dan biasanya memakai tehnologi yang sama dengan LAN. MAN merupakan pilihan untuk membangun jaringan komputer antar kantor dalam suatu kota. MAN dapat mencakup perusahaan yang memiliki kantor-kantor yang letaknya sangat berdekatan dan MAN mampu menunjang data dan suara, bahkan bias disambungkan dengan jaringan televise kabel. Jaringan ini memiliki jarak dengan radius 10-50 km. didalam jaringan MAN hanya memiliki satu atau dua buah kabel yang fungsinya untuk mengatur paket data melalui kabel output. Bentuk Jaringan MAN seperti tampak pada gambar 2.2 dibawah ini :

Gambar  Bentuk Jaringan MAN

Namun ada alasan utama untuk memisahkan MAN sebagai sebagai kategori khusus adalah telah ditentukannya standar untuk MAN. Dan standar ini sekarang sedang diimplementasikan. Standar tersebut disebut DQDB (Distributed Queue Dual Bus) atau 802.6 menurut standar IEEE.DQDB terdiri dari dua buah kabel Unidirectional dimana semua komputer dihubungkan.

Wide Area Network (WAN)
Wide Area Network (WAN) adalah sebuah jaringan yang memiliki jarak yang sangat luas, karena radiusnya mencakup sebuah Negara dan Benua. Pada sebagian besar WAN, komponen yang dipakai dalam berkomunikasi biasanya terdiri dari dua komponen, yaitu kabel transmisi dan elemen switching. Kabel transmisi berfungsi untuk memindahkan bits-bits dari satu komputer ke komputer lainnya, sedangkan elemen switching adalah sebuah komputer khusus yang digunakan untuk menghubungkan dua buah kabel transmisi atau lebih. 

Saat data yang dikirimkan sampai ke komputer penerima, elemen switching harus memilih komputer pengirim untuk meneruskan paket-paket data tersebut. Bentuk jaringan WAN dapat dilihat seperti tampak pada gambar  dibawah ini :

Gambar  Bentuk Jaringan WAN

Pada sebagian besar WAN, jaringan terdiri dari sejumlah banyak kabel atau saluran telepon yang menghubungkan sepasang Router. Bila dua router yang tidak menggunakan kabel yang sama akan melakukan komunikasi, maka keduanya harus berkomunikasi secara tidak langsung melalui router. Paket data yang dikirimkan dari router yang satu ke router yang lainnya akan melalui router perantara. Setelah diterima dalam kondisi yang lengkap maka paket ini disimpan sampai saluran untuk output dalam kondisi yang bebas baru paket data akan diteruskan.

Kecepatan transmisinya beragam dari 2 Mbps, 34 Mbps, 45 Mbps, 155 Mbps, sampai 625 Mbps (atau kadang-kadang lebih). Faktor khusus yang mempengaruhi desain dan performance-nya terletak pada siklus komunikas, seperti jaringan Telepon, Satelit atau komunikasi pembawa lain yang disewa. Ciri lain dari jaringan WAN adalah penekanan pada fasilitas transmisi sehingga komunikasi dapat berjalan effesien. Sangatlah penting untuk mengontrol jumlah lalulintas data dan memcegah delay yang berlebihan karena topologi WAN lebih komplek. 

Banyak jaringan WAN yang telah dibangun seperti jaringan Publik, jaringan Korporasi yang besar, jaringan Militer, jaringan Perbankan, jaringan Perdagangan online dan jaringan Pemesanan jasa Angkutan. (http://bebas.vlsm.org/v06/Kuliah/MTI-SOKS/2005/PSOSK-09-JaringanKomputer.pdf)

Berikut dincantumkan sumber Website dari alamat tersebut seperti tampak gambar dibawah ini : 

Gambar  Situs Sumber Penulisan 

Pada umumnya yang dihubungkan tersebut terdiri dari komputer mikro, terminal, printer dan media penyimpanan data serta perangkat jaringan lainnya. Dengan memiliki jaringan computer memungkinkan anda untuk menggabungkan berbagai tingkatan keahlian yang terdapat disegenap staff serta berbagai jenis kapasitas peralatan yang ada tanpa memperhatikan soal-soal lokasi fisik diantara staff maupun peralatannya. Jaringan memungkinkan pemanfaatan secara bersama diantara para pengguna jaringan terhadap file-file data dan aplikasi saling berkirim pesan, serta memungkinkan diterapkannya sistem pengamanan terhadap instalasi secara keseluruhan. (Scomptec Inc, 2005)

HASIL DAN PEMBAHASAN MANAGEMENT MONITORING BANDWITH
Definisi dari Bandwidth adalah banyaknya ukuran suatu data atau informasi yang dapat mengalir dari suatu tempat ke tempat lain dalam sebuah network di waktu tertentu. Bandwidth dapat dipakai untuk mengukur baik aliran data analog maupun data digital. Sekarang sudah menjadi umum jika kata bandwith lebih banyak dipakai untuk mengukur aliran data digital.

Satuan yang dipakai untuk bandwidth adalah Bits Per Second atau sering disingkat Bps. Seperti diketahui bahwa bit atau binary digit adalah basis angka yang terdiri dari 0 dan 1. satuan ini menggambarkan berapa banyak bit (angka 0 dan 1) yang dapat mengalir dari satu tempat ke tempat yang lainnya dalam setiap detiknya melalui suatu media.

Bandwidth adalah konsep pengukuran yang penting dalam jaringan, tetapi konsep ini memiliki kekurangan atau keterbatasan, tidak perduli bagaimana cara anda mengirimkan informasi maupun media apa yang dipakai dalam penghantaran informasi. Hal ini karena adanya hukum fisika maupun batasan tehnologi. Sedangkan yang dapat menyebabkan batasan terhadap panjang media yang dipakai, kecepatan maksimal yang dapat dipakai. Berikut ini adalah gambar  trafik bandwidth yaitu :

Gambar  Traffik Bandwith

Sedangkan batasan terhadap perlakuan atau cara pengiriman data misalnya adalah dengan pengiriman secara parallel (synchronous), atau pengiriman secara serial (asynchronous), perlakuan terhadap media yang spesifik seperti media yang tidak boleh ditekuk (serat optik), pengirim dan penerima harus berhadapan langsung (line off sight), kompresi data yang dikirim. 

Bandwith dibagi menjadi dua jenis yaitu :
a. Up Stream adalah bandwith yang dugunakan untuk mengirim data ( misal mengirim file melalui Ftp ke salah satu alamat jaringan), sedangkan 
b. Down Stream adalah Bandwith yang digunakan untuk menerima data ( misal menerima file atau data dari satu alamat jaringan). Besarnya tiap komponen Bandwith tersebut dapat tidak sama atau sama satu sama lain.

Terdapat dua macam bandwidth yang bisa dipilih, 
a. Mix bandwidth (koneksi international ) atau 
b. IIX (koneksi ke situs lokal Indonesia). 

Pada dasarnya pricing policy ditiap daerah tidak dapat disamaratakan, mengingat biaya bandwidth antar kota tidak sama. Tergantung kemana ISP yang bersangkutan melakukan koneksi, dengan cara apa dan bagaimana. Untuk sekedar gambaran harga bandwidth, bisa dilihat di website ISP yang ada di masing-masing kota. Sebagai contoh dapat disampaikan suatu berikut ini 

Bagaimana memperkirakan kebutuhan bandwidth untuk warnet ? 
Mudah saja, kebutuhan bandwidth minimum setiap PC di WARNET kurang lebih adalah 4-8kbps. Untuk kebutuhan Multiplayer Game, bandwidth minimum setiap PC adalah 8 kbps. Sehingga, sebuah WARNET dengan 10 buah PC akan membutuhkan bandwidth sekitar 40 Kbps sampai 80 Kbps sedangkan multiplayer game online akan memerlukan bandwith minimum 80 Kbps. Bila bandwithnya kurang dari angka-angka ini, akses di warnet akan lambat, bahkan untuk game online akan sering terputus atau reset.

Terdapat beberapa istilah yang sering digunakan oleh ISP dalam mendeskripsikan besaran bandwidth, yaitu istilah CIR (Commited Information Rate), clear channel dan sharing/burstable. CIR adalah istilah yang menyatakan minimum besarnya bandwidth yang dijamin bisa diterima. Jika membeli bandwidth 64 Kbps dengan CIR juga 64 Kbps maka bandwidth itu dikatakan 64 Kbps clear channel. Sebaliknya kalau membeli bandwidth 64 Kbps dengan CIR 32 Kbps maka bandwidth itu dikatakan burstable atau share (dibagi) Bandwidth sebesar 64 Kbps share 2 artinya bandwidth tersebut dibagi dengan 2 pelanggan lainnya (mis: warnet A dan warnet B). Jika warnet A tidak sedang menggunakan, maka warnet B dapat menikmati bandwidth sebesar 64 kbps, namun jika keduanya sedang aktif, maka masing-masing hanya dapat menikmati bandwidth sebesar 32kbps (CIR = 32 Kbps). Hal yang sama berlaku untuk bandwidth dengan keterangan share 4 (CIR = 16 Kbps).

Pengetesan Bandwith
Dengan demikian maka untuk lebih detail mengenai besaran bandwidth ini kepada ISP yang dipilih. Ada beberapa ISP kurang terbuka mengenai hal ini karena masalah persaingan harga. Pada dasarnya harga bandwidth tidak bisa terlalu jauh perbedaannya, jadi lakukan pengetesan terhadap besarnya bandwidth yang dipilih. Salah satu cara pengetesan bandwidth bisa melalui web www.sijiwae.net/speedtest berkali-kali pada waktu yang berbeda beda untuk mengukur konsistensi besarnya bandwidth yang diperoleh.

ANALISA SISTEM MANAGEMENT BANDWIDTH 
Pada awalnya kondisi bandwidth jaringan masih dalam keadaan normal, namun seiring berjalannya waktu, maka jumlah client semakin banyak dan ini berakibat pada meningkatnya pemakaian bandwidth yang ada pada jaringan komputer, dari analisa sistem monitoring tersebut diatas maka ada beberapa macam permasalahan penting yang erat kaitannya dengan pemakaian bandwith dalam jaringan, adalah :
  • Saling berebut antara beberapa aplikasi dalam menggunakan bandwidth yang berakibat penggunaan beberapa aplikasi penting menjadi lambat.
  • Jaringan tidak dapat dimonitor.
  • Tidak dapat memprioritaskan aplikasi yang lebih penting.
  • Tidak ada bandwidth guarantee untuk masing-masing aplikasi yang ada.
Efek dari permasalahan diatas adalah bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan karena apabila bandwidth yang ada sudah penuh, maka kapasitas bandwidth tersebut harus diperbesar dan ini juga memerlukan biaya setiap bulan yang tidak sedikit.

METODE PERMASALAHAN SISTEM MANAGEMENT BANDWIDTH 
Permasalahan yang terjadi sebelum dipasangnya perangkat adalah sebagai berikut :
1. Proses aliran data tidak dapat dimonitor. 
2. Broadcast jaringan yang ditimbulkan oleh remote user tidak dapat di identifikasi. 
3. Beban bandwidth pada Network tidak dapat di monitor, penggunaan bandwidth oleh remote user menjadi tidak terkontrol, sehingga bandwidth menjadi penuh, seperti contoh, penggunaan internet untuk download dari Head Office ke remote user, mengakibatkan bandwidth menjadi penuh.
4. Penyelesaian masalah pada jaringan menjadi lebih lama.
5. Penggunaan aplikasi yang berkaitan dengan penggunaan bandwidth pada jaringan tidak dapat dapat dikontrol, sehingga apabila aplikasi dari remote user terputus, memerlukan waktu yang lama untuk mencari penyebabnya, karena penyebab terputus aplikasi dari remote user, ada 2 kemungkinan yaitu : 
a. Penuhnya jaringan (berdampak pada request time out untuk sesaat). 
b. Dari aplikasi itu sendiri (aplikasi pada server di Head Office bermasalah).
6. Tidak dapat melakukan temporary action untuk remote user yang bermasalah, dimana tindakan ini dilakukan seperti :
§ Blocking user, dilakukan apabila pc remote user mengalami broadcasting sehingga berakibat Bandwidth Network menjadi penuh. 

Sistem Management
Alternatif lain dari penyelesaian permasalahan diatas adalah dengan menggunakan perangkat Bandwidth Management atau yang sebut dengan XXX Dengan menggunakan perangkat ini maka tujuan yang dapat dicapai adalah :
1. Penggunaan bandwith yang ada menjadi lebih optimal dan dapat diatur.
2. Jaringan Network dapat atur.Dapat dibuat suatu bandwith Guarantee untuk setiap aplikasi yang digunakan.

Dalam melakukan management di jaringan dengan menggunakan XXX , perlu diketahui bahwa beberapa hal yang di management adalah :
  • Packet Bandwidth 
  • Use Slot
  • Mark Packet
  • IP Address
  • Active atau Inactive
Sebelum perangkat Bandwidth Management di pasang dalam jaringan, maka dibuat beberapa tahapan-tahapan sehingga dapat dicapai hasil dan performansi yang maksimal dan ada beberapa hal yang harus dipenuhi sebagai berikut :
  • Satu buah mesin komputer yang di install OS Linux 
  • 2 buah Network Card ( 1 untuk internet dan 1 untuk switch local )
  • IP Address Public
  • Bandwidth International
  • Bandwidth Local ( IIX )
MANAGEMENT BANDWITH XXX
Management Bandwith XXX, adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk management dan mengoptimalkan berbagai jenis jaringan dengan menerapkan layanan Quality Of Service (QoS) untuk menetapkan tipe-tipe lalulintas jaringan. QoS adalah kemampuan untuk menggambarkan suatu tingkatan pencapaian didalam suatu sistem komunikasi data.

Peningkatan pertumbuhan penggunaan internet ditambah dengan bertambahnya jumlah aplikasi-aplikasi berbasis Web, telah mengakibatkan adanya permintaan ketersediaan sistem komunikasi yang sulit diprediksi. Dalam rangka mencapai suatu tingkat layanan yang dapat diterima dan mengatasi masalah Bandwith Bottleneck, maka para manajer jaringan memerlukan kemampuan untuk mengendalikan lalu lintas jaringan dan mengembangkan prioritas kebijakan yang sesuai dengan Bandwith yang tersedia. 

Manajemen bandwith XXX memberikan kemampuan untuk mengatur Bandwidth jaringan dan memberikan level layanan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas sesuai dengan permintaan pelanggan.

Berikut merupkan sebagian dari istilah dasar dan konsep penggunaan XXX :

§ Bandwidth yang diprioritaskan :
Adalah penyampaian tingkat layanan berdasarkan pada suatu tingkatan layanan berdasarkan pada suatu tingkatan dari arti penting koneksi dan permintaan untuk lalulintas jaringan sehubungan dengan koneksi yang lain. Selama periode lalulintas penuh, akan memperlambat prioritas lebih rendah dari aplikasinnya dengan menurunkan prioritas aplikasinya sehingga meningktkan bandwidth ke aplikasi prioritas yang lebih tinggi. 

§ Bandwidth Yang Dijamin :
Adalah yang memungkinkan menetapkan batas minimum dan jumlah maksimum Bandwidth ke saluran spesifik dan koneksi saluran sebetulnya. Dengan meminjam Bandwidth yang kelebihan yang tersedia saat itu, sehingga koneksi dapat melebihi dari batas minimum yang dijamin. Rasio garansi juga menjamin prediksi kualitas layanan yang ada dengan membandingkan waktu kritis aplikasi terhadap level penerimaan kostanta layanan selama waktu puncak dan waktu non puncak lalulintas data. 

§ Bandwidth yang dipesan atas Permintaan :
Adalah yang memungkinkan pemesanan bandwidth yang minimum byte yang pertama suatu koneksi sampai koneksi diakhiri. Ini akan bermanfaat ketika bottleneck bukan yang diatur oleh . Dengan pembatasan koneksi lain yang bukan jaminan, menyediakan cadangan bandwith cukup untuk saluran yang diperlukan.

§ Penandaan Bandwith :
Adalah yang memungkinkan tanda-tanda koneksi diijinkan diluar koneksi yang maksimum mengijinkan suatu saluran sebetulnya dengan sesuatu yang berbeda.

§ Akses Kendali :
Adalah menentukan apakah suatu koneksi diterima atau ditolak, sebagai contoh kamu dapat menetapkan saluran yang berikut : Menerima 1000 ICMP koneksi ke koneksi dengan prioritas yang lebih rendah.

§ Kendali Pintu Masuk :
Adalah menentukan bandwith yang diterima ke suatu jalur berdasarkan pada permintaan ( sebagai contoh mengalokasikan minimum untuk 10 kbps) dan Status Sistem XXX ( jalur bandwith cukup tersedia).

PROTOKOL XXX
Protokol adalah aturan-aturan yang digunakan atau disepakati antara pengirim dan penerima dalam hubungan komunikasi data dalam sebuah jaringan Network. Protokol-protokol yang ada dalam jaringan dapat dilihat serta dipantau dengan menggunakan perangkat XXX ( Monitoring Bandwidth Management).

Tampilan Utama XXX adalah seperti berikut : 

Gambar Management Bandwidth XXX

Packet Bandwidth 
Packet-packet dalam harus diatur agar penggunaan bandwidth disesuaikan dengan payment client, packet bisa di setup untuk alokasi sharing dan dedicated. Alokasi sharing disini berarti jumlah bandwidth yang tersedia di bagi ke beberapa client dengan aturan maximal sesuai dengan jumlah client dalam arti tidak di share ke semua client yang ada, contoh bandwidth 512 1:16, artinya total bandwidth 512 Kbps akan di bagi maximal ke 16 client, tidak boleh lebih dari 16, karena apabila lebih dari 16 maka mesin bandwidth tidak akan berfungsi atau menyalahi aturan management system . Untuk alokasi dedicated dalam artian bandwidth total akan seluruhnya didapat oleh client dalam packet tersebut, contoh 512 1:1 artinya jumlah bandwidth 512 Kbps akan di dapat hanya boleh 1 client saja.

Gambar  Packet 

Use Slot
Use slot dalam hal ini artinya berapa banyak slot yang di gunakan oleh client, use slot berpengaruh terhadap besar bandwidth yang akan didapat apabila traffic jaringan sedang penuh juga untuk mengetahui penggunaan slot dalam packet.

Berikut adalah Penggunaan Slot :

Gambar Slot yang digunakan dan slot yang tersedia

Mark Packet 
Mark Packet dalam hal ini sangat berpengaruh pada penandaan packet pada mesin komputer dan system operasi linux, karena mark atau penandaan ini berarti No Packet sekian akan di alokasikan menggunakan jalur traffic sekian. Mark packet ini akan otomatis dibuat apabila dicreate atau add client baru dalam . Gambar berikut ini adalah tampilan mark packet :

Gambar Mark Packet

IP ADDRESS
IP Address dalam hal ini berpengaruh pada tujuan packet bandwidth ini akan di sampaikan apabila salah dalam memasukan ip address dalam atau tidak sesuai dengan yang digunakan oleh client maka bandwidth tidak akan didapat oleh client, juga ip address dalam hal ini bisa juga ip network yang digunakan oleh client, yang dalam arti beberapa ip address akan dapat menggunakan bandwidth yang dimanagement oleh .

Gambar IP Address

Active atau Inactive
Active atau Inactive dalam hal ini artinya adalah, apabila status active maka packet bandwidth dapat digunakan setelah di create sedangkan status inactive berarti bandwidth tidak akan digunakan walaupun ip address di masukan benar dan mark packet tersedia. Status Active tidak akan tanda berwarna merah pada kolom Status sedangkan status Inactive adalah berwarna merah keseluruhan pada kolom status.

Gambar  Status Inactive

Gambar Status Active

KONFIGURASI XXX
Dalam melakukan konfigurasi ada beberapa hal yang harus di perhatikan yaitu : 
  • Harus berurutan sesuai langkah di bawah 
  • dapat di akses dengan browser seperti IE atau Mozilla Firefox. 
  • Total Bandwidth harus benar 
§ Menu Utama
Menu Bar Konfigurasi XXX adalah sebagai berikut :

Gambar  Menu Bar

Keterangan : 
1. Package = Untuk management packet bandwidth
2. Edit Config Bandwidth = Untuk management total bandwidth
3. Edit Config Passwd = Untuk management authentication mengakses 
4. Edit Sysctl = Untuk management TCP/IP
5. Edit Firewall = Untuk management Security Jaringan
6. Edit Masquerade = Untuk Management IP Network yang dapat mengakses internet
7. Edit IIX = Untuk memasukan list ip network local 
8. Client = Untuk management Client
9. Apply Rules = Untuk mengexecute setelah melakukan management XXX , hal itu harus di lakukan agar semua rule management dapat berjalan

Berikut adalah urutan-urutan langkah apabila melakukan setup pertama 
kali Management Bandwith XXX :

§ Edit Config Bandwidth
Edit Config Bandwidth merupakan hal pertama yang harus dilakukan sebelum dilakukan config yang lain, karena hal inilah yang menentukan dapat berjalan dengan baik, sebelum edit config bandwidth harus tahu benar jumlah bandwidth yang dimiliki.

Gambar  Menu Edit Config Bandwidth 

Keterangan :
· bw_root = Jumlah total bandwidth keseluruhan yang dimiliki baik international maupun IIX ( Local ).
· bw [1][0] = Bandwidth international yang akan digunakan 
· bw [1][1] = Bandwidth international spare 
· bw [1][2] = Bandwidth international trash digunakan untuk virus dan worms agar tidak mengganggu bandwidth yang lain.
· bw [1][3] = Bandwidth IIX yang akan digunakan 
· bw [1][4] = Bandwidth IIX spare 
· bw [1][5] = Bandwidth IIX trash digunakan untuk virus dan worms agar tidak mengganggu bandwidth yang lain

Bandwidth dihitung dalam satuan kbps.

§ Package
Menu Package digunakan untuk mengatur slot-slot yang nantinya akan di gunakan oleh client-client.

Gambar  Menu Package 

Untuk add package baru click add package.

Gambar  Add Package 

Keterangan :
· Name = Nama Package
· Description = Menjelaskan dari Package
· HTB Rate = Minimum bandwidth yang akan didapat apabila pemakaian penuh dalam package ini.
· HTB Ceil = Maximum bandwidth yang akan didapat dalam package ini.

§ Edit Sysctl
Sysctl merupakan konfigurasi kernel yang akan dijalankan pada saat linux boot pertama kali, sysctl ini harus disesuaikan dengan OS Linux Kernel yang digunakan untuk menginstall XXX

Gambar  Edit Sysctl 

§ Edit Firewall
Menu firewall ini untuk security keamanan system network, dalam menggunakan Iptables sebagai tool untuk firewall. Pada menu edit firewall ini dapat dimasukan ip address, port Trojan, port hacking dan lainnya yang akan di blok atau yang akan di allow.

Gambar  Edit Firewall 

§ Edit Masquerade
Masquerade artinya membungkus, dalam jaringan Masquerade berarti membungkus packet TCP / IP yang berada di belakang router sehingga dapat terkoneksi ke internet walaupun hanya di berikan 1 IP Address Public oleh NAP ( Network Access Provider ).

Gambar  Edit Masquerade

§ Edit IIX 
IIX merupakan kepanjangan dari Indonesia Internet Exchange, IIX adalah local interkoneksi bandwidth, yang berarti koneksi hanya untuk wilayah Indonesia, server-server local seperti boleh.com, Telkom.net, ragnarok.co.id merupakan interkoneksi local.

Menu Edit IIX ini diperuntukkan untuk memasukan IP Network semua server local apabila diinginkan memisahkan traffic international dan IIX.

Gambar  Edit IIX

§ Client
Menu client digunakan untuk menambah client , mengedit client, dan untuk menginactive atauupn mengactivekan client. Untuk menambah client seperti dibawah ini :

Gambar Add Client

Keterangan
o Client ID = No Identitas Client ( Optional )
o No Invoice = No Tagihan Client ( Optional )
o Name = Nama Client ( Required )
o Email = Email Client ( Optional )
o Phone = Telephone Client ( Optional )
o Fax = No Fax Client ( Optional )
o Infrastructure = Media yang digunakan client ( Optional )
o Package = Package Client ( Required )
o Slot = Jumlah Slot yang digunakan ( Required )
o IP Address = IP Address yang digunakan Client ( Required )

Untuk Edit Client dan Active Inactive Client, seperti dibawah ini :

Gambar Klik Edit client

Klik huruf “E” pada kolom Action, lalu akan muncul jendela seperti dibawah ini :

Gambar Edit Client

o Untuk menginactive atau mengactivekan pilih pada menu status Active atau Inactive
o Klik Save setelah melakukan perubahan

§ Apply Rules
Apply Rules harus dilakukan setelah kita melakukan management pada , karena apply rules merupakan menu execute pada .

Setelah Klik “Apply Rules”, lalu pilih “Click here to execute rules “. 

Gambar Apply Rules

§ Edit Config Passwd
Menu Edit Config Passwd ini digunakan untuk authentication ketika administrator akan login kedalam ini.

Gambar Edit Config Passwd

KESIMPULAN
Dengan menggunakan Bandwith Management secara tepat pada jaringan maka akan didapat suatu hasil yang baik, seperti :
§ Pemakaian Bandwith yang lebih optimal.
§ Penggunaan aplikasi-aplikasi khususnya pengguna online aplikasi mendapat bandwith prioritas pertama dengan bandwith yang diguarantee.
§ Dengan dibuatnya pemisahan bandwith untuk setiap aplikasi online, maka pengguna online aplikasi akan lebih lancar dan stabil.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, Scomptec Inc, “ http://www.scomptec.co.id/scnet.htm “, Jakarta 2005.
2. Anton Rahardja, “ Management Bandwidth”, Website http://.sourceforge.net, Jakarta, 2005 
3. Dian Ardyansah, “Tehnologi Jaringan Komputer”, Kuliah Ilmu Komputer, http://www.ilmukomputer.com, Jakarta, 2004.
4. E. Setio Dewo, “Bandwith dan Throughput”, Artikel Populer Ilmu Komputer, http://www.ilmukomputer.com, Jakarta, 2004.
5. P. Insap Santosa, “Komunikasi Data”, Penerbit Andi Yogyakarta, 2002

Pengertian Dan Pengenalan Iptables

Pengertian Dan Pengenalan Iptables 
Iptables adalah salah satu tools firewall default pada system operasi linux. Iptables ini bekerja baik di kernel 2.4.x-2.6.x sedangkan untuk kernel 2.2.x masih menggunakan ipchains. Perintah 'iptables' digunakan untuk mengelola, memaintain, menginspeksi rule-rule IP packet filter dalam kernel linux.

Diagram Iptables

Penulis mencoba berbagi sedikit cara mengkonfigurasi firewall pada iptables di sistem operasi linux, khususnya distribusi ubuntu. Penulis menggunakan Ubuntu 8.04 kernel 2.6.24-16-generic dalam mencoba iptables.

Pada ubuntu, biasa telah terinstall iptables secara default.

Konsep chain :
1. INPUT
=> semua paket yang masuk ke komputer melalui chain/rantai ini.

2. OUTPUT
=> semua paket yang kelua ke komputer melalui chain/rantai ini.

3. FORWARD
=>paket data yang diterima dari satu jaringan dan diteruskan ke jaringan lainya.

Perintah umum iptables :
$iptables [-t table] command [match] [target/jump]

Berikut beberapa option dasar yang cukup sering dalam mengkonfigurasi iptables : 
-A 
Tambahan aturan ini ke rantai aturan yang ada. Rantai atau chain yang valid adalah INPUT, FORWARD, dan OUTPUT. Biasanya lebih banyak menggunakan rantai INPUT yang berdampak pada paket data yang masuk 

-L 
Memperlihatkan daftar aturan yang telah dipasang di iptables. 

-m state 
Menjelaskan daftar dari kondisi / state bagi aturan untuk di bandingkan. Beberapa state yang valid, adalah :
NEW => sambungan baru dan belum pernah terlihat sebelumnya
RELATED => sambungan baru, tapi berhubungan dengan sambungan lain telah diizinkan.
ESTABLISHED => sambungan yang telah terjadi.
INVALID => lalu lintas paket data yang karena berbagai alasan tidak bisa di identifikasi 

-m limit 
Dibutuhkan oleh aturan jika ingin melakukan pembandingan dan pencocokan dalam waktu / jumlah tertentu. Mengizinkan penggunaan option –limit. Berguna untuk membatasi aturan logging. 

-limit 
Kecepatan maksimum pencocokan, diberikan dalam bentuk angka yang diikuti oelh ”/seconf”,”/minute”,”/hour”, atau ”/day” tergantung seberapa sering kita ingin melakukan pencocokan aturan. Jika option ini tidak digunakan maka secara defaultnya adalah ”3/hour” 

-p 
Protokol yang digunakan untuk sambungan. 

-dport 
Port tujuan yang digunakan oleh aturan iptables. Bisa berupa satu port, bisa juga satu batasan jangkauan ditulis sebagai start:end, yang akan mencocokan semua port start sampai end 

-j 
Jump ke target yang spesifik. Iptables mempunyai empat target default, yaitu :

ACCEPT
ð Accept / menerima paket dan berhenti memproses aturan dalam rantai aturan ini.

REJECT
ð Reject /tolak paket data dan beritahu ke pengirim bahwa aturan firewall menolak paket data tersebut, stop pemrosesan aturan dalam rantai aturan ini

DROP
ð Diam-diam mengacuhkan paket ini, dan stop pemrosesan aturan di rantai aturan ini.

LOG
ð Log/catat paket, dan teruskan pemrosesan aturan di rantai aturan ini.
ð Mengijinkan penggunaan option --log –prefix dan --log -level 

-log –prefix 
Jika pencatatan dilakukan, letakan text atau tulisan sebelum catatan. 

-log –level 
Pencatatan menggunakan syslog level. 

-i 
Melakukan pencocokan jika paket yang masuk dari interface tertentu. 

-I 
Memasukan aturan ke iptables. 

-v 
Menampilkan lebih banyak informasi di layar

Option diatas adalah hanya sedikit dari option yang terdapat pada iptables. Silakan pembaca kembangan sendiri.

Untuk dapat melihat manual iptables, silakan ketik perintah ini pada terminal :

$man iptables
Manualnya terlihat seperti ini :

Perintah dasar Iptables : 
Untuk melihat aturan yang sudah ada di iptables : 

$iptables -L

Jika komputer baru diinstall, aturan yang terpasang akan terlihat seperti ini :

Untuk mengijinkan sesi sambungan yang terbentuk untuk menerima lalu lintas paket data 

$iptables -A INPUT -m state –state ESTABLISHED, RELATED -j accept

Contohnya kita akan mengijinkan semua lalu lintas paket data di jaringan untuk masuk adalah sebagai berikut :

$iptables -A INPUT -p tcp –dport 80 -j ACCEPT

Contohnya lain kita akan mengijinkan lalu lintas paket data masuk ke defaut port SSH nomor 22, maka harus mengizinkan semua TCP paket data masuk ke port 22, perintahnya :

$iptables -A INPUT -p tcp --dport ssh -j ACCEPT

Dari perintah diatas, kita dapat mengetahui bahwa aturan iptables tersebut mangatur agar masukan aturan ini ke rantai input (-A INPUT) artinya kita melihat lalu lintas paket data yang masuk cek protokol yang digunakan adalah TCP (-p tcp). Jika TCP, apakah paket data menuju port SSH (--dport ssh). Jika ya, maka paket diterima, 

Untuk melakukan pemblokiran paket data. 
Apabila aturan telah memutuskan untuk menerima paket data (ACCEPT), maka aturan selanjutnya tidak akan berefek pada paket data tersebut. Karena aturan yang kita buat mengijinkan SSH dan Web traffic, selama aturan untuk memblok semua traffic kita letakan terakhir sesudah aturan mengijinkan SSH dan Web, maka kita akan tetap dapat menerima traffic SSH dan Web yang kita inginkan. Jadi kita harus menambahkan (-A) aturan untuk mem-block traffic di akhir. 

Perintahnya :
$iptables -A INPUT -j DROP

Untuk melakukan pencatatan paket yang di log , perintah yang paling cepat adalah : $iptables -I INPUT 5 -m limit --limit 5/min -j LOG --log-prefix "iptables denied: " --log-level 7

Untuk menyimpan konfigurasi iptables 
Jika kita booting komputer yang kita gunakan, maka apa yang kita lakukan ini akan hilang. Kita pun harun mengetikkan ulang semua perintah yang kita masukan satu per satu ketika komputer hidup. Agar lebih effesien, kita dapat menggunakan iptables-save dan iptables-restore untuk menyimpan dan merestore iptables

Kita dapat menyimpan konfigurasi iptables agar di start setiap kali booting menggunakan perintah :

$sh -c "iptables-save > /etc/iptables.rules"

Setelah itu memodifikasi /etc/network/interfaces agar aturan iptables yang kita gunakan dapat berjalan secara automatis. Kita perlu mengetahui ke interface mana aturan yang akan digunakan. Biasanya menggunakan eth0. Untuk interface wireless, kita dapat mencek penggunaaannya mengunakan perintah, 

$ iwconfig
Kita perlu mengedit file /etc/network/interfaces misalnya menggunakan perintah 

$ sudo nano /etc/network/interfaces
Apabila telah menemukan nama interface yang digunakan, maka di akhir interface kita dapat menambahkan perintah, pre-up iptables-restore < /etc/iptables.rules

Selanjutnya di bawahnya kita tambahkan perintah sesudah interface down, menggunakan perintah, post-down iptables-restore < /etc/iptables.rules

Hasil gambarnya :

Untuk menonaktifkan atau mematikan fiewall, maka perintahnya : 

$iptables –F

Perintahnya akan seperti dibawah ini :
Adapun jika kesulitan dalam menkonfigurasi iptables secara command line, pada ubuntu telah tersedia perangkat lunak yang dapat mengkonfigurasi firewall secara menggunakan GUI yaitu firestater.

cara menginstall firestarter di ubuntu 8.04
  • ketik perintah ini di terminal
  • sudo apt-get install firestater
tampilan dari firestarter pada saat memulai:
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson