Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Penerimaan Khalayak Terhadap Beberapa Green Advertising Di Media Massa

Penerimaan Khalayak Terhadap Beberapa Green Advertising Di Media Massa 
PENDAHULUAN 
Fokus penelitian ini adalah mengenai penerimaan khalayak terhadap beberapa green advertising di media massa. Tema ini dianggap memiliki signifikansi karena saat ini isu ramah lingkungan menjadi wacana yang sedang berkembang di masyarakat. Konsumen diposisikan bahwa dengan membeli produk-produk green maka sekaligus mereka telah melakukan dua hal kebaikan, yaitu tidak hanya sekedar membeli produk dengan kualitas yang tinggi tetapi juga melakukan hal yang baik dengan meminimalkan efek buruk bagi lingkungan. 

Penelitian ini dilakukan karena masalah lingkungan yang sampai hari ini semakin luas, beberapa fenomenanya antara lain seperti penggundulan hutan lahan kritis, menipisnya lapisan ozon dan pemanasan global (global warming) yang dampaknya bisa merusak alam. Masalah lingkungan sendiri dikelompokkan menjadi tiga bentuk antara lain yaitu pencemaran lingkungan (pollution), pemanfaatan lahan secara salah (land misuse) dan pengurasan atau habisnya sumber daya alam (natural resource depeletion), sedangkan untuk hukum di Indonesia sendiri masalah lingkungan dikelompokkan kedalam dua bentuk, yakni pencemaranlingkungan (environtmental pollution) dan perusakan lingkungan hidup, hal ini telah tercantum dalam Undang-Undang nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UULH). 

Semakin tingginya kerusakan lingkungan, akhirnya melatarbelakangi lahirnya kesadaran lingkungan dan kebijaksanaan pembangunan berwawasan lingkungan tingkat global dan regional. Konfrensi PBB tentang lingkungan hidup telah dilaksanakan pada tanggal 5-16 Juni di Swedia dan kemudian menghasilkan lahirnya Hukum Lingkungan Internasional maupun Nasional yaitu Dokumen Stockholm yang berisi tentang Deklarasi Lingkungan Hidup Manusia dan menetapkan tanggal 5 Juni sebagai ‘hari lingkungan hidup sedunia. 

Green marketing memiliki proses promosi untuk memperkenalkan produk-produk kepada masyarakat. Green product adalah sebutan untuk produk ramah lingkungan, dikenal beberapa istilah pengkategorikan bahwa produk tersebut ‘hijau’ jika: degradable yaitu dapat diuraikan oleh tanah, photogradable hancur oleh sinar matahari dan hujan dalam waktu yang lama, biogradable terurai ketika dibuang ke tempat pembuangan sampah dan recyclable yaitu dapat didaur ulang. 

Iver dan Banerjee dalam jurnal ‘Green Advertising: greenwash or a true reflection of marketing strategies?’ menyatakan hampir semua customer mendapatkan informasi tentang isu lingkungan melalui media dibandingkan dari pada newsletter environmental atau publikasi pemerintah, kekuatan media begitu besar terbukti dengan adanya fakta tersebut media berperan penting dalam penyebaran isu lingkungan. Iklan di klasifikasikan menjadi empat bentuk kategori klaim yang dipersentasikan oleh Iver dan Banerjee yaitu orientasi produk, proses orientasi, orientasi image dan claim lingkungan .

Definisi green advertising yang paling nyata dari kriteria tersebut dapat ditemukan dalam studi yang dilakukan oleh Banerjee et al, green advertising adalah setiap iklan yang memenuhi satu atau lebih kriteria jika secara eksplisit dan implisist menunjukkan hubungan antara produk atau jasa dan lingkungan biofisikal, mempromosikan gaya hidup ramah lingkungan tanpa menyoroti produk ataupun jasa tertentu, serta menampilkan citra perusahaan yang bertanggungjawab terhadap lingkungan.
 Gary Anderson

Gambar  Universal Recycling Logo oleh Gary Anderson

Green advertising memiliki elemen-elemen yang digunakan untuk mengkomunikasikan kampanye ramah lingkungan dari suatu perusahaan ataupun produk yang diantaranya memuat satu atau lebih hal-hal berikut: green colour (warna hijau), nature (pemandangan alam),eco labels (ekolabel), statement of environmental friendliness (pernyataan peduli terhadap lingkungan), emphasis of renewable raw materials (perlakuan terhadap bahan baku), environtmentally friendly production processes (proses produksi yang ramah lingkungan), recyclability (bisa didaur ulang). 



Gambar Label dari beberapa badan sertifikasi lingkungan di Indonesia

Green Advertising menampilkan informasi dan teks-teks yang memiliki makna pada penayangan iklannya. Periklanan merupakan sebuah forum publik yang dinamis dimana kepentingan-kepentingan bisnis, kreatifitas, kebutuhan konsumen dan regulasi pemerintah berjumpa, tipu daya bukanlah satu-satunya isu etika yang dihadapi para pengiklan . Indonesia juga masih mengalami kerancuan regulasi periklanan mengenai pelabelan lingkungan, ini disebabkan belum ada undang-undang yang membahas secara khusus, hanya bersifat global saja seperti yang terterapada UU No.32 tahun 2002 mengenai penyiaran. Hal ini pada nantinya juga bisa memicu kesalahan edukasi dan merugikan konsumen akibat kurangnya informasi yang didapat melalui iklan.

Beberapa contoh green advertising yang telah hadir di Indonesia, ditayangkan melalui media yang berbeda-beda, berikut ini adalah contoh dari media audio visual yaitu meliputi iklan: Panasonic eco ideas, bahan bakar Pertamax, air mineral Ades, mobil Suzuki Ertiga. Sedangkan untuk iklan cetak dibagi menjadi dua jenis, yaitu Majalah dan koran, beberapa contohnya adalah iklan dari majalah seperti pada merk air mineral Aqua, minuman isotonik Pocari sweat dengan ‘satu hati peduli lingkungan’, iklan kertas PaperIna, iklan printer Fuji xerox, iklan kertas Paper Galery, iklan kertas PT Cinjoe Jaya Perkasa Media. Sedangkan iklan yang dimuat di koran adalah iklan mobil Suzuki Ertiga. Selain melalui media audio visual dan cetak, green advertising juga ditayangkan melalui iklan audio salah satu contohnya yaitu iklan KFC(kentucky fried chicken) green action, tidak hanya itu kemudian saat ini juga sudah ada iklan internet yang berjenis green advertising, seperti iklan majalah online Matoa, iklan BCA ORI 009, iklan sepeda Polygon dan iklan Canon Pixma. 

Beberapa contoh iklan yang telah disebutkan, bagaimanapun bentuk iklannya. Iklan adalah merupakan medium dari teks, istilah medium memberi nama pada dimensi institusional dan social dari berbagai konteks material yang didalamnya teks diproduksi dan dibaca. Apabila terdapat kesalahan informasi dari claim lingkungan yang pada kenyataannya ternyata produk tersebut tidak benar-benar hijau, inilah yang dikenal dengan istilah greenwashing. Greenwashing adalah tindakan kebohongan yang dilakukan sejumlah perusahaan karena mereka ingin mendapatkan keuntungan pada produk atau servis yang mereka pasarkan. 

PEMBAHASAN 
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan reception analysis sebagai metode untuk mengeksplorasi penerimaan khalayak terhadap beberapa green advertising di media massa. Metodologi penelitian kualitatif dianggap paling sesuai untuk menjawab permasalahan ini, karena data-data yang ada tidak dapat untuk menggeneralisasikan individu satu dengan individu yang lainnya. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksploratif, karena peneliti ingin mengeksplorasi penerimaan khalayak terhadap beberapa green advertising di media massa. Sehingga nantinya peneliti bisa mengeksplorasi makna yang terkandung dalam green advertising pada khalayak yang menjadi informan di penelitian ini dan menggali secara mendalam pemaknaan yang dibentuk oleh para informan tersebut. 

Sasaran penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah khalayak yang pernah mengkonsumsi green advertising di media massa. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang beragam, peneliti menggunakan enam informan yang berasal dari background yang beragam diantaranya dibedakan melalui jenis kelamin, usia, pendidikan serta pekerjaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah FGD (focus group discussion), Teknik ini digunakan untuk menarik kesimpulan terhadap makna-makna intersubyektif yang sulit dimaknakan sendiri oleh peneliti karena dihalangi oleh subyektifitas peneliti. 

Enam informan tersebut adalah Informan Riris (Ri) yang merupakan praktisi lingkungan berdomisili di daerah jambangan, sampai saat ini Ia juga bekerja sebagai konsultan lingkungan dan owner dari W-Queen collection yaitu UKM yang menjual hasil kerajinan tangan dari limbah plastik, kesibukannya saat ini sibuk menghadiri seminar sebagai pembicara dari permasalahan lingkungan. Kedua, Informan Ali (Al) adalah mahasiswa tingkat akhir di Jurusan Sistem Informasi di Universitas Narotama Surabaya, dia menyandang tugas sebagai Aktifis Tunas Hijau khususnya selama satu tahun terakhir ini, Tunas Hijau merupakan salah satu organisasi lingkungan yang produktif dalam menjalankan aksi mengedukasi masyarakat untuk lebih dekat dengan lingkungan, program yang sedang dilaksanakan adalah proyek kerja sama dengan Panasonic untuk program eco ideas. Ketiga, Informan Ayas (Ay) adalah mahasiswi S1 lulusan dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, bekerja sebagai karyawan swasta terutama bergerak dibidang Agensi periklanan ternama di Surabaya yaitu CV Solusi Kaya Warna atau yang lebih dikenal dengan SKAWAN creative agency, disana menjabat sebagai Bussines Development Staff. 

Keempat adalah Informan Abdul (Ab) adalah mahasiswa yang sedang menempuh kuliah untuk jenjang S2 di Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga dengan fokus kajian studinya tentang pembangunan dan CSR (community development) juga pernah menyadang jabatan sebagai PRESBEM (Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa) FISIP Universitas Airlangga sekaligus juga menjabat sebagai Sekjen (Sekertaris Jendral) di Komisariat GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) FISIP Uiversitas Airlangga dan beberapa kali menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Jurusan Sosiologi selama Ia menempuh jenjang S1. Kelima, Informan Laras (L) adalah mahasiswi fresh graduate lulusan dari Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Saat ini berusia 22 tahun dan memiliki hobi memasak serta kuliner. Informan L berasal dari keluarga kelas menengah atas. Informan Puguh adalah mahasiswa semester 9 Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Ia memiliki pengalaman bekerja di DETEKSI Jawa Pos selama satu tahun setengah, disana Informan P bekerja untuk divisi desainer grafis, layouter dan illustrator. 

Berdasar hasil FGD dengan beberapa informan yang berkaitan dengan penelitian ini, ditemukan data penerimaan khalayak terhadap beberapa green advertising di media massa dimaknai secara beragam. Beberapa pemaknaan secara hegemonic position bahkan juga ada yang oppossitional dengan definisi yang telah disampaikan dalam definisi green advertising di awal jurnal ini. Pemaknaan mengenai green advertising tersebut yaitu “green advertising dipahami sebagai bentuk komoditas”, isu go green ditampilkan untuk menarik minat masyarakat agar bersedia membeli produk dan memberikan keuntungkan bagi pihak perusahaan yang beriklan. Para pengiklan adalah orang-orang yang pandai memanfaatkan isu, penilaian ini dari sudut pandang dirinya sebagai seorang advertiser, apalagi isu green adalah hal yang sedang ‘seksi’ untuk ‘dijual’ saat ini, jadi apapun isu yang di gaungkan di masyarakat tujuan utama produsen adalah untuk menjual produk. Jawaban ini diutarakan oleh Informan Ayas karena dipengaruhi dari latar belakangnya sebagai seorang sarjana lulusan Ilmu Komunikasi, sehingga memiliki pemahaman lebih tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan mata kuliah pemasaran seperti dalam Integrated Marketing Communication (IMC) ditambah lagi Ia bekerja di bidang advertising agency, hal ini membuatnya paham tentang seluk beluk dunia periklanan.

“Kalo green advertising sihh iklan yang mengangkat isu lingkungan sebagai yaah itu tadi, komoditasnya itu isunya gitu walaupun bener kata Chod tadi, intinya tuh jualan produk, intinya iklan itukan semua, “hey kamu belien aku, belien aku,”
(Informan Ay, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)

Pemaknaan serupa juga diutarakan oleh Informan Ab yang mengatakan jika green advertising tidak berbeda dengan tujuan iklan pada umumnya yaitu untuk marketing/pemasaran produk, tidak ada perbedaan tujuan antara iklan hijau ataupun iklan yang tidak hijau. Pengiklan memanfaatkan metode baru dengan mencoba menjual isu green yang sedang booming di abad 21, dengan kata lain ‘isu hijau’ inilah yang digunakan sebagai ‘senjata’ untuk penjualan produk dalam iklan. Latar belakang Informan Abdul sebagai mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu sosial dan Politik membuat pemahamannya mengenai green advertising dihubungkan dengan ilmu politik dan fenomena sosial saat ini, selain itu Informan juga memiliki hobi membaca sehingga menambah wawasannya tentang banyak hal, Informan Ab sampai sekarang juga merupakan anggota aktif dari organisasi GMNI, sikap kritisnya juga dipengaruhi dari kegiatan diskusi rutin yang dilakukan bersama teman-temannya, terutama yang membahas mengenai ilmu sosial politik.

“Kalau mau nambahin yaa, green advertising ya, mungkin kalau aku, kita menggunakan istilah advertising kan iklan, dan iklan juga secara gak langsung kita pahami sebagaimana marketing ya penjualan kan yaa..apapun itu kalau memang kita harus melakukan penjualan kan harus menggunakan strategi dan bagaimana ide-ide yang emang ditangkap khalayak umum secara mudah gitu lo, nah mungkin untuk era abad ke 21 ini ya mungkin isu yang lagi diangakat di-booming-kan memang isu lingkungan isu-isu green ya memang lagi di-booming-kan tapi tetap saja saya sama Informan Ay sepaham karena ya itu sebagai bagian dari bentuk marketing-nya tetep mereka jual produknya” 
(Informan Ab, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)

Selain dianggap sebagai komoditas, greenadvertising juga dimaknai sebagai greenwashing. Greenwashing bisa terjadi jika ada kesalahan informasi dari claim lingkungan yang pada kenyataanya produk tersebut tidak sesuai dengan apa yang ada dalam keterangan di iklan, greenwashing adalah tindakan kebohongan yang dilakukan sejumlah perusahaan karena mereka ingin mendapatkan keuntungan pada produk atau servis yang mereka pasarkan. Informan Puguh (P) melihat bahwa perusahaan di Indonesia khususnya perusahaan migas (minyak dan gas bumi) dianggap melakukan tindakan yang merusak lingkungan karena jika ditinjau dari proses produksi, mereka adalah pihak yang secara langsung berhubungan dengan eksploitasi alam diantaranya seperti kegiatan menebang pohon untuk kepentingan pribadi perusahaan. Fenomena tersebut dipandang berkebalikan dengan image yang dibangun dalam iklan yang seolah-olah ramah lingkungan, hal ini dimaknai Informan P sebagai bentuk CSR perusahaan yang menggembar-gemborkan bahwa jika kita membeli suatu produk migas, maka kita dianggap telah menyumbangakan pohon untuk ditanam kembali, padahal kenyataannya itu hanya tameng yang dibuat perusahaan saja. 

“yaa.. kalau menurut saya itu emang deh, emang rata-rata perusahaan migas itu mesti punya tameng kayak gitu jadi istilahnya mereka CSR nya itu mesti nanem pohon apa. Sebenernya mereka malah dari mbukak lahannya itu lebih banyak dari nanamnya itu lebih gede,” 
(Informan P, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)

Hal ini seperti yang dikatakan Gilian Dyer dalam ‘Advertising as Communication’, kapitalisme menghasilkan pelbagai barang yang tidak benar-benar kita butuhkan dan sebagai akibatnya, iklan adalah bentuk komunikasi yang disalah gunakan, yang tidak selalu menyampaikan kebenaran dalam usahanya untuk memaksimalkan laba perusahaan dan mengeluarkan barang dari rak.

Pemaknaan selanjutnya yaitu “green advertising sebagai usaha untuk mendapatkan citra baik perusahaan dimata masyarakat”, berlatar belakang sebagai aktifis lingkungan di Komunitas Tunas Hijau Informan Ali (Al) terbiasa dengan aksi yang benar-benar nyata untuk lingkungan, seharusnya tidak hanya gencar pada promosinya saja. Karena itu, green advertising hanya sebuah tindakan yang semata-mata menguntungkan perusahaan, bukan untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.

“ee.. yah itukan pencarian branded dari sebuah perusahaan kan, dimana sekarang kan lagi banyak isu tentang go green nah jadi perusahanan kan banyak yang mengarah kesana, ee.. ya ini, untuk mencari branded-nya dia” 
(Informan Al, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)

Green advertising tidak bisa dijadikan sebagai jaminan bahwa produk yang diiklankan itu benar-benar hijau/ramah lingkungan seperti yang digembar-gemborkan pada tampilan iklan. Sejatinya, ‘hijau’ yang masyarakat harapkan harusnya tetap mempertimbangkan juga material/bahan bakunya, jadi tindakan ramah lingkungan itu tidak hanya berhenti pada promosi iklannya saja.

“kalau menurutku sih harusnya eem..apa ya mempertimbangkan bahan-bahan yang digunakan atau ee.. dampak iklan itu sendiri ke lingkungan, tapi kayakya green advertising itu, udah mulai jadi bener eco label asal aja, asal ada iklan pokoknya dikasih embel-embel go green, save the earth pokoknya sayangi bumi gitu, kebanyakan sih kayak gitu padahal maksudnya sih sebenernya kayaknya green advertising itu kayak gitu sih,” 
(Informan L, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)

Pemaknaan paling berbeda disampaikan oleh Informan Riris (Ri). Memilki latar belakang sebagai praktisi lingkungan, Ia memaknai green advertising sebagai suatu iklan yang bisa menghijaukan. Menghijaukan yang dimaksudkan adalah membuat lingkungan menjadi bersih, udara menjadi segar dan peduli terhadap lingkungan. Berdasarkan pengalaman, jika terdapat kata ‘hijau’ dalam suatu iklan, maka hal itu dimaknai secara positif. Informan Ri beranggapan bahwa green advertising mengajak masyarakat untuk hidup lebih sehat dan ramah lingkungan. 

“ee..kalo menurut bahasaku ya mbak ya ee.. iklan hijau maksudnya itu memang tujuannya mengajak masyarakat, msyarakat itu... menghijaukan paling tidak itu ee.. menghijaukan membuat bersih, dan udaranya itu seger gitu lo mbak.. lebih green, peduli tentang kegiatan apa yang dilakukan saat ini kan gitu…” 
(Informan Ri, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)

Pendapat ini juga dipengaruhi dari jenjang pendidikan formal yang dilaluinya sampai SMA, jadi pengetahuan tentang periklanan dan ‘green’ cukup terbatas pada pengalamannya saja selama ini. Green advertising dimaknai sesuai dengan definisi awal yang memang mengusung hal-hal ramah lingkungan. Pendapat informan Ri melihat sesuatu secara total dan jumlah besar sebagai ‘national interest’.

KESIMPULAN
Melalui analisis dengan menggunakan studi reception analysis peneliti menyimpulkan berdasarkan rumusan permasalahan yang telah diajukan, berdasar sesi Focus Group Discussion (FGD) yang telah dilakukan peneliti mendapatkan beberapa variasi pemaknaan yang dibentuk oleh masing-masing informan terkait beberapa green advertising yang terdapat di media massa. Pertama, yaitu green advertising sebagai bentuk komoditas yang bisa diperdagangkan. Penjelasannya adalah green advertising sebagai bentuk pemanfaatan isu go green yang dijadikan komoditas utama dengan tujuan untuk menaikkan penjualan produk dari perusahaan. 

Isu go green ditampilkan untuk menarik minat masyarakat agar bersedia membeli produk dan memberikan keuntungkan pihak perusahaan yang beriklan. Informan berlatarbelakang sebagai sarjana lulusan Ilmu komunikasi sehingga memiliki pemahaman lebih tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan mata kuliah pemasaran seperti dalam Integrated Marketing Communication (IMC) saat dibangku perkuliahan, ditambah lagi Ia bekerja dibidang advertising agency, hal ini membuatnya paham tentang seluk beluk dunia periklanan. Informan yang memiliki latar belakang sebagai mahasiswa S2 Sosiologi Fakultas Ilmu sosial dan Politik memahami green advertising dihubungkan dengan ilmu politik dan fenomena sosial saat ini. Menurutnya, green advertising tidak berbeda dengan tujuan iklan pada umum nya yaitu untuk marketing/pemasaran produk, tidak ada perbedaan tujuan antara iklan hijau ataupun iklan yang tidak hijau. Pengiklan memanfaatkan metode baru dengan mencoba menjual isu green yang sedang booming di abad 21, dengan kata lain ‘isu hijau’ inilah yang digunakan sebagai ‘senjata’ untuk penjualan produk dalam iklan. 

Garis besar pemaknaan kedua yang dibentuk informan adalah “green advertising sebagai bentuk dari tindakan greenwashing”. Greenwashing adalah tindakan kebohongan yang dilakukan sejumlah perusahaan karena mereka ingin mendapatkan keuntungan pada produk atau servis yang mereka pasarkan. Informan berlatarbelakang sebagai mahasiswa di jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) memaknai green advertising khususnya pada perusahaan Migas (minyak dan gas bumi) dianggap melakukan tindakan yang merusak lingkungan karena jika ditinjau dari proses produksi, mereka adalah pihak yang secara langsung berhubungan dengan eksploitasi alam, diantaranya adalah seperti kegiatan menebang pohon untuk kepentingan pribadi perusahaan. Fenomena tersebut dipandang berkebalikan dengan image yang dibangun dalam iklan yang seolah-olah ramah lingkungan, hal ini dimaknai Informan P sebagai bentuk CSR perusahaan yang menggembar-gemborkan bahwa jika kita membeli suatu produk migas, maka kita dianggap telah menyumbangakan pohon untuk di tanam kembali, padahal kenyataannya itu hanya tameng yang dibuat perusahaan saja. 

Pemaknaan ketiga oleh informan yaitu green advertising adalah sebagai usaha untuk mendapatkan citra baik perusahaan dimata masyarakat. Informan memiliki latarbelakang sebagai aktifis lingkungan di Komunitas Tunas Hijau, menurutnya green advertising perusahaan hanya bertujuan untuk mengejar branded-nya sendiri, yang dimaksud ‘branded’ disini adalah perusahaan akan menjadi lebih bermerk atau dengan kata lain menaikkan gengsi perusahaan. Informan dengan latar belakang sebagai mahasiswa lulusan Desain Komunikasi Visual memaknai green advertising ini merupakan label yang dipasangkan secara asal-asalan saja oleh perusahaan dengan tujuan agar produknya dianggap lebih ramah lingkungan dan baik bagi alam jika dibandingkan dengan produk-produk lainnya. Informan mengatakan iklan dengan bentuk green advertising tidak bisa dijadikan sebagai jaminan bahwa produk yang diiklankan itu benar-benar ramah lingkungan seperti yang digembar-gemborkan pada tampilan dalam iklan. Sejatinya, ‘hijau’ yang masyarakat harapkan harusnya tetap mempertimbangkan juga material/bahan baku-nya, jadi tindakan ramah lingkungan itu tidak hanya berhenti pada promosi iklannya saja. 

Garis besar pemaknaan keempat green advertising sebagai iklan yang ramah lingkungan. Memiliki latar belakang sebagai praktisi lingkungan, Informan Ri memaknai green advertising sebagai suatu iklan yang bisa menghijaukan. Menghijaukan yang di maksudkan adalah membuat lingkungan menjadi bersih, udara menjadi segar dan peduli terhadap lingkungan. Berdasarkan pengalamannya, jika terdapat kata ‘hijau’ dalam suatu iklan, maka hal itu dimaknai secara positif. Informan Ri beranggapan bahwa green advertising mengajak masyarakat untuk hidup lebih sehat dan ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Lee, morle and Carla Johnson.1999.Principles of advertising : a global perpective. Jakarta:Prenada
Myers,Kathy. 2012. Membongkar Sensasi dan Godaan Iklan. Yogyakarta:Jalasutra
Rahmadi, Takdir.2001.Hukum Lingkungan di Indonesia.Jakarta:Rajawalipers
Shim, Terence.2003. Advertising Promotion and Supplemental Aspect of Integrated Marketing Communications.Jakarta:Erlangga
Thwaites, Tony, Llyod Davis & Warwick Mules,2002. Introduction Cultural and Media Studies : Sebuah Pendekatan Semiotik.Yogyakarta: Jalasutra.
Karna,Jari., Juslin,Heikki., Ahonen, Virpi., & Hansen, Eric.2001.Green Advertising : greenwash or a true reflection of marketing strategies?,page 59-70.pdf
www.menlh.go.id
www.sinsofgreenwashing.com

E-Commerce Dan Sistem Pembayaran Pada E-Commerce

E-Commerce Dan Sistem Pembayaran Pada E-Commerce 
BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan internet menyebabkan terbentuknya sebuah dunia baru yang lazim disebut dunia maya. Di dunia maya ini setiap individu memiliki hak dan kemampuan untuk berinteraksi dengan individu lain tanpa batasan apapun yang dapat menghalanginya. Sehingga globalisasi yang sempurna sebenarnya telah berjalan di dunia maya yang menghubungkan seluruh komunitas digital. Dari seluruh aspek kehidupan manusia yang terkena dampak kehadiran internet, sektor bisnis merupakan sektor yang paling terkena dampak dari perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi serta paling cepat tumbuh. Melalui e-commerce, untuk pertama kalinya seluruh manusia di muka bumi memiliki kesempatan dan peluang yang sama agar dapat bersaing dan berhasil berbisnis di dunia maya.

E-commerce adalah suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronik yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet (teknologi berbasis jaringan digital) sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah institusi (business to business) dan konsumen langsung (business to consumer), melewati kendala ruang dan waktu yang selama ini merupakan hal-hal yang dominan. Pada masa persaingan ketat di era globalisasi saat ini, maka persaingan yang sebenarnya adalah terletak pada bagaimana sebuah perusahaan dapat memanfaatkan e-commerce untuk meningkatkan kinerja dan eksistensi dalam bisnis inti. Dengan aplikasi e-commerce, seyogyanya hubungan antar perusahaan dengan entitas eksternal lainnya (pemasok, distributor, rekanan, konsumen) dapat dilakukan secara lebih cepat, lebih intensif, dan lebih murah daripada aplikasi prinsip manajemen secara konvensional (door to door, one-to-one relationship). Maka e-commerce bukanlah sekedar suatu mekanisme penjualan barang atau jasa melalui medium internet, tetapi juga terhadap terjadinya sebuah transformasi bisnis yang mengubah cara pandang perusahaan dalam melakukan aktivitas usahanya. Membangun dan mengimplementasikan sebuah system e-commerce bukanlah merupakan proses instant, namun merupakan transformasi strategi dan system bisnis yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan perusahaan dan teknologi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI E-COMMERCE
E-commerce merupakan prosedur berdagang atau mekanisme jual-beli di internet dimana pembeli dan penjual dipertemukan di dunia maya. E-commerce juga dapat didefinisikan sebagai suatu cara berbelanja atau berdagang secara online atau direct selling yang memanfaatkan fasilitas Internet dimana terdapat website yang dapat menyediakan layanan “get and deliver“. 

E-commerce akan merubah semua kegiatan marketing dan juga sekaligus memangkas biaya-biaya operasional untuk kegiatan trading (perdagangan).

Proses yang ada dalam E-commerce adalah sebagai berikut :
a. Presentasi electronis (Pembuatan Web site) untuk produk dan layanan.
b. Pemesanan secara langsung dan tersedianya tagihan.
c. Otomasi account Pelanggan secara aman (baik nomor rekening maupun nomor Kartu Kredit).
d. Pembayaran yang dilakukan secara Langsung (online) dan penanganan transaksi.

B. JENIS E-COMMERCE
E-Commerce dapat dibagi menjadi beberapa jenis yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

1. Business to Business (B2B)

Business to Business eCommerce memiliki karakteristik:
a) Trading partners yang sudah diketahui dan umumnya memiliki hubungan (relationship) yang cukup lama. Informasi hanya dipertukarkan dengan partner tersebut. Dikarenakan sudah mengenal lawan komunikasi, maka jenis informasi yang dikirimkan dapat disusun sesuai dengan kebutuhan dan kepercayaan (trust).

b) Pertukaran data (data exchange) berlangsung berulang-ulang dan secara berkala, misalnya setiap hari, dengan format data yang sudah disepakati bersama. Dengan kata lain, servis yang digunakan sudah tertentu. Hal ini memudahkan pertukaran data untuk dua entiti yang menggunakan standar yang sama.

c) Salah satu pelaku dapat melakukan inisiatif untuk mengirimkan data, tidak harus menunggu parternya.

d) Model yang umum digunakan adalah peer-to-peer, dimana processing intelligence dapat didistribusikan di kedua pelaku bisnis.

Business to Business eCommerce umumnya menggunakan mekanisme Electronic Data Interchange (EDI). Sayangnya banyak standar EDI yang digunakan sehingga menyulitkan interkomunikasi antar pelaku bisnis. Standar yang ada saat ini antara lain: EDIFACT, ANSI X.12, SPEC 2000, CARGO-IMP, TRADACOMS, IEF, GENCOD, EANCOM, ODETTE, CII. Selain standar yang disebutkan di atas, masih ada format- format lain yang sifatnya proprietary. Jika anda memiliki beberapa partner bisnis yang sudah menggunakan standar yang berbeda, maka anda harus memiliki sistem untuk melakukan konversi dari satu format ke format lain. Saat ini sudah tersedia produk yang dapat melakukan konversi seperti ini.

Pendekatan lain yang sekarang cukup populer dalam standarisasi pengiriman data adalah dengan menggunakan Extensible Markup Language (XML) yang dikembangkan oleh World Wide Web Consortium (W3C). XML menyimpan struktur dan jenis elemen data di dalam dokumennya dalam bentuk tags seperti HTML tags sehingga sangat efektif digunakan untuk sistem yang berbeda. Kelompok yang mengambil jalan ini antara lain adalah XML/EDI group.

Pada mulanya EDI menggunakan jaringan tersendiri yang sering disebut VAN (Value Added Network). Populernya jaringan komputer Internet memacu inisiatif EDI melalui jaringan Internet, atau dikenal dengan nama EDI over Internet.

Topik yang juga mungkin termasuk di dalam business-to-business eCommerce adalah electronic/Internet procurement dan Enterprise Resource Planning (ERP). Hal ini adalah implementasi penggunaan teknologi informasi pada perusahaan dan pada manufakturing. Sebagai contoh, perusahaan Cisco maju pesat dikarenakan menggunakan teknologi informasi sehingga dapat menjalankan just-in-time manufacturing untuk produksi produknya.

2. Business to Consumer (B2C)

Business to Consumer eCommerce memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan ke umum.
b) Servis yang diberikan bersifat umum (generic) dengan mekanisme yang dapat digunakan oleh khalayak ramai. Sebagai contoh, karena sistem Web sudah umum digunakan maka servis diberikan dengan menggunakan basis Web.
c) Servis diberikan berdasarkan permohonan (on demand). Konsumer melakukan inisiatif dan produser harus siap memberikan respon sesuai dengan permohonan.
d) Pendekatan client/server sering digunakan dimana diambil asumsi client (consumer) menggunakan sistem yang minimal (berbasis Web) dan processing (business procedure) diletakkan di sisi server.

Business to Consumer eCommerce memiliki permasalahan yang berbeda. Mekanisme untuk mendekati consumer pada saat ini menggunakan bermacam-macam pendekatan seperti misalnya dengan menggunakan “electronic shopping mall” atau menggunakan konsep “portal”.

Electronic shopping mall menggunakan web sites untuk menjajakan produk dan servis. Para penjual produk dan servis membuat sebuah storefront yang menyediakan katalog produk dan servis yang diberikannya. Calon pembeli dapat melihat-lihat produk dan servis yang tersedia seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan window shopping. Bedanya, (calon) pembeli dapat melakukan shopping ini kapan saja dan darimana saja dia berada tanpa dibatasi oleh jam buka toko. Contoh penggunaan web site untuk menjajakan produk dan servis antara lain:

Ø Amazon http://www.amazon.com
Amazon merupakan toko buku virtual yang menjual buku melalui web sitenya. Kesuksesan Amazon yang luar biasa menyebabkan toko buku lain harus melakukan hal yang sama.
Ø eBay http://www.ebay.com, merupakan tempat lelang on-line.
Ø NetMarket http://www.netmarket.com, yang merupakan direct marketing dari Cendant (hasil merge dari HFC, CUC International, Forbes projects). NetMarket akan mampu menjual 95% dari kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Konsep portal agak sedikit berbeda dengan electronic shopping mall, dimana pengelola portal menyediakan semua servis di portalnya (yang biasanya berbasis web). Sebagai contoh, portal menyediakan eMail gratis yang berbasis Web bagi para pelanggannya sehingga diharapkan sang pelanggan selalu kembali ke portal tersebut. Contoh portal antara lain:
• Netscape Home <http://home.netscape.com>
• My Yahoo 

Perdagangan Kolabratif.(collaborative commerce). 
Dalam c-commerce, para mitra bisnis berkolaborasi (alih-alih membeli atau menjual) secara elektronik. Kolaborasi semacam ini seringkali terjadi antara dan dalam mitra bisnis do sepanjang rantai pasokan. 

Consumen to consumen(C2C) 
Dalam C2C seseorang menjual produk atau jasa ke orang lain. Dapat juga disebut sebagai pelanggan ke palanggan yaitu orang yang menjual produk dan jasa ke satu sama lain.

Lelang C2C. Dalam lusinan negara, penjualan dan pembelian C2C dalam situs lelang sangat banyak. Kebanyakan lelang dilakukan oleh perantara, seperti eBay.com, auctionanything.com; para pelanggan juga dapat menggunakan situs khusus seperti buyit.com atau bid2bid.com. Selain itu banyak pelanggan yang melakukan lelangnya sendiri seperti greatshop.com menyediakan piranti lunak untuk menciptakan komunitas lelang terbalik C2C online.

Iklan Kecik. Orang mejual ke orang lainnya setiap hari melalui iklan kecik (classified ad) di koran dan majalah. Iklan kecik berbasis internet memiliki satu keunggulan besar daripada berbagai jenis iklan kecik yang lebih tradisional: iklan ini menawarkan pembaca nasional bukan hanya local. Iklan kecik tersedia melalui penyedia layanan internet seperti AOL, MSN, dll.

Layanan Personal. Banyak layanan personal (pengacara, tukang, pembuat laporan pajak, penasehat investasi, layanan kencan) tersedia di internet. Beberapa diantaranya tersedia dalam iklan kecik, tetapi lainnya dicantumkan dalam situs web serta direktory khusus. Beberapa gratis dan ada juga yang berbayar 
Comsumen to Business(C2B). 

Dalam C2B konsumen memeritahukan kebutuhan atas suatu produk atau jasa tertentu, dan para pemasok bersaing untuk menyediakan produk atau jasa tersebut ke konsumen. Contohnya di priceline.com, dimana pelanggan menyebutkan produk dan harga yang diinginkan, dan priceline mencoba menemukan pemasok yang memenuhi kebutuhan tersebut. 

Perdagangan Intrabisnis (Intraorganisasional) 
Dalam situasi ini perusahaan menggunakan ecommerce secara internal untuk memperbaiki operasinya. Kondisi khusus dalam hal ini disebut sebagai e-commerce B2E(business to its employees) yang digambarkan dalam studi kasus terbuka. 

Pemerintah keWarga (Goverment to Citizen—G2C) 
Dalam kondisi ini sebuah entitas (unit) pemerintah menyediakan layanan ke para warganya melalui teknologi E-commerce. Unit-unit pemerintah dapat melakukan bisnis dengan berbagai unit pemerintah lainnya serta dengan berbagai perusahaan(G2B). E-goverment yaitu penggunaan teknologi internet secara umum dan e-commerce secara khusus untuk mengirimkan informasi dan layanan publik ke warga, mitra bisnis, dan pemasok entitas pemerintah, serta mereka yang bekerja di sektor publik.

E-goverment menawarkan sejumlah manfaat potensial : E-govermant meningkatkan efisiensi dan efektivitas fungsi pemerintah, termasuk pemberian layanan publik. E-goverment memungkinkan pemerintah menjadi lebih transparan pada masyarakat dan perusahaan dengan memberikan lebih banyak akses informasi pemerintah. E-goverment juga memberikan peluan bagi masyarakat untuk memberikan umpan balik ke berbagai lembaga pemerintah serta berpartisipasi dalam berbagai lembaga dan proses demokrasi.

E-goverment dapat dibagi menjadi tiga kategori :
Pemerintah ke Warga(Goverment to Citizen). Lembaga pemerintah makin banyak yang menggunakan internet untuk menyediakan layanan pada warga.

Pemerintah ke Perusahaan(Goverment to Business). Pemerintah menggunakan internet untuk menjual dan membeli dari perusahaan. 

Pemerintah ke Pemerintah(Goverment to Government). Meliputi e-commerce intrapemerintah (transaksi antar pemerintah yang berbeda) serta berbagai layanan antar lembaga pemerintah yang berbeda.

Implementasi E-Goverment. Transformasi dari pemberian layanan pemerintah tradisional ke implementasi penuh layanan pemerintah online dapat menjadi proses yang memakan waktu. Terdapat enam tahap dalam transformasi ke e-goverment : tahap 1. publikasi penyebaran informasi; tahap 2. transaksi dua arah “secara resmi”, dengan sebuah departemen dalam waktu yang sama; tahap 3. portal multiguna; tahap 4. personalisasi portal; tahap 5. pengelompokkan layanan umum; tahap 6. integrasi penuh dan transformasi badan. 
Perdagangan Mobile(mobile commerce-m-commerce). 

Ketika e-commerce dilakukan dalam lingkungan nirkabel, seperti dengan menggunakan telepon selluler untuk mengakses internet dan berbelanja, maka hal ini disebut m-commerce.

C. STANDAR TEKNOLOGI E-COMMERCE
Di samping berbagai standar yang digunakan di Intenet, e-commerce juga menggunakan standar yang digunakan sendiri, umumnya digunakan dalam transaksi bisnis-ke-bisnis. Beberapa diantara yang sering digunakan adalah:

1. Electronic Data Interchange (EDI)
Dibuat oleh pemerintah di awal tahun 70-an dan saat ini digunakan oleh lebih dari 1000 perusahaan Fortune di Amerika Serikat, EDI adalah sebuah standar struktur dokumen yang dirancang untuk memungkinkan organisasi besar untuk mengirimkan informasi melalui jaringan private. EDI saat ini juga digunakan dalam corporate web site.

2. Open Buying on the Internet (OBI)
Adalah sebuah standar yang dibuat oleh Internet Purchasing Roundtable yang akan menjamin bahwa berbagai sistem e-commerce dapat berbicara satu dengan lainnya. OBI yang dikembangkan oleh konsorsium OBI http://www.openbuy.org/ didukung oleh perusahaan-perusahaan yang memimpin di bidang teknologi seperti Actra, InteliSys, Microsoft, Open Market, dan Oracle.

3. Open Trading Protocol (OTP)
OTP dimaksudkan untuk menstandarisasi berbagai aktifitas yang berkaitan dengan proses pembayaran, seperti perjanjian pembelian, resi untuk pembelian, dan pembayaran. OTP sebetulnya merupakan standar kompetitor OBI yang dibangun oleh beberapa perusahaan, seperti AT&T, CyberCash, Hitachi, IBM, Oracle, Sun Microsystems, dan British Telecom.

4. Open Profiling Standard (OPS)
Sebuah standar yang di dukung oleh Microsoft dan Firefly http://www.firefly.com/. OPS memungkinkan pengguna untuk membuat sebuah profil pribadi dari kesukaan masing-masing pengguna yang dapat dia share dengan merchant. Ide dibalik OPS adalah untuk menolong memproteksi privasi pengguna tanpa menutup kemungkinan untuk transaksi informasi untuk proses marketing dsb.

5. Secure Socket Layer (SSL)
Protokol ini di disain untuk membangun sebuah saluran yang aman ke server. SSL menggunakan teknik enkripsi public key untuk memproteksi data yang di kirimkan melalui Internet. SSL dibuat oleh Netscape tapi sekarang telah di publikasikan di public domain.

6. Secure Electronic Transaction (SET)
SET akan mengenkodekan nomor kartu kredit yang di simpan di server merchant. Standar ini di buat oleh Visa dan MasterCard, sehingga akan langsung di dukung oleh masyarakat perbankan. Ujicoba pertama kali dari SET di e-commerce dilakukan di Asia.

7. Truste
Adalah sebuah partnership dari berbagai perusahaan yang mencoba membangun kepercayaan public dalam e-commerce dengan cara memberikan cap Good Housekeeping yang memberikan approve pada situs yang tidak melanggar kerahasiaan konsumen.

D. ISTILAH-ISTILAH DALAM E-COMMERCE
1. Digital atau electronic cash: juga dikenal sebagai e-cash, istilah ini ditujukan untuk beberapa pola / metoda yang memungkinkan seseorang untuk membeli barang atau jasa dengan cara mengirimkan nomor dari satu komputer ke komputer yang lain. Nomor tersebut, seperti yang terdapat di mata uang, di isukan oleh sebuah bank dan merepresentasikan sejumlah uang betulan. Salah satu kelebihan yang dibawa oleh digital cash adalah sifatnya yang anonymous dan dapat di pakai ulang, seperti uang cash biasa. Hal ini merupakan perbedaan utama antara e-cash dengan transaksi kartu kredit melalui Internet.

2. Digital money: adalah terminologi global untuk berbagai e-cash dan mekanisme pembayaran elektronik di Internet. 

3. Disintermediation: adalah proses untuk memotong jalur perantara. Kira-kira pada saat perusahaan yang berbasiskan web membypass kanal retail tradisional dan menjual secara langsung ke pelanggan / pembeli, maka perantara tradisional – seperti toko dan jasa mail order – akan kehilangan pekerjaan.

4. Electronic checks: pada saat ini sedang di ujicoba oleh CyberCash http://www.cybercash.com/, sistem check elektronik seperti PayNow akan mengambil uang dari account check di bank pelanggan untuk membayar PAM atau telepon.

5. Electronic wallet: Pola pembayaran – seperti CyberCash Internet Wallet http://www.cybercash.com/, akan menyimpan nomor kartu kredit anda di harddisk anda dalam bentuk terenkripsi yang aman. Anda akan dapat melakukan pembelian-pembelian pada situs Web yang mendukung electronic wallet tersebut. Jika anda ingin membeli sesuatu pada toko yang mendukung electronic wallet, maka pada saat menekan tombol Pay maka proses pembayaran melalui kartu kredit akan dilakukan transaksinya secara aman oleh server perusahaan electronic wallet. Vendor browser pada saat ini telah berusaha untuk melakukan negosiasi untuk memasukan teknologi e-wallet tadi ke produk mereka.

6. Extranet: adalah sebuah kelanjutan dari intranet perusahaan yang mengkaitkan jaringan internal satu perusahaan dengan jaringan internal supplier mereka maupun pelanggan mereka. Dengan cara itu sangat mungkin untuk mengembangkan aplikasi e-commerce yang memungkinkan menyambungkan semua aspek bisnis, dari proses pemesanan hingga pembayaran.

7. Micropaymet: transaksi dalam jumlah kecil antara beberapa ratus rupiah hingga puluhan ribu rupiah, misalnya untuk mengambil / mengakses grafik, game maupun informasi. Pay-as-you-go micropayment seharusnya akan membuat revolusi di dunia e-commerce. Contohnya ESPN SportsZone http://espn.sportszone.com/ menggunakan CyberCoin untuk membayar US$1 untuk mengaskses situs mereka selama satu hari – tanpa perlu membayar penuh langganan bulanan. Kenyataan di lapangan sebagian besar pelanggan yang potensial tidak terlalu bersedia untuk bermain-main dengan micropayment.

E. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN E-COMMERCE
Ø Keuntungan
a. Bagi Perusahaan, memperpendek jarak, perluasan pasar, perluasan jeringan mitra bisnis dan efisiensi, dengan kata lain mempercepat pelayanan ke pelanggan, dan pelayanan lebih responsif, serta mengurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan kertas, seperti biaya pos surat, pencetakan, report, dan sebagainya sehingga dapat meningkatkan pendapatan. 

b. Bagi Consumen, efektif, aman secara fisik dan flexible

c. Bagi Masyarakat Umum, mengurangi polusi dan pencemaran lingkungan, membuka peluang kerja baru, menguntungkan dunia akademis, meningkatkan kualitas SDM

Ø Kerugian
a. Meningkatkan INDIVIDUALISME, pada perdagangan elektronik seseorang dapat bertransaksi dan mendapatan barang/jasa yang diperlukan tanpa bertemu dengan siapapun.
b. Terkadang Menimbulkan Kekecewaan, apa yang dilihat dilayar monitor komputer kadang berbeda dengan apa yang dilihat secara kasat mata
c. Tidak MANUSIAWI, sering sekali seseorang pergi ke toko & MALL tidak sekedar ingin memuaskan kebutuhannya akan barang/ jasa tertentu, akan tetapi bisa juga untuk refreshing, ketemu teman dan keluarga dan sebagainya.

F. SISTEM PEMBAYARAN E-COMMERCE
Metode pembayaran di internet menurut pakar internet, Kang Onno Purba, terdapat 5 mekanisme yaitu :
1. Transaksi model-ATM, yang menyangkut hanya institusi finansial dan pemegang account yang akan melakukan pengambilan atau mendeposit uangnya dari account masing-masing. 
Pembayaran dua pihak tanpa perantara, transaksi dilakukan langsung antara dua pihak tanpa perantara menggunakan uang nasional-nya. 

Pembayaran dengan perantaraan pihak ke tiga, umumnya proses pembayaran yang menyangkut debit, kredit maupun check masuk dalam kategori ini. 
Micropayment, dalam bahasa sederhananya adalah pembayaran untuk uang recehan yang kecil-kecil. Mekanisme Micropayment ini penting dikembangkan karena sangat diperlukan pembayaran receh yang kecil tanpa overhead transaksi yang tinggi. 

Anonymous digital cash, uang elektronik yang di enkripsi, di dahului oleh David Chaum dengan Digicash-nya (http://www.digicash.com). Uang elektronik menjamin privacy dari user cash tetap terjamin sama seperti uang kertas maupun coin yang kita kenal.

Untuk pembayaran, e-commerce menyediakan banyak alternatif. Caranya adalah dengan terlebih dahulu mendaftar sebagai customer pada web tersebut. Pembeli yang telah mempunyai kartu kredit dapat menggunakan kartu tersebut untuk pembayaran. Selain kartu kredit, alternatif lainnya adalah dengan menggunakan e-cash. E-cash sebenarnya merupakan suatu account khusus untuk pembayaran melalui internet. Account tersebut dibuka dengan menggunakan kartu kredit yang dipunyai sebelumnya. Customer hanya perlu mengisi pada account e-cashnya untuk dapat digunakan. 

Alternatif lain dalam pembayaran di internet adalah dengan menggunakan smartcard. Di Singapura, smartcard dikenal dengan istilah cash card. Pemakaian smartcard ini hampir sama dengan pemakaian kartu ATM yang biasa dipakai untuk berbelanja, yaitu pada saat transaksi, uangnya didebet langsung dari account di bank. Untuk pembayaran di internet, user harus memiliki ‘smart card reader’. Dalam pemakaiannya, alat khusus ini disambungkan ke port serial di komputer. Pada saat melakukan transaksi, kartu smart card harus digesekkan ke alat tersebut, sehingga chip yang terdapat di kartu dapat dibaca oleh komputer. Untuk softwarenya, digunakan software bernama ‘e-wallet’. Contoh web site yang telah menyediakan smartcard untuk pembayaran adalah http://www.discvault.com. 

Selain dengan ketiga cara di atas, terdapat alternatif pembayaran yang relatif baru dan belum begitu populer. Alternatif ini adalah penggunaan iCheck, yaitu metode pembayaran dengan menggunakan cek. Pembayaran ini membutuhkan nomor cek milik customer. Web site yang menyediakan penjelasan mengenai cara pembayaran ini adalah http://www.icheck.com.

Dengan keterbatas pengetahuan dan referensi yang kami dapatkan kami menyimpulkan terdapat 2 kriteria mekanisme pembayaran e – commerce. Yaitu Sistem pembayaran on-line dan of-line

1. SISTEM PEMBAYARAN ON-LINE
• Pembayaran dua pihak tanpa perantara
• Pembayaran dengan perantara pihak ketiga melakukan pengambilan dari account masing-masing
a. Pembayaran dua pihak tanpa perantara transaksi langsung antara dua pihak tanpa perantara menggunakan uang nasionalnya
b. Pembayaran dengan perantara pihak ketiga proses pembayaran menyangkut debit, kredit maupun check.
• Sistem pihak ketiga (3rd party system)
– Pihak ketiga berfungsi sebagai agen antara pedagang / penjual & konsumen / pembeli
– Tugasnya memeriksa kartu kredit konsumen (menolak atau menyetujui transaksi) lalu mengeluarkan dana untuk pembayaran kepada pedagang
– Pelanggan membuka account dengan kartu kredit atau kartu debit, kemudian memilih nomor pin dan password
– Paypal, Paymate

• Sistem sertifikat
– Melibatkan sertifikat digital sebagai media yang akan menampilkan kartu kreditnya
– SET, SSL

• Sistem uang neto (net money)
– Konsumen merubah mata uangnya ke dalam bentuk mata uang cyber

• Sehari-hari
– Pemegang kartu (card holder)
– Penerbit kartu kredit: issuer (bank)
– Pedagang (merchant)
– Bank tempat pedagang membuka account untuk menampung uang kartu (acquirer)

• Saat transaksi
– Merchant mengkalkulasi jumlah harga pembelian dan menggesek kartu kredit pada terminal POS elektronik
– Informasi dari pita magnetik kartu akan dikirim ke acquirer untuk diautorisasi

G. DEFINISI E- GOLD
E-gold adalah suatu alat pembayaran digital baru, dikeluarkan oleh e-gold Ltd., berkedudukan di Nevis , berlaku global, standar nilainya didasarkan pada 100% harga emas murni yang berlaku di pasar dunia, dan ditampilkan dalam bentuk rekening tabungan e-gold. E-gold adalah suatu mata uang seperti halnya rupiah dan dollars, bukan merupakan mata uang nasional suatu negara. Ini berarti tidak ada suatu negara yang mengeluarkan uang kertas ataupun logam dalam mata uang e-gold. Malahan setiap transaksi dilakukan secara elektronis melalui internet. Nilai transaksi adalah berdasarkan berat emas murni. Anda dapat merubah e-gold ke dalam bentuk mata uang lain (US Dollars, Pounds , Deutche Mark..... dan sebaliknya). E-gold sudah diakui oleh banyak merchant di seluruh dunia dalam melakukan transaksi on-line, dan sebagai media pembayaran yang sah. Selain itu dana anda di E-gold dapat ditarik melalui ATM khusus di semua mesin ATM berlogo Cirrus, Maestro, dan Mastercard. Anda dapat memanfaatkan rekening e-gold ini untuk menerima pembayaran, melakukan pembayaran, berinvestasi di HYIP. E-gold memiliki website yang dijamin keamanannya dengan secure server 128 bit SSL. Anda dapat membuka rekening tanpa dikenakan biaya seperti halnya bila anda membuka rekening di bank, setelah itu anda dapat memasukkan dana anda ke rekening e-gold dengan cara membeli e-gold, dan sebaliknya anda dapat mencairkan dana e-gold anda dengan cara menjualnya. Anda telah tahu mengenai apa dan bagaimana e-gold secara sekilas, dan apakah anda berminat untuk mendapatkan account e-gold ? Jika anda berminat silahkan register; setelah berhasil masuk kedalam situs tersebut, klik create an account, untuk persyaratan pendaftaran dan seterusnya ikuti petunjuk-petunjuk selanjutnya. 

1. Manfaat E-Gold 
Berbelanja online, misalnya di: goldstores.com Menyimpan emas secara praktis dan efisien,Melakukan pembayaran, e-commerce, Payrol, Membayar tagihan, Menyumbang, Spekulasi/trading, misalnya di www.gcitrading.com dan di www.betonmarkets.com , Anda dapat memanfaatkan rekening e-gold ini untuk menerima pembayaran dan melakukan pembayaran, E-gold memiliki website yang dijamin keamanannya dengan secure server 128 bit SSL, Anda dapat membuka rekening tanpa dikenakan biaya seperti halnya bila anda membuka rekening di bank, setelah itu anda dapat memasukkan dana anda ke rekening e-gold dengan cara membeli e-gold, dan sebaliknya anda dapat mencairkan dana e-gold anda dengan cara menjualnya. Transfer antar e-gold adalah Real Time, lansung sampai ke rekening tujuan. E-gold mengenakan fee transfer yang dapat anda lihat di http://www.e-gold.com/newfees.html.

2. Membuka Account E-gold 
1. Buka website E-Gold. Silahkan klik link berikut di https://www.e-gold.com
2. Setelah muncul halaman E-Gold klik Create Account 
3. Bacalah User Agreement, jika telah menyetujui klik I agree, kemudian isilah formulir 
4. Account Name, adalah nama account E-Gold Anda, misal : sukses77 
5. Description boleh diisi boleh juga tidak, kalau diisi maka isilah dengan gambaran diri Anda 
6. User Name, isian ini sebaiknya sama dengan Account Name 
7. Alternate Passphrase, isian ini adalah Password Account E-Gold Anda, diisi dengan gabungan huruf dan angka minimal 6 karakter 
8. New E-Gold Account Passphrase, sebaiknya sama dengan Alternate Passphrase 
9. New E-gold Account Passphrase Again, harus sama dengan new E-Gold Account Passphrase. Yang perlu DICATAT adalah passphrase akan selalu digunakan untuk masuk ke dalam Account E-Gold Anda, jadi catat dan jangan sampai lupa serta jangan diberitahukan dengan orang lain. Mirip dengan PIN ATM kita di bank. 
10. Turing Number Entry, isilah dengan angka acak yang selalu berubah di sampingnya 
11. Klik open 
12. Nomor Account E-Gold akan dikirim ke alamat email Anda sesuai yang telah isikan di atas dalam proses isian registrasi 
13. Cek email Anda dari E-Gold, catat nomor Rekening E-Gold Anda karena nomor tersebut akan selalu diminta untuk mengakses rekening E-Gold Anda. Sama seperti Nomor Rekening Bank Anda di Internet 
14. Setelah Anda punya rekening E-Gold, selanjutnya adalah mencoba membuka rekening Anda dengan mengklik link http://www.e-gold.com, klik link Access Your Account 
15. Isilah Account dan Passphrases kemudian diikuti Turing Number sesuai nomor yang nampak di sebelah kanan. Nomor ini akan selalu berganti setiap kali Anda mengakses Account Anda. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keamanan dan menghindari pembajakan 
16. Selanjutnya jika ingin melihat jumlah saldo uang Anda, klik gambar timbangan (BALANCE). Mengetahui rincian transaksi(print out) silahkan klik HISTORY. Untuk merubah data pribadi Anda, klik ACCOUNT INFO. Mentransfer uang Anda tekan SPEND 
17. Jangan lupa, selalu akhiri menekan LOGOUT jika selesai menggunakan rekening Anda 

3. Menguangkan E-gold
Untuk mengisi account E-Gold Anda tersebut dan juga untuk 'menguangkan' kembali emas Anda, bisa dilakukan melalui jasa para 'merchant' (pedagang). Di situs resmi E-Gold banyak sekali tersedia 'merchant-merchant' ini, dan banyak pula 'merchant' dari Indonesia. Fungsi para 'merchants' tersebut adalah menukar uang anda dengan emas, dan menukar emas Anda dengan uang (sesuai mata uang Anda/ rupiah atau yang lainnya).

Beberapa Merchant E-Gold di indonesia dan sekitarnya yang sudah dipercaya adalah :
www.indochanger.com
www.enamdelapan.com
www.greatachiever.com
www.dewaegold.com
www.plazaegold.com
www.tokoegold.com

Pembelian/ penjualan E-Gold dari/ ke rekening bank (jual beli E-Gold) kita akan diproses kurang dari 24 jam, tergantung jasa yang menawarkan. 

4. Tips Menjaga Keamanan E-Gold Anda
Karena E-Gold berisi uang, maka rentan terhadap pencurian apalagi jika menggunakan fasilitas umum seperti Warnet. Ikuti langkah-langkah pengamanan berikut :
1. Pada saat registrasi E-Gold, sebaiknya Anda isi alamat rumah yang sebenarnya karena apabila anda lupa password loginnya maka satu-satunya jalan untuk mendapatkan password baru adalah dengan mengirim email ke E-Gold dan E-Gold akan mengirim password baru ke alamat rumah Anda melalui surat/pos (tidak bisa lewat email).

2. Jangan pakai Passphrases E-Gold Anda untuk daftar pada program apapun 

3. Admin E-Gold tidak pernah mengirim email yang ada linknya ke member. Jika ada kiriman email yang meminta Anda mengklik link nya dan memasukkan Passphrases maka sebenarnya mereka adalah hacker yang sengaja akan mencuri rekening E-Gold Anda dan membuat web mirip dengan E-Gold. Abaikan saja atau hapus.

4. Ubahlah password/passphrases secara berkala dan gunakan gabungan huruf dan angka yang sulit ditebak dan lebih dari 10 karakter, gunakan program pengacak misalnya, untuk mengubah password Anda menjadi karakter yang tidak terbaca, rekam password Anda dalam file misalnya untuk kemudian Anda bisa lakukan copy/paste, jika ingin memasukkan password ini (ini jika anda pakai terminal pribadi) 

5. Saat mengisi password/passphrase login, gunakan tombol SRK di kanan isian. Anda tidak mengetik passwordnya tapi memilih huruf dan angka di window kecil yang muncul menggunakan mouse. Hal ini untuk menghindari password Anda disadap dengan software keylogger yang dapat merekam key yang Anda tekan. Hati-hati apabila Anda menggunakan komputer public seperti di warnet atau lab komputer, karena bisa saja dipasangi keylogger yang langsung bisa mengirim hasilnya ke email penyadap 

6. Bersihkan selalu komputer yang telah Anda pakai membuka Account E-Gold sebelum Anda tinggalkan dengan menghapus semua data yang ada di directory C:\WINDOWS\Cookies, C:\WINDOWS\History dan C:\WINDOWS\Temporary Internet Files

7. Jangan pernah menyimpan data username dan password Anda tersebut pada harddisk komputer meskipun itu komputer pribadi Anda.

Strategi Komunikasi Organisasi antara Atasan dan Bawahan

Strategi Komunikasi Organisasi antara Atasan dan Bawahan 
PENDAHULUAN
Penelitian ini hendak mendeskripsikan strategi komunikasi organisasi pasca terjadinya restrukturisasi manajemen pada DetEksi Jawa Pos. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2013 yang bertepatan dengan satu tahun restrukturisasi manajemen yang dilakukan DetEksi Jawa Pos. Fenomena ini dirasa penting oleh peneliti karena di berbagai penelitian yang ada, menyebutkan bahwa komunikasi merupakan faktor terpenting bagi organisasi dalam mendapatkan informasi. Muhammad (2009, p.1) menyebutkan bahwa ‘Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan lancar dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat macet atau berantakan’.

Kegagalan dalam organisasi banyak yang disebabkan oleh kurang tertatanya komunikasi yang dilakukan para pelaku di organisasi tersebut. Seperti yang dikatakan penelitian sebelumnya (Luthans 2006) bahwa komunikasi yang tidak efektif adalah akar utama permasalahan dalam organisasi. Masih menurut Luthans, komunikasi yang efektif antara atasan dan bawahan menjadi faktor penting bagi pencapaian tujuan suatu organisasi. 

Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti komunikasi atasan ke bawahan (downward communication) dan komunikasi bawahan ke atasan (upward communication). Dua arah komunikasi atas-bawah dan bawah-atas sangat penting untuk mencapai keberhasilan tujuan mensolusi persoalan yang menjadi perhatian organisasi. Melihat pentingnya komunikasi dalam organisasi tersebut tentunya tidak luput dari bagaimana komunikasi itu di-maintain dalam suatu strategi. Pada kenyataannya strategi komunikasi diperlukan untuk kelancaran arus komunikasi dalam suatu organisasi. Dalam bukunya, Pace & Faules (2005, p.170) mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam komunikasi organisasi adalah bagaimana menyampaikan informasi ke seluruh bagian organisasi dan bagaimana menerima informasi dari seluruh bagian organisasi.

Menurut Effendy (2006, p.135) strategi komunikasi adalah metode atau langkah-langkah yang diambil untuk keberhasilan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat dan perilaku, baik secara langsung (lisan) maupun tidak langsung melalui media. Sehingga dapat dikatakan strategi komunikasi adalah metode atau langkah-langkah yang diambil untuk keberhasilan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat dan perilaku, baik secara langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media untuk mencapai suatu tujuan. 

Melihat hal tersebut, salah satu organisasi yang menyadari pentingnya strategi komunikasi sebagai penentu efektifitas pengembangan suatu organisasi adalah DetEksi Jawa Pos. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang media cetak anak muda (dikerjakan oleh dan ditujukan untuk anak muda), DetEksi Jawa Pos dituntut untuk menghasilkan halaman-halaman yang kreatif dan inovatif. Sebelum memenuhi tuntutan pasar tersebut, DetEksi Jawa Pos menyadari pentingnya komunikasi dalam tubuh internalnya. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut DetEksi Jawa Pos melakukan perubahan dalam tubuh internalnya, yaitu dengan jalan restrukturisasi pada manajemennya. Tepatnya pada Februari 2012 terjadi penyusunan ulang struktur organisasi dan pembagian kerja pada DetEksi Jawa Pos.

Adapun pengertian restrukturisasi organisasi menurut Husnan dan Pudjiastuti (2004, p.401) adalah suatu kegiatan untuk merubah struktur perusahaan sebagai upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan suatu perusahaan agar dapat beroperasi secara efisien, transparan, dan profesional. Berdasarkan hasil observasi peneliti, terdapat tiga alasan terjadinya restrukturisasi pada tubuh DetEksi Jawa Pos. Yaitu, adanya tuntutan pasar, perubahan kondisi perusahaan, dan fleksibilitas manajemen. Hasil observasi yang diperoleh peneliti mengungkapkan, pada penghujung tahun 2009 terjadi transisi besar-besaran pada DetEksi Jawa Pos, yakni berpindahnya sebagian besar kru DetEksi Jawa Pos ke PT DBL Lintas Indonesia. Masa transisi tersebut membawa dampak yang cukup signifikan pada DetEksi Jawa Pos, salah satunya adanya perubahan job desk pada DetEksi Jawa Pos

Akibat dari adanya perubahan tersebut, proses komunikasi yang terjadi pada internal DetEksi Jawa Pos, yaitu komunikasi antara atasan (supervisor) dan bawahan (para koordinator dan editor) menjadi terhambat. Proses komunikasi yang tidak berjalan dengan lancar secara tidak langsung juga berimbas pada produk yang dihasilkan DetEksi Jawa Pos, yaitu terjadinya penurunan kualitas halaman. Menyadari hal tersebut akhirnya founder DetEksi Jawa Pos, Azrul Ananda, memutuskan untuk mengangkat tiga supervisor sekaligus sejak Februari 2012 lalu.

Dari hasil observasi peneliti, sebelum terjadinya restrukturisasi posisi supervisor DetEksi Jawa Pos hanya diduduki oleh dua orang saja, namun melalui restrukturisasi jumlah supervisor dirubah menjadi tiga orang yang memiliki job desk lebih spesifik. Dengan adanya perubahan tersebut beberapa prosedur kerja turut berubah sehingga proses komunikasi pun juga berubah. Yaitu, proses komunikasi antara supervisor dan koordinator serta editor mengalami perubahan dari yang sebelumnya tidak terlalu intens karena job desk yang terbagi antara DetEksi dan DBL, berubah menjadi lebih intens. Dengan adanya komunikasi yang lancar antara supervisor dan karyawan secara tidak langsung membuat cara kerja menjadi lebih baik, pengambilan keputusan lebih cepat, perbaikan bisa dilakukan lebih tepat guna.

Dari adanya perubahan yang terjadi pada tubuh DetEksi Jawa Pos tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti strategi komunikasi antara atasan dan bawahan dalam pembuatan rubrik polling. Proses produksi rubrik polling memakan waktu paling lama jika dibandingkan dengan rubrik di halaman DetEksi lainnya. Mulai proses penyeleksian ide polling, menyebar kuesioner, hingga pengeditan naskahnya, waktu yang diperlukan bisa sampai dua hingga lima bulan. Selain itu, proses produksi rubrik polling melibatkan seluruh pihak manajamen DetEksi Jawa Pos.

Pada penelitian ini, yang dimaksud sebagai atasan adalah supervisor dan pada lini bawahan terdiri dari koordinator umum, koordinator surveyor, koordinator keuangan, koordinator editor, koordinator grafis, dan editor. Alasan peneliti menentukan atasan adalah supervisor karena restrukturisasi yang terjadi pada DetEksi Jawa Pos dilakukan pada lini ini. Penambahan jumlah supervisor dari yang sebelumnya hanya teridiri dari dua posisi, kini berubah menjadi tiga posisi yang lebih spesifik. Selain itu Supervisor merupakan wakil dari manajemen yang memiliki kewenangan penuh dalam berkomunikasi dengan bawahannya termasuk memberi instruksi. Sedangkan pemilihan bawahan yang terdiri dari koordinator umum, koordinator surveyor, koordinator keuangan, koordinator penulis dan kuesioner, koordinator grafis, dan editor dilatarbelakangi oleh pertanggungjawaban posisi-posisi tersebut kepada supervisor secara langsung.

Penelitian ini menjadi unik untuk dikaji, terlebih dilihat dari segi umur karyawan DetEksi Jawa Pos yang masih muda dan berstatus mahasiswa, memiliki perbedaan dan keunikan dibanding organisasi lainnya yang karyawannya tidak memiliki kesibukan lain (tidak kuliah). Contoh dalam lingkup kecil, organisasi DetEksi Jawa Pos memiliki perbedaan dibandingkan dengan karyawan dari kompartemen Jawa Pos lainnya. DetEksi Jawa Pos berhak menentukan kebijakannya sendiri namun tetap di bawah pengawasan tim manajemen Jawa Pos Koran.

Berdasarkan hal-hal tersebut, penelitian mengenai strategi komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan pasca restrukturisasi manajemen pada DetEksi Jawa Pos ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan tipe penelitian deskriptif (descripstion research). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang komprehensif tentang strategi komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan pasca restrukturisasi manajamenen pada DetEksi Jawa Pos di mana peneliti dapat memperoleh data primer melalui hasil observasi langsung dan wawancara secara mendalam (indepth-interview) yang dilakukan kepada pihak DetEksi Jawa Pos dan data sekunder dari pengumpulan arsip, dokumentasi, dan literatur-literatur pendukung.

PEMBAHASAN
Strategi Komunikasi Organisasi dari Atasan ke Bawahan (Downward Communication)
Menurut Gibson, menentukan strategi komunikasi perlu adanya rasa saling saling percaya yang diciptakan antara komunikator dan komunikan. Kalau tidak ada unsur saling mempercayai, komunikasi tidak akan berhasil. Tidak adanya rasa saling percaya akan menghambat komunikasi (Ulbert 2007, p.228).

Sebelum melancarkan proses komunikasi, hal yang harus dilakukan adalah mempelajari siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi atasan. Adapun hal-hal yang perlu diketahui dari komunikan adalah kerangka referensi dan situasi serta kondisi mereka. Dalam hal ini, Indri dan penulis sebagai editor DetEksi Jawa pos sudah mengetahui karakter penulisnya. Begitu juga yang dilakukan oleh Puspita.

“Lihat-lihat penulisnya dulu. Perlakuan buat ngasih instruksi beda-beda. Kalau ke Mut, sekali ngomong hasilnya kebanyakan oke. Beda kalau ke Bibik, harus tahu mood-nya lagi oke nggak. Kalau lagi nggak oke ntar pasti bakal perang ngeyel sama aku. Hahaha. Dan ujung-ujungnya nanti banyak ngeluhnya.”
(Puspita, Personal Interview, 22 April 2013)

Tiap individu memiliki karakter yang berbeda-beda oleh karena itu perlakuan saat memberikan informasi atau pesan juga berbeda-beda. Hal tersebut berlaku bila akan mengomunikasikan secara personal, namun bila secara serentak biasanya diumumkan saat rapat mingguan setiap hari Sabtu atau saat rapat kecil yang berbeda-beda setiap timnya.

Unsur selanjutnya yang menjadi penting adalah bagaimana mengemas pesan atau instruksi tersebut agar ditanggapi oleh komunikan. DetEksi Jawa Pos menyadari bahwa pengemasan pesan akan mempengaruhi penerimaan pesan itu sendiri oleh komunikan, dalam hal ini adalah bawahan. Pada dasarnya sistem komunikasi ke bawah mengandalkan berbagai jenis media cetak dan oral untuk menyebarkan informasi. Beberapa contoh media tertulis menurut Luthans (2006, p.385) berupa buku panduan organisasi, buku petunjuk, majalah, koran, dan surat yang dikirim ke rumah atau dibagikan dalam pekerjaan, item papan pengumuman, poster, dan display informasi; dan laporan standar, deskripsi prosedur, dan memo. 

Informasi dari atasan ke bawahan pada DetEksi Jawa Pos salah satunya mengandalkan komunikasi secara langsung dan tatap muka, biasanya dilakukan pada saat rapat mingguan dan rapat kecil setiap tim. Komunikasi secara lisan secara langsung yang dilakukan atasan ke bawahan DetEksi Jawa Pos dirasa sangat penting untuk dilakukan. Karena komunikasi lisan secara tatap muka akan mempengaruhi sikap dan perilaku bawahan.

Bentuk oral communication yang dilakukan DetEksi Jawa Pos berupa rapat dan koordinasi secara personal. Setiap Sabtu rutin dilaksanakan rapat mingguan yang terdiri dari tiga sesi. Pada pukul 09.00 WIB rapat halaman (reporter/penulis, editor, editor in chief/supervisor halaman, koordinator penulis, dan tim kuesioner); di waktu yang sama namun di ruangan yang berbeda tim fotografer, koordinator grafis, dan tim grafis juga mengadakan rapat sendiri untuk mengkoordinasikan layout halaman. Setelah tim halaman selesai, barulah giliran tim surveyor, koordinator surveyor, supervisor even, tim entry data, dan tim kuesioner melakukan rapat.

Rapat halaman tiap Sabtu bertujuan untuk me-listing halaman rubrik, evaluasi halaman yang terbit seminggu sebelumnya, mengajukan ide polling, dan koordinasi. Suasana rapat pun tidak dibuat serius. Puspita yang merupakan supervisor halaman setiap Sabtu selalu mengevaluasi kinerja karyawan. Salah satunya adalah absensi. Bila, evaluasi yang diberikan tidak terlalu berat, maka cara penyampaiannya pun dilakukan secara santai dan dibuat candaan

Menciptakan suasana rapat yang santai, menurut Mahesa membuat pesan atau informasi yang mau disampaikan menjadi lebih efektif.

“Biar nggak tegang ya. Kita kan anak-anak muda, kalau emmm...rapatnya formal jadinya kan bosan. Guyonan yang fresh meskipun kebanyakan pakek apa itu candaan yang ngeres, hehehe. Justru membuat pikiran jadi kembali ceria. Jadi, biar anak-anak nggak stress dengan tugasnya terus. Penting itu.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Agar tidak bosan dengan rapat yang begitu-begitu saja, sesekali suasana rapat dirubah. Terkadang rapat diadakan di KFC sambil makan atau bahkan dilakukan di salah satu rumah anggota rapat. Selain untuk menjadikan pikiran fresh kembali, kekompakan dan silaturahmi antar karyawan menjadi lebih erat.

“Kalau rapat di rumahnya siapa gitu kan enak, jadi tahu rumahnya, keluarganya. Jadi hubungan anak-anak itu nggak terbatas di lingkup kantor aja. Sama keluarga nantinya kan jadi deket.”
(Mahesa, personal interview, 22 April 2013)

Selain menggunakan komunikasi oral atau lisan, pihak atasan DetEksi Jawa Pos juga menggunakan metode komunikasi tulisan yang juga di-mix dengan gambar. Sesuai dengan hasil penelitian Level 1972 (Pace dan Faules 2006, p.147) yang menunjukkan metode lisan diikuti tulisan yang paling efektif. 

“Anak-anak itu nggak suka baca map, sukanya ngomong langsung. Tapi, map itu justru jadi pengingat dan bukti, bahwa kita pernah ngomong. Kalau kita ngomong langsung, bilangnya nggak pernah ngomong. Jadi itulah gunanya map sebenarnya.”
(Puspita, Personal Interview, 22 April 2013)

Bila dilihat dari pernyataan kedua informan, bisa ditarik kesimpulan bahwa komunikasi yang dilakukan dari atasan ke bawahan juga mengandalkan media, baik elektronik, cetak, maupun majalah dinding untuk mengkomunikasikan informasi yang ada. Namun, media digunakan sebagai pengulang (redundancy/repeatation) dari komunikasi lisan yang telah dilakukan. Redundancy (repeatation) adalah cara mempengaruhi komunikan dengan jalan mengulang-ulang pesan kepada komunikan. Dengan teknik ini komunikan akan lebih memperhatikan pesan itu daripada pesan yang tidak diulang.

Dari data yang peneliti temukan, ada beberapa macam media yang dipakai untuk mengkomunikasikan pesan dari atasan ke bawahan. Yakni, job description, hand book, map, papan pengumuman, surat tertulis, dan memo. Untuk mencapai keseragaman, efesiensi dan efektivitas kerja sesuai yang diharapkan DetEksi Jawa Pos menggunakan media job description yang mengatur pembagian kerja masing-masing karyawan yang meliputi wewenang dan tugas yang harus dikerjakan.

Selain itu, DetEksi Jawa Pos juga menyediakan handbook (buku pedoman), khususnya untuk penulis/reporter DetEksi Jawa Pos. Handbook yang berjudul Satu Kata Jawa Pos tersebut digunakan sebagai pedoman penulis/reporter untuk menulis dengan kalimat yang sesuai EYD dan kesepakatan yang telah disepakati DetEksi Jawa Pos bersama Jawa Pos. Tujuannya, agar penulisan kata yang digunakan menjadi seragam dan sesuai dengan pakem yang ada.

Pada DetEksi Jawa Pos, map penulis dan surveyor ibaratnya adalah nyawa bagi penulis dan surveyor. Meskipun terkesan sederhana, map justru menjadi “kitab suci” yang sangat dibutuhkan baik oleh atasan maupun bawahan. Baik map surveyor maupun map penulis berisikan info-info penting mengenai tugas karyawan. Oleh karena itu kehilangan map sama saja kehilangan informasi penting. Selain berfungsi sebagai media penyalur informasi-informasi penting, map juga berfungsi untuk menciptakan suasana akrab, menggantikan posisi majalah internal organisasi. Di dalam map juga berisikan candaan-candaan lucu, bahkan gosip-gosip terbaru tentang karyawan.

Baik map penulis maupun surveyor dibuat sekreatif mungkin agar bisa menarik perhatian karyawan. Dari segi bahasa hingga layout juga dibuat semenarik mungkin. Wilbur Schramm mengemukakan apa yang disebut dengan Availability (mudahnya diperoleh) dan Contrast (kontras) kedua hal ini adalah menyangkut dengan penggunaan tanda-tanda komunikasi (sign of communication) dan penggunaan medium (Arifin 1994, p.72).

Sama halnya dengan map penulis, papan informasi sebagai media penyampai pesan secara tertulis juga dibuat fun. Biasanya informasi yang ditempel pada papan informasi menyangkut kepentingan seluruh karyawan, bukan per devisi. Bila map dan handbook hanya diperuntukkan untuk devisi-devisi tertentu, papan informasi ditujukan untuk umum. Biasanya papan informasi banyak berisikan foto-foto lucu hasil editan anak grafis atas perintah atasan dan kejadian-kejadian konyol para kru. Pun tidak jarang ditemukan gosip-gosip beredar di papan informasi.

Metode tulisan yang digunakan atasan DetEksi Jawa Pos dalam menginformasikan pesan yaitu dalam bentuk surat. Biasanya penyampaian pesan dengan cara ini menyangkut persoalan kinerja individu, yakni berupa rapor bulanan, atau bisa juga berupa pemberitahuan sesuatu yang bersifat rahasia seperti password komputer dan kode telepon.

Pesan tertulis lainnya yang bersifat personal adalah memo. Biasanya atasan akan membuat memo yang ditempelkan di meja bawahan yang diberikan instruksi. Isi memo biasanya bersifat individual yang hanya berisikan instruksi pekerjaan satu orang saja, bukan bersifat umum. Informasi yang bersifat umum biasanya ditempelkan di papan informasi dan map.

Selain budaya yang ada di dalam organisasi, pimpinan juga tidak boleh melupakan budaya eksternal yang sedang berkembang (Solomon 1999), termasuk perkembangan teknologi informasi. Dewasa ini, budaya berkomunikasi sangat mengapresiasi komunikasi verbal yang terintegrasi dengan teknologi informasi. Jejaring sosial merupakan teknologi komunikasi terkini yang sudah melekat pada generasi muda.

Mahesa menyampaikan bahwa saat ini DetEksi tidak bisa lepas menggunakan media sebagai sarana untuk menyebarkan informasi ke bawahan. Terlebih penggunaan jejaring sosial (twitter) dan fasilitas chat room seperti Line, BBM, dan Whatsapp.

“Disadari sih jejaring sosial gitu kan bikin anak susah ngobrol di dunia nyatanya. Mereka justru banyak apa ya...rame gitu kan di media sosial. Tiap malam sukanya nge-tweet, main FB. Nah, kita yang semuanya anak muda ya pastinya nggak bisa ya apatis dengan media seperti itu. Kadang ya komunikasi berlanjut melalui media-media seperti itu, meskipun kita tetep menomorsatukan ngobrol langsung”
(Mahesa, Personal Interview, 22 April 2013)

Media elektronik berupa SMS, telepon hingga email, jejaring sosial seperti twitter serta chat room di BBM dan line memang tidak bisa ditinggalkan. Dengan menggunakan media-media tersebut proses komunikasi dapat menjadi lebih mudah dan cepat. 

Strategi Komunikasi dari Bawahan ke Atasan (Upward Communication)
Komunikasi ke atas merupakan sumber informasi yang penting dalam membuat keputusan, karena dengan adanya komunikasi ini pimpinan dapat mengetahui bagaimana pendapat bawahan mengenai atasan, mengenai pekerjaan mereka, mengenai teman-temannya yang sama bekerja dan mengenai organisasi. Karena pentingnya komunikasi tersebut maka organisasi perlu memprogramnya.

Namun, terkadang komunikasi ke atas lebih sulit dibandingkan komunikasi ke bawah. Hal tersebut dikemukakan Sharma pada 1979 (dikutip oleh Pace & Faules, 2005). Ada empat alasan yang mendasari mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit. Pertama, adanya kecenderungan pegawai menyembunyikan pikiran mereka. Kedua, pegawai cenderung melihat atasan tidak akan tertarik dengan masalah yang sedang mereka hadapi. Selanjutnya, seringkali atasan tidak berhasil memberi penghargaan kepada pegawai yang telah melakukan komunikasi ke atas. Terakhir, adanya perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai.

Hal seperti itu dirasakan benar oleh Riza, editor DetEksi Jawa Pos saat akan proving atau menyampaikan sesuatu kepada atasan.

“Ya gimana ya. pekerjaan itu kayak numpuk. Tapi kadang aku simpen sendiri, nggak berani deh ngeluh. Ntar kalau ngeluh dibilangnya kerjaanku ngeluh terus tiap hari. Jadi ya mending disimpan aja. Paling juga seringnya ngomongin soal provingan halaman, mau dibawa ke mana tema halamannya. Gitu aja sih.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Bawahan merasa dirinya tidak memiliki kuasa untuk menyampaikan sesuatu kepada atasan. Kalaupun ada, itupun adalah sesuatu yang mereka terima dari sesama karyawan. Riza juga menyebutkan bahwa dirinya kesulitan untuk berkomunikasi ke atas karena alasan adanya perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai. 

“emmmm...tanya soal tugas kita gitu ya. kalau ada yang aku ngerti ya aku tanya. Tapi, kadang kalau punya ide ya ngomong aja sih. Seringnya sih nggak diterima, katanya idenya udah sering dan jadul. Hahahaha. Kalau nggak gitu ya ngasih ide, kan lewat ide polling.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Dari beberapa kendala komunikasi yang dialami bawahan untuk mengkomunikasikan pesan kepada atasan tersebut, maka tidak dipungkiri bawahan DetEksi Jawa Pos memiliki strategi khusus untuk mengkomunikasikan pesan kepada atasannya terutama dalam hal penyampaian ide.

“Walah, kalau ngomongin strategi sih iya lah ya. Misalnya nih, pas mau proving halaman gitu. Biar diterima biasanya aku bikin strategi khusus. Ya kayak lihat sitkon, mau proving ke siapa dan apa yang di-proving. Biasanya sih ngulang-ngulang bahan juga bisa bikin provingan kita diiyain, hehehe.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Menurut penelitian sebelumnya (Muhammad 2009), ada lima hal yang mempengaruhi efektivitas komunikasi ke atas. Dua di antaranya adalah, pesan haruslah mendukung kebijaksanaan yang baru dan pesan memiliki daya tarik untuk kemajuan organisasi ke depannya. Permasalahan yang menjadi poin penting dalam hal ini adalah bagaimana bawahan mengemas pesan jika nyatanya komunikasi ke atas dirasa sangat sulit. Riza menyatakan bahwa dia selalu mengkomunikasikan pesan langsung kepada komunikasi yang menangani pesan itu secara langsung. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Muhammad (2009, p.119) bahawa komunikasi ke atas akan lebih efektif jika komunikasi itu langsung kepada penerima yang dapat berbuat mengenai hal itu.

“apa ya? untungnya sih sekarang kayaknya lebih mudah gitu. Tahu harus ke mana ngomongnya. Kalau aku ada masalah sama even, aku ngomong sama mas Arthur, halaman ke Mbak Pus yang lebih ngerti.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Kemudahan untuk mengetahui sasaran komunikan juga dirasakan Ivan.
“Lebih mudah sekarang. Jadi ngerti mau ke mana ngomongnya.Dulu lak seringnya dilempar-lempar.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Cara penyampaian pesan dari bawahan ke atasan pun berbeda dengan cara penyampaian pesan yang dilakukan atasan ke bawahan. Bila, atasan menggunakan media sebagai teknik redundancy atau pengulang dari informasi sebelumnya, bawahan justru jarang menggunakan media untuk berinteraksi dengan atasan. Kalaupun ada itu juga untuk bertanya, bukan untuk mengulang informasi yang diberikan bawahan ke atasan. 


“Kalau aku sendiri sih mending ngomong langsung ya. Tapi anak-anak juga biasanya gitu sih ya. Kalau lewat media mereka jarang ngeh. Jadi ya enakan ngomong langsung. Habis ngomong yaudah selesei. Kalau SMS palingan tanya yang kurang ngerti atau kalau ada kendala gitu. Tapi paling sering sih ngomong langsung.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Planty dan Machaver (Pace & Faules 2005) bahwa metode yang paling efektif dari komunikasi ke atas adalah kontak tatap muka sehari-hari dan percakapan di antara supervisor dan bawahan. Komunikasi tatap muka yang dilakukan bawahan paling sering terjadi pada saat rapat mingguan maupun rapat tim. Rapat memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, baik dari atasan ke bawahan maupun bawahan ke atasan.

“Paling intens ngobrol ya pas rapat koordinasi. Tapi di luar itu ya kadang sering juga sih, tapi yang diomongin cuma ya yang simpel-simpel aja.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Berdasarkan media yang dipakai oleh bawahan untuk mengkomunikasikan pesan ke atasan juga tidak sebanyak seperti informasi yang diberikan atasan ke bawahan. Sebab, bawahan lebih banyak menggunakan komunikasi oral secara tatap langsung. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan kesempatan bawahan untuk berkomunikasi melalui media, seperti line, wassap, twitter, sms, telepon, dan email.

“Kalau ngomong pakek media sih paling ya telepon, sms, email. Kebanyakan media elektronik”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Sebagai editor, Riza mengaku lebih sering menggunakan media email dibanding media lainnya untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada atasan. Dia mengaku jarang menggunakan media yang disediakan oleh DetEksi.

“Email itu cepet. Sebenernya kan memang kita disuruh corat-coret map ya, tapi nggak tau ya aku kok males. Rata-rata emang map cuma dibuat baca tugas hari itu apa. Gitu doang sih.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Dari pengamatan peneliti, pihak bawahan DetEksi Jawa Pos memang jarang menggunakan media untuk mengkomunikasikan sesuatu pada atasan. Sebagai contoh, papan informasi yang ada sebenarnya bukan hanya diperuntukkan untuk atasan saja, namun pihak bawahan pun dapat ikut serta untuk menempelkan informasi di sana. Namun sejauh ini hanya pihak atasan saja yang menuliskan pesan atau informasi di papan informasi.

Selain itu, untuk teknik penyampaian pesannya, bawahan lebih sering menggunakan metode canalizing, yakni suatu cara yang dilakukan oleh komunikator dengan mengetahui terlebih dahulu tentang referensi/pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki komunikannya, kemudian komunikator menyusun pesan dan metode yang sesuai dengan itu. Agar komunikan dapat menerima pesan yang disampaikan komunikator dan kemudian perlahan-lahan komunikator merubah pola pikir dan sikap komunikan pada arah yang dikehendaki komunikator.

Metode seperti itu sering dilakukan oleh bawahan kepada atasan DetEksi Jawa Pos, terlebih saat proses proving. Mereka menggunakan metode canalizing, mengenali terlebih dahulu atasan mana yang akan dimintai provingan.

“Lihat-lihat lah gitu. Kalau Mbak Puspita ya aku kudu nyari yang suangar, yang bener-bener fantastis. Dia kan di musik, dia sukanya musik yang apa ya famoust gitu lah, yang anak muda banget. Beda kalau aku harus proving Science ke Indri. Aku harus nyari bahan yang unik yang lucu.”
(Riza, Personal Interview, 22 April 2013)

Ditanya soal efek yang dirasakan, Riza dan Ivan sepakat bahwa dengan merencanakan pesan sebelum diutarakan ke atasan akan membawa dampak yang baik. Misalnya, dalam mengkomunikasikan ide-ide.

“Mas-mas Mbak-mbak kan ngasih kita kerjaan. Ya, kita biar nggak kena marah dan bisa dapet reward ya harus bisa bagus-bagus tuh nyusus strategi ke mereka. Kalu pengin jadi surveyor of the month, ya harus bisa nunjukin kalau kerjaannya beres. Duh, yak apa ya jelasinnya. Pokoknya intinya saling apa itu to be continue gitu lah, orang-orang atas dan bawah.”
(Ivan, Personal Interview, 22 April 2013)

Maksud dari Ivan adalah secara tidak langsung komunikasi ke atas adalah feedback dari adanya komunikasi ke bawah. Dengan adanya komunikasi ke atas pimpinan dapat memperkuat peralatan untuk merekam ide-ide dan bantuan dari bawahannya. Hal ini membantu pimpinan memperoleh jawaban yang lebih baik mengenai masalah-masalah mereka dan tanggung jawab mereka. Dengan terbukanya komunikasi ke atas, pimpinan dapat membantu arus dan penerimaan komunikasi ke bawah.

KESIMPULAN
Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis oleh peneliti, strategi komunikasi organisasi antara atasan dan bawahan DetEksi Jawa Pos dapat disimpulkan sebagai berikut:

Strategi komunikasi yang dilakukan atasan (Supervisor) DetEksi Jawa Pos kepada pihak bawahan (Para Koordinator dan Editor) dalam mengkomunikasikan pesan pada pembuatan rubrik polling, ada beberapa kesimpulan. Pertama, saat memberikan informasi atau pesan yang meliputi instruksi tugas supervisor DetEksi Jawa Pos menggunakan teknik redundancy, yaitu mengulang pesan yang telah disampaikan. Supervisor DetEksi Jawa Pos mengutamakan komunikasi oral secara tatap muka. Namun, karena sifat karyawan yang kurang tanggap dan, akhirnya atasan DetEksi Jawa Pos menggunakan media komunikasi untuk mengulang (repeatatiom/redundancy). Selain itu, dalam menyalurkan pesannya pihak supervisor DetEksi Jawa Pos menggabungkan komunikasi formal dan informal sekaligus.

Kedua, supervisor DetEksi Jawa Pos menggunakan sejumlah media untuk melancarkan komunikasi dengan bawahan, yakni melipuri media secara lisan, gambar dan tulisan. Media lisan secara langsung yang digunakan berupa rapat mingguan dan rapat per tim. Sedangkan media lisan secara tak langsung menggunakan telepon genggam. Supervisor DetEksi Jawa Pos menggabungkan media lisan dengan media tulisan dan gambar. Yaitu, berupa job description, hand book, map, papan pengumuman, surat tertulis, dan memo. 

Sedangkan strategi komunikasi yang dilakukan pihak bawahan DetEksi Jawa Pos (Para Koordinator dan Editor) kepada pihak atasan (Supervisor) dalam mengkomunikasikan pesan pada pembuatan rubrik polling, ada beberapa kesimpulan.dalam mengkomunikasikan pesan pada pembuatan rubrik polling.

Pertama, bawahan mengandalkan komunikasi lisan secara langsung dan menggunakan teknik canalizing. Yakni suatu cara yang dilakukan oleh komunikator dengan mengetahui terlebih dahulu referensi/pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki komunikannya, kemudian komunikator menyusun pesan dan metode yang sesuai dengan itu. Agar komunikan dapat menerima pesan yang disampaikan komunikator dan kemudian perlahan-lahan komunikator merubah pola pikir dan sikap komunikan pada arah yang dikehendaki komunikator. Berbeda dengan pihak supervisor, pihak bawahan DetEksi Jawa Pos jarang menggunakan media sebagai perantara penyalur pesan. Kalaupun ada media tersebut hanya digunakan sesekali. Yakni, paling banyak menggunakan media elektronik berupa telepon genggam dan email.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Anwar. 1994, Strategi Komunikasi, CV Amrico, Bandung.

Bowman, Edward H, Harbir Singh. 1999, Corporate Restructuring: Trends and Consequences, Wharton School, Pennsylvania.

Cahayani, A. 2003, Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen, Grasindo, Jakarta.

Luthans, Fred. 2006, Organizational Behavior, Mc Graw-Hill, New York.

Muhammad, Arni. 2009, Komunikasi Organisasi, 11th edn, Bumi Aksara, Jakarta.

Pace, R. Wayne & Faules, Don, F. 2005, Komunikasi Organisasi: Strategi Mengingkatkan Kinerja Perusahaan, 4th edn, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Effendy, Onong Uchjana. 2006, Teori dan Praktik Ilmu Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Husnan, Suad, Enny Pudjiastut. 2004, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, 4th edn, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Miller, Katherine. 2006, Organizational Communication: Approaches and Processes, 4th edn, Thomson Wadsworth, California.
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson