Tampilkan postingan dengan label Sorgam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sorgam. Tampilkan semua postingan

Kebutuhan Kedelai Indonesia Dan Kebijakan Perkedelaian Nasional

Kebutuhan Kedelai Indonesia Dan Kebijakan Perkedelaian Nasional 
Produksi dan Produktivitas Kedelai di Indonesia
Kedelai merupakan salah satu sumber protein, yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Kedelai adalah tanaman legum yang kaya akan protein nabati, karbohidrat, dan lemak. Biji kedelai itu sendiri mengandung fosfor, besi, kalsium, dan vitamin B, dengan komposisi asam amino yang lengkap, sehingga berpotensi untuk pertumbuhan tubuh manusia. Lebih lanjut, kedelai mengandung asam-asam tak jenuh, yang bermanfaat untuk mencegah timbulnya arteri sclerosis, atau pengerasan pembuluh nadi.

Di Indonesia, kedelai berperan penting sebagai sumber protein nabati utama dalam rangka pemenuhan dan peningkatan gizi masyarakat. Selain itu, berbagai macam produk olahan yang berasal dari kedelai dibuat sesuai dengan selera lidah masyarakat Indonesia. Berbagai hasil olahan dari bahan dasar kedelai akan selalu menjadi tumpuan untuk mendapatkan berbagai macam makanan yang dihasilkan dari biji tersebut adalah antara lain, seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack dan sebagainya.

Jika dilihat dari sejarahnya, menurut Menteri Pertanian Republik Indonesia, Suswono, industri kedelai di Indonesia pernah mengalami masa kejayaan, meski bukanlah tanaman asli Indonesia. Sejarah penanaman kedelai di Indonesia meski tidak setua China pada dasarnya telah dilakukan jauh sebelum negara-negara besar lain seperti Amerika Serikat, Brazil, Argentina, dan Australia. Pada tahun 1750, misalnya, petani di Jawa dan Bali telah banyak menanam kedelai, yang kemudian pada tahun 1892 kedelai juga termasuk dalam salah satu tanaman penting di samping padi, jagung, dan ubi.

Tabel Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kedelai Indonesia Tahun 1996-2003

Sumber: Diolah dari http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php?eng=0, 2012.

Menurut data BPS, produksi kedelai dari tahun 1996 hingga 2003 mengalami penurunan signifikan, walaupun terlihat fluktuatif. Berdasarkan Tabel II.1, yang antara lain menunjukkan luas panen, produktivitas, dan produksi kedelai di Indonesia dari tahun 1996-2003, terlihat bahwa produksi kedelai nasional mengalami penurunan, dari 1,5 juta ton pada tahun 1996 menjadi 1,30 juta ton tahun 1998, dengan rata-rata penurunan sebesar 9 % per tahun. Meski sempat mengalami kenaikan 5,9% atau sebesar 80 ribu ton pada tahun berikutnya, yakni tahun 1999, menjadi 1,38 juta ton, akan tetapi pada kurun waktu selanjutnya, yakni periode 2000-2003, produksi kedelai nasional kembali menurun dan terlihat cukup signifikan. Rata-rata penurunan pada kurun 2000-2003 adalah sebesar 15,9%, atau dari 1,01 juta ton pada tahun 2000 menjadi hanya sekitar 671 ribu ton pada tahun 2003. Sehingga, dalam kurun tujuh tahun, terlihat cukup jelas bahwa produksi kedelai pada tahun 1996 yang sebesar 1,5 juta ton menjadi hanya sekitar 600 ribu ton pada tahun 2003. 

Merujuk kembali pada Tabel, luas areal panen juga mengalami hal yang sama dengan keadaan produksi dalam kurun waktu 1996 hingga 2003. Luas panen sejak 1996-1998 cenderung mengalami penurunan secara fluktuatif, dari 1,2 juta hektar tahun 1996 menjadi 1.09 juta hektar pada tahun 1998. Lebih lanjut, semenjak tahun 1999 hingga 2004, luas areal panen terlihat mengalami penurunan yang cukup signifikan, 1,5 juta hektar areal panen pada tahun 1999 menjadi 0,5 juta hektar pada tahun 2003. 

Berdasarkan hasil penelitian Purnamasari tentang “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Dan Impor Kedelai di Indonesia”, penurunan luas areal tanam dan produksi tanaman kedelai nasional antara lain disebabkan oleh penurunan harga riil kedelai dan adanya persaingan dengan komoditas tanaman lain, yaitu komoditas yang memiliki harga riil lebih tinggi dan segi pemeliharaan lebih tinggi. Lebih lanjut, Purnamasari menjelaskan bahwa pada kurun waktu 1996 hingga tahun 2003, penurunan harga riil kedelai dan harga riil komoditas jagung yang lebih tinggi secara bersama-sama menyebabkan penurunan areal tanam dan produksi kedelai. Hal ini dapat terlihat jelas dari Tabel berikut ini.

Tabel Perbandingan Harga Riil Kedelai, Jagung dan Kedelai Impor

Sumber: Diolah dari Puslitbang Tanaman Pangan 2005 dalam Purnamasari, “Analisis Faktor-Faktor.” 2006.

Berdasarkan data pada Tabel, dapat diketahui bahwa harga riil kedelai impor mengakibatkan penurunan produksi kedelai lokal, sehingga menyebabkan kedelai impor lebih dipilih pasar dan dalam jangka panjang pasti menyebabkan penurunan harga riil kedelai lokal. Hal ini pada akhirnya juga berimplikasi pada keengganan petani untuk menanam kedelai, terutama jika Pemerintah Indonesia tidak segera berupaya untuk menanggulangi penurunan produksi kedelai untuk menjamin kebutuhan dalam negeri Indonesia.

Penurunan areal tanam dan produksi juga berpengaruh terhadap penurunan produktivitas kedelai di Indonesia. Rata-rata, produktivitas petani kedelai Indonesia hanya mampu menghasilkan 1,2 ton per hektar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas negara-negara penghasil kedelai lainnya seperti Brazil dan Argentinya, yang mampu menghasilkan di atas 2 juta ton per hektar kedelai. Penurunan produktivitas kedelai tersebut sebagai kenyataan akan ketidakmampuan petani untuk menghasilakan kedelai dengan areal tanam yang ada.

Purnamasari dalam penelitiannya juga menjelaskan bahwa rendahnya produktivitas pertanian kedelai disebabkan oleh belum populernya penggunaan benih kedelai bermutu dan bersertifikat unggul oleh kebanyakan petani. Kedelai di Indonesia hanya sebagai tanaman palawija, sehingga jika harga tidak menarik maka tidak akan ditanam. Dengan alasan seperti itu, apabila harga benih bersertifikat senilai Rp. 3000/kg hingga mencapai Rp. 3.500/kg, sedangkan harga benih biasa adalah Rp. 1.400/kg, dapat dipastikan petani enggan menggunakan benih berkualitas karena perbedaan harga yang tinggi. Selain faktor tersebut, faktor lain seperti ketersediaan air di setiap areal tanam karena jika terjadi kekeringan, produktivitas kedelai bisa turun hingga 40%. Faktor selanjutnya adalah pengendalian hama penyakit yang belum baik, hingga faktor penggunaan teknologi pertanian yang belum sempurna.

Kebutuhan Kedelai Nasional dan Upaya Pemerintah Indonesia Dalam Memenuhi Kebutuhan Kedelai
Seperti yang telah dijelaskan di atas, di Indonesia, sebagian besar kebutuhan kedelai banyak digunakan untuk kebutuhan konsumsi bahan pangan bagi manusia dalam bentuk olahan seperti tahu, tempe, kecap, tauco dan susu kedelai. Sementara itu, selebihnya adalah untuk kebutuhan non pangan, seperti industri pakan ternak, benih, manufaktur dan banyak yang tidak terpakai. Jika dibandingkan, kebutuhan untuk pemenuhan bahan makanan sebesar 78,73%, sementara untuk bahan non pangan sebesar 0,36, untuk industri pakan ternak, 1,43% untuk pembenihan, 14,47 untuk dijadikan manufaktur dan 5,01% untuk kedelai yang tersisa. Persentase kebutuhan akan kedelai di Indonesia dapat dilihat pada Gambar II.1 di bawah ini.

Gambar Persentase Permintaan Kedelai Berdasarkan Penggunaannya tahun 1998
Sumber: Diolah dari Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian 2009 dalam Dinar Frihastika Sari, “Analisis Daya Saing dan Strategi Pengembangan Agribisnis Kedelai Lokal di Indonesia,” 2011.

Besarnya kebutuhan nasional akan kedelai dapat dilihat dari dua pendekatan. Yang pertama adalah dengan menggunakan nilai konsumsi kedelai perkapita pertahun. Berdasarkan Badan Pangan Dunia (FAO), selama kurun waktu 1996 hingga 2003, konsumsi kedelai perkapita Indonesia rata-rata adalah 10,2 kg/kapita/tahun. Secara umum, dalam kurun waktu tersebut, terjadi penurunan konsumsi sebesar 11.39 kg/kapita tahun 1996 menjadi 10,53 kg/kapita pada tahun 2003, dengan laju penurunan sebesar 1,57% setiap tahun. Penurunan tersebut mengalami kecenderungan fluktuatif karena dalam kurun waktu tersebut sempat juga terjadi kenaikan konsumsi sebesar 11,39 kg/kapita/tahun, pada tahun 1999.

Tabel Kebutuhan Kedelai Nasional

Sumber: Diolah dari Direktorat Jendral Tanaman Pangan 2008, dalam Roni, “Dampak Penghapusan Tarif Impor,” 2008.

Pendekatan kedua adalah dengan melihat kebutuhan konsumsi kedelai dari penjumlahan antara tingkat produksi dan impor tiap tahun yang sama. Perbandingan antara produksi, yang tersedia pada Tabel, dan impor, pada Tabel, menunjukkan bahwa kebutuhan kedelai di Indonesia setiap tahun cenderung berfluktuasi tergantung pada ketersediaan variabel hasil produksi dalam negeri dan variabel impor. Pada kurun waktu tahun 1996-2003, kebutuhan kedelai mengalami penurunan dari tahun 1996 hingga tahun 1998. Meski sempat mengalami peningkatan drastis pada tahun 1999, akan tetapi terjadi penurunan kembali dari tahun 2000 sampai pada tahun 2003. Sehingga, penurunan kebutuhan masyarakat akan kedelai di Indonesia tergolong masih rendah apabila dibandingkan dengan penurunan produksi kedelai.

Secara keseluruhan, laju kebutuhan kedelai di Indonesia pada tahun 1996-2003, baik untuk pangan maupun untuk kebutuhan non pangan, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan penurunan produktivitas. Dari data yang ada, terlihat bahwa rata-rata penurunan kebutuhan adalah 0,8%, sedangkan produktivitas sebesar 10,3%. Defisit kebutuhan nasional terhadap hasil panen kedelai dalam negeri menjadikan pemerintah bertanggung jawab untuk meningkatkan produktivitas kedelai untuk mencukupi banyaknya permintaan kedelai nasional.

Pemerintah pada dasarnya telah melakukan berbagai upaya dan usaha dalam berbagai kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan kedelai nasional, terkait adanya perbedaan kondisi antara produksi dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, sejak 1980-an, Pemerintah Indonesia mengimplementasikan berbagai macam kebijakan untuk meningkatkan produktivitas kedelai, antara lain adalah pada tahun 1986 menerapkan program Supra Insus, Inmun dan program Operasi Khusus (Opsus) kedelai. Kemudian, pada tahun 2001 penerapan program Gema Palagung yaitu melalui salah satu cara dengan peningkatan index penanaman. Dan terakhir pada tahun 2004 diadakan Program Bangkit Kedelai. 

Secara keseluruhan, dengan adanya program-progam yang dilakukan diharapkan Indonesia mampu mencapai swasembada kedelai pada tahun 2008 dengan produktivitas 2,5 ton per hektar. Akan tetapi, pada periode 1994 hingga 1999, misalnya, yang terjadi adalah program-program sektor petanian kedelai tersebut belum mampu mengimbangi laju peningkatan kebutuhan kedelai nasional sehingga pemerintah melakukan impor kedelai untuk menutupi kekurangan produksi terhadap kebutuhan, yang jumlah maupun nilainya semakin meningkat setiap tahun, meski produksi kedelai pada tahun 1974-1999 terjadi beberapa peningkatan produksi secara fluktuaif. Bahkan, sejak tahun 1999 hingga 2004, penurunan areal panen kedelai semakin drastis, di mana pemerintah tidak lagi memberikan intesif kepada para petani untuk berproduksi, rendahnya harga riil kedelai lokal dengan tanaman pangan lainnya, hingga kalah bersaing dengan kedelai impor.

Impor Kedelai sebagai Salah Satu Kebijakan Pemerintah Indonesia dalam Memenuhi Kebutuhan Pasar
Produktivitas kedelai yang masih belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, disertai dengan banyaknya kegagalan daripada usaha-usaha pemerintah dalam sektor ini, mendorong Pemerintah Indonesia untuk kembali mencari cara agar kebutuhan masyarakat akan kedelai dapat terus dipenuhi. Seperti yang telah dijelaskan seelumnya, pada kurun waktu 1996-2003, misalnya, hasil panen kedelai nasional tidak lagi mampu mengimbangi peningkatan laju kebutuhan masyarakat akan kedelai. Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang Pemeritah Indonesia untuk memasukkan kedelai dari pasar internasional, guna memasok kekurangan kebutuhan dalam negeri. 

Jika diamati, menurut salah seorang pakar tempe dari Inggris bernama Jonathan Agranoff, Indonesia pada dasarnya memiliki kualitas kedelai yang baik, jika dibandingkan dengan produk-produk yang diimpor. Menurut Agranoff, ada sedikitnya empat belas jenis kedelai lokal berkualitas dari Indonesia, antara lain Wilis, Argomulyo, Burangrang, Anjasmoro, Kaba, Tanggamus, Sinabung, Panderman, Detam-1, Detam-2, Grobogan, Gepak Ijo, Gepak Kuning, SHR/Wil-60. Ia beranggapan bahwa, secara ekonomi, penggunaan kedelai lokal lebih menguntungkan dibandingkan kedelai impor. Dia mencontohkan satu kilogram kedelai Anjasmoro bisa menghasilkan 1,74 kilogram tempe. Sementara itu, satu kilogram kedelai impor hanya menghasilkan 1,59 kilogram. Namun, langkanya kedelai lokal pada akhirnya mendorong Pemerintah Indonesia untuk menggantungkan diri pada produk impor.

Impor kedelai di Indonesia meningkat mengikuti kenaikan deret hitung yang terjadi di negara tersebut. Berdasarkan pada perbandingan data antara perkembangan konsumsi dan produksi kedelai pada sub-bab sebelumnya, dapat diketahui jumlah impor yang dibutuhkan oleh Indonesia. Selama hasil pengamatan dalam kurun waktu 1996 hingga 2003, perkembangan impor kedelai di Indonesia cenderung mengalami kenaikan seiring dengan signifikansi penurunan produksi pada kurun tahun tersebut. Selama periode tersebut, laju impor meningkat hingga sebesar 30,6 % pertahun.

Tabel Impor Kedelai Indonesia

Sumber: Diolah dari Direktorat Jendral Tanaman Pangan 2008, dalam Roni, “Dampak Penghapusan Tarif Impor,” 2008.

Berdasarkan Tabel di atas, terlihat bahwa impor kedelai pada tahun 1996 yang pada awalnya sebesar 0,7 juta ton, meningkat menjadi 1,3 juta ton pada tahun 2003. Meski demikian, peningkatan tersebut cenderung fluktuatif, mengingat pada tahun 1998 terjadi penurunan impor kedelai sebesar 44%, atau sekitar 0,3 juta ton. Hal ini dikarenakan pada tahun tersebut tejadi krisis moneter yang melanda perekonomian Indonesia. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 1999 yang merupakan peningkatan terbesar perdagangan kedelai impor di Indonesia, yang mencapai 27,8 % atau sekitar 957 ribu ton jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, 1998. Di Indonesia sendiri, pasokan kedelai impor antara lain diperoleh dari beberapa negara seperti yang dapat dilihat pada Grafik di bawah ini:

Grafik Share Perdagangan Kedelai Impor di Pasar Indonesia

Sumber: Diolah dari Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Internaional, Deptan, 2004.

Secara umum, sebagian besar kedelai yang diimpor Indonesia berasal dari Amerika Serikat (AS), Argentina, Brazil, Malaysia dan India, dengan kedelai AS yang masih mendominasi. Produktivitas pertanian AS yang tumbuh lebih cepat dari pangan domestik mendorong petani AS dan perusahaan-perusahaan pertanian untuk mengantungkan diri pada pasar ekspor untuk mempertahankan harga dan pendapatannya. Dengan keunggulan komparatif dalam banyak produk, perdagangan pertanian merupakan memberi kontribusi yang signifikan bagi perekonomian AS secara keseluruhan serta seluruh ekonomi dunia. Meskipun pangsa ekspor berbagai macam produk-produk pertanian dunia telah jatuh dari waktu ke waktu, yakni dari 17% pada tahun 1980 menjadi 10% pada tahun 2007, AS tetap menjadi eksportir terkemuka dan importir tunggal negara terbesar produk pertanian di dunia.

Berdasarkan pada penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kedelai merupakan salah satu kebutuhan pokok di Indonesia. Meski demikian, banyaknya permintaan nasional akan kedelai tidak diiringi dengan produksi kedelai yang baik, sehingga kebutuhan akan kedelai tidak tercukupi. Hal tersebut pada akhirnya mendorong Pemerintah Indonesia untuk mengambil berbagai kebijakan guna memenuhi kebutuhan kedelai nasional, salah satunya dengan melakukan impor kedelai dari berbagai negara. Dari banyaknya negara yang mengekspor kedelai ke Indonesia, AS adalah negara yang paling konsisten. Jumlah yang diekspor oleh AS ke Indonesia juga tergolong besar, bahkan kedelai impor di Indonesia didominasi oleh negara tersebut.

Perbaikan Genetik Sorgum Melalui Program Pemuliaan Tanaman

Perbaikan Genetik Sorgum Melalui Program Pemuliaan Tanaman 
Sorgum (Sorghum bicolor L.) merupakan tanaman biji-bijian (serealia) yang banyak dibudidayakan di daerah beriklim panas dan kering. Sorgum bukan merupakan tanaman asli Indonesia tapi berasal dari wilayah sekitar sungai Niger di Afrika. Domestikasi sorgum dari Etiopia ke Mesir dilaporkan telah terjadi sekitar 3000 tahun sebelum masehi (House, 1985). Sekarang sekitar 80 % areal pertanaman sorgum berada di wilayah Afrika dan Asia, namun produsen sorgum dunia masih didominasi oleh Amerika Serikat, India, Nigeria, Cina, Mexico, Sudan dan Argentina.

Sorgum memiliki potensi hasil yang tinggi dibanding padi, gandum dan jagung. Bila kelembaban tanah bukan merupakan faktor pembatas, hasil sorgum dapat melebihi 11 ton/ha dengan rata-rata hasil antara 7-9 ton/ha. Pada daerah dengan irigasi minimal, rata-rata hasil sorgum dapat mencapai 3-4 ton/ha (House, 1985). Selain itu, sorgum memiliki daya adaptasi luas mulai dari dataran rendah, sedang sampai dataran tinggi. Hasil biji yang tinggi biasanya diperoleh dari varietas sorgum berumur antara 90-110 hari. Varietas sorgum berumur dalam cenderung akan cocok bila digunakan sebagai tanaman pakan ternak (forage crop).

Sorgum terkenal sebagai tanaman yang tahan terhadap kondisi kekeringan. Secara fisiologis, permukaan daun yang mengandung lapisan lilin dan sistem perakaran yang ekstensif, fibrous dan dalam cenderung membuat tanaman efisien dalam absorpsi dan pemanfaatan air (evavotranspirasi). Hasil studi menunjukkan bahwa untuk menghasilkan 1 kg akumulasi bahan kering sorgum memerlukan 332 kg air, sedangkan jagung, barley dan gandum berturut-turut memerlukan 368, 434 dan 514 kg air (House, 1985). Dibanding tanaman jagung, sorgum juga memiliki sifat yang lebih tahan terhadap genangan air, kadar garam tinggi dan keracunan aluminium.

Berdasarkan bentuk malai dan tipe spikelet, sorgum diklasifikasikan ke dalam 5 ras yaitu: Bicolor, Guenia, Caudatum, Kafir, dan Durra. Karakteristik tipe spikelet masing-masing ras dapat dilihat dalam Gambar 1. Durra yang berbiji putih merupakan ras yang paling banyak dibudidayakan sebagai sorgum biji (grain sorgum) dan digunakan sebagai sumber bahan pangan. Diantara ras Durra terdapat varietas yang memiliki batang dengan kadar gula tinggi disebut sebagai sorgum manis (sweet sorghum). Di banyak negara sorgum manis digunakan sebagai sumber bahan baku pembuatan sirup, gula (jaggery), dan etanol.

Oleh karena sorgum bukan merupakan tanaman asli Indonesia maka keragaman genetik sorgum yang ada di Indonesia masih sangat terbatas. Beberapa varietas sorgum diintroduksi dari International Crop Research Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT) dan dari beberapa negara seperti India dan Thailand. Setelah melalui proses pengujian adaptasi dan daya hasil selama beberapa generasi kemudian beberapa varietas introduksi tersebut oleh Departemen Pertanian dilepas menjadi varietas unggul nasional. Sampai saat ini Indonesia telah memiliki beberapa varietas sorgum unggul nasional seperti UPCA, Keris, Mandau, Higari, Badik, Gadam, Sangkur, Lumbu dan Kawali. Varietas-varietas unggul nasional tersebut memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan pada lahan-lahan pertanian di Indonesia.

Gambar Klasifikasi ras sorgum berdasarkan tipe spikelet.

Program Pemuliaan Sorgum
Sorgum tergolong tanaman yang menyerbuk sendiri (selfpollinated crop) dan diploid (2x = 2n = 20). Oleh karena itu, sistem pemuliaan tanaman sorgum kira-kira mirip dengan sistem pemuliaan tanaman padi, kedelai dan sebagainya. Seperti halnya pada padi, pemuliaan tanaman sorgum dapat diarahkan menuju perolehan varietas galur murni atau varietas hibrida. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, India dan Cina, sorgum hibrida telah banyak dikembangkan dan memiliki hasil sampai 15 ton/ha. Di masa depan Indonesia mungkin perlu juga mengarah pada pengembangan sorgum hibrida apabila nanti budidaya sorgum telah memasyarakat, meluas dan komersial.

Keterbatasan ragam genetik sorgum memacu pemulia tanaman untuk mencari sumber-sumber genetik baru untuk memperbaiki sifat-sifat agronomi, produksi dan kualitas sorgum. Upaya tersebut mungkin dapat ditempuh melalui program pemuliaan tanaman dengan metoda seleksi, introduksi, hibridisasi, mutasi, bioteknologi. Kombinasi antara metoda-metoda tersebut mungkin juga dapat dilakukan untuk memperoleh hasil yang optimal.

Seandainya sumber plasma nutfah tersedia cukup, maka pemuliaan sorgum dengan metoda seleksi dapat dilakukan dengan cara memilih sumber plasma nutfah yang tepat dan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi varietas sorgum unggul baru. Namun apabila sumber genetik terbatas maka perlu dilakukan cara lain. Metoda introduksi adalah upaya pemuliaan tanaman dengan mendatangkan sumber genetik (varietas) dari luar negeri/wilayah yang kemudian diteliti daya adaptasi dan daya hasilnya di daerah setempat. Tanaman sorgum introduksi yang terseleksi memiliki daya adaptasi baik, berproduksi tinggi dan atau memiliki sifat keunggulan lainnya kemudian dapat dilepas menjadi varietas unggul baru. Apabila tidak dapat dilepas sebagai varietas unggul baru, sorgum introduksi mungkin bisa dimanfaatkan sebagai sumber genetik baru dalam suatu program persilangan (hibridisasi). Sebagai contoh dan seperti telah disebut di atas, bahwa Indonesia telah mengintroduksi materi genetik sorgum dari luar dan setelah melalui proses penelitian kemudian dilepas sebagai varietas unggul nasional. Sampai saat ini Indonesia telah memiliki beberapa varietas sorgum unggul nasional.

Sejak dikenalnya hukum Mendel dalam ilmu genetika, pemuliaan tanaman lebih intensif dilakukan dengan metoda hibridisasi yaitu melalui persilangan tanaman (dalam spesies yang sama) yang memiliki sifat-sifat genetik yang berbeda. Perpaduan genetik antara tetua tanaman yang disilangkan diharapkan menghasilkan rekombinasi sifat baru yang kemudian malui proses seleksi dapat menghasilkan galur atau varietas unggul tanaman. Sampai kini telah banyak dilaporkan varietas unggul sorgum yang dihasilkan melalui pemuliaan lewat hibridisasi yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Sejalan dengan semakin berkembangnya ilmu genetika, maka akhir-akhir ini dikenal pemuliaan tanaman dengan menggunakan metoda bioteknologi. Dalam upaya meningkatkan keragaman genetik tanaman, pada prinsipnya teknik ini mirip dengan hibridisasi, hanya saja materi yang disilangkan (ditransfer) pada teknik bioteknologi berada pada tingkat gen. Transfer gen dapat dilakukan baik dalam spesies tanaman yang sama maupun yang berbeda. Gen yang ditransfer seharusnya telah diidentifikasi sebagai gen unggul pengontrol ekspresi suatu sifat tertentu, misalnya gen pengontrol ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit. Transfer gen dapat dilakukan melalui media bakteri (Agrobacterium) atau dengan menggunakan alat biolistic bombardment. Tanaman yang telah menerima transfer gen dikenal sebagai tanaman transgenik, dan apabila tanaman transgenik memang memiliki keunggulan maka dapat dilepas menjadi varietas unggul baru. Namun demikian, di banyak negara penggunaan tanaman transgenik sampai kini masih berada dalam perdebatan karena pemanfaatan tanaman transgenik sangat erat terkait dengan isyu keamanan hayati (biosafety), keamanan pangan (food safety) dan keamanan lingkungan (environmental safety). Setiap negara, termasuk Indonesia, perlu menetapkan peraturan atau regulasi khusus untuk menjamin keamanan penggunaan tanaman transgenik.

Selain dapat digunakan dalam rekayasa keragaman genetik tanaman, bioteknologi (biologi molekuler) dapat juga digunakan sebagai alat (tool) dalam proses seleksi tidak langsung (inderect selection) terhadap keunggulan sifat tertentu pada suatu program pemuliaan tanaman. Teknik seleksi semacam itu dikenal sebagai Molecular Assisted Selection (MAS). Namun secanggih apa teknik MAS yang digunakan, pengujian dan seleksi tanaman di lapangan masih saja tetap diperlukan.

Aplikasi Teknik Nuklir dalam Pemuliaan Tanaman
Iptek nuklir berperan dalam pemuliaan tanaman terutama terkait dengan kemampuannya untuk menimbulkan mutasi. Kemampuan tersebut ada dikarenakan tenaga nuklir, misalnya sinar Gamma, memiliki energi yang cukup tinggi sehingga apabila sinar tersebut melintasi materi reproduksi tanaman dapat menimbulkan ionisasi dan menyebabkan perubahan pada struktur dan/atau komposisi materi genetik tanaman. Perubahan tesebut kemungkinan dapat terjadi pada tingkat genom, kromosom, atau gen (DNA). Perubahan materi genetik yang terjadi secara tiba-tiba, acak dan terwariskan (heritable) ke generasi berikutnya dikenal dengan istilah mutasi. Bahan yang dapat menimbulkan mutasi disebut sebagai bahan mutagen dan tanaman yang telah mengalami mutasi disebut sebagai tanaman mutan.

Sebetulnya mutasi dapat saja terjadi secara alami (spontaneous mutation) dan dapat juga terjadi melalui induksi (induced mutation). Pada prinsipnya tidak terdapat perbedaan antara mutasi yang terjadi secara alami dan mutasi induksi, hanya saja proses kejadian mutasi induksi jauh lebih cepat dibanding mutasi alami. Keduanya dapat menimbulkan variasi genetik untuk kemudian dijadikan dasar seleksi tanaman, baik melalui seleksi alami (evolusi) maupun seleksi buatan (pemuliaan). 

Metoda mutasi khususnya mutasi induksi, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keragaman genetik dalam suatu program pemuliaan tanaman. Induksi mutasi dapat dilakukan dengan perlakuan bahan mutagen tertentu terhadap organ reproduksi tanaman seperti biji, stek batang, serbuk sari, akar rhizome, kultur jaringan dan sebagainya. Bahan mutagen yang sering digunakan dalam program pemuliaan tanaman digolongkan menjadi dua kelompok yaitu mutagen kimia (chemical mutagen) dan mutagen fisika (physical mutagen). Mutagen kimia pada umumnya berasal dari senyawa alkyl (alkylating agents) misalnya seperti ethyl methane sulphonate (EMS), diethyl sulphate (dES), methyl methane sulphonate (MMS), hydroxylamine, nitrous acids, dan acridines. Sedangkan mutagen fisika bersifat sebagai radiasi pengion (ionizing radiation) dan termasuk diantaranya adalah sinar-X, radiasi Gamma, radiasi beta, neutrons, dan partikel dari aselerators.

Perubahan yang terjadi pada materi genetik (karena mutasi) pada umumnya diekspresikan pada fenotipe tanaman dan diturunkan (inherited) ke generasi berikutnya. Namun dalam beberapa kasus, mungkin juga mutasi tidak langsung terekspresikan pada fenotipe tanaman (silent mutation). Secara relatif ekspresi mutasi pada fenotipe tanaman dapat menuju ke arah positif (desirable mutations) maupun negatif, dan kemungkinan mutasi yang terjadi dapat juga kembali ke normal (recovery). Ke arah negatif, mutasi mungkin saja dapat menyebabkan kematian (lethality), ketidaknormalan (abnormality), sterilitas (sterility) atau kerusakan fisiologis (physiological damage). Mutasi yang terjadi ke arah “sifat positif” dan terwariskan (heritable) ke generasi-generasi berikutnya merupakan mutasi yang dikehendaki oleh pemulia tanaman pada umumnya. Sifat positif yang dimaksud sangat relatif, tergantung pada tujuan program pemuliaan tanaman.

Bahan mutagen kimia dapat menimbulkan mutasi melalui beberapa mekanisme. Gugusan alkyl aktif dari bahan mutagen kimia dapat ditransfer ke molekul lain pada posisi dimana kepadatan elektron cukup tinggi seperti phosphate groups dan juga molekul purine dan pyrimidine yang merupakan penyusun struktur dioxiribonucleic acid (DNA) tanaman. Seperti diketahui umum, DNA merupakan struktur kimia yang membawa gen. Basa-basa yang menyusun struktur DNA terdiri dari adenine, guanine, thyimine, dan cytosine. Adenine dan guanine merupakan basa bercincin ganda (double-ring bases) disebut purines, sedangkan thymine dan cytosine bercincin tunggal (single-ring bases) disebut pyrimidines. Struktur molekul DNA berbentuk pilitan ganda (double helix) dan tersusun atas pasangan spesifik Adenine-Thymine dan Guanine-Cytosine. Suatu contoh mutasi yang paling sering ditimbulkan oleh mutagen kimia adalah perubahan basa pada struktur DNA yang mengarah pada pembentukan 7-alkyl guanine (IAEA, 1977).

Bahan mutagen fisika bersifat sebagai radiasi pengion (ionizing radiation) yang dapat melepas energi (ionisasi), begitu melewati atau menembus materi. Begitu materi reproduksi tanaman terkena radiasi, proses ionisasi akan terjadi dalam jaringan yang selanjutnya dapat menyebabkan perubahan pada tingkat sel, genom, kromosom dan/atau gen (DNA). Perubahan yang terjadi sering bersifat permanen dan terwariskan (heritable) ke generasi-generasi berikutnya dikenal sebagai mutasi. Dalam program pemuliaan tanaman, mutasi sering berperan positif dalam upaya meningkatkan keragaman genetik tanaman.

Yang tergolong sebagai mutagen fisika diantaranya adalah sinar-X, radiasi Gamma, radiasi Beta, neutrons, dan partikel dari aselerators. Selama ini sinar Gamma merupakan mutagen fisika yang paling banyak digunakan dalam program pemuliaan tanaman karena memiliki panjang gelombang pendek sehingga energi dan daya tembusnya sangat tinggi. Secara global sinar Gamma telah terbukti paling efektif, efisien dan banyak digunakan dalam menghasilkan varietas unggul bermacam jenis tanaman (Maluszynski, 2000). Karakteristik untuk masing-masing jenis mutagen fisika disajikan dalam Tabel.

Secara global pemuliaan tanaman dengan teknik mutasi telah menghasilkan banyak varietas mutan tanaman. Sejak tahun 1976 hingga 1996 perkembangan perolehan varietas mutan tanaman sangat pesat dan pada tahun 2000 tercatat sebanyak 2252 varietas mutan tanaman (Maluszynski dkk., 2000). Sebagian besar varietas mutan tanaman dihasilkan dari benua Asia, Eropa dan Amerika. Negara yang paling banyak menghasilkan varietas mutan tanaman adalah Cina, India, Rusia, Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Bahan mutagen yang paling banyak digunakan dalam memproduksi varietas mutan tanaman adalah sinar Gamma, kemudian sinar-X dan neutrons. Varietas mutan tanaman paling banyak dihasilkan adalah dari jenis tanaman biji-bijian (serealia), kacang-kacangan, tanaman industri, dan tanaman sayuran. Khusus untuk tanaman serealia, varietas mutan tanaman padi paling banyak dihasilkan kemudian disusul barley dan gandum (Maluszynski dkk., 2000).

Tabel Karakteristik berbagai jenis radiasi.

Sumber: IAEA, 1977.

Pemuliaan Sorgum dengan Teknik Mutasi
Penelitian pemuliaan tanaman sorgum dengan teknik mutasi telah dilakukan Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sejak 1996. Tujuan penelitian adalah memperbaiki genetik tanaman untuk meningkatkan produksi dan kualitas sorgum sesuai dengan kriteria pemanfaatannya. Untuk mendukung peningkatan produksi sorgum maka kriteria sifat-sifat agronomi unggul perlu diimplementasikan dalam proses seleksi tanaman. Sedangkan untuk perbaikan kualitas maka krietria pemanfaatan sorgum perlu dipertimbangkan. Kriteria kualitas sorgum mungkin dapat diklasifikasikan atas dasar pemanfaatannya sebagai bahan pangan, pakan ternak dan/atau bahan baku industri. Oleh karena sorgum memiliki potensi untuk dikembangkan di daerah-daerah berlahan marginal, maka pemuliaan hendaknya diarahkan mencari genotipe yang dapat tahan terhadap kondisi marginal seperti kekeringan, salinitas tinggi dan lahan masam.

Melalui program kerjasama penelitian, PATIR-BATAN telah mendapatkan sejumlah materi genetik sorgum dari International Crop Reearch Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT). Salah satu dari materi genetik tersebut adalah varietas Durra yang terkenal tahan kekeringan, produksi tinggi dan memiliki kualitas biji yang baik untuk bahan pangan. Sorgum varietas Durra berbiji putih bersih dan di India umum digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan roti (japati).

Dalam upaya peningkatan keragaman genetik tanaman, radiasi sinar Gamma bersumber dari Cobalt-60 telah diperlakukan terhadap benih sorgum varietas Durra tersebut. Tingkat dosis iradiasi rendah sampai tinggi diperlukan dalam studi orientasi dosis dan untuk mempelajari respons tanaman sorgum terhadap iradiasi sinar Gamma. Dari percobaan tersebut kemudian akan dapat diestimasi dosis iradiasi optimal bagi tujuan pemuliaan tanaman sorgum. Pada umumnya dosis optimal iradiasi Gamma ditentukan atas dasar nilai LD-20 dan LD-50 (IAEA, 1977; VAN HARTEN, 1998). Best Fitting Curve Software digunakan untuk menetukan hubungan atau fungsi yang paling tepat antara dosis iradiasi Gamma dengan respon pertumbuhan tanaman sorgum. Sebagai contoh, pada Gambar 2 disajikan hubungan antara dosis iradiasi Gamma dan laju pertumbuhan tanaman sorgum varietas Durra. Hasil analisa dengan software tersebut diperoleh hubungan fungsi antara dosis iradiasi Gamma (Gy) dan survival reate (%) sebagai outprint berikut:
Gaussian Model: y = f(x) = a*exp((-(b-x)^2)/(2*c^2)) 
Coefficient Data: a = 106.46282; b = 134.77204; c = 286.19445 
LD-20 = 300.13 Gy and LD-50 = 486.63 Gy 
(Pembulatan untuk dosis optimal = 300 – 500 Gy)

Dari hasil analisa dapat diketahui bahwa dosis optimal iradiasi sinar Gamma berkisar antara 300-500 Gy. Keragaman (variance) tanaman yang muncul akibat iradiasi sinar Gamma dipelajari pada generasi kedua setah perlakuan iradiasi (disebut generasi M2). Seleksi tanaman yang memiliki sifat agronomi lebih unggul (dibanding kontrol) juga dimulai pada generasi M2, terfokus pada populasi tanaman berada dalam kisaran dosis optimal (IAEA, 1984). Pemurnian dan pengujian (dibanding kontrol) galur-galur tanaman terseleksi dilakukan berkesinambungan selama beberapa generasi sampai tanaman mencapai tingkat homogenitas tinggi (asumsi genotipe tanaman homozygot). Selanjutnya tanaman unggul yang telah homogen disebut sebagai galur mutan harapan (promising mutant lines).

Sebanyak 70 galur mutan yang terseleksi berdasarkan sifat-sifat agronomi unggul kemudian diuji ketahanannya terhadap kekeringan di Gunungkidul dan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengujian dilakukan secara langsung di lapangan dengan mengatur waktu tanam pada saat akhir musim hujan (sekitar bulan Juni 2003-2005). Sebagai tanaman kontrol digunakan varietas asal yang tidak diradiasi (Durra) dan varietas unggul nasional (UPCA dan Higari). Variabel data agronomi yang diamati meliputi daya tumbuh, umur 75% berbunga, umur panen, tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering malai, panjang malai, jumlah biji/malai, berat biji/tanaman, produksi biomas, indeks panen, hasil/plot, dan estimasi hasil/ha (ton/ha).

Gambar Kurva respons tanaman sorgum varietas Durra terhadap iradiasi sinar Gamma pada generasi M1.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa galur mutan yang secara signifikan memiliki ketahanan sangat tinggi (dilihat dari produksi biomas) dan produksi bijinya relatif tinggi (3-4 ton/ha) pada kondisi kering di Gunungkidul dan Bantul. Diantara galur-galur mutan tersebut adalah galur B-68, B-69, B-72, B-75, B-76, B-83, B-92, B-95, dan B-100. Secara visual, variasi bentuk dan ukuran malai beberapa galur mutan sorgum disajikan dalam Gambar.

Produksi biji galur-galur mutan harapan tersebut secara nyata lebih tinggi dibanding tanaman kontrol yaitu varietas Durra (varietas asal), UPCA dan Higari (varietas unggul nasional). Galur-galur mutan harapan tersebut kini sedang dalam taraf pengujian secara multi lokasi sebelum akhirnya akan diusulkan untuk dilepas menjadi varietas sorgum baru. Perolehan galur-galur mutan harapan tersebut telah memperkaya koleksi plasma nutfah sorgum di BATAN. Ada kemungkinan galur-galur tersebut dapat dilepas menjadi varietas sorgum baru (melalui proses uji multi lokasi) atau mungkin digunakan sebagai sumber genetik dalam program hibridisasi.

Gambar Variasi bentuk dan ukuran malai galur mutan sorgum hasil iradiasi sinar Gamma bersumber Cobalt-60.

Kerjasama Penelitian
Dalam melakukan penelitian tanaman sorgum PATIR-BATAN bekerjasama dengan beberapa mitra diantaranya PT. Multi Usaha Wisesa (LIPPO Enterprises) yang mengembangkan sorgum untuk industri pangan. Selain itu PT. Great Giant Pineapple juga mulai mengembangkan sorgum untuk pakan ternak dan konservasi kesuburan lahan di wilayah perkebunan nanas di Lampung. Kedua perusahaan swasta tersebut sedang melakukan kajian dan analisa kualitas terhadap sorgum hasil riset PATIR-BATAN khususnya yang terkait dengan pemanfaatan sorgum untuk industri pangan dan pakan ternak. Sedangkan pengujian kualitas sorgum untuk industri pati dan etanol dilakukan oleh Balai Besar Teknologi Pati (B2TP), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Lampung.

Penelitian sorgum juga mendapat dukungan dan bantuan dari organisasi Internasional yaitu International Atomic Energy Agency (IAEA), Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA), Japan Sociaty for the Promotion of Science (JSPS), dan International Crop Research Institute of Semi-Arid Tropics (ICRISAT). Bantuan internasional umumnya diberikan dalam bentuk peralatan laboratorium (equipments), tenaga ahli (experts), fellowships and scientific visits, training, dan workshop. Khusus dari ICRISAT, PATIR-BATAN telah menerima kiriman bermacam jenis sumber genetik sorgum (breeding materials) seperti tersaji dalam Tabel 2. Materi genetik sorgum tersebut kini tersimpan dalam koleksi plasma nutfah di PATIR-BATAN. Koleksi plasma nutfah sorgum sangat diperlukan untuk penelitian dan pengembangan sorgum ke depan, terutama bagi para peneliti dan mahasiswa yang dapat memanfaatkannya dalam program pemuliaan tanaman.

Tabel Daftar materi genetik sorgum dikirim dari ICRISAT, India.

Abstract
SORGHUM GENETIC IMPROVEMENT THROUGH PLANT BREEDING PROGRAM. Sorghum is actually not Indonesian origin but it has a big potential to be grown and cultivated in this country owing to its wide adaptability. However, sorghum is not as popular as other cereal crops and it is insignificantly grown by very limited farmers. Available genetic variability of sorghum plant is also still low, thus, plant breeding program is badly required in order to support sorghum development in the country. The breeding objective is to search for superior genotypes to help improve sorghum production with good quality according to its use either as food, animal feed or raw material for industry. Any plant breeding method such as that of selection, introduction, hybridization, mutation and/or other related biotechnology may be of appropriate to be applied in sorghum improvement program. Research on sorghum breeding especially by using mutation techniques has been conducted at Center for the Application of Isotope and Radiation Technology, National Nuclear Energy Agency (BATAN) since 1996. Induced mutation was made by Gamma irradiation treatments to the sorghum seeds followed by selection of desirable mutants in successive generations. A number of promising mutant lines have been obtained and they are now under intensive multi location trials before submission for official release. Some of these lines have been identified to be good for food, animal feed, starch and ethanol industry. Sorghum research gets supports from national and international counterparts namely LIPPO Enterprises, International Atomic Energy Agency (IAEA), Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA), Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), dan International Crop Research Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT). So far our sorghum germplasm collection has been enhanced with some national released varieties, promising mutant lines, and precious breeding materials introduced from ICRISAT. These collections may be of useful for further sorghum research and development in Indonesia.

Pengenalan Tanaman Sorgam

Pengenalan Tanaman Sorgam 
Sorgum merupakan tanaman asli dari wilayah-wilayah tropis dan subtropis di bagian Pasifik tenggara dan Australasia, wilayah yang meliputi Australia, Selandia Baru dan Papua. Sorgum merupakan tanaman dari keluarga Poaceae dan marga Sorghum. Sorgum sendiri memiliki 32 spesies. Diantara spesies-spesies tersebut, yang paling banyak dibudidayakan adalah spesies Sorghum bicolor (japonicum). Tanaman yang lazim dikenal masyarakat Jawa dengan nama “Cantel” ini sekeluarga dengan tanaman serealia lainnya seperti padi, jagung, hanjeli dan gandum serta tanaman lain seperti bambu dan tebu. Dalam taksonomi, tanaman-tanaman tersebut tergolong dalam satu keluarga besar Poaceae yang juga sering disebut sebagai Gramineae (rumput-rumputan).

Sorgum memiliki tinggi rata-rata 2,6 sampai 4 meter. Pohon dan daun sorgum sangat mirip dengan jagung. Pohon sorgum tidak memiliki kambium. Jenis sorgum manis memiliki kandungan yang tinggi pada batang gabusnya sehingga berpotensi untuk dijadikan sebagai sumber bahan baku gula sebagaimana halnya tebu. Daun sorgum berbentuk lurus memanjang. Biji sorgum berbentuk bulat dengan ujung mengerucut, berukuran diameter + 2 mm. Satu pohon sorgum mempunyai satu tangkai buah yang memiliki beberapa cabang buah. Sorgum dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.
                                              A                                         B
a. Tangkai Sorgum 
b. Biji Sorgum 
Gambar Tanaman Sorgum (www.australian–insects.com dan www. purcellmountainfarms. com)

Teknik budidaya yang diperlukan dalam penanaman tanaman sorgum tidak jauh berbeda dengan tanaman serealia lainnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah persiapan lahan, pengairan, pola tanam dan pemanenan.

a) Lahan
Lahan sebaiknya telah diolah/dipacul/dibajak/digaru sebelum dilakukan penanaman. Pemberian pupuk kandang (5-10 ton/ha) pada lahan yang siap tanam sangat dianjurkan. Ajir dipasang untuk meluruskan barisan dalam penugalan lubang tanam. Benih sorgum ditanam dalam lubang secara berbaris dengan jarak tanam 70 cm (antar baris) dan 10 cm (dalam baris). Setelah benih ditaruh dalam lubang sebaiknya ditutup dengan abu.

b) Curah hujan / Pengairan
Ditanam pada awal musim hujan, penentuan waktu tanam yang tepat agarmemperhitungkan masa masaknya biji jatuh pada musim kemarau. Hal ini untuk menghindari kerusakan pada saat pembungaan dan menghindari serangan cendawan.

Setelah benih ditanam maka perlu dilalukan pengairan untuk menjaga kelembaban tanah. Benih hanya akan dapat tumbuh bila tanah cukup lembab dan kandungan air cukup untuk proses perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman muda. Kelembaban tanah perlu terus dijaga sampai tanaman berumur 4 minggu (1 bulan) setelah tanam. Dari segi kebutuhan terhadap air, sorgum memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman sejenis. Sorgum termasuk tanaman yang tahan terhadap kekeringan. Sebagai perbandingan, 1 kg bahan kering sorgum hanya memerlukan sekitar 332 kg air selama pembudidayaan, sedangkan pada jumlah bahan kering yang sama, jagung membutuhkan 368 kg, barley 434 kg dan gandum 514 kg air. 

c) Pola Tanam
Sorgum dapat ditanam secara monokultur (hanya tanaman sorgum yang ditanam di suatu lahan) ataupun dengan cara tumpang sari (menanam tanaman sorgum bersama-sama dengan tanaman lain. Untuk tanaman monokultur diperlukan benih 10-15 kg/ha,sedangkan dengan cara tumpangsari, kebutuhan benih tergantung kepada jarak tanam dan metode tumpangsari yang digunakan.
1) Jarak tanam untuk monokultur: 75 x 40 cm dengan 4 tanaman/lubang dan 75 x 20 cm: 2 tanaman/lubang.
2) Jarak tanam untuk tumpangsari: Stripcropping (1 baris): 200 x 25 cm dan Stripcropping (> 2 baris): 75 x 25 x 400 cm.
3) Benih ditanam cara tugal sedalam 4-5 cm (5-12 biji/lubang).

Pupuk yang diperlukan adalah urea dengan dosis 100 kg/ha, TSP dan KCl dengan dosis masing-masing 60 kg /ha. Masing-masing pupuk diberikan 3 kali yaitu 1/3 pada waktu tanam, 1/3 pada saat tanaman berumur 3 minggu, dan 1/3 pada saat tanaman berumur 7 minggu. Pupuk diberikan dalam larikan diantara baris tanaman, kemudian ditutup kembali dengan tanah. Pupuk majemuk (pupuk compound) juga baik untuk tanaman sorgum dan untuk dosis pemakaian dapat mengikuti anjuran seperti tertera pada kemasan pupuk yang bersangkutan.Pemeliharaan tanaman adalah berupa pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dapat berupa gulma, hama dan penyakit tanaman. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual atau menggunakan herbisida. Beberapa hama yang sering ditemui dalam budidaya tanaman sorgum adalah penggerek batang dan ulat malai. Pengendalian hama yang berasal dari tanah mungkin dapat dilakukan dengan penaburan insektisida seperti Furadan 3G. Sedangkan pengendalian penyakit pada batang atau daun dapat dilakukan dengan fungisida seperti Deicis, Basudin dsb. Hama lain yang banyak menyerang tanaman sorgum adalah tikus dan burung. Merujuk pada pengalaman di India, untuk perkebunan sorgum yang luas, pengusiran hama burung dapat dilakukan dengan pengaturan sistem amplitudo suara. Adapun metode lain yang dapat dilakukan adalah penyungkupan, yaitu pembungkusan tangkai biji sorgum agar serangga dan burung tidak dapat menyerang. 

Hendaknya tanaman dipanen pada saat biji telah mencapai masak fisiologis, yaitu ditandai dengan hilangnya cairan dan berganti tepung saat biji dihancurkan dengan jari. Setelah itu beberapa malai diikat jadi satu dan digantung terbalik untuk proses pengeringan. Setelah kering biji dirontok dan dikeringkan lebih lanjut sampai kadar air biji mencapai 14 % untuk disimpan lama.

Potensi
Di Indonesia saat ini terdapat beberapa varietas sorgum yang dikembangkan. Total terdapat 9 jenis varietas yang dijadikan varietas sorgum unggulan Indonesia yaitu : UPCA, Keris, Mandau, Higari, Badik, Gadam, Sangkur, Numbu dan Kawali. Beberapa daerah telah menjadi sentra produksi sorgum di Indonesia. 

Produktivitas sorgum di Indonesia sangat berfluktuatif. Hal ini dikarenakan budidaya tanaman sorgum masih sangat dipengaruhi oleh isu dan tren di masyarakat. Selain itu, tingkat penanaman sorgum belum mencapai jumlah yang stabil karena belum adanya pemanfaatan sorgum untuk keperluan tertentu. Pada saat isu dan tren bahan bakar alternatif (biofuel) sedang hangat dibicarakan oleh seluruh pihak, para petani sangat bersemangat dalam menanam sorgum. Namun ketika harga minyak dunia kembali turun dan bioenergi kurang menjadi topik pembahasan, para petani kebingungan dalam menjual hasil budidaya sorgumnya. Mereka pun kemudian enggan untuk kembali menanam sorgum pada musim tanam berikutnya.

Mulai tahun 2007 Perhutani Jawa Tengah telah memulai penanaman 4.000 ha sorgum sebagai bagian dari program alokasi 78.000 ha lahan untuk tanaman penghasil bioenergi (www.inaplas.org). Pada bulan Juni 2008, Tim pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) melaporkan telah dilakukannya pengembangan 20 hektar lahan budidaya sorgum sebagai langkah awal dari program budidaya tanaman bioenergi (www.detikfinance.com). Sementara itu, situs bioenergi www.indobiofuel.com melaporkan bahwa Departemen Pertanian menargetkan pengembangan sorgum dari tahun ke tahun yaitu tahun 2007 sebanyak 57.000 ton dengan luas lahan tanam 19.000 hektare dan akan ditingkatkan pada tahun 2009 dengan menargetkan produksi 75.000 ton. Rata-rata produktivitas sorgum di daerah-daerah penghasil sorgum cukup bervariasi. 

Sorgum merupakan tanaman yang mempunyai banyak kegunaan. Hampir seluruh bagian dari tanaman sorgum seperti biji, tangkai biji, daun, batang dan akar dapat dimanfaatkan. Produk-produk turunan seperti gula, bioetanol, kerajinan tangan, pati, biomas dan lain-lain merupakan beberapa produk yang dapat dihasilkan dari tanaman sorgum. Dari beberapa produk tersebut, produk utama tanaman sorgum adalah biji dan batangnya. Biji sorgum merupakan bagian dari kelompok serealia sebagaimana halnya gandum dan jagung. Biji sorgum memiliki kandungan tepung dan pati yang sangat potensial. Adapun batang sorgum terutama jenis sorgum manis memiliki kandungan nira sebagaimana halnya tanaman tebu. Nira sorgum dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan gula dan bioetanol.

Produk lain yang dapat dikembangkan dari keseluruhan bagian tanaman sorgum adalah biomass. Batang, daun, akar, merupakan bagian yang potensial untuk dikembangkan sebagai biomass. Di bawah ini adalah gambar pohon industri dari tanaman sorgum.

Gambar Pohon Industri Tanaman Sorgum

Pemanfaatan Saat Ini
Kandungan protein pada biji sorgum juga sangat tinggi, dibandingkan sumber pangan lain seperti beras, singkong dan jagung, sorgum mempunyai kadar protein yang paling tinggi. Dibandingkan beras, sorgum juga unggul dari segi kandungan mineral seperti Ca, Fe, P dan kandungan vitamin B1-nya. Kandungan nutrisi sorgum dibandingkan dengan produk serealia yang lain ditunjukkan oleh Tabel berikut ini.

Tabel Kandungan nutrisi sorgum dalam 100 g bahan dibanding bahan pangan lainnya.

Sumber: Beti et al. (1990).

Kandungan nutrisi sorgum yang begitu tinggi tersebut saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini dikarenakan pengembangan sorgum sendiri belum mencapai taraf pengembangan yang memuaskan. Para petani masih setengah hati untuk menanam sorgum karena nilai jual sorgum belum tinggi sebagaimana halnya produk serealia yang lain seperti beras, jagung, gandum dan kacang-kacangan. Pemanfaatan sorgum oleh petani sendiri masih terkendala dengan kelengkapan fasilitas yang diperlukan seperti mesin pemecah biji dan peralatan pengolahan pasca panen lainnya. 

Saat ini sorgum masih dimanfaatkan hanya sebatas potensi utamanya saja yaitu dari bijinya. Adapun potensi lainnya seperti akar, daun dan tangkai biji hanya dimanfaatkan seadanya saja seperti untuk pakan ternak dan kompos. Nira sorgum merupakan produk yang memiliki keunggulan bahkan apabila dibandingkan dengan nira tebu. Keunggulannya terletak pada tingkat produktivitas dan ketahanan tanaman sorgum. Sebagaimana diketahui bahwa tanaman tebu merupakan tanaman yang memiliki tuntutan perawatan yang cukup tinggi, atau dengan kata lain, tanaman tebu lebih manja perawatan dibandingkan dengan tanaman sorgum. Berikut di bawah ini adalah beberapa keunggulan tanaman sorgum dibandingkan dengan tebu, sedangkan komposisi nira sorgum dibandingkan dengan nira tebu dapat dilihat pada Tabel 3. Produksi biji dan biomass lebih besar dibandingkan dengan tebu. Tanaman tebu tidak menghasilkan biji sebagaimana halnya sorgum sehingga produk utama tanaman tebu hanya berupa nira dari batang. Perbandingan karakteristik budidaya sorgum dengan tebu dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel Perbandingan Karakteristik Budidaya Sorgum dengan Tebu

Sumber : Setyaningsih (2009)

Keunggulan sorgum dibandingkan dengan tebu juga dapat dilihat pada karakteristik nira yang dihasilkan. Sorgum dapat menghasilkan nira yang memiliki kadar gula yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nira tebu. Walaupun demikian, terdapat beberapa kekurangan nira sorgum dibandingkan dengan nira tebu, yaitu dalam kadar pati serta abunyayang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nira tebu. Perbedaan karakteristik nira sorgum dengan nira tebu dapat dilihat selengkapnya pada Tabel berikut ini.

Tabel Komposisi Nira Sorgum dan Nira Tebu

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan (1996)

Dari Tabel diatas, terlihat bahwa kadar gula (dalam derajat Brix) nira sorgum lebih tinggi dibandingkan dengan nira tebu. Nira sorgum memiliki kelemahan dalam kadar abu, amilum dan asam akonitat yang lebih tinggi dibandingkan dengan nira tebu. Dalam pengembangan bahan bakar nabati yang memanfaatkan beberapa komoditas tanaman pangan seperti tebu, singkong, kedelai, jagung, dan lain-lain, terdapat kekhawatiran pengembangan tersebut akan menyebabkan kenaikkan harga komoditi tersebut secara global. Sebenarnya bagi Indonesia sebagai negara agraris merupakan suatu peluang untuk mengembangkan komoditi-komoditi tersebut di seluruh wilayah Indonesia yang masih luas. Apalagi dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM dan Instruksi Presiden No 1 Tahun 2006 tanggal 25 Januari 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. 

Salah satu jenis bahan bakar nabati yang sudah lama dikembangkan untuk menggantikan BBM adalah bioetanol (etil alkohol) yang dibuat dari biomassa (tanaman) melalui proses biologi (enzimatik dan fermentasi). Ada berbagai jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku bioetanol, salah satu diantaranya yang paling potensial dikembangkan di Indonesia adalah tanaman sorgum manis (Sorgum bicolor L. Moench). Tanaman sorgum memiliki keunggulan tahan terhadap kekeringan dibanding jenis tanaman serealia lainnya. Tanaman ini mampu beradaptasi pada daerah yang luas mulai 45 oLU sampai dengan 40 oLS, mulai dari daerah dengan iklim tropis-kering (semi arid) sampai daerah beriklim basah. Tanaman sorgum masih dapat menghasilkan pada lahan marginal. Budidayanya mudah dengan biaya yang relatif murah, dapat ditanam monokultur maupun tumpangsari, produktifitas sangat tinggi dan dapat diratun (dapat dipanen lebih dari 1x dalam sekali tanam dengan hasil yang tidak jauh berbeda, tergantung pemeliharaan tanamannya). Selain itu tanaman sorgum lebih resisten terhadap serangan hama dan penyakit sehingga resiko gagal relatif kecil. Tanaman sorgum berfungsi sebagai bahan baku industri yang ragam kegunaannya besar dan merupakan komoditas ekspor dunia. 

Tanaman sorgum termasuk tanaman pangan (biji-bijian), tetapi lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak (livestock fodder). Tanaman sorgum manis sering disebut sebagai bahan baku industri bersih (clean industry) karena hampir semua komponen biomasa dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri. Pemanfaatan sorgum manis secara umum diperoleh dari hasil-hasil utama (batang dan biji) serta limbah (daun) dan hasil ikutannya (ampas/bagasse).

Bioetanol dibuat dari nira batang sorgum manis, bijinya diproses menjadi tepung untuk menggantikan tepung beras atau terigu sebagai bahan pangan. Biji sorgum juga bisa menggantikan jagung yang banyak digunakan sebagai bahan baku dalam industi pakan ternak. Daun sorgum dapat dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak. Selain itu ternyata ampas batang sorgum (bagasse) yang telah diambil niranya dapat dimanfaatkan seratnya sebagai bahan baku pulp dalam industri kertas. Dalam hal ini pengembangan tanaman sorgum justru mendukung program pemerintah dalam rangka ketahanan pangan (program swasembada pangan) dan energi (program desa mandiri energi), selain itu juga mendukung pengembangan industri lainnya yaitu penggemukan sapi (swasembada daging) dan industri pulp (kertas). 
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson