Tampilkan postingan dengan label Kedelai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kedelai. Tampilkan semua postingan

Respon Berbagai Sumber Nitrogen terhadap Pertumbuhan Vegetatif Kacang Gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.)

Respon Berbagai Sumber Nitrogen terhadap Pertumbuhan Vegetatif Kacang Gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) 
Konsumsi kedelai di masyarakat saat ini sangat tinggi, hal ini dapat diketahui dari kebutuhan konsumsi kedelai skala nasional yang mencapai 2,6 juta ton per tahun. Fenomena yang terjadi tersebut sangat tidak sebanding dengan jumlah produksi kedelai nasional yang hanya sebesar 800 ribu ton per tahun. Hal tersebut diikuti dengan harga kedelai yang semakin melambung tinggi. Untuk mengatasi lonjakan permintaan kedelai, saat ini pemerintah mengupayakan dengan impor kedelai dari negara lain, seperti : Amerika Serikat, Brazil, Uruguay dan Argentina. Tetapi semua itu juga tergantung dari kondisi cuaca dari negara-negara pemasok kedelai, jika cuaca baik akan memungkinkan penanaman dan pengiriman kedelai berjalan lancar. 

Lahan yang terbatas maupun kondisi tanah yang cukup ekstrim membuat tanaman kedelai sulit tumbuh dengan baik. Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim dan bahan-bahan pencemar yang toksik dan dapat merusak tanah pada lahan-lahan pertanian. Sehingga dengan demikian perlu dicari solusi jenis tanaman alternatif selain kedelai yang dapat tumbuh di lahan dengan kondisi tanah yang ekstrim (kering atau semi arid).

Kacang gude (Cajanus cajan) termasuk tanaman semusim dan mempunyai keunggulan dibanding dengan tanaman kacang-kacangan yang lainnya antara lain tahan kekeringan, tahan rebah dan polong tidak mudah pecah, akan tetapi peka terhadap hama khususnya perusak polong (Darmadjati dan Widiowati, 1985; Wallis et al., 1985). Umumnya kacang gude tidak pernah ditanam secara monokultur, pertanaman tidak dilakukan secara intensif, tetapi hanya sebagai tanaman campuran di lahan tegal, pematang sawah atau pekarangan. Kacang gude dapat dimanfaatkan dalam mengembangkan pola usahatani terpadu karena dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lain seperti sorgum, jagung, kacang tanah dan kapas (Bahar, 1981; Litzenberger, 1974).

Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tanah yang kurang subur dan mendapatkan produksi kacang gude yang berkualitas sebagai alternatif penggati kedelai, maka dilakukan pemupukan dengan salah satunya adalah pupuk nitrogen. Jenis-jenis pupuk nitrogen antara lain kompos, urea dan ZA. Nitrogen merupakan hara makro utama yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Nitrogen diserap oleh tanaman dalam bentuk ion NO3- atau NH4+ dari tanah. Pemupukan nitrogen akan menaikkan produksi tanaman, kadar protein, dan kadar selulosa. Dengan demikian, akan meningkatkan produktivitas dan kuantitas pakan hijau bagi ternak. (Rosmarkam dan Yuwono, 2002). 

Pertumbuhan vegetatif sangat mempengaruhi produksi tanaman dan memberikan konstribusi positif terhadap pertumbuhan generatif. Unsur Nitrogen (N) berfungsi memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman (Bahar dan Widiastoety, 1994). Variabel yang diamati untuk pertumbuhan vegetatif meliputi tinggi tanaman, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot basah tajuk, dan bobot kering tajuk (Widiatningrum dan Pukan, 2010).

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis akan meneliti pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar pengaruh berbagai sumber nitrogen pada pertumbuhan vegetatif kacang gude (Cajanus cajan) dan sumber nitrogen mana yang memberikan hasil yang tinggi terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan).

METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di laboratorium buatan yang beralamat di Jalan Elang Raya Kav 1 Eagle Residence Semarang pada bulan Februari sampai April 2013.

Alat dan Bahan 
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah : pH meter, kertas indikator pH, soil tester, termometer kimia, Higrometer Termometer Dry and Wet, pot plastik + tray, sekop / cangkul, bambu, pisau, terpal, gunting, karung beras, karung goni, kertas label, kertas koran, kawat, tang, timbangan kiloan dan digital, termos, kantong plastik klep kecil, blender. 

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah : benih kacang gude, sumber pupuk Nitrogen, yaitu : pupuk urea, kompos dan amonium sulfat (Za), kapur, pasir, tanah merah. 

Rancangan Penelitian
Penelitian ini hanya melibatkan satu faktor yang berbeda yaitu pada sumber nitrogen yang berbeda jenis, maka penelitian ini disebut percobaan faktor tunggal. Untuk rancangan percobaannya digunakan rancangan acak lengkap (RAL), dimana perlakuan diatur dengan pengacakan secara lengkap sehingga setiap satuan percobaan memiliki peluang yang sama untuk mendapat setiap perlakuan (Gomez dan Gomez, 1995).

Dalam percobaan ini terdapat empat perlakuan dan lima pengulangan, perlakuan yang diberikan adalah:

Pengacakan dan penataan pada penelitian ini dilakukan dengan cara mengundi dimana mula mula menentukan banyaknya petak percobaan (n) dengan cara jumlah perlakuan (t) di kali jumlah ulangan (r) atau u = (t).(r) dengan empat perlakuan dan lima pengulangan maka banyaknya petak percobaan ada dua puluh buah. Sehingga menghasilkan pengacakan sebagai berikut: 

Gambar Denah Percobaan

Keterangan : 
Huruf kapital : menunjukan perlakuan ke-
Angka : menunjukan ulangan ke-

Parameter Penelitian
Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah : produksi bahan kering, kadar protein kasar, kadar klorofil hijauan, kadar serat kasar, aktivitas enzim nitrat reduktase. 

Analisis Data
Data-data yang didapatkan kemudian dianalisis dengan analisis sidik ragam (analisis varians), jika terjadi perbedaan yang nyata kemudian dilanjutkan dengan uji jarak ganda duncan (Gomez dan Gomez, 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian mengenai pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) dapat diterangkan sebagai berikut :

Produksi Bahan Kering
Hasil penelitian terhadap produksi bahan kering hijauan kacang gude dapat dilihiat pada Tabel  dibawah ini :

Tabel Rataan produksi bahan kering hijauan kacang gude (gr/tanaman)

Sedangkan hasil analisis sidik ragam (RKLT) adalah sebagai berikut :

Tabel Analisis sidik ragam produksi bahan kering hijauan kacang gude

tn = tidak berbeda nyata (tidak signifikan) pada taraf 5% 

Dari Tabel diatas didapatkan F hitung < F tabel artinya Ho yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) diterima sedangkan Ha yang menyatakan bahwa ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) ditolak. 

Produksi bahan kering pada masing-masing perlakuan menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata, hal ini diduga karena pada semua perlakuan faktor-faktor yang mempengaruhi fotosintesis dalam pembentukan jaringan tanaman terpenuhi. Seperti yang diungkapkan Sanchez (1993) bahwa faktor yang mempengaruhi bahan kering seperti kekurangan unsur hara, pencahayaan matahari, penyakit aakan mempengaruhi penggunaan nitrogen bagi tanaman.

Tanaman yang tumbuh memerlukan unsur N dalam membentuk sel-sel baru. Fotosintesis menghasilkan karbohidrat dari CO2 dan H2O, namun proses tersebut tidak dapat berlangsung untuk menghasilkan protein, asam nukleat dan sebagainya bila unsur N tidak tersedia. Bilamana terjadi kekurangan N yang hebat maka akan menghentikan proses pertumbuhan dan reproduksi. Nitrogen merupakan penyusun jaringan tanaman, dimana dalam pengukuran akan nampak sebagai berat kering tanaman. Hal ini sesuai pendapat Rosmarkam dan Yuwono (2002) yang menyatakan nitrogen merupakan hara makro utama yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman.

Produksi bahan kering tanaman merupakan resultanse dari tiga proses, yaitu penumpukan asimilat melalui fotosintesis, penurunan asimilat akibat respirasi dan akumulasi ke bagian jaringan yang menampung atau menerima asimilat. Pada prinsipnya apabila laju fotosintesis besar, kegiatan kecil dan translokasi asimilat lancar ke bagian generatif, maka produksi akan meningkat (Jumin, 1992). 

Kadar Protein Kasar
Hasil penelitian terhadap kadar protein kasar hijauan kacang gude dapat dilihat pada Tabel  dibawah ini :

Tabel Rataan kadar protein kasar hijauan kacang gude (%)


Hasil analisis sidik ragam (RKLT) dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini :

Tabel Analisis sidik ragam kadar protein kasar hijauan kacang gude

* = berbeda nyata (signifikan) pada taraf 5% 

Dari Tabel diatas diketahui bahwa F hitung > F tabel. Sehingga Ho yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) ditolak sedangkan Ha yang menyatakan bahwa ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) diterima.

Dari hasil analisis ragam pada Tabel 3 didapatkan hasil kadar protein kasar tertinggi pada perlakuan P4 (16,25 %) dan terendah pada perlakuan P3 (12,68 %), sedangkan perlakuan P4 tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1 maupun P2 (16,25 vs 15,18 vs 14,18). 

Unsur nitrogen merupakan unsur esensial yang diperlukan oleh tumbuhan untuk membentuk asam amino sebagai penyusun protein. Unsur nitrogen di alam cukup kaya, yakni dalam bentuk gas nitrogen (N2). Namun demikian, tumbuhan tidak dapat menggunakan nitrogen dalam bentuk tersebut. Tumbuhan dapat menyerap nitrogen dalam bentuk NH4+ (ammonium) dan NO3- (nitrat), kedua unsur itu merupakan unsur N yang tersedia bagi tumbuhan (Campbell, 2003).

Perlakuan pemupukan sumber nitrogen yang berbeda terhadap kadar protein kasar nampak tertinggi pada perlakuan pemupukan menggunakan pupuk ZA. Perlu diketahui bahwa pupuk ZA (NH4)2SO4 melepas nitrogen dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman NH4+ (ammonium), selain itu dalam jumlah bobot yang sama dibandingkan dengan pupuk kompos dan urea pupuk ZA memberikan itrogen dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini sesuai pendapat Harjadi (1996) yang menyatakan bahwa Ion nitrat (NO3-) dan ammonium (NH4+) merupakan bentuk utama dari N yang diserap tanaman. Ditambahkan oleh Slamet et al. (2009) apabila unsur nitrogen tersedia lebih banyak dari unsur yang lainnya maka akan dihasilkan protein lebih banyak, pembentukan protein terkait dengan ketersediaan unsur hara dalam media tanam yang dapat termanfaatkan oleh tanaman. 

Kadar Klorofil 
Hasil penelitian terhadap kadar klorofil hijauan kacang gude dapat dilihiat pada Tabel 5 dibawah ini :

Tabel Rataan kadar klorofil hijauan kacang gude (mg/g)

Hasil analisis sidik ragam (RKLT) dapat dilihat pada Tabel 6 di bawah ini :

Tabel Analisis sidik ragam kadar klorofil hijauan kacang gude

tn = tidak berbeda nyata (tidak signifikan) pada taraf 5% 

Dari Tabel diatas diketahui bahwa F hitung < F tabel. Sehingga Ho yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) diterima sedangkan Ha yang menyatakan bahwa ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) ditolak. 

Klorofil adalah pigmen hijau yang terdapat pada semua tumbuhan tingkat tinggi diatas alga. Terdapat dua macam klorofil yaitu klorofil a dan klorofil b, perbandingan keduanya biasanya sekitar 3:1. Klorofil adalah salah satu sistem cincin porfirin, yang dalam tumbuhan berfungsi sebagai gugus prostetik enzim. Porfirin alam tampak semuanya mengandung logram yang terikat pada pusat molekul, pigmen klorofil mengandung magnesium. Bentuk fungsional klorofil dalam tumbuhan terikat pada protein, berupa senyawa kompleks klorofil-protein yang terdapat dalam daun (Robinson, 1995). Klorofil disintesis dalam tumbuhan, dengan menggunakan energi dari ATP, merupakan derivat dari senyawa-senyawa organik asam amino dan asam yang larut dalam air, sehingga defisien salah satu dari keduanya (selain faktor suhu dan pH) akan berakibat terhambatnya sintesis klorofil (Suseno, 1974; Robinson, 1995).

Perlakuan pemberian sumber nitrogen yang berbeda pada pertanaman kacang gude tidak memberikan pengaruh perlakuan terhadap kadar klorofil hijauan kacang gude, hal ini disebabkan karena kadar klorofil ditentukan oleh faktor lingkungan dan faktor genetis. Faktor genetis yang nampak menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada masing-masing perlakuan, hal ini dikarenakan tanaman yang digunakan merupakan tanaman yang berasal dari satu spesies, sehingga faktor lingkungan yang akan menentukan perbedaan kadar klorofil. Akan tetapi faktor lingkungan dalam hal ini kecukupan hara pada masing-masing perlakuan sudah tercukupi sehingga menampakkan hasil yang tidak berbeda pada masing-masing perlakuan. Hal ini sejalan dengan pendapat Kristanto et al. (2009) menyatakan bahwa Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan klorofil adalah faktor genetik, cahaya, oksigen, karbohidrat, air, unsur hara seperti Fe, Mg dan N. 

Kadar Serat Kasar
Hasil penelitian terhadap kadar serat kasar hijauan kacang gude dapat dilihiat pada Tabel 7 dibawah ini :

Tabel  Rataan kadar serat kasar hijauan kacang gude (%)

Hasil analisis sidik ragam (RKLT) dapat dilihat pada Tabel 18 di bawah ini :

Tabel Analisis sidik ragam kadar serat kasar hijauan kacang gude


* = berbeda nyata (signifikan) pada taraf 5% 

Dari Tabel diatas diketahui bahwa F hitung > F tabel. Sehingga Ho yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) ditolak sedangkan Ha yang menyatakan bahwa ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) diterima.

Dari hasil analisis ragam pada Tabel 7 didapatkan hasil kadar serat kasar tertinggi pada perlakuan P2 (57,87 %) dan terendah pada perlakuan P4 (38,95 %), sedangkan perlakuan P2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1 (57,87 vs 52,61 %), namun berbeda dengan perlakuan P3 dan P4 (57,87 vs 43,60 vs 38,95 %). 

Tingginya kandungan serat kasar pada hijauan kacang gude perlakuan P2 diikuti P1 dimungkinkan tanaman pada kedua perlakuan tersebut mengalami cekaman, karena pada kedua perlakuan tersebut kandungan unsur hara utamanya nitrogen yang tersedia bagi tanaman rendah. Serat kasar dalam tumbuhan terbentuk karena proses lignifikasi jaringan tumbuhan. Proses lignifikasi terjadi seiring dengan proses pertambahan umur, selain itu proses lignifikasi juga dapat terjadi sebagai respon tumbuhan terhadap lingkungan sekitar yang tidak menguntungkan/mencekam. Dalam kondisi tercekam pada umumnya proses penuaan tumbuhan datang lebih awal dari biasanya (Robinson, 1995; Sitompul dan Guritno, 1995).

Perlakuan P3 maupun P4 memiliki kandungan serat kasar yang rendah dimungkinkan karena unsur hara utamanya nitrogen tersedia cukup bagi tanaman, hal ini seperti diungkapkan oleh Salisbury dan Ross (1995) yang menyatakan pemberian nitrogen yang berlebihan akan mengakibatkan pertumbuhan vegetatif yang sangat pesat, warna daun menjadi hijau tua, dan tanaman menjadi lebih sukulen.

Aktivitas Nitrat Reduktase
Hasil penelitian terhadap aktivitas enzim nitrat reduktase hijauan kacang gude dapat dilihiat pada Tabel  dibawah ini :

Tabel Rataan aktivitas nitrat reduktase hijauan kacang gude (ยต mol NO2/g/jam)

Hasil analisis sidik ragam (RKLT) dapat dilihat pada Tabel 10 di bawah ini :

Tabel Analisis sidik ragam aktivitas nitrat reduktase hijauan kacang gude

tn = tidak berbeda nyata (signifikan) pada taraf 5% 

Dari Tabel diatas diketahui bahwa F hitung < F tabel. Sehingga Ho yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) diterima sedangkan Ha yang menyatakan bahwa ada pengaruh pemupukan berbagai sumber nitrogen terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) ditolak.

Nitrat Reduktase pada tumbuhan berupa senyawa NAD (nicotinamide adenine dinucleotide) dan NADP (nicotinamide adenine dinucleotide phosphate). Dalam bentuk tereduksi senyawa ini menjadi NADH2 dan NADPH2 (Robinson, 1995) Aktivitas nitrat reduktase (ANR) merupakan aktivitas enzim nitrat reduktase yang mengubah nitrat menjadi nitrit (Salisbury dan Ross, 1995). 

Proses reduksi nitrat adalah suatu reaksi endothermik, proses reduksi ini tergantung pada adanya sumber energi. Terdapat dua kemungkinan sumber energi, yang keduanya mempunyai peran , tergantung pada bagian tumbuhan. NADH2 atau NADPH2 molekul hidrogennya berasal dari proses fotolisa penguraian air, kemungkinan lain NADH2 atau NADPH2 berasal dari hasil reduksi tahap-tahap proses respirasi (Suseno, 1974). 

Hasil penelitian menunjukan pada masing-masing perlakuan tidak berbeda terhadap aktivitas nitrat reduktase, hal ini disebabkan sebagian besar tumbuhan tingkat tinggi mampu mereduksi nitrat sampai tahap amonia. Enzim yang terlibat dalam proses ini pada beberapa tumbuhan adalah molibdenum flavoprotein yang mudah larut dan donor elektronnya NADH (Robinson, 1995).

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan landasan teori dan didukung analisa serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab-bab di depan, maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut : pemupukan berbagai sumber nitrogen, tidak mempengaruhi produksi bahan kering, kadar klorofil, dan aktifitas nitrat reduktase kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) dan kadar protein kasar dan kadar serat kasar kacang gude (Cajanus cajan (L.) Millsp.) dipengaruhi oleh pupuk yang mengandung sumber nitrogen. 

Saran
Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang pertumbuhan vegetatif Cajanus cajan (L.) Millsp dengan pemupukan yang mengandung unsur selain nitrogen.

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh berbagai sumber nitrogen pada pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude (Cajanus cajan) dan mengetahui sumber nitrogen yang mana yang memberikan hasil yang tinggi terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kacang gude. . Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 5 ulangan. 

Perlakuan yang digunakan adalah : 1) campuran antara tanah merah, pasir, dan kacang gude, 2) campuran tanah merah, pasir, kacang gude, dan kompos hijauan, 3) campuran tanah merah, pasir, kacang gude, dan urea, 4) campuran tanah merah pasir, kacang gude, dan Za. Peubah yang diamati adalah produksi bahan kering, kadar protein kasar, kadar klorofil hijauan, kadar serat kasar, dan akitifitas enzim nitrat reduktase. Pengambilan data dan sampel dilakukan setelah tanaman berumur 2 bulan. Hasil penelitian menunjukkan pemupukan berbagai sumber nitrogen, tidak mempengaruhi produksi bahan kering, kadar klorofil, dan aktifitas nitrat reduktase kacang gude. Kadar protein kasar dan kadar serat kasar kacang gude dipengaruhi oleh pupuk yang mengandung sumber nitrogen. 
Kata Kunci : Nitrogen, Cajanus cajan, Pertumbuhan vegetatif

ABSTRACT
The aims of this research is to determine how much influence various nitrogen sources on the vegetative growth of Pigeon pea (Cajanus cajan) and identified the source of nitrogen which gives a high yield of the vegetative growth of Pigeon pea. This study uses a completely randomized design consisting of 4 treatments with 5 replicates.

The treatments were : 1) a mixture of red soil, sand, and Pigeon pea, 2) a mixture of red soil, sand, Pigeonpea, and compost, 3) a mixture of red soil, sand, Pigeon pea, and urea, 4) mixed red soil sand, Pigeon pea, and Za. Variables measured were dry matter production, crude protein content, chlorophyll content, crude fiber content, and enzyme activity nitrate reductase. Sample of the data and the plant was carried out after 2 months. The results show the various sources of nitrogen fertilization, did not affect dry matter production, chlorophyll content and nitrate reductase activity of Pigeon pea. Levels of crude protein and crude fiber content of Pigeonpea influenced by the source of nitrogen-containing fertilizers.
Keywords : Nitrogen, Cajanus cajan, vegetative growth

DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.

Anif S, Rahayu T, Faatih M. 2007. Pemanfaatan Limbah Tomat sebagai Pengganti EM 4 pada Proses Pengomposan Sampah Organik. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi 8 (2) : 119-143.

Bahar FA, Widiastoety D. 1994. Pengaruh Hidrasi terhadap Pertumbuhan Vegetatif pada Tanaman Anggrek Aranda berthabraga. Jurnal Hortikultura 4 (1) : 19-23.

Bahar FA. 1981. Culture Practice for Pigeon Pea (Cayanus cajan L) as Forage Green Manure and Grain Crops Desert. Ph D. University Florida.

Bakhashwain, A.A. 2010. Fodder yield and quality of rhodes grass-alfalfa mixtures as affected by showing rates in makkah region. J. Met, Env and Arid Land Agric Sci. 21 (1): 19-33.

Campbell, Neil. A., Reece, Jane. B., Mithchel, Lawrence. 2004. Biologi Jilid 1. Erlangga, Jakarta.

Damardjati AS, Widowati S. 1985. Prospek Pengembangan Kacang Gude di Indonesia. Journal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 4 (3) : 53-59.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1991. Kesuburan Tanah. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Harjadi, S. S. 1996. Pengantar Agronomi. Cetakan ke-12. Gramedia. Jakarta. hal 195.

Kristanto, B.A., R. Kurniantono, D.W. Widjajanto. 2009. Karakteristik Fotosintesis rumput gajah (Pennisetum purpureum) dengan aplikasi pupuk organik guano. Prosiding Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Hal: 310-317. 

Lizenberg SC. 1974. Pigeon Pea (Cajanus cajan) Guide for Crops in The Tropics and Subtropics Washington. P 146-153.

Maesen VD, Somaatmadja. 1993. Proses Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 1 Kacang-Kacangan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Neliyati. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat pada Beberapa Dosis Kompos Sampah Kota. Jurnal Agronomi 10 (2) : 93-97.

Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Terjemahan Kosasih Padmawinata. Penerbit ITB, Bandung.

Rosmarkam dan Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta : Kanisius.

Salisbury dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3 Perkembangan Tumbuhan dan Fisiologi Lingkungan. Penerjemah Diah R. Lukman dan Sumaryono, Penerbit ITB, Bandung.

Sanchez, P.A. 1993. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. ITB Press, Bandung.

Sitompul, S.M. dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. UGM Press, Yogyakarta. 

Slamet, W., F. Kusmiyati, ED. Purbayanti dan Surahmanto. 2009. Produksi dan kualitas hijauan alfalfa (Medicago sativa) pemotongan pertama pada media tanam yang berbeda dengan penggunaan inokulan. Prosiding Seminar Nasional kebangkitan Peternakan. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Hal: 295-301.

Sulistyorini L. 2005. Pengelolaan Sampah dengan Cara Menjadikannya Kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan 2 (1) : 77-84.

Surtinah. Hubungan Pemangkasan Organ Bagian Atas Tanaman Jagung (Zea mays) dan Dosis Urea terhadap Pengisian Biji. Jurnal Ilmiah Pertanian 1 (2) : 27-31.

Suseno, H., S. Harran dan W. Prawiranata. 1974. Fisiologi Tumbuhan, Metabolisme Dasar dan Beberapa Aspeknya. Biro Penataran Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Widiatningrum T, Pukan KK. 2010. Pertumbuhan dan Produksi Kubis Bunga (Brassica oleracea var botrytis) dengan Sistem Pertanian Organik di Dataran Rendah. Biosaintifika 2 (2) : 115-121.

Pengaruh Kebijakan Amerika Serikat Terhadap Impor Kedelai Indonesia

Pengaruh Kebijakan Amerika Serikat Terhadap Impor Kedelai Indonesia 
Pemerintah AS memberikan berbagai jenis pembiayaan pada sektor pertanian. Selain untuk melindungi pertanian dalam negeri AS dari berbagai kegagalan yang mungkin terjadi, bantuan pemerintah tersebut juga mengakibatkan produktivitas beberapa komoditas pertanian AS menjadi sangat banyak sehingga harga berbagai kebutuhan pangan masyarakat AS menjadi lebih murah dan mudah didapat, salah satunya kebutuhan akan kedelai. Banyaknya produksi nasional AS akan kedelai pada akhirnya mendorong negara tersebut untuk secara konsisten mengekspornya ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Bahkan, AS merupakan eksportir kedelai terbesar bagi Indonesia.

Bab III dalam peneltian ini secara rinci akan membahas mengenai penyebab dominasi kedelai impor AS di pasar Indonesia, dimulai dengan penjelasan terkait pembiayaan-pembiayaan pertanian yang dilakukan oleh Pemerintah AS seperti direct payments, counter-cycling payments, dan marketing loans. Adanya kebijakan pertanian tersebut secara tidak langsung kemudian mengakibatkan terjadinya berbagai kemudahan bagi komoditas-komoditas pertanian AS, seperti keuntungan bagi petani, akses untuk masuk pasar internasional, hingga pengaruhnya terhadap kondisi pasar luar negeri, termasuk Indonesia. 

Peran Pemerintah AS dalam Sektor Pertanian Negara
Pemerintah AS melindungi dan mengatur seluruh kebijakan sektor pertanian dengan menyediakan berbagai program pembayaran, hingga berperan sebagai penyedia pasar hasil produksi pertanian, baik domestik maupun internasional. Safety net disediakan bagi para produsen pertanian untuk melindungi produksi pertanian dan profitabilitas dari tahun ke tahun. Hal ini dikarenakan adanya berbagai masalah yang muncul akibat perbedaan cuaca maupun harga pasar, serta memastikan pasokan pangan nasional tetap stabil. Dukungan tersebut pada skala domestik lebih condong kepada lima besar komoditas pertanian AS, seperti jagung, kedelai, gandum, kapas dan beras. Kelima komoditas tersebut merupakan hasil panen utama dan paling berpengaruh di AS.

Dukungan pemerintah AS yang antara lain berupa pemberian subsidi atas lahan pertanian, nilai tanaman dan keuntungan produsen pertanian, secara ekonomi, merupakan proteksi akibat sistem pasar yang ada tidak mampu menyeimbangkan antara pasokan komoditas dengan permintaan. Konsumen hanya memperhatikan permintaan dan membeli jumlah komoditas lebih kecil atau besar, dengan tidak merespon perubahan harga. Sementara itu, para petani juga tidak merespon perubahan harga karena terkonsentrasi pada pasokan atau hasil yang dimilikinya, dengan meningkatkan atau mengurangi produksi. Ketidakseimbangan tersebut dapat mengakibatkan adanya pasokan yang tidak memadai, atau sebaliknya, di mana terjadi kelebihan hasil pertanian. Sehingga, jika hasil pertanian terlalu besar dan konsumen hanya sedikit yang membutuhkan, misalnya, maka bisa dipastikan bahwa harga komoditas menjadi rendah.

Atas dasar ekonomi di atas kemudian dibuatlah program untuk mendukung komoditas pertanian AS. Program pemerintah tersebut bertujuan untuk menstabilkan dan melindungi pendapatan produsen pertanian dengan menggeser beberapa resiko kepada pemerintah. Resiko yang ada, secara jangka pendek, adalah ketidakstabilan harga pasar dan penyesuaian produktivitas untuk jangka panjang. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kondisi ekonomi AS pada sektor pertanian sehingga dapat memanfaatkan keunggulan komparatif, agar dapat terjamin produksi bahan pangan dan juga mampu bersaing secara global.

Pemerintah AS melalui Departemen Pertaniannya (United State Department of Agriculture - USDA) memberikan subsidi pertanian setiap tahun rata-rata mencapai hingga 20 miliar dolar AS kepada para petani dan pemilik lahan pertanian. Tabel III.1 di bawah menunjukkan bahwa selama lima tahun USDA telah melakukan pembayaran atas subsidi pertanian kepada lebih dari 3,6 juta penerima. Para penerima, menurut Environmental Working Groups (EWG) adalah para petani, baik secara individu maupun kelompok, pemilik tanah dan perusahaan-perusahaan pertanian.

Tabel Subsidi Pertanian Tahun 1998-2002 (Dolar AS)

Sumber: Diolah dari http://farm.ewg.org/region.php?fips=00000&progcode=total&yr=2008, (diakses pada 4 September 2012).

Dari total keseluruhan subsidi tersebut, sekitar 8,8 miliar dolar AS atau 13 persen untuk conservation subsidies, 7,5 miliar dolar AS atau 8 persen untuk disaster subsidies, 75,9 miliar dolar AS atau 62 persen untuk commodity subsidies, dan sisanya sebesar 7,2 miliar dolar AS atau sekitar 17 persen untuk crop insurance premium subsidies. Perbandingan besarnya setiap subsidi dari tahun 1998 hingga 2002 dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:

Tabel Pembayaran Conservation Subsidies, Disaster Subsidies, Commodity Subsidies dan Crop Insurance Premium Subsidies, 1995-2002. (Dolar AS)

Sumber: Diolah dari “USDA subsidies for farms,” Environmental Working Group Online, http://farm.ewg.org/regiondetail.php?fips=00000&summlevel=2&statename=theUnitedStates (diakses pada 4 september 2012).

Commodity subsidies merupakan subsidi yang sangat penting bagi para petani dan pelaku pertanian di AS. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pendapatan para petani AS, dengan direct payments sebagai instrument vital dalam menjamin tujuan tersebut. Dalam kurun 1998 hingga 2002, USDA telah memberikan pembayaran subsidi kepada 2,9 juta penerima dengan total pembayaran hingga sebesar 75,8 miliar dolar AS. Commodity subsidies sendiri dibagi menjadi tiga jenis yaitu direct payment, counter-cyclical payment dan marketing loan.

Direct payments, atau pembayaran tunai, diberikan kepada petani dan atau pemilik tanah atas komoditas pilihan. Selain itu, direct payments tidak bergantung pada harga pasar, serta berdasarkan payment rateyang telah ditetapkan.

Tabel Standar Nilai Direct Payments Beberapa Komoditas Pilihan 1999-2002 (dolar AS)

Sumber: Jim Monke, “Farm Commodity Programs: Direct Payment, Counter-Cyclical Payment, and Marketing Loans” CSR Report for Congress (2009): 7. http://www.nationalaglawcenter.org/assets/crs/RL33271.pdf (diakses pada 3 September 2012).

Besarnya direct payment yang diterima para petani dari setiap tanaman yang ditanamnya dapat dihitung berdasarkan pada 85 persen dari ‘base acre’ dikalikan dengan ‘direct paymet yield’ untuk setiap lahan (ladang usaha) dan ‘payment rate' per satuan komoditas tertentu. MenurutEconomic Research Services USDA, direct payment adalah:

“…is based on 85% of the eligible “base acres” multiplied by the “direct payment yield” for each farm and the “payment rate” per unit. The direct payment yield is a historical average yield for the farm, recorded similarly to the base acreage. The adjustment factor of 85% reduces the number of acres eligible for payments and was instituted under previous farm bills toreduce Federal expenditures.”

Salah satu contoh direct paymet dapat dilihat dari kasus sebuah ladang seluas 1.000 acre di Montgomery County, Illinois, yang memiliki base acre jagung sebesar 400 acre dan kedelai sebesar 600 acre. Direct payment yield adalah 110 bushel/acre untuk jagung dan 35 bushel/acre untuk kedelai. Dan dengan payment rate yang telah ditentukan, penghitungannya adalah seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini:

Tabel Contoh Direct Payments

Sumber: Jim Monke, “Farm Commodity Programs: Direct Payment, Counter-Cyclical Payment, and Marketing Loans” CSR Report for Congress (2009): 7. http://www.nationalaglawcenter.org/assets/crs/RL33271.pdf (diakses pada 3 September 2012).

Tabel  menunjukkan bahwa pada tahun tanam 1999, USDA memberikan pembayaran komoditas (direct payment) sebesar 10.472 dolar AS untuk jagung dan 7.854 dolar AS untuk kedelai kepada pemilik lahan 1.000 acre tersebut.

Counter-cyclical payments (CC payment) merupakan program pembayaran yang mencakup komoditas tertentu ketika effective market price lebih rendah dari target harga yang telah ditentukan. Menurut Jim Monke, CC payment adalah:

“counter-cyclical payments compensate for the difference between a crop’s target price and a lower effective market price. The target price is a statutory benchmark defined in the farm bill. The effective price is the direct payment rate plus the higher of the national season-average market price or the national loan rate. When effective market prices exceed the target price, no payment is made.”

Sama halnya dengan direct payment, CC payment juga bergantung pada luas areal pertanian (base acres), counter-cyclical payment yield, serta tidak tergantung pada hasil produktifitas komoditas yang ditanam. Akan tetapi, sistem pembayaran ini tidak bergantung pada harga pasar, sehingga menyebabkan besarnya pembayaran berbeda-beda setiap tahunnya.

Tabel Contoh CC Payments

Sumber: Jim Monke, “Farm Commodity Programs: Direct Payment, Counter-Cyclical Payment, and Marketing Loans” CSR Report for Congress (2009): 7. http://www.nationalaglawcenter.org/assets/crs/RL33271.pdf (diakses pada 3 September 2012).

Tabel merupakan contoh dari CC Payment. Menggunakan beberapa data dari contoh direct payment sebelumnya, misalkan pembayaran untuk counter-cyclical yield pertanian adalah 125 bushel/acre untuk jagung dan 40 bushel/acre untuk kedelai. Harga pasar rata-rata pada tahun 1999 adalah sebesar 2.63 dolar/bushel untuk jagung dan 5.80 dolar/bushel untuk kedelai. Setelah menambahkan harga pasar (the season-average market price) dengan tingkat pembayaran langsung (direct payment rate) untuk menghitung harga efektif pasar (the effective price), tingkat CC Payment (counter-cyclical payment rate) yang dihasilkan adalah 0.15 dolar/bushel untuk jagung dan 0 dolar AS untuk kedelai. Jagung menerima pembayaran CC Payment karena harga yang efektif kurang dari target harga, namun kedelai tidak menerima pembayaran karena harga yang efektif melebihi target harga. Sehingga, besarnya CC Payment untuk jagung adalah 6.375 dolar AS.

Sementara itu, berbeda dengan kedua program sebelumnya, marketing loan dapat digunakan hampir semua tanaman yang disahkan USDA. Sistem pembayaran marketing loan ini memungkinkan penghasil komoditas tertentu untuk menerima pinjaman dari USDA dalam bentuk commodity-specific loan rate per unit, dengan menjaminkan hasil produksi sebagai jaminan kredit. Para petani, dengan program ini, akan mendapatkan pinjaman untuk seluruh atau sebagian untuk memproduksi komoditas yang akan ditanam dengan menjaminkan hasil panen komoditas terlebih dahulu.

Perbedaan sistem pembayaran marketing loan dengan dua sebelumnya adalah tidak adanya formula untuk menghitung pinjaman yang akan diberikan. Hal ini dikarenakan marketing loan menggunakan sistem negosiasi dan USDA pengaturannya berdasar pada tingkat lokal loan rate, sebagai adanya perbedaan spasial antara pasar dan transportasi daripada distribusi.

Tujuan utama loan program ini adalah untuk memberikan petani pinjaman jangka pendek untuk membayar biaya produksi sampai komoditas terjual. Tanpa sistem tersebut, akan menyebabkan banyak petani merugi akibat terpaksa menjual hasil pertaniannya ketika market price rendah. Marketing loan mendorong para petani untuk mampu menjual hasil panennya tanpa mengalami kerugian akibat ketidakpastian market price. Selain itu, program ini tidak selalu berorientasi pada keadaan pasat yang tidak stabil, namun juga berusaha untuk memberikan keuntungan dalam bentuk pendapatan yang tinggi atas hasil panen yang terjual habis di pasaran.

Terdapat empat mekanisme program marketing loan yang berguna untuk memberikan keuntungan apabila market price berada dibawah loan rate ketika proses pemberian pinjaman, antara lain (1) loan deficiency payment (LDP), yakni merupakan pembayaran tunai langsung (direct payment) atas keuntungan yang didapat untuk membayar pinjaman berapa pun keuntungannya sesuai dengan LDP rates yang ditentukan; (2) marketing loan gain (MLG), yakni setelah mendapatkan pinjaman, petani yang menggunakan mekanisme ini akan membayar dengan harga terendah daripada nilai pinjaman asli, dan menjadikan perbedaan yang ada sebagai keuntungan pinjaman; (3) certificate gain, yang hampir sama dengan MLG namun tanpa batas pembayaran tertentu karena petani dapat membayar pinjaman dengan menggunakan sertifikat tanaman sebagai pengganti pembayaran tunai; dan (4) forfeiting the collateral, merupakan pembiayaan terburuk dengan cara penyerahan jaminan (komoditas) dan mengambil uang pinjamannya.

Setiap mekanisme marketing loans diatas pada dasarnya tidak terbatas pembayarannya. Meskipun USDA telah membatasi setiap petani sebesar 75 ribu dolar AS, namun pada nyatanya jumlahnya bisa lebih besar merujuk pada beberapa aturan yang berlaku. Terlebih lagi, penggunaan mekanisme certificate gain dan forfeiting commodities telah ditetapkan tidak ada batas peminjaman yang akan didapatkan petani.

Keseluruhan penjelasan mengenai program komoditas pertanian yang telah dijelaskan diatas pada dasarnya merupakan program wajib yang berlandaskan pada undang-undang pertanian AS. Dan bukan merupakan deskresi yang bergantung pada alokasi tahunan. Seluruh kebijakan pembayaran safety net dilakukan pada kondisi yang berlaku dan yang telah ditetapkan, terlepas dari proyeksi anggaran pertanian keseluruhan. Hasil dari penggunaan program tersebut akan tersaji pada tabel di bawah ini:

Tabel Tipe Dan Subsidi Komoditas Pertanian (Miliar Dolar AS)

Sumber: CRS dalam Jim Monke, “Farm Commodity Programs: Direct Payment, Counter-Cyclical Payment, and Marketing Loans” CSR Report for Congress (2006). http://www.nationalaglawcenter.org/assets/crs/RL33271.pdf (diakses pada 3 September 2012), hlm 25.

Keterangan: * termasuk didalamnya certificate gains and forfeiting commodities.

Data pada Tabel menunjukkan besarnya pembayaran (subsidi) per tahun, dimulai tahun 2003 hingga 2008, untuk komoditas pertanian melalui direct payments, CC payments dan marketing loans. Dapat diketahui bahwa jumlah pembayaran untuk tahun 2003 yang sebesar 6,7 miliar dolar AS, menjadi sebesar 14,4 miliar dolar AS pada tahun 2006. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terjadi peningkatan pembiayaan commodity subsidies yang dilakukan USDA. Meski pada tahun selanjutnya mengalami penurunan, 13,9 miliar dolar AS tahun 2007 dan 11,8 miliar dolar AS tahun 2008, menurut laporan USDA, jumlah tersebut tidak termasuk subsidi bencana, darurat dan alokasi tambahan lainnya.

Pada bagian type of payment, tipe direct payments yang terjadi setiap tahun tanam hampir konstan sekitar 5,2 miliar dolar AS per tahun. Namun, pembayaran tahun fiskal 2006-2007 turun menjadi sekitar 4,5 miliar dolar AS, sebagai akibat dari adanya pemotongan rasio uang muka yang harus dikeluarkan USDA pada tahun tersebut dan disesuaikan dengan aturan perundangan The Deficit Reduction Act of 2005.

Pada bagian CC payments dan marketing loans jumlah yang harus dikeluarkan untuk pembayaran komoditas bersifat fluktuatif, dapat bervariasi dari waktu ke waktu. Hal ini dikarenakan kedua tipe pembayaran subsidi tersebut tergantung pada market price. Nilai CC payments berkisar dari kurang 1 miliar dolar AS pada tahun 2004 menjadi sekitar 5,1 miliar di tahun 2007, bervariasi di tahun-tahun lainnya. Sementara itu, pada marketing loans, sebagian besar keuntungan adanya program ini terjadi pada mekanisme LDP daripada marketing loan gains maupun certificate loans dan forfeiting commodities. Akan tetapi, keduanya dapat dipahami bahwa, jika nilai pembayaran program tersebut rendah menandakan bahwa nilai atau harga hasil panen lebih baik dari target price untuk CC payments maupun loan rate pada marketing loans, begitu juga sebaliknya.

Pada bagian commodity dalam Tabel, biji-bijian yang termasuk kelompok feed grains (terutama jagung) lebih banyak mendapatkan keuntungan atas adanya dukungan pembayaran (subsidi), diikuti oleh kapas, gandum, dan minyak sayur (terutama kedelai) dan beras pada Gambar. Peringkat yang berdasar pada pembayaran yang telah dikeluarkan tersebut tergantung pada alokasi lahan, relatifitas market price terhadap target harga yang ditetapkan, dan subsidi per acre. Selain itu, perbedaan peringkat juga dapat disebabkan oleh penggunaan kriteria subsidi per satuan tertentu, seperti satuan acre atau satuan lahan dalam hektar.

Jaminan Kredit Ekspor AS: Commodity Credit Corporation Export Credit Guarantee Program General Sales Marketing 102 atau GSM-102
Produktivitas pertanian AS yang tumbuh lebih cepat dari pangan domestik membuat petani AS dan perusahaan-perusahaan pertanian sangat bergantung pada pasar ekspor untuk mempertahankan harga dan pendapatannya. Dengan keunggulan komparatif dalam banyak produk, perdagangan pertanian merupakan kontributor yang signifikan bagi perekonomian AS secara keseluruhan serta seluruh ekonomi dunia. Meskipun pangsa ekspor berbagai macam produk-produk pertanian dunia telah jatuh dari waktu ke waktu, yakni dari 17 persen pada tahun 1980 menjadi 10 persen pada tahun 2007, AS tetap menjadi eksportir terkemuka dan importir tunggal terbesar beberapa produk pertanian di dunia.

Tingginya ekspor komoditas pertanian AS merupakan salah satu peran Pemerintah AS yang menggunakan subsidi ekspor, selain adanya subsidi tunai, untuk membantu para petani untuk memasarkan hasil-hasil pertaniannya. Merujuk pada undang-undang Federal Agriculture Improvement and Reform Act of Public Law 104-127 1996, pemerintah AS melalui USDA kembali mengesahkan penggunaan program Export Credit Guarantees (ECG), umumnya sering diistilahkan dengan GSM-102 (Commodity Credit Corporation Export Credit Guarantee Program General Sales Marketing 102 atau GSM-102). Program tersebut pertama kali diberlakukan atas dasar Undang-Undang the Agricultural Trade Act pada tahun 1978.

“An Export Credit Guarantee Program that covers credit terms up to 3 years. The program underwrites credit extended by the private banking sector to approved foreign banks using dollar-denominated, irrevocable letters of credit to pay for U.S.-grown food and agricultural products sold to foreign buyers. The CCC guarantee typically covers 98% of principal and a portion of interest.”

GSM-102 sebagai program penjaminan kredit ekspor, sangat dibutuhkan oleh para importer. Tujuan dibuatnya program ini jika merujuk pada undang-undang federal AS nomor tujuh tentang pertanian adalah untuk meningkatkan ekspor berbagai komoditas pertanian, untuk bersaing dengan ekspor pertanian negara lainnya dan untuk membantu negara- negara yang membutuhkan produk-produk pertanian AS, khususnya negara berkembang, dalam memenuhi konsumsi makanan dalam negerinya. Polis kredit dari program ini diberikan oleh sektor perbankan swasta di AS kepada bank-bank asing yang disetujui menggunakan denominasi dolar untuk membayar produk pertanian AS yang dijual ke pembeli asing. Jaminan GSM 102 bisa mencakup hingga 98 persen dari harga pokok dan sebagian bunga.

Sejak pertama berdiri tahun 1978 hingga sekarang, USDA telah memberikan penjaminan kredit hampir di seluruh penjuru dunia, terutama negara berkembang. Program ini memberikan alokasi hingga 5,5 miliar dolar AS per tahun. Hal ini menyebabkan banyak konsumen produk-produk pertanian memilih menggunakan produk-produk pertanian utama AS seperti gandum, jagung dan kedelai, bahkan bungkilnya pun tetep manarik pembeli untuk kebutuhan tertentu. Negara-negara yang kurang cukup modal untuk mendapatkan produk-produk pertanian AS seperti negara-negara di Afrika, Timur Tengah, Karibia, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Asia Tenggara, Korea Selatan, Meksiko dan Turki banyak memilih menggunakan program tersebut.

Pengaruh Kebijakan GSM 102 Bagi Perdagangan Kedelai di Indonesia
Seperti yang telah dijelaskan di atas, program penjaminan kredit ekspor GSM-102 merupakan salah satu kebijakan perdagangan pertanian untuk mendukung pembiayaan ekspor komersial produk-produk pertanian AS ke pasar-pasar internasional. Indonesia merupakan salah satu negara pengguna program penjaminan kredit tersebut. Indonesia dengan penduduk yang mencapai 216 juta jiwa dengan angka pertumbuhan 1,7% per tahun mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia, salah satunya kebutuhan akan kedelai yang meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di negara tersebut.

Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 menjadikan Pemerintah Indonesia kesulitan untuk mendapatkan modal yang digunakan untuk mendatangkan kedelai dari luar negeri. Terlebih lagi, dengan harga dolar AS yang naik lebih dari 250%, yakni menjadi 11 ribu per rupiah, sangat kecil kemampuan importir untuk mendatangkan kedelai impor dari pasar internasional. Pemerintah Indonesia ketika itu harus membuka impor kedelai, di mana pasar kedelai harus diberikan kepada sektor swasta. Hal ini sesuai dengan kesepakatan liberalisasi perdagangan secara menyeluruh antara IMF dengan Pemerintah Indonesia, dengan ditandai dengan adanya Letter of Intens antara keduanya. 

Liberalisasi perdagangan tersebut menjadikan kedelai impor mudah masuk ke pasar Indonesia, dan dengan pajak bea masuk yang mencapai hingga 0%, serta pemerintah diharuskan menyerahkan segala urusan tentang kedelai kepada pasar. Di sisi lain, Pemerintah AS memberikan kebijakan GSM-102 kepada para importir komoditas pertanian AS, mengingat saat itu para petani AS memiliki hasil panen yang melimpah sedangkan hanya sedikit yang dibutuhkan pasar, yang pada waktu itu dilanda krisis, khususnya negara-negara di Benua Asia. Untuk volume ekspor kedelai AS ke Indonesia itu sendiri dapat dilihat pada Grafik berikut.

Grafik Volume Ekspor Kedelai AS ke Indonesia

Sumber: Diolah dari http://www.soystats.com (diakses pada 3 September 2012).

Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan jumlah ekspor kedelai dari AS ke Indonesia. Meski jumlah tersebut mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya, jumlah tersebut masih jauh lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah yang diekspor sebelum tahun 1999. Tingginya ekspor komoditas pertanian AS merupakan salah satu bentuk peran PemerintahAS dalam menggunakan program subsidi ekspor, yang bertujuan untuk menjamin keuntungan para petani kedelai AS.

USDA telah memberikan jaminan kredit ekspor sebesar 98,5 juta dolar kepada PT Cargil Indonesia untuk mendatangkan kedelai AS pada tahun 1999. Sehingga pada tahun tersebut, program GSM-102 telah memberikan bantuan kepada importir sebesar 48,7% dari seluruh biaya yang harus dikeluarkan. Data dari soystat.com menunjukkan bahwa total yang harus dibayarkan importir kedelai Indonesia adalah 202 juta dolar AS. Dapat dikatakan bahwa dengan adanya program tersebut perusahaan importir tidak perlu untuk membayarkan total pembayaran dengan dana mereka sendiri, karena sebagian pembayarannya telah dibantu oleh USDA.

Kebijakan AS pada akhirnya juga memberikan pengaruh yang besar pada harga kedelai di Indonesia. Di pasar Indonesia, harga kedelai impor asal AS seharga Rp. 250 – Rp. 300 per kilogram. Sementara itu, harga kedelai lokal yang mencapai Rp. 350 – Rp. 400 per kilogram. Selain meningkatnya kedelai impor asal AS di perdagangan kedelai Indonesia dengan harga yang cukup terjangkau, program GSM-102 juga membuat kedelai impor asal AS semakin dominan dalam menguasai perdagangan komoditas pertanian di Indonesia setelah tahun 1999. Jika pada tahun 1997 dan 1998 kedelai impor asal AS hanya berjumlah sekitar 385 ribu ton dan 320 ribu ton, terjadi kenaikan yang cukup bertolak belakang dengan kenaikan pada tahun 1999 yang total impornya mencapai 700 ribu ton. 

Fenomena di atas kemudian seakan menyebabkan peralihan konsumsi dari kedelai lokal kepada kedelai impor. Kedelai impor AS mampu menguasai dan mendominasi pasar Indonesia dengan kelebihan harganya yang cukup terjangkau dibandingkan dengan kedelai lokal, menjadikan masyarakat Indonesia bergantung pada pasokan kedelai impor asal AS.

Dominasi Amerika Serikat Dalam Perdagangan Kedelai Impor Indonesia

Dominasi Amerika Serikat Dalam Perdagangan Kedelai Impor Indonesia 
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, yakni mencapai 237,6 juta jiwa. Dengan angka pertumbuhan yang tinggi, yakni mencapai 1,49 % per tahun, menjadikan negara agraris tersebut sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Banyaknya jumlah penduduk di Indonesia pada akhirnya mempengaruhi besarnya sumber-sumber pangan yang harus disediakan.

Guna memenuhi ketersediaan pangan negara, Pemerintah Indonesia, selain mengusahakan pertumbuhan produktivitas pertanian nasional juga mendatangkan bahan-bahan pangan dari pasar internasional. Hal ini dikarenakan adanya beberapa komoditas sumber pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia namun mempunyai tingkat produksi yang rendah dan bahkan sulit tercukupi jika hanya mengandalkan produktivitas dalam negeri. Selain itu, impor yang dilakukan Pemerintah Indonesia antara lain juga dikarenakan masyarakat Indonesia yang belum bisa menerima diversifikasi pangan dengan begitu mudah dan cepat.

Salah satu bahan pangan yang masih didatangkan dari pasar luar negeri hingga saat ini karena tingginya permintaan kebutuhan dalam negeri adalah kedelai, meski kedelai bukan merupakan salah satu bahan pangan utama dan bukan pula tanaman asli Indonesia. Kebutuhan kedelai Indonesia pada periode akhir 1990 hingga tahun 2000 rata-rata mencapai sekitar 2,1 juta ton pertahun. Kebutuhan tersebut sebagian besar digunakan untuk mencukupi sumber bahan pangan protein nabati masyarakat, dan sisanya dimanfaatkan untuk memenuhi protein nabati peternakan. Sama halnya dengan manusia yang selalu membutuhkan sumber-sumber makanan, ternak, terutama ternak unggas, juga membutuhkan kedelai untuk mencukupi kebutuhan gizinya.

Besarnya kebutuhan kedelai di Indonesia pada kenyataannya tidak diimbangi dengan jumlah produksi kedelai nasional, yang hanya mencapai 1,2 juta ton per tahun, dengan rata-rata produktivitas kedelai yang hanya sebesar 1,19 ton per hektar. Oleh karena itu, impor kedelai merupakan solusi terakhir yang digunakan pemerintah untuk menutup kekurangan kebutuhan kedelai masyarakat Indonesia. Banyaknya kedelai impor yang masuk di pasar Indonesia secara umum menyebabkan penurunan produksi kedelai lokal dan turunnya daya saing kedelai lokal.

Grafik Volume Impor Kedelai Indonesia

Sumber: Diolah dari BPS, http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php?eng=0, 2012.

Berdasarkan pada Grafik di atas, jumlah kedelai yang masuk ke pasar domestik Indonesia mengalami peningkatan tajam setelah tahun 1998, dan mencapai titik tertinggi pada tahun 1999, seiring dengan besarnya permintaan pasar akan kedelai. Rata-rata impor kedelai pada periode tersebut adalah mencapai 1,3 juta ton pada tahun 1999. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh adanya krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1997, yang kemudian menyebabkan produksi kedelai nasional menurun, serta kekeringan di Indonesia sehingga masyarakat cenderung memanfaatkan lahan tidur untuk menanam jagung dan kalah bersaing dengan kedelai impor.

Di pasar kedelai dunia, perdagangan biji-bijian tinggi protein dikuasai oleh negara-negara dengan produktivitas besar seperti Amerika Serikat (AS), Brazil, Argentina, Cina, India. Selama kurun waktu empat tahun, yakni tahun 1999 hingga tahun 2003, kelima negara tersebut telah menyumbangkan tidak kurang dari 97% produksi kedelai dunia. AS menjadi negara produsen utama dengan share hasil kedelai ke pasar internasional yang mencapai 47%, yang kemudian diikuti oleh Brazil sebesar 20%, Argentina 13%, Cina 9%, dan lainnya 11%.

Di pasar Indonesia, pasokan kedelai impor antara lain diperoleh dari beberapa negara seperti AS, Argentina, Brazil, Malaysia, dan India. Pasokan kedelai impor Indonesia paling banyak didominasi oleh kedelai yang berasal dari AS. Negara tersebut menguasai lebih dari setengah dari keseluruhan perdagangan kedelai di Indonesia dengan share sebesar 72%, diikuti oleh Argentina 11%, Brazil 6%, Malaysia 4%, India 1% dan lainnya sebesar 6%.

AS merupakan salah satu negara yang selalu konsisten mengekspor pasokan kedelainya ke luar negeri, tanpa terkecuali ke pasar Indonesia. Hal ini diperkirakan oleh besarnya produksi kedelai AS, sementara kebutuhan dalam negeri tergolong rendah. Perbandingan jumlah produksi kedelai di AS dengan kebutuhannya dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Perbandingan Jumlah Produksi dan Kebutuhan Kedelai AS (1000 ton)

Sumber: diolah dari http://www.soystats.com (diakses pada 3 September 2012).

Merujuk pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata produksi kedelai AS setiap tahunnya sebesar 72 juta ton. Sementara itu, setiap tahunnya, AS hanya membutuhkan sedikitnya 43 juta ton kedelai. Besarnya produksi AS akan kedelai yang berbanding terbalik dengan kebutuhan domestik mendorong negara tersebut untuk mengekspor hasil produksinya, termasuk ke pasar Indonesia. Share ekspor kedelai AS yang begitu besar ke Indonesia, yang mencapai 72% dari seluruh kedelai impor yang ada di Indonesia, mampu membantu Pemerintah Indonesia dalam memenuhi kebutuhan kedelai di negaranya. Selain mampu mendominasi dari eksportir negara lainnya.

Dari segi kualitas, kedelai AS pada dasarnya berbeda dengan kedelai lokal, di mana keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menurut Maman Suparman, salah seorang ahli pertanian, kedelai lokal unggul dari kedelai AS dalam hal bahan baku pembuatan tahu. Rasa tahu lebih lezat, rendemennya pun lebih tinggi. Selain itu, resiko terhadap kesehatan cukup rendah karena bukan benih transgenik, berbeda dengan kedelai AS. Meski demikian, sebagai bahan baku tahu, kedelai lokal memiliki kelemahan, terutama untuk bahan baku tempe. Penyebabnya, ukuran kecil atau tidak seragam dan kurang bersih. Selain itu, kulit ari kacang sulit terkelupas saat proses pencucian kedelai, dan proses peragiannya pun lebih lama. Setelah berbentuk tempe, proses pengukusan lebih lama empuknya, bahkan bisa kurang empuk.

Sejalan dengan Maman Suparman, seorang ahli gizi dan pengamat tempe Indonesia asal Inggris, Jonathan Agranof, menyatakan bahwa secara umum produk kedelai dari Indonesia lebih baik daripada kedelai impor asal AS.

“Keunggulan kedelai Indonesia adalah tidak modifikasi genetik, organik, rasa kedelainya enak, dan air rendaman kedelainya pun jernih. Australia dan negara-negara di Eropa enggan mengimpor kedelai dari AS karena faktor genetik modifikasi (GM), yang mempunyai dampak negatif pada kesehatan.”

Kedelai dari AS kendati memiliki beberapa kekurangan akan tetapi pasar kedelai impor di Indonesia masih didominasi oleh AS. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan-kenyataan yang telah diungkapkan di atas. Fakta-fakta tersebut juga mendorong munculnya pendapat terkait kapabilitas negara Indonesia sebagai negara agraris yang masih mengandalkan pertanian sebagai tumpuan kehidupan bagi sebagian besar penduduknya, khususnya peningkatan tajam impor kedelai pada tahun 1999. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis pada akhirnya terdorong untuk melakukan penelitian mengenai dominasi kedelai impor asal AS di Indonesia. Melalui penjelasam, maka timbulah pertanyaan mengapa AS mendominasi perdagangan kedelai di Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan pendekatan merkantilisme. Asumsi dasar pemikiran merkantilisme menyatakan bahwa aktivitas ekonomi seharusnya tunduk pada tujuan utama dalam pembangunan negara yang kuat, yang berarti ekonomi sebagai instrumen politik bagi negara. Merkantilisme memandang perekonomian internasional sebagai arena konflik antar kepentingan nasional yang bertentangan, tidak menentu dan tidak aman, daripada sebagai wilayah kerjasama yang saling menguntungkan dan berlaku prinsip zero-sum game, di mana keuntungan bagi negara satu merupakan kerugian bagi negara lain.

Menurut merkantilisme, negara merupakan aktor utama yang memiliki wewenang dalam menentukan arah dan melaksanakan kebijakan perekonomian sepenuhnya. Menurut The Political Economy of International Relations karya Gilpin (1987), terdapat dua macam bentuk merkantilisme dalam hal persaingan ekonomi antarnegara. Pertama adalah merkantilisme agresif (malevolent merchantilism) yang bermakna bahwa eksploitasi perekonomian negara dilakukan dengan kebijakan ekspansi keluar. Sebagai contoh adalah imperialisme yang lebih menekankan pada aspek politik-militer guna meningkatkan perekonomian negara.

Merkantilisme yang kedua adalah merkantilisme bertahan atau dikenal pula dengan merkantilisme ramah (benign merchantilism), di mana negara memelihara kepentingan ekonomi nasionalnya dikarenakan hal tersebut berkaitan dengan keamanan nasionalnya. Benign mercantilism berkembang dalam lingkungan ekonomi internasional yang tidak aman dan percaya bahwa interdependensi berbeda-beda diantara negara-negara. Ide merkantilisme tersebut diadaptasi kembali oleh negara-negara kapitalis dewasa ini, yang kemudian dikenal sebagai merkantilisme baru (neomerkantilisme). Ciri utama negara neomerkantilis adalah menjaga surplus perdagangan internasional semaksimal mungkin dari transaksi internasional dalam bentuk proteksi, untuk mempertahankan kekayaan dan bertahan dari perilaku neomerkantilis jinak bangsa lain.

Proteksionisme merupakan salah satu upaya suatu negara untuk merumuskan kebijakan ekonomi sedemikian rupa dalam rangka melindungi perekonomian domestik dari dominasi produk-produk asing. Menurut Frederich List (1789-1846), seorang ekonom Jerman, bahwasannya kepentingan negara-negara industri maju sangat sesuai dengan prinsip perdagangan bebas yang mengharuskan negara lain untuk berdagang dengan meraka, namun bagi negara-negara yang belum maju industrinya, proteksionisme merupakan kebijakan yang sangan diperlukan untuk memacu industri di dalam negeri dalam berkompetensi dengan pihak asing.

Berdasarkan penjelasan di atas, AS menempatkan bidang pertanian sebagai bidang yang belum tumbuh, sehingga pemerintah AS dengan berbagai upaya melindungi petani domestik dari aliran produksi pertanian negara lain. Salah satu contoh proteksi pertanian yang dilakukan AS pada Indonesia saat ini adalah pemberian subsidi ekspor bagi para importir kedelai dari AS di Indonesia dalam bentuk GSM-102. AS menggunakan instrumen subsidi kredit ekspor GSM-102 dalam bentuk bunga rendah, dan periode pembayaran yang lebih lama, termasuk di dalamnya penjaminan kredit dan asuransi kredit ekspor. Subsidi tersebut diberikan guna menjaga stabilitas kedelai domestik AS dari kerugian mengingat produksi kedelai AS yang sangat besar.

Negara merkantilis ramah berupaya untuk meminimalisasi ketergantungan pada negara lain, namun berupaya membuat negara lain bergantung padanya. Ketergantungan terhadap negara lain diminimalisasi dengan melakukan proteksi yang bertujuan untuk menjaga keuntungan yang telah didapatkan sebelumnya. Tindakan tersebut pada akhirnya menyebabkan negara lain yang telah mendapatkan produk hasil komoditas bersubsidi akan selalu ingin mendapatkan barang murah tersebut.

Modal (capital) dalam ilmu ekonomi mempunyai konsep dan pengertian yang berbeda-beda tergantung dari penggunaan dan aliran pemikiran yang digunakan. Menurut Baker dalam Bambang Riyanto, modal ialah barang-barang kongkrit yang masih ada dalam rumah tangga perusahaan yang terdapat di neraca sebelah debit, maupun berupa daya beli atau nilai tikar barang-barang itu yang tercatat disebelah kredit.

Susan Irawati (2006) mengartikan modal sebagai kumpulan dari barang-barang modal, yaitu semua barang yang ada dalam rumah tangga perusahaan dalam fungsi produktifnya untuk membentuk pendapatan. Sementara itu, menurut pengamat akuntansi, Munawir (2004), modal adalah hak atau bagian yang dimiliki perusahaan yang ditujukan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba ditahan. Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum modal merupakan seluruh sumber daya, khususnya dana, yang dimiliki suatu badan usaha atau perusahaan dan digunakan untuk membiayai seluruh aktivitas ekonomi dalam menghasilkan produk barang maupun jasa.

Aktivitas perekonomian yang dinamis membutuhkan modal. Sumber modal menjadi sangat penting untuk memenuhi operasi perusahaan. Secara umum, modal dapat dikelompokkan berdasarkan asalnya menjadi dua sumber. Pertama adalah sumber modal intern, yaitu modal yang berasal dari laba yang tidak dibagikan atau retained earning, antara lain modal dari pemilik, cadangan-cadangan dan sumber dana insentif yang berasal dari penyusutan-penyusutan aktiva tetap. Kedua, sumber modal ekstern, yang merupakan modal yang berasal dari luar perusahaan seperti hasil penjualan saham di pasar modal, pinjaman bank atau dari lembaga lain dan atau dari bantuan pemerintah dalam bentuk subsidi.

Suatu perusahaan yang ingin mendapatkan modal tambahan dan melakukan pinjaman kepada suatu lembaga atau badan penyedia modal secara nyata membutuhkan suatu jaminan. Proses tersebut dikenal dengan istilah penjaminan kredit. Ketika suatu perusahaan melakukan peminjaman dana untuk pembayaran produksinya dengan menggunakan program penjaminan kredit dari pemerintah, misalnya, maka secara tidak langsung perusahaan tersebut telah memiliki pemasukan dana dalam sisi aktivanya. Dari pemikiran tersebut dan dari ranah pembiayaan ekspor komoditas pertanian, penggunaan program penjaminan kredit ekspor dapat dipahami sebagai subsidi ekspor yang diberikan oleh pemerintah negara pengekspor.

Negara maju mempunyai karakter individualistik dan dicirikan perekonomian yang modern dengan sistem pasar yang baik yang mana setiap hubungan dilakukan melalui kontrak transaksi. Sementara negara berkembang maupun negara terbelakang masih didominasi oleh sifat paternalistik dan kerjasama sosial yang tinggi, dengan perekonomian yang bersifat tradisional yang mana sistem pasar belum berjalan dengan baik. Hal ini kemudian mendorong munculnya fenomena ketergantungan negara berkembang terhadap negara maju.

Teori ketergantungan pertama kali muncul di kalangan ahli ekonomi Marxis dari Amerika Latin, seperti Raul Prebisch, Paul Baran, Andre Gunder Frank, Celso Furtado, Theotonio dos Santos dan F.H. Cardoso. Tesisutama teori ini merupakan antithesis dari kemunculan teori modernisasi dan teori pertumbuhan ekonomi yang dilandasi oleh aliran ekonomi neo-klasik. Teori ini menggunakan asumsi dasar struktural yang menjadikan perekonomian dunia menjadi dua kutub, yaitu perekonomian negara maju dan negara terbelakang.

Komponen utama teori ketergantungan adalah sifat dasar dan dinamika sistem kapitalisme, hubungan antara negara kapitalis yang maju dengan negara yang kurang berkembang dan karakteristik internal negara yang bergantung itu sendiri. Keterbelakangan negara-negara berkembang dan kurang berkembang disebabkan oleh proses eksploitasi dan dibatasi perkembangannya sebagai akibat dari hubungan ekonomi kapitalistik yang tidak adil.

Ketergantungan ekonomi negara-negara berkembang bukan dikarenakan tidak adanya integrasi dalam tatanan ekonomi kapitalisme, namun akibat adanya monopoli modal asing dalam berbagai bentuk, umumnya dalam bentuk bantuan luar negeri yang sebenarnya itu adalah hutang, pembiayaan pembangunan dengan modal asing, serta pembangunan teknologi maju pada tingkat internasional dan nasional mampu mencapai posisi menguntungkan dalam interaksinya dengan negara maju yang menjadikan negara-negara berkembang menjadi terbelakang, sengsara dan termarjinalisasi sosial dalam batas wilayahnya sendiri.

Menurut Ruccio dan Simon, terdapat dua kelompok pemikiran ketergantungan. Pertama adalah aliran Marxis dan Neo-Marxisme yang didukung oleh Paul Baran, Andre Gunder Frank, Samir Amin, Theotonio Dos Santos, Rudolfo Stavenhagem dan F.H. Cardoso. Aliran pertama ini banyak menggunakan kerangka analisis teori Marxis dan Neomarxis. Mereka tidak terlalu membedakan struktur intern dan ekstern, karena keduanya dipandang sebagai faktor endogen sistem kapitalisme dunia, di mana struktur intern daerah periferi sudah ratusan tahun dipengaruhi faktor eksogen sehingga seluruh strukturnya sudah terbuka bagi faktor ekstern. Struktur intern daerah periferi menjadi bagian yang tergantung dari struktur kapitalisme dunia.

Kelompok kedua adalah aliran Non-Marxis, yang diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Celso Furtado, Helio Juuaribe, Anibal Pinto, dan Osvaldo Sunkel. Kelompok ini lebih melihat ketergantungan dari perspektif nasional atau regional dengan melihat keadaan di dalam dan di luar wilayah negara. Struktur dan kondisi intern dilihat sebagai faktor endogen, meskipun struktur intern ini baik di masa lalu maupun masa sekarang dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal.

Secara umum, terdapat tiga persamaaan atas definisi yang disepakati oleh para ahli ketergantungan. Pertama, ketergantungan membentuk sistem internasional yang terdiri dari dua negara yang digambarkan sebagai dominan-tergantung, pusat-periferi atau metropolitan-satelit. Negara-negara dominan adalah negara maju yang mempunyai kemajuan industri dan tergabung dalam Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Sementara itu, negara-negara tergantung adalah Amerika Latin, Asia dan Afrika yang memiliki pendapatan per kapita yang rendah serta bergantung sepenuhnya kepada ekspor satu jenis komoditi untuk memperoleh devisa (foreign exchange).

Persamaan yang kedua, memiliki asumsi yang sama bahwa adanya kekuatan (dorongan) dari luar merupakan satu-satunya aktivitas ekonomi yang penting di dalam negara-negara yang bergantung. Kekuatan luar ini termasuk Perusahaan Multi National (MNC), pasar komoditi internasional, bantuan luar negeri, komunikasi dan berbagai bentuk lainnya yang oleh negara-negara maju digunakan untuk kepentingan ekonomi mereka di luar negeri.

Persamaan ketiga, pengertian ketergantungan menunjukkan bahwa hubungan antara negara yang mendominan dan yang bergantung adalah dinamis, karena interaksi antara dua negara bukan hanya untuk saling menguatkan, tetapi juga untuk meningkatkan pola atau corak yang tidak merata dalam pembagian ekonomi.

Dalam kerangka liberalisasi perdagangan, kegiatan ekspor-impor barang dan jasa menjadi lebih terbuka, dengan pengurangan proteksi di setiap bidang perdagangan memungkinkan produktivitas yang lebih tinggi. James Levinsohn (1993) menguatkan hal tersebut melalui hipotesisnya yang dikenal hipotesis import-as-marke-discipline. Asumsi dasar pendekatan ini adalah: 

“…the hypothesis that increased competition on the domestic market as trade barriers and other subsidies to domestic producers are reduced may lead to lower price-cost margin and improved allocative efficiency or to lower costs and improved productive efficiency or both.”

Melalui pendekatan di atas, suatu perusahaan domestik akan dituntut lebih kompetitf dan efisien agar dapat mampu menguasai pasar. Sehingga, peningkatan pangsa impor akibat adanya kebijakan liberalisasi perdagangan akan menghilangkan excess profit dari perusahaan domestik yang bersifat oligopolistik, sehingga perusahaan tersebut menjadi lebih kompetitif dan dengan sendirinya akan menghilangkan sifat oligopolistik dalam suatu perekonomian. Hal tersebut mengakibatkan keuntungan yang dinikmati oleh oligopolis akan berkurang sehingga menyisakan normal profit di mana harga akan sama (atau mendekati) biaya marjinal. Sementara itu, perusahaan yang tidak efisien sebelumnya hanya menggantungkan perusahaan pada regulasi-regulasi proteksi, memungkinkan menjadi tidak bertahan sehingga hanya sektor yang efisien yang akan terus bertahan.
 

Contoh Contoh Proposal Copyright © 2011-2012 | Powered by Erikson